Ketika anak menolak disuruh..

Hmm.. memang sih anak itu bukan pesuruh kita. Tidak selamanya ia bisa ada untuk kita. Tapi… seringkali perasaan di hati anak harus harus harus selalu nurut. Demi apa? Kebaikan anak, dalih kita. Tapi tiap kali merenung semuanya demi kebaikan kita sendiri, dengan kriteria baik yang bervariasi. Relatif.

Menyuruh atau lebih baiknya kita sebut meminta tolong pada anak tidak serta merta bisa dengan kalimat perintah. Kadang bahkan seringkali kita harus cari trik agar dia bisa beranjak. Trik masing-orangtua berbeda. Ada yang dengan menakuti, merepet sampai kayak betet, memberikan jabaran konsekuensi, atau bahkan menjanjikan hadiah di ujung. Yakinlah semua itu semua pernah kita lakukan bila kepepet (nah lhoo seringnya sih sok kepepet) terus nyuruhnya eh minta tolongnya sambil memburu-buru sambil bilang ayo cepat ayo cepat (padahal diri ini sejatinya engga suka diburu-buru).
Padahal dunia anak ya memang bermain. Jadi segala solusi dari menyuruh anak-anak sebenarnya ya dengan konsep permainan (tapi tapi tapi yakin deh ini butuh kesabaran dan daya imajinasi yang sangat tinggi, dan saya tidak mumpuni sebenarnya… hanya sesekali kalau lagi bener-bener “waras” #eaeaea).

Setiap tulisan yang saya buat sama sekali tidak mengindikasikan saya sudah melakukan semua atau saya pakarnya. Sama sekali tidak. Tiap tulisan yang saya buat adalah sebagai pengingat bahwa diri ini lebih banyak tidak ingat daripada ingat. Suatu ketika ketidakwarasan itu lewat. Tersemat di dalam hayat. #eaeaea

Baiklah, ini ada suatu kisah. Tentunya di saat kewarasan saya 100%.
Si sulung yang lagi asyik bermain dengan boneka burung hantu dan derivatnya. Si bungsu lagi dipangku si emak dan ngompol. Sebenarnya celana ganti tak lebih dari sepelemparan batu dari si emak, tapi karena basah baju dengan ompol, maka:
Emak : mbak, tolonglah ambilkan ganti adek, adek ngompol nih
Mbak : ngga mau, lagi main
Emak : ayolah..
Mbak : kan di depan situ (lebih deket ke saya dari ke dia maksudnya)
Emak : oohh.. burung hantu kan bisa terbang ya… hai burung hantu tolong lah terbang ambilkan popok adek..
Mbak : (langsung melesat bawa si burung hantu terbang ambil popok) ini buat adek
Emak : makasiii ya burung hantu
Mbak : bukan burung hantu lho yang kasih, mbak yang kasih
Emak : oh iyaa… makasih ya mbak…
Mbak : sama2.. (langsung asik main lagi)

Horeee it’s work. Sama halnya dengan anak tidak mau mandi. Kalau lagi waras bilangnya ayo main air kalau lagi setengah waras bilangnya nanti kalau ngga mandi badannya kan kotor bisa gatal semua deh (konsekuensi). Kalau lagi error bin ngga waras, “buruan mandi kalau engga nanti ngga boleh main lagi ngga boleh ini itu ini itu” (ancaman ngga lazim). Atau lebih ngga waras lagi diguyur air comberan biar tau rasa n cepet mandi (byurr). Padahal si emak juga belom mandi (gedubrak).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s