Makanan Pendamping ASI Baby Ayi

Memulai makanan pendamping ASI, bagiku adalah seni tersendiri. Ada rasa deg-degan juga. Apakah anak doyan? Apakah akan ada alergi? Bagaimana BAB nya? Dan pertanyaan lain yang menyeruak dan membuat gamang. Tapi, semua harus dicoba. Karena jarak anak pertama dan kedua nyaris 4 tahun maka ilmuku juga antara ada dan tiada. Belajar lagi dan lagi. Demikian saripati ilmu yang kubaca dari berbagai sumber. Masalah betul atau salah tidak ada pakemnya karena teori tentang MPASI ini buanyaaakk sekaliii. Kalau saya pribadi lebih menggunakan teori yang sesuai dengan feeling saya. Yak, begitulah seorang ibu. Selalu main feeling bin perasaan. Apapun itu, ibu pasti melakukan yang terbaik untuk anaknya. Bukan begitu? Oyaa, sedari dulu saya menghindari sesuatu yang instan. Bubur instan yang berjibun di toko tak pernah saya gunakan. Dulu di anak pertama saya pakai Happy bellies tepung beras merah. Karena sekarang saya cari tak ada lagi maka pakai Gasol produk lokal yang baru banget saya kenal (tahu gitu dari dulu pakai ini.. murce cyinn…). Inipun baru saya pakai lewat 14 hari perkenalan karena anak saya batuk pilek dan menolak makanan tim saringnya. Trial and error. Alhamdulillah dia mau.

Prinsip MPASI menurut WHO:

1.Age: bayi diperkenalkan makanan padat di usia 6 bulan. Pada usia ini kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang dan beraktivitas sudah tidak bisa lagi dipenuhi oleh ASI pun sufor. Bila diberikan sebelum itu beresiko tinggi alergi, diare, atau bahkan permasalahan yang lebih serius di sistem pencernaan.

2.Frequency:

usia 6 bulan awal diperkenalkan makanan padat (bubur saring) 1-2 kali sehari, dimana di 14 hari pertamanya adalah menu tunggal dengan satu menu selama 3-4 hari untuk mengeliminasi kemingkinan alergi. Setelah itu diberikan menu 4 bintang (karbohidrat, protein, vitamin mineral, lemak dari minyak ekstrak ataupun unsalted butter).

Makanan yang disarankan:

a.serealia : tepung beras

b.sayuran: labu parang, ubi jalar, kentang, kacang hijau, zuccini, kacang merah

c.buah: pisang, pir, apel, alpukat, jeruk, pepaya

Yang belum boleh: daging, kerang, udang, cumi, susu dan produk olahannya, ayam, ikan laut dalam jumlah banyak

Umur 7-8 bulan, diberikan 2-3 kali sehari.

Jenis makanan yang disarankan (selain yang telah diperkenalkan di 6 bulan):

a.serealia : jagung, sorgum, jali jali

b.sayuran: asparagus, kacang kedelai, wortel, bayam, brokoli, lobak, sawi

c.buah: mangga, blewah, timun suri, peach

d.lauk: ayam, sapi, tempe, tahu

Yang belum boleh: kerang, udang, cumi, susu dan produk olahannya (keju susu yoghurt), ikan laut dalam jumlah banyak

Umur 9 bulan, diberikan 3x per hari

Jenis makanan yang disarankan selain yang di atas:

a.sayuran: kacang kapri

b.buah: melon

c.lauk: ikan, bebek, telur, keju

3.Amount: Amount atau jumlah kalori. Banyaknya makanan yang kita berikan pada bayi harus disesuaikan dengan kebutuhannya akan kalori. Pertama-tama, kita bisa memberikan porsi 2-3 sendok makan puree kental, dan terus tingkatkan porsi dan tekstur sedikit demi sedikit secara bertahap setiap hari. Pada bayi 6-9 bulan dapat diberikan porsi MPASI setengah mangkok ukuran 250 ml. Setelah umur 1 tahun sudah dapat diberikan 1 mangkuk penuh. Jumlah makanan atau porsi yang kita berikan dapat diukur dan disesuaikan dengan kenyamanan bayi dan asupan energi yang dibutuhkan oleh si kecil.
Bayi usia 6-8 bulan membutuhkan asupan sekitar 200 kalori per hari, selain dari ASI. Sementara untuk bayi usia 9-11 bulan membutuhkan 300 kalori per hari dan bayi usia 12-23 bulan membutuhkan 550 kalori perhari. MPASI yang berkalori dan penuh nutrisi penting untuk mendukung kebutuhan nutrisi bayi yang semakin hari semakin besar.

4.Texture: Sejak diberikan makanan pendamping ASI perdananya, bayi sudah bisa diberikan puree semi kental. Jangan terlalu encer, karena kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi dalam setiap porsinya.
Semakin encer, berarti semakin banyak kadar airnya dan semakin sedikit kandungan kalori dan nutrisi dari makanan.
Patokan kekentalannya adalah bila puree diambil dengan sendok kemudian sendok dimiringkan, puree tidak langsung tumpah mengucur, melainkan jatuh perlahan. Kelak saat 8 bulan bisa mulai diberikan finger food. Target 12 bulan sudah bisa makan dengan menu keluarga.

5.Variety: pemberian menu bermacam-macam, bergantian, tidak boleh hanya buah saja, misalnya. Jangan lupakan 4 bintang tadi. Untuk yang disarankan sudah dibahas di poin frequency.

6.Active-Responsive: anak yang dibiasakan makan sendiri dengan metode aktif- responsif dapat makan lebih banyak daripada yang tidak. Selain itu, biasakan si kecil untuk menggunakan piring dan sendok sendiri agar kita juga bisa mengukur kebutuhan makanannya. Makan adalah proses belajar, maka dampingi dengan sabar. Respon tiap anak akan berbeda dan tidak bisa sama sekali disamakan. Maka, jangan berkecil hati.

7.Hygiene:

Perhatikan hal berikut:
a.Cuci tangan hingga bersih menggunakan sabun sebelum memberikan makan ke bayi. Tangan bayi juga harus bersih sebelum makan.
b.Sebelum memberikan makanan ke bayi, cuci bersih semua peralatan seperti gelas, piring/mangkuk yang akan digunakan oleh si kecil, juga peralatan masak yang akan kita gunakan.
c. Selalu gunakan air bersih dalam memproses makanan dan mencuci peralatan makan
d. Memberikan minum anak dari gelas yang sama yang digunakan orang dewasa akan lebih mudah menularkan penyakit. Gunakan peralatan makan khusus untuknya.
e.Sebaiknya jangan menggunakan botol dot untuk memberikan minum kepada bayi karena karet dot lebih sulit dibersihkan daripada gelas biasa.
f.Simpan makanan di tempat bersih dan aman dari jangkauan serangga/binatang. Jangan menyimpan makanan terlalu lama, sekalipun di dalam kulkas. Sebaiknya tidak lebih dari dua jam, karena makanan yang terlalu lama disimpan akan membuat bakteri berkembang.

Berikut adalah contoh menu trial 14 hari dari saya, bila saya skip tidak sampai 4 hari per menu berarti tidak ada tanda alergi.

Day one: bubur saring beras merah plus asi 3x makan @2 sendok makan bayi. Cara membuatnya, 2 sendok makan beras direbus dengan air sampai berupa bubur. Tapi, karena karakter beras merah ini keras jadi susaah sekalii lembek. Setelah lembek lantas disaring dengan saringan teh yang dari kawat itu. Respon ayi mau makan sendiri dan BAB setelah makan.

Day two: bubur saring beras merah plus asi 2x makan @2 sendok makan bayi. Cara membuatnya rada berbeda, kali ini beras dimasak di magic com, setelah tanak baru memasaknya di atas kompor bersama air. Setelah mendekati wujud bubur diberi minyak canola beberapa tetes lantas disaring. Respon ayi mau makan namun dengan sisa. Perut kembung, rewel, tidak BAB.

Day three: karena kuatir belum BAB maka mencoba menu lain. Labu dari golongan buah semi sayur. Caranya, labu dikukus dan setelah tanak disaring.

Respon: dimuntahin pada kesempatan pertama. Kesempatan kedua dilepeh-lepeh dan sendok dibanting. Kesempatan ketiga, lumayan lahh. BAB belum juga keluar.

Day four: mencoba protein ikan salmon diselingi labu. Kedua bahan dikukus. Salmon saring dilumat dengan asi secukupnya. Tak lupa didampingi air putih untuk bantu telan.

Respon: awalnya seperti doyan, dia pegangi gelas air dan mulut mangap jadi mudah menyuap. Sayangnya, dia lekas bosan. Menggendong sebentar dan cari suasana lain dengan dipangku sama tante Fe. Seperti mau muntah. Belum habis porsi mini nya dia sudah marah tak karuan. Walhasil nenen dan tidur lagi.

Di kesempatan kedua mau buka mulut, habis 1 sendok makan dewasa lalu bosan dan tidur.

Selingan labu sudah mulai familiar rasanya terbukti dengan mau buka mulut menghabiskan porsinya. BAB belum juga.

Day five: masih sama dengan hari sebelumnya, salmon dan labu. Untuk labu ini adalah trial hari.ketiga sedangkan salmon kedua (last). Alhamdulillah lahap… 2 kali salmon @1.5 sendok makan dewasa dan 1 x labu 2.5 sendok makan dewasa. Pagi BAB lumayan banyak.

Day six: alpukat plus ASI 3x pemberian @1.5-3 sendok makan dewasa. Lahap sekali meski 2x nya diberikan di jalan (mobil). Tidak BAB.

Day seven: (masih) alpukat plus ASI di pagi hari tapi sukses dimuntahkan. Akhirnya nemu pepaya masak di halaman rumah uti Tiwik. Lumayan habis hampir 3 sendok makan dewasa di 2 x pemberian. Nyam nyam. Belum BAB juga.

Day eight: pisang kerok 2-3 sendok makan di pagi siang sore. Edisi pengen praktis karena on the way Jakarta. Setelah makan sore akhirnya BAB. Ternyata ada perubahan konsistensi menjadi padat. Ini kali pertama feses Ayi “berbentuk” sehingga sedikit melukai anus. Ada darah sedikit. Okay, oles baby oil sedikit membantu “evakuasi” feses.

Day nine: karena tendensi konstipasi maka menu hari ini tinggi serat tapi bersifat laksatif, kacang merah per makan 2 sendok dan selingan apel parut dan disaring. Menambahkan porsi air putih menjadi 10-15cc per pemberian makan (aturan sih 60-120 cc). BAB 3x sedikit sedikit dan berbentuk.

Day ten: BAB pagi bangun tidur. Menu pisang dan bubur beras putih saring plus minyak EVOO (ekstra virgin olive oil) habis cukup banyak. Bahkan tiap habis makan 1 jam kemudian BAB. Sore, menu kutambah eh malah muntah. Ternyata memang kapasitas cuma maksimal 3 sdm dewasa plus air putih 10cc.

Day eleven: BAB bangun tidur. Menu utama kacang hijau direndam semalam kemudian di steam pakai slow cooker lantas disaring. Menu selingan sedianya sari apel tapi sebelum diminum udah tidur duluan. Yasudahlah. Makan lahap 2x @3 sendok makan dewasa. BAB tiap sejam setelah makan.

Day twelve: ikan kakap selingan sari apel. Waktu makan pagi lumayan lahap, habis 1.5 sendok makan, siang cuma 3 suap karena badan agak panas, sore lahap sari ½ buah apel merah. BAB 1x.

Day thirteen: tempe selingan tomat. Tempe dimasak dengan slow cooker kemudian disaring dan diberi asi. Di pagi hari lahap. Di pemberian kedua udah enggan. Tomat direbus dulu sebelum disaring dan diberikan. Seneng banget dia, tomat 1 buah habis. BAB 2x.

Last day: kacang panjang 2x pemberian dan selingan pisang. Pagi habis makan langsung muntah karena sy coba lagi campur sedikit evoo. Siang hanya dengan ASI lahap makannya. Pisang nyaris habis ½ buah tapi dia batuk dan muntahin semua. BAB 1x.

Untuk menu 4 bintang, saya inisiasi dengan beras putih, wortel, tahu, unsalted butter sesuai komposisi aturan dari slow cookernya (saya pakai Baby Safe). Lumayan lahap di pagi hari. Tidak demikian di siang hari. Malam selingan pisang sukses dimuntahkan semua bersama lendir dahaknya. Di hari kedua 4 bintang saya hanya memberikan bubur beras merah dari Gasol. Di hari ketiga saya mencoba kentang, wortel, tempe plus unsalted butter hanya masuk beberapa suap dan sukses muntah bersama lendir. Sore hari mencoba kembali tepung beras merah Gasol plus sari buah naga. Lumayan lahap dan habis ½ porsi.

Berikutnya, kombinasi sesuai saran dimana pagi/siang hari saya membuat nasi tim dan sore baru bubur beras merah atau rasa lain dari Gasol dicampur ekstrak buah.

Semoga bisa menginspirasi. Have fun!

 

Advertisements

Ketika anak menolak disuruh..

Hmm.. memang sih anak itu bukan pesuruh kita. Tidak selamanya ia bisa ada untuk kita. Tapi… seringkali perasaan di hati anak harus harus harus selalu nurut. Demi apa? Kebaikan anak, dalih kita. Tapi tiap kali merenung semuanya demi kebaikan kita sendiri, dengan kriteria baik yang bervariasi. Relatif.

Menyuruh atau lebih baiknya kita sebut meminta tolong pada anak tidak serta merta bisa dengan kalimat perintah. Kadang bahkan seringkali kita harus cari trik agar dia bisa beranjak. Trik masing-orangtua berbeda. Ada yang dengan menakuti, merepet sampai kayak betet, memberikan jabaran konsekuensi, atau bahkan menjanjikan hadiah di ujung. Yakinlah semua itu semua pernah kita lakukan bila kepepet (nah lhoo seringnya sih sok kepepet) terus nyuruhnya eh minta tolongnya sambil memburu-buru sambil bilang ayo cepat ayo cepat (padahal diri ini sejatinya engga suka diburu-buru).
Padahal dunia anak ya memang bermain. Jadi segala solusi dari menyuruh anak-anak sebenarnya ya dengan konsep permainan (tapi tapi tapi yakin deh ini butuh kesabaran dan daya imajinasi yang sangat tinggi, dan saya tidak mumpuni sebenarnya… hanya sesekali kalau lagi bener-bener “waras” #eaeaea).

Setiap tulisan yang saya buat sama sekali tidak mengindikasikan saya sudah melakukan semua atau saya pakarnya. Sama sekali tidak. Tiap tulisan yang saya buat adalah sebagai pengingat bahwa diri ini lebih banyak tidak ingat daripada ingat. Suatu ketika ketidakwarasan itu lewat. Tersemat di dalam hayat. #eaeaea

Baiklah, ini ada suatu kisah. Tentunya di saat kewarasan saya 100%.
Si sulung yang lagi asyik bermain dengan boneka burung hantu dan derivatnya. Si bungsu lagi dipangku si emak dan ngompol. Sebenarnya celana ganti tak lebih dari sepelemparan batu dari si emak, tapi karena basah baju dengan ompol, maka:
Emak : mbak, tolonglah ambilkan ganti adek, adek ngompol nih
Mbak : ngga mau, lagi main
Emak : ayolah..
Mbak : kan di depan situ (lebih deket ke saya dari ke dia maksudnya)
Emak : oohh.. burung hantu kan bisa terbang ya… hai burung hantu tolong lah terbang ambilkan popok adek..
Mbak : (langsung melesat bawa si burung hantu terbang ambil popok) ini buat adek
Emak : makasiii ya burung hantu
Mbak : bukan burung hantu lho yang kasih, mbak yang kasih
Emak : oh iyaa… makasih ya mbak…
Mbak : sama2.. (langsung asik main lagi)

Horeee it’s work. Sama halnya dengan anak tidak mau mandi. Kalau lagi waras bilangnya ayo main air kalau lagi setengah waras bilangnya nanti kalau ngga mandi badannya kan kotor bisa gatal semua deh (konsekuensi). Kalau lagi error bin ngga waras, “buruan mandi kalau engga nanti ngga boleh main lagi ngga boleh ini itu ini itu” (ancaman ngga lazim). Atau lebih ngga waras lagi diguyur air comberan biar tau rasa n cepet mandi (byurr). Padahal si emak juga belom mandi (gedubrak).

Minat dan Bakat

“Aku minat ini.. aku bakat itu… Passionku di bidang ini… aku mahir di bidang itu…”

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Belakangan hal itulah yang sering diungkap bila hendak mencari kerja atau sekedar mengerjakan sesuatu. Karena bekerja dengan bahagia malah justru bisa menghasilkan hal lebih daripada bekerja keras (meski untuk hal yang tidak disuka) untuk mencari kebahagiaan. Upah bin gaji sekarang bukanlah suatu keniscayaan dibanding kepuasan hati saat mengerjakan sesuatu. Stress saat bekerja lebih mahal harganya dibanding gaji yang diterima.

》》》Jadi.. apakah minat, bakat, passion, dan kemahiran itu?

Ketika seseorang memiliki gairah, rasa suka, dan semangat dalam melakukan sesuatu itu disebut MINAT. Minat bisa berubah bila sudah bosan atau alih minat karena urusannya dengan hati. Misalnya, saya sekarang sedang menaruh minat tinggi pada menjahit. Besok-besok ganti suka bongkar mesin, misalnya. Minat bisa lahir dari dalam juga dari luar diri anak. Minat bisa dilatih hingga jadi mahir melakukan itu tapi tidak akan secepat dan semaksimal dibanding dengan yang memiliki bakat dalam bidang tersebut.

Jadi BAKAT adalah ketika seseorang bisa, mampu, dan bisa jadi mahir dalam melakukan sesuatu. Dorongan itu berasal dari dalam diri, bukan dari luar. Pastinya akan tambah “moncer” bila dilatih dan dipoles. Sayangnya, bakat itu meski bawaan lahir namun benar-benar Rahasia Illahi yang tidak semua bisa menemukan. Bisa jadi sampai ujung nafas tak kunjung tahu apa bakatnya alih-alih mengasahnya (sy pribadi juga belum tahu punya bakat apa… apakah benar menulis atau malah hal lain?). Mungkin ini yang dimaksud “bekal” yang dianugerahkan Allah pada kita sewaktu ruh ditiupkan. Namun hanya yang mendapat hidayah saja yang bisa memunculkan bakat serta memanfaatkannya. Kadang ada yang sebenarnya sudah ditunjukkan apa bakatnya namun tak menyadari.

PASSION adalah dimana minat dan bakat itu bertemu, berpadu, bersinergi, melahirkan KEMAHIRAN then… voilaaa prestasi hebat!

Maka dari itu, tugas kita sebagai orangtua menajamkan indera untuk melihat bakat alias potensi anak dan minatnya kemudian mengembangkannya sedari kecil sehingga bisa melebur menjadi passion yang kelak bisa mengantarkannya pada kesuksesan lahir batin dunia akhirat.

Karena bakat adalah dari dalam diri, kita tidak bisa memaksakan. Misal, tidak bakat nari disuruh nari bahkan dikursuskan segala. Bisa sih, tapi tidak akan bersinar seperti yang punya bakat. Yang punya bakat melihat saja sudah bisa. Apalagi kalau dilatih terus. Jangan kita paksakan anak memiliki bakat tertentu apalagi urusannya dengan status sosial, gaji tinggi, masa depan cerah dst. Semua itu,sekali lagi, rahasia Illahi.

Gampangnya, jika anak ditakdirkan berbibit jambu jangan dia diarahkan menjadi pohon apel karena apel sedang laris dan mahal.

Hal yang perlu disadari minat dan bakat tidak selalu berkaitan dengan dunia seni dan olahraga. Bisa jadi berhubungan dengan mata pelajaran atau hal yang lebih abstrak seperti jalan-jalan, bercerita, melayani, dll.

Bagaimana cara mengenali minat dan bakat anak (Sumardiono, 2015)?

1. Beri waktu dan ruang yang cukup untuk anak menekuni hal-hal yang ia sukai kecuali yang bertentangan dengan nilai kebaikan

2. Fasilitasi dan perkaya

Misal, anak minat menggambar maka beri fasilitas yang memudahkan ia mengeksplorasi sperti penyediaan berbagai macam media gambar, memberi stimulasi contoh2 gambar atau bahkan mengkursuskannya gambar.

3. Merubah konsumtif jadi produktif

Misalnya anak minat main game… jadikan produktif dengan membuat game atau sekedar me review game yang ia suka.

Minat makan… jadikan produktif dengan memintanya bercerita tentang sejarah makanan itu atau belajar resepnya bahkan bisa mencoba memasaknya

Minat jalan… jadikan produktif dengan menuliskan feature hasil jalan-jalan

4. Memperluas paparan

Dengan banyak mengeksplorasi hal beragam tentunya. Experience is the best teacher. Travelling is the best experience. Intinya banyak jalan-jalan (heehee).

Setelah memperluas paparan, kita amati.

-Hal apa yang secara sukarela dilakukan anak tanpa lelah&cepat tanggap?

-Apa yang menonjol dari keseharian anak? Ingat akan kecerdasan majemuk (logika, tubuh (kinestetik), relasi, imajinasi, musik, diri, bahasa, dan alam. Anak bisa memiliki 1, 2 bahkan lebih kategori kecerdasan. Kalau IQ hanya kecerdasan nomer 1 (logika) yang utamanya diukur.

-Bagaimana kualitas karyanya? Apakah lebih baik dibandingkan teman sebayanya?

Bila kita sudah menemukan bakat anak, maka dampingi, dukung, fasilitasi serta berikan apresiasi (pujian) seperlunya. Mengapa seperlunya? Kalau berlebihan malah akan merusak juga akibat terlalu jumawa. Yang terakhir… bila ingin berprestasi harus selalu endure dan persisten (bertahan).

Selamat menemukan bakat unik anak… atau bahkan bakat kita sendiri.. 😉

Ketika anak pertama menjadi si sulung

“Aya, adik lahir hari ini ya… nanti Aya sudah resmi dipanggil Mbak… Aya jadi seorang kakak…” pamitku saat Aya menemani di bed observasi ruang bersalin. Tak henti ia memeluk dan terkadang merengek umi umi… tak terasa air mataku pun menetes… semua berujung ia tak mau lepas dari gendongan bapaknya karena jelas aku tak bisa menjaganya beberapa waktu lamanya.

Tak lama Aya merajuk ingin pulang. Ia tak bisa istirahat sebagaimana biasa pola tidurnya sangat teratur saat di rumah. Dan aku sadar semua akan berubah mulai detik ini. Aku hanya berharap semoga baby blues syndrome tak menyerangku lagi sebagaimana dulu.

Masuk ruang operasi, Aya menjerit dan menangis ingin selalu bersama Bapak, ia sudah seakan “tak peduli” padaku. Aku tahu, ia sedang mengontrol emosinya. Jelas ia takut melihatku dipasang infus dan tidur bagai pesakitan. Setelah aku keluar dan diobservasi, Aya turut memeluk dan ada di sisiku. Anak pintar. Tapi itu tak lama. Ia menangis dan bilang takut saat melihat adiknya. Ia pun sudah lelah seharian terjaga. Tidur tak tenang, bahkan bangun dini hari dan mengompol di sofa tidur kamar rawat. Segera Bapaknya membawanya pulang. Ia kembali siang hari berikutnya juga dengan laporan mengompol di tempat tidurnya. Sedih sekali tak bisa mendampinginya seperti biasa. Mendadak ia harus lepas dariku. Padahal biasanya selalu bersama kapanpun dimanapun terutama sewaktu tidur. Tapi aku yakin Aya hebat, Aya kuat menghadapi separasi sementara ini.

Alhamdulillah ia mau sama adikku dan istrinya. Apa-apa sama mereka. Ya, mungkin Aya butuh pelampiasan untuk bermanja selagi bapak dan uminya tak bisa menyertainya.

Maaf ya Aya… apalagi lantas ia sakit sesaat setelah om dan tantenya pulang… demam tinggi dan batuk pilek. Sedih sekali lagi sedih rasanya saat tak bisa memeluknya, mendampinginya… karena aku pun harus jaga jarak kuatir adeknya tertular. Maaf ya Aya…

Alhamdulillah masih ada utinya… dan dia mau selalu bersama utinya. Terimakasih ya Aya sudah kooperatif…. Bukan maksud umi tidak menemani Aya…

Kecemburuan pada adik mulai ditampakkannya. Bahkan saat banyak yang berkunjung dan memberi kado untuk adiknya ia bertanya, “Aya bukaa yaa… yang buat Aya mana?” Semangat sekali… tapi demi melihat semua perkap bayi ia jelas kehilangan harapan. Terdiam saja reaksinya. Bersyukur ia tidak protes.

Namun jelas nampak bahwa ia ingin dapat kado. Alhamdulillah sepupu datang memberi kado double untuk Aya dan Ayi… makasih banyak Mecha Amalia Mediana. Aya senang bukan kepalang. Melihatnya, akupun terharu dan esoknya membelikan baju dan sandal  (menggantikan sandalnya yang hilang dalam aksi pelemparan sandal entah karena apa) untuknya saat panasnya 39 DC. Ia senang dan setelah memakai baju baru dan sandalnya ia bergaya bak princess. Lupa bahwa ia sakit.

Ya Rabb… sebuah pelajaran berharga bahwa ada hati si sulung yang harus dijaga saat kita berbaik hati memberi hadiah pada si adik baru lahir.

Seandainya suasana kembali, kita seperti biasa hanya berdua di rumah (dan sekarang tambah dek Ayi) semoga Aya benar-benar bisa menjadi sulung yang baik.

Umi dan Bapak sayaaang sekali sama Mbak Aya dan Dek Ayi. Semoga kalian rukun selalu sampai dewasa nanti….

Ketika Anak ditanya Minta Apa

Kecenderungan orangtua pasti menanyakan “minta apa” pada anak ketika merasa bersalah meninggalkannya di rumah atau tanpa alasan apapun hanya sekedar ingin memberinya sesuatu. Betul apa betul?

Beberapa anak memanfaatkan pertanyaan itu untuk meminta mainan keren nan mahal sekalian atau meminta pergi ke suatu tempat wisata atau apa sajalah yang bersifat materi lainnya.

Namun, seringkali ketika Aya ditanya Bapaknya, mau minta apa atau mau kemana saat Bapak ada libur, jawabannya sungguh fantastis, “Enggak mau… Aya mau cerita sama Bapak… mau gambar-gambar…”
Ya, Ia meminta “waktu”.

Seringkali kita tidak aware pula dengan keinginan itu. Padahal memang itu yang membuat anak senang dan puas dalam hatinya. Bukan pergi ke wahana bermain, bukan pula dibelikan mainan yang kesemuanya menuntutnya bermain sendiri dan saat pulang yang ada orangtuanya kelelahan lantas tertidur sedangkan ia belum mengantuk karena tidur sepanjang jalan. Anak sejatinya membutuhkan kebersamaan dan fokus bersama.

Sering, aku sibuk dengan HPku karena ada lintasan ide untuk menulis lantas Aya protes, “Umi tuh main HP aja…” lantas dia “membalas” dengan main tablet terus. Aku pun lantas sedikit demi sedikit mengerem main HP dan rela membuka laptop dengan dalih bekerja saat ada lintasan ide ketika sedang bersamanya.  Rupanya dia lebih maklum, membuka laptop mainannya dan ikutan mengetik di sebelahku. Sebuah pelajaran berharga untuk tidak sibuk dengan HP apalagi cuma kepoin sosmed yang tiada habisnya apalagi berita-berita bahkan broadcast yang ngga jelas sumbernya.
Kubuka jika perlu dan lampu indikator HP berkedip tanda ada pesan. Selebihnya bila Aya hanya berdua denganku dan sedang tidak asyik main sendiri, HP bertengger saja. Kalaupun perlu banget buka HP ijin dulu ke Aya apa keperluannya buka HP. Dia toh maklum asal tidak lama-lama.

Karena apa? Karena sesungguhnya yang anak minta dari kita hanya waktu untuk benar-benar bersama (baca: tanpa gangguan HP, TV, dll). Fokus… fokus… fokus…

<<That’s realy simple but why we almost can’t do it?>>

#sharepengalamanaja
#masihbelajarjuga

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (last)

Note with addition,
TUHAN MENJAWAB DOA MELALUI KESEMPATAN
@anakjugamanusia Banyak orangtua ingin anaknya berprofesi seperti orang lain yang dianggap sukses. Mengapa tidak sekedar hanya menjadi orangtua yang berkasih sayang pada anak?

Kadang ambisi justru membuat orangtua dan anak terjebak pada situasi ketika orangtua memaksakan anak menjadi ini atau itu kelak. Jika anaknya ternyata suka dan kebetulan cocok dengan pilihan orangtua tidak masalah. Namun jika sebaliknya? Apa mau disebut kalau cinta kita pada anak itu bersyarat? Apa mau disebut bila kita hanya bangga pada anak jika berprofesi tertentu?

Percayalah, bila pola asuh dan didik kita sudah baik, bisa dipastikan anak akan memilih yang baik dalam hidupnya. Biarkan ia tentukan cita-citanya. Tugas kita hanyalah mendampinginya tumbuh dalam perasaan disayangi. Sediakan diri dan hati untuk membantu anak menemukan keinginan Tuhan dalam dirinya. Kita tidak berhak atas masa depan anak karena kita tidak ada di situ kelak…. Tugas kita selanjutnya “hanyalah” mendoakan mereka…

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Apakah Tuhan itu selalu mengabulkan doa-doa kita? Iya, doa akan selalu dikabulkan melalui kesempatan. Asal kita peka saja dengan “bisikan Tuhan” di hati kita. Contoh:
-saat kita meminta rejeki berlimpah, apakah Tuhan langsung mengirimkanmya di depan pintu rumah? Ataukah melalui peluang misalnya dipertemukan dengan teman yang dapat membantu kita?
-saat kita berdoa agar jadi pemberani apakah kita jreng jreng jadi pemberani ataukah Tuhan menjawab melalui kesempatan melalui hadirnya ketakutan2 yang harus kita lewati agar kita bisa berani?
-saat kita berdoa ingin menjadi orang sabar apakah sekonyong-konyong kita jadi penyabar atau melalui ujian emosi agar kita menahan diri? Terutama bersabar dengan tingkah anak?
-saat kita berdoa agar keluarga kita menjadi rukun dan damai apakah tiba-tiba saja damai ataukah diberi kesempatan menyelesaikan berbagai konflik kecil hingga besar?

Nah, begitulah. Tuhan mengabulkan doa melalui kesempatan. Faktanya, kita diberi kesempatan itu melalui anak-anak. Mereka lah yang membuat kita semakin bekerja keras untuk menjemput rejeki. Merekalah yang membuat kita berani dan matang ketika harus menghadapi ketakutan, merekalah yang membuat kita menjadi pribadi yang sabar dan merekalah yang menjadi alasan mengapa kita perlu selalu rukun dan damai.

Atas izin Nya, manusia lantas dititipi anak untuk dididik dan diasuh. Itu bukti bahwa kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki kehidupan dari generasi ke generasi.

Jika kita melihat banyaknya kejadian di negeri kita, entah itu kekerasan, korupsi, terorisme, kita seringkali frustrasi sehingga timbul tanya dalam hati, “Dari mana kita bisa memulai untuk memperbaikinya? Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah semua ini? Mungkinkah Indonesia bisa lebih baik lagi dari sekarang ini?”  Akhirnya, kita berdoa supaya bangsa ini menjadi lebih baik.

Hebatnya, Tuhan sekali lagi sudah mengabulkan doa kita melalui kesempatan karena faktanya kita dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih baik melalui anak-anak. Nah, anak-anak adalah kesempatan itu. Akankah kita lewatkan atau kita terus berupaya meningkatkan kemampuan diri (baca: terus belajar dan berupaya) agar dapat mendukung anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kelak menjalani perannya dalam kehidupan ini?

Pastinya jika seluruh orangtua mengambil peran tersebut maka Indonesia niscaya betul seperti kata Bung Karno dulu bahwa negara kita akan menjadi mercusuar dunia. Bismillah…

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Alhamdulillah, selesai juga rangkaian resume buku Anak Juga Manusia. Tidak semua detil di buku saya tulis karena secara utuh karya itu hak penulis. Benerapa bagian saya tambahkan dengan keterangan dalam bahasa saya.  Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

Terimakasih untuk Bpk. Angga Setyawan, yang sudah menuliskan materi sebaik itu dan semoga kita semua bisa mengambil manfaatnya, menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita. Barokallahu… aamiin.

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (15)

Note with addition,
KOMUNIKASI
@anakjugamanusia

Komunikasi anak dan orangtua bukan hanya penting akan tetapi menjadi kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apapun kepada kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua hanya berkomunikasi ke anak pada saat tertentu saja, misalnya:
♢Saat marah
♧Saat menyuruh
♤Saat mengkritik

Hmm.. semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Padahal, seperti tertulis dalam tulisan sebelum sebelumnya bahwa tingkat komunikasi level tinggi adalah cukup menjadi pendengar setia. Itu berarti mendengar tanpa marah, kritik, pukul balik cerita, kemudian memberi masukan yang bijaksana dan fokus pada solusi saat ia minta pendapat.

Terkadang, orangtua ingin tegas pada anak. Ya, tegas itu bagus tapi bukan keras. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten.

Saat anak balita, orangtua adalah guru utama. Namun saat ia sudah beranjak dewasa posisikan kita sebagai sahabat (jangan seperti iklan obat nyamuk tuh…). Jadilah tempat curhat yang asyik buat anak agar ia tidak memilih curhat ke teman-temannya yang belum tentu benar. Kemudian dengan pasangan kita juga harus saling mengingatkan bila sudah mulai tidak bersahabat dengan anak. Saat memberi nasihat usahakan untuk tidak frontal dan menyerang, misalnya, “makanya kamu jangan begitu! Makanya kalau dikasih tahu nurut!”. Akan lebih baik bila, “hmm… mama bangga kamu sudah berusaha menghadapi masalah ini. Dulu tantemu juga pernah punya masalah hampir mirip. Tantemu bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku ya karena bisa begini begitu. Sejak saat itu mama inget betul kata tantemu. Kalau untuk masalahmu kira2 bagaimana, sayang?” Seolah-olah si tante yang memberi nasihat padahal ya kita juga yang bikin cerita perumpamaan. Bandingkan dengan, “Makanya kamu jangan begitu nanti kayak tantemu loh.” Kan anak jadi tidak mampu berpikir sendiri dan cenderung menutup diri lagi.

Kecuali kalau anak masih balita. Misal ia jatuh, maka respon kita, “wah.. jatuh ya sayang… tidak apa2, lain kali harus hati2 yaa tidak boleh diulang lagi lompat di jalan bebatuan,” dengan perumpamaan tentu mereka belum paham.. hehe… kemudian jangan pernah menyalahkan, misal: “uuhh.. batunya nakal ini, pukul aja! Atau ih kodok nih yaa bikin adek jatuh…” kelak dia akan terbiasa menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi diri. Kelak dia akan jadi pribadi tidak bertanggung jawab. Maukah begitu…?

Kemudian sering pula kita meng iming-iming hal yang tidak benar atau menakut-nakuti hal yang salah. Misal, kalau nakal nanti disuntik pak dokter loh, kalau masih bandelnya minta ampun enggak mau nurut sama mama biar mama panggilkan pak satpam/pak polisi saja. Hal ini justru akan membuat bapak ibu kerepotan saat anak betul-betul butuh dokter atau saat bertemu para aparat. Atau ayoo makan dulu nanti kita naik odong-odong (padahal enggak), nantinya anak akan belajar berbohong juga. Mending sampaikan saja kalau tidak makan nanti perutnya bisa sakit atau pengen tinggi nggak? Ayo makan yang banyak.

Memang tidak lantas berhasil tapi mereka berproses untuk memahami. Mendisiplinkan anak harus dimulai dari dini, jangan beranggapan anak kecil bisa lupa dan nurut jika diancam seperti itu. Dan yang paling penting kedua orangtua serta pengasuh yang ada di rumah harus kompak yaa.. Coba yuk…!

“Tiada perubahan yang instan seperti makanan instan”

Previous Older Entries