Mendadak jadi Duta

Aku masih mengantuk saat turun di bandara Melbourne setelah terbang selama 5,5 jam dari Denpasar. Kulirik arlojiku yang sudah kusetel waktu setempat di pesawat tadi menunjukkan pukul 04.15 am. Meskipun sudah pagi jam biologisku masih empat jam di belakang. Seharusnya aku masih berada di tempat tidur. Kurapatkan jaket tebalku dan mengambil posisi sedekap seraya setengah mati melawan dingin juga kantuk.

Kubaca nama bandara besar ini dan mengambil foto untuk kenangan meski ada peringatan dilarang mengambil gambar, sedikit bandel, bolehlah. Aku masih tak percaya aku berada di sini, Australia. Bersama seorang rekanku dari kampus ungu (julukan untuk tempat kuliahku karena bangunannya berwarna ungu), kami mewakili Indonesia tercinta dalam lomba informatika tingkat internasional. Bisa berada disini saja aku sudah bersyukur. Aku hanya berharap bisa mempersembahkan yang terbaik, bisa memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Menang atau kalah itu urusan nanti.
“Berapa derajat Celcius kira-kira, Hen?” tanyaku pada Hendra sambil meniup udara. Sebuah keasyikan tersendiri melihat uap-uap putih muncul dari mulut.
“Minus satu,” kelakar Hendra sambil membuat tanda minus di keningnya.
“Serius aku, Hen, katanya musim panas tapi kok dingin sekali ya?” sungutku sambil mengucek hidungku yang sudah mulai menunjukkan gejala rhinitis-nya.
“Maaf, Roy… Musim panas di sini jangan kau samakan lah dengan musim kemarau di tanah air kita. Ini kan negara empat musim. Hmm.. kupikir ini masih sekitar 8-10 derajat Celcius. Tapi jangan khawatir, nanti siang pasti sudah mencapai 16 derajat.” jelas Hendra sambil menepuk pundakku, “Kau aman,” lanjutnya dengan sedikit menyeringai seolah mengasihaniku.

Kami keluar dari terminal 2 bandara dan mencari taksi warna kuning seperti yang sering kulihat di film-film barat. Ah, masih saja ini terasa seperti mimpi.
“Please, take us to Travelodge hotel,” kata temanku pada sopir taksi yang berhenti.
“Alright, sir. Where are you all come from? I’m sure you’re not citizen,”
“We are Indonesian, Sir,” jawabku dengan masih menahan kantuk.
“Oh… Bali, right?” Kami hanya serempak menjawab iya karena sedang malas membahas lebih lanjut bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan Indonesia bukan hanya Bali. Nanti bila ada yang bertanya lagi aku pasti akan menjelaskan panjang lebar, janjiku dalam hati.

Dalam perlombaan besok kami mengusung judul “Gamelan Multitouch” yaitu seni tradisional gamelan yang dimainkan secara multitouch di layar sentuh. Kami tahu, kebutuhan akan simulasi musik pada media semacam komputer semakin meningkat. Hal ini dikarenakan akses yang semakin jarang terhadap alat musik tradisional, utamanya gamelan yang memiliki banyak ragam dan sulit dijumpai. Beberapa software developer sudah mengeluarkan aplikasi ini untuk dimainkan di komputer tentunya menggunakan mouse atau keyboard. Namun hal itu tentunya dianggap kurang praktis. Dengan munculnya teknologi multitouch, yaitu pengoperasian layar sentuh dengan banyak sentuhan jari, tidak hanya satu jari seperti pendahulunya, kami berupaya mewujudkan kepraktisan tersebut. Para pengguna nantinya hanya akan menggunakan jari-jarinya untuk menekan layar dan memainkannya bersama. Adapun layar sentuh yang kami gunakan adalah hasil rakitan kami sendiri. Kami tergabung dalam komunitas teknologi DIY (Do It Yourself) multitouch yang menggunakan kombinasi kamera dan infra merah dalam merangkai alat. Seluruh kemampuan multitouch seperti menerjemahkan gerak, rotasi, merubah ukuran bahkan interaksi banyak pengguna bisa diaplikasikan dalam alat buatan kami ini, sehingga selain bisa menciptakan interaksi langsung juga terkesan lebih intuitif dan natural dibandingkan menggunakan aplikasi komputer.

Sesampainya di hotel kami segera memasuki kamar yang sudah dipesan oleh panitia untuk delegasi Indonesia. Beruntung kami menginap di hotel yang dekat dengan stasiun kota tertua, Flinder Street, sehingga akses ke pusat kota lebih cepat.
“Roy, kita jalan-jalan dulu, yuk! Sepertinya banyak hal yang perlu kita telusuri di sini,” ajak Hendra.
“Ayo aja, siapa takut!” sahutku bersemangat. Kami pun tertawa bersama.

Lelah tiada terasa ketika melihat keindahan sungai Yarra yang membelah kota. Bersih dan Indah. Kubayangkan andai sungai-sungai besar di Indonesia seperti ini pasti tidak kalah indah. Kami harus menyeberang jembatan di atas sungai Yarra yang membelah kota untuk menuju Flinder street. Melihatnya di malah hari pasti akan lebih indah lagi dengan pantulan sinar di sungai dan gemerlap lampu-lampu gedung yang menjulang di tepian sungai Yarra.

Kami berjalan dengan leluasa di trotoar. Pejalan kaki bagaikan raja disini. Bebas hambatan. Para penduduk setempat gemar berjalan kaki karena memang tempat tujuan mereka lebih nyaman ditempuh dengan jalan kaki serta karena udara dingin yang memungkinkan keringat tidak bercucuran. Kubayangkan para pejalan kaki di Malioboro pasti sudah mandi keringat bila berjalan dari toko ke toko. Jika beruntung, di pinggir jalan dapat kita temui atraksi seperti akrobat, pantomim, sulap, musik, dan lain-lain. Saat itu kami beruntung bisa melihat suguhan musik dan sulap.
“Hen, coba bayangkan yang dimainkan itu kesenian tradisional kita..” ucapku pada Hendra, temanku.
“Iya, pasti tidak kalah bagus ya, Roy!” seru Hendra menimpali.
“Kita bisa menampilkan tarian, alat musik tradisional, seni bela diri, dan masih banyak lagi. Tarian misalnya Jaranan dari Jawa Timur, alat musik tradisional macam sasando, angklung atau bahkan gamelan. Pasti diminati bila dibuat seatraktif mungkin.” sambungku panjang lebar.

Baru beberapa jam disini sudah merindukan Indonesia. Sungguh, bila berada di luar negeri begini jiwa nasionalisme kita pasti muncul dengan sendirinya, mencuat maha dahsyat. Padahal sebelumnya aku lebih rela menghabiskan waktu menikmati kehidupan modern, seperti main di mall, mengurung diri di kamar dengan PlayStation-ku, dan makan di restoran cepat saji.
“Hei, bisakah kita bergabung dengan seniman di tepi sana untuk mewujudkan impianmu itu?” usul Hendra bersemangat demi melihat seniman perkusi di tepi berlawanan dengan tempat kami jalan.
“Maksudmu kita menari? Yang benar saja kau!” sangsiku.
“Aku serius, kita bisa berkolaborasi dengan mereka dan kita mainkan musik utama dari laptopku. Kita menari jaipongan!” aku pun hanya bengong dan menurut ketika Hendra dengan sigap menarik lenganku mencari tempat menyeberang.

Dalam hal unjuk kebolehan Hendra yang berasal dari Jawa Barat ini memang lihai. Dia pernah belajar menari dan bermain alat musik tradisional. Baiklah, mungkin dalam pertunjukan dadakan yang Hendra maksud aku bisa belajar cepat dengan meniru gerakannya dalam menari.

Hendra menyampaikan maksud kami kepada para pemain perkusi, tentunya setelah berkenalan dan basa-basi sekedarnya. Beruntung mereka menyambutnya dengan antusias dan mengajak kami bergabung. Hendra pun membuka laptopnya dan memperdengarkan irama musik yang akan kami gunakan. Seniman perkusi itu dengan sigap menyelaraskan dengan perkusi milik mereka. Aku hanya bisa diam dan membatin, seandainya kami membawa kostum pasti akan tampak lebih indah.
“Pakai kacamata hitammu, Roy, kita beraksi!” Hendra tidak kurang akal,
“Pakai juga topi ini,” sambungnya sambil mengangsurkan sebentuk topi dari karton yang mendadak Ia beli di toko belakang kami berdiri. Ia pun membentuk dua sosok kuda dari karton tersebut.

Tanpa malu kami bergerak ke sana kemari seperti menunggang kuda. Ya, kami menari jaranan. Aku salut dengan kepiawaian Hendra dalam menelurkan ide-ide kreatifnya. Beberapa pejalan kaki berhenti dan melihat kolaborasi unik kami dengan pemain perkusi setempat. Bahkan, mereka turut meneriakkan “Hei..hei..”

Tidak puas dengan tari Jaranan, Hendra mengajakku menirunya menari jaipong. Beberapa penonton turut serta menari. Hatiku semakin gembira tak kepalang. Aku berjanji akan lebih mencintai Indonesia lagi. Tak lupa aku menyampaikan sedikit orasi, bahwa tari yang kami bawakan berasal dari Indonesia, negara tetangga Australia, tepatnya dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Aku bersyukur mereka terhibur. Tampak beberapa dari mereka adalah warga negara Indonesia yang menuntut ilmu atau bekerja di sini. Seakan bertemu saudara rasanya.

Kamj mencari tempat makan yang menjual nasi setelah kelelahan menari tadi. Makan roti meskipun berbungkus-bungkus belum terasa mengenyangkan perut kami yang terlalu terbiasa menyantap nasi sebagai hidangan utama. Kami sepakat akan menggunakan uang tip hasil menari tadi. Setelah bertanya-tanya kami mendapatkan salah satu rumah makan padang. Ya, masakan padang merupakan salah satu kuliner khas Padang, Sumatra Barat, Indonesia yang kini mulai mendunia. Masakan andalannya adalah daging rendang. Bersyukur bisa mendapatkan masakan lezat itu disini.

Selain masakan padang, aku juga suka makan nasi goreng, mie Aceh, mie ongklok dari Wonosobo, nasi uduk khas Jakarta, gudeg Jogja, pecel Jawa Timur, sate ayam Madura, ayam Betutu Bali, ayam Taliwang, gulai, dan masih banyak lagi. Aku memang pecinta kuliner, dan berwisata kuliner di Indonesia pasti tiada habisnya karena tiap daerah punya kekhasan masing-masing. Tanpa terasa air liurku menetes hanya dengan membayangkan semua.
Tak terasa hari beranjak siang. Australia sedang musim panas. Bisa dipastikan hari berakhir pukul 9 malam dengan dikumandangkannya adzan Isya. Kami bergegas mencari masjid untuk sholat Dhuhur. Tentunya tidak mudah menemukan masjid di sini, tidak seperti di negara sendiri yang memiliki hampir 1000 masjid, bahkan masjid pun bisa jadi obyek wisata religi saking beragamnya. Masjid Lebanis, begitu orang setempat menyebut masjid tempat kami melaksanakan sholat. Disebut demikian karena pemiliknya adalah orang Lebanon.

Aku memutuskan berdiam di masjid sementara Hendra yang sudah kelelahan kembali ke hotel sendirian. Di tengah lamunanku ada seseorang menegurku.
“Excuse me, mister, where are you come from?” seorang remaja tanggung warga setempat menyapaku.
“Oh, I’m from Indonesia,” jawabku simpatik.
“Is it Bali?” tanyanya serupa dengan pertanyaan sopir taksi.
Aku memperbaiki dudukku dan bersiap menjawab. Kali ini aku tidak malas menjelaskan. Semangat nasionalisme memaksaku menjelaskan bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan Indonesia bukan hanya Bali. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga seolah terpisahkan. Namun justru itu yang menyebabkan Indonesia kaya, baik kaya keindahan alam maupun budaya. Akupun menjelaskan bahwa keindahan Indonesia tidak hanya bisa dinikmati di Bali, pulau seribu pura itu.

Untuk wisata pantai, misalnya, semua pesisir di tiap-tiap pulau di Indonesia memiliki pantai yang indah dan memiliki ciri khas masing-masing. Pantai selatan Jawa khas dengan ombaknya yang menggulung indah menghantam karang-karang terjal nan kokoh. Aku teringat perjalanan wisataku ke pantai Klayar Pacitan yang dijuluki seruling laut saking indahnya suara hasil dentuman ombak ke karang yang ditiup angin, merdu sekali. Sedangkan pantai utara ombak lebih landai dan menurutku kurang begitu menantang. Pantai-pantai di pesisir Sumatera sejenis dengan pantai utara Jawa. Beberapa pantai di Indonesia bagian timur memiliki keindahan coral laut dan aneka binatang di dalamnya. Airnya masih sangat jernih sehingga tembus pandang.

Untuk wisata alam, Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang indah, taman safari di Bogor dan Prigen, air terjun, gua, pegunungan dan dataran tinggi yang sejuk, gunung berapi, danau, bahkan tempat rekreasi buatan banyak juga didapat misalkan museum, kebun binatang, taman bermain, wisata budaya seperti pertunjukan Ramayana Ballet di Prambanan, pertunjukan di monumen Garuda Wisnu Kencana Bali, situs candi serta peninggalan purbakala. Jelasku antusias yang ternyata didengarkan tidak hanya oleh bocah penanya tadi. Beberapa orang yang memilih tinggal di serambi masjid menemaniku sembari mendengarkan ceritaku tentang negeriku. Mereka antusias pula mendengarkan ceritaku. Akupun menambahkan selain kekayaan obyek wisata Indonesia juga memiliki kekayaan budaya adat suku karena kontur geografis Indonesia yang terpisah sehingga berkembanglah adat budaya sendiri-sendiri. Berbagai cerita rakyat pun banyak tercipta. Permainan tradisional macam dakon, cublak suweng, gobak sodor, dan masih banyak lagi merupakan permainan unik yang harus dilestarikan. Aku bahkan mempraktekkan cara bermain cublak suweng dan merekapun tersenyum heran bercampur kagum. Remaja tanggung tadi sepertinya tidak puas dengan penjelasanku. Ia bahkan ingin berkunjung sendiri ke Indonesia bersama teman-temannya. Akupun dengan semangat menyambut. Kutawarkan ke Yogyakarta, tempat tinggalku, bila mereka berkenan mampir. Mereka berjanji suatu saat akan berkunjung.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Saatnya Ashar. Kami bangkit dan sholat berjamaah bergabung dengan jamaah lain yang baru datang. Aku puas dengan penjelasanku tadi dan percaya aku akan melalui hari presentasi esok dengan baik.

Sang fajar sudah menampakkan diri. Ah, cepat sekali malam berlalu. Setengah hati aku beranjak dari tempat tidur dan mengajak Hendra bersiap. Pihak panitia menghubungi kami agar datang lebih awal untuk pengecekan alat yang baru sampai dari Indonesia. Maklum, alat kami cukup besar sehingga harus dikirim terpisah lewat jasa pengiriman paket.

Setelah pengecekan alat dan memastikan alat kami berfungsi dengan baik kami berlatih terlebih dahulu. Kebetulan kami mendapat urutan tampil nomer 2, setelah delegasi dari Sri Lanka. Baiklah, masih ada waktu untuk sholat Dhuha sembari menenangkan hati yang mulai dag dig dug.

Gamelan adalah salah satu alat seni di Indonesia yang berasal dari Jawa. Begitu ungkapku mengawali presentasi. Gamel artinya memukul atau menabuh. Gamelan biasa dimainkan untuk mengiringi tarian ataupun wayang. Selain di Jawa, alat musik ini dimainkan pula di Madura, Bali, dan Lombok. Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan gaya militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini. Gamelan hanyalah salah satu dari sekian banyak alat musik khas di Indonesia. Kami pilih gamelan karena banyak ragam yang dimainkan sehingga penggunaan multitouch akan terasa manfaatnya. Ragam tersebut antara lain dengung, gong, kendang, kenong, dan saron.

Aku dan Hendra mempraktekkan cara memakainya pada meja multitouch kami yang sebenarnya kurang praktis karena berukuran 100 cm x 60 cm x 70 cm dengan memainkan lagu gambang suling. Lagu gambang suling bermakna sebagai ungkapan kekaguman terhadap instrumen suling yang ditiup dengan merdu dan membentuk harmonisasi dengan instrumen lain (kendang dan ketipung). Hadirin dan juri mengangguk-angguk dan bertepuk tangan meriah. Salah satu dewan juri yang ternyata melihat tingkah kami di jalanan kemarin siang menantang kami untuk menari lagi. Dengan canggung kami mencoba menari yang kami bisa, jaranan dan jaipongan. Hadirin tampak terhibur. Kami pun puas sudah mempersembahkan yang terbaik.

Acara berjalan hingga malam, kami bergabung dengan delegasi dari negara-negara lain. Aku kagum dengan hasil karya mereka yang jauh lebih bagus dan inovatif. Dari delegasi Malaysia mempersembahkan karya yang serupa namun mereka menggunakan layar dan alat yang lebih kecil dan mudah dibawa. Aku bahkan sudah bisa menebak siapa yang akan menang di kategori multitouch.

Dan benar saja, delegasi Malaysia berhasil menyabet juara. Andaikan alat kami lebih kecil mungkin kami bisa menang karena kami yakin konsep yang kami usung tiada bandingannya. Tapi kami terkejut saat nama tim kami, Violet Boys, dipanggil ke atas pentas. Ah, ternyata kami mendapat juara favorit karena berhasil menghibur hadirin dan dewan juri. Kami pun tersenyum bangga. Inilah puncak dari kemilau warna-warni Indonesia yang tak henti kami tebar setibanya kami di Melbourne hingga puncak acara. Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia yang hadir memberi ucapan selamat dan mempersilakan kami mampir ke kantor sebelum pulang. Ya, kami membayangkan hal yang lebih besar dan indah dari ini. Aku cinta Indonesia.

Advertisements

Pantang Berdiam

Cendhika. Iseng kuketik nama itu di search engine yang terpampang di layar laptopku. Maka keluarlah berbagai link yang menghubungkan dengan kata kunci yang kuketik, mulai dari website pribadi, twitter, facebook, youtube, behance.net, blogspot, fotolia, instagram, iPhonegram, foursquare, flickr, 500px, dan masih banyak lagi. Aku tersenyum. Rasanya dalam tiap sosial media atau media publikasi lain namanya selalu ada. Eksis adalah satu kata yang mewakili keberadaan Cendhika.

Ia seorang fotografer, desainer web, desainer kaos, juga penulis. Intinya, Ia seorang enterpreneur. Karena bagiku Ia memiliki 4 kategori unsur sesuai paparan Peggy dan Charles bahwa seorang enterpreneur haruslah memiliki kemampuan, keberanian, keteguhan hati, dan kreativitas.

Dalam mengembangkan usaha fotografi, Ia mampu belajar menggunakan kamera DSLR (Digital Single Lense Reflect) milik paman yang saat itu baru mampu membeli namun belum bisa memakai. Ia berani memampang iklan di media seolah-olah Ia adalah fotografer handal dan teguh hati menjalankan usaha fotografi rintisannya itu hingga memiliki nama Overloop yang cukup dikenal di Yogyakarta dan sekitarnya. Akhirnya, Ia bisa membeli 2 kamera DSLR kepunyaan sendiri. Keseluruhan usahanya di bidang fotografi adalah kreativitas yang luar biasa menurutku karena Ia tidak memiliki dasar ilmu di bidang itu. Masih berhubungan dengan dunia fotografi, Ia mencoba mendesain kaos berbau fotografi bernama Tee Shot kemudian menyerahkan urusan sablon dan pemasaran pada temannya yang pandai dalam pemasaran. Dalam hal ini Ia mampu menciptakan peluang usaha untuk temannya.

Status desainer web atau istilah kerennya web designer juga tidak instan Ia dapatkan. Proses hunting lomba dan proyek melalui internet rajin Ia lakukan. Dari proyek gratisan hingga ratusan bahkan ribuan dollar. Ya, kreativitas dan keteguhannya dalam bidang ini membuahkan hasil yang membanggakan. Ia mendapatkan pekerjaan tetap sebagai desainer web sebuah perusahaan di Amerika. Sudah dapat dibayangkan berapa Dollar yang Ia kantongi per minggunya. Belum lagi proyek freelance yang masih kerap Ia lakukan bila pekerjaan utama sudah Ia selesaikan.

Sebagai penulis, Ia adalah penulis amatir. Tulisannya di blog pribadi berisi paparan kegiatan fotografi mulai dari teknik membidik hingga proses suntingnya dan deretan perjalanan hunting serta perlombaan yang pernah Ia lakoni. Selain itu, blog dengan ribuan pengunjung itu juga kerap Ia isi dengan tulisan ceramah agama yang Ia hadiri. Ternyata Cendhika juga religius.

Melihat kemahirannya dalam berbagai bidang rasanya ingin aku menelusuri kembali masa lalu dan masa kecilnya. Adakah hubungan antara kesuksesannya sekarang dengan tingkah polah masa kecilnya?

***

Cendhika lahir 26 tahun yang lalu, lewat 1 bulan dari perkiraan. Kiranya kuasa Allah menepatkannya pada hari pendidikan nasional dan tetap dalam kondisi sehat wal afiat. Ia terlahir dari pasangan suami istri yang keduanya guru. Wajar bila namanya bernafaskan pendidikan. Ya, Cendhika yang berarti pintar. Aku yakin orangtuanya sama sekali tidak menyangka anak ini akan menjadi pengusaha, bukan guru atau akademisi seperti mereka.

 

Mengalah untuk Kakak

Langkah kakinya yang masih ragu memaksa setiap orang mengawasinya. Dengan khas anak baru belajar berjalan yang antusias dan senyum menghias wajahnya, Ia mendorong kursi ke segala arah semampunya. Si kakak yang usil pun dengan gemas ikut mendorong kursi itu hingga si adik terpental dan membentur pintu. Sontak tangis memecah keheningan rumah besar yang hanya dihuni 2 orang wanita dewasa, 1 orang gadis cilik dan 1 orang bayi lelaki itu. Anehnya yang menangis adalah si kakak yang merasa bersalah. Si adik hanya mengelus-elus dahinya yang benjol sembari meringis dan terus mendorong kursi. Langkahnya justru terhenti karena tangis si kakak dan Ia pun ikut menangis. Kedua wanita dewasa yang terdiri dari ibu kedua anak dan seorang pembantu tergopoh menenangkan keduanya. Tak berapa lama si adik diam dan justru mencium si kakak. Lucu dan menggemaskan. Mereka berdua pun bermain bersama kembali. Si adik mengalah untuk tidak menangis.

***

Ibu dan kedua kakak beradik Cendhika tinggal di rumah hanya ditemani seorang pembantu sementara Bapak bekerja jauh di luar kota. Dulu, seorang guru baru harus bersedia ditempatkan dimanapun. Itulah sebabnya keluarga kecil ini harus rela terpisah hingga beberapa tahun.

Tempat tidur di rumah itu tidak cukup besar untuk ibu dan 2 orang anak balita aktif. Si kakak yang manja tidak mau berpisah dari pelukan ibunya. Tanpa ingin membuat pertengkaran, si ibu bermaksud tidur di tengah dan berlaku adil bagi kedua anaknya. Namun si kakak ngambek karena merasa diduakan. Tak diduga dengan polosnya si adik berkata, “Aku tidur di kaki saja, ya…”, yang maksudnya adalah tidur melintang tegak lurus dengan kaki ibu dan kakak. Tangis haru sang ibu membuncah dan segera memeluk kedua buah hatinya. Dan begitulah adanya, si adik mengalah kembali untuk si kakak.

***

Lazimnya, seorang Ibu membeli baju baru untuk buah hatinya. Satu, dua, tiga, dan seterusnya tergantung jumlah anak. Namun ada pula masanya ibu hanya teringat pada anak pertama dan berpikir baju si kakak ada yang masih bagus dan bisa dikenakan si adik. Praktis dan hemat. Itu sering terjadi pada kakak beradik Cendhika. Ibu pulang dari belanja dan memberikan baju baru untuk kakak yang bersorak gembira. Si adik pun berucap polos, “Nanti adik pakai baju kakak yang sudah kekecilan ya, Bu.” Tanpa ba bi bu sang ibu memeluk dan mencium si adik seraya minta maaf. Tanggapan adik justru di luar dugaan, “Adik mau kok pakai baju bekas kakak. Bagus”, seraya tersenyum.

***

Adik mengalah sampai sudah dewasa. Bahkan untuk tempat kuliah Ia rela dekat dengan si kakak yang sedang sakit dan setia mengantar-jemput berobat padahal jarak tempat kuliahnya, rumah singgah, dan tempat kuliah si kakak sama sekali tidak bisa dibilang dekat. Butuh waktu 2 jam untuknya tiap pagi dan sore hari menjalani aktivitas itu. Tapi Ia tidak pernah mengeluh. Sama sekali tidak. Ia pun dengan sukarela melakukan itu semua. Prinsipnya Ia mengalah bukan untuk berkorban tapi untuk berani menjadi pemenang atas egonya sendiri. Hal ini sangat dibutuhkan oleh enterpreneur.

Enaknya ngapain gini ini?

Liburan telah tiba, Cendhika kecil bukannya senang, namun malah susah. Anak ini bukannya tidak bisa diam. Ia hanya tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Setiap kehabisan ide apa yang harus Ia lakukan maka Ia akan bertanya dengan menggemaskan sembari melipat tangannya dan menghempaskan diri di kursi, “Enaknya ngapain gini ini?” Kalimat ini menjadi “trade mark” untuknya hingga saat ini dengan pengubahan kosa kata karena perbendaharaan kata yang bertambah.

Setiap pertanyaan itu terlontar dari mulut mungilnya, sang Ibu terpaksa memutar otak untuk memberinya kesibukan. Saat Ia berusia 2-3 tahun maka kesibukan yang Ibu beri mulai dari kegiatan memukul kaleng bekas, menyusun balok, bermain peran, naik mobil-mobilan, dan membelikan mobil plastik kecil beraneka ragam yang bisa berjalan. Karena kecil mobil-mobil itu diberi nama “si unthul”. Ibu juga seringkali mengajak Cendhika ke toko buku untuk membeli buku-buku cerita bergambar untuk Ia pilih dan Ibu bacakan ceritanya. Itu semua dilakukan bila Ia bosan bermain dengan si kakak atau bila si kakak tidak mau mengajak adiknya bermain.

Bukan Cendhika bila Ia tidak cepat bosan. Dalam sekejap Ia bosan bermain yang monoton. Akhirnya, saat berusia 3-5 tahun ibu memiliki ide untuk memberinya alat menggambar. Dengan crayon atau pensil warna dan media kertas Ia betah sekali duduk diam. Dari situ, terlihat bahwa Ia mampu bahkan pandai menggambar. Seiring berjalannya usia Ia pun bereksplorasi dalam penggunaan alat gambar. Dari pensil warna, crayon, spidol, cat air, cat minyak, cat dinding, pylok pernah Ia coba. Dari menggambar di dinding kamar, kertas, kaos, kaca sampai dengan tembok fasilitas umum Ia gunakan untuk menggambar grafiti atau mural.

Ketika Ia bosan mencorat-coret, Ia kembali bertanya gemas pada ibu, dan ibu pun selalu memberi solusi kreatif. Salah satunya adalah merekam suara dalam kaset. Jaman itu belum ada Hand Phone atau alat MP3 canggih untuk merekam. Dengan tape recorder dan kaset pita kakak beradik Cendhika beraksi. Mereka merekam cerita-cerita imajinatif yang lucu dan tentunya konyol. Masih teringat cerita lucu yang Cendhika pernah rekam di kaset. Sebuah cerita imajinatifnya tentang dinosaurus dan tentunya dengan gaya “pelo”-nya,

“Pada suatu hali ada dinosaulus blontosaulus dan tilanosaulus. Mereka belpelang…” tanpa mengalihkan mikrofon Ia bertanya pada bapak, “Tilanosaulus sama blontosaulus menangan mana?”

“Tyranosaurus, dek…” jawab Bapak.

“Ya enggak… kan besalan blontosaulus…. aeeekk (sendawa keras),” yang mendengar pun tertawa terbahak-bahak.

Lapo guyu[1]? Menangan Blontosaulus ya…” pungkasnya dan segera menyerahkan mikrofon pada kakak untuk ganti bercerita dan Ia pun pergi mencari permainan yang lain.

Ya, Cendhika memiliki pola pikir yang anti mainstream dan selalu menanggapi segala sesuatu bahkan kemustahilan pun menjadi hal positif dan solutif. Ia memilih jalan cerita Brontosaurus si herbivora (pemakan tumbuhan) yang menang karena badannya besar meski sebenarnya Tyranosaurus alias T Rex yang menurut sejarah adalah hewan karnivora (pemakan daging). Menang atau kalah bukanlah sebuah keniscayaan. Bisa jadi dalam pikiran si kecil Cendhika Brontosaurus menang karena ada pohon besar yang bisa ia tumbangkan dan tepat mengenai kepala T Rex atau T Rex jatuh ke jurang dan akhirnya mati. Siapa tahu, bukan?

Setelah bosan dengan cerita, Ia ingin bermain sepeda. Alih-alih hanya belajar mengendarainya, Cendhika kecil ikut-ikut memegang alat bengkel untuk memodifikasi sepeda BMX yang Bapak belikan untuknya. Hal pertama yang Ia lakukan adalah mengecat sepedanya dengan cat Chroom (dulu populer dengan istilah krum-krum-an). Ini terjadi saat Ia duduk di kelas 4 SD. Sepeda hasil kreasinya itu pun nantinya Ia jual dan Ia memakai sepeda bekas kakak yang sudah Ia modifikasi sendiri.

Ia sempat juga bereksperimen dengan magnet dan menarik mainan kapal “othok[2]” miliknya setelah diajari Bapak tentang kegunaan magnet. Ia pun mencoba kapal kertas yang ditarik magnet juga. Seru sekali Ia bermain dengan magnet.

Pernah juga Cendhika kecil ikut-ikutan kakak-nya berlenggak-lenggok ikut fashion show sampai jalannya bahkan bicaranya seperti perempuan. Bahkan Ia punya nama keren saat bermain peran dengan kakaknya. Namanya “Rita”. Entah dari mana dia dapat dan mengapa memilih nama itu.

Bila Ia terlampau lelah dengan kegiatan hariannya, Ia mencari kenyamanan dengan mengatur posisi tidur menempel ke dinding agar badannya dingin. Ketika ditanya apa yang Ia lakukan maka jawabnya, “Mengambil tenaga dingin,” sembari menyelipkan sebagian tubuh di bawah kasur dan menempelkan sebagian tubuh ke dinding. Ada ada saja.

Saat Ia lebih besar lagi Ia mulai belajar bermain alat musik. Itu terjadi ketika pertanyaan “Apa lagi yang bisa kulakukan?” memenuhi otak lateral-nya. Kusebut Ia memiliki kelebihan di kemampuan lateral otak kanan karena saking kreatifnya. Mulai dari bermain gitar, bass, drum, dan piano. Hanya satu kelemahannya di bidang musik. Suaranya tidak begitu bagus. Mungkin karena Ia “pelo”, ya? Walaupun begitu Ia tidak pernah menyerah untuk belajar mengucapkan huruf “r” sampai akhirnya “pelo”-nya sudah tidak begitu kentara.

Saking tidak bisa diamnya Ia juga aktif di kegiatan organisasi sejak duduk di Sekolah Dasar. Mulai dari Pramuka, PMR, ekstra musik, dan OSIS. Begitu banyaknya kegiatan sampai Ia sama sekali lupa untuk belajar. Anehnya Ia selalu santai dan nilai bagus selalu Ia kantongi. Bukannya belajar saat akan ujian, Ia kerapkali berucap pada Ibu atau kakaknya kurang lebih demikian, “Daripada Aku diam belajar, lebih baik bacakan untukku apa yang harus aku pelajari dan aku akan mengerjakan ini,” sembari menunjuk apa yang akan Ia lakukan.

Enterpreneur Kecil

Bakat Cendhika menjadi seorang enterpreneur sudah tampak sejak Ia masih kecil. Secara sederhana, entrepreneur adalah orang yang menciptakan pekerjaan yang berguna bagi diri sendiri. Entrepreneur berasal dari kata entrependere (bahasa Perancis) yang artinya sebuah usaha yang berani dan penuh resiko atau sulit.

Entrepreneur diartikan pula sebagai seseorang dengan kecakapan mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Definisi mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas menurut Ciputra terdapat tiga makna utama. Pertama adalah terjadinya sebuah perubahan kreatif yang berarti dari kotoran dan rongsokan yang tidak berharga dan dibuang orang menjadi sesuatu yang memiliki nilai yang lebih besar. Kedua hasil akhir dari perubahan memiliki nilai komersial, bukan hanya dianggap sebagai karya yang hebat namun juga memiliki nilai pasar yang tinggi. Ketiga untuk mendapatkan emas seorang entrepreneur bisa memulainya dari kotoran dan rongsokan yang tidak bernilai, dengan kata lain dengan modal nol[3].

Cendhika suka sekali mengotak-atik barang bekas sejak kecil. Setelah mencoba berkesperimen dengan kapal “othok” dan magnet, Ia memakai magnet bekas yang sudah patah milik Bapak meletakkan bagian kecil di perahu kertas dan menggunakan magnet patahan yang lebih besar untuk menarik perahu kertas buatannya. Hal ini Ia jadikan tontonan untuk teman-temannya yang pastinya belum paham tentang magnet. Ia buat sebagai aksi sulapan dan tentunya bukan hal gratis. Ini adalah salah satu contoh aksi enterpreneurship-nya penjelasan dari definisi pertama.

Hobinya menggambar membawanya pada ide untuk menjual hasil kreasinya. Ia suka menggambar wajah dan atau sesuai permintaan si pembeli gambar pada media kertas gambar. Ia jual seratus hingga lima ratus rupiah pada kawan-kawannya. Sungguh ide yang unik. Dalam hal ini Ia mengambil makna kedua dari definisi enterpreneur menurut Ciputra.

Selain menjual hasil karyanya Ia juga memiliki ide kreatif untuk menyewakan beberapa buku cerita koleksinya yang sudah bosan Ia baca bahkan menyewakan buku-buku koleksi Bapak dan kakak. Bukannya dipinjamkan saja secara percuma, Ia meminta uang sewa Rp. 25,00 per buku per tiga hari. Terinspirasi dari menyewa buku di perpustakaan ketika Ia sudah masuk SD (Sekolah Dasar). Ia mengambil makna enterpreneur dari definisi ketiga.

Saat Ia bisa membuat hasil karya lain seperti gelang dari tali yang dijalin, Ia pun menjualnya. Begitu pula dengan sablon kaos yang Ia lakukan dengan cat kayu, bukan cat khusus sablon kaos. Kreativitas besar seorang anak kecil. Tanpa Ia sadari kesemuanya membawanya pada mimpi dan pekerjaan masa depan yang besar dan menjanjikan.

Ketika Ia sudah bergelut di dunia Organisasi, Ia mulai berpikir untuk mencari sponsor-sponsor bila Ia akan mengadakan perhelatan. Di kota kecil saat itu belum populer ada sponsor. Kegiatan selalu diadakan kecil-kecilan dan apa adanya. Namun Ia tidak ingin demikian. Meski mendapat pertentangan dari pembinanya, Ia bersama teman-temannya membuat proposal dan bergerilya sampai ibu kota propinsi dan bisa mendapat sponsor dari perusahaan-perusahaan disana bahkan dari operator seluler dengan jaringan terluas di Indonesia. Ia menjadi pembuka jalan bagi adik-adiknya.

Menggapai Satu per Satu Mimpi

Ketika masih kecil anak-anak pasti ditanya apa cita-citanya. Lalu apakah cita-cita dan mimpi Cendhika? Laiknya anak-anak yang lain, Ia akan menjawab menjadi pilot, menjadi angkatan laut, pelukis, dan akhirnya Ia bercita-cita ingin bekerja santai tapi bayaran tinggi.

Aku tak pernah menyangka bahwa setiap cita-cita dan mimpinya akan Ia tuntaskan satu per satu. Dengan kata lain setiap apa yang Ia inginkan selalu di- dan ter-penuhi. Seolah alam raya turut meng-amin-i apa maunya.

Diawali dari demam yang selalu muncul bila Ia ingin sesuatu dan keinginan tidak terpenuhi, orang terdekatnya tidak pernah bisa tidak menuruti maunya. Bahkan Ia sendiri tak kuasa untuk tidak menuruti gerak hatinya. Herannya keinginannya selalu aneh alias di luar hal umum. Saat Ia ingin sepatu yang ada lampunya dan bisa menyala saat berjalan, misalnya, Ia demam dan menggigil sampai mengigau. Padahal hari itu adalah hari Raya Idul Fitri sehingga sudah dapat dipastikan toko-toko sepatu tutup. Akhirnya, Ia harus rela menunggu esok hari dan saat sepatu sudah Ia pakai demamnya sama sekali reda. Apakah ini yang disebut fever of unknown origin (demam tanpa sebab jelas)?

Cendhika ingin sepeda, Cendhika ingin punya gitar di usia-nya yang masih belia, Cendhika ingin ke luar negeri, Cendhika ingin pekerjaan yang santai tapi bayaran tinggi, Cendhika ingin punya kamera profesional sendiri, Cendhika ingin punya komputer canggih, Cendhika ingin punya mobil, bahkan sekarang Cendhika ingin punya rumah sendiri. Semuanya terwujud!

Ia selalu memikirkan apa yang Ia ingini, meyakini Ia akan bisa memenuhi. Kekuatan pikiran sangatlah mempengaruhi jiwa dan raganya untuk bergerak memenuhi semua dan ternyata itu semua sudah Ia lakukan sejak Ia kecil. Setelah aku belajar Ilmu Kedokteran aku mengerti bahwa gerak fikir yang terlalu tinggi akan mempengaruhi metabolisme tubuh untuk meningkat pula dan jadilah suhu tubuh meningkat. Demam!

Imbang Dunia-Akhirat

Selain getol membuka usaha dan mencari uang, Cendhika tidak pernah melupakan akhiratnya. Ia belajar mengaji kitab suci dan menghadiri ceramah-ceramah agama. Ia pun tidak pernah melupakan sedekah.

Kegemarannya sedekah sudah ada sejak Ia kecil. Pada orang yang mampu Ia berusaha bisa mendapatkan sepeser uang dengan “bisnis”-nya dan pada orang yang tidak mampu Ia gemar mengulungkan sebagian Rupiah yang Ia kumpulkan. Setiap ada pengemis lewat, Ia paling rajin memberi. Dulu ada tuna wisma yang amat kotor, baunya pun sudah bisa tercium dari beberapa meter. Tiap bau itu sudah bisa menyengat hidung pasti orang-orang sekitar tahu Ia akan lewat dan segera pergi menutup pintu. Cendhika pun tak ketinggalan berlari ke dalam rumah. Kupikir Ia takut tapi ternyata Ia mencari recehan dan segera berlari menyongsongnya, bahkan jajanan-nya Ia berikan untuk si kakek tua berbau khas itu. Tiap hari Ia tahu kakek itu lewat, reaksi sama Ia tunjukkan. Subhanallah.

Saat ini, Ia pasti menyisihkan keping-keping Dollar-nya yang tidak sedikit untuk membantu orang-orang kurang mampu mulai dari panti asuhan sampai korban bencana. Ia pun membuka peluang usaha untuk rekan-rekan yang membutuhkan. Prinsipnya, sedekah akan membuka pintu rejeki. Itu tidak bisa dielakkan lagi.

Kataku tentangmu

Tidak bisa diamnya anak-anak adalah baik. Karena tidak bisa diam bisa jadi pertanda seorang anak memiliki letupan ide dan energi yang berlebih untuk disalurkan serta potensi untuk dikeluarkan.

Tidak bisa diamnya remaja dan dewasa juga belum tentu salah. Karena orang dengan kreativitas tinggi dan tentunya lateralitas otak kanan pastinya tidak bisa hanya diam dan duduk manis. Mereka harus bergerak untuk melampiaskan segala kecamuk di kepala. Ya, apalagi kalau bukan hasil pemikiran mereka.

Dalam perjalanan hidupnya, Cendhika mampu mengasah semua potensi yang ada dalam dirinya sedari Ia kecil. Dulu, aku iri padanya. Aku sangat iri pada kelebihan-kelebihannya. Seringkali aku protes pada Tuhan kenapa aku tidak bisa sehebat dia. Namun sekarang aku justru sangat bangga padanya. Aku bangga bisa menjadi saksi hidupnya. Aku bangga menjadi kakaknya sebagaimana Ia bangga menjadi adikku meski aku tak bisa sehebat dia. Aku bangga padamu, Adikku. Teruslah berkarya dan menginspirasi sesama.

[1] Bahasa Jawa, artinya kenapa tertawa?

[2] Bahasa Jawa, untuk sebuah kapal mainan dari kaleng bekas yang diberi tenaga dari minyak tanah yang disulut api dan bunyinya othok-othok. Sekarang kapal mainan ini tinggal sejarah.

[3] http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneurship/mendalami-arti-entrepreneur

Di ujung penantian..

mulai meraba sisi terdalam sebuah rasa…

kutemui firasat…

pahit yang akan kutelan.

bias-bias harapan mulai sirna…

tergantikan isakan tangis tak bertuan…

dan

rindu yang tiada kesampaian,

serpihan kenangan yang buyar dalam kehampaan..

 

rasa ini sama seperti sebelum-sebelumnya…

sebelum aku kehilangan,

sebelum kesedihan itu menjadi nyata…

dan

menjadi mimpi buruk berikutnya

 

di ujung penantian…

aku ragu

bila semua akan baik-baik saja…

dan

menjadi lebih indah…

Yogyakarta, 6 April 2011 (23.30 WIB)

Mencintai apa adanya..

“Jika sekarang Anda memiliki seorang yang sangat dicintai, ingatlah selalu kebaikannya, sayangilah segalanya, agar segala perasaan yang  indah menjadi nyata.”

Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak  seberapa. Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku  bersahabat dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia  adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut.

Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami  semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada  suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, “Saya telah  mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan  saya tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?”  Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.

Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari  pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan  dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia  menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga  mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9   pagi hingga jam 5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan.

Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam  perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah  anjing di jalan raya, mendadak menikung tajam…..

Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di  rumah sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur  saya. Mereka lantas memanggil dokter.

“Pa?” saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar.  Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan  memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan  yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.

Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari  setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat  bersuara?  Ayah dengan sedihnya berkata, “Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka,  untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik.”

“Saya tidak mau!” saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut  lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak  bersuara. Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang  didambakan waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini.  Saya tidak lagi  keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai  berpikir untuk pindah rumah. Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang  diketahui hanyalah saya telah membatalkan pertunangan kami, setiap telepon  darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan  batu yang tenggelam ke dasar lautan.

Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa  yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk  berkomunikasi dengan orang lain.

Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja  sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan  terdengar tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan  langkah kakinya yang berat, pergi membuka pintu.

Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di  depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan  berjalan ke hadapanku, dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata,  “Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun  ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi
untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu  merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan  mencintai orang lain, marilah kita menikah!”

———————-oooo———————

my notes:

lupa darimana kudapat cerita ini… semoga pengarangnya ikhlas aku menuangkan karyanya di sini semoga bisa dinikmati….

Cinta Itu Telah Teruji

“ Yuan”

“ Anto”

Kami pun bersalaman erat. Saat itu hujan turun cukup deras. Perkenalanku dengan Anto,  cowok yang belum pernah aku kenal itu,  menghangatkan suasana.

“ Namamu kayak cowok ya? Y-U-A-N. lengkapnya siapa?”

“ Idih… baru kenal mau tahu aja. Apalah arti sebuah nama.”

“Ada!Kalau namamu cikrak apa kamu gak malu? Atau… cempluk…atau… ha…ha…ha…”

“ Ketawa aja lu! Kayak namamu paling oke aja.”

“Ya jelaslah namaku oke ini kan pemberian ortu….”

“Ya pastilah pemberian ortu….bla…bla..bla…”

Dan kamipun terus bertengkar hanya karena nama, hingga akhirnya hujan pun reda dan kami pun berpisah.

*  *  *  *

ting… ting… ting…” irama instrument gubahan mozart mengalun dari grand piano di ruang depan.

“ Ah, pasti murid ayah tuch.” pikirku.

Tak seperti biasa, aku melangkah ke depan, tertarik hatiku mengetahui siapa “pemain mozart itu”.

“ Wow! Anto!” seruku dari kejauhan setelah kutahu siapa

“ Oh … hai cowok, ini rumahmu to?nggak nyangka kita bertemu lagi, kebetulan sekali.”sapa Anto sok akrab

“Hei, aku cewek tulen tahu.”protesku

“Nggak! Aku nggak tahu, cewek kok potongannya kayak cowok dari kepala sampa kaki.”elak Anto

“ Ye… tapi aku ini cewek , asli 100%” bantahku tak mau kalah. Dan sebelum dia sempat membalas….

“Lho, Yuan….kamu sudah kenal ya sama Anto?”Papa muncul tiba-tiba

“Eh, iya om, kami bertemu di halte bus tempo hari…saya pikir dia cowok, Om..”

“Ha..ha..ha.. Entah Yuan itu sejak ditinggal mamanya jadi maskulin gitu..”

“Ah..Papa…jangan buka kartu gitu dong!!”rajukku pada Papa tersayang

Ya…..memang semenjak ibu pergi aku hanya berkiblat pada Papa yang betah sekali mengasuhku seorang diri. Maklum…ibu pergi saat usiaku masih lima tahun dan aku amat mengetahui bahwa papa amat mencintai mama…

* * * * *

Sejak saat itu kami sering sekali bertemu di rumahku, semakin hari semakin akrab. Hingga suatu saat…………………………………………

“ Yuan, kamu liat bintang di atas sana?”

“ Ya lihat lah, aku nggak buta kok!”

“ Ssst! Ada hujan meteor, sebut satu harapanmu.”

“ Eng… aku berharap……….”

“ Hush!” potongnya “ Jangan keras-keras!”

“ Oke!” Kemudian aku memejamkan mata.

“ Sudah?”

“Hh…,” jawabku

“ Apa yang kau pinta?”

“ Makan enak!” jawabku ringan.

“ Kamu gak bisa serius ya?”

“Dua rius malahan! Aku lapeeeerrrr, Anto.”

“Yuan kamu tahu apa yang ku harap,” tanyanya dengan serius tanpa peduli dengan jawabanku.

Menghunus matanya menatapku dan akupun tak bisa becanda lagi. Ah… ada apa ini? Aneh sekali….

Kemudian sembari menggenggam tanganku, ia berkata,

“ Aku ingin mencintaimu dan dicintaimu.”

Terkejut aku mendengarnya, tak percaya!!! Anto yang selama ini selalu mencari masalah denganku ternyata…. Ha?! Aku terpana.

“ Yuan maukah kau?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“ Haruskah?” tanyaku tak yakin.

“ Ya! I need you.”

“ Aku… a…ku… aku…” dengan susah payah, saking gugupnya aku berusaha mengiyakan. Tapi didetik saat aku akan mengucap……………….

“ Ha…ha…ha…!!! I’m just kidding, girl!!! Mana mau aku sama tomboi kayak kamu!”

Merah padam mukaku dibuatnya. Malu bercampur kesal, aku berlari sekuat tenaga dengan air mata terus berlinang. Tak kuhiraukan teriakannya memanggilku. Hingga pada detik berikutnya ia telah sampai padaku dan meraih tubuhku dalam dekapnya.

“Maafkan aku Yuan, aku… hanya takut kata yang terucap dari mulutmu adalah penolakan.”

“ Hix…hix…hix… kamu te…ga Anto!Aku… aku benci kamu!!!!” teriakku sambil berlari kembali.

Sesampainya di rumah, ha-peku terus berbunyi kubaca ‘callernya’ Anto, Anto dan Anto. Jengkel kumatikan ha-pe itu dan aku pun terlelap. Tak kuhiraukan panggilan Papa mengajakku makan malam….

Dini hari aku terbangun, segera kuambil air wudhu dan menghadap-Nya, tahajjud.. Tuhan … selalu tampakkan wajah Anto dalam anganku. Ah… muak sekali!!!Benarkah ini rasanya cinta? Benarkah aku mencintainya? Apa sih arti cinta itu? Belum pernah aku merasainya…dan akankah cinta itu berakhir seperti cinta papa dan mama? Ah….

* * * * *

Setelah merenung beberapa hari, kuputuskan untuk menemuinya, mengakui perasaanku padanya. Aku akan minta maaf dan aku… akan berubah. Kemaja biru, rok panjang dan… sepotong kerudung membalut kepalaku.

“ Hei… manis benar aku ini.” pikirku dalam hati.

Setelah mematut diri begitu lama di depan cermin aku pun berangkat kuliah..

* * * * *

Sepulang kuliah aku mampir ke rumahnya.

Deg!!! Mau pingsan rasanya, melihat pemandangan di hadapku. Musnah sudah semua mimpi yang kurajut. Anto… tengah dikecup dengan mesra oleh seorang wanita cantik, seksi, dan feminim. Dan… untuk ketiga kalinya aku berlari karena dia.

* * * * *

Tak terasa sudah tiga tahun berlalu. Hingga saat ini, wisuda kelulusanku, aku tak pernah bertemu lagi dengan Anto, kekasih dalam hatiku. Entah bagaimana kabarnya, cintanya padaku, masihkah…….??? Masihkah ia seperti yang dulu? Anto … ia seorang yang humoris, baik, pengertian, dan yang paling penting ia cinta aku. Pun dia bukan cowok idola gadis masa kini yang gagah, kekar, tinggi, tampan, dan atletis. Dia tetap arjuna dalam hatiku.

Di saat kulangkahkan kaki keluar dari arena wisuda dengan diiringi ayahku, lamat-lamat kudengar denting piano mengalun syahdu, Mozart!!!! Bukankah instrument ini yang selalu Anto mainkan? Ini adalah kesukaannya, kesukaanku.

Sejurus kemudian aku berlari tuk yang keempat kalinya karena Anto. Namun apa yang kulihat……….. bukan!!! Bukan Anto. Tak terasa air mataku menetes.

“ Anto… I… miss… you…” rintihku sambil menangis.

Papa mendekapku seakan paham semuanya dan memapahku keluar. Tiba-tiba…………………………

“ Hey, tomboy! Dah lulus nich?! Seneng dech, selamat ya.”

“ A…… Anto!” belalakku kaget.

Untuk kelima kalinya aku berlari demi mendengar suara yang sangat kurindui itu.

Deg!!!! Aku tersadar bahwa ia tak berdiri, Ia… duduk di atas kursi roda.

“ Kak… Anto… kenapa kakinya?”

“Duh sejak kapan panggil aku kak, gadis tomboyku? Eh, salah! Muslimah tulenku? Ha…ha…ha…!” tawa khasnya menggema.

“ Kak… maaf…” ujarku tiba-tiba.

“ Lho! Sejak kapan kamu salah, dik Yuan?”

“ Sejak kapan panggil aku ‘dik’?” tanyaku dengan canda.

“ Sejak aku ingin kau jadi kekasihku……..”

“ Kak… aku…” kuputuskan untuk berterus terang namun belum sempat kuutarakan…..

“ Anto, ini to namanya Yuan?” tanya seorang wanita yang kulihat terakhir kali bersama Anto.

“ Oh…Kak Dini. Ya! Yuan, perkenalkan ini kakakku.”

“ Kak … Dini…” sebutku sambil menyalaminya.

“ Yuan, maafin kakak ya, tidak beritahu kamu kalau Anto kecelakaan. Habisnya kamu sulit sekali dihubungi.”

“ Anto… kapan kecelakaannya, Kak?”

“ Malam itu … saat aku ungkapin isi hatiku,” jawab Anto tanpa permisi.

“ Oh… maafkan Yuan ya kak, andai Yuan gak lari.”

“ Sudahlah semua telah terjadi.” hiburnya.

“ Kak Dini maafin Yuan ya, udah berprasangka negatif tentang kakak… dan kak Anto.”

“ Hu… cemburu deh, pasti! Kakakku sih terlalu sayang ama Anto…” sela Anto.

“Ya, maafin kakak juga, Yuan. Kakak merasa sudah menjadi orangtua Anto karena Ayah dan Ibu meningggalkan kami. Ah, sudahlah, kakak tinggal dulu ya, nemuin papamu. Bicaralah berdua. Selesaikan urusan kalian.”

“ Thanks, Kak,” seruku

Sesaat kami hanya saling pandang. Rindu yang memuncak di dada serasa perlu diselesaikan. Hingga akhirnya hujan turun tiba-tiba………………….

“ Yuan, ingatkah kamu saat pertama…………”

“ Ingat!!! Akan selalu Yuan ingat!!!!”

“ Yuan maukah kamu…………”

“ Mau!” potongku.

“ Mau? Yang bener kamu? Mau jadi pembantuku?” candanya dengan nada serius

“ Ya! Aku mau bantu kakak, jadi kaki kakak, jadi pelindung kakak, jadi pengasuh kakak, jadi…………………”

“ Ssst!” potongnya, “ Hanya satu yang ingin aku kau bantu. Jagalah cinta ini, cinta kita, selamanya. Berjanjilah…………………”

Aku hanya sanggup tuk tersenyum sambil terisak, haru campur bahagia. Syukur sungguh aku pada-Nya.

“ Yuan!!! Basah kuyup nich!!!” kak Anto menyadarkanku dari lamunan.

“ He…he…he…” tawaku sambil berlari mendorong kursi Kak Anto, kekasihku. Kali ini aku berlari bukan karenanya, tapi karena hujan!!!!!!!!

Cintaku takkan pernah aku lepas lagi. Karena cinta ini sudah pasti. Karena cintaku telah teruji.

* * * *

September 2002, dedicated to my best friend

Dengar Kisahku

Jika hati serupa kertas,

maka aku kan menulis kisah di atasnya

Jika fikir serupa recorder,

aku kan merekam cerita di dalamnya

Aku kan berkisah bahwa hidup ini indah

bahwa hidup kadang susah

Tapi hikmah selalu ada,

terasa sangat ketika tak mampu lagi mulut berucap

tak mampu lagi tangis terhenti

tak kuasa lagi raga berbuat

namun penyesalan bukanlah arti

Cerita yang kurekam adalah,

cerita tentang kegagalan

cerita tentang keberhasilan

cerita tentang duka

cerita tentang suka

cerita tentang sesal

cerita tentang syukur

yang terangkum sepanjang waktu aku ada di sini,

di dunia ini,

dalam sebuah episode kehidupan

Awal Sekaligus Akhir…

Tak terasa tahun pelajaran baru akan dimulai pagi ini. Itu berarti mulai hari ini aku duduk di bangku kelas dua SMA yang notabene adalah masa-masa paling indah dalam hidup. Tapi aku sama sekali tak percaya karena aku belum pernah mengalaminya. Dan jika memang masa indah itu akan berawal hari ini aku akan menyambutnya dengan suka cita.

Aku, Tania Marga Alfathiya, tak pernah sebelumnya merasa begitu gamang dalam melangkah. Pagi ini, aku melangkahkan kaki dengan kegamangan yang tak terhingga. Di satu sisi aku bersuka cita dengan akan hadirnya masa indah dalam hidupku, namun di sisi lain aku tak meyakini indahnya hidup akan terjadi padaku. Setelah terenggutnya orang-orang yang kucintai dariku memang aku sering meragukan akan arti kebahagiaan.

* * * * *

Brakkkkkk….!!!!

“Ma….maaf…saya tidak sengaja,” seruku seraya ikut membereskan buku-buku si tertabrak yang berserakan di lantai

Lamunanku segera buyar setelah insiden kecil pagi ini di koridor sekolah yang masih sepi. Wow, ternyata aku tiba terlalu pagi.

“Hhhh!! Makanya lain kali liat-liat kalo jalan!” bentaknya padaku yang belum tersadar penuh dan cepat-cepat pergi

Muke gile! Udah Nia, jangan dianggap, tuh anak emang rada sableng!!” hibur Riris, sobat terbaikku yang tiba-tiba sudah ada di sampingku

“Siapa sih dia, belagu amat! Tapi….cakep juga, ya? he…he…he…!”

“Ya Tuhan…….udah dilabrak masih muji? Heran…..!Let`s back to our class nyok!” ajak Riris sembari menarikku kuat.

* * * * *

Hiruk pikuk dalam kelas jam pertama selalu membuatku pusing. Ingin rasanya berlari saja dari kerumunan manusia-manusia yang tampaknya saling bercakap untuk melepas rindu. Aku merasa sepi di tengah-tengah keramaian ini, aku merasa sendiri dan ingin menyepi melanjutkan lamunanku yang terputus tadi pagi. Syukurlah, di sela-sela keinginanku untuk kabur bel berbunyi dan Pak Muji, guru Biologi yang sudah cukup tua, segera memasuki ruangan dan berseru.

“Anak-anak, kita kedatangan seorang murid baru pindahan dari SMA Perjuangan 5, namanya….” Pak Mu lekas memandang si murid baru sembari mengernyitkan dahi tanda beliau lupa

“Krisna Muhammad,” tukas si murid baru

“O…iya…ya. Maaf . Sekarang kamu langsung saja cari tempat duduk.”

“Di mana, Pak?” tanya Krisna bingung

“Di pojok sana ada satu bangku kosong, dekat Novi,” jelas Pak Mu

“Tapi Pak…..” protes Krisna

“Ada apa? Kamu tak terbiasa duduk di belakang?”

“Bukan begitu Pak….. Maaf Pak…, saya….alergi sama cewek…” jawab Krisna dengan polosnya

Spontan warga kelas gaduh menertawakannya. Bagaimana tidak, Novi adalah primadona di sekolah ini, hampir semua lelaki berebut cintanya. Ee….ini malah ada satu spesies yang diberi kesempatan menolaknya..

Sementara itu….

“Ris, itu kan cowok yang kutabrak tadi? Jadi..namanya Krisna tho…? Wah…asyik nih bisa buat refreshing..” bisikku pada Riris

Seketika aku terlupa dengan keinginan untuk melanjutkan lamunanku dan merasa tertarik dengan makhluk yang tertunduk malu di depan kelas.

Muke gile lu, Ni! Cowok aneh gitu lu demenin! Nggak normal lu!”

dok….dok…dok…

“Tenang anak-anak!” perintah Pak Mu,” Terpaksa Krisna, tidak ada bangku kosong lagi,”

“Tapi, Pak..” protes Krisna sekali lagi

“Tidak ada tapi-tapian! Silakan duduk! Pelajaran akan segera Bapak mulai.”

Dengan berat hati Krisna berjalan ke bangkunya dan dengan berat hati pula ia menyambut senyum genit Novi. Rupanya hal itu membuatnya tambah alergi. Kasihan sekali kamu, Kris…..

Dan tak sedetikpun kulepaskan pandangku darinya. Entah apa yang membuatku melakukannya. Aku merasa damai. Akankah cowok itu menjadi pengisi kosongnya hatiku, yang takkan pernah pergi meninggalkanku? Memikirkannya membuatku tersenyum getir.

* * * * *

Gawat! Aku terlambat! Dengan langkah tergesa aku melangkah di koridor yang telah sepi tanpa ada waktu untuk bercakap dengan diriku sendiri, seperti biasanya. Ah, akhirnya pintu kelas terlihat. Senyumku mengembang segera setelah tahu pelajaran belum dimulai. Di tengah senyum kemenanganku…..

Brakkkkkk!!!

“Eh…eh…sori Kris, aku nggak lihat…”

“Kamu lagi! Kamu kira jalan ini milikmu doang, ha?!Minggir sana! Udah diperingatkan masih aja…,” sungut Krisna

“Hei..hei, tunggu! Tuan Krisna Muhammad alias Tuan Alergi Cewek, ya…jangan galak gitu dong, aku kan udah say sorry..!!” bentakku sembari menyingkir dari hadapnya. Masuk ke kelas.

Sesampainya di kelas hatiku masih dongkol dan tak sudi lagi aku menatapnya.

“Non, sekarang tuh nggak cuma satu orang aja yang ngeliat kamu, ada satu lagi tuh…jadi seperti kutub bumi…pojok utara-selatan…hi..hi..hi..” bisik Riris padaku

Bodo amat!!” komentarku sebal

“Lho, kamu kenapa sih, Ni? Galak bener…”

“Bla…bla…bla..,” ceritaku menggebu-gebu tentang peristiwa tabrakan ulang tadi pagi

“O….” belum selesai Riris mengatupkan mulutnya, bu Ari sang guru seni musik menyuruhnya maju ke depan untuk menyanyikan sebait lagu, maklum suara sobatku yang satu ini oke punya…

“Bagus. Tunjuk salah seorang temanmu untuk menyanyikan bait selanjutnya!” perintah bu Ari setelah Riris selesai menunaikan tugasnya

“Tania, Bu…” jawab Riris yang membuatku melotot tak setuju

“Laki-laki, Ris…” pinta bu Ari yang membuatku lega

“Oh…maaf, Bu. Krisna deh…”

Ha? nekat juga si Riris nunjuk Tuan Alergi Cewek… Namun dengan tenangnya ia maju ke depan dan menyanyikan lagu itu dengan amat sangat…..buruk! Suaranya fals bahkan dia sepertinya tak mengenal lagu itu. Gelak tawa seisi kelas membuat mukanya merah padam dan….

“Kenapa ketawa? Saya hanya menjalankan tugas!” bentaknya marah dan cukup membuat seisi kelas terdiam

“Cukup, duduk Krisna! Tunjuk salah seorang teman perempuanmu untuk menggantikan tugasmu!” pinta bu Ari meredam emosi yang bergejolak di kelas

“Saya tidak punya teman perempuan, Bu…”

Bu Ari menatapnya heran dan seisi kelas pun hanya bias menahan tawa, namun sejurus kemudian…

“Tania Marga Alfathiya,” jawabnya dengan segera melangkahkan kaki kembali ke tempat duduk

Dan aku masih terkaget-kaget demi mendengarnya menyebut namaku dan ketika seisi kelas menyorakiku….hingga bu Ari mengulangi menyebut namaku, aku baru tersadar….Tuhan…..apa maksudnya ini? Seketika itu juga aku meragukan tepisan harapanku sebelumnya, melupakan amarahku padanya.

* * * * *

Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu tapi aku dan Riris masih bertahan di kelas, merapikan buku dan mengobrol sebelum meluncur ke kantin.

“Ris, dia….kok bisa nyebut namaku ya?” tanyaku memulai pembicaraan

“Dia? Siapa maksud lu?” tanya Riris sambil bangkit melangkahkan kaki ke luar kelas

“Krisna, siapa lagi?” seruku

“Payah lu, Ni! Tadi katanya sebel ma dia…kok…?”

Lupain deh…! Entah ya Ris, sejak pertama kali liat dia gitu aku sudah ngrasa suka….apalagi sama matanya yang misterius itu….Apa dia feel the same way too ya?” terawangku kembali melamunkan harapanku

“Ha..ha..ha, muke gile lu! Lu jatuh cintrong ma makhluk itu? Ampuni sobatku, Ya Tuhan…” goda Riris hingga membuatku mendaratkan cubitan di pipi gembulnya.

“Ah, kamu! Masa sobatnya lagi hepi diketawain sih..?! Eh, tadi maksud kamu yang ngeliatin aku selain Ardhi tuh Krisna ya?Duh…senengnya….” cerah wajahku membayangkannya

“Ya….ampun! Masa baru nyadar sih lu? Apa baru ke-enter di otakmu?”

Sori Ris, tadi kan lagi error system…”

“Payah!! Besok lu tabrak lagi aja dia, liat reaksinya!” usul Riris tak masuk akal

“Boleh juga usul kamu, thanks ya…..hi….hi…hi..” ucapku sembari melangkah pergi meninggalkan Riris yang terbengong di tempat

Muke gile lu! Nia….Nia….” Riris mengucapnya dengan tetap terdiam tak mengejarku.

Mungkin dia masih meragukan perasaanku. Setelah sekian episode kelam merangkai cerita hidupku. Atau mungkin sobatku ini merasa ikut senang dengan hadirnya perasaan bahagia, senyum ceria, dan canda tawa setelah episode itu berhasil kulalui. Entah.

* * * * *

Dan keesokan paginya benar-benar kulancarkan aksiku…. Di koridor yang sama dan di tempat yang sama. Brakkkkkk!

“He…he…maaf ya, Kris…tadi aku….sengaja,” ujarku sambil cepat-cepat berlalu

“Hhh….mau apa sih cewek itu…?” geram Krisna, penuh tanda tanya

Ajaib! Sikap Krisna hari itu berubah total! Dia loyal pada semua temen terutama pada Ardhi, cowok yang selama ini naksir aku dan pada teman-teman cewek yang selama ini membuatnya alergi. Sayangnya keloyalan itu tidak padaku… Namun pada beberapa kesempatan dia mengistimewakan aku walau dengan tampang juteknya, seperti….

“Aduh! Teman-teman….jangan gencet aku dong…sakit nie…!!!! Aku kan juga mau makan!!” protesku tanpa ada yang merespon sedikitpun

“Nih, buatmu!” sodor Krisna tiba-tiba padaku

Belum sempat aku ucap terima kasih dia sudah berlalu, larut dalam kerumunan “orang-orang kelaparan”…

Dan akupun bercerita pada Riris tentang keanehan sikapnya itu. Tapi…sobatku satu ini malah bergosip ke antero dunia bahwa KRISNA SUKA NIA..….hingga….

“Heh!!! Ngaca dulu dong, non! Kamu itu apa lebihnya dari aku? Wajah pas-pasan gitu nekat ndeketin Krisna! Krisna tuh milikku tahu??!!” semprot Novi tiba-tiba padaku.

Belum hilang kagetku, si genit Lyra dari kelas sebelah menghampirikuku dan…

“Ehm..ehm..! Nia yang baekkkk lu jangan coba-coba ndeketin Krisna ya, aku tuh udah naksir dia sejak lama dan akupun sudah kenal lama dengannya, so….be aware of that, okay!”

Belum lagi lirikan temen-temen cewek yang notabene Krisna Fans Club (wah disingkat jadi KFC dong (^-^) ). Hhh…salah apa sih aku ini?

* * * * *

Libur mid semester pun tiba. Aku jadi jarang bertemu dengan Krisna. Lagipula, seperti biasa liburan tak pernah membuatku bosan. Aku selalu menikmati kesendirianku. Walau terkadang kesendirian itu harus direcoki oleh tawa dan canda Riris ataupun perhatian dari Ardhi, aku terhibur. Hanya mereka berdua yang selalu setia menemaniku, yang dapat kupercaya. Suatu hari Riris tertawa terkekeh sesampainya di rumahku.

“Ris…kesambet setan apa dikau datang-datang ketawa-ketiwi…”

“Mau pinjam pe-er ya??”

“Ah…nggak kok Ni, kamu tahu nggak si Lyra dan Novi baru saja terlibat percekcokan demi memperebutkan Krisnamu itu….ha..ha..ha…. Lu nggak ikut sekalian, hah? Judulnya jadi mempertahankan Krisna..ha…ha…ha..” tawa Riris tak henti

“Enak aja memangnya Krisna is mine apa? Lagian kamu juga sih yang bikin perkara nyebar-nyebar gossip kalau aku dan Krisna ada apa-apa….jadi heboh mereka!”

Kriiiiingggg……..

“Wah, jangan-jangan si Krisna telpon ya…he…” goda Riris

Ngawur! Bentar ya….” Diam-diam hatiku mengharap apa yang dikatakan Riris benar adanya

“Halo…Nia di sini”

“Hei Ni, Ardhi nih, kamu di rumah ya?”jawab si penelpon

“Ya jelas di rumah lah ! Orang kamu telpon aku yang agkat..!!” tukasku agak kecewa

“He..he..he…eh, aku boleh ke rumahmu nggak?”

“Ngapain? Perasaan saban hari ke sini…”

“He…he…ada masalah penting kali ini…” rajuk Ardhi penuh makna

“Masalah? Di telpon aja nggak bisa?” larangku halus

“Wah, jangan! Harus empat mata! Oke??”

“Halah…paling-paling mau tanya pe-er…” tanyaku menebak

“Sudahlah, boleh ya? Sampai nanti……” tukas Ardhi dan segera menutup telpon

Tuuut…tuuutttt

Ratapku kesal sambil memandangi gagang telpon yang memanggil tutut. Dan hatiku bertambah kesal saat mendengar Riris menanyakan perihal penelepon. Riris pun jadi ikut-ikutan sok kesal demi mendengar Ardhi yang menelepon.

Ting…tong… Bel berbunyi. Aku dan Riris saling menatap. Sudah yakin pasti si Ardhi. Dan dengan berat hati pun kami beranjak dari sofa empuk di ruang tengah menuju sumber suara.

“Hai Ni…lagi ada Riris yah…?” sapa Ardhi setelah pintu terbuka

“Iya nih, cepet ngomong, ada masalah apa? Aku mau pergi nih sama Riris…” bualku

“Pergi kemana, Ni?” tanya Riris girang

“Lho…katanya ke Mall?”

“Iya?! Kapan bilangnya? Asyikkk…” sorak Riris, childish, dan iapun segera berlari ke dalam

“ Nia…masak aku nggak disuruh duduk dulu sih…bentarrrr aja..” protes Ardhi

“Lho, kamu mau ngomong apa mau duduk sih?” tanyaku padanya tanpa diperhatikan dan ia segera melangkah ke dalam, duduk dengan nyamannya di kursi kayu berumur puluhan tahun peninggalan eyangku, salah satu orang yang kucintai. Dan Ardhi pun selalu menduduki kursi itu ketika berkunjung ke rumahku, kursi kesayangan Ayah ketika beliau masih tinggal bersamaku dan Bunda…… Ayah juga orang yang kucintai.

“ Nia, kamu masih ingat kan ucapanku ke kamu sebulan yang lalu?” ujar Ardhi membuyarkan lamunanku

“Yang mana? Seingatku kamu banyak omongnya deh…” kilahku

“Oke…. Nia…aku…sayang kamu…”

“Oh…yang itu…iya ingat…sepertinya kamu pernah bilang ke aku..”

“Oke..oke…, terus kamu gimana?” tanyanya yang segera kusahut dengan bentakan menolak

“Yah…sadis banget sih kamu, Ni… Patah nih hatiku…”

“He… di gips aja yah…” candaku karena kutahu Ardhi juga bercanda menyatakan kembali perasaannya yang sama-sama sudah disepakati tidak boleh ada. Kami adalah sahabat. Walau dia seringkali membuatku kesal dengan perhatian-perhatiannya yang tak masuk akal.

“Oke…oke, andai bisa, pasti lebih cepat sembuhnya…”

“Iya…ya…? Besok buka aja Fakultas Kedokteran Cinta, spesialis mengobati patah hati tersembunyi…” kelakarku

Hening sesaat….

By the way… kamu suka Krisna ya?” tembak Ardhi jitu

“Ha? Siapa bilang?” elakku

“Krisna jawabnya gitu juga… Tapi anehnya dia ngomongin kamu terus, muak aku dengernya! Terus gossip itu bohong dong? Kerjaan Riris kan?” selidik Ardhi yang kusambut dengan anggukan mantap

“Tapi aku perhatikan gossip itu benar. Cuma kalian aja yang sama-sama jaim alias jaga image” seloroh Ardhi sok tahu

“Aku bantuin mau nggak?” tawar Ardhi setelah selorohannya kubantah habis-habisan

“Bantuin apa?” tanyaku kesal karena bantahanku tak didengar

“Ya….ndapetin Krisna. Aku tahu setelah segala pengkhianatan yang kamu terima dari segala pihak, kamu merasa tak berarti, tapi cobalah membuka diri lagi, Ni, cobalah membiarkan dirimu disayangi lagi. Sebab aku tahu kau takkan pernah bisa menerimaku. Jadi, ijinkan aku mencari ganti diriku untuk menjagamu. Oke, pikirkan baik-baik tawaranku! Mana pe-ernya?

“Yah…ujung-ujungnya…kirain lupa… Nih!” dalam hati aku memikirkan ucapan Ardhi yang sok bijak kali ini. Mungkin benar.

Sesaat kemudian setelah Ardhi berlalu……

“Yuk Ni, aku sudah siap…” ajak Riris dengan semangat

“Mau ke mana?” tanyaku sok polos

“Lho…katanya mau ke mall…gimana sih?”

“Bohong kali biar Ardhi cepat pulang….he..he…” ujarku tetap sok polos

“Dosa lu, Ni…ngibulin temen…” dalam hati ia maklum sepenuh hati

“Ya….Riris..maaf deh kalo gitu…”

“Apa sih yang enggak buat Nia…”

Begitulah kami, tiada pernah ada pertengkaran….

“Emangnya si Ardhi tadi ngapain ke sini? Say his love?”

“Diantaranya…..”

“Diantara apa? Ada lain hal?”

“Pinjem pe-er terus….”

“Terus apa? Jangan buat aku penasaran gitu dong, Ni!”

“Dia…nawarin bantuan buat ndeketin Krisna…”jawabku berat, masih memikirkan ucapan Ardhi tadi

“Ha?? Aneh bener! Tapi asyik juga kalau gitu….gue bakal koalisi ma Ardhi… santai aja lu Ni….” Ujar Riris sambil tersenyum jahil. Membuatku semakin memutar otak, memikirkan rencana kedua sobatku ini.

* * * * *

Hari baru setelah liburan akan dimulai hari ini. Tapi aku merasa enggan berangkat ke sekolah. Segala macam pikiran masih berkecamuk di otakku dan segala macam perasaan masih membuatku meragu.

“Bangun, sayang…sudah siang nih…” bisik Bunda di telingaku

“Pagi Bunda…” jawabku malas dan manja pada satu-satunya orang tercinta yang masih setia di sampingku

“Badan kamu panas, Nia… Sakit?” tanya Bunda khawatir

“Mungkin….”

“Sayang, istirahat ya…bunda buatkan surat ijin dulu, minum obat gih…!”

“Hmmm…” jawabku sambil mencoba tidur lagi

Sementara itu di tengah hiruk pikuk kelas yang tak jauh beda dari tahun ajaran baru…

“Waduh, Nia sakit apa? Perasaan kemarin sehat bugar deh, Ris…?” tanya Ardhi ke Riris

“Tak tahu lah….emangnya aku dokternya? Hayo….lu apain kemaren?”

“Aku tolak sih cintanya…”jawab Ardhi asal yang disambut pelototan Riris

Namun sejurus kemudian mereka sudah serius membicarakan rencana penyatuan Krisna dan Nia.

* * * * *

Bel pulang pun berbunyi. Mulai dari koridor hingga jalan menuju gerbang sekolah pun penuh dengan lautan siswa yang ingin segera sampai di rumah. Termasuk Riris, tidak untuk Krisna. Hatinya penuh tanda tanya kemana wanita yang diam-diam juga Ia harapkan untuk mengisi relung hatinya. Wanita yang seringkali bertabrakan dengannya, yang tanpa sengaja karena itu pulalah rasa diantara mereka bersemi.

“Ris, Nia sakit apa?” buru Krisna pada Riris

“Wah maaf ya, Kris, aku bukan dokternya…”

“Iya, tahu…tapi kan kamu sobatnya…mungkin saja kamu tahu…”

“Wah enggak tuh…ada apa nih kok jadi perhatian gitu ma Nia…?” selidik Riris

Nggak…nggak ada apa-apa…Cuma nanya…makasih, Ris…bye…” memerah muka Krisna

“Hei…nggak mau nelpon dia? Mungkin aja demi mendengar suaramu dia bisa cepat sembuh…” teriak Riris semangat

Krisna seolah tak mendengar teriakan itu. Tentu, Ia malu rasa hatinya akan terbongkar. Tapi segera setelah saran dari Riris terlontar Ia mencari tahu nomor telepon wanita pujaannya itu, tentu bukan dari Riris pun Ardhi.

* * * * *

Kriiiiiingggggg

“Siapa juga telpon siang-siang gini? Pasti Riris deh….!”sungutku sambil beranjak malas dari tempat tidur

“Halo…ada apa, Ris….?”

“Nia….ini Krisna…”

“Oh…Kris…na…maaf…tumben banget telpon, kirain Riris…Ada apa, Kris?”tanyaku dengan dada berdebar

“Kamu sakit apa? Tadi kok nggak masuk?”

“Eng….nggak apa-apa kok, hanya tak enak badan… Ah, besok juga sudah masuk”

“Cepet sembuh ya…..Eh, besok pulang sekolah bisa ngomong bentar?”

“Ya…aku usahain deh..”

“Sampai jumpa…” pamit Krisna

Ya….Tuhan…mimpi apa aku? Krisna nelpon terus ngajakin ketemu??!! Duh…senengnya…

* * * * *

“Riris………!!!!” teriakku girang demi melihat Riris melenggang masuk kelas

“Ya ampun…Nia…seneng banget sih ketemu aku, sudah kangen ya??”

“Huwe….thanks ya, Ris, sudah buat Krisna nelpon aku…ngajakin ketemu malah…” ucapku berseri

“Ha? Ya syukur deh kalau sudah ada kemajuan….Berarti kalian sudah bisa gerak sendiri…”

“Jadi…bukan kamu yang nyuruh dia nelpon aku?” tanyaku heran

“No…no…” jawab Riris sambil menggeleng lucu

Akhirnya kami terlibat dalam obrolan seru tentang Krisna, penuh dengan angan dan suka cita hingga teriakan Ardhi membuat kami berhenti.

“Ni, ada kabar buruk buat kamu……Kris…na…ke..ce..la…ka…an kemarin….” ujar Ardhi terbata

“Apa…??” tanyaku dan sekejap kemudian aku sudah tak sadarkan diri

Dalam benakku seketika itu aku melihat Krisna berbaju putih, tersenyum padaku dan pergi…..bersama eyang…..kemudian tanpa sadar air mataku menetes dan aku terbangun oleh bisikan lembut Riris di telingaku. Dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di tempat berbeda. Aku pun menangis sejadinya. Riris dan Ardhi menghiburku, menenangkanku.

“Ris…. Bagaimana keadaan Krisna?” tanyaku setelah aku bisa menguasai emosiku

“Dia…..ada di RS, nanti pulang sekolah kita jenguk dia, oke?”hibur Riris

“Hmmm…” jawabku dengan anggukan

Padahal aku ingin ke RS sekarang, berada di sisinya. Ingin aku mengingatkan janjinya untuk bertemu nanti selepas sekolah. Tentunya dalam suasana yang menyenangkan, tidak di RS seperti yang akan terjadi nanti.

* * * * *

Selama menunggu bel pulang berbunyi aku tak bisa tenang, pikiranku melayang ke mana-mana….. Ya Tuhan… Bagaimana keadaan Krisna……? Tak sadar aku menangis sesenggukan dan membuatku pingsan lagi……

“Ris….aku kenapa lagi?” tanyaku lemah setelah tersadar kembali

“Sayang, kamu pingsan lagi setelah menangis histeris, ada apa? khawatir sama Krisna?”

“Khawatir iya…tapi ada yang lebih dahsyat dari itu……..”

“Apa maksudmu?” tanya Riris dengan penuh rasa khawatir, Ia tahu benar apa yang ada dalam benakku

“Aku telah dapat firasat dari Tuhan… Ris, aku ngerasa Tuhan akan ambil Krisna….” ucapku nanar

“SSStttt…. jangan ngomong gitu ah, yuk kita doakan semoga Krisna lekas baik…” hibur Riris

“Tentu, tapi….” sangsiku

Riris tak mau mendengarkan kesangsianku dan memilih menyudahi obrolan kami dan segera pamit ke kelas untuk bersiap pergi karena bel pulang tak terasa telah berbunyi.

Ardhi datang mendampingi Riris dengan tampang yang tak jauh lebih kusut dariku. Kami pun pergi dengan mobil Ardhi. Dalam perjalanan tak ada satu pun dari kami yang angkat bicara. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Episode masa laluku satu per satu bermain dalam angan. Kepergian ayah meninggalkan aku dan Bunda dengan penuh amarah, kematian eyang, kematian Raka adikku, pengkhianatan sahabatku Firza yang kawin lari dengan kekasihku Robby, dan Krisna….? Aku bahkan tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya. Tuhan, tak bolehkah sejenak saja aku merasa bahagia?

* * * * *

Krisna terbujur lemah di ranjangnya ditemani Ardhi. Akupun menangis sesenggukan demi melihat keadaannya yang tak berdaya itu….

“Dhi, gimana sih kejadian sebenarnya?” tanyaku

“Kejadian ini sore hari, sepulangnya dari rumahku. Dia mungkin belum menguasai mobil barunya itu…….hingga ada truk melintas dia gasak aja…Setelah mendapat kabar aku langsung ke RS. Maaf ya, Ni, aku tak segera memberitahumu sebab dia tak ingin kamu khawatir”

Terdiam aku sesaat dan kuberanikan diri mendekati Krisna…..

“Kris, ini aku…A..ku sudah menepati janjiku…menemuimu…sepulang sekolah…” kucoba bicara, walau terbata. Tak kuasa aku menahan air mataku……Ardhi dan Riris memegang pundakku sesaat, menguatkanku dan meninggalkanku……

“Kris….kenapa malah kau yang ingkar janji? Krisna….bangun……..” pintaku menghiba

“Ni……..” tiba-tiba Krisna bergumam, “Ni……..aku……dimana? Apa yang terjadi padaku?” tanyanya sungguh lemah

“Di rumah sakit……. Ka…kamu kecelakaan, tapi yakinlah kamu akan baik saja”

“Hhh……”desahnya kesakitan

“Sudahlah, kau istirahat dulu….” nasehatku yang serta merta dia abaikan

“Ni……a..ku….sa…yang ka..mu…..” ucapnya susah payah sembari menggenggam erat tanganku. Aku tersenyum padanya dan membalas genggamnya. Lambat laun kusadari genggamnya semakin longgar dan sedetik kemudian kuyakini ia telah pergi…….untuk selamanya……………

Bahkan aku belum sempat mengatakan padanya kalau aku juga sangat menyayanginya…..

* * * * *