Ketika anak menolak disuruh..

Hmm.. memang sih anak itu bukan pesuruh kita. Tidak selamanya ia bisa ada untuk kita. Tapi… seringkali perasaan di hati anak harus harus harus selalu nurut. Demi apa? Kebaikan anak, dalih kita. Tapi tiap kali merenung semuanya demi kebaikan kita sendiri, dengan kriteria baik yang bervariasi. Relatif.

Menyuruh atau lebih baiknya kita sebut meminta tolong pada anak tidak serta merta bisa dengan kalimat perintah. Kadang bahkan seringkali kita harus cari trik agar dia bisa beranjak. Trik masing-orangtua berbeda. Ada yang dengan menakuti, merepet sampai kayak betet, memberikan jabaran konsekuensi, atau bahkan menjanjikan hadiah di ujung. Yakinlah semua itu semua pernah kita lakukan bila kepepet (nah lhoo seringnya sih sok kepepet) terus nyuruhnya eh minta tolongnya sambil memburu-buru sambil bilang ayo cepat ayo cepat (padahal diri ini sejatinya engga suka diburu-buru).
Padahal dunia anak ya memang bermain. Jadi segala solusi dari menyuruh anak-anak sebenarnya ya dengan konsep permainan (tapi tapi tapi yakin deh ini butuh kesabaran dan daya imajinasi yang sangat tinggi, dan saya tidak mumpuni sebenarnya… hanya sesekali kalau lagi bener-bener “waras” #eaeaea).

Setiap tulisan yang saya buat sama sekali tidak mengindikasikan saya sudah melakukan semua atau saya pakarnya. Sama sekali tidak. Tiap tulisan yang saya buat adalah sebagai pengingat bahwa diri ini lebih banyak tidak ingat daripada ingat. Suatu ketika ketidakwarasan itu lewat. Tersemat di dalam hayat. #eaeaea

Baiklah, ini ada suatu kisah. Tentunya di saat kewarasan saya 100%.
Si sulung yang lagi asyik bermain dengan boneka burung hantu dan derivatnya. Si bungsu lagi dipangku si emak dan ngompol. Sebenarnya celana ganti tak lebih dari sepelemparan batu dari si emak, tapi karena basah baju dengan ompol, maka:
Emak : mbak, tolonglah ambilkan ganti adek, adek ngompol nih
Mbak : ngga mau, lagi main
Emak : ayolah..
Mbak : kan di depan situ (lebih deket ke saya dari ke dia maksudnya)
Emak : oohh.. burung hantu kan bisa terbang ya… hai burung hantu tolong lah terbang ambilkan popok adek..
Mbak : (langsung melesat bawa si burung hantu terbang ambil popok) ini buat adek
Emak : makasiii ya burung hantu
Mbak : bukan burung hantu lho yang kasih, mbak yang kasih
Emak : oh iyaa… makasih ya mbak…
Mbak : sama2.. (langsung asik main lagi)

Horeee it’s work. Sama halnya dengan anak tidak mau mandi. Kalau lagi waras bilangnya ayo main air kalau lagi setengah waras bilangnya nanti kalau ngga mandi badannya kan kotor bisa gatal semua deh (konsekuensi). Kalau lagi error bin ngga waras, “buruan mandi kalau engga nanti ngga boleh main lagi ngga boleh ini itu ini itu” (ancaman ngga lazim). Atau lebih ngga waras lagi diguyur air comberan biar tau rasa n cepet mandi (byurr). Padahal si emak juga belom mandi (gedubrak).

Minat dan Bakat

“Aku minat ini.. aku bakat itu… Passionku di bidang ini… aku mahir di bidang itu…”

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Belakangan hal itulah yang sering diungkap bila hendak mencari kerja atau sekedar mengerjakan sesuatu. Karena bekerja dengan bahagia malah justru bisa menghasilkan hal lebih daripada bekerja keras (meski untuk hal yang tidak disuka) untuk mencari kebahagiaan. Upah bin gaji sekarang bukanlah suatu keniscayaan dibanding kepuasan hati saat mengerjakan sesuatu. Stress saat bekerja lebih mahal harganya dibanding gaji yang diterima.

》》》Jadi.. apakah minat, bakat, passion, dan kemahiran itu?

Ketika seseorang memiliki gairah, rasa suka, dan semangat dalam melakukan sesuatu itu disebut MINAT. Minat bisa berubah bila sudah bosan atau alih minat karena urusannya dengan hati. Misalnya, saya sekarang sedang menaruh minat tinggi pada menjahit. Besok-besok ganti suka bongkar mesin, misalnya. Minat bisa lahir dari dalam juga dari luar diri anak. Minat bisa dilatih hingga jadi mahir melakukan itu tapi tidak akan secepat dan semaksimal dibanding dengan yang memiliki bakat dalam bidang tersebut.

Jadi BAKAT adalah ketika seseorang bisa, mampu, dan bisa jadi mahir dalam melakukan sesuatu. Dorongan itu berasal dari dalam diri, bukan dari luar. Pastinya akan tambah “moncer” bila dilatih dan dipoles. Sayangnya, bakat itu meski bawaan lahir namun benar-benar Rahasia Illahi yang tidak semua bisa menemukan. Bisa jadi sampai ujung nafas tak kunjung tahu apa bakatnya alih-alih mengasahnya (sy pribadi juga belum tahu punya bakat apa… apakah benar menulis atau malah hal lain?). Mungkin ini yang dimaksud “bekal” yang dianugerahkan Allah pada kita sewaktu ruh ditiupkan. Namun hanya yang mendapat hidayah saja yang bisa memunculkan bakat serta memanfaatkannya. Kadang ada yang sebenarnya sudah ditunjukkan apa bakatnya namun tak menyadari.

PASSION adalah dimana minat dan bakat itu bertemu, berpadu, bersinergi, melahirkan KEMAHIRAN then… voilaaa prestasi hebat!

Maka dari itu, tugas kita sebagai orangtua menajamkan indera untuk melihat bakat alias potensi anak dan minatnya kemudian mengembangkannya sedari kecil sehingga bisa melebur menjadi passion yang kelak bisa mengantarkannya pada kesuksesan lahir batin dunia akhirat.

Karena bakat adalah dari dalam diri, kita tidak bisa memaksakan. Misal, tidak bakat nari disuruh nari bahkan dikursuskan segala. Bisa sih, tapi tidak akan bersinar seperti yang punya bakat. Yang punya bakat melihat saja sudah bisa. Apalagi kalau dilatih terus. Jangan kita paksakan anak memiliki bakat tertentu apalagi urusannya dengan status sosial, gaji tinggi, masa depan cerah dst. Semua itu,sekali lagi, rahasia Illahi.

Gampangnya, jika anak ditakdirkan berbibit jambu jangan dia diarahkan menjadi pohon apel karena apel sedang laris dan mahal.

Hal yang perlu disadari minat dan bakat tidak selalu berkaitan dengan dunia seni dan olahraga. Bisa jadi berhubungan dengan mata pelajaran atau hal yang lebih abstrak seperti jalan-jalan, bercerita, melayani, dll.

Bagaimana cara mengenali minat dan bakat anak (Sumardiono, 2015)?

1. Beri waktu dan ruang yang cukup untuk anak menekuni hal-hal yang ia sukai kecuali yang bertentangan dengan nilai kebaikan

2. Fasilitasi dan perkaya

Misal, anak minat menggambar maka beri fasilitas yang memudahkan ia mengeksplorasi sperti penyediaan berbagai macam media gambar, memberi stimulasi contoh2 gambar atau bahkan mengkursuskannya gambar.

3. Merubah konsumtif jadi produktif

Misalnya anak minat main game… jadikan produktif dengan membuat game atau sekedar me review game yang ia suka.

Minat makan… jadikan produktif dengan memintanya bercerita tentang sejarah makanan itu atau belajar resepnya bahkan bisa mencoba memasaknya

Minat jalan… jadikan produktif dengan menuliskan feature hasil jalan-jalan

4. Memperluas paparan

Dengan banyak mengeksplorasi hal beragam tentunya. Experience is the best teacher. Travelling is the best experience. Intinya banyak jalan-jalan (heehee).

Setelah memperluas paparan, kita amati.

-Hal apa yang secara sukarela dilakukan anak tanpa lelah&cepat tanggap?

-Apa yang menonjol dari keseharian anak? Ingat akan kecerdasan majemuk (logika, tubuh (kinestetik), relasi, imajinasi, musik, diri, bahasa, dan alam. Anak bisa memiliki 1, 2 bahkan lebih kategori kecerdasan. Kalau IQ hanya kecerdasan nomer 1 (logika) yang utamanya diukur.

-Bagaimana kualitas karyanya? Apakah lebih baik dibandingkan teman sebayanya?

Bila kita sudah menemukan bakat anak, maka dampingi, dukung, fasilitasi serta berikan apresiasi (pujian) seperlunya. Mengapa seperlunya? Kalau berlebihan malah akan merusak juga akibat terlalu jumawa. Yang terakhir… bila ingin berprestasi harus selalu endure dan persisten (bertahan).

Selamat menemukan bakat unik anak… atau bahkan bakat kita sendiri.. 😉

Ketika anak pertama menjadi si sulung

“Aya, adik lahir hari ini ya… nanti Aya sudah resmi dipanggil Mbak… Aya jadi seorang kakak…” pamitku saat Aya menemani di bed observasi ruang bersalin. Tak henti ia memeluk dan terkadang merengek umi umi… tak terasa air mataku pun menetes… semua berujung ia tak mau lepas dari gendongan bapaknya karena jelas aku tak bisa menjaganya beberapa waktu lamanya.

Tak lama Aya merajuk ingin pulang. Ia tak bisa istirahat sebagaimana biasa pola tidurnya sangat teratur saat di rumah. Dan aku sadar semua akan berubah mulai detik ini. Aku hanya berharap semoga baby blues syndrome tak menyerangku lagi sebagaimana dulu.

Masuk ruang operasi, Aya menjerit dan menangis ingin selalu bersama Bapak, ia sudah seakan “tak peduli” padaku. Aku tahu, ia sedang mengontrol emosinya. Jelas ia takut melihatku dipasang infus dan tidur bagai pesakitan. Setelah aku keluar dan diobservasi, Aya turut memeluk dan ada di sisiku. Anak pintar. Tapi itu tak lama. Ia menangis dan bilang takut saat melihat adiknya. Ia pun sudah lelah seharian terjaga. Tidur tak tenang, bahkan bangun dini hari dan mengompol di sofa tidur kamar rawat. Segera Bapaknya membawanya pulang. Ia kembali siang hari berikutnya juga dengan laporan mengompol di tempat tidurnya. Sedih sekali tak bisa mendampinginya seperti biasa. Mendadak ia harus lepas dariku. Padahal biasanya selalu bersama kapanpun dimanapun terutama sewaktu tidur. Tapi aku yakin Aya hebat, Aya kuat menghadapi separasi sementara ini.

Alhamdulillah ia mau sama adikku dan istrinya. Apa-apa sama mereka. Ya, mungkin Aya butuh pelampiasan untuk bermanja selagi bapak dan uminya tak bisa menyertainya.

Maaf ya Aya… apalagi lantas ia sakit sesaat setelah om dan tantenya pulang… demam tinggi dan batuk pilek. Sedih sekali lagi sedih rasanya saat tak bisa memeluknya, mendampinginya… karena aku pun harus jaga jarak kuatir adeknya tertular. Maaf ya Aya…

Alhamdulillah masih ada utinya… dan dia mau selalu bersama utinya. Terimakasih ya Aya sudah kooperatif…. Bukan maksud umi tidak menemani Aya…

Kecemburuan pada adik mulai ditampakkannya. Bahkan saat banyak yang berkunjung dan memberi kado untuk adiknya ia bertanya, “Aya bukaa yaa… yang buat Aya mana?” Semangat sekali… tapi demi melihat semua perkap bayi ia jelas kehilangan harapan. Terdiam saja reaksinya. Bersyukur ia tidak protes.

Namun jelas nampak bahwa ia ingin dapat kado. Alhamdulillah sepupu datang memberi kado double untuk Aya dan Ayi… makasih banyak Mecha Amalia Mediana. Aya senang bukan kepalang. Melihatnya, akupun terharu dan esoknya membelikan baju dan sandal  (menggantikan sandalnya yang hilang dalam aksi pelemparan sandal entah karena apa) untuknya saat panasnya 39 DC. Ia senang dan setelah memakai baju baru dan sandalnya ia bergaya bak princess. Lupa bahwa ia sakit.

Ya Rabb… sebuah pelajaran berharga bahwa ada hati si sulung yang harus dijaga saat kita berbaik hati memberi hadiah pada si adik baru lahir.

Seandainya suasana kembali, kita seperti biasa hanya berdua di rumah (dan sekarang tambah dek Ayi) semoga Aya benar-benar bisa menjadi sulung yang baik.

Umi dan Bapak sayaaang sekali sama Mbak Aya dan Dek Ayi. Semoga kalian rukun selalu sampai dewasa nanti….

Ketika Anak ditanya Minta Apa

Kecenderungan orangtua pasti menanyakan “minta apa” pada anak ketika merasa bersalah meninggalkannya di rumah atau tanpa alasan apapun hanya sekedar ingin memberinya sesuatu. Betul apa betul?

Beberapa anak memanfaatkan pertanyaan itu untuk meminta mainan keren nan mahal sekalian atau meminta pergi ke suatu tempat wisata atau apa sajalah yang bersifat materi lainnya.

Namun, seringkali ketika Aya ditanya Bapaknya, mau minta apa atau mau kemana saat Bapak ada libur, jawabannya sungguh fantastis, “Enggak mau… Aya mau cerita sama Bapak… mau gambar-gambar…”
Ya, Ia meminta “waktu”.

Seringkali kita tidak aware pula dengan keinginan itu. Padahal memang itu yang membuat anak senang dan puas dalam hatinya. Bukan pergi ke wahana bermain, bukan pula dibelikan mainan yang kesemuanya menuntutnya bermain sendiri dan saat pulang yang ada orangtuanya kelelahan lantas tertidur sedangkan ia belum mengantuk karena tidur sepanjang jalan. Anak sejatinya membutuhkan kebersamaan dan fokus bersama.

Sering, aku sibuk dengan HPku karena ada lintasan ide untuk menulis lantas Aya protes, “Umi tuh main HP aja…” lantas dia “membalas” dengan main tablet terus. Aku pun lantas sedikit demi sedikit mengerem main HP dan rela membuka laptop dengan dalih bekerja saat ada lintasan ide ketika sedang bersamanya.  Rupanya dia lebih maklum, membuka laptop mainannya dan ikutan mengetik di sebelahku. Sebuah pelajaran berharga untuk tidak sibuk dengan HP apalagi cuma kepoin sosmed yang tiada habisnya apalagi berita-berita bahkan broadcast yang ngga jelas sumbernya.
Kubuka jika perlu dan lampu indikator HP berkedip tanda ada pesan. Selebihnya bila Aya hanya berdua denganku dan sedang tidak asyik main sendiri, HP bertengger saja. Kalaupun perlu banget buka HP ijin dulu ke Aya apa keperluannya buka HP. Dia toh maklum asal tidak lama-lama.

Karena apa? Karena sesungguhnya yang anak minta dari kita hanya waktu untuk benar-benar bersama (baca: tanpa gangguan HP, TV, dll). Fokus… fokus… fokus…

<<That’s realy simple but why we almost can’t do it?>>

#sharepengalamanaja
#masihbelajarjuga

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (last)

Note with addition,
TUHAN MENJAWAB DOA MELALUI KESEMPATAN
@anakjugamanusia Banyak orangtua ingin anaknya berprofesi seperti orang lain yang dianggap sukses. Mengapa tidak sekedar hanya menjadi orangtua yang berkasih sayang pada anak?

Kadang ambisi justru membuat orangtua dan anak terjebak pada situasi ketika orangtua memaksakan anak menjadi ini atau itu kelak. Jika anaknya ternyata suka dan kebetulan cocok dengan pilihan orangtua tidak masalah. Namun jika sebaliknya? Apa mau disebut kalau cinta kita pada anak itu bersyarat? Apa mau disebut bila kita hanya bangga pada anak jika berprofesi tertentu?

Percayalah, bila pola asuh dan didik kita sudah baik, bisa dipastikan anak akan memilih yang baik dalam hidupnya. Biarkan ia tentukan cita-citanya. Tugas kita hanyalah mendampinginya tumbuh dalam perasaan disayangi. Sediakan diri dan hati untuk membantu anak menemukan keinginan Tuhan dalam dirinya. Kita tidak berhak atas masa depan anak karena kita tidak ada di situ kelak…. Tugas kita selanjutnya “hanyalah” mendoakan mereka…

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Apakah Tuhan itu selalu mengabulkan doa-doa kita? Iya, doa akan selalu dikabulkan melalui kesempatan. Asal kita peka saja dengan “bisikan Tuhan” di hati kita. Contoh:
-saat kita meminta rejeki berlimpah, apakah Tuhan langsung mengirimkanmya di depan pintu rumah? Ataukah melalui peluang misalnya dipertemukan dengan teman yang dapat membantu kita?
-saat kita berdoa agar jadi pemberani apakah kita jreng jreng jadi pemberani ataukah Tuhan menjawab melalui kesempatan melalui hadirnya ketakutan2 yang harus kita lewati agar kita bisa berani?
-saat kita berdoa ingin menjadi orang sabar apakah sekonyong-konyong kita jadi penyabar atau melalui ujian emosi agar kita menahan diri? Terutama bersabar dengan tingkah anak?
-saat kita berdoa agar keluarga kita menjadi rukun dan damai apakah tiba-tiba saja damai ataukah diberi kesempatan menyelesaikan berbagai konflik kecil hingga besar?

Nah, begitulah. Tuhan mengabulkan doa melalui kesempatan. Faktanya, kita diberi kesempatan itu melalui anak-anak. Mereka lah yang membuat kita semakin bekerja keras untuk menjemput rejeki. Merekalah yang membuat kita berani dan matang ketika harus menghadapi ketakutan, merekalah yang membuat kita menjadi pribadi yang sabar dan merekalah yang menjadi alasan mengapa kita perlu selalu rukun dan damai.

Atas izin Nya, manusia lantas dititipi anak untuk dididik dan diasuh. Itu bukti bahwa kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki kehidupan dari generasi ke generasi.

Jika kita melihat banyaknya kejadian di negeri kita, entah itu kekerasan, korupsi, terorisme, kita seringkali frustrasi sehingga timbul tanya dalam hati, “Dari mana kita bisa memulai untuk memperbaikinya? Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah semua ini? Mungkinkah Indonesia bisa lebih baik lagi dari sekarang ini?”  Akhirnya, kita berdoa supaya bangsa ini menjadi lebih baik.

Hebatnya, Tuhan sekali lagi sudah mengabulkan doa kita melalui kesempatan karena faktanya kita dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih baik melalui anak-anak. Nah, anak-anak adalah kesempatan itu. Akankah kita lewatkan atau kita terus berupaya meningkatkan kemampuan diri (baca: terus belajar dan berupaya) agar dapat mendukung anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kelak menjalani perannya dalam kehidupan ini?

Pastinya jika seluruh orangtua mengambil peran tersebut maka Indonesia niscaya betul seperti kata Bung Karno dulu bahwa negara kita akan menjadi mercusuar dunia. Bismillah…

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Alhamdulillah, selesai juga rangkaian resume buku Anak Juga Manusia. Tidak semua detil di buku saya tulis karena secara utuh karya itu hak penulis. Benerapa bagian saya tambahkan dengan keterangan dalam bahasa saya.  Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

Terimakasih untuk Bpk. Angga Setyawan, yang sudah menuliskan materi sebaik itu dan semoga kita semua bisa mengambil manfaatnya, menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita. Barokallahu… aamiin.

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (15)

Note with addition,
KOMUNIKASI
@anakjugamanusia

Komunikasi anak dan orangtua bukan hanya penting akan tetapi menjadi kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apapun kepada kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua hanya berkomunikasi ke anak pada saat tertentu saja, misalnya:
♢Saat marah
♧Saat menyuruh
♤Saat mengkritik

Hmm.. semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Padahal, seperti tertulis dalam tulisan sebelum sebelumnya bahwa tingkat komunikasi level tinggi adalah cukup menjadi pendengar setia. Itu berarti mendengar tanpa marah, kritik, pukul balik cerita, kemudian memberi masukan yang bijaksana dan fokus pada solusi saat ia minta pendapat.

Terkadang, orangtua ingin tegas pada anak. Ya, tegas itu bagus tapi bukan keras. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten.

Saat anak balita, orangtua adalah guru utama. Namun saat ia sudah beranjak dewasa posisikan kita sebagai sahabat (jangan seperti iklan obat nyamuk tuh…). Jadilah tempat curhat yang asyik buat anak agar ia tidak memilih curhat ke teman-temannya yang belum tentu benar. Kemudian dengan pasangan kita juga harus saling mengingatkan bila sudah mulai tidak bersahabat dengan anak. Saat memberi nasihat usahakan untuk tidak frontal dan menyerang, misalnya, “makanya kamu jangan begitu! Makanya kalau dikasih tahu nurut!”. Akan lebih baik bila, “hmm… mama bangga kamu sudah berusaha menghadapi masalah ini. Dulu tantemu juga pernah punya masalah hampir mirip. Tantemu bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku ya karena bisa begini begitu. Sejak saat itu mama inget betul kata tantemu. Kalau untuk masalahmu kira2 bagaimana, sayang?” Seolah-olah si tante yang memberi nasihat padahal ya kita juga yang bikin cerita perumpamaan. Bandingkan dengan, “Makanya kamu jangan begitu nanti kayak tantemu loh.” Kan anak jadi tidak mampu berpikir sendiri dan cenderung menutup diri lagi.

Kecuali kalau anak masih balita. Misal ia jatuh, maka respon kita, “wah.. jatuh ya sayang… tidak apa2, lain kali harus hati2 yaa tidak boleh diulang lagi lompat di jalan bebatuan,” dengan perumpamaan tentu mereka belum paham.. hehe… kemudian jangan pernah menyalahkan, misal: “uuhh.. batunya nakal ini, pukul aja! Atau ih kodok nih yaa bikin adek jatuh…” kelak dia akan terbiasa menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi diri. Kelak dia akan jadi pribadi tidak bertanggung jawab. Maukah begitu…?

Kemudian sering pula kita meng iming-iming hal yang tidak benar atau menakut-nakuti hal yang salah. Misal, kalau nakal nanti disuntik pak dokter loh, kalau masih bandelnya minta ampun enggak mau nurut sama mama biar mama panggilkan pak satpam/pak polisi saja. Hal ini justru akan membuat bapak ibu kerepotan saat anak betul-betul butuh dokter atau saat bertemu para aparat. Atau ayoo makan dulu nanti kita naik odong-odong (padahal enggak), nantinya anak akan belajar berbohong juga. Mending sampaikan saja kalau tidak makan nanti perutnya bisa sakit atau pengen tinggi nggak? Ayo makan yang banyak.

Memang tidak lantas berhasil tapi mereka berproses untuk memahami. Mendisiplinkan anak harus dimulai dari dini, jangan beranggapan anak kecil bisa lupa dan nurut jika diancam seperti itu. Dan yang paling penting kedua orangtua serta pengasuh yang ada di rumah harus kompak yaa.. Coba yuk…!

“Tiada perubahan yang instan seperti makanan instan”

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (14)

Note with addition,

TEKNIK MEMBANDINGKAN YANG BAIK

@anakjugamanusia

Seringkali kita refleks membandingkan anak satu dengan yang lain bahkan dengan anak orang lain bila anak kita berperilaku tidak baik. Misal: itu loh seperti kakakmu, pintar!; gitu aja ga bisa, gitu aja ga berani, adikmu aja berani; kamu ini ya nakalnya minta ampun, nggak kayak si Anu, Mama kan malu; kamu ini pemalas ya, beda sekali sama papa dulu; awas ya kalau nilaimu masih jelek besok mama carikan guru les yang galak.

Cara membandingkan tersebut tidak efektif. Seringkali anak malah minder, malu, sakit hati, dan tidak percaya diri. Bahkan sampai dengki dengan anak yang diperbandingkan tersebut. Kalaupun mau berubah itu karena ia ingin berubah dan mematahkan anggapan orangtuanya, bukan karena tanggung jawab pribadi. Yang lebih parah bila sampai menghakimi diri sendiri, “ya memang aku ini bodoh, malas, nakal, mau gimana lagi?”

Berarti kita tidak boleh membandingkan anak-anak, nih? Boleh, tetapi tidak diperbangkan dengan orang lain tapi dengan dirinya sendiri.

Puji dia setiap berbuat baik sekecil apapun, Misal:

-duh, kakak pintar ya…

-kakak, terimakasih ya hari ini sudah menjadi kakak yang luar biasa. Mau bantu adik dan mama… mama bangga sama kakak.

Nantinya bila anak kita berbuat kurang baik kita bisa me recall kebaikan dia. Misal:

-kakak kan udah pintar kemarin2, mau bantu mama beresin mainan. Ada apa sekarang kok tidak mau?

-kakak kan seorang kakak yang luar biasa. Seingat mama kakak selalu membantu adik dengan riang. Sekarang kok begini kenapa ya?

Dengan demikian anak akan merasa, “oh iya yaa kan aku dulu pernah berbuat baik, tentunya besok aku akan bisa berbuat baik,”

Atau gunakan bahasa yang merefleksikan perasaan kita, seperti: mama sedih kalau kamu seperti ini, mama kurang baik mengajarimu, sepertinya.

Namun jika kebaikan kecil saja kita lewatkan dari mana ia tahu itu yang namanya berbuat baik dan jadi anak pintar menurut kita?

Tuhan menitipkan anak yang sempurna pada kita

Kitalah yang melabeli anak dengan sebutan bodoh, nakal, dan sebagainya

Percayalah, tidak ada produk gagal dari Tuhan

Kitalah yang harus berusaha memahami mereka, belajar tentang kelebihan mereka dan menerima kekurangan mereka

Bukan anak kita yang harus diganti, cara kita memperlakukan anaklah yang perlu diperbaiki.

Yuk, terus belajar. Manusia tidak ada yang tidak pernah salah. Bukan berarti begitu tidak sempurna. Kesempurnaan adalah ketika kesalahan tadi diperbaiki. Kesempurnaan yang sejati bukanlah dari hasil yang kita peroleh melainkan dari proses yang mampu dan mau kita lewati sepanjang hidup untuk mencapai sesuatu.

Previous Older Entries