Sebuah Refleksi Akhir Bulan

MasyaaAllah…

Qodarullah dipertemukan dengan Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah dipersatukan dengan rekan-rekan yang luar biasa di kelas Matrikulasi Jakarta 1. Disana, ada Fasilitator kami yang suka becanda dan selow, ada ketua kelas kami yang berhati seluas samudera, ada 2 pakar permainan anak, ada pendongeng, ada penjahit yang menjadi designer pribadiku, ada hafizah, ada ustadzah beranak tujuh dan masih ingin nambah satu, ada yang rajin dan teliti menulis catatan, ada yang gokil bersuara emas jago MC dan ternyata dubber iklan, ada yang jago fotografi, ada yang jago design multimedia, ada aktivis blogger, ada yang suka sekali membuat jus banyak-banyak saat kopdar, ada juragan mangga, ada pengusaha garmen, ada istrinya creative TV swasta, ada psikolog yang low profile, ada 2 dosen kebidanan, ada yang jualan buku, dsb yang semua sangat inspiring.

Setiap teringat mereka aku sangat terharu. Komunitas ini benar-benar membuatku menuai manfaat. Saling bertukar informasi tanpa rasa sombong di hati. Saling memberi materi tanpa merendahkan harga diri yang diberi.  Subhanallah.

Dari komunitas ini aku sedikit lebih banyak memahami diriku, memahami tujuan hidupku, dan menemukan hobi lamaku. Baca puisi.

Di sini pun aku belajar bahwa sekedar tulisan singkat dengan timing yang tidak pas bisa membuat tafsir dan persepsi yang berbeda. Bisa membuat hati terluka. Bisa membuat amarah melanda. Subhanallah..

Pembelajaran bagiku agar selalu berhati-hati dalam menulis, dalam merangkai kata terlebih dalam percakapan singkat di WA.

Astaghfirullah…

Yaa Rabb, beginilah cara Mu, menegurku. Aku yang terlampau senang dan bangga dengan komunitasku, oleh mereka pula aku Engkau tegur.

Astaghfirullah…

Sejak rutin menatap HP demi berinteraksi dengan teman-teman baru yang inspiratif membuatku lupa untuk berdzikir.

Sejak rutin menatap layar HP aku lalai untuk bertilawah.

Sejak rutin merespon dengan sigap HP yang berkedip aku lupa untuk sholat di awal waktu.

Astaghfirullah….

Aku lena dengan rasa bangga, lena dengan rasa suka, lena dengan pujian, lena dengan candaan. Aku lena bahwa ada kewajiban yang belum aku tuntaskan.

Maka..

Dengan “rasa” pula aku dihempaskan. Dengan tuduhan tidak berperasaan membuatku terhenyak dan tersadar. Oh Allah, aku melupakanMu.

Dengan lekas aku tinggalkan semua. Dan masyaaAllah kini hatiku lebih tenang. 

Astaghfirullah…

Pada kesempatan terakhir akupun mengenal lebih dekat beberapa teman baru di komunitas yang abai aku dekati sebelumnya. Yang justru lebih ikhlas dan masyaaAllah. Ia kekasihMu yaa Rabb… pantaslah ketika pertama melihatnya, aku melihat pancaran kecerahan di wajahnya. Tidak bosan aku melihatnya, tidak bosan aku membaca lantunan hikmah di blognya. Ia, kekasihMu yaa Allah. Semoga aku bisa masuk ke dalam golongannya. Golongan yang Engkau ridhai. Golongan yang engkau luaskan hati.

Astaghfirullah…

Engkau dan skenario Mu memang tak akan pernah salah.

Kadang, apa yang kita maksudkan belum tentu sama penerimaan.
Kadang, apa yang kita lakukan dianggap melukai perasaan.
Kadang, diam justru mempertajam permasalahan.

Astaghfirullah…

*Ayuseite, menjelang akhir Agustus

Advertisements

Refleksi Tahun Baru 2017

Terompet, kembang api, nyanyian, acara tidak tidur menyambut pergantian tahun rasanya tak pernah sama sekali dalam hidup kulakukan. Ssttt… Tak perlu menunggu malam pergantian tahun, suami pulang saja sering tengah malam, akupun terbangun.

Jelaslah segala bentuk perayaan itu adahal hal yang mubazir dan tiada faedah. Murni hura-hura. Tiup terompet, menembakkan kembang api ke udara malah menimbulkan suara-suara berisik mengganggu tetangga. Iya kalau tetangganya maklum bin berkenan, kalau tidak? Apa tidak menjadi dosa kita? Bahkan ada “lelucon” yang cukup viral bertulis ‘Kalau Malaikat Isrofil ikut meniup terompet kelar hidup loe’. Hemm…

Bagiku momen tahun baru jelas bahagia karena sudah pasti tanggal merah, karena di hari Minggu maka Senin cuti bersama, berarti suami libur ngantor lebih lama. Itu saja. Lumayan lah weekend bisa bersama sehari lebih lama.

Bagiku pula momen itu menjadi perenungan semata. Bila saja dunia ini sudah bertambah usia dan Ia makin uzur. Bila apa yang Nabi Muhammad sabdakan itu benar (kalender Islam tidak sampai 1500 H) adanya maka 62 tahun ke depan paling lambat dunia akan berakhir.
Lantas, apa yang sudah kupersiapkan? Aku masih saja mencintai dunia.
Apa pula yang sudah kulakukan? Aku masih bermalas-malasan dalam hal ibadah dan banyak bersenda gurau saja.
Akankah ridho Allah ada untukku? Apakah suamiku ridho atasku? Semoga ada walau besarnya secuil batu.

Hidup di dunia yang makin kacau balau ini yang kupikirkan adalah anak-anakku. Mereka… akan menghadapi tantantan yang lebih besar dan besar lagi. Utamanya tantangan mempertahankan iman dan Islam. Akankah aku sanggup mendampingi mereka agar kuat imannya? Bahkan lebih kuat dari iman kami orangtuanya? Yaa Illahi Rabbi, sungguh kupasrahkan mereka pada penjagaanMu. Karena kami tak akan bisa menjaga sebaik penjagaan Mu.

Cerita Kontrol Hamil

—31 Desember 2016—

Kontrol rutin minggu ke 28, masih di RS terdekat dan berganti DSOG lagi.
Sebetulnya ini DSOG pertama kali yang kutemui di kontrol pertamaku. Kesan pertama beliau terburu-buru karena akan terbang ke Solo menghadiri seminar. Tapi sikapnya yang tenang dan kebapakan membuat suamiku suka. Namun tidak denganku, saat itu aku tidak sreg.
Bulan berikutnya beliau cuti TKHI jadi aku pindah ke DSOG (K), seorang wanita, dan karena konsultan jadi lebih mahal tarifnya. Baiklah tidak mengulangi. Kemudian mencari informasi DSOG yang banyak pasiennya (khusus yang praktek Sabtu) karena konon kabarnya makin banyak pasien makin bagus. Mencoba berpikir secara awam. Dua kali sengaja mendaftar untuk bertemu beliau. Sabar sih tapi ya itu banyak pasiennya, lama antrinya dan sering berujung di meja operasi.
Suatu ketika ngobrol dengan adik letting yang ditangani DSOG pertama tadi. Katanya beliau bisa mendampingi dengan baik. Dia yang miopi tinggi diminta oleh DSOG lain untuk SC namun tidak dengan yang satu ini. Alhamdulillah anaknya lahir normal dan ia pun tidak bermasalah.
Akhirnya aku mencoba bertemu beliau lagi. Tak disangka pertemuan singkat pertama dulu masih beliau ingat. Bahkan hanya beliau yang aware status “dr” ku. Padahal aku tidak meminta diperlakukan beda ataupun sengaja menyebut status. Semua tertulis di data rekam medisku yang pastinya kalau tidak teliti membaca tidak akan tahu karena informasi pekerjaan aku menuliskan IRT. Aku hanya ingin menjadi pasien biasa, itu saja. Namun nyatanya status itu sangat berarti. Sebelum sebelumnya nyata benar aku diperlakukan secara awam baik oleh bidan pun DSOG. Penjelasannya asal saja sekalipun aku bertanya agak spesifik. Namun tidak dengan DSOG tadi pagi. Beliau menganggapku sebagai juniornya, memanggil nama tanpa “bu” bahkan me recall pelajaran masa lalu, bahkan mereduksi jasa dokter.
Juga… dari kesekian yang kutemui hanya beliau yang bisa menjelaskan dengan memuaskan apa yang terjadi denganku (mungkin karena tahu statusku ya). Aku tidak alergi benang. Bahkan tidak ada istilah alergi benang menurutnya. Dari analisa ketiga operasiku sebelumnya yang selalu bermasalah pada jahitan maka kemungkinan besar kadar glukosa darah ku bermasalah atau higien saat operasi buruk atau vaskularisasi penyembuhan luka buruk. Maka ke depannya beliau akan berusaha menekan kemungkinan-kemungkinan itu. Biidznillah. Ini juga yang kusuka. Beliau menempatkan kuasa Illahi di atas segalanya.
Beliau juga mendukung konsumsi susu kambing karena kemungkinan besar aku atau bayiku alergi laktogen dari riwayat yang ada. Aya pun dulu juga pakai sufor dengan protein terhidrolisis selama aku masih perawatan komplikasi jahitan, sesudahnya baru ASI full sampai 2 tahun namun susu yang kuminum juga bukan susu sapi. Susu kedelai waktu itu, MamaS##a. Aya baru minum susu sapi setelah sapih 2 tahun. Alhamdulillah tidak bermasalah bila tidak lebih dari 500 cc sehari. Bila lebih sudah dipastikan BAB encer.
Beberapa sempat menyarankanku ke RSIA di Jatinegara. Memang sih kredibilitas dan pelayanan pasti bagus. Namun karena jalur macet dan 200 meter dari rumah sudah ada RS besar biarlah kesana saja. Apalagi DSOG terakhir yang menanganiku ini cukup menghargai juniornya. Kenapa kubilang menghargai? Karena pernah beberapa kali dengar cerita DS di kota ini kurang “open” sama DU. Alhamdulullah bertemu yang baik. Semoga baik selalu baik dan berkah ke depannya.

#Counting down 11 weeks…. #

Oud Batavia

Kau tahu betapa bencinya aku dengan ibukota. Seingatku itu bermula sejak kedatangan pertamaku di kota ini dengan serombongan keluarga menghadiri pernikahan di kawasan Halim PK. Saat itu kami termasuk rombongan “elite” karena termasuk keluarga besar Jenderal dan mengendarai mobil dinas. Kemana-mana sudah “prioritas”. Tahun itu, ibukota sudah macet cet cet. Dari kawasan Halim ke Monas saja butuh waktu 1 jam. Betapa hal yang cukup membosankan. Lewat monas terlihat dari satu sisi tulisan Mabesad. Ada getaran aneh yang tidak bisa kudefinisikan. Bahkan saat itu kenal dekat saja belum dengan suamiku sekarang. Aku baru mengerti setelah terbukti bahwa suamiku adalah seorang prajurit AD dan bertugas di tempat yang kulihat itu. Subhanallah.

Aku membenci ibukota bukan hanya karena macetnya… tapi karena lingkungan dan pergaulan di sana. Nampak dari berita di televisi (yang menyesatkan itu — bahkan kini aku lebih memilih hidup tanpa siaran televisi) bahwa ibukota tempatnya preman, teroris, pergaulan bebas dan hal – hal buruk lain. Buruknya lagi, aku sangat terprovokasi dengan berita itu. Jerih sekali mendengar kata ibukota alih alih hidup di sana.

Seketika aku membulatkan tekad hidup di kota metropolis demi suamiku. Bersyukur mendapat rumah di pinggiran, bukan di pusat kota. Sedikit bisa lega walau tidak sepenuhnya demikian. Iba melihat suami yang harus berangkat selepas Subuh dan pulang di ujung pergantian hari. Sama-sama kami tidak bisa istirahat tenang, pun anak kami. Jeda libur 2 hari rasanya harus selalu bersama. Belajar “menerima” ibukota.

Kau tahu aku masih membenci kota ini di minggu pertamaku tinggal. Segala sesuatu dihargai dengan duit. Siapa berduitlah yang bisa eksis, alih alih bisa ngirit. Contoh kecil, puter balik mobil dibantu polisi cepek yang kerennya dipanggil pak Ogah. Dua ribu melayang. Kalau mau akses cepat (tidak menjamin tidak macet) naik jalan tol yang sudah pasti minimal 12.000 sekali jalan. Naik KRL 2.000 sekali jalan. Naik busway 3.500 sekali jalan (saat beli tiket harus beli yang pakai kartu 50.000 pula). Belum lagi tawaran-tawaran belanja murah namun memaksa harus banyak. Kejam. Parkir di mall saja sudah pasti 10.000 melayang. Pantas lah Car*4 memberikan subsidi free parking kalau limit belanja menyentuh angka 500.000. Sungguh kota yang mahal. Belum lagi makanan-makanan beraneka warna, macam dan harga yang super menggiurkan. Berapa rupiah sudah kukeluarkan aku pun lupa. Enggan mengingat. Belum ada satu bulan sudah ada hutang. Belum ada satu tahun sudah memecah tabungan.

Ya, semoga ini hanya bulan awal karena masih awal pindahan. Semoga, ya.

Rangkaian tanya pun mengusik di hati. BAGAIMANA cara hidup hemat, bagaimana menyiasati kosongnya waktu (perlu diketahui sekarang aku menganggur lagi tanpa ada pemasukan lain yang berarti) tanpa keluar duit, KENAPA duit ini amat tiada harganya di kota besar, KAPAN aku bisa menerima takdirku hidup disini, SIAPA saja yang bisa disebut teman yang bisa menemaniku, dimana aku bisa lari menghibur diri…? Sudah macam pertanyaan 5 W+ 1 H.

Well, duit memanglah hanya seonggok kertas tak bernyawa tapi ia telah didewakan sepertinya. Disini jelas sekali tantangan bagiku untuk tidak mendewakan duit tapi tetap bisa melakukan penghematan. Tidak untuk merisaukan masa depan tapi tetap fokus menatapnya. Sampai terbesit untuk “berbisnis”, tapi… selain Vitabumin, Susu Kambing, dan perkap Persit yang biasa kujual di kalangan terbatas dengan untung terbatas pula apalagi yang bisa kami lakukan? Teringat bisnis bebatuan yang gulung tikar, menilik cerita lama pembelian tanah yang berujung sengketa, atau bisnis kebun cabe yang tiada sukses. Karena bisnis adalah jiwa. Maka siapa yang tidak berjiwa bisnis hanya bisa meringis. Berhubung STR baru ku belum jua turun aku tidak bisa praktek dulu. Jadi, bukan bisnis ini yang kami tuju. Sebuah bisnis halal yang bisa menopang ekonomi keluarga kami selain dari gaji suami.

Tidak sampai satu bulan, Allah mulai menjawab satu persatu pertanyaanku. Dimulai dari teman. Takdir mempertemukanku pada teman lama. Kukenal pun tidak seberapa lama di kota perantauan sewaktu magang. Purbalingga. Tapi demikianlah takdir Allah. Seperti hal nya mempertemukanku dengan teman-teman baru di Singkawang. Tiada kejadian yang mustahil atau tiada maksud dan tujuan. Allah lah yang merencanakan. Di kesempatan yang singkat di Singkawang aku diijinkan Nya membantu 2 tim lomba untuk meraih juara. Tidak untuk menyombongkan diri. Sama sekali tidak. Toh aku juga tidak akan dikenang lama. Hanya memberikan sebuah gambaran bahwa Allah memiliki skenario sendiri. Bahwa tiap manusia dirancang untuk memiliki manfaatnya masing-masing. Bisa jadi Allah menyuruhku banyak belajar dari berbagai pengalaman hidup untuk mengemban tugas yang lebih besar. Namun mungkin betul kata pepatah lama, masalah orang lain bisa kita bantu selesaikan tapi masalah sendiri…?

Baiklah, kembali ke masalah “teman”. Ada beberapa teman baru yang kutemui. Sementara ini hanya sekedar kenal karena bertetangga. Repotnya hidup disini, tetangga mayoritas senior. Salah sikap takut fatal akibat. Akhirnya pantau dulu. Lebih banyak diam dan merenung. Eny, sahabat lamaku semoga kita bisa saling membantu.

Berikutnya masalah penerimaan. Suamiku yang juga penasehat spiritualku seakan tahu betul bagaimana “membawa” aku. Di suatu pagi di hari liburnya yang seharusnya untuk istirahat, ia mengajak kami keliling ibukota naik Kereta Rel Listrik (KRL). Selain karena ingin membuat Aya senang juga yakin pasti ada sesuatu yang ingin ia ajarkan, pastinya mengajarkan naik KRL. Ia menyebut stasiun Jakarta Kota tempat tujuan kami. Kupikir jakarta kota itu adalah jakarta pusat. Ternyata bukan. Justru terletak di Jakarta Utara. Ya, Kota Lama Jakarta. Oud Batavia. Di sini aku merasakan atmosfer yang berbeda. Bangunan lama ala Belanda membuatku sedikit belajar sejarah. Paling tidak itulah yang suamiku pahami betul tentang aku. Istrinya suka sekali belajar. Aku menemukan sebuah lapak buku murah. Kuborong novel karya idolaku, Tere Liye — yang artinya Untukmu –, dengan rasa tak sabar akan membacanya dan memetik pesan darinya. Sungguh, beliau bagai penasehat spiritualku juga meski hanya lewat tulisan.

Dan.. disitulah letak kesanku yang mendalam terhadap Oud Batavia. Selain keindahan kota lama juga karena ada “makna” kedatanganku kesana.

Jawaban selanjutnya pun otomatis terjawab. Aku mengisi kosongnya hari dengan membaca dan menulis lagi. Ya, sejak bekerja lagi aku sedikit melupakan hobiku ini. Saat ini aku sedang menikmati hidup dengan membaca dan menulis. Tak acuhkan bisikan orang lagi yang kembali usil menanyakan “kok nggak bekerja?” Salah sendiri suamiku merindukanku untuk berkata lantang, “aku bekerja sebagai dokter keluarga, koki keluarga, manajer keuangan, penulis,  sang MSI, master segala ilmu” terlepas aku belum berani juga menyetir mobil sendiri dan mengaplikasikan ilmu menyetirku. Wallahua’lam kapan ketakutan itu sirna. Bila terpaksa mungkin. Dan selalu begitu kisahnya. Terpaksa maka bisa. Bukan bisa karena biasa.

Dengan kunjungan kami ke Oud Batavia aku meraup 2 jawab atas 2 tanya. Aku mulai menerima dan menikmati hidup di ibukota dan menemukan sebuah cara mengusir sepi sekaligus memahami makna hidup yang berulang ulang kubaca di setiap novel bang Tere Liye, yaa.. bahwa hidup itu harus “menerima” dengan sebuah penerimaan yang indah. Ini berkaitan erat dengan ucapan suamiku tempo hari. Terima takdir dari Allah. Sama halnya dengan beriman kepada Qada dan Qadar. Itulah salah satu rukun Iman. Bahwa takdirnya tidak ada duit, terimalah. Bahwa takdirnya sakit, terimalah. Bahwa takdirnya tidak bekerja lagi, terimalah. Dan sebagainya. Maka, suatu saat skenario Allah akan berjalan lebih baik sebagaimana mestinya. Akan tiba saat busur panahku dilepas olehNya dan melesat sempurna. Atau paling tidak kita sudah menerima segala keputusan Nya.

Pertanyaan terakhir, dan paling mutakhir, mengenai BISNIS. Kata sahabatku, sekecil apapun usaha percaya dirilah menyebutnya itu dengan kata Bisnis, bukan usaha. Sebab usaha adalah suatu geliat yang otomatis kita lakukan tiap hari.  Ia bercerita banyak tentang awalnya berani memulai bisnis. Niatnya yang indah untuk berani hutang, mendirikan usaha untuk membuka lapangan kerja rasanya menihilkan dosa riba (bila hutang bank dianggap melaksanakan praktek riba). Ia, seseorang yang kusebut dalam artikel “tanpa judul” selalu membuatku tercengang dengan kisahnya. Aku takjub dan terkobarkan semangat. Ide suamiku untuk mengembangkan usaha yang sudah ada saja, resell vitabumin dan susu kambing Gomars pun kusambut pasti. Tanpa harus berpikir akan bisnis apa. Tinggal dilakukan lebih profesional lagi. Dengan cara yang berulang kali disinggung Ibu dan Adikku namun kuelakkan dengan seribu alasan. Tapi ini Jakarta. Everything will possible. Seumur hidup baru kali ini aku optimis sekali dalam memulai bisnis. Sedangkan tiada keturunan, jiwa pun darah businessman mengalir padaku. Berbekal keyakinan dan doa sepenuh hati kumulai bisnis kami. Dan semoga “langit” menaungi. FB_IMG_1462968332059

 

KNO-PNK

Walau masih berat rasa hati meninggalkan Serambi Mekah, namun kaki harus tetap melangkah.

Diiringi gerimis dan hujan di malam hari kami berangkat menuju Medan untuk terbang ke Pontianak esok paginya.

Perjalanan menuju bandara Supadio Pontianak dari Kualanamu Medan butuh waktu 3 jam ditambah waktu transit setengah jam untuk loading penumpang dan avtur di Hang Nadim Batam. Alhamdulillah tidak berkendala. Cuaca cerah sepanjang penerbangan.

Sesampainya di Pontianak disambut hangat oleh Pakde (kakak sepupu Ibu) dan keluarga. Diajak jalan-jalan keliling Pontianak dan yang paling penting singgah di Masjid Agung (ini adalah keharusan bagiku, tiap berkunjung ke kota harus singgah ke Masjid Agung nya).

Keesokan hari selepas urusan suami di Kodam selesai, aku dikunjungi salah satu rekan kuliah juga rekan mengaji, Mira. Senang sekali bisa melepas rindu meski berbatas waktu karena aku harus segera bergerak ke Singkawang.

“HP ku mana, Mi?” sontak aku kaget ketika suami menanyakan itu sepulang menjemput mobil travel ke rumah Pakde.

Nah lho.. pasti jatuh. Sudah pasrah rasanya karena itu kali kesekian suamiku menjatuhkan HPnya dan pasti hilang. Dengan sisa harapan aku menelfon nomer suami. Diangkat!! Setelah memberikan informasi, si bapak yang menemukan HP memang berniat mengembalikan kepada kami. Alhamdulillah masih rejeki. Terharu melihat kejujuran itu. Beliau bukan orang mampu, bisa saja sebenarnya mengambil dan menjual HP suamiku. Subhanallahu. Kisah selanjutnya bersama pengemudi mobil travel yang kami tumpangi. Dengan penuh rasa sopan dan hormat beliau membawa kami. Diceritakan bahwa beliau anak ke 4 dari seorang pensiunan ABRI yang loyal dan mukmin. Sepanjang jalan kami terkagum kagum dengan keelokan Pontianak si kota seribu sungai yang dikelilingi oleh luasnya sungai Kapuas nan luas, belum lagi parit parit di depan rumah-rumah warga masih lengkap dengan sampan alat transportasi mereka. Paralon-paralon pengalir air hujan lengkap dengan tandon-tandon dari tanah liat adalah pemandangan biasa di rumah-rumah panggung maupun semitembok. Penduduk asli memang mengkonsumsi air hujan, bukan hanya untuk mandi tapi juga untuk memasak. Rumah-rumah kuperhatikan tidak ada yang menginjak bumi. Selalu dilapisi kayu hitam yang konon makin kuat bila kena air. Kayu belian namanya. Kalau sekarang namanya kayu curian karena bukan dibeli lagi tapi dicuri lewat illegal logging, kata bapak sopir. Hahahaa… ada-ada saja.

Sempat terlihat dari balik kaca mobil, tugu Khatulistiwa yang tanpa bayangan 2 kali dalam setahun ketika matahari tepat di atas garis. Mau berfoto disana sayang sekali masih dalam tahap renovasi. Teringat miniatur tugu Khatulistiwa yang diberikan Mira padaku semasa kuliah dulu. Akhirnya mengantarkanku ke Pontianak juga. Beberapa saat setelah melewati tugu nampak pabrik Wilmar, pabrik pengolahan kelapa sawit yang cukup besar. Teringat dengan berita penggelapan uang 7 Triliun dan isu pembakaran hutan oleh pihak mereka untuk membuka lahan. Wallahu a’lam.

Keunikan lain selama 4 jam perjalanan adalah fenomena hujan-tidak hujan yang berjarak hanya beberapa meter saja. Mendadak hujan di saat terik matahari, mendadak berhenti dan mendadak hujan lagi bukanlah hal asing. Makanya penduduk setempat mengandalkan air hujan sangat.

Sesaat sebelum masuk kota Singkawang nampak gunung-gunung yang sudah gundul dan menjadi dataran. MasyaAllah. Betapa serakahnya. Pantaslah bila ada bencana longsor tahun 1998 lalu dimana hanya satu masjid saja yang selamat. Bukankah itu pertanda nyata peringatan Allah?? Tidakkah manusia manusia itu berfikir? Ah, nyatanya tidak. Pembukaan lahan terus berlanjut hingga terjadilah bencana yang “dibuat”. Kebakaran hutan. Asap menyebar memenuhi jajaran kepulauan Indonesia. Namun mereka tetap saja tidak sadar akan ulahnya. Perlahan tapi pasti azab Allah akan menyelimuti.

Tak terasa kami sudah memasuki kota “amoi” (ini konotasinya negatif sekali). Di kota penuh Vihara dan warga Tionghoa seperti Singkawang hampir jarang ditemukan Muslim yang Mukmin. Meskipun pada dasarnya hampir mayoritas penduduk disini “baik” namun sudah jelas kami harus dan wajib berhati hati terutama masalah kehalalan makanan.

Alhamdulillah ada rekan 1 letting suami, jadi meskipun suami sedang sibuk bekerja aku bisa mengenal lingkungan sekitar bersamanya. Allah Maha Baik. Sewaktu diantar belanja bahkan Allah mempertemukanku dengan rekan kuliah, Richy. Beribu-ribu kali Alhamdulillah. Aku semakin tidak merasa sendiri. Semoga Allah menjaga selalu iman dan Islam kami. Amiin.

memory in NAD

Takut, mungkin itulah yang pertama kali terlintas di benak ketika mendengar kata Aceh. Betapa tidak, faktor keamanan karena gerakan aceh merdeka belumlah surut betul. Tahun 2011 adalah tahun pertamaku menginjakkan kaki ke bumi Nangroe. Panas, kesan keduaku. Betapa tidak, atap kebanyakan bangunan tersusun dari seng dan asbes. Serasa memantulkan panas. Genteng tanah liat tidak dapat dijumpai di sini.

Tahun pertama menikah hanya sesekali aku berada di tanah rencong. Awal tahun 2012 aku baru pindah mengikuti suami, tepatnya di markas batalyon 111 Tualang Cut, Aceh Tamiang. Suku yang ada di daerah ini kebanyakan suku Melayu, Batak, Cina dan Jawa transmigran. Kehidupan di batalyon sebagai istri tentara tentulah penuh dinamika yang tidak akan bisa dijumpai di kehidupan sipil. Seru, asyik, menegangkan, takut, suka dan tidak suka bercampur aduk menjadi suatu sensasi yang harus dinikmati. Tidak lama disana, akhir tahun 2012 aku pulang ke Jawa karena sedang hamil sedangkan suami dinas ke Lebanon. Akhir tahun 2013 kembali ke Aceh tepatnya di Peudawa Rayeuk, Aceh Timur. Disini, suku Aceh mulai banyak dijumpai. Belum pandai juga aku memahami bahasa Aceh. Tiap kali bertransaksi di pajak (pasar) hanya tunjuk dan angguk-angguk. Lebih seringnya menitip belanjaan sama orang daripada tidak bisa menawar harga. Peudawa adalah daerah tepi pantai. Banyak pohon kelapa di area kompi. Sepuluh menit berkendara sudah sampai pantai. Sayang disayang tidak dirawat. Banyak sampah berserakan, taik (kotoran) lembu dan sapi bertebaran. Tidak dikelola karena khawatir jadi tempat berkhalwat. Nah, tapi tanpa dikelola malah banyak yang berkhalwat diam diam. Nyatanya, tetap saja banyak sampah bekas jajanan. Wallahua’lam.

Tujuh bulan kemudian kami bergeser ke desa Paya Bakong, Aceh Utara. Disini adalah markas ex combatan GAM. Bireun, Pidie, dan beberapa daerah sekitar adalah lokasi rawan konflik. Meski perdamaian sudah tercipta tetap saja masyarakat masih was was dengan keberadaan mereka. Sejatinya masyarakat Aceh inginkan perdamaian yang nyata.

Tak disangka wilayah ini adalah lokasi dinas terakhir suami di Aceh.

Kenangan di Aceh tidak akan kulupakan. Ibu-ibu yang pernah menjadi anggotaku semasa di kepengurusan cabang, dan dua tahun menjabat ketua ranting di 2 kompi berbeda, kalian semua membuat hidupku nano-nano. Para rekan istri-istri se letting, kalian selalu menjadi tempat curahan hati baik tawa maupun tangis. Para adik-adikku berilah tauladan yang lebih baik lagi. Yang pasti dan utama ijin kepada Mba-mbaku yang pernah bersama-sama  berdinas di yonif 111 kalian semua adalah inspirasi untukku.

Belum lagi kenangan makanan khas Aceh yang cuma enak kalau dimakan di Aceh. Dan pertama kali makan bikin diare ga berhenti henti karena pedas dan rempah yang menggigit. Mie Kepiting, gulai ikan khas Aceh, kuah plie, asam keueung, kue timpan buatan Bu Dedi kompi B, kateringan Bu Asep dan Bu Nawi semasa di kompi E, lontong sayur ala dapur kompi E, mie kocok ala bu Heru kompi E, rica-rica ala bu Noverlan yang gaaa bisaaa akuu masaakknyaaa… sajian sayur pelepah pisang dan gulai kambing di pesta-pesta nikahan yang selalu sukses membuatku pusing dan mual namun selalu juga nagih untuk diulang.

Belanja di Suzuya sampai poin banyak melimpah ujung-ujungnya dikasih ke ibu-ibu.

Naek reo (truk tentara), OZ kalau tanding volley atau pergi ke batalyon yang pastinya sukses membuat pantat sakit dan kesemutan. Tapi itu semuanya amat sangat seru. Belum lagi keseruan makan-makan bareng, rujakan di bawah pohon sawit saat di kompi B.

Pengalaman pesiar ke Banda Aceh, Sabang, Takengon bersama teman-teman 1 letting. Tidak akan terlupakan.

Goodbye, Aceh loen sayang.

I will be missing that moments..

Saatnya mengukir kenangan baru di pulau Borneo.

Perbedaan Hari Raya Iedul Adha

Sudah berulang kali sejak jaman reformasi hal ini terjadi. Tidak hanya antara Muhammadiyah-NU. Namun juga ormas Islam minoritas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Aku bukan ahli agama. Bukan aktivis ormas Islam. Bukan pula politisi yang bermuatan. Apalagi pengamat pemerintahan.

Aku hanyalah satu dari penduduk Indonesia yang menyayangkan ketidakbersamaan ini.

Memang, semua sudah digariskan. Akan tiba masa kelompok-kelompok Islam memecah diri dan sok menjadi berbeda. Padahal sejatinya kebersamaan itu lebih utama.

Mengapa tiada pembahasan diantara para pemimpin dan tokoh-tokoh agama yang menentramkan? Mengapa tiada satu titik temu keputusan? Mengapa semua bersitegang? Mengapa tiada yang mengalah untuk menang?

Memang, kecenderunganku terhadap keputusan-keputusan lebih condong ke salah satu ormas. Namun, bukan fanatik. Fanatisme itu memecah belah. Fanatik boleh dalam hati terhadap Islam. Tidak untuk ormas.

Allah saja tidak mempermasalahkan tentang ijtihad. Yakin bahwa Allah lebih ingin ummat bersatu bukan saling menggerutu.

Yah… namanya juga sudah digariskan demikian. Saatnya untuk berbeda. Namun besar harapan untuk tidak saling menjatuhkan. Tidak saling memojokkan. Marilah saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan. Karena memang demikianlah takdir yang digariskan.

Tidak usah merasa paling benar. Salah atau benar urusan Allah. Kita hanya ijtihad. Surga atau neraka itu hak Allah. Kita hanya berkewajiban mengharap ridhoNya. Kalau Allah menakdirkan kita masuk neraka padahal menurut kita ijtihad kita sudah sangat maksimal.. sudah sangat bagus.. memangnya bisa protes?

Previous Older Entries