Mengenal Diriku (2)

Masih ingat postingan tahun-tahun ke belakang bertajuk Mengenal Diriku?

Jaman segitu ya begitulah adanya diriku. Aku terkaget-kaget karena banyak yang komentar bahkan berlanjut ke obrolan lebih dalam lagi. Eh, ternyata banyak yang idem sifat dasarnya sama aku loh. Temperamental. Salam kenal teman-teman se-anugerah-anku (–>aku bilang gini karena bagiku karakter atau watak adalah anugerah dari Allah, karena tidak bisa diubah hanya bisa diperbaiki). ^_^

Diriku masih sama seperti yang dulu (eciyeh kayak lagu aje), hanya saja aku yakin akan adanya perubahan yang (insyaAllah) ke arah yang lebih baik. Pasti banyak yang kepo (penasaran) kan kok bisa beranjak untuk memulai perubahan sedang di tulisan terdahulu bingung berubah dari mana? Ihiiirr ihiiirr…  #geerModeOn

Yups. Yang jelas sesuai ending tulisan bertahun yang lalu itu aku berdoa bukan? Begitulah seharusnya kita memohon bantuan pada Yang Memiliki Hidup. Alhamdulillah diberikan jalan. Setelah beberapa kali “gagal” membina hubungan pertemanan maupun pertaarufan (heehee..) akupun dipertemukan dengan seorang sahabat yang bertanggal lahir dekat denganku, berkarakter hampir sama dan saling mengerti. Kemudian akupun dinikahi oleh seorang pria yang super sabar. Darinya pula aku belajar untuk sedikit bersabar meski emosi masih sering juga meletup. Namanya juga proses. Proses pun juga butuh kesabaran. Dan.. Allah mencintai proses ke arah kebaikan.

Teringat pada uraian komentar dari salah satu komentator tulisanku terdahulu bahwa karakter ini bisa karena pengalaman masa lalu meski kecil namun berdampak serius karena diendap dalam pikiran. Iya, bisa jadi pola asuh yang overprotektif menyebabkan kurangnya percaya diri dan menimbulkan karakter temperamen ini terjadi pada khususnya individu introvert. Kenapa begitu? Karena sikap overprotektif dari orang yang lebih berpengaruh (bisa orangtua, suami/istri, atasan, dst) menghambat letupan keinginan dari dalam diri (bahasa jawanya “ngempet”/”mendem”) sehingga tanpa sadar mengambil bagian di alam bawah sadar jika saat “penekanan” terlalu berat dirasakan maka akan muncul emosi berlebih yang pasang surut. Kecepatan pasang surutnya tentu sangat terpengaruh oleh pengendalian diri. Pengendalian diri sangat dipengaruhi oleh emotional quotient (kecerdasan emosi) yang bisa dilatih, juga oleh spiritual quotient (kecerdasan spiritual) yang bisa diasah. Seringnya pada individu berkepribadian introvert karena kecenderungannya menutup diri. Beda hal nya dengan ekstrovert yang bila dirinya “tertekan”/stress meluapkannya dengan terbuka. Apa adanya. Semua orang bisa tahu. Setelah meluap emosinya ya sudah. Tidak ada ganjalan yang bisa sewaktu waktu meledak pasang surut.

Kesimpulannya karakter temperamen bisa dilatih dan diasah agar tidak terlalu “heboh” (–> keinget ngga gaya si mbek iklan wimcycle jaman dulu? Ada yang belom lahir jangan2… hee..) seiring dengan matangnya EQ dan SQ. Belajar. Terus belajar. Percaya bahwa tiada hal yang tidak mungkin jika ada niat/passion (–> jangan lupa baca tentang hal ini di judul “Long long way to go” yaa…) pasti ada jalan. InsyaAllah.

Next step, di samping berdoa kita juga harus berusaha. Berusaha gimana? Ya itu tadi meningkatkan EQ dan SQ. Bagaimana cara melatih EQ? Dengan banyak-banyak menghadapi situasi yang butuh kesabaran ekstra. Kebetulan aku dalam posisiku sebagai pendamping suami sebagai perwira TNI AD banyak situasi yang menghadapkanku ke arah itu. Melatih SQ ya dengan mendekatkan diri ke Sang Maha Pencipta. Caranya gimana mendekat? Allah itu dekat bahkan lebih dekat dari yang kita bayangkan. Hanya saja seringkali kita tidak (mau) menyadarinya. Sebut nama Allah di setiap hela nafas, di setiap denyut jantung niscaya kita akan merasakan betapa dekatnya Ia. Jangan lupa untuk terus memohon ampun (istighfar) dan evaluasi diri (muhasabah). Maka cintaNya akan terasa melingkupi jiwa kita.

Langkah terakhir adalah tawakkal, pasrah akan ketetapanNya. Pasti yang Ia berikan adalah yang terbaik untuk kita. Kewajiban kita hanyalah mengharap ridho Nya, bukan memaksakan hasil akhir sesuai harapan kita. Kemudian, bersyukur. Bukankah Allah akan menambah nikmat hambaNya yang bersyukur?

***

Advertisements

Long long way to go…

Bagi beberapa orang bahkan sebagian besar orang menemukan “passion” dalam hidupnya, yang menggerakkan dirinya untuk melangkah, untuk mencintai pekerjaannya bahkan hidupnya, bukanlah hal yang susah.

Jangan salah persepsi dulu ya… pada sebagian orang “passion” sering dikaitkan dengan pembahasan (maaf) seks. Padahal definisinya tidaklah sesempit itu.

Passion… gairah… sesuatu dari dalam hati yang mendorong kita mengalahkan rasa malu, rasa enggan, pertimbangan untuk melakukan sesuatu.

Passion juga merupakan sesuatu dorongan yang membuat kita lupa waktu, lupa capek, lupa mengeluh (coba deh keluhan kita dijadikan bahan renungan untuk jadi duit… strategi baca peluang gitu looh, hehe… semisal kisah founder Go Jek), lupa dengan gunjingan, cacian seperti kisah JK Rowling misalnya dan masih banyak lagi kisah orang-orang sukses lain yang lupa akan batasan yang diciptakan lingkungan sekitar. Padahal, batasan itu kita sendiri yang buat… Allah tidak pernah memberikan kita batasan dalam mengeksplorasi diri asal tidak bertentangan dengan ketetapan Nya.

Makanya, passion sering dikaitkan dengan semangat. Semangat juang yang tidak mengenal putus asa. Gigih, ulet, tekun dan yang paling penting yakin bisa.

Semangat itu sulit dicari dari luar. Karena sebenarnya dorongan semangat terbaik harus datang dari diri kita sendiri. Tak ayal bila passion juga dikaitkan dengan niat yang kuat.

Bagaimana dengan passion dalam bekerja?

Benarkah kita bekerja atas dasar gairah kita atau hanya semacam keterpaksaan karena salah jurusan, terlanjur basah atau permintaan orang tua? Sudahkan pekerjaan kita membuat kita bahagia? Sudahkah pekerjaan kita memberi manfaat bagi hidup kita dan orang2 tersayang? Sudahkan pekerjaan kita sesuai dengan life style kita?

Coba renungkan…

Sudah belum? Hehe…

Kalau sudah dan jawabannya disimpulkan “pekerjaan yang kulakoni gue banget cooyy…” mantaappp… lanjutkan. Tidak perlu teruskan membaca tulisan ini.

Tapi… kalau jawabannya ” pekerjaan gue engga banget deeh.. gue bisa gile… kek mana nih… pitam kepala… alahay…” (ups… maaf mencapur 3 aksen, betawi, medan, aceh… just try to say that Indonesia is very divergen but very beautiful especially in the languages) lanjut baca ke bawah yaa… ^__*v

Menemukan passion dalam bekerja sangat bermanfaat untuk keikhlasan dalam bekerja. Misalnya motif bekerja tadi karena terpaksa atau ketrimanya disana terus takut or malu (jaga gengsi) kalau keluar padahal jabatan udah keren (misalnya..) kan jadinya pekerjaan juga tidak berakhir dengan indah (kalau cewek berakhir dengan bagus… eh… ) dan pastinya kurang barokah alias kurang bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitar (apalagi buat si bos kalau kerjanya di kantor atau buat negara kalau kerjanya jadi PNS/TNI/Polri). Yang ada kerjanya ngelakuin pelanggaran. Oh no…

Tulisan ini terinspirasi dari coach Dedy Dahlan. Ahli “passion” dan salah satu motivator oke di Indonesia. Kurangkum jadi 5 langkah penting dalam menemukan passion setelah yakin HAL ITU yang membuat kita “lupa” tadi..(asal jangan lupa diri yaa… hee..).

1. Kalau merasa salah jurusan ya cari jurusan lain… belum terlambat untuk bertobat (ups..) tipsnya bisa dengan mengikuti lifestyle yang kita inginkan… misalnyaaa…? Ya kalau tujuannya ke Jakarta ya jangan naik kereta tujuan Surabaya (kecuali mau jalan2 ding… cari pengalaman… ahaha… ) maaf ngelantur… tapi masuk akal kaann? Kalau ngga pingin diatur atur ya ciptakan lapangan kerja sendiri. Kalau sukanya taat perintah (sendiko dhawuh) ya usahain jadi “anak buah” jangan sampai jadi “bos” ntar diinjek injek sama anak buah atau malah jadi “bossy” (gaya bos tapi engga banget deh…). Siapa yang berani berhenti dari kerjaan yang ga gue banget itu terus berusaha merintis sesuai passionnya dari nol lagi gue acungin 10 jempol…!!! Rata-rata begitulah orang sukses tempo sekarang. Berani menggebrak… berani bertindak… berani ambil resiko demi si rezeki. Ikuti kata hati terdalam deh pokonya atuh.

2. Hilangkan rasa MALU… cuman ya jangan malu-maluin yaa… malu sama kucing meong meong meong (sumpeh gue keinget anak gue sama pamannya dubsmash lagu ini lucu abis… sayang ga ke save… hiks… hadeh ngelantur lagi). Malu sama dengan gengsi sama dengan takut persepsi orang. Pe de aja lagi… gue yang njalanin hidup bukan elu (batin aja gitu) cuman ya jangan sampai melengos sama perseptor2 itu… tunjukkan senyum menawan selalu tanda bahagiaa ha ha ha…

3. Never give up.. ini mah udah jadi langganan kata-kata sakti penutup sesi… jangan menyerah.. jangan putus asa… jangan berhenti adalah padanan katanya… tapi yaa begitulah adanya… hayati dan resapi.

4. Lawan hal yang tidak mungkin

Misalnya HAL tersebut adalah jalan kaki keliling dunia dalam 7 hari. Mungkin ga tuh? Secara nalar yo ga mungkin.. uedyan po…??!! Wong edan wae nggeguyu (orang gila aja menertawakan). But… where there is a will there is a way… kan niatnya cuman jalan kaki keliling dunia… kalau jalan kakinya dalam pesawat bisa dooong? Hehee…

Be smart dalam menyikapi suatu hal… ojo melu-melu… anti mainstream kalau istilahku sih, anti tren tapi ciptakan arusmu sendiri.. ciptakan tren sendiri. U can do it!!

5. Baca sinyal peluang, ubah keluhan jadi duit

Misal kita ngeluh iih panas banget ya di pasar nih mana becek pula ga ada ojek. Naah banyak peluang tuh: 1. Jualan tisu penyeka keringat 2. Jual kipas 3. Jual jasa peminjaman sepatu boot biar ga becek2 terus hubungin aja Go Jek pakai aplikasi biar ga usah cari ojek. Mantap ga? (Misalkan ajaa looh inii). Di jaman super kreatif ini apapun bisa dijadikan peluang. Yakin aja.

Setelah mantap renungkan kembali sambil coret-coret. Buat 4 judul tulisan di 4 kertas

1. Goal (tujuan) bisa dibantu dengan pertanyaan: apa tujuanmu bekerja? Penghargaan apa yang ingin kamu peroleh? Skala pekerjaan bagaiman? Posisi tertinggimu apa? Income berapa? Dst yang berintikan menjawab tujuan. Tujuan khusus juga bisa disertakan.

2. Reality (kenyataan) bisa dibantu dengan pertanyaan: apa hambatan dari diri? Apa kendala dari sekitar? Bagaimana potensi? Setelah itu beri juga penyeimbang peluang nya

3. Options (pilihan-pilihan) breakdown dari tujuan-tujuan tadi sampai hal terkecil. Apa saja yang bisa kita lakukan dengan memperhatikan peluang dan hambatan yang ada.

4. Will to act (keinginan untuk beraksi)

Ayoo lakukaaan tunggu apalagi… jangan diam sajaa…  lakukan dari yang kecil yang bisa dilakukan.

Misal…. pengennya menerbitkan buku. Passion nya menulis. Yaa langkah terkecil baca buku-buku best seller untuk cari peluang pasar, ikuti perkumpulan penulis, cari referensi penerbit, habis itu jangan sampai terlewat sehari tanpa menelurkan telur eh salah tulisan. Karena ala bisa karena biasa. Kalau memang passionnya jadi penulis yo jangan jadi pedagang bakal rugi atuh… jiwa penulis kan kebanyakan melankolis jadi bukannya untung malah buntung dibagi-bagi jualannya (ngarang data… hee..)

Misal lagi pengennya jadi PNS tanpa bayar… yo gampang itu… tinggal belajar materi tes, kuasai, percaya diri, sholat tahajud, berdoa dan puasa serta minta doa restu orangtua. Hihihi… insyaAllah barokah.

Misal misal lagi pengennya apa?? (silakan konsultasi pribadi aja deh… cape atuh nulis satu satu eta mah… ehehe).

Di saat tak ada satu manusia pun yang menghargai kita dan upaya yang kita lakukan, tataplah mentari. Yakinlah bahwa sang pencipta mentari isedang tersenyum melihat kita yang terus gigih berjuang tanpa pernah menyerah. Selama mentari masih terbit di pagi hari, selama itu pula masih ada harapan.

Sebenarnya, ciri utama passion adalah, kita rela tidak dibayar -bahkan membayar- untuk mendapatkannya. Nah, kalau ada pekerjaan yang membuat kita merasa begitu, itulah passion. Jalani, nikmati, dan insya Allah Allah akan memuluskan jalan menuju keberhasilan dunia-akhirat. Percayalah….

****

{And me… ?? i still try to find “it” too… its really a long long way to go… ♡}

cerita menyapih

Sengaja aku tidak menyapih anakku, Aya,  sebelum 2 tahun karena saat usia 2 tahun lebih seminggu aku akan mengajaknya naik pesawat terbang, sebuah perjalanan yang tidak biasa baginya. Khawatir malah rewel di pesawat dan perjalanan lain yang menyertai untuk sampai ke tanah Jawa mengantar ayahnya sekolah Diklapa 2.

Kebetulan puasa Ramadhan saat berada di Jogjakarta, home base kami dalam menunggu ayahnya sekolah. Alhamdulillah juga Opa dan Uti nya (ortuku) bisa free 1 bulan. Akhirnya dengan dibantu pengalihan dari mereka, tepat 25 bulan atau 2 tahun lebih 1 bulan Aya sapih.

Seminggu pertama: meyakinkan aya bahwa “nyunyu” (sebutan Aya utk menyusu) utk adek, rasanya sdh tdk enak, pahit dan tinggal sedikit jadi Aya pasti krg puas… membuat perjanjian berhenti nyunyu sesuai kesiapan kami (saat itu kami sepakati 1 bulan lepas) diberi penyaluran susu UHT Vidoran kids coklat kesukaannya yg biasanya cm 2-3x sehari jadi 4x sehari kotak 115cc. Kegiatan nyunyu hanya utk pengantar tidur siang dan malam.

Seminggu kedua: pembatasan nyunyu hanya di malam hari sambil terus mendengungkan kesepakatan proses sapih yang sudah kujadwal dalam tempo 1 bulan.. siang pengantar tdrnya dengan melihat video di tablet Opa.

Seminggu ketiga dan keempat: tidak nyunyu sama sekali tapi sesekali pegang PDku dan bilang “ini nyunyu adek ya mi… pait,” Susu kotak 6-7x sehari. Nyunyu malem hanya 2 hari saja itupun krn terbangun dan rewel krn capek. Siang tidur dengan naik sepeda motor atau saat jalan2 keluar di gendonganku.

Tepat sebulan proses penyapihan, Aya berhasil lepas nyunyu dan asiku memang sdh habis. Setelah itu proses tidurnya menjadi gampang sekali… peluk guling dan tidurlah Aya.

No brotowali, no kunyit, no cekok jamu, no pemaksaan sapih… murni karena proses komunikasi dan pengalihan yang pas, sesuai dgn anak…

Alhamdulillah proses penyapihan ini seiring dengan toilet training. Cukup berhasil melatihnya pipis dgn bilang “pipis”… hanya sesekali saja ngompol terutama saat tdr malam. BAB yg msh takut langsung ke toilet. Lebih sering di celana. Katanya eok itu ular. Aya takut bentuknya yg pnjang spt ular. Sesekali saja mau di toilet karena dibelikan pispot bergambar princess kesukaannya.

Penggunaan diapers masih kuberlakukan kalau keluar dalam jangka waktu lama dan atau jauh yang merepotkan kalau harus pakai clodi atau training pants. Over all Aya is really cooperative and trustable (teguh akan komitmen)… Alhamdulillah…

Mengenal Diriku….

Aku hanya ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Bukannya malah merepotkan dan menjadi beban. Tidak, aku tidak mau.

Lama aku merenungi bagaimana aku, dari stigma yang orang berikan padaku “galak” bahkan ada yang bilang “angkuh” membuatku berpikir kenapa aku bisa begitu. Jika benar golongan darah dan keberadaanku sebagai anak pertama sebagai faktor predisposisi sikapku itu ditambah lagi faktor lingkungan yang melingkupiku membuatku menjadi seperti ini, bisakah aku berubah..? menjadi setidaknya pribadi yang lebih menyenangkan…?

Aku pikir aku emosional, sensitif, dan tidak peduli. Kemudian aku berusaha belajar tentang pengembangan diri. Sempat terpikir ikut kursus kepribadian. Buku-buku koleksiku mayoritas tentang cara berpikir positif, cara bergaul, dan lain-lain yang menyangkut pengembangan diri. Dan hasilnya…. nihil. Setiap baca aku sadar, aku tahu, aku berusaha melakukan sesuai isi buku. Beberapa saat kemudian aku sudah kembali ke sifat dasarku. Entahlah, aku bingung sebenarnya siapa dan bagaimana aku..? jika mengenal dan menerima jati diri saja aku masih sulit bagaimana bisa membina hubungan yang baik dengan orang lain..? itu mungkin sebabnya hubungan sosial dan interpersonalku agak payah. Gampang goyah. Dan akupun ditinggalkan…

Sampai suatu saat kutemukan kembali makna seorang dokter yang pernah merawatku bilang aku ini “temperamental”. Saat itu aku tidak paham benar, kupikir aku emosional seperti gampang marah atau gampang sedih. Kucoba menggali makna itu setelah kegagalanku menemukan solusi pada segi emosional quotient (EQ).

Aku tersentak dan tertegun saat mengetahui aku ini temperamental. Ingin sekali menghilangkannya atau beradaptasi dengannya…? dari sini kematangan emosikupun yang labil itu diuji.

Bingung harus mulai darimana…

***

Sedikit tentang kepribadian temperamental… Judul Bab di buku ini: Hati-hati dengan kepribadian temperamental (byYusuf Al-Uqshari).

Kepribadian yang temperamental atau orang yang mempunyai sifat temperamental adalah sebuah kepribadian yang sama sekali berbeda dengan orang yang emosional atau pemarah. Meskipun secara sekilas dalam pandangan orang banyak ada hubungan yang menyatukan mereka, tetapi jika ditinjau realitasnya dan secara ilmu psikologi, bukan seperti itu realitasnya.

Kepribadian yang temperamental juga bukan kepribadian yang sensitif. Dan, bagi setiap kepribadian ada ciri-ciri tertentu dan sisi-sisi tertentu yang membedakannya dengan kepribadian yang lain. Kepribadian yang temperamental adalah kepribadian yang ketika kita berinteraksi dengannya kita harus bersikap hati-hati. Orang yang temperamental bisa menjadi orang yang mudah marah, tidak sabar, emosional, dan sensitif, mempunyai hati yang keras, perasaannya kering, keras kepala, mudah meledakkan amarahnya karena hal yang sepele. Sikap temperamentalnya muncul tanpa dikehendaki, karena temperamental bersambung dengan aliran emosi yang mengeluarkan cairan saraf yang berada di otak bagian tengah. Lalu manakala otak menangkap pengaruh tertentu, maka pengaruhnya itu berjalan di dalam tubuh melalui aliran emosi dengan cara yang tidak dapat dikendalikan melalui gerakan yang cepat atau melalui perasaan. Dalam realitasnya, temperamen dapat dikategorikan sebagai sebuah ungkapan perasaan. Kami tegaskan bahwa orang yang mempunyai sifat temperamental tentu saja mempunyai jiwa yang sensitif, tetapi orang yang sensitif tidak mesti temperamental. Hal ini menegaskan adanya perbedaan kedua sifat tersebut.

Orang yang memiliki kepribadian temperamental dapat dikenali dengan mengetahui ciri-ciri utamanya. Ciri-ciri paling utama adalah mereka lebih mudah terpancing dengan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang sepele. Mereka langsung gelisah ketika menghadapi sesuatu yang sebenarnya mereka ketahui bahwa itu tidak ada kepentingannya sama sekali. Mereka selalu menggunakan ungkapan-ungkapan yang keras seperti mengerikan, menakutkan, luar biasa, aku benci, aku cinta, aku melakukan, dengan dibarengi semangat tinggi.

Bisa jadi kita saksikan mereka meloncat secara tiba-tiba ketika mendengar suara yang tidak biasa atau jika mendengar ada orang yang memanggil mereka dengan suara yang mengagetkan (termasuk suara petir, gemuruh, dll yang mengagetkan). Ketika mereka sedang benar-benar marah, terkadang mereka merasakan sedikit kelumpuhan yang menjadikan mereka tidak mampu untuk  mengetahui apa yang mereka katakan dan mereka lakukan. Dan, mood mereka selalu berubah dengan cepat bahkan tanpa adanya sebab, berubah dari keadaan gembira kepada keadaan sedih/depresi, atau sebaliknya. Pikiran mereka selalu disibukkan dengan berbagai perkara yang tidak ada manfaatnya dan dengan berbagai kecurigaan dan ketakutan yang menyebabkan mereka tidak tenang.

Kata-kata yang dapat mewakili sifat-sifat orang yang temperamental adalah mudah marah, cepat terpancing, egois, tidak sabar, mempunyai mood yang selalu berubah, juga selalu gelisah dan selalu berimajinasi. Mereka menginginkan mempunyai sikap yang stabil akibat apa yang mereka rasakan (–> jadi orang temperamen itu capek, sudah tau nggak baik tetap tanpa sadar seperti itu, ingin berubah, menahan diri tapi kalau sedang lupa ya selalu berulang…. T.T). Mereka merasa gelisah dan tidak tenang dengan berbagai perasaan yang mereka alami, meskipun perubahan tersebut berupa berubahnya tempat kerja karena naik jabatan, atau pindah ke tempat yang lebih bagus, prestasi dan atau yang semisalnya.

Orang yang mempunyai jiwa temperamental juga cepat berubah warna  mukanya. Apabila mereka menghadapi sesuatu persoalan yang membuat mereka tidak tenang, maka secara tiba-tiba wajah orang-orang ini berubah dari putih menjadi merah secara tiba-tiba. Tangan mereka menjadi dingin atau berkeringat. Mereka mudah merasa jengkel dan terpengaruh jika mendapatkan kritikan atau teguran yang negatif. Mereka selalu tidak merasa sabar dan mudah terpancing. Berdasarkan pengetahuan tentang dimensi kepribadian orang-orang temperamental, maka kita harus berinteraksi secara hati-hati dan sensitif dengan mereka. Jangan sampai kita melontarkan kritikan atau membuat mereka terluka, bahkan jangan sampai memberikan teguran secara frontal pada mereka.

Jangan sampai kita mengejutkan mereka meskipun itu kabar gembira. Kita harus menggunakan cara yang bertahap dalam memberikan informasi kepada mereka tentang suatu perkara, betapapun kecilnya informasi tersebut. Kita harus memperkirakan reaksi mereka yang cepat pada suatu perkara yang sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan reaksi. Dan, kita biarkan mereka mengungkapkan pendapat mereka dengan metode dan cara mereka tanpa kita berikan interupsi atau kita tunjukkan ketidakpedulian kita terhadap pendapat mereka. Bahkan sebaliknya, kita harus membuat mereka merasa bahwa kita menghargai diri dan keberadaan mereka.

Kita jauhkan mereka dari berbagai faktor yang sensitif, baik yang positif maupun yang negatif. Kita harus menghormati ketika mereka marah, bagaimanapun konyolnya bentuk kemarahan itu. Jika kita terpaksa harus meluruskan mereka, maka kita harus melakukannya dengan cara yang tenang yang berlandaskan dengan metode yang meyakinkan (misalnya berulang kali menyatakan bahwa kita menyayangi mereka, kita peduli akan mereka. Meski hal ini sangat melelahkan dan tidak penting buat kita) . Jika tidak begitu, maka persoalan ini akan berakhir pada perseteruan yang terjadi lebih cepat dari apa yang kita bayangkan. Oleh karena kepribadian yang temperamental ini dalam kebanyakan kondisi tidak dapat menyadari apa yang harus dia katakan dan dia lakukan.

***

Ya, mungkin begitulah aku….

Ingin sekali mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk itu…. tapi aku seperti tidak bersyukur pada anugerah yang Allah berikan. Berujung pada tangis setelah tahu “sekali lagi aku gagal”. Ingin berdamai dengan diriku dan menerima saja apa adanya. Tapi karena itu aku selalu ditinggalkan… banyak yang takut padaku… membuatku terhalang untuk memiliki hubungan interpersonal yang harmonis… Aku tidak ingin menyerah untuk belajar berubah. Kesannya orang temperamental hanya ingin dipahami, tidak bisa memahami. Payah sekali ya… bagaimana bisa…? dibarengi dengan emosi yang tidak matang hal ini semakin sulit untuk dilakukan. Ditambah PMS akibat ketidakstabilan hormon dalam tubuhku semakin memperkeruh suasana. Darimana aku harus memulai…? Ya Allah tuntunlah hamba…. Hasbiyallahu laa ilaa ha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wahuwa ‘ala qulli syai’in qodiir…

Dan semoga kalian mengerti…. betapa aku juga lelah seperti ini….

***

Kuasai dan Kendalikan Dirimu

Oleh Aribowo Prijosaksono

Hal yang paling sulit kita lakukan adalah mengalahkan musuh terbesar kita yaitu diri kita sendiri. Jika kita sudah dapat mengalahkan dan mengendalikan diri kita sendiri, berarti kita sudah mencapai tahap kecerdasan spiritual yang tinggi. Mengalahkan dan mengendalikan diri sendiri bukanlah sebuah peristiwa, tetapi sebuah kebiasaan dan kedisiplinan yang harus kita lakukan setiap hari.

Ada sebuah syair yang ditulis oleh penulis anonim, berjudul An Indian Prayer berbunyi demikian: ”I seek strength. Not to be greater than my brother, but to fight the greatest enemy, myself……” Syair ini saya temukan tertempel di kamar belajar seorang teman saya di Amerika Serikat dua puluh tahun yang lalu. Penyair ini telah menemukan rahasia terbesar kehidupan ini, yaitu pertempuran terus-menerus dengan dirinya sendiri.

Seseorang disebut ”kuat” ketika dia sudah menemukan cara untuk mengalahkan dan mengendalikan dirinya. Inilah hal yang kita sadari sangat kurang dalam diri kita. Mengalahkan dan mengendalikan diri, menurut JFC Fuller, seorang jenderal pada angkatan bersenjata Inggris, menunjukkan kebesaran karakter seseorang. Mengendalikan orang lain hanya menunjukkan sebagian kebaikan karakter kita. Jadi salah satu komponen yang penting dalam memperkaya kehidupan spiritual kita adalah pengendalian diri, yaitu mengalahkan musuh terbesar yaitu diri kita sendiri.

Lao Tsu, filsuf Cina, pernah mengatakan, ”Menundukkan orang lain membutuhkan tenaga. Menundukkan diri kita sendiri membutuhkan kekuatan.” Ternyata lebih mudah bagi kita untuk menundukkan orang lain daripada menundukkan diri sendiri. Seperti kita ketahui bahwa salah satu anugerah Tuhan kepada manusia adalah kesadaran diri (self awareness). Hal ini berarti kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri. Kesadaran diri membuat kita dapat sepenuhnya sadar terhadap seluruh perasaan dan emosi kita. Dengan senantiasa sadar akan keberadaan diri, kita dapat mengendalikan emosi dan perasaan kita.

Namun seringkali kita ”lupa” diri, sehingga lepas kendali atas emosi, perasaan dan keberadaan diri kita. Oleh karena itu agar dapat mengendalikan dan menguasai diri, kita harus senantiasa membuka kesadaran diri kita melalui upaya memasuki alam bawah sadar (frekuensi gelombang otak yang rendah) maupun suprasadar melalui meditasi.

Dimensi Pengendalian Diri

Mengalahkan diri sendiri memiliki dua dimensi yaitu mengendalikan emosi dan disiplin. Mengendalikan emosi berarti kita mampu mengenali/memahami serta mengelola emosi kita, sedangkan kedisiplinan adalah melakukan hal-hal yang harus kita lakukan secara ajeg dan teratur dalam upaya mencapai tujuan atau sasaran kita.

a. Mengendalikan Emosi

Kecerdasan emosi merupakan tahapan yang harus dilalui seseorang sebelum mencapai kecerdasan spiritual. Seseorang dengan Emotional Quotient (EQ) yang tinggi memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual. Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respons kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.

Menurut definisi Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins (penulis Awaken the Giant Within) menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.

Di sini dia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekedar respons tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita.

b. Menguasai Diri dan Kedisiplinan

Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan. John Maxwell mendefinisikan ‘disiplin’ sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu (antara 30 – 90 hari), ‘disiplin’ akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang!! Saya percaya kita bisa menjadi disiplin dan menikmatinya setelah beberapa tahun melakukannya.

Berikut saya mengutip tulisan John Maxwell tentang disiplin diri yang merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin:

All great leaders have understood that their number one responsibility was for their own discipline and personal growth. If they could not lead themselves, they could not lead others. Leaders can never take others farther than they have gone themselves, for no one can travel without until he or she has first travel within. A leader can only grow when the leader is willing to ‘pay the price’ for it.

Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.

Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:

1. Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.

2. Buat urutan prioritas hal-hal yang ingin kita lakukan.

3. Buat jadwal kegiatan secara tertulis (saya selalu menempelkan jadwal kegiatan saya di dinding depan meja kerja saya di rumah).

4. Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku. Jika perlu, kita dapat mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi.

5. Berusahalah untuk senantiasa disiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri. Sekali kita tidak disiplin atau menunda kegiatan tersebut, akan sulit bagi kita untuk kembali melakukannya.

Melalui pengendalian emosi, penguasaan diri dan kedisiplinan kita dapat lebih memahami diri kita dan bagaimana cara memanfaatkan potensi luar biasa dalam diri kita sehingga kita menjadi manusia yang lebih cerdas secara spiritual. Namun, semua ini tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita harus melakukan sesuatu untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan berkualitas, karena hanya kita sendiri yang dapat mengubah kehidupan kita.

———————————-

my notes:

Artikel ini kutemukan di salah satu web (maaf lupa copas darimana) semoga yang menulis ridho tulisannya di-share ulang…

Saat emosi memuncak entah marah, benci, sedih, dsb kita sering lupa daratan. Lupa harus bagaimana, lupa caranya menyikapi hidup dengan bijaksana. Semoga di pertambahan usia kita tiap detiknya kita semua bisa menjadi lebih dewasa, lebih bisa mengendalikan diri agar tidak salah bersikap yang memberikan penyesalan nantinya.

Lesson for myself, hope i can be “wiser” next time n controlling my emotion to stable condition… Ridhollah, Amiin,,,, ^^