A Trip to Merauke

“Aku ada kegiatan di Merauke,” ucap suami. Itu sudah biasa sebenarnya. Sebelumnya juga ke Timika, Nabire, Aceh, Kendari, dan kota-kota lain. Biasanya pun aku cuek, paling hanya minta diantar belanja keperluan yang penting dan tak bisa kupenuhi selama ia pergi. Namun kali ini rasanya beda. Sontak aku bilang,”Ikut,”

Suamiku terpana, “Serius?”

“Iya, aku ingin kita menyelesaikan perjalanan melihat kota penting di Indonesia. Sabang, sudah. Pontianak, sudah. Pas lah ini, Merauke. Meski tidak berdinas lama seperti di kota sebelumnya, tak apalah. Mumpung ada kesempatan.” Mataku mengerjap penuh harap.

Tiket Jakarta-Merauke bukan murah. Berbilang satu juta delapan ratus ribu lewat untuk seorang sedangkan kami bertiga terhitung penuh. Tentu saja perjalanan ini membuat kami merogoh tabungan agak dalam. Biarlah, selagi sempat ayo jalan-jalan.

Perjalanan ditempuh dari bandara Halim PK pukul 22.30 WIB. Ini adalah perjalanan malam dan panjang pertamaku. Apalagi membawa 2 anak balita. Persiapan saja betapa kerennya. Satu koper besar isinya perbekalan si bayi saja. Diapers, slow cooker, food processor (parut dan saringan), termos, perlengkapan makan, beras, kacang hijau, kacang merah, unsalted butter, zuccini, dan terpaksa sekali bubur instan. Ada juga bekal lauk Aya dan aku bila terpaksa tidak ada makanan ketika ditinggal berdinas suami. Adalah abon sapi dan oseng teri pedas yang awet dibawa. Tak lupa mie gelas, susu, dan cereal. Macam persiapan menginap di hutan. Hehehe… karena kami benar tak tahu medan. Persiapan saja daripada bingung disana. Tas selanjutnya adalah pakaian kami semua. Koper berikutnya adalah amanah kantor yang harus dibawa serta.

Tiba di Makassar (Ujung Pandang) pukul 01.30 WITA. Menunggu boarding sekitar 40 menit, sesuai jadwal yang tertera. Masih menggunakan pesawat milik maskapai yang sama, Batikair. Jadi favorit bener ini, karena dengan adanya servis makanan serta hiburan layar masing-masing sudah terhitung murah. Belum lagi track record belum pernah delayed selama aku naik. Bahkan dua kali malah percepatan hampir setengah jam.

Perjalanan Ujung Pandang ke Merauke ditempuh selama 3,5 jam. Itu berarti pagi hari kami sampai. Tepat pukul 07.05 WIT pesawat mendarat. Di pintu kedatangan kami disambut perwakilan lantas diantar ke penginapan.

Setelah suami menyelesaikan laporannya kepada atasan setempat yang terkait, kami diantar ke perbatasan Indonesia – Papua New Guinea. Nama distriknya Sota. Kami melewati masjid besar Al Aqsho dan tugu Libra di depannya. Tugu Libra (lingkar [jalan] Brawijaya) adalah pengingat tahun direbutnya Irian Barat, 1969. Tugu itu sendiri melambangkan angka 1 dan 969 ditera di tugu tersebut. Sepanjang jalan menuju kesana sepi. Sesekali mobil angkut penumpang ke boven digoel (tempat pengasingan Bapak Moh.Hatta) lewat dengan kecepatan tinggi. Tak ayal, mobil kesana harus double gardan dan bagus-bagus. Sebut saja Hilux, Pajero, Strada, Ford dan sejenisnya yang memiliki double cabin serta bak terbuka di belakang. Karena usut punya usut jalan menuju kesana berupa tanah bergerak. Melintas kesana minimal 8 jam bila tidak hujan. Bila punya uang lebih menuju kesana lebih cepat pakai pesawat kapasitas 8 orang atau helikopter. Di tepi kanan kiri tampak hutan dengan tumbuhan serupa kayu putih serta Musamus (sebutan untuk sarang semut raksasa, katakan saja istana semut) bejibun jumlahnya. Kami juga melewati Taman Nasional Wasur tempat penangkaran rusa serta kanguru. Sayangnya tidak sempat mampir karena waktu sudah nyaris petang. Perjalanan dari Merauke ke Sota membutuhkan waktu 1,5 jam kecepatan tinggi. Sertifikat lintas 0 km bisa didapat di Polsek setempat.

Di pertigaan jalan yang akan membawa kami ke jalan lurus terakhir dari perbatasan, ada tugu kembar Sabang. Sama persis dengan yang di Sabang. Konon kabarnya. Sayang sekali sewaktu ke Sabang belum ngeh dengan keberadaan tugu ini. Sampai di perbatasan kami disambut dengan suguhan kelapa hijau. Rasanya beda dengan yang di Jawa. Menurutku, sih. Setelah berfoto di depan gapura selamat datang selamat jalan juga monumen 0 kilometer, tugu batas, serta Musamus yang tingginya 4 meter, kami pun segera pulang. Jalanan gelap karena petang telah datang. Sepanjang jalan Sersan yang menjadi sopir kami bercerita banyak semasa ia menjadi satgas di Wamena. Daerah yang masih cukup rawan konflik. Maklumlah, daerah pegunungan. Disana tempat salju abadi berada. Konon katanya di daerah itu aura mistis masih kuat terasa. Semacam ada “pasukan” tak terlihat bak siluman. Bahkan sempat ada cerita pemberontak yang nyata tertembak tapi tiada jejak. Wallahua’lam.

Kembali ke topik perjalanan. Dari perbatasan ke kampung pertama di negara sebelah adalah 15 km. Tujuh kilometer pertama ada pasar tradisional, delapan kilometer selanjutnya adalah jalan setapak di tepian hutan. Setelah itu baru kita temui kampung terluar dari Papua New Guinea. Perbatasan Sota ini terkenal yang paling aman dan tenang. Meski listrik mengalir hanya dari jam 5 sore sampai 10 malam, semua terkendali dengan baik.

Hari berikutnya, kami diajak melintasi tepian Merauke. Mulai dari pelabuhan, pantai Lampu Satu, dan tempat penangkaran buaya bagi kerajinan kulit buaya. Pelabuhan ada dua berderet. Pelabuhan umum adalah dimana tertambatnya kapal besar berisi puluhan container yang akan berangkat ke Jawa dan pelabuhan AL dimana nampak kapal sitaan dari negara lain tak berijin yang ditenggelamkan menteri Susi.

Pantai dinamai lampu satu karena di dekatnya ada menara suar berlampu satu. Di tepian pantai Lampu Satu ada sentra pembuat kapal. Pembuatnya adalah orang-orang Makassar yang jago sekali membuat pinissi. Kapal terbuat dari kayu besi yang semakin terkena air semakin kuat. Rumah mereka serupa rumah panggung sebagian ada pula yang ditembok. Rumah daeng, kata sang sopir. Setelah deretan kampung Makassar, kita bisa melihat sebuah kontradiksi. Perkampungan penduduk Papua yang masih minim kesadaran akan kebersihan apalagi kelayakan huni rumah. Mereka pun seperti antisosial kecuali diberi iming-Iming. Tradisi mabuk dan nge lem bagi yang tidak mampu kuat sekali di sini. Padahal jelas terpampamg poster super besar tentang bahaya Narkoba dan himbauan menjauhinya.

Lepas dari pantai kami mampir ke sentra penjual kerajinan kulit buaya pertama di Merauke. Pastinya, kualitas bagus dan harganya cukup wow. Satu tas selempang kecil saja dibandrol Rp.1.750.000,00 dan yang besar tak berani tanya. Di depan toko ada kelinci berkeliaran dan kandang buaya yang di atasnya ada burung dara sebagai makanannya.

Maghrib pun menjelang, kami pulang ke hotel untuk Sholat dan pergi memenuhi undangan makan dari senior. Rooftop. Begitu nama cafe tempat kami makan. Konsep makan di lantai tiga cukup unik di Merauke yang belum punya mall ini. Menu andalan di Merauke adalah daging rusa, hmm kijang lebih tepatnya. Namun di rooftop yang mengusung menu Chinesse Food selain menu rusa tentu mayoritas adalah menu makanan laut. Makanan terhidang diawali sup bibir ikan, kemudian menu utama udang telur asin, rica ikan, capcay seafood, dan mie kering siram daging rusa. Menurutku pribadi, rasanya super standar. Lebih enak seafood di pinggir jalan dan lebih enak lagi dulu saat di Singkawang (gagal move on sama Ikan Bakar Kuala).  

Hari berikutnya, main ke “mall” nya Merauke. Sebut saja SBM. Sentra Belanja Merauke yang diplesetkan menjadi Suasana Bagaikan Mall. Tokonya masih sepi. Di lantai atas ada permainan anak. Main di sana sebentar Aya sudah bosan. Kembali naik mobil dan berkunjung ke batalyon 755. Menyeberang jembatan sepanjang 800 meter yang membelah sungai Moro (dari kata inilah nama Merauke berasal). Kapal bermuatan nampak melintas di bawah. Ini mengingatkanku akan sungai Kapuas. Bedanya lintas sungai Kapuas seringkali macet dan hiruk pikuk sedangkan sungai Moro super sepi. Pun rumah wadan rekan kami. Begitulah khas batalyon pasti sunyi senyap bila malam menjelang. Setelah ketuk pintu beberapa kali keluarlah mereka. Ngobrol sebentar lantas kami keluar makan sate rusa yang terkenal di depan Kodim Merauke. Waw ternyata daging rusa itu empuk dan enak. Hujan turun, kami pun segera pulang ke hotel dengan janji besok ketemu lagi makan es krim.

Selepas Dhuhur kami (aku, Aya, Ayi) dijemput bu wadan. Kami menuju D’cafe n bistro. Kreasi es krim nya unik dan enak. Banyak buku keren di sana. Sayang bawa bayi yang bangun jadi tidak bisa membaca. Malam hari, selepas Isya kakak asuh menjemput kami untuk makan malam di rumah makan khas bali. Sungguh penggemukan badan disini. Rencana beli dendeng rusa dan ikan asin untuk oleh-oleh belum bisa terlaksana karena hujan deras.

Sepulang sholat Jumat suami membeli  dendeng rusa seharga Rp.85.000,00 per setengah kilo dan ikan asin kakap Rp. 20.000,00 per kilo, tak lupa terasinya. Untuk olahan daging rusa ada pula abon juga bakso. Oleh-oleh lain khas papua yang tidak boleh ditinggalkan tentu kerajinan kulit buaya. Jangan tanya harga, sudah pasti mahalnya. 😂

Di Merauke lebih banyak pendatang daripada suku asli Marind. Sulit sekali menemukan makanan khas Papua di sini. Malah makanan Jawa dan Sumatera bertebaran. Ohya, orang sini biasa makan nasi dengan porsi super besar. Katanya untuk menangkal malaria. Jika perut kenyang maka malaria enggan datang.

Sehari sebelum pulang, kakak asuh nan baik hati mengajak kami ke tepian pantai dimana suku Makassar tinggal. Makan ikan serta udang bakar nikmat nian dengan sambal kacang khas Makassar. Tak lupa, papeda atau kapurung dengan kuah kuning. Menurutku, yang enak itu kuah dan ikannya bukan sagunya. Hehe… Tak lupa makan sagu chef, olahan sagu dan kelapa muda, yang menurutku rasanya hambar. Hmm…

Akhirnya, selesailah perjalanan kami di ujung tertimur Indonesia. Alhamdulillah, semoga membawa berkah. Terimakasih atas penyambutan super istimewa. Membuat perbekalan banyak tersisa karena makanan lebih-lebih disana. Dan hal yang paling jelas adalah membawa tambahan kilogram berat badan. 😭

Advertisements

Basa Basi Beneran Basi

Some of, after knowing that the second one as the same as the first one, they say congratulation then “make the third, who knows it will be a boy”

Wow…!
If only they knew that the last operation is not my first or second one, they will just keep silent.

I’ve been lying down in operation room for four times. And thats realy enough for me. Two of them in GA, it means i slept. The other one, SC, in SA. Then two of them i have infections on the scar.

If they said “make the third” it will be automatically wish me held the fifth operation, the third SC, because i have no tendency to held VBAC.

That’s too horrible!

Please, be wise to congrate n pray. Maybe thats just a joke or only “basa-basi”, but thats not funny at all. Children, no matter what their gender, they are Allah’s gift. We can’t judge even wish. If i have two sons did they will say the third may girl? Or if i have a boy and a girl did they will have no comment? Wallahua’lam.

Kisah akhir dari perjalanan kehamilan a.k.a keputusan terminasi dan proses kelahiran

Kisah sebelumnya, di minggu ke 36, ada pembukaan 3-4 cm dan drama terapi pencegahan kontraksi. Dan tentunya atas doa rekan serta saudara semua everything just flow n fine. Hasilnya, di kontrol rutin minggu ke 37, kontraksi sama sekali berhenti dan pembukaan menyempit jadi 1 cm saja. Berat janin saat itu 3.3 kg. Keputusan dokter bertahan saja sampai sekuatnya syukur Alhamdulillah bila sampai aterm akhir di minggu ke 40 karena setelah dicek bekas luka operasi terdahulu baik, tebal, dan tidak ada resiko ruptur bila VBAC. Air ketuban pun masih sangat cukup dan jernih meski agak keruh di atas.
Namun, dengan background anak pertama SC a.i bayi besar dan gagal induksi maka kemungkinan besar akan re SC.

Nah, karena sama saja ujung2nya bakal SC mau sekarang atau mau besok, ditambah suami sudah terlanjur mengajukan cuti, ibu bisanya menemani di atas tanggal 9 Maret yang berarti tepat di usia janin 38 minggu, belum lagi pas usia 40 minggu adik ipar menikah yang pastinya tidak akan ada yang bisa menemaniku disini, maka keputusan untuk pengajuan jadwal SC tepat pada usia aterm awal di 38 minggu benarlah murni alasan non medis (#janganditiru😂).

Masuk jam 1 siang ba’da sholat Jumat, 10 Maret 2017 dalam kondisi sudah berpuasa. Premedikasi dilakukan jam 15.00 karena dijadwalkan operasi jam 19.00. Tetapi, karena mendadak ada SC emergensi maka giliranku tertunda 1 jam. Dengan kondisi lapar dan sudah lemas karena puasa kelewat jam, masuk ke ruang operasi yang suhunya 15 DC membuatku kedinginan sangat, sampai menggigil dan bergemerutuklah rahang dan gigiku, plus mual banget banget.  Namun, musik yang diputar kencang2 di situ lumayan melumerkan suasana. Jam 20.41 lahirlah si bayi montok dengan berat 3.8kg (dalam seminggu naik 0.5 kg itu sungguh emejing kan?).

Well, akhirnya, dek Ayi lahir dengan tangis kencangnya dan kulit yang merah. Oleh dokter anak yang mendampingi ia diciumkan ke pipiku, diinisiasi menyusu dini di ruang operasi beberapa saat, dan akupun menyadari bahwa aku tertidur.

Semoga dek Ayi jadi anak yang kuat serta berkepribadian tangguh juga selalu membanggakan orangtuanya. ‘Cause that’s your name’s mean.

Thanks to dr. Isrin Ilyas, Sp.OG yang berkontribusi banyak sekali dalam proses ini dan pastinya seluruh keluarga besar dan rekan semua….but special thanks to mommy yang selalu ada di sisi di setiap masa kritisku, suami yang super siaga, Aya yang sampai sakit karena ikut menjaga, adek dan ipar yang menjadi ortu Aya selama aku dirawat. Thanks juga buat yang berkenan menyempatkan hadir di RS

Catatan Kontrol Minggu 35

2900 gram! Pantaslah pindaian USG memprediksi usia janin sudah nyaris 37 minggu. DSOG pun memprediksi perkiraan lahir maju 12 hari dari HPL per HPMT dengan taksiran berat lahir 3600-4000 gram bila sesuai dengan perhitungan… Subhanallah… tak ubahnya dengan Aya dulu lah… namun bila maju seperti prediksi DSOG maka taksiran berat 3200-3600 gram.

Hal yang membuatku takjub dan tertegun adalah sama sekali aku tidak minum susu ibu hamil yang digembor-gemborkan di iklan itu, minum vitamin pun harus pakai acara selang-seling DHA dan Calcium. Fe hanya masuk 60 tablet dari 90 tablet anjuran pemerintah. Makanku juga porsi biasa. Cuma sayur, jus buah, buah segar, sate 10 tusuk atau ayam 2 potong atau ikan 2 ekor atau telur 2 butir dengan amat sangat sedikit nasi (iniii mahh udah bergiziiiii kaleee…. ahehee). Kadang juga sarapan cuma koko krunch plus susu kambing atau kurma plus susu kambing. Ngga suka nyemil-nyemil loh… tapi sering makan tengah malam bakmie jawa lengkap dengan sayur, telur, ayam… gyahaaa… gimana engga gede si dedek? Tapi.. tapi.. ini semua terjadi baru masuk bulan ke 8. Sebelumnya boro-boro aku makan… sedikit juga udah hoek… sedikit juga udah kenyang… konsumsi antasid seenaknya…

Subhanallah… laa khaula wala quwwata illa billah… itu semua membuktikan bahwa janin bukan semata-mata kita yang “pelihara”. Tapi Allah langsung!! Janin tidak hanya bergantung pada asupan makanan kita, ia punya tempat bergantung yang lebih lebih, yaitu Yang Menciptakannya! (Hal ini sangat menamparku.. kenapa masih sering lalai dengan “menggantungkan asa selain pada Nya? Astaghfirullah…)

Maka.. nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?

Kursus Menanam di Taman Buah Mekarsari

Seperti yang saya janjikan sebelumnya, saya akan menulis kursus menanam gratis selama 1 jam yang saya ikuti di sana tanggal 24 Desember 2016 lalu. Jadwal kursus setiap sabtu dan minggu dengan tanggal tertentu seperti yang terpampang di poster besar.

Area tempat kursus adalah di tepian danau tempat pemberhentian akhir ketika menaiki bus/kereta wisata. Maka, tak heran di sana menumpuk pengunjung yang menghabiskan waktu untuk bermain sepeda sewa berkeliling area danau, mengayuh sepeda air, outbond, permainan anak, atau makan-makan dengan membeli di warung sekitar danau pun memakan bekal sendiri. Kami memilih duduk manis di depan panggung Fruit Show dan Kursus Menanam sembari makan pop mie (ga sehat betul) dan tahu goreng sumedang serta buah-buahan gratis yang kami dapatkan. Uti Aya juga membeli lagi buah Markisa di kios terdekat karena memang jarang dijual bebas.

Pukul 11.00 tepat acara dimulai dengan dipandu dua host laki-laki. Dimulai dengan edukasi tentang buah baru dilanjut kursus menanam. Jadwal hari itu Terarium.

—Edukasi tentang buah—
Terpampang 2 jus di meja show, jeruk dan jambu biji merah. Kali ini host akan menguji kandungan vit C buah mana yang paling tinggi. Dua buah tersebut merupakan buah dengan kadar vit C yang lebih tinggi dibanding buah-buah lain. Dan manakah yang tertinggi? Kebanyakan menjawab buah jeruk. Ada sebagian yang menjawab buah jambu merah.

Nah, setelah dibuktikan dengan cara mengambil sedikit sample dan dimasukkan ke dalam gelas masing-masing sekitar 3 cc kemudian dikentalkan dengan tepung kanji serta ditetes menggunakan Iodine hingga berubah warna maka hasilnya adalah jus jambu merah membutuhkan lebih banyak tetesan iodine agar bisa berubah warna dibanding jus jeruk. Maka, kesimpulannya buah jambu merah memiliki kadar vit C tertinggi. Tepuk tangaaan…. #ehhh

Ada reaksi apa yaa antara Iod (I2) dan vit C? Kenapa kadar tertinggi membutuhkan lebih banyak tetesan Iod? Ehm ehm… percobaan demikian namanya titrasi iodimetri, yaitu metode penambahan Iod kepada vitamin C atau komoditi yang diduga terdapat vitamin C. Vitamin C bersifat pereduksi (reduktor) sedangkan Iod bersifat pengoksidasi (oksidator) sehingga keduanya menghasilkan reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Jadi makin banyak vit C maka makin banyak pula iod yang dibutuhkan (jangan tanya persamaan kimia redoks nya gimana… wes lali… jaman es em a… 😂).

Sekarang berlanjut ke main theme… Terarium. Baru baru ini tren membawa cara bercocok tanam ala modern ini melesat dan banyak penggemar. Karena simple, unik, dan imut sepertinya.

Terarium adalah cara menanam tanaman hias di dalam wadah kaca yang tembus pandang alias bening (akuarium, gelas, mika, botol, bohlam, toples) dimana tanaman yang ditanam berukuran mini.

Manfaat terarium adalah sebagai penghias ruangan, sekedar hobi, sarana memahami alam dan sebagai kegiatan kreatif yang menantang.

Media tanam yang digunakan sebaiknya bersifat porous dan cukup subur, antara lain: arang sekam/kayu, kompos saring (wajib ada), moss, zeolit (batu kecil). Hiasannya dapat digunakan pasir pantai, batu warna-warni, kerikil, kerang, bahkan clay.

Jenis tanaman yang digunakan harus memiliki ciri sbb:
1. Mungil, tidak tumbuh menjulang tinggi, tidak berbatang kayu, berpelepah daun atau berbatang lunak, daun kecil dan bercorak indah
2. Pertumbuhan lambat, bentuk pertumbuhannya melingkar dan dapat merambat atau menjalar
3. Sangat tahan terhadap kelembaban tinggi atau keadaan yang sangat kering
4. Tanaman dapat tumbuh dan berkembang biak dalam ruangan
5. Memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap kondisi sinar matahari
Contoh: palem, suplir, tanaman sukulen, kaktus.

Cara membuat terarium:
1. Tentukan tema
2. Siapkan alat (hand spray, sekop kecil, corong, sendok), wadah, dan tanaman
3. Sediakan semua media tanam dan hiasan
4. Setelah siap, masukkan media tanam dalam wadah yang kering (yang harus banyak komposnya.. boleh ditutup dengan pasir warna selang seling yang disusun di dinding wadah agar tampak indah) kemudian gali media tanam dengan sekop kecil dan masukkan tanaman yang akarnya sudah dibersihkan.

5. Setelah tanaman masuk, beri hiasan sekehendak hati.

6. Siram tanaman dengan hand spray. Jangan terlalu banyak, cukup menyemprot ke dinding agar jatuh perlahan airnya ke bawah sehingga tidak terlalu basah.  Penyiraman ini dilakukan secara periodik saja, 3-4 hari sekali. 

7. Letakkan terarium di tempat yang cukup mendapat cahaya matahari. Jika diletakkan di dekat jendela terarium perlu diputar secara periodik untuk mencegah efek fototropik (tanaman tumbuh ke arah cahaya). Jika ruangan terlalu gelap dapat digunakan lampu sebagai cahaya buatan. Oleh sebab itu, sebaiknya setiap 2-3 minggu sekali terarium dikeluarkan agar mendapat cahaya matahari.
8. Bila ada hama (semut, kutu, kepik) cukup diberantas secara manual alias tanpa obat kimia pengendali hama.
9. Selamat mencobaa…

(CP diklat Taman Buah Mekarsari: Bpk. Edwin 081511823839)

Di sini, selain ilmu tentang terarium saya juga mendapat berbagai ilmu lain dari sesi tanya jawab, a.l:
1. Cara memberantas hama ulat: giling cabe dan bawang kemudian masukkan ke dalam wadah semprot air dan semprotkan ke arah sasaran.
2. Benarkah vetsin adalah penyubur tanaman? Secara teori tidak. Bila ingin subur siramkan ke tanaman air cucian daging atau cucian beras.
3. Bila tanaman yang kita tanam tak kita inginkan untuk tumbuh besar dan panjang macam bonsai maka yang harus kita lakukan adalah memberinya zat penahan tumbuh bernama peclobutrazol yang tersedia di toko khusus pertanian.
4. Bagaimana cara mengurus anggrek yang terkenal dengan tanaman rewel? Sebenarnya anggrek itu bisa tumbuh liar dan subur di pohon-pohon besar nan rindang. Maka, prinsip utama perawatan anggrek adalah simpan di tempat sejuk (di bawah pepohonan), memangkas bagian yang sudah habis berbunga, media tanam ditambahi sabut kelapa untuk menambah simpanan air.

PhotoGrid_1484183854324.jpg

♤♡♢♧en♧♢♡♤

Catatan Perjalanan #7 (a.k.a The Failed Trip)

Tanggal 1 Januari 2017 lalu sungguh pilihan yang tidak tepat untuk pergi pesiar. Dalam pikirku kebanyakan orang masih pada tidur selepas perayaan tahun baru (ala mereka, bukan kami) demi melihat kawasan Jakarta Timur sepi. Semestinya aku curiga ada pergerakan ke kawasan wisata Jakarta Utara, tapi dalam benakku long weekend pasti pada memilih ke Bandung atau Bogor. But that’s totally wrong!!

Niat awal hanya ke Tamini Square dekat rumah, ke toko buku, beli perlengkapan bayi, dan makan di luar. Tapi rencana berubah seketika. Entah kenapa tetiba ingin melihat pantai. Cek traffic ke arah Anyer via Waze macet sekali. Baiklah, ke Ancol saja lagipula belum pernah sama sekali ke sana. Mumpung sepi (pantauan di Waze jam 08.00).

Naik toll dari gerbang Kebon Nanas super lancar sampai ke percabangan ke arah Kemayoran, Ancol, Mangga Dua dan ke Tanjung Priok. Dekat pintu keluar mulailah kemacetan terjadi. Sempat melihat arah percabangan satunya (kuduga ini ke Muara Angke jam 10.00 an) banyak mobil Ambulance pacu kencang dan mobil pemadam kebakaran sekira 2-3 unit. Hmm.. pastilah ada kebakaran. Dan ternyata baru tahu sore di berita tentang kapal wisata Zahro Ekspress yang meledak dan terbakar.

Pintu masuk ke Ancol dialihkan cukup jauh ke pantai Carnaval karena jalur utama sudah macet parah. Jadi kami diarahkan melewati gerbang perumahan dan Villa. Naasnya kami tidak membawa banyak persiapan makan dan minum. Hanya air mineral 3 botol kecil, 3 tangkup roti tawar, 1 bungkus biskuit, dan 4 kotak susu UHT Aya.

Kami sampai di gerbang masuk sudah pukul 11.30 WIB. Setelah membayar 25.000 per orang dan 25.000 untuk parkir mobil kami menuju parkiran pusat. Mencari toilet di bagian belakang lahan parkir yang dekat dengan musholla dari tenda macam di pengungsian. Istirahat sejenak sambil menunggu Dhuhur sekalian sebelum bergerak ke lokasi wisata.

Di sisi timur nampak panggung besar, bekas perhelatan semalam pastinya. Sayang disayang sampah berceceran dan menumpuk di segala sisi. Bahkan nanti di pantainya. Sungguh Ancol hari itu penuh manusia dan sampah. What the…

Karena mobil diparkir terpusat maka untuk jalan-jalan disediakan beberapa armada bus big bird yang pastinya disewa pihak Ancol. Ada halte bus di samping Mall Ancol. Namun antrean tidak berjalan semestinya. Saling sikut, dorong dan mendahului terjadi. Antrean pagar besi macam labirin dibuat tapi nyatanya dicuekin, malah penumpang pada numpuk di tepi jalan. Siapa cepat dia dapat. Karena lelah wara-wiri mengejar bus aku pun kelaparan. Tidak ada penjual nasi sama sekali. Jadinya beli mie cup seduh (ga sehat bangeett) 10.000 rupiah dan air mineral 5.000 rupiah. Biarlah sedikit mengganjal perut. Setelah makan dapat bus meski harus berjejal-jejal. Ada ibu-ibu yang tahu aku hamil besar, meminta anaknya yang masih remaja untuk memberikan tempat duduk untukku namun si anak menolak. Padahal aku toh tidak meminta. Berdiri bersandar di kursi berjejal dengan yang lain. Benar-benar pencerminan toleransi yang sudah menyurut. Alhamdulillah tepat di kursi tempatku bersandar ada anak yang mendadak berdiri dan merangsek ke depan ingin sama neneknya. Alhasil dapat tempat duduk melipir. Itupun harus bagi dua dengan Aya. Yaa setidaknya bisa menaruh pantat.

Sampai di pantai aku hanya bisa terkaget-kaget. Bibir pantai tak terlihat lagi. Penuh oleh manusia. Pasirnya pun demikian. Bersatu padu dengan tebaran sampah. Apa-apaan ini? Kami berjalan menyusuri pantai yang serupa pasar itu tanpa kepuasan sama sekali. Sampah pun ikut masuk ke pantai terhanyut air. Masya Allah. Rindu pantai di Aceh dan Singkawang lah. Serasa pantai milik sendiri. Tak ingin berlama-lama, kami segera hengkang ke halte lagi. Di halte depan pantai, seorang petugas mengarahkan kami naik mobil khusus orang sakit, lansia, bayi, dan ibu hamil. Alhamdulillah tidak lagi berjejal di bus. Segera kami naik mobil dan beranjak keluar. Seharusnya ke arah jalan pulang dekat dan sepi. Namun karena mind setnya ke Muara Angke sepi juga maka kami menuju kesana. Lhaa ternyata salah jalan. Malah terjebak ke arah masuk Ancol lagi. Dua jam mobil bergerak lambat-lambat dengan perut kelaparan dan menahan BAK. Masya Allah. Bergantian sholat di kendaraan deh akhirnya. Kami benar-benar terjebak. T.T.

Jam 16.30 WIB baru sedikit bebas dan jam 17.00 baru naik toll arah pulang. Cepat saja karena jalanan sepi, sangat kontras dengan toll arah berlawanan yang penuh padat berhenti total hingga kira-kira 10 km. Jam 17.30 kami sudah sampai jalan menuju rumah tapi kami berbelok dulu cari makan sore. Kelaparan kronis dari tadi siang. Gagal makan di Muara Angke jadinya cari seafood tenda. Pesan kepiting, ikan, udang serta ca kangkung beserta minum total 160.000 rupiah. Lumayan lah. Kenyang. 

Pulang lewat adzan Maghrib. Setelah mandi dan sholat merebahkan badan. Sungguh perjalanan liburan yang gagal. Kata suami sih… wisata macet. Hehe… PhotoGrid_1483627754282.jpg

Catatan Perjalanan #6

Opa, Uti, dan tante Aya datang. Rencana berlibur selama 1 minggu di Jakarta mumpung liburan sekolah. Bermula dengan penjemputan bersama sopir sewa di bandara Halim tanggal 21 Desember 2016 yang delay tidak menyurutkan semangat jalan-jalan tahap pertama. Dari bandara langsung meluncur ke arah Jakarta Utara. Awalnya mau ke pasar pagi Mangga Dua sebelah ITC untuk beli keperluan musim dingin Opa dan Uti Aya, tapi sopir terlewat keluar toll. Jadilah kami ke arah Muara Angke. Makan siang ikan bakar dulu. Kupikir pak sopir tahu. Ternyata belum pernah kesana. Jadilah berpedoman pada GPS, muter-muter dan turun tanya berkali-kali. Sampai di lokasi jam setengah 12 kondisi Aya sudah tertidur. Pesan ikan kuwe yang menjadi icon, kepiting, serta udang. Tak lupa kelapa muda khas hidangan tepi pantai. Ikan kuwe tak ubahnya seperti rasa bawal dimasak bumbu khas Sulawesi. Menurutku jauh lebih enak dan murah ikan bakar di Kuala Singkawang Kalimantan Barat. Gagal move on deh. Untuk kepiting saus padang enak sekali. Dari sekian hidangan yang membuat lidah berdecak hanya kepitingnya. Udang tepung juga biasa saja. Aku mengklaim enak masakanku kalau ini. Total belanja makanan 360.000 sudah bisa dimakan 6 orang. Not bad.
Lepas makan dan sholat Dhuhur di musholla depan warung makan mampir dulu melihat tempat pelelangan ikan dan bibir dermaga. Euhh.. kotor kali pun. Banyak sampah di tepian. Karena panas kami bergegas.
Tujuan kedua Pasar Pagi Mangga Dua tepatnya ke toko Djohan. Sopir membawa kami keliling kota tua. Macet dan ramai. Lewat pula gedung galangan VOC. Jelas-jelas masih tertulis demikian. Kolonial oh kolonial. Ternyata dibawanya kami ke pasar betulan. Putar lagi ke arah yang benar. Rupanya pak sopir ini seringkali sok hafal jalan. Maklum lah sudah tua. Overall ia baik dan ramah. Coba kalau enggak. Sudah kena penalti.

Benarlah Djohan ini spesialis baju musim dingin dan kategorinya lengkap. Harganya juga relatif murah meski dengn berat hati kukatakan semua barang impor China. Hmm.. apa mau dikata. Jaket yang dibeli 400rb dan 550rb. Bagus juga bahannya. Tak lupa sarung tangan unyu-unyu yang senada dengan jaket harga 75rb, penutup telinga harga 50rb, syal plus tutup kepala seharga 100rb (kalau tak salah ingat) dan baju dalaman kaos serta celana hangat 120ribu.
Setelah itu keliling sebentar mencari baju kuda Pony untuk Aya dan kalung plus gelang untuk tante Nita.
Keluar gedung menemukan kedai pancake durian dan membeli 5 buah. Eh, rupanya enak. Kalau tidak hamil bisa habis banyak nih aku. Tiga untuk kami dan dua untuk pak sopir. Ia tak lantas memakan, untuk anak-anak di rumah katanya. Wow.
Sampai rumah tepat adzan Maghrib. Tidak payah masak karena Uti Aya membawakan belut goreng dan sambal belut Pak Sabar Bantul yang super sedap juga masih ada sisa udang tepung tadi siang. Alhamdulillah.
Hari kedua dan ketiga, Kamis-Jumat, istirahat di rumah untuk perjalanan nonstop long weekend ke depan.

Sabtu Subuh kami siap dan berangkat ke Cileungsi. Tepatnya ke arah Mekarsari. Sampai sana masih jam 06.00. Istirahat di SPBU sembari ke toilet, memandikan dan menyuapi Aya.
Jam 08.00 rupanya gerbang sudah dibuka. Kami pun masuk dan menunggu loket masuk buka setengah jam kemudian.

Area Taman Buah Mekarsari sangat luas. 264 hektare. Masih kepunyaan keluarga Cendana. HTM 30.000 dan tiket keliling dengan bus wisata 15.000 pulang pergi dapat bonus 1 macam buah. Kami bisa membawa markisa, jeruk, sawo. Buah yang lain harus membeli.
Pemberhentian terakhir di danau. Rupanya jam 11.00 ada kursus menanam. Baiklah, sembari menunggu Aya main di wahana anak-anak dan bersama kakek serta ayahnya naik kapal kayuh di tepian danau. Lepas itu makan pop mie dan menonton show cara membuat Terarium selama 1 jam (nanti ditulis terpisah yaa…). Dapat hadiah 2 kaktus karena bertanya.
Adzan sudah berkumandang. Kami mencari shelter bus di ujung danau bertenda biru untuk kembali ke pintu utama. Tak lantas pulang, kami mampir musholla dan makan bekal. Lebih hemat.
Selesai sholat dan makan kami bergerak pulang. Macet.
Sampai di Jakarta hampir jam 15.00. Mampir dulu ke TMII (milik keluarga Cendana juga) keliling naik kereta gantung tarif 50rb per kepala.

Selesai keliling naik kereta gantung kami pulang lewat pintu keluar 2 setelah keliling lagi naik mobil. Sampai rumah masih sempat sholat Ashar lanjut istirahat untuk perjalanan esok lagi.
Minggu pagi, jalan-jalan di pasar minggu ceria kawasan MakoopsAU. Niatnya hanya jalan-jalan, tapi nyatanya borong banyak barang. Sepulang dari sana bersiap silaturahmi ke rumah Eyang di pondok gede. Sampai sana pas Dhuhur. Akhirnya bergantian sholat dan makan siang ke D’cost Plaza Pondok Gede. Tak terasa sampai Ashar kami makan dan ngobrol. Sampai rumah hampir jam 16.00.
Keesokan pagi jadwalnya ke Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Taman Anggrek Indonesia Permai (keluarga Cendana lagi) dan ke saudara di Pulo Gadung. Pulangnya keliling Monas (yang ternyata tutup di hari Senin), patung kuda, bundaran HI, tugu tani. Sampai rumah tepat adzan Maghrib.
Selasa, istirahat di rumah saja. Aya batuk pilek. Mungkin ia kelelahan.
Rabu, hanya aku dan tante Aya yang jalan-jalan ke Tamini Square naik angkot berangkat jam 10.00 dan pulang jam 14.00. Demi makan di Hanamasa.
Kamis, jelas di rumah saja, karena sorenya mereka harus kembali ke Jogja.

Terimakasih atas kunjungannya… 🙂

photogrid_1483699857453

photogrid_1483697077216

Previous Older Entries