Resume Buku: Spiritual Journey Cak Nun

Penulisan buku ini diawali dengan berkirimnya surat penulis kepada Cak Nun dan dibalas 7 tahun kemudian dengan jawaban atau ajakan menulis buku. Betapa ada kohesi antara keinginan manusia dan dukungan semesta itu.

Dahulu, nusantara terkait erat dengan peradaban koneksitas. Dan karena kita memiliki hubungan yang paling dekat koneksitasnya dengan pembentuk dunia ini, maka Indonesia dijadikan fokus sasaran untuk dihancurkan. Orang jawa melakukan semedi untuk memperlambat waktu agar bisa mendekati kecepatan cahaya (teori relativitas dibalik) sehingga menjadi sangat sensitif terhadap gejala-gejala yang terjadi di alam sekitarnya. Belum lagi jika orang tersebut bisa menyelam ke dasar hatinya hingga sumeleh (ridha) sehingga mata hatinya lebih tajam lagi maka sangat mungkin dia sanggup merasakan sesuatu yang jauh dari dirinya atau bahkan isyarat dari sesuatu yang belum terjadi. Hal ini semacam slow speed (SS) dalam teknik fotografi. Lantas, jangan kaget pula bila ada orang yang bisa “memerintahkan” sesuatu untuk datang sendiri semisal gelas teh atau kelapa yang menundukkan dahannya atau bahkan bisa melesat begitu cepat atau bahkan lagi seakan bisa berada di dua tempat dalam satu rentang waktu.

Hal ini identik dengan teori keterikatan kuantum dalam mekanika kuantum yang salah satu aplikasinya adalah teleportasi. Namun, ilmu kita sangat terbatas dan hanya mampu membuktikan perpindahan atom. Kemungkinan ada dark energy (satu satunya yang belum dibuktikan.

Organisasi Islam di Indonesia Vs Maiyah (maiyatullah, bersama Allah). Organisasi bersifat mengikat sedangkan maiyah tidak ada ikatan namun terasa terikat tanpa paksaan. Kenapa? Mungkin adanya indikasi penyakit “lubang di hati”. Maka, bisa dibilang maiyah adalah gerakan penyegaran, menjadikan tasawuf sebagai cara pandang dan menerjemahkan gagasan-gagasan yang rumit menjadi aplikatif dalam kehidupan. Maiyah juga merupakan kombinasi dari mistisme Islam, fundamentalisme dan politik yang berakar pada pengajian bulanan. Bershalawat adalah bagian utamanya. Lari ke jalan sunyi adalah tujuannya. “saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada diantara hamba dengan Tuhannya. Setiap hamba memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya tanpa dicampuri, digurui, atau diganggu oleh siapapun. Saya wajib menghindari kemasyhuran dan menolak kedekatan dengan siapapun yang membuat orang lebih memperhatikan saya lebih dari kadar perhatian dan kedekatannya kepada Tuhan dan Nabi.” ujar Cak Nun. Bahkan Cak Nun juga menyampaikan bahwa beliau lebih memilih menjadi bagian dari 72 golongan yang sesat dibanding satu golongan yang bersama Rasulullah. “Sebab, dengan demikian saya selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk selalu belajar, untuk selalu bertobat dan jauh dari perasaan bangga sebagai orang yang paling benar apalagi bertakwa.”

Maiyah identik dengan malamatiyah. Dimana para pelakunya menyembunyikan hal yang patut dipuji, berhenti melihat diri sendiri, tidak melakukan yang disenangi, meski bergaul bebas dengan masyarakat namun sejatinya hanya bergaul dengan Allah semata. Dengan kata lain. Semua hal total dirohanikan (dipusatkan pada batin).

Manusia dari abad ke abad cenderung mengalami degradasi. Lihat saja jaman sebelum Nabi Musa, tidak ada yang dibekali firman tertulis dari Allah. Perangkat yang ditanam dalam diri manusia i.e AKAL, KALBU, SYAHWAT masih sangat terkontrol. Bisa dikatakan jaman sekarang daya tahan manusia terhadap informasi langit itu sangat pendek.

PERADABAN, sesungguhnya merupakan replikasi dari Allah itu sendiri. Adab, artinya sopan santun. Adabba artinya memperbaiki dan meluruskan.

Dahulu, nusantara jaya terlebih dengan masih diyakininya peradabab koneksitas (teknologi internal), namun sejak orang Eropa datang peradaban pun merosot tajam. Dunia modern menganggap peradaban koneksitas adalah mitos, magic, tidak masuk akal, dan sesat (pemikiran Newton dan Descartes). Namun anehnya, orang Eropa sekarang mulai mempelajari peradaban “kuno” kita. Menerapkannya dalam meditasi yoga. Karena belakangan ini, memasuki abad ke 20, nekanuka kuantum telah menghajar Newton.

Maka, sejatinya peradaban yang sedang diusahakan sekarang adalah PERADABAN ROHANI/SPIRITUALITAS.

Darimana kita dapat belajar banyak dan memetik hikmah? Dari ALAM. Karena alam telah mengalamu segalanya sejak terbentuk hingga hari ini. Alam akan menyeleksi makhluk hidup yang layak bertahan dan berkembang biak. Menilik perkembangbiakan, maka model reproduksi aseksual sejatinya sesuai dengan konsep pendidikan cabang eksak (matematika, fisika, kimia) dimana harus saklek. Sedangkan model produksi (perkembangbiakan seksual, dengan pasangan) sangat cocok untuk kajian sosial seperti ilmu politik, sosiologi, dan sejenisnya. Model ini menghasilkan cara berpikir yang kritis dan analitik serta hasilnya senang ber ijtihad.

Pendidikan di Indonesia ini sepenuhnya menggunakan model reproduksi. Harus sama. Biner. Aseksual. Maka, tidak heran jika anak Indonesia langganan juara olimpiade ilmu eksak. Namun, sulit sekali menemukan anak yang memiliki daya kritis dan analitis kuat. Sebut saja, bangsa fotokopi. Pun mendirikan bangsa se format undang undangnya kita mengkopi barat. Sedangkan negara yang ideal syaratnya hanya satu sebenarnya, LABA UNTUK RAKYAT.

Jika ingin belajar tauhid dari ayat kauniyah atau non literer maka pelajarilah ilmu biologi, fisika, kimia dengan matematika sebagai ilmu alatnya. Bila kita sudah pelajari, terbuka kemungkinan bagi kita untuk melihat batas antara perilaku alam yang bisa mandiri mengelola dirinya sendiri atau sebenarnya ada programmer yang membangun sistem operasi berjalannya alam semesta ini.   

Hal penting lainnya, yang pastinya berurusan penting dengan peradaban adalah soal parenting. Menurut Sabrang (Noe Letto) jika kita sudah tidak bisa berharap pada sistem pendidikan, maka kita bisa berangkat dari subyek pendidikan yaitu anak didik. Ada dua karakter umum berkaitan dengan pendidikan.

  1. Anak pembelajar. Cirinya, sangat menikmati proses belajar apapun itu. Biasanya anak seperti ini individual sehingga jika dimasukkan ke dalam sekolah formal tidak akan menemukan dirinya. Sebab, sekolah formal cenderung menggeneralisasi. Cara mendidiknya adalah dengan memfasilitasi, mewacana buka mentarget, jangan sampai dia tidak menemukan apa yang dicari, serta mengajak anak mengalami peristiwa sendiri.

  2. Anak bukan pembelajar. Cirinya, nongkrong, main ikut-ikutan teman, dan sebagainya. Anak seperti ini butuh didisiplinkan di sekolah formal.

Jika di masa ini secara umum yang diyakini masyarakat bahwa anak harus sekolah, setiap orangtua harus berhati-hati. Sebab, jika terletak pada posisi yang tidak tepat, maka sekolah malah menjadi ancaman.

Kewajiban orangtua sejatinya hanya ngetutke. Selalulah bertanya, sek sek sakjane sopo to anakku iki? Dipersiapkan sebagai apa oleh Allah? Daripada menarget sebaiknya kita ajak selalu untuk berdiskusi, kejar terus sampai menemukan argumen dasarnya. Giringlah anak agar dia tahu sebenarnya dia sedang mencari DIRINYA SENDIRI. Keputusan ada di pihak anak, kita dilarang memberi vonis benar atau salah.

Shalawat adalah semacam cara untuk mengungkapkan cinta yang dalam kepada Rasulullah. Shalawat adalah kunci utama segitiga cinta antara manusia, Rasulullah dan Allah.

Dalam pemikiran maiyah, Indonesia membutuhkan intervensi Allah dalam batas dan metode tertentu karena masyarakat kita sudah cenderung bermental korup, iri dan dengki yang massal. Kerusakan di Indonesia sudah sangat sempurna. Tinggal menunggu tindakan Allah saja. Maka, shalawat adalah salah satu pendekatan untuk memohon kepada Allah agar ikut melakukan intervensi untuk mengatasi kerusakan moral dengan cara lembut. Jangan sampai seperti terhadap kaum Nabi Nuh.

Untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia harus ada titik-titik dari berbagai dimensi yang bergerak secara simultan dalam semangat yang sama. But how come? Need miracle?

Saat manusia sudah bertauhid, maka makhluk apapun tidak akan mudah membuatnya “berselingkuh”. Baik berupa musik, kenduri, batu, pohon, mall, jabatan, karier bahkan surga sekalipun tak akan mampu memalingkan pandangan manusia yang sudah bertauhid. Pun organisasi keagaamaan. Tempatkan sebagai aktivitas belaka.

Surat An Nuur ayat 35. Mengapa kita belum bisa melihat cahaya Allah? Yaa karena versi kita belum memenuhi syarat untuk bisa melihat. Kesimpulannya, intisari agama adalah KOMUNIKASI yang tidak terputus, berkelanjutan, dan tidak berkesudahan antara hamba dengan Allah. Entah komunikasi itu dilakukan dengan mekanisme tauhid, cinta, syahadah, syariah, atau akhlak. Itu sebabnya Al Quran menyatakan bahwa FITRAH itu sebuah software yang diinstall dalam diri untuk menangkap cahaya Allah sehingga dia memiliki ketertarikan kepada Allah yang bisa menjadi pedoman hidup. Komunikasi dengan Allah merupakan KODRAT.

Allah memiliki tanda tanda yang bisa dilihat di alam semesta dan juga dalam diri manusia. Ialah HAKIKAT manusia sebagai pusat kontrolnya.

Komunikasi dengan Allah bukan berarti terus menerus beribadah tetapi kembali ke bumi seperti mi’roj Rosulullah, yaitu untuk memajukan PERADABAN. Kehidupan sosial yang lebih baik antarsesama manusia.

Allah juga menganugerahkan kesaksian kepada orang yang ma’rifat. Caranya, Allah akan memperjalankan hamba Nya yang kompatibel dengan cahaya Allah (1 frekuensi) untuk mempersaksikan Allah di dalam dirinya. Manusia tidak akan tahu momen dimana itu terjadi tapi akibatnya yang akan dirasa. Ibarat kita adalah lilin dan Allah adalah matahari. Cahaya lilin akan terserap oleh kuatnya cahaya matahari. Sebenarnya Allahlah yang menarik manusia kepada Nya. Bukan kita yang memiliki kekuatan mencapai Nya. Ibadah yang kita lakukan tidak mampu mengantarkan kita, hanya saja seolah menggelar karpet saja manatahu dengan begitu Allah berkenan menganugerahkan kesaksian. Jika manusia sudah sampai pada level itu surga dan neraka bukan hal penting. Sebab yang paling penting adalah ridho Allah. Karena jika Allah sudah ridho, api pun dingin saja. Seperti nabi Ibrahim ketika dibakar Namrud. Jadi apalah arti neraka?

Cahaya itu adalah cahaya ma’rifat yang dapat menerangi jalannya mengantarkan pada kebahagiaan abadi sehingga dapat menyaksikan dengan mata kepala apa yang gaib dalam kehidupan di dunia ini.

Orang Islam tujuan hidupnya merohanikan. Karena rohani lebih dekat dengan cahaya Allah. Sementara kapitalis tujuannya menunpuk kekayaan alias menjasmanikan. Hal itu dekat dengan memberhalakan. Jadi, rohanikan semua yang kamu miliki pun dirimu sendiri. Karena sesuai dengan keunikan cahaya , satu satunya cara agar tidak musnah adalah dengan masuk ke Cahayanya Allah.

Dunia sekarang sedang dikuasai sistem perekonomian neoliberalisme yang menurut pendirinya sendiri bukan sistem yang bagus. Semua diukur oleh pasar dan bahkan pemerintah kehilangan taringnya. Ustadz dan ceramah agamapun jadi komoditas. Sehingga manusia tidak lagi menemukan Tuhan dan Tuhan tak lagi menemukan manusia. Walau bagaimanapun watak tasawuf tidak bisa terpisahkan dari Islam Nusantara.

Sistem ini sejatinya adalah pengingkaran atas negara, atas perjuangan pahlawan bangsa. Tidak ada cara lain selain mencintai Indonesia. Siapapun tak akan sanggup memimpin Indonesia keluar dari kehancuran kecuali Allah turun tangan melakukan intervensi. Kita hanya bisa menemani.

Mukmin berarti orang yang memberikan rasa aman kepada semua manusia terhadap harta, darah, dan kehormatannya.

Muslim adalah orang yang menjamin bahwa sesama muslim dan semua manusia akan selamat dari tangan dan lidahnya.

Kafir berasal dari kata kafaro yang artinya menutup. Maksudnya ia menutup hatinya atas kebenaran Allah. Makna pertama, kafir dari nikmat Allah, kedua menutup diri dari nasihat orang lain karena merasa benar sendiri, paling pintar, selalu lebih baik dari orang lain. Tak peduli berapa kali haji tapi jika ada perasaan sedikit saja merasa paling benar sudah berpeluang kafir. Ketiga, kafir dari segi politik yaitu secara formal tidak masuk Islam. Malangnya, contoh ketiga inilah yang populer. Manusia dinilai bukan dari output tapi input.

Di dunia ada 2 tipe kepemimpinan. Melayani seperti ibu kepada anaknya dan dilayani seperti raja dan gila hormat. Tinggal kita mau pilih yang mana.

Anatomi doa. Doa itu tidak boleh egois. Berdoalah bagi semua orang dan menyisipkan untuk kita. Bukan sebaliknya. Rasulullah tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Fokus utama doa Rasulullah selalu umatnya. Jika berhadapan dengan Allah, maka beliau membawa kita. Dan bila bersama umat, Rasulullah membawa Allah. Jadi, Allah telah menjadi tuan rumah bagi kalbu Rasulullah. Berdoa saja… yaa Allah anugerahi hamba dengan apa yang hamba harapkan (Quraish Shihab).

Amanah kesehatan. Kunci menjaga kesehatan adalah niteni sekecil apapun gejala di tubuhmu. Manusia itu dibiasakan bergantung kepada hal diluar dirinya. Padahal, manusia dalam batas tertentu memiliki kemampuan internal untuk mencegah atau menangkal penyakit. Sekali lagi, niteni. Karena kematian pun tiada rumusnya. Ada yang ditakdirkan karena kecelakaan, diizinkan karena sakit bahkan dibiarkan karena bunuh diri.

Wiridlah… biarkan ia dan shalawat bekerja menurut caranya dan jangan pernah pikirkan.

Dan jika lailatul qadr datang, bentuknya terserah Allah. Hati yang kompatibel dengan malam tersebut adalah hati yang tulus, ikhlas, rendah jati, selalu berada dalam kesadaran bersama Allah. Hati demikian hendaknya didukung oleh perangkat berupa shalat malam, mengkaji Al Quran, dan ibadah lain sehingga bisa menangkap gelombang hidayah yang tak pernah putus dipancarkan Allah. Kemudian idul fitri adalah puncak pencapaian dari esensi manusia.

Reformasi gagal karena tidak ada pemikiran komunal untuk berubah.

Shohibu baytii: puncak jalan sunyi

Allah menganugerahi manusia dengan 3 software dasar, yaitu akal, syahwat, kalbu. Syahwat merupakan generator pembangkit daya hidup manusia yang kapasitas produksinya tak terbatas. Unsur syahwat adalah egosentris, keakuan. Syahwat memiliki 3 sifat yaitu menyerap, menguasai, dan melampiaskan. Pengendali syahwat adalah kalbu atau hati. Namun hati sejujurnya juga ada keinginan memenuhi syahwat. Maka, adalah akal sebagai manajer. Sebut saja manajemen syahwat bukan manajemen kalbu. Doa kalbu robbi ya robbi. La tardzan ni fardzan wa anta khoirul warizin ( ya Allah ya Robbi. Jangan biarkan aku sendiri. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik baiknya pewaris). Iman adalah infrastruktur untuk mengundang teman yang akan menemani perjalanan sunyi kalbu. Iman itu ibarat singgasana kalbu. Siapakah yang duduk disana? ALLAH

Advertisements

Naluri Bergerak

_“Eh, adik sudah bisa berdiri sendiri!” seru seorang nenek dengan wajah bangga dan bahagia_

_“Lho iya to Bu, adik kan sudah waktunya imunisasi campak,” jelas sang ibu yang menyiratkan bahwa usia si adik sudah 9 bulan._

Dialog tersebut adalah sepotong iklan layanan masyarakat jaman dulu. Mengena sekali nampaknya, karena sampai sekarang aku pun masih mengingat detail adegan dan dialognya. Oke, poinnya adalah, bahwa bayi akan tumbuh dan berkembang. 

Seketika dilahirkan, bayi hanya bisa menangis. Lambat laun ia bisa menggerakkan jari jemarinya, menendangkan kaki dan mengejangkan tangan. Bulan berlalu ia bisa memiringkan badan kemudian tengkurap. Bulan berikutnya ia bisa berguling. Di usia ke enam bayi mulai berusaha maju ke depan dengan cara merangkak. Selanjutnya ia belajar duduk lantas berdiri dan akhirnya berjalan. Belum berhenti sampai di situ. Seiring kekuatan kakinya bertambah maka ia akan bisa berlari, melompat, dan terus melakukan percepatan gerak. 

Bergerak adalah naluri alami tiap makhluk hidup. Terlebih manusia yang notabene memiliki akal dan nafsu. Bergerak pada orang dewasa tak lagi diasumsikan pergerakan badan saja. Lebih dari itu, ialah bergerak untuk mencapai “posisi” yang lebih dan lebih baik lagi. Tak ada manusia yang ingin diam di tempat. Dengan kata lain, tiada manusia yang ingin hidupnya stagnan. Semua memiliki dinamika pergerakan masing-masing. Meski maju mundur, meski pasang surut, meski naik turun, naluri tetap satu tujuan. _To be better_. 

Lantas, posisi bagaimana yang diinginkan oleh tiap individu? Apakah melulu berkaitan dengan jabatan atau pangkat hebat? Apakah berkaitan dengan strata sosial tinggi? Apakah berkaitan dengan harta melimpah? Kesemuanya adalah parameter duniawi. Bukan munafik jika semua manusia memiliki orientasi kesana. 

Akan tetapi, ketika kita menilik jauh ke dalam lubuk hati, kita akan menemukan tempat bersemayamnya iman. Apa yang dikatakan hati? Posisi apa yang ia ingini? Ya, tentu saja. Posisi terdekat dengan Illahi Robbi. Agar Robb yang Maha Pemberi “bersedia” bertahta di singgasana iman hati. Bagaimana caranya? Sesuai naluri manusia untuk bergerak dan bergerak, maka HIJRAH adalah jawabnya.   

Jakarta, 07 Oktober 2017

Ayuseite

Majelis Dzikir Az Zikra

“Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Semenjak tahu bahwa masjid Az Zikra berada dekat toll exit sentul selatan rasanya ingin hadir di majelis dzikir asuhan ust. Arifin Ilham disana. Namun belum tahu jadwal pastinya setiap Ahad apa. Akhirnya mencari di laman Facebook ketemu fanpage resmi Masjid Az Zikra. Setelah follow tidak lantas ada update jadwal. Merujuk ke websitenya juga tidak ada informasi. 

Dulu sekali, saat aku masih kuliah pernah ikut majelis ini di Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Bahkan dua hari mengikuti acaranya. Dzikir akbar dan sholat Subuh berjamaah di hari berikutnya. Waktu dzikir aku berangkat sendiri sedang waktu Subuh berangkat jam tiga pagi menaiki Shogi bersama adikku. Subhanallah jamaah banyak sekali dan pastinya berkostum putih. Dari situ aku selalu berharap untuk bisa hadir kembali di majelis dzikir beliau karena berasa di charge energi positif baru dan memang lah berada di sebuah majelis itu sangat menenangkan.

Barulah terpampang jadwal di awal Januari 2017 (yang keluar di dinding Facebookku) bahwa dzikir bulanan untuk bulan ini pada tanggal 8 Januari 2017 pukul 07.00-09.30 WIB. Aku baru menyampaikan niat ke suami tiga hari sebelum acara. Bismillah… saat itu berdoa semoga diberi kekuatan dan kemudahan untuk menghadiri majelis tersebut karena kondisiku sedang labil. Sering drop dan rasa mau pingsan terus setelah masuk usia kehamilan 28 minggu. Mabok kedua sepertinya.

Ahad pagi, berangkat dari rumah pukul 05.15 WIB. Awalnya mau berangkat sebelum Subuh tapi bawa anak balita yang masih tidur pastilah repot. Maka lebih aman lepas Subuh saja.
Perjalanan lancar bahkan saking lancarnya sampai mobil selalu dipacu kencang dan kelewatan toll exit menuju masjid. Karena jalan masih sepi maka tidak ada pilihan lain selain menepi di sebelah kiri dan jalan mundur sekira 500 meter lebih. Hmm… Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.50 WIB.
Alhamdulillah bisa keluar menuju jalan lingkar luar dan langsung mengarah ke masjid Az Zikra. Tidak begitu lama kami sudah sampai dan sudah dapat ditebak parkir full hingga harus parkir di jalanan pemukiman muslim yang mengitari masjid. Aku bersama anakku turun duluan di gerbang belakang, lantas mencari toilet karena si anak bangun tidur dan minta buang air kecil. Tak mungkin bisa bersama dengan bapaknya karena masih harus parkir jauh sekali. Bismillah.. semoga dikuatkan karena belum sarapan, tadi di mobil hanya sempat makan kurma 3 butir serta minum air putih saja, tenaga belum full. Sampai di toilet antrean cukup panjang. Rupanya hasrat buang hajat datang bebarengan. Alhamdulillah dimudahkan. Merayu anak untuk mau dilap dan ganti baju butuh perjuangan juga. Di tengah kerumunan dia merengek dan aku harus harus harus tetap tenang meski badan gemetaran mulai drop. Ada seorang ibu yang menepukku dan bilang, “Sabar Ibu…,” setelah itu aku merasa bertenaga lagi dan Aya pun jadi kooperatif. Masya Allah..

Selesai proses di toilet dan ambil wudhu aku mencoba menghubungi suami karena anak maunya sama bapak. Tapi sambungan ponsel tidak terangkat terus. Kuputuskan naik ke atas meski banyak jamaah putri turun ke bawah dengan alasan di atas penuh. Mereka pun memenuhi tangga, halaman luar, ruang serba guna dan teras-teras. Sesampainya di ruang utama untuk jamaah putri memang penuh sekali. Aku hanya berdoa dalam hati semoga mendapat sedikit kelapangan tempat untukku dan Aya. Bismillah.. Bismillah.. Bismillah… begitu terus yang aku gumamkan. Pandanganku tiba-tiba tertuju ke pilar tengah belakang. Ada satu ruang untuk satu orang. Di sebelah seorang nenek. Aku mohon ijin duduk disitu, diperbolehkan. Alhamdulillah.
Sang nenek berusia di ambang 70 tahun itu datang dari Bogor diantar anaknya sejak pukul 01.00 dini hari tadi. Dan ketika beliau sampai jamaah sudah setengah penuh. Masya Allah.

Acara dimulai pukul 07.00 WIB dan aku belum sempat makan juga karena harus menangani anak yang mulai merajuk untuk mencari bapak. Dialihkan ke menggambar dan makan marshmallow serta susu kotak lumayan bisa ceria lagi. Diawali dengan membaca Al Fatihah serta surat Yaa Siin dan senandung Al Quran bersama kemudian lanjut pengumuman, iklan madu hitam dan air doa Dzikro serta ceramah singkat Bapak Anies Baswedan sampai pukul 08.30 WIB. Barulah ustadz Arifin Ilham ber tausiyah. Itupun diselingi dengan edar tas untuk sedekah.

Selesai tausiyah, dzikir sambung doa pun dimulai. Lantunan Subhanallah walhamdulillah wa laa illa ha ilallah wallahu akbar khas ust. Arifin menggema dan menggetarkan hati. Dilanjut membaca bersama Al Fatihah, surat 3 Qul, ayat kursi, istighfar kemudian perenungan serta doa oleh ust. Arifin termasuk doa Nabi Adam yang berbunyi “Rabbana dzollamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosiriin” (dulu waktu kontrak di Wonosobo, lantunan doa ini selalu terdengar setelah adzan Subuh di Musholla dekat rumah, tidak menghafal jadinya hafal karena tiap hari dengar). Oh ya sebelum semuanya, kami menjadi saksi masuk Islam nya 2 orang. Kami pun turut bersyahadat dan penuh haru memekikkan Allahu Akbar. Ust. Arifin juga mengajak kami menyebut asma Allah di setiap hembusan nafas. Allah.. Allah… dan hanya Allah. Karena begitulah cara kita mengingat Nya dan melupakan dunia fana. Coba saja… seberapa lama kita bisa ingat mempertahankan pelafalan itu maka sedekat itulah kita dengan Allah. Maka lakukan lagi setiap ingat (penulis juga sedang melatih diri… dan… itu susah…!! ternyata kecintaan pada dunia masih melebihi cinta pada Allah… Astaghfirullah…). Oleh karena itu, kami diajak untuk selalu ber istighfar. Kesalahan atau dosa kita tiada yang tahu pasti selain Allah dan kedua malaikat pencatat. Maka, mohon ampun sesering mungkin lebih utama daripada merasa selalu benar. Astaghfirullah… mana tahu ucapan ataupun tulisan kita juga sedikit banyak menyakiti orang lain. Astaghfirullah… mana tahu kehadiran kita di masyarakat menjadi pembawa mudharat bukan manfaat. Dan sebagainya hal-hal yang kita tidak tahu apalagi yang kita tahu alias sengaja.

—Astaghfirullahalladzii laa illa ha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaik—

Doa kemudia terlantun untuk hajat sendiri, untuk keluarga, untuk saudara-saudara yang tertimpa bencana baik di dalam pun luar negeri, dan pastinya untuk Indonesia khususnya ummat Muslim agar bisa bersatu dalam artian seluruh aliran ahlus sunnah wal jamaah yang sekarang ini terpecah menjadi beberapa organisasi dan kelompok-kelompok bisa bersatu padu mempertahankan keutuhan NKRI. Aksi 212 tempo lalu menjadi bukti bahwa sebenarnya ummat Islam di Indonesia ini kompak. Biidznillah.

Dzikir dan doa selama 1,5 jam tak terasa telah usai. Aku bersyukur bahwa aku baik-baik saja meski hanya makan 3 butir kurma dan beberapa suap nasi (akhirnya) saat tas sedekah beredar. Nikmat yang luar biasa. Begitupun dengan anakku yang anteng mendengarkan. Bahkan di rumah ia mulai melantunkan dzikir ala ust.Arifin meski belum bisa sempurna dan tak tahu artinya. Kelak, jadilah pribadi berdzikir, nak. Kamu mungkin bertanya kenapa ummi menangis tadi? Tetapi besok besok kamu juga akan merasainya. Menangis ingat dosa, menangis mengharap ridho Nya, menangis karena ingin selalu dekat dengan Nya.

Pada akhirnya aku mencium tangan nenek dengan 4 anak sukes di sebelahku, beliau mendoakan semoga persalinanku lancar dan mengingatkanku agar tidak lupa untuk selalu beristighfar.

Lautan manusia merangsek turun mengantri untuk menuruni tangga. Aku memilih menunggu sedikit sepi. Membayangkan beginikah suasana di tanah suci? Bahkan mungkin tak pernah ada surutnya. Subhanallah. Dan dari pengalamanku hari ini aku yakin betul bahwa saat beribadah di tanah suci kurma dan air zam zam lebih dari cukup memberi energi pada diri yang hendak beribadah sepenuh hati.

Semoga Allah selalu merahmati majelis ini dan semoga besok-besok bisa hadir kembali di taman surga macam begini. Betapa penuh aura positif, betapa nyaman dan tenangnya hati. Yaa Rabb.. terimakasih atas kesempatan yang Engkau beri berikut kemudahan yang menyertai. Alhamdulillah…

PhotoGrid_1483918900908.jpg

Bismillah semoga kita bisa menjadi seperti tertulis di bawah ini…

2017-01-10 09.31.42.png

Sebuah Filosofi Terima Kasih

PhotoGrid_1477637225603.jpg

*Tulisan ini terinspirasi dari petikan tausiyah alm. Ust. Uje*

Pernahkah kita diberi? Pasti pernah. Pernah pulakah kita memberi? Insya Allah lebih pernah lagi yaa daripada diberi. Aamiin. Karena memberi dan diberi bukanlah hal janggal. Meski begitu memberi tentulah lebih utama daripada diberi. Lantas adab apa yang berkaitan dengan hal tersebut?

Saat kita diberi sesuatu oleh orang lain kita pasti refleks mengucap terima kasih, Alhamdulillah. Tapi kenapa kata terima kasih bukan sebuah akad saja “saya terima”?

Sesungguhnya ada beberapa pelajaran di sana, pesan lebih tepatnya. Yang pertama, ingat betul bahwa sejatinya Allah lah yang memberi. Maka ucapan syukur yang pertama dan utama adalah untuk Nya. Manusia hanyalah perantara pembagi. Sesuai hadits berikut:

Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a, dia berkata dalam khutbahnya, bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka diberi Nya orang itu pengetahuan yang dalam dan luas mengenai agama. Sesungguhnya aku ini hanya membagi-bagi, sedangkan yang memberi ialah Allah s.w.t. (HR Muslim).

Yang kedua, bila kita diberi maka kita akan terima “sesuatu” dan dari “sesuatu” itu ada pula rezeki yang dititipkan pada kita untuk dikasih (diberikan) pada orang lain. Ingat ya, orang lain. Bukan melulu kita harus balas pemberian yang memberi. Bisa jadi kepada makhluk lain atau bahkan kepada yang tidak kita kenal sekalipun. Intinya, tiap kita menerima pemberian kita juga mendapat kewajiban mengasih (eh.. memberi) sesuatu ke yang lain. Ya, sedekah, sekalipun hanya seulas senyum manis tanpa gula atau perkataan baik nan menenangkan hati. Maka, dengan begitu hidup akan seimbang. Saya pun berharap semoga tulisan-tulisan ini bernilai sedekah pula, sedekah kata. Aamiin.

Lantas, bolehkah kita menolak pemberian? Tidak, sekali-kali tidak boleh. Demi menghargai dan menyenangkan hati orang yang memberi, terimalah sekecil apapun pemberian walau nantinya kita berikan lagi pada yang lain. Namun di sisi lain kita juga dilarang keras meminta. Contohnya, meminta oleh-oleh (#ehhh…).

Dari Salim bin Abdullah r.a dari bapaknya, katanya: Rasulullah pernah memberikan (bagian zakat) kepada Umar bin Khattab r.a, lalu ditolak oleh Umar. Katanya: Yaa Rasulullah! Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan daripadaku. Sabda Rasulullah s.a.w: Ambillah dan pergunakanlah untuk keperluanmu, atau sedekahkan! Apabila engkau diberi orang suatu pemberian tanpa engkau idam-idamkan dan tanpa meminta, terimalah pemberian itu. Tetapi ingat, sekali-kali jangan meminta. Kata Salim: Oleh karena itu Ibnu Umar (ayah Salim) tidak pernah meminta apa saja kepada seseorang, dan tidak pernah pula menolak apa yang diberikan orang kepadanya. (Hadits Muslim).

Demikianlah, sinergi memberi dan menerima dalam filosofi sederhananya. Terima kasih.

Renungan Ramadhan #5

“Ga puasa kok lebaran?” 

Itulah sentilan dari penceramah ba’da Isya pasca taraweh di Musholla Al Mukhlisin semalam. Memang sebuah pemandangan lazim dimana pada sepuluh hari akhir Ramadhan banyak yang berlomba lomba berbelanja untuk berhias atau bepergian untuk “merayakan” hari kemenangan. Mulai dari berjubelnya pasar, pindahnya jamaah taraweh ke Mall maka tak salah ada yang menuliskan zakat Mall bukan zakat Maal yang mereka lakoni itu, dan dimulainya arus mudik.

Pada saat mudik di kampung herannya yang tidak berpuasa Ramadhan ini paling heboh mematut diri, paling merasa menang, dan paling merasa oke. Ini lebaran apa hura-hura sih? Ah yaa mereka berlebaran bukan ber hari raya Iedul Fitri.

Sebaliknya, para pencari malam Lailatul Qadar demi sempurnanya rangkaian ibadah di bulan Ramadhan semakin giat ke Musholla/Masjid, sekadar sholat seperti biasa atau menyempatkan itikaf. Berlomba memberikan zakat maal dan infak. Bersedekah tanpa pamer dan tentunya tanpa dalih amlop’an THR. Semakin menyepi dan berkhalwat dengan Nya, dengan Al Quran. Sedih.. sangat sedih ketika Ramadhan akan berlalu. Cepat sekali. Apakah diri sudah kembali fitri? Itu saja yang menyesakkan sanubari… merasa iman belum jua cukup tinggi dan terus merangsek merayu Nya agar dibukakan hijab guna melihat Nya. Bila Ia tak bergeming cukup saja ridho dari Nya atas diri yang hina. Cukup. Lelehan tangisan mengiring kepergian Ramadhan. Rasa syukur tak berkesudahan dalam sujud 2 rakaat sholat ied karena hatinya “dimenangkan” oleh Allah. Menang karena kembali suci, menang karena mendapat anugerah tertinggi. RidhoNya. Serta dibukanya pintu surga Ar Rayyan.

Indah yang mana? Bermegahan fisik di hari raya idul fitri atau malah menjadi pribadi yang lebih sederhana lagi dimana kemegahan ada dalam hati? Menjadi pribadi yang tidak menghidupkan Ramadhan tapi sok lebaran atau menghidupkan Ramadhan dan betul-betul layak berlebaran?

Silakan memilih jalan kita.. semoga ilustrasi yang kedua adalah kita. Dan bila ada yang nyaris masuk ke ilustrasi pertama masih ada waktu beberapa hari ke depan untuk mengetuk pintu maaf Nya. Aamiin Yaa Rabb… 20160625_110745.jpg

Renungan Ramadhan #4

Margasatwa tak berbunyi,

Gunung menahan nafasnya

Angin pun berhenti 

Pohon-pohon tunduk 

Dalam gelap malam 

Pada bulan suci

Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan 

Ketika cahaya surga menerangi bumi

Ketika cahaya surga menyinari bumi 

Inilah malam seribu bulan 

Ketika Tuhan menyeka airmata kita

Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Mendengar lagu gubahan Bimbo itu membuat hati bergetar haru.

Bayangkan saja seluruh penghuni alam TERDIAM padahal mereka tak punya dosa. Dengan takzimnya menjadi saksi kemegahan malam itu. Satu malam yang setara dengan 1000 bulan. Satu malam yang menggemparkan.

PhotoGrid_1466691770560

Telah jelas pula tercantum di surat Al Qadr yang artinya kemuliaan. Malam itu Al Quran diturunkan ke bumi, malaikat-malaikat menyertai. Bahkan sorot cahaya surga menerangi. Indahnya. Masya Allah. Tak ayal bila malam itu dilimpahi kesejahteraan hingga pagi menjelang. Maka, hidupkanlah malam itu dengan khusyuk ibadah shala Isya, Taraweh, dan Subuh tanpa tertinggal.

Lalu, bagaimana ciri-ciri malam itu? 

Menurut hadits, demikian gambarannya:

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi)

Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. (HR. Muslim no. 762)

Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Kapankah malam itu tepatnya? 

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.(HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no. 2017)

Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa. (HR. Bukhari)

Apa yang kita lakukan bila menjumpai malam itu? 

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi)

Akhirnya, doa ini dibaca setiap selesai 4 rakaat taraweh.

Bisa disimpulkan bahwa malam lailatul qadar hanya bisa diketahui setelah malam itu berlalu, namun yang mendapat berkah keutamaan malam itulah yang merasakannya.

Tidak ada trik khusus bagaimana cara mendapatkannya, hanya banyak-banyaklah beribadah di 10 malam terakhirnya. Apakah harus itikaf? Tidak, bahkan yang sedang tidur, haid, musafir juga bisa menemukan keutamaan malam itu asal hatinya tak berhenti mengingati Nya.

Nah, nanti sudah malam ke 20… Mulai besok malam mari bergerilya ibadah demi mendapat berkah. Bismillah…

 

Renungan Ramadhan #3

Intro

Bahasan ini mungkin agak sedikit terlalu berat dan serius. Karena jujur saja aku sedang belajar. Belajar mendalami agama dari perspektif yang berbeda dari pelajaran di sekolah. Bila aku kelewat menggurui, maafkan. Sebenarnya apa yang kutulis adalah hal yang kurekam dalam ingatan dari sekian sumber yang beragam. Jadi, inti dari tulisan ini lebih untuk mengingatkanku bukan menggurui pembaca sekalian. Semoga kita semua sepaham, jangan sampai salah paham. Bismillah…

Agama

♡Berasal dari bahasa Sanskerta, a = tidak; gama = kacau, artinya tidak kacau; atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu.

♡Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) agama artinya ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

♡Ad din, adalah asal kata agama, artinya menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Agama ialah buah atau hasil kepercayaan dalam hati, yaitu ibadah yang terbit lantaran telah ada tekad lebih dahulu, menurut dan patuh karena iman. Maka, bertambah kuat iman bertambah teguh lah agama. Apakah iman itu? Iman artinya percaya, dalam hati, lisan dan perbuatan. Tidak pula disebut iman jika lepas salah satunya. Sabda Nabi Muhammad SAW:

“Iman itu lebih dari 60 ranting, yang paling tinggi ialah kalimat Laa ilaha ilallah dan yang paling rendah ialah membuangkan duri dari tengah jalan” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

♡Pepatah Arab mengatakan, “Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga binasalah hayat. Karena orang yang terhormat itu, kehormatannya itulah yang melarangnya berbuat jahat!”

Jadi, jelas disini bahwa agama itu ibarat persendian yang menggerakkan badan. Tapi tanpa pengaruh (akal budi) agama itu tiada arti. Camkan ini.

♡Agama juga adalah merupakan produk budaya manusia. Karena produk budaya maka agama di dunia ini pastinya sangat beragam. Terlepas dari agama apa yang paling betul. Karena jelas bahwa tiap-tiap pemeluk agama menganggap agamanya yang paling benar. Kebetulan agamaku Islam maka yang akan kutulis disini ya berkenaan dengan Islam. Jelas, aku akan  menyatakan agamaku paling benar. Namun, bukan berarti semua muslim itu benar. Penilaian benar atau salah tidak bisa dinisbatkan hanya dengan masalah agama yang dianut. Itu mutlak hak Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Sang Maha Pembolak balik hati. Tidak perlu saling merasa benar, yang benar itu saling menghormati. Bukankah jelas dinyatakan dalam Al Quran, lakum diinukum waliyadin? Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Biar pengadilan Allah yang berlaku. Saling syiar agama boleh saja asal tidak memaksa. Begitu saja ya? Enak kan? Pasti damai deh Indonesia… Merdeka!!!!

Dahulu, pemeluk Islam sedikit namun yang beriman banyak. Sekarang, pemeluk Islam banyak namun yang sungguh beriman sedikit. Maka dari itu dalam Al Quran pun seringkali kita temui “yaa ayyuhalladzi naamanu (hai orang orang yang beriman)” bukan menyeru muslimin sekalian. Sedangkan orang beriman pastilah memegang teguh agama dan yang mengaku beragama belum tentu beriman. Hal ini sesuai juga dengan salah satu tanda kiamat. Bahwa beriman menjadi hal ihwal yang sangat berat. Keterangan berikut diambil dari web http://www.fadhilza.com :

Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu sore dia sudah menjadi kafir, atau (Syak Perawi Hadits) seseorang yang masih beriman di waktu sore, kemudian pada keesokan harinya dia sudah menjadi kafir. Dia telah menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia “ (HR. Muslim).

Hadits di atas menerangkan kepada kita betapa dahsyat dan hebatnya ujian terhadap iman seseorang di akhir zaman. Seseorang yang beriman di waktu pagi, tiba-tiba dia menjadi kafir di waktu sore. Begitu pula dengan seseorang yang masih beriman di waktu sore. Tiba-tiba besok paginya telah menjadi kafir. Begitu cepat perubahan yang berlaku. Iman yang begitu mahal boleh gugur di dalam godaan satu malam atau satu hari saja, sehingga banyak orang yang menggadaikan imannya karena hanya hendak mendapatkan sedikit harta benda dunia. Audzubillah.

Dari Anas Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di antara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi).

Yang dimaksudkan di sini ialah zaman yang sangat menggugat iman sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan ajaran agamanya dia pasti menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat hebat. Kalau dia tidak bersungguh-sungguh, pasti agamanya akan terlepas dari genggamannya. Ini disebabkan keadaan sekelilingnya tidak mendorong untuk menunaikan kewajiban agamanya, bahkan apa yang ada di sekelilingnya mendorong untuk berbuat kemaksiatan yang dapat meruntuhkan aqidah dan keimanan atau paling kurang menyebabkan kefasikan.

Maka syahadat harus selalu didengungkan, shalat ditegakkan, puasa dilakukan, zakat ditunaikan, haji diselenggarakan. Agar tegak selalu diinul Islam.

Nah, akhir jaman. Lagi-lagi kubahas ini. Dimana dunia lebih utama dari agama. MasyaAllah. Semoga aku dan kalian semua yang membaca terhindar dari jaman yang betul-betul akhir (tenang.. ga perlu bilang aamiin biar masuk surga. Surga dan neraka itu urusan Allah bukan urusan Amin ya…hehe). Kalaupun iya kita sampai ke se akhir akhirnya jaman semoga iman tetap bertahta indah di hati sampai roh ditarik kembali.

Yaa muqollib qulub tsabbit qolbi ala diinik. Wahai Maha Pembolak Balik Hati, teguhkanlah hati ini atas agamaMu.

Semoga Allah ridho pada kita, sang penghuni akhir jaman.

 

Previous Older Entries