Puisi 

Teruntuk Sahabatku

Bulan Mei semua dimulai

Bersatu di kelas Matrikulasi

Kau dan Aku beda

Tapi di IIP kau dan aku menjadi kita

NHW silih berganti

Berbilang minggu kita lewati

Kau temukan dirimu sejati

Begitupun aku pandang diri ini

Wisuda adalah momen

Ketika matrikulasi harus diakhiri

Saatnya naik kelas kawan

Langkah kita jangan terhenti

Wisuda terindah tempo hari

Bangga sekali menjadi saksi

Kerja keras tak terperi

Dari panitia laksana ibu peri

Mbak Enes, Mbak Ara dan Mas Elan

Ketiga bintang keluarga andalan

Mereka bersinar sangat terang

Memercik cahaya untuk jiwa yang tenang

Wahai kawan,

Indahnya persahabatan

Meski kadang tersilap perasaan

Syak prasangka sering kejadian

Duhai sahabat,

Kata maaf cukuplah di hati

Karena bagiku kau penempa diri

Dan dariku hanya ada kata terimakasih

Tiada yang indah selain perjumpaan

Tiada yang sesak selain perpisahan

Namun

Ketika roda itu mesti berputar

Maka biarkan ia berputar

Akan oleng jika kerikil mengganjal

Akan jatuh jika batu menantang

Kelak roda akan berhenti pula

Di titik yang sama

Persis

Dimana kita berjumpa

Jakarta, 06 Oktober 2017

Dari sahabatmu,

Ayuseite

Advertisements

Catatan Wisuda Matrikulasiku

Tema: Ibu Profesional, Arsitek Peradaban

(Resume oleh: Gustrin Oktaviayu as myself)

Wisuda Matrikulasi Institut Ibu Profesional Jakarta batch #4 ini termasuk deretan wisuda akhir dari semua regional yang melaksanakan wisuda offline. Akhir identik dengan mahir karena telah belajar banyak dari wisuda sebelum-sebelumnya yang telah dihelat. Benar saja, wisuda ini terkesan spektakuler dan elegan.  

Dari temanya saja, kita seolah disuguhi sesuatu yang futuristik. Terlihat dari desain flyer, poster, backdrop dan sarana pendukung lain yang eye catchy dengan sentuhan warna ungu, putih serta biru. Demikian pula pemilihan warna dresscodenya. Tak sedikit yang rela merogoh kocek untuk membeli baju sesuai tema. Hasilnya, nampak serasi dan menarik hati.

Alur peserta datang, disambut tim registrasi yang super sigap dan pemberian arahan anak-anak ke Kids Corner yang terletak di selasar gedung juga demikian. Tampak bazaar di seberang meja registrasi membuat mata melirik sana-sini. Memasuki area wisuda, disambut photobooth bertemakan pohon harapan. Sayangnya, pohon itu tak rimbun oleh kertas bertulisan. Namun tetap saja unik dan instagramable. Peserta duduk sesuai nomer kursi yang telah ditentukan panitia untuk memudahkan mobilisasi ketika prosesi wisuda berlangsung.

Acara dimulai dengan pemutaran video sambutan, kolase album wisudawati, lanjut pembukaan secara resmi, tilawah QS Luqman, sambutan ketua panitia, sambutan leader IIP Jakarta, prosesi pemotongan tumpeng, prosesi wisuda ditandai dengan penyematan selempang ke perwakilan/ketua kelas, persembahan mini drama, acara inti berupa talkshow bersama ketiga putra-putri Bapak Dodik dan Ibu Septi yang inspiring kemudian penutup. Di sela acara diisi pembagian doorprize yang jumlahnya ratusan.

Dalam presentasinya, Mbak Enes, Mbak Ara dan Mas Elan menyampaikan materi tentang keutamaan mendidik adab dalam keluarga serta memberikan beberapa contoh di keluarga mereka.

Ibu profesional, arsitek peradaban merupakan tema yang cukup berat menurut mereka. Sebab, peradaban bersifat jangka panjang dan berkaitan dengan metode waktu. Untuk memudahkan kita semua memahami, sebaiknya dirunut dari asal katanya, yaitu adab. Adab berkorelasi kuat dengan adat budaya setempat. Kita disebut beradab jika memiliki akhlak baik. Akhlak kita baik jika keimanan kita baik.

Gambaran yang diberikan berupa tangga ke atas, tapi disini saya buat dari atas ke bawah (karena tidak bisa buat tangga T.T):

Iman — sesuatu yang “hitam putih”, absolut. Contoh, Allah itu Esa

Akhlak — bersifat universal, contoh: jujur itu baik

Adab — bersifat lokal, berhubungan dengan interaksi manusia, korelasi dengan adat, contoh: bersendawa tidak sopan di Jawa tetapi di Arab justru dianjurkan dilakukan setelah makan

Bicara

Mereka mengerucutkan satu poin saja untuk dibahas, yaitu adab berbicara. Seperti dalam forum resmi, anak-anak balita sebaiknya sudah mulai diberitahu yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum berangkat agar mereka mulai mengerti kapan bisa bicara bebas kapan terbatas. Etika berbicara pun juga perlu diperhatikan, semisal pemilihan kata yang halus untuk bicara ke yang lebih tua, dilarang memotong pembicaraan, dilarang berbicara tentang SARA, politik, hate speech, dan lainnya. Dengan sering menyampaikan demikian anak akan belajar dan lebih adaptif, lebih bisa menghargai dan menghormati oranglain terutama orang yang lebih tua. Jangan lupa bahwa anak itu peniru ulung. Putra putri bapak Dodik dan Ibu Septi terbiasa dengan presentasi di depan forum karena mereka terbiasa melihat orangtuanya demikian dan bahkan selalu dilatih presentasi setelah semua selesai kegiatan di malam hari pun hanya dengan menyampaikan “tadi saya melihat 10 semut”.

Anak akan percaya kepada orangtua yang konsisten memberikan teladan, bukan omong doang. Misal, ibu sampaikan dilarang nonton TV tapi ibunya sendiri nonton sinetron melulu. Anak akan cenderung mencari figur lain. So, jangan segan untuk sampaikan maaf kepada anak jika kita terbelit inkonsistensi. Ada kalanya anak juga akan melawan kita demi dianggap atau sekedar diperhatikan.

Bapak Dodik terkenal tidak pernah marah tapi sekalinya marah beliau murka. Dalam mendidik ketiga putra putrinya, beliau membedakan metode sesuai dengan karakter anak. Secara umum tipe anak dibagi menjadi kinestetik, visual, dan auditori. Bisa campuran dari ketiganya. Misal, Mas Elan adalah anak kinestetik dimana ia mengklasifikasikan menjadi kinestetik low (sedikit saja bergerak cukup), medium (melihat orang bergerak saja cukup) dan high (membayangkan bergerak saja sudah cukup) sedangkan mbak Ara tipe campuran kinestetik dan auditori sehingga ibu Septi sempat harus mengajar Mbak Ara ketika sedang lari-lari. Pengklasifikasian ini bukan untuk mengkotakkan tapi memudahkan kita menemukan metode belajar yang pas untuk anak sesuai fitrahnya.

Ibu Septi adalah pembelajar yang luar biasa. Bahkan, ibu Septi sampai bisa menemukan metode luar biasa terinspirasi dari ketiga putra putrinya. Dari Mbak Enes yang suka matematika Ibu Septi mencipta Jarimatika. Dari mbak Ara yang susah membaca ibu Septi menemukan metode Abacabaca. Dan dari Mas Elan lahirlah Lebah Putih.

Mereka bertiga mengaku diberi kebebasan penuh menentukan metode belajar apa yang disuka. Entah homeschooling atau sekolah formal yang penting home education berjalan terus. Intinya, mereka enjoy dan bisa bergerak sesuai fitrah.

Demikian, semoga kita bisa menjadi ibu-ibu profesional yang menjadi arsitek bagi peradaban baru yang lebih baik. Tak usah muluk-muluk, peradaban dari dalam keluarga kecil kita saja dulu lantas bergerak ke komunitas dan bangsa. Meminjam istilah Cak Nun dalam bukunya, bahwa Indonesia membutuhkan peradaban spiritual (dilandasi iman taqwa, kembali ke fitrah) agar bisa menjadi pemimpin peradaban dunia. Maka, mampukan kita. Biidznillah.

Nice Home Work #9

Bismillahirrahmanirrahiim…

Finally, the last home work. Tapi tetap saja sejatinya aku belum yakin dengan apa yang kutulis. Belum juga merasa akan bersungguh sungguh menjalankannya. Selalu saja ada ganjalan dalam hati yang menyeruak. Selama ini NHW masih menjadi sesuatu yang harus dikerjakan untuk menggugurkan kewajiban agar bisa naik kelas bunda sayang. Karena apa? Karena di matrikulasi semua kelas diuji cobakan dan nyatanya pada part bunda sayang saja aku belum bisa bersungguh sungguh. Malah lompat lagi hingga kini secuil tentang bunda produktif. How can I?

Finding-the-Light-in-Your-Fire-1024x536-01.jpeg

Apalagi… di 2 minggu liburanku kemarin aku menemukan hal baru. Belajar berenang. Sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan. Tapi karena pertemuan dengan kawan lama yang dia bisa mengajar renang membuatku menemukan minat yang betul baru dan membuatku penasaran. Dulu aku sangat takut bahkan membenci air. Dari saat aku memberanikan diri belajar (aslinya karena dukungan orangtuaku-yeay finally) sampai kini aku masih sangat bersemangat meski belum juga bisa menaklukkan air. Paling tidak, aku tidak takut lagi. Alhamdulillah. Hasilnya… aku melupakan passionku yang sudah kutulis sejak NHW 1. Menulis tentang dunia parenting. Ngelayap kemana soul itu. Malah terusik juga dengan hobi rekam suara. Baca puisi sastra lama. Awalnya mau take video sama suami yang menggenjreng gitar untuk ngiringi suara pas pasan ku. Tapi.. karena kesibukannya jadi urung. Alhasil aku menyesal kenapa dulu aku tak belajar main musik. Coba bisa ya… kan bisa iringi sendiri. Ah tak apalah. Sementara cari musik instrumen saja.

Nah… dengan latar belakang demikian, sekarang NHW 9 mengharuskan kami menuliskan produktivitas kami dalam ranah sosial setelah melihat isu yang lagi booming. Jujur saya jadi semakin bingung berandai andai. Tapi karena satu saja yang harus di breakdown, maka saya akan coba menuliskan, melanjutkan serial dari NHW 1 meski entah bagaimana aplikasinya kelak.

Passion saya menulis

Bidang yang ingin saya tulis adalah parenting

1501118712779.jpg

Alasan: dalam lingkup terbatas saya di dunia kompleks militer, pengasuhan anak, khususnya anak anggota sering terabaikan. Kesibukan ibu-ibu memenuhi standar kegiatan pimpinan seringkali mengabaikan anak. Tak heran arogansi anak tentara masih sering terlihat. Tapi.. posisi saya sekarang masih di bawah. Saya hanya bisa menulis. Mencoba menuliskannya sehati hati mungkin. Namun sampai sekarang belum menemukan ide how to start with. Sedikit demi sedikit saya menuliskan tentang anak saya dan bagaimana pola saya mendidik. Meski detik ini saya stress berat menghadapi anak pertama saya yang semakin sensitif alias perasa. Semoga kelak pengalaman saya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

Nice Home Work #8

Ini adalah satu NHW sebelum akhir. One step closer. Semakin mengerucut karena memaksa kita untuk menentukan MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS.

images-01.jpeg

Pada NHW 7 saya memilih beberapa hal di kuadran 1 (suka dan bisa), yaitu menulis termasuk di dalamnya meresume ataupun mereview, membaca puisi, pidato, memasak, koreografer. Kesemua hal tersebut sangat sesuai dengan hasil tes temu bakat saya. Dimana potensi kekuatan saya ternyata adalah analis, commander, creator, evaluator, interpretor dan jurnalis.

Maka, salah satu aktivitas yang saya tetapkan sebagai yang paling bisa dan suka adalah menulis.

1. Saya ingin menjadi apa? (BE)

jelas, penulis.

2. Saya ingin melakukan apa? (DO)

jelas, menulis buku.

3. Saya ingin memiliki apa? (HAVE)

jelas, buku terbit dan royalti (eh…)

Tentang apa? Dunia Parenting.

Dengan memperhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose). Sebenarnya lifetime purpose saya hanya ingin menjadi pribadi bermanfaat dimana memiliki ilmu yang berguna, anak yang sholehah serta sedekah jariyah yang senantiasa mengalir.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)

Karena kebisaan utama saya adalah menulis dan berbicara, maka manfaat yang akan saya tebar adalah senantiasa menuliskan hikmah serta menyampaikannya. Jujur, saya kurang bisa membuat strategic plan tahunan apalagi sebuah new year resolution. Karena, sudah sering saya buat tapi selalu gagal. Maka, saya biarkan saja mengalir.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution). I have no words for it. 

Entah karena berubah itu susah

Atau karena jiwa raga selalu resah

Namun batin selalu pasrah

Entah berserah atau kalah

Nice Home Work #7

Sebelum masuk ke jawaban dari NHW #7 saya ingin share materi ke 7 dari matrikulasi IIP ini. Sungguh materi ini sangat mengena dan membuat saya amat tersadar. Bahwa berada di rumah bersama anak-anak tanpa harus bekerja di luar bisa dikatakan produktif. Bahwa kebisaan saya yang di bawah saya masukkan ke dalam Kuadran 1 merupakan bentuk produktivitas juga.

-183632655-01.jpeg

Materi Matrikulasi ke 7: REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.

Para Ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

_Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar_

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah

_bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga_

Semua pengalaman para Ibu Profesional di Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI”

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka

Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1⃣menambah syukur,
2⃣menegakkan taat
3⃣berbagi manfaat.

Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan:
_Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014_
_Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010_
_Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

Well, Setelah membaca materi, saya mengerjakan NHW ke 7 dimulai dengan membuka laman www.temubakat.com dan mengerjakan tes untuk mendapatkan hasil strenght tipologi. Begini yang saya dapatkan.

Screenshot_20170713-050506-02.jpeg
Ternyata tidak jauh beda dari hal yang saya suka dan bisa.

Screenshot_20170713-050210-01.jpeg

Nice Home Work #6

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tiba di tugas keenam pasca libur 2 minggu itu antara ada dan tiada… hehehe.

Ah, sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin….

Tugas kali ini tentang Ibu sebagai manajer keluarga. Manager is arranger, maka dibutuhkan sebuah kepiawaian dalam mengatur segala hal di keluarga. Bila fungsi ini berjalan sebagaimana mestinya tentu sebuah keluarga akan berjalan pula dengan baik serta teratur. Akan tetapi tidak semua ibu menyadari hal itu sepenuhnya . Begitupun dengan saya.

PhotoGrid_1499209453176.jpg

Di materi saya tersentil dengan pernyataan berpakaianlah selayaknya seorang manajer. Hmmm… ini susah sekali. Secara pakaian ternyaman untuk bekerja di rumah adalah daster yang mana lebih kucel lebih yahud. Sungguh ini menjadi PR besar buat saya.

Back to the topic. Karena keahlian yang ingin saya kuasai adalah parenting serta outputnya adalah buku parenting, maka 10.000 jam saya tak lain adalah berkutat pada bidang tersebut serta mengasuh anak secara langsung. Adapun 3 aktivitas wajib adalah:

  1. Bermain bersama anak usia 5 tahun
  2. Mengurus batita di bawah 1 tahun
  3. Membaca buku, menulis, dll seputar parenting

Sedangkan 3 aktivitas tak berguna dimana tanpa sadar saya menghabiskan waktu saya adalah:

  1. Kepoin (membuka laman) instagram
  2. Kepoin facebook
  3. Belanja belanji di shopee

Kegiatan domestik saya bisa selesaikan 2 jam saja… tapi sungguh saya bisa stress kalau menaut waktu. Karena anak terutama yang masih bayi sungguh tidak bisa diprediksi. Jadi semua se fleksibel mungkin. Apalagi saya memiliki keterbatasan pada kaki dan sistem peredaran darah. Kaki saya pernah cedera jadi kalau sudah capek ya tidak bisa dipaksakan. Jadi rasanya Allah menguji saya dengan banyak potensi tapi minim tenaga.

Harapan saya, semoga saya bisa benar fokus pada anak dan ilmu parenting di samping tetap bisa menjalankan peran lain saya.

Bismillahitawakkaltu alallahu

Laa khaula wa laa quwwata illa billahi

Nice Home Work #5

NHW ke 5 pastinya adalah kelanjutan dari NHW sebelumnya. Jika NHW pertama meminta kita menentukan jurusan ilmu yang paling kita minati, NHW 2 menjabarkan indikator pribadi, NHW 3 dan 4 mulai menjurus kepada potensi dan benang merah dari ilmu. Maka, di NHW 5 kita diminta menjabarkan desain pembelajaran dari ilmu yang telah kita pilih untuk dikuasai.
PhotoGrid_1497516275791.jpg

Apa itu desain pembelajaran?
Bagi pendidik pasti akan menembaknya sebagai silabus atau rancangan program pembelajaran. Secara definisi desain berarti rancangan. Menurut Wikipedia, pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

Beberapa ahli memberikan batasan yang berbeda-beda. Definisi di atas adalah yang paling sesuai dengan pola pikir saya. Gampangnya, desain pembelajaran adalah rancangan terhadap segala aspek yang diperlukan dalam proses perolehan ilmu dan pengetahuan pada peserta didik. Untuk bisa merancang dengan baik, pertanyaan yang perlu dijawab adalah:

♤Apa ilmunya?
Ilmu yang akan saya pelajari adalah ilmu parenting.
♤Siapa sasaran didik dan pendidiknya?
Sasaran didiknya adalah saya sendiri dengan pendidik utama pun saya pribadi (autodidak).
♤Mengapa ilmu itu?
Ilmu tersebut wajib saya pelajari dengan TUJUAN utama karena saya minim pengetahuan tentang itu sedangkan saya punya 2 anak dan cenderung memiliki anggota dalam organisasi yang sudah punya anak dimana saya menjadi tempat bertanya.
♤Dimana ilmu itu bisa didapat?
Ilmu parenting bisa saya dapatkan dari berbagai macam media dan narasumber seperti buku, video, seminar, webinar, pelatihan, IIP, pengamatan lingkungan, dll.
♤Kapan ilmu itu bisa dipelajari?
Ilmu parenting bisa dipelajari kapanpun dan sifatnya fleksibel karena bukan disiplin ilmu wajib di sekolah.
♤Bagaimana cara mempelajari ilmu itu?
Cara mempelajari ilmu parenting adalah dengan mempelajari terus menerus sepanjang waktu sampai akhir hayat baik secara autodidak maupun berdiskusi bersama narasumber.

Ilmu yang terkait dengan ilmu parenting  antara lain:
♧Ilmu agama
♧Ilmu psikologi kepribadian, psikologi anak
♧Ilmu tumbuh kembang anak
♧Ilmu kesehatan anak
♧Ilmu manajemen dan pengembangan diri
♧Ilmu manajemen waktu
♧Ilmu manajemen keuangan
♧Ilmu pendidikan anak

Proses saya bisa membuat desain pembelajaran tak lepas dari hasil diskusi bersama rekan-rekan sekelas di MIIP batch #4 Jakarta 1 juga hasil searching di mesin pencari populer, Google, yang sejatinya mengeluarkan blog-blog para alumni kelas Matrikulasi batches sebelum sebelumnya. Semuanya inspiring. Karena satu hal, bahwa tidak ada jawaban yang salah. Tentu, pernyataan ini dimaksudkan agar kita sebagai pembelajar tidak takut salah. Karena rasa takut salah dan takut gagal merupakan momok dalam belajar. Semua benar. Jika dinyatakan demikian maka naluri belajar akan timbul tak terbendung. Hanya saja, adanya review menunjukkan bahwa kebenaran yang ada tetap memiliki kriteria, sesuai path yang ditentukan penyelenggara.

Baiklah, ilmu yang akan saya dalami sesuai NHW 1 adalah ilmu parenting dan NHW 5 ini meminta saya membuat desain pembelajarannya. Setelah saya renungkan, mencoba membuat silabus maupun RPP ala ala saya, saya malah menemui titik buntu dan sebuah pertanyaan besar menggayut: bukankah saya sedang melatih diri untuk tidak over perfeksionis lagi dan sedikit banyak keluar dari rutinitas terjadwal? Sehingga desain pembelajaran yang menargetkan hanya akan membuat saya stress dan kembali ke sebuah rutinitas menjemukan.

Maka, saya putuskan desain pembelajaran (sementara) saya untuk mempelajari parenting adalah super fleksible, tidak muluk2, autodidak dengan acuan dan poros utama mengikuti “kuliah” di IIP sesuai step nya. Mulai dari menyelesaikan program matrikulasi, bunsay, buncek, bunpro serta bunshol secara berurutan. That’s it!

“I love study and I love to be a long life learner”

 

Previous Older Entries