Resume Buku: Spiritual Journey Cak Nun

Penulisan buku ini diawali dengan berkirimnya surat penulis kepada Cak Nun dan dibalas 7 tahun kemudian dengan jawaban atau ajakan menulis buku. Betapa ada kohesi antara keinginan manusia dan dukungan semesta itu.

Dahulu, nusantara terkait erat dengan peradaban koneksitas. Dan karena kita memiliki hubungan yang paling dekat koneksitasnya dengan pembentuk dunia ini, maka Indonesia dijadikan fokus sasaran untuk dihancurkan. Orang jawa melakukan semedi untuk memperlambat waktu agar bisa mendekati kecepatan cahaya (teori relativitas dibalik) sehingga menjadi sangat sensitif terhadap gejala-gejala yang terjadi di alam sekitarnya. Belum lagi jika orang tersebut bisa menyelam ke dasar hatinya hingga sumeleh (ridha) sehingga mata hatinya lebih tajam lagi maka sangat mungkin dia sanggup merasakan sesuatu yang jauh dari dirinya atau bahkan isyarat dari sesuatu yang belum terjadi. Hal ini semacam slow speed (SS) dalam teknik fotografi. Lantas, jangan kaget pula bila ada orang yang bisa “memerintahkan” sesuatu untuk datang sendiri semisal gelas teh atau kelapa yang menundukkan dahannya atau bahkan bisa melesat begitu cepat atau bahkan lagi seakan bisa berada di dua tempat dalam satu rentang waktu.

Hal ini identik dengan teori keterikatan kuantum dalam mekanika kuantum yang salah satu aplikasinya adalah teleportasi. Namun, ilmu kita sangat terbatas dan hanya mampu membuktikan perpindahan atom. Kemungkinan ada dark energy (satu satunya yang belum dibuktikan.

Organisasi Islam di Indonesia Vs Maiyah (maiyatullah, bersama Allah). Organisasi bersifat mengikat sedangkan maiyah tidak ada ikatan namun terasa terikat tanpa paksaan. Kenapa? Mungkin adanya indikasi penyakit “lubang di hati”. Maka, bisa dibilang maiyah adalah gerakan penyegaran, menjadikan tasawuf sebagai cara pandang dan menerjemahkan gagasan-gagasan yang rumit menjadi aplikatif dalam kehidupan. Maiyah juga merupakan kombinasi dari mistisme Islam, fundamentalisme dan politik yang berakar pada pengajian bulanan. Bershalawat adalah bagian utamanya. Lari ke jalan sunyi adalah tujuannya. “saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada diantara hamba dengan Tuhannya. Setiap hamba memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya tanpa dicampuri, digurui, atau diganggu oleh siapapun. Saya wajib menghindari kemasyhuran dan menolak kedekatan dengan siapapun yang membuat orang lebih memperhatikan saya lebih dari kadar perhatian dan kedekatannya kepada Tuhan dan Nabi.” ujar Cak Nun. Bahkan Cak Nun juga menyampaikan bahwa beliau lebih memilih menjadi bagian dari 72 golongan yang sesat dibanding satu golongan yang bersama Rasulullah. “Sebab, dengan demikian saya selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk selalu belajar, untuk selalu bertobat dan jauh dari perasaan bangga sebagai orang yang paling benar apalagi bertakwa.”

Maiyah identik dengan malamatiyah. Dimana para pelakunya menyembunyikan hal yang patut dipuji, berhenti melihat diri sendiri, tidak melakukan yang disenangi, meski bergaul bebas dengan masyarakat namun sejatinya hanya bergaul dengan Allah semata. Dengan kata lain. Semua hal total dirohanikan (dipusatkan pada batin).

Manusia dari abad ke abad cenderung mengalami degradasi. Lihat saja jaman sebelum Nabi Musa, tidak ada yang dibekali firman tertulis dari Allah. Perangkat yang ditanam dalam diri manusia i.e AKAL, KALBU, SYAHWAT masih sangat terkontrol. Bisa dikatakan jaman sekarang daya tahan manusia terhadap informasi langit itu sangat pendek.

PERADABAN, sesungguhnya merupakan replikasi dari Allah itu sendiri. Adab, artinya sopan santun. Adabba artinya memperbaiki dan meluruskan.

Dahulu, nusantara jaya terlebih dengan masih diyakininya peradabab koneksitas (teknologi internal), namun sejak orang Eropa datang peradaban pun merosot tajam. Dunia modern menganggap peradaban koneksitas adalah mitos, magic, tidak masuk akal, dan sesat (pemikiran Newton dan Descartes). Namun anehnya, orang Eropa sekarang mulai mempelajari peradaban “kuno” kita. Menerapkannya dalam meditasi yoga. Karena belakangan ini, memasuki abad ke 20, nekanuka kuantum telah menghajar Newton.

Maka, sejatinya peradaban yang sedang diusahakan sekarang adalah PERADABAN ROHANI/SPIRITUALITAS.

Darimana kita dapat belajar banyak dan memetik hikmah? Dari ALAM. Karena alam telah mengalamu segalanya sejak terbentuk hingga hari ini. Alam akan menyeleksi makhluk hidup yang layak bertahan dan berkembang biak. Menilik perkembangbiakan, maka model reproduksi aseksual sejatinya sesuai dengan konsep pendidikan cabang eksak (matematika, fisika, kimia) dimana harus saklek. Sedangkan model produksi (perkembangbiakan seksual, dengan pasangan) sangat cocok untuk kajian sosial seperti ilmu politik, sosiologi, dan sejenisnya. Model ini menghasilkan cara berpikir yang kritis dan analitik serta hasilnya senang ber ijtihad.

Pendidikan di Indonesia ini sepenuhnya menggunakan model reproduksi. Harus sama. Biner. Aseksual. Maka, tidak heran jika anak Indonesia langganan juara olimpiade ilmu eksak. Namun, sulit sekali menemukan anak yang memiliki daya kritis dan analitis kuat. Sebut saja, bangsa fotokopi. Pun mendirikan bangsa se format undang undangnya kita mengkopi barat. Sedangkan negara yang ideal syaratnya hanya satu sebenarnya, LABA UNTUK RAKYAT.

Jika ingin belajar tauhid dari ayat kauniyah atau non literer maka pelajarilah ilmu biologi, fisika, kimia dengan matematika sebagai ilmu alatnya. Bila kita sudah pelajari, terbuka kemungkinan bagi kita untuk melihat batas antara perilaku alam yang bisa mandiri mengelola dirinya sendiri atau sebenarnya ada programmer yang membangun sistem operasi berjalannya alam semesta ini.   

Hal penting lainnya, yang pastinya berurusan penting dengan peradaban adalah soal parenting. Menurut Sabrang (Noe Letto) jika kita sudah tidak bisa berharap pada sistem pendidikan, maka kita bisa berangkat dari subyek pendidikan yaitu anak didik. Ada dua karakter umum berkaitan dengan pendidikan.

  1. Anak pembelajar. Cirinya, sangat menikmati proses belajar apapun itu. Biasanya anak seperti ini individual sehingga jika dimasukkan ke dalam sekolah formal tidak akan menemukan dirinya. Sebab, sekolah formal cenderung menggeneralisasi. Cara mendidiknya adalah dengan memfasilitasi, mewacana buka mentarget, jangan sampai dia tidak menemukan apa yang dicari, serta mengajak anak mengalami peristiwa sendiri.

  2. Anak bukan pembelajar. Cirinya, nongkrong, main ikut-ikutan teman, dan sebagainya. Anak seperti ini butuh didisiplinkan di sekolah formal.

Jika di masa ini secara umum yang diyakini masyarakat bahwa anak harus sekolah, setiap orangtua harus berhati-hati. Sebab, jika terletak pada posisi yang tidak tepat, maka sekolah malah menjadi ancaman.

Kewajiban orangtua sejatinya hanya ngetutke. Selalulah bertanya, sek sek sakjane sopo to anakku iki? Dipersiapkan sebagai apa oleh Allah? Daripada menarget sebaiknya kita ajak selalu untuk berdiskusi, kejar terus sampai menemukan argumen dasarnya. Giringlah anak agar dia tahu sebenarnya dia sedang mencari DIRINYA SENDIRI. Keputusan ada di pihak anak, kita dilarang memberi vonis benar atau salah.

Shalawat adalah semacam cara untuk mengungkapkan cinta yang dalam kepada Rasulullah. Shalawat adalah kunci utama segitiga cinta antara manusia, Rasulullah dan Allah.

Dalam pemikiran maiyah, Indonesia membutuhkan intervensi Allah dalam batas dan metode tertentu karena masyarakat kita sudah cenderung bermental korup, iri dan dengki yang massal. Kerusakan di Indonesia sudah sangat sempurna. Tinggal menunggu tindakan Allah saja. Maka, shalawat adalah salah satu pendekatan untuk memohon kepada Allah agar ikut melakukan intervensi untuk mengatasi kerusakan moral dengan cara lembut. Jangan sampai seperti terhadap kaum Nabi Nuh.

Untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia harus ada titik-titik dari berbagai dimensi yang bergerak secara simultan dalam semangat yang sama. But how come? Need miracle?

Saat manusia sudah bertauhid, maka makhluk apapun tidak akan mudah membuatnya “berselingkuh”. Baik berupa musik, kenduri, batu, pohon, mall, jabatan, karier bahkan surga sekalipun tak akan mampu memalingkan pandangan manusia yang sudah bertauhid. Pun organisasi keagaamaan. Tempatkan sebagai aktivitas belaka.

Surat An Nuur ayat 35. Mengapa kita belum bisa melihat cahaya Allah? Yaa karena versi kita belum memenuhi syarat untuk bisa melihat. Kesimpulannya, intisari agama adalah KOMUNIKASI yang tidak terputus, berkelanjutan, dan tidak berkesudahan antara hamba dengan Allah. Entah komunikasi itu dilakukan dengan mekanisme tauhid, cinta, syahadah, syariah, atau akhlak. Itu sebabnya Al Quran menyatakan bahwa FITRAH itu sebuah software yang diinstall dalam diri untuk menangkap cahaya Allah sehingga dia memiliki ketertarikan kepada Allah yang bisa menjadi pedoman hidup. Komunikasi dengan Allah merupakan KODRAT.

Allah memiliki tanda tanda yang bisa dilihat di alam semesta dan juga dalam diri manusia. Ialah HAKIKAT manusia sebagai pusat kontrolnya.

Komunikasi dengan Allah bukan berarti terus menerus beribadah tetapi kembali ke bumi seperti mi’roj Rosulullah, yaitu untuk memajukan PERADABAN. Kehidupan sosial yang lebih baik antarsesama manusia.

Allah juga menganugerahkan kesaksian kepada orang yang ma’rifat. Caranya, Allah akan memperjalankan hamba Nya yang kompatibel dengan cahaya Allah (1 frekuensi) untuk mempersaksikan Allah di dalam dirinya. Manusia tidak akan tahu momen dimana itu terjadi tapi akibatnya yang akan dirasa. Ibarat kita adalah lilin dan Allah adalah matahari. Cahaya lilin akan terserap oleh kuatnya cahaya matahari. Sebenarnya Allahlah yang menarik manusia kepada Nya. Bukan kita yang memiliki kekuatan mencapai Nya. Ibadah yang kita lakukan tidak mampu mengantarkan kita, hanya saja seolah menggelar karpet saja manatahu dengan begitu Allah berkenan menganugerahkan kesaksian. Jika manusia sudah sampai pada level itu surga dan neraka bukan hal penting. Sebab yang paling penting adalah ridho Allah. Karena jika Allah sudah ridho, api pun dingin saja. Seperti nabi Ibrahim ketika dibakar Namrud. Jadi apalah arti neraka?

Cahaya itu adalah cahaya ma’rifat yang dapat menerangi jalannya mengantarkan pada kebahagiaan abadi sehingga dapat menyaksikan dengan mata kepala apa yang gaib dalam kehidupan di dunia ini.

Orang Islam tujuan hidupnya merohanikan. Karena rohani lebih dekat dengan cahaya Allah. Sementara kapitalis tujuannya menunpuk kekayaan alias menjasmanikan. Hal itu dekat dengan memberhalakan. Jadi, rohanikan semua yang kamu miliki pun dirimu sendiri. Karena sesuai dengan keunikan cahaya , satu satunya cara agar tidak musnah adalah dengan masuk ke Cahayanya Allah.

Dunia sekarang sedang dikuasai sistem perekonomian neoliberalisme yang menurut pendirinya sendiri bukan sistem yang bagus. Semua diukur oleh pasar dan bahkan pemerintah kehilangan taringnya. Ustadz dan ceramah agamapun jadi komoditas. Sehingga manusia tidak lagi menemukan Tuhan dan Tuhan tak lagi menemukan manusia. Walau bagaimanapun watak tasawuf tidak bisa terpisahkan dari Islam Nusantara.

Sistem ini sejatinya adalah pengingkaran atas negara, atas perjuangan pahlawan bangsa. Tidak ada cara lain selain mencintai Indonesia. Siapapun tak akan sanggup memimpin Indonesia keluar dari kehancuran kecuali Allah turun tangan melakukan intervensi. Kita hanya bisa menemani.

Mukmin berarti orang yang memberikan rasa aman kepada semua manusia terhadap harta, darah, dan kehormatannya.

Muslim adalah orang yang menjamin bahwa sesama muslim dan semua manusia akan selamat dari tangan dan lidahnya.

Kafir berasal dari kata kafaro yang artinya menutup. Maksudnya ia menutup hatinya atas kebenaran Allah. Makna pertama, kafir dari nikmat Allah, kedua menutup diri dari nasihat orang lain karena merasa benar sendiri, paling pintar, selalu lebih baik dari orang lain. Tak peduli berapa kali haji tapi jika ada perasaan sedikit saja merasa paling benar sudah berpeluang kafir. Ketiga, kafir dari segi politik yaitu secara formal tidak masuk Islam. Malangnya, contoh ketiga inilah yang populer. Manusia dinilai bukan dari output tapi input.

Di dunia ada 2 tipe kepemimpinan. Melayani seperti ibu kepada anaknya dan dilayani seperti raja dan gila hormat. Tinggal kita mau pilih yang mana.

Anatomi doa. Doa itu tidak boleh egois. Berdoalah bagi semua orang dan menyisipkan untuk kita. Bukan sebaliknya. Rasulullah tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Fokus utama doa Rasulullah selalu umatnya. Jika berhadapan dengan Allah, maka beliau membawa kita. Dan bila bersama umat, Rasulullah membawa Allah. Jadi, Allah telah menjadi tuan rumah bagi kalbu Rasulullah. Berdoa saja… yaa Allah anugerahi hamba dengan apa yang hamba harapkan (Quraish Shihab).

Amanah kesehatan. Kunci menjaga kesehatan adalah niteni sekecil apapun gejala di tubuhmu. Manusia itu dibiasakan bergantung kepada hal diluar dirinya. Padahal, manusia dalam batas tertentu memiliki kemampuan internal untuk mencegah atau menangkal penyakit. Sekali lagi, niteni. Karena kematian pun tiada rumusnya. Ada yang ditakdirkan karena kecelakaan, diizinkan karena sakit bahkan dibiarkan karena bunuh diri.

Wiridlah… biarkan ia dan shalawat bekerja menurut caranya dan jangan pernah pikirkan.

Dan jika lailatul qadr datang, bentuknya terserah Allah. Hati yang kompatibel dengan malam tersebut adalah hati yang tulus, ikhlas, rendah jati, selalu berada dalam kesadaran bersama Allah. Hati demikian hendaknya didukung oleh perangkat berupa shalat malam, mengkaji Al Quran, dan ibadah lain sehingga bisa menangkap gelombang hidayah yang tak pernah putus dipancarkan Allah. Kemudian idul fitri adalah puncak pencapaian dari esensi manusia.

Reformasi gagal karena tidak ada pemikiran komunal untuk berubah.

Shohibu baytii: puncak jalan sunyi

Allah menganugerahi manusia dengan 3 software dasar, yaitu akal, syahwat, kalbu. Syahwat merupakan generator pembangkit daya hidup manusia yang kapasitas produksinya tak terbatas. Unsur syahwat adalah egosentris, keakuan. Syahwat memiliki 3 sifat yaitu menyerap, menguasai, dan melampiaskan. Pengendali syahwat adalah kalbu atau hati. Namun hati sejujurnya juga ada keinginan memenuhi syahwat. Maka, adalah akal sebagai manajer. Sebut saja manajemen syahwat bukan manajemen kalbu. Doa kalbu robbi ya robbi. La tardzan ni fardzan wa anta khoirul warizin ( ya Allah ya Robbi. Jangan biarkan aku sendiri. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik baiknya pewaris). Iman adalah infrastruktur untuk mengundang teman yang akan menemani perjalanan sunyi kalbu. Iman itu ibarat singgasana kalbu. Siapakah yang duduk disana? ALLAH

Advertisements

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (last)

Note with addition,
TUHAN MENJAWAB DOA MELALUI KESEMPATAN
@anakjugamanusia Banyak orangtua ingin anaknya berprofesi seperti orang lain yang dianggap sukses. Mengapa tidak sekedar hanya menjadi orangtua yang berkasih sayang pada anak?

Kadang ambisi justru membuat orangtua dan anak terjebak pada situasi ketika orangtua memaksakan anak menjadi ini atau itu kelak. Jika anaknya ternyata suka dan kebetulan cocok dengan pilihan orangtua tidak masalah. Namun jika sebaliknya? Apa mau disebut kalau cinta kita pada anak itu bersyarat? Apa mau disebut bila kita hanya bangga pada anak jika berprofesi tertentu?

Percayalah, bila pola asuh dan didik kita sudah baik, bisa dipastikan anak akan memilih yang baik dalam hidupnya. Biarkan ia tentukan cita-citanya. Tugas kita hanyalah mendampinginya tumbuh dalam perasaan disayangi. Sediakan diri dan hati untuk membantu anak menemukan keinginan Tuhan dalam dirinya. Kita tidak berhak atas masa depan anak karena kita tidak ada di situ kelak…. Tugas kita selanjutnya “hanyalah” mendoakan mereka…

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Apakah Tuhan itu selalu mengabulkan doa-doa kita? Iya, doa akan selalu dikabulkan melalui kesempatan. Asal kita peka saja dengan “bisikan Tuhan” di hati kita. Contoh:
-saat kita meminta rejeki berlimpah, apakah Tuhan langsung mengirimkanmya di depan pintu rumah? Ataukah melalui peluang misalnya dipertemukan dengan teman yang dapat membantu kita?
-saat kita berdoa agar jadi pemberani apakah kita jreng jreng jadi pemberani ataukah Tuhan menjawab melalui kesempatan melalui hadirnya ketakutan2 yang harus kita lewati agar kita bisa berani?
-saat kita berdoa ingin menjadi orang sabar apakah sekonyong-konyong kita jadi penyabar atau melalui ujian emosi agar kita menahan diri? Terutama bersabar dengan tingkah anak?
-saat kita berdoa agar keluarga kita menjadi rukun dan damai apakah tiba-tiba saja damai ataukah diberi kesempatan menyelesaikan berbagai konflik kecil hingga besar?

Nah, begitulah. Tuhan mengabulkan doa melalui kesempatan. Faktanya, kita diberi kesempatan itu melalui anak-anak. Mereka lah yang membuat kita semakin bekerja keras untuk menjemput rejeki. Merekalah yang membuat kita berani dan matang ketika harus menghadapi ketakutan, merekalah yang membuat kita menjadi pribadi yang sabar dan merekalah yang menjadi alasan mengapa kita perlu selalu rukun dan damai.

Atas izin Nya, manusia lantas dititipi anak untuk dididik dan diasuh. Itu bukti bahwa kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki kehidupan dari generasi ke generasi.

Jika kita melihat banyaknya kejadian di negeri kita, entah itu kekerasan, korupsi, terorisme, kita seringkali frustrasi sehingga timbul tanya dalam hati, “Dari mana kita bisa memulai untuk memperbaikinya? Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah semua ini? Mungkinkah Indonesia bisa lebih baik lagi dari sekarang ini?”  Akhirnya, kita berdoa supaya bangsa ini menjadi lebih baik.

Hebatnya, Tuhan sekali lagi sudah mengabulkan doa kita melalui kesempatan karena faktanya kita dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih baik melalui anak-anak. Nah, anak-anak adalah kesempatan itu. Akankah kita lewatkan atau kita terus berupaya meningkatkan kemampuan diri (baca: terus belajar dan berupaya) agar dapat mendukung anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kelak menjalani perannya dalam kehidupan ini?

Pastinya jika seluruh orangtua mengambil peran tersebut maka Indonesia niscaya betul seperti kata Bung Karno dulu bahwa negara kita akan menjadi mercusuar dunia. Bismillah…

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Alhamdulillah, selesai juga rangkaian resume buku Anak Juga Manusia. Tidak semua detil di buku saya tulis karena secara utuh karya itu hak penulis. Benerapa bagian saya tambahkan dengan keterangan dalam bahasa saya.  Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

Terimakasih untuk Bpk. Angga Setyawan, yang sudah menuliskan materi sebaik itu dan semoga kita semua bisa mengambil manfaatnya, menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita. Barokallahu… aamiin.

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (15)

Note with addition,
KOMUNIKASI
@anakjugamanusia

Komunikasi anak dan orangtua bukan hanya penting akan tetapi menjadi kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apapun kepada kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua hanya berkomunikasi ke anak pada saat tertentu saja, misalnya:
♢Saat marah
♧Saat menyuruh
♤Saat mengkritik

Hmm.. semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Padahal, seperti tertulis dalam tulisan sebelum sebelumnya bahwa tingkat komunikasi level tinggi adalah cukup menjadi pendengar setia. Itu berarti mendengar tanpa marah, kritik, pukul balik cerita, kemudian memberi masukan yang bijaksana dan fokus pada solusi saat ia minta pendapat.

Terkadang, orangtua ingin tegas pada anak. Ya, tegas itu bagus tapi bukan keras. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten.

Saat anak balita, orangtua adalah guru utama. Namun saat ia sudah beranjak dewasa posisikan kita sebagai sahabat (jangan seperti iklan obat nyamuk tuh…). Jadilah tempat curhat yang asyik buat anak agar ia tidak memilih curhat ke teman-temannya yang belum tentu benar. Kemudian dengan pasangan kita juga harus saling mengingatkan bila sudah mulai tidak bersahabat dengan anak. Saat memberi nasihat usahakan untuk tidak frontal dan menyerang, misalnya, “makanya kamu jangan begitu! Makanya kalau dikasih tahu nurut!”. Akan lebih baik bila, “hmm… mama bangga kamu sudah berusaha menghadapi masalah ini. Dulu tantemu juga pernah punya masalah hampir mirip. Tantemu bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku ya karena bisa begini begitu. Sejak saat itu mama inget betul kata tantemu. Kalau untuk masalahmu kira2 bagaimana, sayang?” Seolah-olah si tante yang memberi nasihat padahal ya kita juga yang bikin cerita perumpamaan. Bandingkan dengan, “Makanya kamu jangan begitu nanti kayak tantemu loh.” Kan anak jadi tidak mampu berpikir sendiri dan cenderung menutup diri lagi.

Kecuali kalau anak masih balita. Misal ia jatuh, maka respon kita, “wah.. jatuh ya sayang… tidak apa2, lain kali harus hati2 yaa tidak boleh diulang lagi lompat di jalan bebatuan,” dengan perumpamaan tentu mereka belum paham.. hehe… kemudian jangan pernah menyalahkan, misal: “uuhh.. batunya nakal ini, pukul aja! Atau ih kodok nih yaa bikin adek jatuh…” kelak dia akan terbiasa menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi diri. Kelak dia akan jadi pribadi tidak bertanggung jawab. Maukah begitu…?

Kemudian sering pula kita meng iming-iming hal yang tidak benar atau menakut-nakuti hal yang salah. Misal, kalau nakal nanti disuntik pak dokter loh, kalau masih bandelnya minta ampun enggak mau nurut sama mama biar mama panggilkan pak satpam/pak polisi saja. Hal ini justru akan membuat bapak ibu kerepotan saat anak betul-betul butuh dokter atau saat bertemu para aparat. Atau ayoo makan dulu nanti kita naik odong-odong (padahal enggak), nantinya anak akan belajar berbohong juga. Mending sampaikan saja kalau tidak makan nanti perutnya bisa sakit atau pengen tinggi nggak? Ayo makan yang banyak.

Memang tidak lantas berhasil tapi mereka berproses untuk memahami. Mendisiplinkan anak harus dimulai dari dini, jangan beranggapan anak kecil bisa lupa dan nurut jika diancam seperti itu. Dan yang paling penting kedua orangtua serta pengasuh yang ada di rumah harus kompak yaa.. Coba yuk…!

“Tiada perubahan yang instan seperti makanan instan”

Catatan dari Buku Anak juga Manusia (13)

Note with addition,
NILAI TERBAIK UNTUK ANAK

@anakjugamanusia Banyak orangtua yang marah karena nilai anaknya jelek dengan dalih demi kebaikan anak. Sebetulnya, orangtua itu gagal berdamai dengan diri sendiri karena malu sama orangtua lain.

Skenario:
Ada orangtua yang mengeluhkan nilai ulangan Matematika anaknya yang hanya 40 dari nilai tertinggi 100. Tentu kita setuju bahwa nilai itu rendah. Namun coba kita gali lebih dalam. Bagaimana jika anak mengerjakannya dengan JUJUR (tidak nyontek), bagaimana jika ia sudah berusaha dengan TEKUN, dan bagaimana jika ia tahu nilainya jelek tapi tetap BERANI memberitahukannya pada kita?
Jelas 3 poin tersebut tak ternilai harganya dan tidak terpantau dari sistem penilaian di sekolah. Padahal 3 poin tersebut lah yang kelak lebih berperan besar dalam kehidupan mereka. Jika nilai Matematikanya bagus tentu menjadi pelengkap yang manis. Saat besar nanti, nilai matematika itu sudah tidak ada lagi perannya di masyarakat. Yang ada hanyalah parameter KESUKSESAN. Herannya banyak yang menganggap bahwa sukses sama dengan kaya .

Mengapa bangsa kita ini banyak sekali koruptornya? Ya.. sederhana saja jawabnya, karena banyak orang yang tidak peduli tentang proses (3 poin terakhir) tapi lebih ke hasilnya (nilai bidang studi).

Apakah koruptor ini sewaktu kecil diajari berbohong, menipu, mengambil hak orang lain? Tidak. Kemudian kenapa saat dewasa bisa demikian? Karena bukan pelajaran bohonglah yang membuat seseorang berbohong. Akan tetapi ketidakadaan apresiasi terhadap kejujuran yang membuat anak-anak mempunyai potensi untuk berbohong. Bagaimana tidak, nilai baik meskipun hasil mencontek lebih dielu-elukan daripada nilai jelek tapi dia jujur? Maka, kebanyakan siswa memilih menyontek agar bisa mendapat nilai bagus dan di apresiasi (dielu-elukan).

Maka, tugas kitalah dalam PENDIDIKAN RUMAH untuk mengapresiasi kejujuran itu, melatih anak untuk bertanggung jawab dan tidak marah bila nilai mereka jelek asal mereka sudah berusaha belajar serta tidak menyontek, dan tugas kita pula membesarkan hatinya bila dia diolok karena nilai yang jelek. Kelak, ia akan tumbuh jadi pribadi yang setia pada kebenaran.

Catatan dari Buku Anak juga Manusia (12)

Note with addition,
KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH

@anakjugamanusia  Anak secara alami berproses untuk memampukan dirinya hidup mandiri. Namun, orangtua yang terlalu melindungi anak dari kesulitan akan merusak proses tersebut.

Melindungi anak itu hal wajar, alamiah, manusiawi. Akan tetapi jika terlalu alias berlebihan malah akan menjadi masalah nantinya. Coba renungkan sendiri kenapa kita (kadang) terlalu melindungi? Bisa jadi sebenarnya karena kita tidak mau suaah payah membantu anak belajar mengelola situasi sulit. Kelak bila ia dewasa ia akan kesulitan sendiri dan selalu bergantung pada kita untuk menyelesaikan masalah mereka. Padahal, kita tidak mungkin selalu ada di sepanjang hidup mereka.

Ada pula yang berpikir, “Ah, nanti juga mereka bisa sendiri,” hmm… apa iya jika sejak kecil tidak diajari?
Contoh kasus: pada suatu acara anak usia 3 tahun tidak sengaja menumpahkan minum ke sepatu sang ibu. Respon yang ditunjukkan ibu adalah marah, melotot, mencubit anak tersebut hingga menangis ketakutan. Apakah anak belajar bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalahnya? Anak bukan manusia dewasa berukuran mini. Ia masih harus banyak belajar dan kita lah orangtua yang harus mengambil peran mengajarinya agar kelak ketika dewasa ia terbiasa bertanggung jawab alias pasang badan bila berbuat salah. Bukannya menghindar, pura-pura tidak tahu, pasrah, lari dari kenyataan atau malah menyalahkan orang lain.

Pada kasus menumpahkan minum di atas bukankah respon yang lebih baik adalah kita tersenyum, katakan tidak apa-apa dan mengajak anak membersihkan?

Dalam sistem pendidikan kita, sangat disayangkan bahwa kemampuan menyelesaikan masalah jarang diajarkan. Anak cenderung diminta untuk tidak boleh salah. Bahkan, anak bermasalah sering dihukum dan dicap sebagai anak nakal, bodoh, trouble maker, dsb. Jadi, menghukum, memarahi, mencap negatif mereka sungguh  tidak produktif. Jauh lebih produktif jika kita membantu mereka untuk menemukan solusi.

Untuk anak usia >5 tahun yang sudah harus belajar bersosialisasi lebih kompleks, bila mereka bertengkar dengan teman, misalnya, jangan lantas kita sebagai orangtua ikut campur tanpa diminta anak. Bahkan seringkali antarorangtua jadi bertengkar karena anak mereka. Hal ini justru akan memperkeruh keadaan. Posisikan diri sebagai konsultan bukan penyelesai masalah apalagi bila tidak diminta anak atau bahkan malah jadi provokator.

Jika kita fokus membantu mereka untuk menemukan solusi, mereka akan terlatih untuk itu. Pada saatnya nanti dengan atau tanpa kita, kita berharap mereka lihai menyelesaikab masalah hidup mereka.

Pilihannya ada pada diri kita, apakah akan mewariskan kepada anak sifat ahli menyelesaikan masalah atau malah sifat emosional, provokatif, atau suka ikut campur?

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (12)

Note with addition,
Si Jenius itu ada di Rumah Kita

@anakjugamanusia Semua anak terlahir dengan keyakinan belajar itu asyik karena bermain, tetapi kita singkirkan keasyikan itu dengan menyuruhnya duduk diam di belakang meja.

Entah ide siapa yang menganggap anak BELAJAR jika duduk tenang menghadap buku, membaca dan menulis. Bahkan banyak keluhan, “anak saya kok lebih suka bermain daripada belajar?” Nah… ini perlu ditanya balik, ” kok bisa yakin bahwa bermain dan belajar itu dua hal yang berbeda?”

Justru, saat anak sedang bermain ia banyak belajar. Misal nih, anak bermain mobil-mobilan. Ada yang membongkarnya karena penasaran, ada yang merawat mobil dengan baik, ada yang bingung saat mobil masuk kolong meja dan berusaha mengambilnya, ada yang berusaha memasang kembali roda lepas, ada yang belajar berelasi dengan teman karena berebut mainan. Coba lihat, bukankah itu belajar yang seru? Tidak monoton membaca menulis menghafal seperti di sekolah? Kadang anak sampai tidak tahu hubungan buku yang ia baca dengan kehidupan di dunia nyata. Belum lagi sekolah adalah tipikal yang menyamaratakan gaya belajar anak. Jangan-jangan sebenarnya kita yang menghilangkan kreativitas anak, bukan anaknya yang tidak kreatif??

Kalau ditanya, “apa yang diharapkan dari anak?” Sudah pasti jawabannya hal hebat seperti, menjadi anak berbakti, anak sholeh, sukses, pintar, rajin, dsb. Namun banyak pula yang sangsi apa bisa ya anakku?

Dengan kemampuan otak yang sejatinya luar biasa seperti telah dibahas sebelumnya, maka sebenarnya anak-anak itu tanpa terkecuali punya bakat hebat. Tinggal kita lah yang mencetaknya. Mereka semua berpeluang untuk sukses!

“Ya… tapi… nilai anakku saja sering merah, gimana bisa sukses,”
“Anakku itu kelebihannya banyak. Kelebihannya adalah kekurangan segala-galanya.”

Alamak… masih saja ada yang pesimis terhadap masa depan anaknya. Definisi jenius adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengenali kemampuan diri dan membawa dirinya atau mendorong dirinya untuk mencapai batas tertinggi dari kemampuannya tersebut.

Ya, mereka sadar akan kemampuan yang dimiliki dan berusaha mendorong dirinya untuk jadi yang terhebat di bidangnya. Contoh:
-Stevie wonder menjadi pennyanyi, komposer hebat meski dia buta
-Agatha Christie menjadi penulis sukses meski dia mengalami learning disability
-Bill gates pendiri microsoft pernah mengalami disleksia
-dll

Hidup ini terlalu singkat jika hanya fokus pada kekurangan. Ayolah kita cari minimal satu saja bakat anak dan bantu untuk mengasahnya, membuatnya tajam dan keluar instingnya. Ingat pula bahwa bakat tak melulu di bidang akademik.

Banyak sekali orangtua yang menjalankan peran dengan penuh ambisi. Anak harus ini itu, harus jadi begini begitu, wajib les ini itu. Halooo…. ini hidup anak apa hidup kita? Ehm, demi kebaikan anak? Anda yakin? Coba kita renungkan bersama. Kita hanya cukup menyediakan diri dan hati membantu anak untuk menemukan apa yang mereka sukai untuk dijalani dengan potensi yang mereka miliki.

Lets try to change our mindset!

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (11)

Note with addition,
KEMAMPUAN OTAK MANUSIA

@anakjugamanusia Banyak orangtua yang berpikir jika nilai bagus itu pintar dan jika buruk itu bodoh. Bagaimana bisa mengukur kecerdasan anak yang merupakan ciptaan Tuhan dengan cara yang begitu sempit?

Otak manusia memiliki 3 kemampuan dasar:
1. Kemampuan berpikir/nalar
2. Kemampuan kreatif
3. Kemampuan menghafal

Di dunia pendidikan, kemampuan ketiga yang sering dipakai. Rata- rata anak-anak harus hafal materi yang diajarkan sedangkan rata-rata pada lupa pas sudah dewasa. Padahal dalam dunia kerja kelak yang dibutuhkan adalah kemampuan 1 dan 2.

Sulit sekali mengubah sistem yang sudah seperti ini. Namun kita bisa memulainya dalam keluarga. Beri ruang bagi anak untuk berpikir dan kreatif. Hargai setiap pendapat anak, hargai idenya. Beri apresiasi pada karya anak, apapun itu. Sikap sering meremehkan anak akan membuat kemampuan tersebut tumpul. Misal: anak berkreasi menggambar dan yakin jelek banget tuh gambar kemudian ditunjukkan ke kita. Jangan lantas menertawainya atau mengejek, “ih apaan tuh jelek amat.” Tapi beri respon yang membangun seperti, “wah, kakak sudah berusaha sangat baik yaa menggambarnyaa… terus belajar yaa biar tambah bagus lagi hasilnyaa…”

Beri kesempatan anak untuk mencoba berbagai hal. Jangan halangi dengan rasa kuatir orangtua yang berlebihan sehingga sering dilarang (seperti pembahasan sebelumnya ya..). Saat anak melakukan kesalahan dalan uji cobanya jangan marah. Bukankah salah dalam mencoba itu hal biasa? Bila yang ia coba kategorinya aman maka biarkan ia bereksplorasi agar kemampuan kreatifnya terasah.

Semakin terasah kemampuan berpikir dan kreatif anak maka semakin anak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang kelak ia hadapi.

Previous Older Entries