Majelis Dzikir Az Zikra

“Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Semenjak tahu bahwa masjid Az Zikra berada dekat toll exit sentul selatan rasanya ingin hadir di majelis dzikir asuhan ust. Arifin Ilham disana. Namun belum tahu jadwal pastinya setiap Ahad apa. Akhirnya mencari di laman Facebook ketemu fanpage resmi Masjid Az Zikra. Setelah follow tidak lantas ada update jadwal. Merujuk ke websitenya juga tidak ada informasi. 

Dulu sekali, saat aku masih kuliah pernah ikut majelis ini di Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Bahkan dua hari mengikuti acaranya. Dzikir akbar dan sholat Subuh berjamaah di hari berikutnya. Waktu dzikir aku berangkat sendiri sedang waktu Subuh berangkat jam tiga pagi menaiki Shogi bersama adikku. Subhanallah jamaah banyak sekali dan pastinya berkostum putih. Dari situ aku selalu berharap untuk bisa hadir kembali di majelis dzikir beliau karena berasa di charge energi positif baru dan memang lah berada di sebuah majelis itu sangat menenangkan.

Barulah terpampang jadwal di awal Januari 2017 (yang keluar di dinding Facebookku) bahwa dzikir bulanan untuk bulan ini pada tanggal 8 Januari 2017 pukul 07.00-09.30 WIB. Aku baru menyampaikan niat ke suami tiga hari sebelum acara. Bismillah… saat itu berdoa semoga diberi kekuatan dan kemudahan untuk menghadiri majelis tersebut karena kondisiku sedang labil. Sering drop dan rasa mau pingsan terus setelah masuk usia kehamilan 28 minggu. Mabok kedua sepertinya.

Ahad pagi, berangkat dari rumah pukul 05.15 WIB. Awalnya mau berangkat sebelum Subuh tapi bawa anak balita yang masih tidur pastilah repot. Maka lebih aman lepas Subuh saja.
Perjalanan lancar bahkan saking lancarnya sampai mobil selalu dipacu kencang dan kelewatan toll exit menuju masjid. Karena jalan masih sepi maka tidak ada pilihan lain selain menepi di sebelah kiri dan jalan mundur sekira 500 meter lebih. Hmm… Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.50 WIB.
Alhamdulillah bisa keluar menuju jalan lingkar luar dan langsung mengarah ke masjid Az Zikra. Tidak begitu lama kami sudah sampai dan sudah dapat ditebak parkir full hingga harus parkir di jalanan pemukiman muslim yang mengitari masjid. Aku bersama anakku turun duluan di gerbang belakang, lantas mencari toilet karena si anak bangun tidur dan minta buang air kecil. Tak mungkin bisa bersama dengan bapaknya karena masih harus parkir jauh sekali. Bismillah.. semoga dikuatkan karena belum sarapan, tadi di mobil hanya sempat makan kurma 3 butir serta minum air putih saja, tenaga belum full. Sampai di toilet antrean cukup panjang. Rupanya hasrat buang hajat datang bebarengan. Alhamdulillah dimudahkan. Merayu anak untuk mau dilap dan ganti baju butuh perjuangan juga. Di tengah kerumunan dia merengek dan aku harus harus harus tetap tenang meski badan gemetaran mulai drop. Ada seorang ibu yang menepukku dan bilang, “Sabar Ibu…,” setelah itu aku merasa bertenaga lagi dan Aya pun jadi kooperatif. Masya Allah..

Selesai proses di toilet dan ambil wudhu aku mencoba menghubungi suami karena anak maunya sama bapak. Tapi sambungan ponsel tidak terangkat terus. Kuputuskan naik ke atas meski banyak jamaah putri turun ke bawah dengan alasan di atas penuh. Mereka pun memenuhi tangga, halaman luar, ruang serba guna dan teras-teras. Sesampainya di ruang utama untuk jamaah putri memang penuh sekali. Aku hanya berdoa dalam hati semoga mendapat sedikit kelapangan tempat untukku dan Aya. Bismillah.. Bismillah.. Bismillah… begitu terus yang aku gumamkan. Pandanganku tiba-tiba tertuju ke pilar tengah belakang. Ada satu ruang untuk satu orang. Di sebelah seorang nenek. Aku mohon ijin duduk disitu, diperbolehkan. Alhamdulillah.
Sang nenek berusia di ambang 70 tahun itu datang dari Bogor diantar anaknya sejak pukul 01.00 dini hari tadi. Dan ketika beliau sampai jamaah sudah setengah penuh. Masya Allah.

Acara dimulai pukul 07.00 WIB dan aku belum sempat makan juga karena harus menangani anak yang mulai merajuk untuk mencari bapak. Dialihkan ke menggambar dan makan marshmallow serta susu kotak lumayan bisa ceria lagi. Diawali dengan membaca Al Fatihah serta surat Yaa Siin dan senandung Al Quran bersama kemudian lanjut pengumuman, iklan madu hitam dan air doa Dzikro serta ceramah singkat Bapak Anies Baswedan sampai pukul 08.30 WIB. Barulah ustadz Arifin Ilham ber tausiyah. Itupun diselingi dengan edar tas untuk sedekah.

Selesai tausiyah, dzikir sambung doa pun dimulai. Lantunan Subhanallah walhamdulillah wa laa illa ha ilallah wallahu akbar khas ust. Arifin menggema dan menggetarkan hati. Dilanjut membaca bersama Al Fatihah, surat 3 Qul, ayat kursi, istighfar kemudian perenungan serta doa oleh ust. Arifin termasuk doa Nabi Adam yang berbunyi “Rabbana dzollamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosiriin” (dulu waktu kontrak di Wonosobo, lantunan doa ini selalu terdengar setelah adzan Subuh di Musholla dekat rumah, tidak menghafal jadinya hafal karena tiap hari dengar). Oh ya sebelum semuanya, kami menjadi saksi masuk Islam nya 2 orang. Kami pun turut bersyahadat dan penuh haru memekikkan Allahu Akbar. Ust. Arifin juga mengajak kami menyebut asma Allah di setiap hembusan nafas. Allah.. Allah… dan hanya Allah. Karena begitulah cara kita mengingat Nya dan melupakan dunia fana. Coba saja… seberapa lama kita bisa ingat mempertahankan pelafalan itu maka sedekat itulah kita dengan Allah. Maka lakukan lagi setiap ingat (penulis juga sedang melatih diri… dan… itu susah…!! ternyata kecintaan pada dunia masih melebihi cinta pada Allah… Astaghfirullah…). Oleh karena itu, kami diajak untuk selalu ber istighfar. Kesalahan atau dosa kita tiada yang tahu pasti selain Allah dan kedua malaikat pencatat. Maka, mohon ampun sesering mungkin lebih utama daripada merasa selalu benar. Astaghfirullah… mana tahu ucapan ataupun tulisan kita juga sedikit banyak menyakiti orang lain. Astaghfirullah… mana tahu kehadiran kita di masyarakat menjadi pembawa mudharat bukan manfaat. Dan sebagainya hal-hal yang kita tidak tahu apalagi yang kita tahu alias sengaja.

—Astaghfirullahalladzii laa illa ha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaik—

Doa kemudia terlantun untuk hajat sendiri, untuk keluarga, untuk saudara-saudara yang tertimpa bencana baik di dalam pun luar negeri, dan pastinya untuk Indonesia khususnya ummat Muslim agar bisa bersatu dalam artian seluruh aliran ahlus sunnah wal jamaah yang sekarang ini terpecah menjadi beberapa organisasi dan kelompok-kelompok bisa bersatu padu mempertahankan keutuhan NKRI. Aksi 212 tempo lalu menjadi bukti bahwa sebenarnya ummat Islam di Indonesia ini kompak. Biidznillah.

Dzikir dan doa selama 1,5 jam tak terasa telah usai. Aku bersyukur bahwa aku baik-baik saja meski hanya makan 3 butir kurma dan beberapa suap nasi (akhirnya) saat tas sedekah beredar. Nikmat yang luar biasa. Begitupun dengan anakku yang anteng mendengarkan. Bahkan di rumah ia mulai melantunkan dzikir ala ust.Arifin meski belum bisa sempurna dan tak tahu artinya. Kelak, jadilah pribadi berdzikir, nak. Kamu mungkin bertanya kenapa ummi menangis tadi? Tetapi besok besok kamu juga akan merasainya. Menangis ingat dosa, menangis mengharap ridho Nya, menangis karena ingin selalu dekat dengan Nya.

Pada akhirnya aku mencium tangan nenek dengan 4 anak sukes di sebelahku, beliau mendoakan semoga persalinanku lancar dan mengingatkanku agar tidak lupa untuk selalu beristighfar.

Lautan manusia merangsek turun mengantri untuk menuruni tangga. Aku memilih menunggu sedikit sepi. Membayangkan beginikah suasana di tanah suci? Bahkan mungkin tak pernah ada surutnya. Subhanallah. Dan dari pengalamanku hari ini aku yakin betul bahwa saat beribadah di tanah suci kurma dan air zam zam lebih dari cukup memberi energi pada diri yang hendak beribadah sepenuh hati.

Semoga Allah selalu merahmati majelis ini dan semoga besok-besok bisa hadir kembali di taman surga macam begini. Betapa penuh aura positif, betapa nyaman dan tenangnya hati. Yaa Rabb.. terimakasih atas kesempatan yang Engkau beri berikut kemudahan yang menyertai. Alhamdulillah…

PhotoGrid_1483918900908.jpg

Bismillah semoga kita bisa menjadi seperti tertulis di bawah ini…

2017-01-10 09.31.42.png

Sebuah Filosofi Terima Kasih

PhotoGrid_1477637225603.jpg

*Tulisan ini terinspirasi dari petikan tausiyah alm. Ust. Uje*

Pernahkah kita diberi? Pasti pernah. Pernah pulakah kita memberi? Insya Allah lebih pernah lagi yaa daripada diberi. Aamiin. Karena memberi dan diberi bukanlah hal janggal. Meski begitu memberi tentulah lebih utama daripada diberi. Lantas adab apa yang berkaitan dengan hal tersebut?

Saat kita diberi sesuatu oleh orang lain kita pasti refleks mengucap terima kasih, Alhamdulillah. Tapi kenapa kata terima kasih bukan sebuah akad saja “saya terima”?

Sesungguhnya ada beberapa pelajaran di sana, pesan lebih tepatnya. Yang pertama, ingat betul bahwa sejatinya Allah lah yang memberi. Maka ucapan syukur yang pertama dan utama adalah untuk Nya. Manusia hanyalah perantara pembagi. Sesuai hadits berikut:

Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a, dia berkata dalam khutbahnya, bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka diberi Nya orang itu pengetahuan yang dalam dan luas mengenai agama. Sesungguhnya aku ini hanya membagi-bagi, sedangkan yang memberi ialah Allah s.w.t. (HR Muslim).

Yang kedua, bila kita diberi maka kita akan terima “sesuatu” dan dari “sesuatu” itu ada pula rezeki yang dititipkan pada kita untuk dikasih (diberikan) pada orang lain. Ingat ya, orang lain. Bukan melulu kita harus balas pemberian yang memberi. Bisa jadi kepada makhluk lain atau bahkan kepada yang tidak kita kenal sekalipun. Intinya, tiap kita menerima pemberian kita juga mendapat kewajiban mengasih (eh.. memberi) sesuatu ke yang lain. Ya, sedekah, sekalipun hanya seulas senyum manis tanpa gula atau perkataan baik nan menenangkan hati. Maka, dengan begitu hidup akan seimbang. Saya pun berharap semoga tulisan-tulisan ini bernilai sedekah pula, sedekah kata. Aamiin.

Lantas, bolehkah kita menolak pemberian? Tidak, sekali-kali tidak boleh. Demi menghargai dan menyenangkan hati orang yang memberi, terimalah sekecil apapun pemberian walau nantinya kita berikan lagi pada yang lain. Namun di sisi lain kita juga dilarang keras meminta. Contohnya, meminta oleh-oleh (#ehhh…).

Dari Salim bin Abdullah r.a dari bapaknya, katanya: Rasulullah pernah memberikan (bagian zakat) kepada Umar bin Khattab r.a, lalu ditolak oleh Umar. Katanya: Yaa Rasulullah! Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan daripadaku. Sabda Rasulullah s.a.w: Ambillah dan pergunakanlah untuk keperluanmu, atau sedekahkan! Apabila engkau diberi orang suatu pemberian tanpa engkau idam-idamkan dan tanpa meminta, terimalah pemberian itu. Tetapi ingat, sekali-kali jangan meminta. Kata Salim: Oleh karena itu Ibnu Umar (ayah Salim) tidak pernah meminta apa saja kepada seseorang, dan tidak pernah pula menolak apa yang diberikan orang kepadanya. (Hadits Muslim).

Demikianlah, sinergi memberi dan menerima dalam filosofi sederhananya. Terima kasih.

Renungan Ramadhan #5

“Ga puasa kok lebaran?” 

Itulah sentilan dari penceramah ba’da Isya pasca taraweh di Musholla Al Mukhlisin semalam. Memang sebuah pemandangan lazim dimana pada sepuluh hari akhir Ramadhan banyak yang berlomba lomba berbelanja untuk berhias atau bepergian untuk “merayakan” hari kemenangan. Mulai dari berjubelnya pasar, pindahnya jamaah taraweh ke Mall maka tak salah ada yang menuliskan zakat Mall bukan zakat Maal yang mereka lakoni itu, dan dimulainya arus mudik.

Pada saat mudik di kampung herannya yang tidak berpuasa Ramadhan ini paling heboh mematut diri, paling merasa menang, dan paling merasa oke. Ini lebaran apa hura-hura sih? Ah yaa mereka berlebaran bukan ber hari raya Iedul Fitri.

Sebaliknya, para pencari malam Lailatul Qadar demi sempurnanya rangkaian ibadah di bulan Ramadhan semakin giat ke Musholla/Masjid, sekadar sholat seperti biasa atau menyempatkan itikaf. Berlomba memberikan zakat maal dan infak. Bersedekah tanpa pamer dan tentunya tanpa dalih amlop’an THR. Semakin menyepi dan berkhalwat dengan Nya, dengan Al Quran. Sedih.. sangat sedih ketika Ramadhan akan berlalu. Cepat sekali. Apakah diri sudah kembali fitri? Itu saja yang menyesakkan sanubari… merasa iman belum jua cukup tinggi dan terus merangsek merayu Nya agar dibukakan hijab guna melihat Nya. Bila Ia tak bergeming cukup saja ridho dari Nya atas diri yang hina. Cukup. Lelehan tangisan mengiring kepergian Ramadhan. Rasa syukur tak berkesudahan dalam sujud 2 rakaat sholat ied karena hatinya “dimenangkan” oleh Allah. Menang karena kembali suci, menang karena mendapat anugerah tertinggi. RidhoNya. Serta dibukanya pintu surga Ar Rayyan.

Indah yang mana? Bermegahan fisik di hari raya idul fitri atau malah menjadi pribadi yang lebih sederhana lagi dimana kemegahan ada dalam hati? Menjadi pribadi yang tidak menghidupkan Ramadhan tapi sok lebaran atau menghidupkan Ramadhan dan betul-betul layak berlebaran?

Silakan memilih jalan kita.. semoga ilustrasi yang kedua adalah kita. Dan bila ada yang nyaris masuk ke ilustrasi pertama masih ada waktu beberapa hari ke depan untuk mengetuk pintu maaf Nya. Aamiin Yaa Rabb… 20160625_110745.jpg

Renungan Ramadhan #4

Margasatwa tak berbunyi,

Gunung menahan nafasnya

Angin pun berhenti 

Pohon-pohon tunduk 

Dalam gelap malam 

Pada bulan suci

Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan 

Ketika cahaya surga menerangi bumi

Ketika cahaya surga menyinari bumi 

Inilah malam seribu bulan 

Ketika Tuhan menyeka airmata kita

Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Mendengar lagu gubahan Bimbo itu membuat hati bergetar haru.

Bayangkan saja seluruh penghuni alam TERDIAM padahal mereka tak punya dosa. Dengan takzimnya menjadi saksi kemegahan malam itu. Satu malam yang setara dengan 1000 bulan. Satu malam yang menggemparkan.

PhotoGrid_1466691770560

Telah jelas pula tercantum di surat Al Qadr yang artinya kemuliaan. Malam itu Al Quran diturunkan ke bumi, malaikat-malaikat menyertai. Bahkan sorot cahaya surga menerangi. Indahnya. Masya Allah. Tak ayal bila malam itu dilimpahi kesejahteraan hingga pagi menjelang. Maka, hidupkanlah malam itu dengan khusyuk ibadah shala Isya, Taraweh, dan Subuh tanpa tertinggal.

Lalu, bagaimana ciri-ciri malam itu? 

Menurut hadits, demikian gambarannya:

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi)

Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. (HR. Muslim no. 762)

Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Kapankah malam itu tepatnya? 

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.(HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no. 2017)

Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa. (HR. Bukhari)

Apa yang kita lakukan bila menjumpai malam itu? 

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi)

Akhirnya, doa ini dibaca setiap selesai 4 rakaat taraweh.

Bisa disimpulkan bahwa malam lailatul qadar hanya bisa diketahui setelah malam itu berlalu, namun yang mendapat berkah keutamaan malam itulah yang merasakannya.

Tidak ada trik khusus bagaimana cara mendapatkannya, hanya banyak-banyaklah beribadah di 10 malam terakhirnya. Apakah harus itikaf? Tidak, bahkan yang sedang tidur, haid, musafir juga bisa menemukan keutamaan malam itu asal hatinya tak berhenti mengingati Nya.

Nah, nanti sudah malam ke 20… Mulai besok malam mari bergerilya ibadah demi mendapat berkah. Bismillah…

 

Renungan Ramadhan #3

Intro

Bahasan ini mungkin agak sedikit terlalu berat dan serius. Karena jujur saja aku sedang belajar. Belajar mendalami agama dari perspektif yang berbeda dari pelajaran di sekolah. Bila aku kelewat menggurui, maafkan. Sebenarnya apa yang kutulis adalah hal yang kurekam dalam ingatan dari sekian sumber yang beragam. Jadi, inti dari tulisan ini lebih untuk mengingatkanku bukan menggurui pembaca sekalian. Semoga kita semua sepaham, jangan sampai salah paham. Bismillah…

Agama

♡Berasal dari bahasa Sanskerta, a = tidak; gama = kacau, artinya tidak kacau; atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu.

♡Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) agama artinya ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

♡Ad din, adalah asal kata agama, artinya menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Agama ialah buah atau hasil kepercayaan dalam hati, yaitu ibadah yang terbit lantaran telah ada tekad lebih dahulu, menurut dan patuh karena iman. Maka, bertambah kuat iman bertambah teguh lah agama. Apakah iman itu? Iman artinya percaya, dalam hati, lisan dan perbuatan. Tidak pula disebut iman jika lepas salah satunya. Sabda Nabi Muhammad SAW:

“Iman itu lebih dari 60 ranting, yang paling tinggi ialah kalimat Laa ilaha ilallah dan yang paling rendah ialah membuangkan duri dari tengah jalan” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

♡Pepatah Arab mengatakan, “Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga binasalah hayat. Karena orang yang terhormat itu, kehormatannya itulah yang melarangnya berbuat jahat!”

Jadi, jelas disini bahwa agama itu ibarat persendian yang menggerakkan badan. Tapi tanpa pengaruh (akal budi) agama itu tiada arti. Camkan ini.

♡Agama juga adalah merupakan produk budaya manusia. Karena produk budaya maka agama di dunia ini pastinya sangat beragam. Terlepas dari agama apa yang paling betul. Karena jelas bahwa tiap-tiap pemeluk agama menganggap agamanya yang paling benar. Kebetulan agamaku Islam maka yang akan kutulis disini ya berkenaan dengan Islam. Jelas, aku akan  menyatakan agamaku paling benar. Namun, bukan berarti semua muslim itu benar. Penilaian benar atau salah tidak bisa dinisbatkan hanya dengan masalah agama yang dianut. Itu mutlak hak Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Sang Maha Pembolak balik hati. Tidak perlu saling merasa benar, yang benar itu saling menghormati. Bukankah jelas dinyatakan dalam Al Quran, lakum diinukum waliyadin? Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Biar pengadilan Allah yang berlaku. Saling syiar agama boleh saja asal tidak memaksa. Begitu saja ya? Enak kan? Pasti damai deh Indonesia… Merdeka!!!!

Dahulu, pemeluk Islam sedikit namun yang beriman banyak. Sekarang, pemeluk Islam banyak namun yang sungguh beriman sedikit. Maka dari itu dalam Al Quran pun seringkali kita temui “yaa ayyuhalladzi naamanu (hai orang orang yang beriman)” bukan menyeru muslimin sekalian. Sedangkan orang beriman pastilah memegang teguh agama dan yang mengaku beragama belum tentu beriman. Hal ini sesuai juga dengan salah satu tanda kiamat. Bahwa beriman menjadi hal ihwal yang sangat berat. Keterangan berikut diambil dari web http://www.fadhilza.com :

Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu sore dia sudah menjadi kafir, atau (Syak Perawi Hadits) seseorang yang masih beriman di waktu sore, kemudian pada keesokan harinya dia sudah menjadi kafir. Dia telah menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia “ (HR. Muslim).

Hadits di atas menerangkan kepada kita betapa dahsyat dan hebatnya ujian terhadap iman seseorang di akhir zaman. Seseorang yang beriman di waktu pagi, tiba-tiba dia menjadi kafir di waktu sore. Begitu pula dengan seseorang yang masih beriman di waktu sore. Tiba-tiba besok paginya telah menjadi kafir. Begitu cepat perubahan yang berlaku. Iman yang begitu mahal boleh gugur di dalam godaan satu malam atau satu hari saja, sehingga banyak orang yang menggadaikan imannya karena hanya hendak mendapatkan sedikit harta benda dunia. Audzubillah.

Dari Anas Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di antara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi).

Yang dimaksudkan di sini ialah zaman yang sangat menggugat iman sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan ajaran agamanya dia pasti menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat hebat. Kalau dia tidak bersungguh-sungguh, pasti agamanya akan terlepas dari genggamannya. Ini disebabkan keadaan sekelilingnya tidak mendorong untuk menunaikan kewajiban agamanya, bahkan apa yang ada di sekelilingnya mendorong untuk berbuat kemaksiatan yang dapat meruntuhkan aqidah dan keimanan atau paling kurang menyebabkan kefasikan.

Maka syahadat harus selalu didengungkan, shalat ditegakkan, puasa dilakukan, zakat ditunaikan, haji diselenggarakan. Agar tegak selalu diinul Islam.

Nah, akhir jaman. Lagi-lagi kubahas ini. Dimana dunia lebih utama dari agama. MasyaAllah. Semoga aku dan kalian semua yang membaca terhindar dari jaman yang betul-betul akhir (tenang.. ga perlu bilang aamiin biar masuk surga. Surga dan neraka itu urusan Allah bukan urusan Amin ya…hehe). Kalaupun iya kita sampai ke se akhir akhirnya jaman semoga iman tetap bertahta indah di hati sampai roh ditarik kembali.

Yaa muqollib qulub tsabbit qolbi ala diinik. Wahai Maha Pembolak Balik Hati, teguhkanlah hati ini atas agamaMu.

Semoga Allah ridho pada kita, sang penghuni akhir jaman.

 

Renungan Ramadhan #2

Ramadhan itu bulannya Al Quran. Al Quran pertama kali diembankan kepada Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Terlepas dari perselisihan tanggal pastinya, yang jelas di Indonesia mengikuti salah satu pendapat yang ada. Ramadhan ke 17 disepakati sebagai peringatan Nuzulul Quran.

Nuzulul Quran, merupakan sebuah bukti nyata jika diantara Al Quran dan Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan sehingga banyak hadits sahih menyatakan bahwa Al Quran adalah akhlaknya Nabi Muhammad SAW. Tak heran pula bila Nabi Muhammad SAW disebut Al Quran berjalan.

Ayat-ayat yang pertama kali turun adalah QS Al Alaq 1-5: Iqra’ (bacalah) dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah mencipta. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan engkaulah Maha Mulia. Dia yang mengajarkan dengan qalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu.

Nabi Muhammad SAW yang tidak bisa membaca dan menulis diperintah untuk membaca! Meskipun dia tidak pandai menulis, namun ayat-ayat itu akan dibawa langsung oleh Malaikat Jibril kepadanya, diajarkan, sehingga dia dapat menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu akan dapatlah dia membacanya. Allah yang menciptakan semuanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun sempurna kelak, dia akan diberi nama Al Quran. Dan Al Quran itu pun artinya ialah bacaan.

Keistimewaan Allah selanjutnya sebagai kemuliaan Nya yang tertinggi termaktub di ayat ke 4, yaitu diajarkan Nya kepada manusia berbagai ilmu, dibuka Nya berbagai rahasia, diserahkan Nya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah, yaitu dengan qalam. Dengan pena! Di samping lidah untuk membaca, Allah pun menakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat. Pena itu beku dan kaku, tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena adalah berbagai hal yang dapat difahamkan oleh manusia (Hamka, Tafsir Al Azhar).

Setelah mengetahui ayat pertama yang turun, memahami maknanya bahwa kita harus selalu membaca agar mengerti ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Nya, membaca Al Quran sebagai ayat tersurat dan membaca bumi seisinya sebagai ayat tersirat (QS Ali Imran 190-195 — sudah pernah kutulis terpisah), kini saatnya kita mengenal sekilas nama-nama lain Al Quran.

1. Al kitab (buku)

2. Adz Dzikr (pemberi peringatan)

3. Al Furqan (pembeda)

4. At Tanzil (yang diturunkan)

5. 50 nama lainnya: Al Mubîn (Yang Menjelaskan; QS. Ad Dukhan: 2), Al Karîm (Yang Mulia; QS. Al Waqi’ah: 77), Al Kalâm (Perkataan; QS. At Taubah: 6), An Nûr (Cahaya; QS. An Nisa’: 174), Al Hudâ (Petunjuk; QS. Yunus: 57), Ar Rahmah (Kasih Sayang; QS. QS. Yunus: 57), Asy Syifâ’ (Obat; QS. Al Isro’: 82), Al Mau’idhah (Nasehat; QS. Yunus: 57), Al Mubârak (Yang Diberkahi; QS. Al Anbiya’: 50), Al Aliy (Yang Tinggi; QS. Az Zukhruf: 4), Al Hikmah (Himah; QS. Al Qomar: 5), Al Hakîm (Hakim; QS. Yunus: 2), Al Muhaimin (QS. Al Maidah: 48), Al Habl (Ikatan; QS. Ali Imron: 103), Ash Shirâth Mustaqîm (Jalan Yang Lurus; QS. Al An’am: 153), Al Qayyim (Bimbingan yang Lurus; QS. Al Kahfi: 3), Al Qaul (Perkataan; QS. At Thoriq: 13), Al Fashl (Yang Merinci; QS. At Thoriq: 13), An Naba’ al Adhîm (Berita Yang Besar; QS. An Naba’: 2), Ahsanal Hadîts (Perkataan Terbaik; QS. Az Zumar: 23), Al Matsany (Yang Diulang-ulang; QS. Az Zumar: 23), Al Mutasyâbih (Yang Sreupa; QS. Az Zumar: 23), Ar Ruh (Ruh; QS. Asy Syuro: 52), Al Wahyu (Wahyu; QS. Al Anbiya’: 45), Al Araby (Yang Berbahasa Arab; QS. Yusuf: 2), Al Bashâ’ir (Bukti; QS. Al A’rof: 203), Al Bayân (Penjelasan; QS. Ali Imron: 138), Al Ilmu (Ilmu; QS. Al Baqoroh: 145), Al Haq (Kebenaran; QS. Ali Imron: 62), Al Hâdi (Petunjuk; QS. Al Isro’: 9), Al ‘Ajab (Yang Menakjubkan; QS. Al Jin: 1), At Tadzkiroh (Peringatan; QS. Al Haqqoh: 48), Al Urwatul Wutsqâ (Ikatan Yang Kuat; QS. Al Baqoroh: 256), Ash Shidq (Kebenaran; QS. Az Zumar: 33), Al Adl (Keadilan; QS. Al An’am: 115), Al Amr (Perintah; QS. At Tholaq: 5), Al Munâdy (Yang Menyeru; QS. Ali Imron: 193), Al Busyrâ (Kabar Gembira; QS. Al Baqoroh: 97)), Al Majid (Yang Mulia; QS. Al Buruj: 21), Az Zabûr (Zabur; QS. Al Anbiya’: 105), Al Basyir (Pemberi Kabar Gembira; QS. Al Fushilat: 4), An Nadzîr (Pemberi Peringatan; QS. Fushilat: 4), Al Azîz (Yang Mulia; QS. Fushilat: 41), Al Balâgh (Penjelasan; QS. Ibrohim: 52), Al Qashash (Kisah-kisah; QS. Yusuf: 3), Ash Shuhûf (Lembaran-lembaran; QS. ‘Abasa: 13), Al Mukarramah (Yang Dimuliakan; QS. ‘Abasa: 13), Al Marfû’ah (Yang Ditinggikan; QS. ‘Abasa: 14), Al Muthahharah (Yang Disucikan; QS. ‘Abasa: 14). (muslimah.or.id)

Dengan memahami ayat-ayat pertama yang turun serta mengetahui nama-nama lain dari Al Quran, kitab suci kita, semoga kita bisa dengan segenap hati memahami, menerapkan isi dari Kalam Allah tersebut. Menjadikannya akhlak kita, mencintai dan menjaganya sebagaimana surat cinta dari kekasih hati. Selalu rindu untuk membaca dan membaca sampai hafal tiap ayatnya. Teringatnya sebagai pengobat hati pelipur lara. Menjadikannya kawan di setiap kesempatan.

Mari kita senandungkan bersama senandung Al Quran yang artinya:

Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab Al Quran ini
Dan jadikanlah Al Quran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam Al Quran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan kurniakanlah daku
selalu sempat membaca Al Quran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah Al Quran ini sebagai hujjah bagiku

Semoga.. yaa.. semoga Allah ridho.

Jakarta, 17 Ramadhan 1437 H

 

 

Renungan Ramadhan #1

Sudah beberapa tempo aku tidak menulis. Tetiba tiada kata yang bisa digurat. Aku tercekat atas sebuah fakta kiamat sudah dekat.

Dimulai dari membaca dan melihat video postingan di Facebook. Salah satu tanda kiamat adalah benyaknya pena (penulis dan buku-buku tak berbobot) bertebaran. Banyak pula dapat dijumpai perniagaan (HR Ahmad). Namun dari sumber lain menyatakan berbeda perawinya:

Dari Umar bin Tsa’lab r.a. berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah tersebarnya (melimpahnya) harta benda dan luasnya perniagaan. Dan pena-pena akan bermunculan yang menunjukkan banyaknya bacaan dan tulisan.” (Riwayat An-Nasa’i). Wallahua’lam bish shawab.

Dalam tulisan ini aku hanya mencoba menggambarkan dua hal itu saja. Lainnya mungkin sudah kelewat nyata terlihat. Dan karena dua hal itu berhubungan dengan aktivitasku tempo belakangan ini.

Banyak pena. Ya, sekarang penulis bukanlah hal yang eksklusif. Menerbitkan buku juga mudah sekali. Dengan self publishing membuat semua orang bisa membuat bukunya sendiri. Terlepas dari terkenal atau tidak, berbobot atau tidak. Pokoknya bisa. Termasuk aku. Aku maju mundur hendak mengirimkan naskah karena itu. Takut saja tulisanku masuk di kategori tak berbobot. Ah, atau aku terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran saja? Yang jelas fakta ini benar-benar membuktikan bahwa jadi penulis itu mudah sekali. Semua bisa menulis kan? Media cetak pun juga semakin mudah ditemukan. Bukan hanya satu nama, beribu nama. Kesemuanya menampilkan berita dalam persepsi masing-masing. Entah mana yang mendekati nyata. Ingat trending topic Bu Saeni? Kira-kira itulah arti banyak pena.

Berniaga alias berdagang bukan lagi perkara punya modal bisa menjual. Tak punya modal juga bisa ikut menawarkan jualan. Yang penting terjual. Lepas dari baik buruk mutu jualan. Telah banyak pedagang tak jujur marak ditemui akhir-akhir ini. Lihat saja, bahkan ada yang tega menjual hal yang tak layak jual. Contoh, kosmetik palsu, obat palsu, ponsel curian, ponsel rekondisi, makanan mengandung plastik atau zat kimia berbahaya lain, dan lain sebagainya. Subhanallah. Oleh karena itu, sebelum menjual sesuatu aku pasti mencoba dulu. Sesuatu yang kujual sudah pasti aku pakai juga. Aman dan baik, tawarkan ke yang lain. Begitu saja. Dan yang paling penting harga cicilan dan cash sama. Kalaupun akan membedakan harga maka korting ke pembeli cash agar tidak jatuh riba. Bukankah begitu baiknya? (Tentang riba insyaAllah akan dibahas di kesempatan lain).

Dengan kenyataan itu aku merenung. Terhanyut dalam perenungan dalam hingga inspirasi dan motivasiku menulis tertinggal jauh. Namun, aku tersadar saat membaca beberapa komentar untuk tulisanku. Mereka yang termotivasi atas apa goresan yang kutoreh. Terimakasih. Semoga tulisan-tulisanku bisa diambil manfaatnya. Bila ada yang salah tolong saja tegur aku. Seperti sebelum-sebelumnya. Kekuatan itu kembali menggerakkan tanganku, mengukir memori di blog pribadiku dan finishing naskah-naskahku.

Aku pun masih vakum mempromosikan barang jualan. Bahkan menghentikan salah satu jenisnya. Bukan apa-apa, ini masih Ramadhan. Aku tidak akan mencederai wall Facebook ku dengan promosi-promosi yang bersifat mencari “dunia”. Aku hanya akan memuat hal-hal yang bisa diambil manfaat untuk “akhirat”. Insya Allah.

Dan lagi, aku sedang berusaha menyandarkan usaha ini pada yang Maha Kaya. Tidak mengejar pembeli tapi mengejar manfaat dari transaksi. Manfaat atas nikmatnya bersyukur yang tak akan bisa terganti oleh rejeki “mak byur”. Sedikit dikasih banyak syukur, kalau langsung banyak dikasih takutnya takabur. Sama ketika ramai pasien saat praktek. Allah pula kan yang mengatur. Apa aku promosi? Dan Allah Maha Tahu. Saat pasien mulai mengenal dan cocok dengan terapiku aku harus berhenti. Mungkin agar aku tak kelewat sok pintar sok dibutuhkan. Selalu begitu. Tapi aku menikmatinya. Menikmati saat rehat untuk bisa makin “mendekat”.

Di penghujung pena, aku hanya berharap dua sisi yang aku khawatirkan di atas bukan menjadi penyebabku masuk dalam golongan yang tak mendapat ridho Nya.

 

Previous Older Entries