Urutan Menghadap Nikah di Kalangan Prajurit

Bagi para prajurit TNI/Polri menikah bukanlah hal mudah dalam artian administrasinya. Calon istri juga diteliti asal usulnya. Jangan sampai ada unsur PKI mengakar dalam keluarganya, semisal saja. Hal ini bukanlah bertujuan untuk mempersulit, justru sebaliknya. Mempermudah di kemudian hari. TNI/Polri menganut monogami. Sehingga kelak bila ada pernikahan kedua dan seterusnya yanh diakui oleh negara hanya istri yang sah. Bahkan, resiko pecat ada di depan mata.

Menghadap sebelum nikah ini sedikit berbeda antara anggota TNI dan Polri. Dan rasa-rasanya lebih ribet urusannya untuk TNI. Dalam hal ini saya akan sedikit membahas di kalangan TNI AD.

Nikah kantor, begitu istilah lain untuk menghadap nikah di kalangan prajurit. Selain diakui oleh agama, memiliki bukti nikah dari KUA, juga mendapat Surat Ijin Nikah (SIN) dari dinas. Pemberkasan awal untuk melengkapi dokumen-dokumen alias surat-surat adalah ke staf Personalia di satuan calon suami. Adapun surat-surat yang harus diisi antara lain:

1. Surat keterangan belum menikah yang ditandatangani Lurah, Camat dan kepala KUA

2. Surat keterangan asal-usul (Model N2) yang ditandatangani lurah dan camat

3. Surat keterangan tentang orang tua (model N4) yang ditandatangani oleh lurah

4. Surat keterangan untuk kawin (model N1) yang ditandatangani oleh lurah

5. Surat pernyataan kesanggupan calon istri untuk mendampingi prajurit fan mengerti:

-bahwa tugas anggota TNI AD adalah mengabdi kepada nusa, bangsa, dan negara serta alat negara harus tunduk dan taat kepada kedinasannya dan patuh terhadap tata tertib TNI AD

-kewajiban sebagai istri anggota TNI AD

-peraturan perkawinan, perceraian, dan rujuk yang berlaku di lingkungan TNI AD

Surat ini ditandatangani oleh calon istri di atas materai dan ditandatangani pula oleh lurah.

6. Surat persetujuan orangtua/wali

7. Surat permohonan ijin kawin ditandatangani oleh calon suami dan atasannya

8. Surat ketetangan persit

9. Surat keterangan bersih diri (SKBD) ditandatangai muspika (lurah, camat, danramil, kapolsek)

10. Permohonan SKBD oleh atasan prajurit yang mengajukan nikah.

Baiknya kita ambil contoh kasus saja. Misalnya calon suami adalah prajurit dari batalyon maka pemberkasan dimulai dari kompi sebagai satuan terkecil. Lebih tepatnya calon suami akan menghadap Bintara Administrasi alias Bamin. Bila calon suami adalah perwira maka melapor pada Komandan Kompi sebagai ijin pendahuluan kemudian ke Staf 3/Personalia yang ada di Markas Batalyon (Mayon). Bila di satuan lain intinya sama saja. Calon suami akan mencari staf 3/ Personalia. Setelah berkas masuk ke staf 3 dan dilengkapi maka calon suami akan membawa calon istri menghadap ke yang dituakan di satuan. Menghadap maksudnya adalah perkenalan dan orientasi. Bukan sebagai ajang perpeloncoan. Maka, jangan kuatir.

Misal lagi, pangkat calon suami Pratu (Prajurit Satu) dan berdinas di Kompi batalyon X. Kunjungan dilakukan ke yang lebih senior dari suami. Mulai dari yang berpangkat Praka, dst yang sudah menikah sampai ke Danton dan akhirnya Danki. Hal ini dimaksudkan agar calon istri diberikan pembekalan tentang organisasi dan kegiatan Persit di satuan tempatnya kelak akan tinggal. Setelah satu berkas (no.8) ditandatangani oleh Ibu Ketua (Ibu Danki) yang berisi pengesahan bahwa calon tersebut sudah “layak” diterima sebagai anggota Persit baru dan telah diberikan pembekalan awal, maka tahap selanjutnya menghadap ke yang lebih tinggi lagi, Danyon beserta staff. Biasanya, menghadap dilakukan kolektif untuk calon istri anggota dan perorangan untuk calon istri perwira. Pengarahan akan dilakukan oleh ketua-ketua seksi baru kemudian oleh Ibu Ketua (Ibu Danyon). Berkas sepuluh lembar yang tadinya ditandatangani ketua setingkat di bawah akan dibubuhi juga tanda tangan oleh Ibu Ketua setingkat di atas sebagai pengesah utama. Bila telah selesai di tingkat ini maka terakhir adalah di Brigif bila batalyon berada di bawahnya/Korem bila batalyon berada di bawahnya, tergantung pembagian yang ada. Khusus perwira, litpers akan dilanjutkan sampai ke Kodam.

Demikian kira-kira prosesnya hingga terbitlah Surat Ijin Nikah (SIN) atau dikenal juga dengan Surat Ijin Kawin yang nomernya diabadikan di KPI (Kartu Penunjukan Istri). Semoga bermanfaat.

 

Kegiatan Persit: Ada Malas, Tiada Rindu

DSC_0201

kenangan saat mendampingi juri lomba Pos KB Kes Terpadu se PD XII th 2016

Melihat progress search terms, beberapa kali muncul keywords bertajuk “kegiatan persit”. Meskipun sudah sering kusinggung di artikel lain, tidak ada salahnya bila dibahas khusus dalam judul tersendiri.

Memang sih, bagi calon anggota dan anggota baru masalah “paksaan berkegiatan” sering menjadi tanda tanya dan ketakutan tersendiri. Bahkan pada ibu-ibu lama mulai pula rasa bosan dan malas. Itu-itu saja. Iya atau iya?

Pada umumnya kegiatan ibu-ibu persit ada beberapa macam:

1. Olahraga

Wajib: yang pertama volley ball (mungkin karena melibatkan banyak orang sekali turun, tidak terlalu melelahkan meski lebih mengandalkan kekuatan tangan). Coba kita renungkan bagaimana lah bila yang wajib itu basket atau sepakbola misalnya. Bisa “robek” otot kaki yang tidak terlatih olahraga. Yang kedua senam. Segala macam senam mulai dari kesegaran jasmani, poco-poco, maumere, aerobik, pinguin, zumba, senam kreasi, dan lain-lain.

Opsional: kasti (jelas ini lebih seru secara fisik dan mulut, seringkali ibu-ibu bertengkar hanya masalah pemberian skor yang kurang obyektif), bulutangkis, tennis, wood ball, dan sebagainya.

2. Pengajian, baik ceramah, tadarus maupun membaca surat Yaasin bersama. Frekuensinya bisa 2-4 kali sebulan.

3. Arisan dan pertemuan anggota 1-3 bulan sekali.

4. Posyandu 1 bulan sekali dan penilaiannya 1 tahun sekali.

5. Anjangsana dan kegiatan sosial lain bila ada.

6. Ketrampilan/pendidikan anggota: menjahit, masak, menari, dll

Tujuan diadakannya kegiatan tentunya agar ibu-ibu memiliki kesibukan lain diluar kegiatan di rumah. Agar tidak jenuh, bosan dengan rutinitas harian dan tentunya biar gerak biar sehat. Diharapkan juga dengan adanya kegiatan bersama ibu-ibu bisa lebih saling mengenal, kompak, bertukar pikiran. Tidak akan dibuat kegiatan dengan tujuan anggotanya saling menjelekkan, menjatuhkan. Terlebih lagi saat ibu-ibu ditinggal suami tugas pengamanan perbatasan (pamtas), satgas operasi di daerah konflik, atau latihan-latihan luar tidak suntuk dan sedih di rumah saja meratapi nasih. #ehh

Bayangkan, seorang gadis yang sebelum menikah pendiam, anak rumahan dipaksa berkegiatan. Bisa syok. Oleh karena itu, sebelum resmi jadi anggota ada orientasinya dulu. Dan yang paling penting suami harus mendukung istrinya ikut kegiatan. Paling tidak ijinkan istrinya bersosialisasi, bukan malah menghambat atau mengajari untuk jadi tidak peduli atau bahkan terprovokasi dengan rajukan istri yang malas unjuk diri. Minimalnya sekali, sang istri pernah keluar dan pernah dikenal.

Apa sanksi/hukuman bagi yang tidak ikut kegiatan?

Hal ini benar-benar sesuai kebijakan ketua. Pada dasarnya bila ada hak ada kewajiban. Hak untuk tinggal di asrama dengan fasilitas yang ada maka kewajibannya mengikuti aturan main disana, termasuk ikut kegiatan. Semacam di RT/RW pasti ada juga kan kegiatan meski frekuensi dan intensitasnya jauh berbeda. Prinsipnya ya sama saja. Yang malas kegiatan pun otomatis “dikucilkan” (sanksi sosial) dalam bahasa anak-anak “ndak usah kawan”. Hehe… Silakan saja memilih mana yang lebih baik untuk diri anda dan keluarga. Menurut hemat saya aktif di kegiatan baik saja, namun tetap utamakan keluarga. Maka, pandai-pandailah dalam bersikap. Bijaksanalah dalam menentukan sikap.

Bagaimana bagi yang bekerja secara pribadi?

Hal ini juga menjadi kebijakan ketua di satuan. Pada dasarnya, sebagai anggota yang baik, kita tetap harus perhatian terhadap kegiatan. Meluangkan waktu untuk ikut dan berkumpul bersama. Pikirkan bahwa mereka yang tidak bekerja akan merasa iri karena ibu-ibu sempat dan bisa bekerja di luar sedangkan mereka tidak. Mereka akan direcoki dengan kegiatan-kegiatan persit. Mereka terus, mereka lagi. Maka sempatkanlah kegiatan sebisa mungkin. Namun, di pihak lain para ibu yang tidak bekerja juga cobalah memahami, ibu yang bekerja lebih banyak tuntutan dari pekerjaannya. Bila ditambah dengan kegiatan persit bagaimana capeknya. Kalau memang ibu-ibu persit dilarang bekerja secara pribadi ya tolong para atasan keluarkan aturan tegasnya. Agar yang meghadap nikah sudah sepakat istrinya semua IBU RUMAH TANGGA. Selesai perkara!!! Nyatanya tidak begitu bukan? Maka jangan salahkan yang bekerja bila mendapat keringanan dalam kegiatan dan yang tidak bekerja tidak usah iri karena itu juga pilihan. Takdir hidup yang berbeda. Ikhlas saja.. semua akan indah.

Kenapa yang disuruh ikut lomba atau kegiatan itu-itu saja (baca:orang-orang lama)?

Sebenarnya bisa dipahami, ibu-ibu anggota lama pasti anaknya sudah bisa ditinggal, tidak terlalu terbeban saat meninggalkan dalam tempo agak lama. Maka ya pastinya yang dipilih itu-itu saja. Pengkaderan ibu-ibu aktif pun butuh waktu. Kalau menurut hemat saya, ibu-ibu baru pun akan segan untuk unjuk diri  takut dikira sombong, sok, cari perhatian dan alasan utama enggan sibuk karena pengantin baru pasti berorientasi “bikin anak” jad pahami saja kelak juga mereka akan jadi “ibu-ibu lama”. Kemungkinan juga mereka berpikir ibu-ibu yang sudah lama di satuan pasti sudah jauh lebih pandai, lebih berpengalaman. Nanti juga ada waktunya berhenti berkegiatan.

Dan di saat itu terjadi, rasa rindu untuk kegiatan kembali pasti perlahan menelisip di kalbu. Akhirnya pada cari-cari kesibukan (pengalaman pribadi, euy..). Hehe…

Maka, renungkanlah. Kegiatan di satuan ditujukan bukan untuk mengusik hari ibu-ibu (dengan catatan kegiatan yang proporsional: diadakan rutin, tidak terlampau berat apalagi mengganggu kegiatan rumah tangga) namun untuk mengisi kekosongan hari agar ibu-ibu di asrama saling kenal semua tidak melulu membuat grup (lorong/barak) masing-masing dan menggosipkan grup yang lain. Toh juga saat kegiatan berlangsung ibu-ibu yang punya jualan pasti eksis dan menerima uang tambahan. Betul atau betul?

Watak Persit, terjemahan bebas

Seorang manusia lahir ke dunia sudah dibekali dengan bekal bawaan masing-masing. Termasuk watak.

Dalam AD ART tertulis bahwa watak seorang persit ada 3 poin. Watak menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) didefinisikan sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Konon kabarnya watak tidak bisa diubah, tetapi bisa dilatih hingga menuju ke arah sana. Karena tidak dapat diubah maka sewajarnya watak ini menjadi kriteria dasar bagi calon istri TNI AD ((( intermezo — Ayuseite nih maksa amat ye.. nobody perfect keles, kalau jodohnya ngga gitu-gitu kali kek mana cobak? Batal nikah? Oomak…  — ahihihi, makanya aye tadi nulis jugak kalo bisa dilatih, dikondisikan, ala bisa karena biasa, batu bisa hancur juga dengan tetesan air yang konsisten. Betul apa betul? Betul pula bahwa tiada yang sempurna di dunia. Kesempurnaan itu hanya milik Allah semata. Maka, kita boleh lah berdoa pada Nya supaya diberi watak yang baik? Aye juga masih belajar.. terus belajar… yang penting mah prosesnya atuh… jangan terus nyerah aje sama keadaan. Paham ye? — iyelah… lanjut…))). Mari kita bahas per poin. Sekali lagi ini terjemahan bebas, argumentasi ala empunya blog. Boleh pro boleh kontra. Sah sah saja.

1. Suci, setia, sepi ing pamrih, rame ing gawe. Artinya: seorang anggota Persit haruslah suci hatinya (bersih, lurus, tanpa niatan jahat sedikitpun), setia sifatnya (berpegang teguh pada janji dan pendirian, patuh, taat) kepada suami, TNI AD, Persit, negara, dan agama. Filosofi dalam bahasa jawa itu memiliki makna kita harus banyak “bekerja” (bukan banyak bicara apalagi bicara tanpa fakta) dengan tidak mendasarkan pekerjaan karena imbalannya.
2. Ikhlas, rela, bijaksana dan cendekia. Artinya: dalam menapaki kehidupan seorang Persit harus selalu ikhlas dan rela. Hal ini menyiratkan banyak makna. Dalam melepas suami bertugas misalnya, menjalani kehidupan yang tak sebebas merpati tentunya. Rela pula untuk hidup sederhana dan mandiri. Kita juga dituntut untuk bijaksana baik dalam pemikiran maupun perbuatan. Istilah kata, ora grusa grusu. Tidak gegabah dalam bertindak. Tidak asal bicara. Segala sesuatu dipertimbangkan dahulu masak-masak. Kalau masih mentah jangan diangkat. Ehh…
Seorang persit juga harus cendekia (menurut KBBI artinya tajam pikiran; lekas mengerti kalau diberi tahu sesuatu; cerdas; pandai; 2 cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar (pandai menggunakan kesempatan); cerdik; 3 terpelajar; cerdik pandai )). Harus minimal sarjana gitu? Setahu saya ada syarat minimal Lulus SMA, sama seperti suaminya yang pendidikan terakhir SMA sebelum rekrut ke TNI AD entah jalur tamtama, bintara pun perwira (kecuali perwira prajurit karier yang pasti S1 dulu). Kenapa demikian? Agar ibu-ibu persit punya dasar kuat berlogika dan kematangan emosi yang baik. Karena permasalahan yang akan ibu-ibu hadapi ke depan jauh lebih kompleks. Lebih kompleks daripada menjadi keluarga sipil. Meskipun tidak menjamin juga, namun standar minimal pendidikan di Indonesia dianggap “memenuhi” jika telah menempuh setingkat SMA atau setara kejar paket C.
3. Berani dan bertanggung jawab. Berani dalam mengambil keputusan, berani bersikap dan bertindak. Anti ragu-ragu. Kalau tiba-tiba ada penjajah ya harus berani ikut angkat senjata (wuaduhhh). Paling tidak, berani sendiri di rumah saat ditinggal suami tugas. Hehe…
Bertanggung jawab artinya jelas ya, bisa dipercaya untuk melaksanakan tugas sampai tuntas dan bila ada kesalahan mau pasang badan, tidak melimpahkan tugas atau kesalahan begitu saja ke orang lain.

Demikian yang bisa saya tuliskan. Bila ada kritik, saran, dan pertanyaan amat sangat disilakan. Terimakasih sudah membaca. Teriring doa semoga Persit Kartika Chandra Kirana semakin jaya.

AD ART PERSIT KCK

2016-05-25 08.34.37《Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Istri Prajurit Kartika Chandra Kirana》

Buku ini kecil, biasa diberikan saat ibu-ibu menghadap/pengajuan nikah oleh seksi organisasi. Bila masih ada dropping maka diberi gratis, bila tidak maka harap membeli sebagai ganti uang fotokopi (sebenarnya sedikit melanggar hak cipta, tapi menunggu pemesanan itu lama sekali kalau satuan berada di ujung Indonesia entah kapan sampainya, T.T).
Meskipun kecil tapi di dalamnya sudah terdapat seluruh informasi utama organisasi Persit, aturan tertulisnya. Sedangkan aturan tidak tertulisnya hanya bisa dipelajari sambil “jalan”.

Di dalam buku ini yang pertama kali di bahas adalah masalah Lambang Organisasi. Tertulis di sana Maksud, Makna, Warna, Arti Keseluruhan, dan Penggunaan.

Selanjutnya, Anggaran Dasar. Dalam Pembukaannya, menekankan bahwa istri prajurit mutlak tidak dapat dipisahkan dari TNI Angkatan Darat, baik dalam melaksanakan tugas organisasi maupun dalam kehidupan pribadi (bisa dicek kembali artikel yang saya tulis tentang “Menikahi Persit”).

Persit dibentuk dengan didorongkan oleh keinginan luhur untuk meningkatkan perjuangan dalam wadah organisasi, berasakan Pancasila dan UUD 1945 serta tetap membina terjalinnya: persatuan, kesatuan, persaudaraan, serta kekeluargaan juga rasa senasib, sepnanggungan serta seperjuangan sebagai istri prajurit. Kiranya, bila semua anggota memahami benar dan melaksanakan sepenuh hati apa yang termaktub di Pembukaan Anggaran Dasar ini saja pasti Persit akan amat sangat solid sekali.

Persit Kartika Chandra Kirana berada sejajar dengan Jalasenastri (istri TNI AL), Pia Ardhya Garini (istri TNI AU) dan IKKT (Ikatan Kesejahteraan Keluarga TNI) Pragati Wira Anggini di bawah naungan Dharma Pertiwi.

Anggaran Dasar memuat Nama, tempat, waktu, kedudukan, asas, tujuan, tugas pokok, keanggotaan, kepengurusan, musyawarah dan rapat, pembina dan penasihat, rencana kerja, keuangan, perubahan anggaran.

Anggaran Rumah Tangga mengatur tentang Keanggotaan (anggota biasa dan luar biasa), hak dan kewajiban anggota, pemberhentian, kepengurusan -dijabarkan dari pusat sampai daerah-daerah, penjabaran urusan-urusan per satuan kerja, kedudukan satuan-satuan kerja, masa kerja, tugas dan tanggung jawab pengurus, rapat, dan hal keuangan.

Di halaman belakang tercantum pula lagu himne dan mars Kartika Chandra Kirana.

Mari kita bersama-sama mempelajari, memahami, dan menghayati kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi tercinta kita ini. Agar kita betul-betul paham sehingga tidak akan menyalahkan si paham (salah paham, red) ^__^

Psikologi Persit

Tulisan ini berlatar belakang dari adanya seorang anggota persit yang saya tidak kenal, tidak bernama, komentar di bawah tulisan saya tentang “Bubarkan Persit!!”, saya yakin Ia terprovokasi dengan judul, bukan isi artikel seutuhnya. Begini kira-kira isi komentar tersebut:

“Bener bubarin, tidak  ada untungnya, hanya menggosip sama doktrin otak ibu2 saja untuk gosipin org2, buang2 anggaran” 

Well, what do you think about it? Jujur saya prihatin, berarti beliau mendapat perlakuan yang tidak baik, hidup di lingkungan anggota Persit yang tidak baik pula. Sehingga kesannya terhadap Persit tidak baik. Mungkin, secara psikis ia pun tidak ada “kuasa” untuk mengubah. Dan mayoritas begitu adanya.

Lebih ekstrem lagi, saya sudah menemukan dua kasus di depan mata yang saya pribadi tega mendiagnosis dengan F.20. Kenapa bisa terjadi?

Psikologi, singkatnya ilmu kejiwaan, memiliki sekira 14 cabang. Diantaranya psikologi abnormal, perkembangan, sosial, kesehatan, forensik, komparatif, lintas budaya, pendidikan, de-el-el hingga psikologi industri dan organisasi. Catat ini, Psikologi organisasi.

Persit adalah sebuah organisasi besar. Maka, saya menganalogikan dengan Psikologi Persit untuk tema tulisan kali ini.

Kalau di sebuah perusahaan, instansi, dan sejenisnya, pemegang peran ini berada di Divisi HRD (Human Resource Department alias bagian personalia) bagaimana kalau di organisasi persit? Mungkin seksi kebudayaan urusan bimbingan mental (bintal). Yaa.. mungkin bila nanti. 😁

Baiklah, mengapa saya berani menulis tema ini? Selain karena “terprovokasi” dengan komentar tak sedap di atas saya juga mengamati pun menyadari ada begitu banyak permasalahan yang kompleks pada tiap diri seorang anggota persit. Ijinkan saya menjabarkannya, sekali lagi ini semata argumentasi saya dan karena saya mencintai organisasi ini (terlepas dari ada/tidaknya gesekan dengan “oknum”).

Permasalahan pertama dan utama adalah menikah dengan anggota TNI AD itu sendiri. Konsekuensi yang sudah dibaca saat pemberkasan “menghadap nikah” pastilah sudah khatam dibaca. Bersedia ikut kemana saja namun di sisi yang lain harus siap bersedia ditinggal tugas entah berapa lama. Karena tahulah kita bahwa jiwa raga suami kita bukan milik kita seutuhnya. Milik negara. Mereka sudah diserahkan oleh orangtua mereka pada negara. Hidup mati untuk negara. Saya yakin, kita sebagai istri belum bisa 100 persen menyadari. Ego kita pasti akan melejit di saat-saat rumit. Dari permasalahan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa istri prajurit harus MANDIRI. Luas sekali pengertiannya bukan? Ya, paling tidak kita tidak tergantung dengan suami kita (sumpah ini susahh!!), tidak merepotkan dengan merengek tentang tetek bengek remeh temeh (ini pun masih sering saya lakukan, hehe). Konsekuensi berikutnya dari menikahi TNI AD adalah tergabung dengan Persit. Otomatis. Tujuan keanggotaan, gampangnya agar antaranggota saling membantu, bersinergi, bahu membahu mendukung suami. Bukan saling menjatuhkan, saling hujat, dan saling tidak baik lainnya.

Permasalahan kedua, gaji TNI ya segitu gitu aja. Kita harus pandai-pandai mengelola keuangan. Sebisa mungkin minimalkan hutang, hidup sederhana. Bagi istri yang bekerja pasti tidak akan kerepotan masalah uang tapi akan ada kerepotan lain utamanya masalah membagi tenaga dan pikiran. Antara rumah, tempat kerja, dan organisasi. Dari masalah keuangan ini banyak hal yang bisa kita tarik. Keterbatasan keuangan membuat istri yang tidak kuat frustasi juga. Yang kreatif bisa menjahit, memasak, menyulam, merajut, bercocok tanam, dll pasti akan memaksa diri untuk membuat sesuatu yang menghasilkan. Atau yang punya modal akan berjualan. Sistem cicilan. Itu hal marak di lingkungan ibu2 mana pun. Hati-hati dengan giuran ini. Beli yang perlu bukannya perlu beli ini itu. Kebijakan atasan untuk mengadakan “arisan” sebenarnya untuk membantu memaksa menabung. Namun nyatanya malah dihabiskan saat itu juga saat menerima.

Permasalahan ketiga, lingkungan asrama dengan rumah berdempetan, dalam waktu lama, ketemu itu-itu saja. Memicu banyak gesekan sosial (ahh.. sebenarnya psikologi persit itu kompleks, mencakup psikologi sosial, pendidikan, perkembangan juga). Tak terhindarkan rasa iri, dengki, dan rasa-rasa lainnya. Tetangga beli TV baru, iri (jeleknya lagi si tetangga emang hobi pamer). Tetangga punya motor baru, iri. Bahkan tetangga bisa masak enak aja iri. Perasaan-perasaan tersebut lah yang memicu “rasan-rasan” alias bisik-bisik antartetangga yang sama-sama iri. Bahkan ada diberi bumbu-bumbu, percikan api hingga ada istilah “kompor tetangga”. Itulah mungkin yang dimaksud dalam komen, menggosip dan doktrin untuk nggosip. Ah, padahal itu hanya oknum. Oknum yang iri. Maka, oleh sebab itu diperlukan HATI YANG LAPANG, penuh rasa syukur, ikhlas dan sabar menghadapi ujian berupa “tetangga”. Alih-alih berkumpul untuk menggosip, sebaiknya berikan tenaga dan waktu untuk berkreasi. Ibu ketua yang tanggap pasti akan banyak memberikan jadwal kegiatan kreatif. Tapi, seringpula dianggap “cari-cari kesibukan” oleh anggota. Jadi serba salah. Kegiatan dimaksudkan untuk mengisi waktu luang agar tidak sia-sia hanya membicarakan yang tidak perlu. Ujung-ujungnya pasti gosip. Setan sudah menguasai keadaan! Sadarlah itu. Sayang, niat baik tak selalu baik.

Permasalahan selanjutnya adalah rentetan kunjungan atasan. Entah kunjungan kerja atau hanya sekedar mampir berkunjung. Selalu lah ibu-ibu sibuk. Siapkan makanan, bersih-bersih (istilah kerennya korve), tampil cantik, nitip anak. Dan sebagainya. Mungkin inilah yang memicu komentar “buang-buang anggaran”. Hmm… sebenarnya tiap atasan datang berkunjung pasti berpesan jangan repot-repot. Sayangnya, tradisi timur menangkap pernyataan itu bermakna sebaliknya. Masa iya kita tidak menyambut atasan, nanti kena teguran. Yah, tidak salah menyambut tapi juga semampunya. Tidak lah sampai buang anggaran. Kalau anggaran yang dimaksud anggaran pribadi yaaa itu sangat keterlaluan. Dinas pasti ada uang. Tinggal mengelola seefisien mungkin. Kemudian, bila yang dimaksud komentar buang-buang anggaran yang dimaksud adalah uang transport, uang arisan, beli ini itu kebutuhan personal organisasi berarti si ibu tersebut tidak menempatkan pos keuangan terhadap organisasi dengan baik. Atau ia terlalu tergiur untuk konsumtif. Meminjam filosofi organisasi Muhammadiyah, hidup-hidupilah organisasi jangan mencari penghidupan di organisasi. Buang-buang anggaran lain yang kemungkinan dimaksud adalah tradisi pemberian souvenir saat pindah atau saat kembali dari bepergian. Lah, itu tidak wajib, tidak ada yang menuntut. Bila tidak sanggup ya sudah jangan memaksa. Bila dijadikan bahan omongan ya maklumi saja. Namanya mulut tidak akan bisa dicegah. Kita hanya bisa mencegah hati kita untuk tidak “merasa”. Berlaku lah bijak, maka lingkungan akan menyikapi dengan bijak pula. Bila ingin memberi, beri dengan ikhlas bukan terpaksa. Bila tidak memberi, tidak karena alasan pelit yang menyakiti.

Permasalahan terakhir namun bukan berarti paling akhir, aturan yang mengikat di organisasi dibumbui kewajiban ber etika. Iya betul, aturan persit mengikat seperti tercantum di AD ART dan etika yang mengungkung sebagai adat ketimuran. Harus disadari dan dipatuhi. Kalau hanya itu saja mungkin kita sanggup karena ada hitam di atas putih. Namun, bagaimana dengan “tekanan” kasat mata dan aturan yang sengaja diikatkan padahal tidak seharusnya ada atau aturan mengikat tapi tidak tepat? Sebenarnya di sinilah letak kejiwaan seorang anggota persit diuji. Kuatkah ia? Sanggupkah ia? Bukan karena menjalankan roda organisasi namun karena bergaul dengan warna-warni sifat dan sikap istri anggota TNI yang bhineka. Menghadapi watak dan karakter yang unik. Namun begitu, seharusnya kita selalu kembalikan (andai saja semua anggota Persit mulai dari istri tamtama hingga perwira tinggi menyadari) bahwa organisasi ini dibuat dengan asas kekeluargaan, maka tidak ada keluarga yang hanya basa-basi. Sewajarnya, tulus dari hati. Tidak ada “muatan”, hanya saling mengayomi. Saling memahami serta menghormati bahwa tiap individu itu berbeda. TIDAK DIPAKSAKAN SAMA.  Tidak melulu bicara “saya saja bisa”. Indah bukan? Niscaya tidak akan ada yang berani membatin “Bubarkan saja Persit”. Sebaliknya, saling bersinergi untuk mewujudkan visi misi yang terpatri di lagu hymne dan mars yang abadi. (Sayangnya ini semua masih jadi mimpi.)

Ijinkan saya menutup artikel ini dengan harapan persit akan kuat. Jiwanya sehat. Hati-hati dalam bersikap adalah sebuah kebijaksanaan. Sebuah kematangan jiwa seorang persit.

Bubarkan Persit!!!!

**ini bukan aksi protes, bukan pula aksi menggurui, sebelumnya mohon ijin pada atasan bila terlalu vulgar**

Saya yakin semua yang bergabung di Persit KCK apalagi dengan “keterpaksaan” karena menikah dengan seorang lelaki anggota TNI AD pernah berpikiran demikian (Karena saya pun pernah begitu).

Dengan opini: persit itu merepotkan, mengada-ada, sok-sok’an, apa coba untungnya? dst dst (ada yang berani menambahkan? Hehehe..)

Merepotkan karena ibu-ibu berkutat dengan kegiatan rumah tangga belum lagi ngurus anak dengan segala keperluannya, belum lagi ibu-ibu yang bekerja secara pribadi. Mengada-ada yang memaksa karena udah enak-enak santai di rumah tapi dipaksa kegiatan sore-sore atau pagi-pagi yang lebih enaknya nyantai di kamar sambil nonton TV atau DVD Korea atau sekedar menatap layar smartphone terlebih yang jualan online belum lagi yang pulang dari kerja bahkan lebih-lebih lagi yang tidak dapat rumah di asrama, dan lagi arisan tiap bulan yang “memaksa” hadir (ahh mending alasan anak sakit deh meski cuma batuk pilek atau bilang aja diare), dan serentetan kunjungan yang tidak bisa diprediksi. Sok-sok’an terutama bagi ibu-ibu yang “kaget” dengan jabatan suami dan sok ingin dilayani (a.k.a senior-junior). Persit itu apa coba untungnya kegiatannya gitu-gitu doang… mending bubarkan saja lah… #ehh

Apa iya sebaiknya begitu?

Di tahun-tahun awal demikian saya berpikir. Apalagi namanya ibu-ibu notabene wanita yang punya perasaan dan sering terjadi gesekan-gesekan yang menyebabkan airmata menetes bahkan mengalir deras.

Namun.. akan tetapi..

Di saat saya betul-betul mencoba masuk ke dunia Persit (catat yaa Persit sebagai seutuhnya organisasi), memahami sejarah dan alur ceritanya, saya mencintai organisasi Persit. Kesampingkan lah tentang ego pribadi yang sedang ada masalah dengan oknum ibu-ibu atau apa… janganlah hanya karena sedikit masalah yang membuat hati tidak nyaman lantas menjelekkan Organisasi besar ini. Sekali kali jangan.

Bila Persit dijalankan dengan semangat leluhur para pendiri pasti akan lebih indah. Bukankah Persit adalah pendukung/pendamping TNI AD? Selama suami masih jadi TNI AD kewajiban menjadi Persit akan ditunaikan. Jadi, daripada mengingkari lebih baik menerima dengan penerimaan yang indah. Lebih baik menjalani dengan laku yang baik. Dan.. yang paling utama adalah KEIKHLASAN, ikhlas menerima “posisi” kita sekarang. Got it?

Nah, sekarang tugas kita apa di Persit? Cukup jelas. Sebagai anggota (maaf, sebut saja istri tamtama), ibu-ibu jangan sampai menganggap diri sebagai “bawahan”. Jangan sekali-sekali. Karena pada dasarnya kita semua sama. Sama-sama wanita. Hanya takdir yang membuat kita berjodoh dengan pangkat suami berbeda, berstrata. Tidak menampik kemungkinan kelak, ke depan, ibu-ibu pun akan berkesempatan pula menjadi istri perwira meski di usia kalian yang jauh lebih matang. Terima saja. Lakukan peran dengan ikhlas dan indah. Apakah peran itu? Bersikap sederhana dan ber etika yang baik, tetap sopan santun dan ramah pada siapapun. Tentang kegiatan harian, ikut saja sebisanya. Bila bekerja, sampaikan saja hambatannya. Menurut pengamatan saya saat ini istri-istri tamtama jauh lebih mapan dibanding istri perwira karena ia lebih leluasa bekerja menetap. Secara ekonomi jauh lebih bagus stratanya. Namun, apakah lantas istri bintara atau perwira kalian acuhkan? No, tetap hormati sesuai porsi. Kalian cerdas jadi jangan pura-pura tidak paham agar tidak dilibatkan kegiatan. Kelak, ketika sudah berada di atas, kalian akan mengerti, perlakukan ibu-ibu seperti kalian ingin diperlakukan. Itu saja.

Bagaimana dengan istri bintara? Mainkan peran kalian sebagai “asisten” pimpinan alias ketua. Karena bintara adalah penggerak (dalam satuan regu di kompi) maka mainkan pula peran kalian sebagai penggerak ke arah “kebaikan”, menurut atas kebijakan ketua, bukan sebaliknya.

Istri perwira? Jelas perannya lebih besar lagi… sebagai teladan, sebagai penentu kebijakan, maka diharapkan tidak sewenang-wenang. Sekali lagi perlakukan seperti kita hendak diperlakukan.

Lalu bagaimana dengan tugas-tugas di kepengurusan persit bila masuk menjadi pengurus? Lakukan sesuai job description yang sudah pernah saya jelaskan di “Mobil Organisasi”. Bila ada gesekan emosional antar sesama ibu-ibu (yakinnn ini seriiing terjadiii), kesampingkan, tetap selesaikan tugas dengan senang serta rela hati. Demi siapa? Demi diri kita sendiri. Demi suami. Persit tanpa kita toh tetap akan berjalan. Tidak akan ada yang hendak berani membubarkan. Lantas, kenapa kita tidak memberikan kontribusi yang layak dikenang? Kerja terbaik, dari hati.

Pakaian Dinas Persit

Dari beberapa kali saya amati, search terms masuk ke blog saya ini seringkali berkaitan dengan baju atau pakaian seragam Persit. Ya, apa salahnya saya jelaskan secara terpisah meski di artikel berjudul “Buku Panduan Menghadap” sudah dijelaskan bahwa pakaian Persit ada PSK/BSK (Pakaian/Baju Seragam Kerja) ini ada yang khusus hamil juga, PSL/BSL (Pakaian/Baju Seragam Lapangan), PSU (Pakaian Seragam Upacara) yang berbentuk jas sebagai rangkap luar PSK, dan PSR (Pakaian Seragam Resmi).

♡PSK digunakan saat ada pertemuan anggota, rapat pengurus, anjangsana, kunjungan kerja, mendampingi suami korp raport pindah satuan, menghadiri acara organisasi wanita lainnya, dan kegiatan lain yang menuntut kita bereksistensi sebagai anggota Persit KCK

2016-08-07 12.00.41.jpg

2016-06-25 16.35.592016-06-25 16.35.06.jpg

♡PSL dikenakan saat melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan atau hal-hal yang menyulitkan bila kita menggunakan PSK dengan rok (situasional, pertimbangan ketua organisasi).

2016-06-25 16.33.43

*untuk yang berjilbab menambahkan panjang lengan dan jilbab syal seperti PSK*

♡PSU dikenakan saat ada upacara serah terima jabatan dan upacara lainnya termasuk saat ada giat ziarah ke makam pahlawan bahkan bisa digunakan saat peringatan HUT Persit (situasional).

2016-06-25 16.36.33

♡PSR hanya digunakan sekali setahun yaitu saat menghadiri peringatan HUT Persit tanggal 3 April. Itupun bila tidak digantikan perannya oleh PSU.

2016-06-25 16.38.00

 

Setiap pakaian Persit dilengkapi dengan lencana (sekarang wajib lencana timbul), jilbab syal bagi yang muslim, tas hitam–untuk PSR ukuran lebih kecil (sekarang boleh bebas asal sederhana kecuali yang baru menghadap harus bentuk yang seragam), sepatu wedges (sekarang dilarang bersepatu heels apalagi high heels) non croco alias polos berbahan dop (tidak mengkilat), selop non croco berbahan sama dengan wedges untuk melengkapi pakaian PSR (yang berjilbab sebaiknya selop tertutup sedangkan yang tidak berjilbab memakai selop terbuka). Untuk kain yang digunakan seragam pun bervariasi. Dari aldo, sritex, semiwool, dan wool. Untuk warna yang lebih awet dan tidak terlalu panas gunakan bahan semiwool. Aldo dingin namun lekas pudar warnanya ketika disetrika juga sifatnya mudah kusut. Wool dan sritex awet namun relatif tebal sehingga rasanya lebih panas. Ketersediaan pakaian jadi sekarang sudah banyak. Jaman saya menghadap masih jarang penjahit pakaian Persit jadi apalagi PSR. Sekarang sudah gampang dan banyak. Harga jadi bervariasi. Minimal siapkan 300 ribu untuk 1 stel pakaian (lebih hemat daripada beli kain dan menjahitkan sendiri).

Di foto-foto model sengaja saya tutup wajahnya biar ibu-ibu saya engga jadi artis… ehehe… pakaian yang digunakan berbahan aldo-semiwool. Untuk akesesoris seperti tas dan sepatu masih menggunakan ketentuan lama jadi bukan untuk diikuti.

Semoga gambaran ini membantu calon persit baru.

This slideshow requires JavaScript.

Previous Older Entries