Nice Home Work #9

Bismillahirrahmanirrahiim…

Finally, the last home work. Tapi tetap saja sejatinya aku belum yakin dengan apa yang kutulis. Belum juga merasa akan bersungguh sungguh menjalankannya. Selalu saja ada ganjalan dalam hati yang menyeruak. Selama ini NHW masih menjadi sesuatu yang harus dikerjakan untuk menggugurkan kewajiban agar bisa naik kelas bunda sayang. Karena apa? Karena di matrikulasi semua kelas diuji cobakan dan nyatanya pada part bunda sayang saja aku belum bisa bersungguh sungguh. Malah lompat lagi hingga kini secuil tentang bunda produktif. How can I?

Finding-the-Light-in-Your-Fire-1024x536-01.jpeg

Apalagi… di 2 minggu liburanku kemarin aku menemukan hal baru. Belajar berenang. Sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan. Tapi karena pertemuan dengan kawan lama yang dia bisa mengajar renang membuatku menemukan minat yang betul baru dan membuatku penasaran. Dulu aku sangat takut bahkan membenci air. Dari saat aku memberanikan diri belajar (aslinya karena dukungan orangtuaku-yeay finally) sampai kini aku masih sangat bersemangat meski belum juga bisa menaklukkan air. Paling tidak, aku tidak takut lagi. Alhamdulillah. Hasilnya… aku melupakan passionku yang sudah kutulis sejak NHW 1. Menulis tentang dunia parenting. Ngelayap kemana soul itu. Malah terusik juga dengan hobi rekam suara. Baca puisi sastra lama. Awalnya mau take video sama suami yang menggenjreng gitar untuk ngiringi suara pas pasan ku. Tapi.. karena kesibukannya jadi urung. Alhasil aku menyesal kenapa dulu aku tak belajar main musik. Coba bisa ya… kan bisa iringi sendiri. Ah tak apalah. Sementara cari musik instrumen saja.

Nah… dengan latar belakang demikian, sekarang NHW 9 mengharuskan kami menuliskan produktivitas kami dalam ranah sosial setelah melihat isu yang lagi booming. Jujur saya jadi semakin bingung berandai andai. Tapi karena satu saja yang harus di breakdown, maka saya akan coba menuliskan, melanjutkan serial dari NHW 1 meski entah bagaimana aplikasinya kelak.

Passion saya menulis

Bidang yang ingin saya tulis adalah parenting

1501118712779.jpg

Alasan: dalam lingkup terbatas saya di dunia kompleks militer, pengasuhan anak, khususnya anak anggota sering terabaikan. Kesibukan ibu-ibu memenuhi standar kegiatan pimpinan seringkali mengabaikan anak. Tak heran arogansi anak tentara masih sering terlihat. Tapi.. posisi saya sekarang masih di bawah. Saya hanya bisa menulis. Mencoba menuliskannya sehati hati mungkin. Namun sampai sekarang belum menemukan ide how to start with. Sedikit demi sedikit saya menuliskan tentang anak saya dan bagaimana pola saya mendidik. Meski detik ini saya stress berat menghadapi anak pertama saya yang semakin sensitif alias perasa. Semoga kelak pengalaman saya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

Nice Home Work #8

Ini adalah satu NHW sebelum akhir. One step closer. Semakin mengerucut karena memaksa kita untuk menentukan MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS.

images-01.jpeg

Pada NHW 7 saya memilih beberapa hal di kuadran 1 (suka dan bisa), yaitu menulis termasuk di dalamnya meresume ataupun mereview, membaca puisi, pidato, memasak, koreografer. Kesemua hal tersebut sangat sesuai dengan hasil tes temu bakat saya. Dimana potensi kekuatan saya ternyata adalah analis, commander, creator, evaluator, interpretor dan jurnalis.

Maka, salah satu aktivitas yang saya tetapkan sebagai yang paling bisa dan suka adalah menulis.

1. Saya ingin menjadi apa? (BE)

jelas, penulis.

2. Saya ingin melakukan apa? (DO)

jelas, menulis buku.

3. Saya ingin memiliki apa? (HAVE)

jelas, buku terbit dan royalti (eh…)

Tentang apa? Dunia Parenting.

Dengan memperhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose). Sebenarnya lifetime purpose saya hanya ingin menjadi pribadi bermanfaat dimana memiliki ilmu yang berguna, anak yang sholehah serta sedekah jariyah yang senantiasa mengalir.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)

Karena kebisaan utama saya adalah menulis dan berbicara, maka manfaat yang akan saya tebar adalah senantiasa menuliskan hikmah serta menyampaikannya. Jujur, saya kurang bisa membuat strategic plan tahunan apalagi sebuah new year resolution. Karena, sudah sering saya buat tapi selalu gagal. Maka, saya biarkan saja mengalir.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution). I have no words for it. 

Entah karena berubah itu susah

Atau karena jiwa raga selalu resah

Namun batin selalu pasrah

Entah berserah atau kalah

Nice Home Work #7

Sebelum masuk ke jawaban dari NHW #7 saya ingin share materi ke 7 dari matrikulasi IIP ini. Sungguh materi ini sangat mengena dan membuat saya amat tersadar. Bahwa berada di rumah bersama anak-anak tanpa harus bekerja di luar bisa dikatakan produktif. Bahwa kebisaan saya yang di bawah saya masukkan ke dalam Kuadran 1 merupakan bentuk produktivitas juga.

-183632655-01.jpeg

Materi Matrikulasi ke 7: REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.

Para Ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

_Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar_

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah

_bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga_

Semua pengalaman para Ibu Profesional di Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI”

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka

Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1⃣menambah syukur,
2⃣menegakkan taat
3⃣berbagi manfaat.

Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan:
_Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014_
_Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010_
_Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

Well, Setelah membaca materi, saya mengerjakan NHW ke 7 dimulai dengan membuka laman www.temubakat.com dan mengerjakan tes untuk mendapatkan hasil strenght tipologi. Begini yang saya dapatkan.

Screenshot_20170713-050506-02.jpeg
Ternyata tidak jauh beda dari hal yang saya suka dan bisa.

Screenshot_20170713-050210-01.jpeg

Nice Home Work #6

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tiba di tugas keenam pasca libur 2 minggu itu antara ada dan tiada… hehehe.

Ah, sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin….

Tugas kali ini tentang Ibu sebagai manajer keluarga. Manager is arranger, maka dibutuhkan sebuah kepiawaian dalam mengatur segala hal di keluarga. Bila fungsi ini berjalan sebagaimana mestinya tentu sebuah keluarga akan berjalan pula dengan baik serta teratur. Akan tetapi tidak semua ibu menyadari hal itu sepenuhnya . Begitupun dengan saya.

PhotoGrid_1499209453176.jpg

Di materi saya tersentil dengan pernyataan berpakaianlah selayaknya seorang manajer. Hmmm… ini susah sekali. Secara pakaian ternyaman untuk bekerja di rumah adalah daster yang mana lebih kucel lebih yahud. Sungguh ini menjadi PR besar buat saya.

Back to the topic. Karena keahlian yang ingin saya kuasai adalah parenting serta outputnya adalah buku parenting, maka 10.000 jam saya tak lain adalah berkutat pada bidang tersebut serta mengasuh anak secara langsung. Adapun 3 aktivitas wajib adalah:

  1. Bermain bersama anak usia 5 tahun
  2. Mengurus batita di bawah 1 tahun
  3. Membaca buku, menulis, dll seputar parenting

Sedangkan 3 aktivitas tak berguna dimana tanpa sadar saya menghabiskan waktu saya adalah:

  1. Kepoin (membuka laman) instagram
  2. Kepoin facebook
  3. Belanja belanji di shopee

Kegiatan domestik saya bisa selesaikan 2 jam saja… tapi sungguh saya bisa stress kalau menaut waktu. Karena anak terutama yang masih bayi sungguh tidak bisa diprediksi. Jadi semua se fleksibel mungkin. Apalagi saya memiliki keterbatasan pada kaki dan sistem peredaran darah. Kaki saya pernah cedera jadi kalau sudah capek ya tidak bisa dipaksakan. Jadi rasanya Allah menguji saya dengan banyak potensi tapi minim tenaga.

Harapan saya, semoga saya bisa benar fokus pada anak dan ilmu parenting di samping tetap bisa menjalankan peran lain saya.

Bismillahitawakkaltu alallahu

Laa khaula wa laa quwwata illa billahi

Nice Home Work #5

NHW ke 5 pastinya adalah kelanjutan dari NHW sebelumnya. Jika NHW pertama meminta kita menentukan jurusan ilmu yang paling kita minati, NHW 2 menjabarkan indikator pribadi, NHW 3 dan 4 mulai menjurus kepada potensi dan benang merah dari ilmu. Maka, di NHW 5 kita diminta menjabarkan desain pembelajaran dari ilmu yang telah kita pilih untuk dikuasai.
PhotoGrid_1497516275791.jpg

Apa itu desain pembelajaran?
Bagi pendidik pasti akan menembaknya sebagai silabus atau rancangan program pembelajaran. Secara definisi desain berarti rancangan. Menurut Wikipedia, pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

Beberapa ahli memberikan batasan yang berbeda-beda. Definisi di atas adalah yang paling sesuai dengan pola pikir saya. Gampangnya, desain pembelajaran adalah rancangan terhadap segala aspek yang diperlukan dalam proses perolehan ilmu dan pengetahuan pada peserta didik. Untuk bisa merancang dengan baik, pertanyaan yang perlu dijawab adalah:

♤Apa ilmunya?
Ilmu yang akan saya pelajari adalah ilmu parenting.
♤Siapa sasaran didik dan pendidiknya?
Sasaran didiknya adalah saya sendiri dengan pendidik utama pun saya pribadi (autodidak).
♤Mengapa ilmu itu?
Ilmu tersebut wajib saya pelajari dengan TUJUAN utama karena saya minim pengetahuan tentang itu sedangkan saya punya 2 anak dan cenderung memiliki anggota dalam organisasi yang sudah punya anak dimana saya menjadi tempat bertanya.
♤Dimana ilmu itu bisa didapat?
Ilmu parenting bisa saya dapatkan dari berbagai macam media dan narasumber seperti buku, video, seminar, webinar, pelatihan, IIP, pengamatan lingkungan, dll.
♤Kapan ilmu itu bisa dipelajari?
Ilmu parenting bisa dipelajari kapanpun dan sifatnya fleksibel karena bukan disiplin ilmu wajib di sekolah.
♤Bagaimana cara mempelajari ilmu itu?
Cara mempelajari ilmu parenting adalah dengan mempelajari terus menerus sepanjang waktu sampai akhir hayat baik secara autodidak maupun berdiskusi bersama narasumber.

Ilmu yang terkait dengan ilmu parenting  antara lain:
♧Ilmu agama
♧Ilmu psikologi kepribadian, psikologi anak
♧Ilmu tumbuh kembang anak
♧Ilmu kesehatan anak
♧Ilmu manajemen dan pengembangan diri
♧Ilmu manajemen waktu
♧Ilmu manajemen keuangan
♧Ilmu pendidikan anak

Proses saya bisa membuat desain pembelajaran tak lepas dari hasil diskusi bersama rekan-rekan sekelas di MIIP batch #4 Jakarta 1 juga hasil searching di mesin pencari populer, Google, yang sejatinya mengeluarkan blog-blog para alumni kelas Matrikulasi batches sebelum sebelumnya. Semuanya inspiring. Karena satu hal, bahwa tidak ada jawaban yang salah. Tentu, pernyataan ini dimaksudkan agar kita sebagai pembelajar tidak takut salah. Karena rasa takut salah dan takut gagal merupakan momok dalam belajar. Semua benar. Jika dinyatakan demikian maka naluri belajar akan timbul tak terbendung. Hanya saja, adanya review menunjukkan bahwa kebenaran yang ada tetap memiliki kriteria, sesuai path yang ditentukan penyelenggara.

Baiklah, ilmu yang akan saya dalami sesuai NHW 1 adalah ilmu parenting dan NHW 5 ini meminta saya membuat desain pembelajarannya. Setelah saya renungkan, mencoba membuat silabus maupun RPP ala ala saya, saya malah menemui titik buntu dan sebuah pertanyaan besar menggayut: bukankah saya sedang melatih diri untuk tidak over perfeksionis lagi dan sedikit banyak keluar dari rutinitas terjadwal? Sehingga desain pembelajaran yang menargetkan hanya akan membuat saya stress dan kembali ke sebuah rutinitas menjemukan.

Maka, saya putuskan desain pembelajaran (sementara) saya untuk mempelajari parenting adalah super fleksible, tidak muluk2, autodidak dengan acuan dan poros utama mengikuti “kuliah” di IIP sesuai step nya. Mulai dari menyelesaikan program matrikulasi, bunsay, buncek, bunpro serta bunshol secara berurutan. That’s it!

“I love study and I love to be a long life learner”

 

Nice Home Work #4

Bismillahirrahmanirrahim,

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Fitrah, berarti suci; asal kejadian. Bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah dan asal kejadiannya oleh Allah sudah diberi perbekalan. Fitrah tersebut antara lain:

1. Fitrah Keimanan.
2. Fitrah Seksualitas.
3. Fitrah individualitas.
4. Fitrah Belajar.
5. Fitrah Bakat.
6. Fitrah Estetika dan Bahasa.
7. Fitrah Jasmani.

PhotoGrid_1496843644785.jpg

Berikut ini framework dari ust. Harry Santosa dan Padepokan Ibu Septi – Pak Dodik. 

IMG-20170606-WA0010.jpg

 

IMG-20170606-WA0012.jpg

Setelah mempelajari fitrah,
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? IYA, masih. Saya masih ingin memperdalam ilmu parenting. Karena bagi saya, ilmu saya mengenai itu masih dangkal dan perlu latihan ekstra kesabaran serta mempertajam mata hati untuk bisa melihat mendengar dan merasakan dengan sesungguhnya. Ilmu itu yang ingin saya kuasai dan menyebarkan manfaatnya selain ilmu kesehatan yang sudah saya kuasai tentu. 

b.  Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? BELUM. Saya masih sangat terkendala dengan rutinitas mengurus bayi usia 2 bulan serta balita 4 tahun yang dinamikanya tidak bisa diprediksi. Jadi, masih sekitar 25 persen dan saya berkonsentrasi pada poin checklist diri sendiri.

b.Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? This question seems like killing me softly. It means, saya belum benar-benar mengerti misi spesifik apa yang saya emban. Saat pengerjaan NHW 3 saya sudah memiliki pergolakan batin karena hal ini memang sudah saya pikirkan sejak lama. Pertanyaan di NHW 3 sungguh menohok. Sekali lagi saya berpikir dan finally misi hidup saya ya menjalani takdir Allah untuk hidup. Qodarullah. Titik.

Karena.. tidak ada satu bidang ilmu yang bisa membuat saya sungguh bergairah pun sampai me recharge energi. Semua sama saja. Karena saya suka sekali belajar dan multifokus. Saya hanya tidak menyukai satu bidang ilmu. Matematika dan derivatnya. Sudahlah nilai saya selalu jelek saya tak jua kunjung paham. Bersyukur di fakultas saya belajar tidak ada pelajaran itu. Ohya, kalau masalah betah, saya betah sekali belajar bahasa. Bahasa apapun itu. Saya suka belajar meski tak mahir. Sama juga saya suka menulis tapi tak mahir. Mindset saya bakat yang menjadi misi itu harus dalam taraf expert. Dan saya tak punya kualifikasi itu. Saya hanya ingin apa yang saya lakukan (menulis dan lainnya) memberi manfaat bagi sesama.

Jadi bila disimpulkan:

♡ Misi hidup: memberi manfaat, inspirasi bagi sesama
♡ Bidang yang dipilih: kesehatan, parenting

♡ Peran: tenaga kesehatan, inspirator

c. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar parenting dan kesehatan ter update
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen (diri, anak, kesehatan, waktu, konflik)
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar menulis, ilmu komunikasi efektif
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang — menerbitkan buku, menjadi narasumber

d. Tetapkan Milestone (tahapan) untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.

Saya spesifikkan misi ini ke salah satu minat saya, tulis menulis. Maka target saya tentu menulis sebanyak mungkin. Diawali dari 1 minggu 1 artikel maka dalam 1 bulan ada 4 artikel, dan dalam 3 bulan pertama ada 12 artikel. Setelah itu meningkat ke 1 minggu 2 artikel di triwulan ke 2. Dan seterusnya. Untuk itu, KM 0, saya tetapkan di usia 32 tahun.
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

Maka, di usia 37 tahun saya sudah bisa menjadi inspirator di bidang parenting (dan mungkin kesehatan). Biidznillah. Bismillah. 

Nice Home Work #3

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

(Tim fasilitator yang saya hormati, ijinkan tugas kali ini saya selesaikan dalam sebuah narasi).

Malam itu.. setelah mendapat tugas ke 3 dari MIIP, segera meraih kertas dan menggurat surat. Ceritanya surat cinta kepada suami. Waw… sebuah hal yang luput dari pikiran. Masa iya nulis surat untuk pengantin kawakan.

Tapi tak apalah… sesekali romantis sama pasangan halal boleh lah…
Tepat selesai menulis suami pulang dari kantor… 23.30 WIB seperti biasa. Surat akhirnya masuk tong sampah karena tulisan saya payah. Jelek maksimal. Merekap ulang di aplikasi notes dengan secepat kilat. Wushhh pas suami masuk pura-pura ngantuk. Ia mendekat daann kusodorkan HP sambil menahan malu. Responnya…. senyum-senyum sambil ngacungin jempol. Haiyaahh… ngga seru!!
Namun… cinta bukanlah hanya sekedar kata. Ia membalasnya dengan mengambil alih adek Ayi yang rewel dan memijatku. Karena cinta adalah bukti nyata bukan bualan belaka. Ia tahu istrinya lelah menggendong adek Ayi seharian, jadi meski lelah jua yang ia rasa sepulang kerja tak apalah menggantikan gendong dan sejenak membantuku melepas lelah. Alhamdulillah…

20170530_225300.jpg

Aku akan selalu mencintaimu, suamiku, semoga Allah menjaga rasa cinta ini karena Nya dan karena kesabaran, keluasan hati dan kegigihanmu selalu menawanku.

Beralih ke anak-anak. Kedua putri terkasih yang Allah amanahkan dari rahimku. Mereka masih kecil. Aku belum tahu pasti apa dan bagaimana bakat serta minat mereka. Namun, dari sorot mata mereka aku bisa membaca. Kakak Aya teduh pandangannya melambangkan wanita yang lembut, sabar, penyayang, emosional, disiplin serta rapi. Ia berkarakter introvert. Sedang berminat tinggi menggambar. Sedangkan adek Ayi yang masih bayi ini tampak lebih berjiwa pemimpin. Terlihat dari tajam sorot matanya. Kemungkinan besar ber karakter sama seperti kakaknya. Karena aku dan suami pun juga cenderung demikian.

Meski introvert aku terbiasa mengambil tempat di depan. Maksudnya, be a leader. Mungkin karena posisiku sebagai anak sulung dan lagi dalam organisasi Persit tempat aku bernaung seumur hidup membuatku sering mengambil tempat tersebut (mengikuti posisi suami). Aku juga suka menulis karena dengan itu aku bisa berimaji. Aku tipikal orang yang tidak sabaran maka diberilah suami yang super duper sabar. Bahkan aku merasa malah menjadi ujian bagi suamiku yang berhati sempurna itu. Karena entah apa potensiku. Kalau kata pasien-pasienku dulu bukan obat yang menyembuhkan mereka jika berobat padaku, tapi karena kesediaanku mendengar keluh kesah dan curhatan mereka. Ada lagi cerita setiap yang konsul kepadaku masalah kehamilan selalu berbuah hasil bila patuh mengikuti saranku. Apakah itu potensi? I still don’t know.

Apa kehendak Allah terhadapku untuk berada di tengah keluarga kecilku aku pun tak tahu pasti. Yang pasti kami hanya menjalankan takdir untuk bersama dan saling melengkapi.

Keluarga kami selalu berada di lingkungan asrama militer. Berpindah dari batalyon, brigif dan sekarang di kompleks staff mabes. Kesemuanya sangat beda dengan lingkungan sipil. Hidup bertetangga dengan etika yang khas militer membuat keluarga kami selalu menjalani penyesuaian. Dari bawahan jadi atasan kemudian jadi bawahan lagi, semua terjadi begitu cepat. Tantangan terbesar bagi kami adalah membimbing keluarga-keluarga prajurit yang masalahnya rumit-rumit jika posisi kami di atas dan menjadi anggota yang baik saat posisi kami di bawah.

Selama ini, kehadiran keluarga kami dalam lingkungan yang selalu berbeda Alhamdulillah selalu bisa melengkapi dan memberi manfaat salah satunya karena jasa konsultasi gratis yang kuberikan.

Meskipun begitu aku belum sepenuhnya paham apa “peran spesifik keluarga”ku di muka bumi ini. Yang pasti kami hanya menjalankan takdir Illahi untuk bersama-sama menjalani episode kehidupan di dunia ini.

PhotoGrid_1496228464735.jpg

Jika hati serupa kertas,

maka aku kan menulis kisah di atasnya

Jika fikir serupa recorder,

aku kan merekam cerita di dalamnya.

Aku kan berkisah bahwa hidup ini indah

bahwa hidup kadang susah

Tapi hikmah selalu ada,

terasa sangat ketika tak mampu lagi mulut berucap

tak mampu lagi tangis terhenti

tak kuasa lagi raga berbuat

namun penyesalan bukanlah arti

Cerita yang kurekam adalah,

cerita tentang kegagalan

cerita tentang keberhasilan

cerita tentang duka

cerita tentang suka

cerita tentang sesal

cerita tentang syukur

yang terangkum sepanjang waktu aku ada di sini,

di dunia ini,

dalam sebuah episode kehidupan

*Ayuseite 2010

Previous Older Entries