Ketika anak menolak disuruh..

Hmm.. memang sih anak itu bukan pesuruh kita. Tidak selamanya ia bisa ada untuk kita. Tapi… seringkali perasaan di hati anak harus harus harus selalu nurut. Demi apa? Kebaikan anak, dalih kita. Tapi tiap kali merenung semuanya demi kebaikan kita sendiri, dengan kriteria baik yang bervariasi. Relatif.

Menyuruh atau lebih baiknya kita sebut meminta tolong pada anak tidak serta merta bisa dengan kalimat perintah. Kadang bahkan seringkali kita harus cari trik agar dia bisa beranjak. Trik masing-orangtua berbeda. Ada yang dengan menakuti, merepet sampai kayak betet, memberikan jabaran konsekuensi, atau bahkan menjanjikan hadiah di ujung. Yakinlah semua itu semua pernah kita lakukan bila kepepet (nah lhoo seringnya sih sok kepepet) terus nyuruhnya eh minta tolongnya sambil memburu-buru sambil bilang ayo cepat ayo cepat (padahal diri ini sejatinya engga suka diburu-buru).
Padahal dunia anak ya memang bermain. Jadi segala solusi dari menyuruh anak-anak sebenarnya ya dengan konsep permainan (tapi tapi tapi yakin deh ini butuh kesabaran dan daya imajinasi yang sangat tinggi, dan saya tidak mumpuni sebenarnya… hanya sesekali kalau lagi bener-bener “waras” #eaeaea).

Setiap tulisan yang saya buat sama sekali tidak mengindikasikan saya sudah melakukan semua atau saya pakarnya. Sama sekali tidak. Tiap tulisan yang saya buat adalah sebagai pengingat bahwa diri ini lebih banyak tidak ingat daripada ingat. Suatu ketika ketidakwarasan itu lewat. Tersemat di dalam hayat. #eaeaea

Baiklah, ini ada suatu kisah. Tentunya di saat kewarasan saya 100%.
Si sulung yang lagi asyik bermain dengan boneka burung hantu dan derivatnya. Si bungsu lagi dipangku si emak dan ngompol. Sebenarnya celana ganti tak lebih dari sepelemparan batu dari si emak, tapi karena basah baju dengan ompol, maka:
Emak : mbak, tolonglah ambilkan ganti adek, adek ngompol nih
Mbak : ngga mau, lagi main
Emak : ayolah..
Mbak : kan di depan situ (lebih deket ke saya dari ke dia maksudnya)
Emak : oohh.. burung hantu kan bisa terbang ya… hai burung hantu tolong lah terbang ambilkan popok adek..
Mbak : (langsung melesat bawa si burung hantu terbang ambil popok) ini buat adek
Emak : makasiii ya burung hantu
Mbak : bukan burung hantu lho yang kasih, mbak yang kasih
Emak : oh iyaa… makasih ya mbak…
Mbak : sama2.. (langsung asik main lagi)

Horeee it’s work. Sama halnya dengan anak tidak mau mandi. Kalau lagi waras bilangnya ayo main air kalau lagi setengah waras bilangnya nanti kalau ngga mandi badannya kan kotor bisa gatal semua deh (konsekuensi). Kalau lagi error bin ngga waras, “buruan mandi kalau engga nanti ngga boleh main lagi ngga boleh ini itu ini itu” (ancaman ngga lazim). Atau lebih ngga waras lagi diguyur air comberan biar tau rasa n cepet mandi (byurr). Padahal si emak juga belom mandi (gedubrak).

Nice Home Work #1 Adab Menuntut Ilmu

Bismillahirrahmanirrahim,

Minggu pertama kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) batch #4 dimulai dengan materi Adab Menuntut Ilmu. Setelah fasilitator sharing materi dan berlanjut dengan diskusi yang dipandu oleh koordinator minggu 1 (korming 1, kebetulan saya sendiri), maka tugas diumumkan. Tugas yang dinamai NHW ini merupakan sarana untuk mengikat ilmu yang diterima agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan CaIP (Calon Ibu Profesional). Untuk materi dan diskusi lengkap tidak bisa saya share disini karena akan lebih baik dan pastinya lebih “nancep” bin “makjleb” kalau mengikuti sendiri rangkaian kegiatan matrikulasi.

Baiklah, ini jawaban atas pertanyaan NHW ala saya. Bukan salah atau benar yang dicari karena apa yang ditulis nantinya hanya diri ini dan Illahi yang mengetahui.

PhotoGrid_1494867918487.jpg

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Ilmu dalam kehidupan ini banyak sekali tentunya, dan pastinya banyak juga yang ingin dipelajari. Apalagi karakter saya yang tidak pernah puas, selalu dan selalu ingin belajar. Meski kebanyakan orang bilang bahwa “dokter” itu sudah “pinter” tapi saya merasa bahwa untuk mengarungi kehidupan tidak bisa hanya dengan ilmu kedokteran saja, apalagi sekarang saya rehat dari dunia yang banyak menjejali otak saya dengan ilmunya. Kalau disuruh belajar lebih dalam lagi dan lagi untuk saat ini saya ingin memperdalam ilmu parenting.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Karena saya adalah seorang ibu yang menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anak saya, maka saya harus belajar banyak tentang ilmu pengasuhan anak (parenting). Lagipula ilmu parenting mencakup ilmu-ilmu lain, seperti: agama, memasak, menjahit, bahasa, matematika, olahraga, seni rupa, dan masih banyaaak lagi yang selain bisa saya manfaatkan ke dalam keluarga inti saya juga bisa saya share ke masyarakat. Selalu terngiang bahwa ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh/ah termasuk salah dua dari tiga amalan yang pahalanya tak terputus kelak. Maka, dengan mempelajari ilmu parenting dan menerapkannya dengan baik maka insyaAllah sudah dapat 2 amalan tersebut. Betul bukan?

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Strategi saya salah satunya ikut di program matrikulasi IIP dan kalau bisa naik ke kelas-kelas berikutnya agar bisa setidaknya menjadi ibu yang lebih baik (terlalu berlebihan bila saya meng klaim diri sebagai ibu profesional), ikut seminar tentang parenting, membaca buku tentang parenting, juga belajar ilmu lain yang berkaitan dengan parenting melalui media apapun yang bisa saya tempuh sembari mengasuh.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Perubahan sikap yang perlu saya perbaiki:
♤ adab terhadap diri: lebih menjaga niat, selalu beristighfar serta memaafkan untuk mensucikan hati (tadzkiyatun naffs) dari segala niat dan pikiran buruk, lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh lagi agar hijab hati terbuka untuk menerima “ilmu”
♤ adab terhadap guru: lebih memperhatikan untuk masalah penyebaran ilmu. Biasanya main copas saja, mulai sekarang harus memberi nama sumber (guru) di setiap tulisan copas yang dibuat.
♤ adab terhadap sumber ilmu: lebih menelaah sumber ilmu apakah valid untuk dicerna atau tidak karena kadang suka percaya saja tulisan di media online tanpa sumber berita.

♡Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia♡

Agenda Kegiatan Kelas Jakarta 1 Matrikulasi Ibu Ibu Profesional (MIIP) Batch #4

Bismillahirrahmanirrahim…

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin bergabung dengan komunitas IIP dan mendapatkan ilmu darinya. Namun karena selalu ketinggalan “kereta” baru kali ini bisa. Itupun karena saya bergabung dengan komunitas Homescooling Rumah Inspirasi dan ada yang nyebar info di forum jadi Alhamdulillah bisa ikutan. Tergabunglah saya di salah satu kelompok Jakarta dari tiga kelompok yang ada. Satu kelompok terdiri dari 72 caip (calon ibu profesional hehe..) yang semoga sampai akhir juga segitu jumlahnya. Mulanya, Fasilitator yang ditunjuk mendampingi kelas kami meminta kami menunjuk diri mengisi pejabat kelas. Ada 10 rekruitment i.e ketua kelas, dan 9 koordinator mingguan (korming) karena kelas akan berlangsung selama 9 minggu dengan 9 materi sebagai berikut:
*Senin, 15 Mei 2017 jam 08.00*
“Materi Adab Menuntut Ilmu”
*Selasa, 23 Mei 2017 jam 08.00*
Materi [Overview Ibu Profesional]
“Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga”
*Selasa, 30 Mei 2017 jam 08.00*
Materi (Bunda Sayang)
“Membangun Peradaban dari dalam Rumah.”
*Selasa, 6 Juni 2017  jam 08.00*
Materi [Bunda Sayang]
“Mendidik dengan Fitrah, berbasis Hati Nurani.”
*Selasa, 13 Juni 2017 jam 08.00*
Materi [Bunda Cekatan]
“Ibu Manajer Keluarga”
*Libur jeda Lebaran: 19 Juni – 2 Juli 2017*
*Selasa, 4 Juli 2017 jam 08.00*
Materi [Bunda Cekatan]
“Belajar Bagaimana Caranya Belajar”
*Selasa, 11 Juli 2017 jam 08.00*
Materi [Bunda Produktif]
“Rejeki itu Pasti, Kemuliaan harus dicari”
*Selasa, 18 Juli 2017 jam 08.00*
Materi [Bunda Produktif]
“Menemukan misi spesifik hidup”
*Selasa, 25 Juli 2017 jam 08.00*
Materi [Bunda Shaleha]
“Ibu sebagai Agen Perubahan”
🎓 Pengumuman Kelulusan tanggal 17 Agustus 2017.

Dari 9 korming saya menunjuk diri sebagai korming 1, awalnya mau nulis di kolom ketua kelas. Ee ngetiknya barengan sama Mba Ami dan keduluan enternya.. yasudah langsung tulis di kolom Korming 1. Tugas ketua kelas lebih gampang dari korming. Korming itu yang bakal ngumpulin tugas caip ke fasilitator, dll yang akan saya jabarkan di bawah. Eh ya ceritanya dulu dulu sih banyak yang kabur di tengah jalan karena ngga kuat terpaan tugas. Haduh saya besok bagaimana yak.. Bismillah aja.. semoga berkah. Syarat kelulusan adalah mengerjakan 7 dari 9 tugas dari 9 materi mingguan. Tugas itu disebut NHW (Nice Home Work). Kenapa disebut tugas rumah yang baik? Karena insyaa Allah bisa membawa perbaikan pada diri kita bila kita mengerjakan dengan sepenuh hati (nah ini yang kayaknya bakal berat dan susyah.. Bismillah sekali lagi). Itulah rata-rata tujuan para perempuan baik yang sudah jadi ibu maupun yang belum menikah bergabung disini. Tugas yang dikumpulkan harus berupa link. Jadi pelajaran pertama kemarin adalah belajar membuat link. Belajar bersama, bersama belajar di kelas yang operasionalnya via aplikasi WhatsApp (WA). Begitu kerennya jaman sekarang cari ilmu dan share bersama bisa hanya dengan mantengin layar smartphone. MasyaaAllah…

Link bisa dari Google Docs, Notes  Facebook, timeline Facebook, Blogg, Thumblr, dan lain-lain yang bisa dibuat link. Saran terbaik kerjakan via blog. Biar blog yang sudah dipunya tidak jadi sarang laba-laba (kata Mba fasilnya.. hehehe..). Kemudian sharing link via thread yang dibuat di wall Facebook group. Group ini bersifat tertutup. Apabila tidak punya Facebook tidak juga perlu kuatir. Korming bisa melakukan tugas sharing ini. Kalau selama perjalanan ada pertanyaan terkait materi korming juga tempat menampung pertanyaan dan melempar pertanyaan tersebut ke mba fasilnya. Materi dan diskusi pun tugas korming untuk meresume serta meng-share hasil resume ke group Fb untuk dipantau Observer pusat.

Yang menunjuk diri sebagai korming siap-siap gulung koming selama seminggu dah..  hehehe… tapi seru juga kayaknya. Pejabat kelas lebih banyak belajar lho karena ada group terpisah bagi pejabat kelas. Dan disitu sering ada diskusi pendahuluan atau pengakhiran. Ehh…

Jadi… Bismillah saya memulai “perkuliahan” saya di IIP dan akan mengerjakan NHW saya via blog ini. Semoga apa yang saya lakukan membawa berkah bagi saya, keluarga, lingkungan terdekat saya, dan pembaca setia blog Ayuseite. Aamiin.

 

Minat dan Bakat

“Aku minat ini.. aku bakat itu… Passionku di bidang ini… aku mahir di bidang itu…”

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Belakangan hal itulah yang sering diungkap bila hendak mencari kerja atau sekedar mengerjakan sesuatu. Karena bekerja dengan bahagia malah justru bisa menghasilkan hal lebih daripada bekerja keras (meski untuk hal yang tidak disuka) untuk mencari kebahagiaan. Upah bin gaji sekarang bukanlah suatu keniscayaan dibanding kepuasan hati saat mengerjakan sesuatu. Stress saat bekerja lebih mahal harganya dibanding gaji yang diterima.

》》》Jadi.. apakah minat, bakat, passion, dan kemahiran itu?

Ketika seseorang memiliki gairah, rasa suka, dan semangat dalam melakukan sesuatu itu disebut MINAT. Minat bisa berubah bila sudah bosan atau alih minat karena urusannya dengan hati. Misalnya, saya sekarang sedang menaruh minat tinggi pada menjahit. Besok-besok ganti suka bongkar mesin, misalnya. Minat bisa lahir dari dalam juga dari luar diri anak. Minat bisa dilatih hingga jadi mahir melakukan itu tapi tidak akan secepat dan semaksimal dibanding dengan yang memiliki bakat dalam bidang tersebut.

Jadi BAKAT adalah ketika seseorang bisa, mampu, dan bisa jadi mahir dalam melakukan sesuatu. Dorongan itu berasal dari dalam diri, bukan dari luar. Pastinya akan tambah “moncer” bila dilatih dan dipoles. Sayangnya, bakat itu meski bawaan lahir namun benar-benar Rahasia Illahi yang tidak semua bisa menemukan. Bisa jadi sampai ujung nafas tak kunjung tahu apa bakatnya alih-alih mengasahnya (sy pribadi juga belum tahu punya bakat apa… apakah benar menulis atau malah hal lain?). Mungkin ini yang dimaksud “bekal” yang dianugerahkan Allah pada kita sewaktu ruh ditiupkan. Namun hanya yang mendapat hidayah saja yang bisa memunculkan bakat serta memanfaatkannya. Kadang ada yang sebenarnya sudah ditunjukkan apa bakatnya namun tak menyadari.

PASSION adalah dimana minat dan bakat itu bertemu, berpadu, bersinergi, melahirkan KEMAHIRAN then… voilaaa prestasi hebat!

Maka dari itu, tugas kita sebagai orangtua menajamkan indera untuk melihat bakat alias potensi anak dan minatnya kemudian mengembangkannya sedari kecil sehingga bisa melebur menjadi passion yang kelak bisa mengantarkannya pada kesuksesan lahir batin dunia akhirat.

Karena bakat adalah dari dalam diri, kita tidak bisa memaksakan. Misal, tidak bakat nari disuruh nari bahkan dikursuskan segala. Bisa sih, tapi tidak akan bersinar seperti yang punya bakat. Yang punya bakat melihat saja sudah bisa. Apalagi kalau dilatih terus. Jangan kita paksakan anak memiliki bakat tertentu apalagi urusannya dengan status sosial, gaji tinggi, masa depan cerah dst. Semua itu,sekali lagi, rahasia Illahi.

Gampangnya, jika anak ditakdirkan berbibit jambu jangan dia diarahkan menjadi pohon apel karena apel sedang laris dan mahal.

Hal yang perlu disadari minat dan bakat tidak selalu berkaitan dengan dunia seni dan olahraga. Bisa jadi berhubungan dengan mata pelajaran atau hal yang lebih abstrak seperti jalan-jalan, bercerita, melayani, dll.

Bagaimana cara mengenali minat dan bakat anak (Sumardiono, 2015)?

1. Beri waktu dan ruang yang cukup untuk anak menekuni hal-hal yang ia sukai kecuali yang bertentangan dengan nilai kebaikan

2. Fasilitasi dan perkaya

Misal, anak minat menggambar maka beri fasilitas yang memudahkan ia mengeksplorasi sperti penyediaan berbagai macam media gambar, memberi stimulasi contoh2 gambar atau bahkan mengkursuskannya gambar.

3. Merubah konsumtif jadi produktif

Misalnya anak minat main game… jadikan produktif dengan membuat game atau sekedar me review game yang ia suka.

Minat makan… jadikan produktif dengan memintanya bercerita tentang sejarah makanan itu atau belajar resepnya bahkan bisa mencoba memasaknya

Minat jalan… jadikan produktif dengan menuliskan feature hasil jalan-jalan

4. Memperluas paparan

Dengan banyak mengeksplorasi hal beragam tentunya. Experience is the best teacher. Travelling is the best experience. Intinya banyak jalan-jalan (heehee).

Setelah memperluas paparan, kita amati.

-Hal apa yang secara sukarela dilakukan anak tanpa lelah&cepat tanggap?

-Apa yang menonjol dari keseharian anak? Ingat akan kecerdasan majemuk (logika, tubuh (kinestetik), relasi, imajinasi, musik, diri, bahasa, dan alam. Anak bisa memiliki 1, 2 bahkan lebih kategori kecerdasan. Kalau IQ hanya kecerdasan nomer 1 (logika) yang utamanya diukur.

-Bagaimana kualitas karyanya? Apakah lebih baik dibandingkan teman sebayanya?

Bila kita sudah menemukan bakat anak, maka dampingi, dukung, fasilitasi serta berikan apresiasi (pujian) seperlunya. Mengapa seperlunya? Kalau berlebihan malah akan merusak juga akibat terlalu jumawa. Yang terakhir… bila ingin berprestasi harus selalu endure dan persisten (bertahan).

Selamat menemukan bakat unik anak… atau bahkan bakat kita sendiri.. 😉

Basa Basi Beneran Basi

Some of, after knowing that the second one as the same as the first one, they say congratulation then “make the third, who knows it will be a boy”

Wow…!
If only they knew that the last operation is not my first or second one, they will just keep silent.

I’ve been lying down in operation room for four times. And thats realy enough for me. Two of them in GA, it means i slept. The other one, SC, in SA. Then two of them i have infections on the scar.

If they said “make the third” it will be automatically wish me held the fifth operation, the third SC, because i have no tendency to held VBAC.

That’s too horrible!

Please, be wise to congrate n pray. Maybe thats just a joke or only “basa-basi”, but thats not funny at all. Children, no matter what their gender, they are Allah’s gift. We can’t judge even wish. If i have two sons did they will say the third may girl? Or if i have a boy and a girl did they will have no comment? Wallahua’lam.

Ketika anak pertama menjadi si sulung

“Aya, adik lahir hari ini ya… nanti Aya sudah resmi dipanggil Mbak… Aya jadi seorang kakak…” pamitku saat Aya menemani di bed observasi ruang bersalin. Tak henti ia memeluk dan terkadang merengek umi umi… tak terasa air mataku pun menetes… semua berujung ia tak mau lepas dari gendongan bapaknya karena jelas aku tak bisa menjaganya beberapa waktu lamanya.

Tak lama Aya merajuk ingin pulang. Ia tak bisa istirahat sebagaimana biasa pola tidurnya sangat teratur saat di rumah. Dan aku sadar semua akan berubah mulai detik ini. Aku hanya berharap semoga baby blues syndrome tak menyerangku lagi sebagaimana dulu.

Masuk ruang operasi, Aya menjerit dan menangis ingin selalu bersama Bapak, ia sudah seakan “tak peduli” padaku. Aku tahu, ia sedang mengontrol emosinya. Jelas ia takut melihatku dipasang infus dan tidur bagai pesakitan. Setelah aku keluar dan diobservasi, Aya turut memeluk dan ada di sisiku. Anak pintar. Tapi itu tak lama. Ia menangis dan bilang takut saat melihat adiknya. Ia pun sudah lelah seharian terjaga. Tidur tak tenang, bahkan bangun dini hari dan mengompol di sofa tidur kamar rawat. Segera Bapaknya membawanya pulang. Ia kembali siang hari berikutnya juga dengan laporan mengompol di tempat tidurnya. Sedih sekali tak bisa mendampinginya seperti biasa. Mendadak ia harus lepas dariku. Padahal biasanya selalu bersama kapanpun dimanapun terutama sewaktu tidur. Tapi aku yakin Aya hebat, Aya kuat menghadapi separasi sementara ini.

Alhamdulillah ia mau sama adikku dan istrinya. Apa-apa sama mereka. Ya, mungkin Aya butuh pelampiasan untuk bermanja selagi bapak dan uminya tak bisa menyertainya.

Maaf ya Aya… apalagi lantas ia sakit sesaat setelah om dan tantenya pulang… demam tinggi dan batuk pilek. Sedih sekali lagi sedih rasanya saat tak bisa memeluknya, mendampinginya… karena aku pun harus jaga jarak kuatir adeknya tertular. Maaf ya Aya…

Alhamdulillah masih ada utinya… dan dia mau selalu bersama utinya. Terimakasih ya Aya sudah kooperatif…. Bukan maksud umi tidak menemani Aya…

Kecemburuan pada adik mulai ditampakkannya. Bahkan saat banyak yang berkunjung dan memberi kado untuk adiknya ia bertanya, “Aya bukaa yaa… yang buat Aya mana?” Semangat sekali… tapi demi melihat semua perkap bayi ia jelas kehilangan harapan. Terdiam saja reaksinya. Bersyukur ia tidak protes.

Namun jelas nampak bahwa ia ingin dapat kado. Alhamdulillah sepupu datang memberi kado double untuk Aya dan Ayi… makasih banyak Mecha Amalia Mediana. Aya senang bukan kepalang. Melihatnya, akupun terharu dan esoknya membelikan baju dan sandal  (menggantikan sandalnya yang hilang dalam aksi pelemparan sandal entah karena apa) untuknya saat panasnya 39 DC. Ia senang dan setelah memakai baju baru dan sandalnya ia bergaya bak princess. Lupa bahwa ia sakit.

Ya Rabb… sebuah pelajaran berharga bahwa ada hati si sulung yang harus dijaga saat kita berbaik hati memberi hadiah pada si adik baru lahir.

Seandainya suasana kembali, kita seperti biasa hanya berdua di rumah (dan sekarang tambah dek Ayi) semoga Aya benar-benar bisa menjadi sulung yang baik.

Umi dan Bapak sayaaang sekali sama Mbak Aya dan Dek Ayi. Semoga kalian rukun selalu sampai dewasa nanti….

Kisah akhir dari perjalanan kehamilan a.k.a keputusan terminasi dan proses kelahiran

Kisah sebelumnya, di minggu ke 36, ada pembukaan 3-4 cm dan drama terapi pencegahan kontraksi. Dan tentunya atas doa rekan serta saudara semua everything just flow n fine. Hasilnya, di kontrol rutin minggu ke 37, kontraksi sama sekali berhenti dan pembukaan menyempit jadi 1 cm saja. Berat janin saat itu 3.3 kg. Keputusan dokter bertahan saja sampai sekuatnya syukur Alhamdulillah bila sampai aterm akhir di minggu ke 40 karena setelah dicek bekas luka operasi terdahulu baik, tebal, dan tidak ada resiko ruptur bila VBAC. Air ketuban pun masih sangat cukup dan jernih meski agak keruh di atas.
Namun, dengan background anak pertama SC a.i bayi besar dan gagal induksi maka kemungkinan besar akan re SC.

Nah, karena sama saja ujung2nya bakal SC mau sekarang atau mau besok, ditambah suami sudah terlanjur mengajukan cuti, ibu bisanya menemani di atas tanggal 9 Maret yang berarti tepat di usia janin 38 minggu, belum lagi pas usia 40 minggu adik ipar menikah yang pastinya tidak akan ada yang bisa menemaniku disini, maka keputusan untuk pengajuan jadwal SC tepat pada usia aterm awal di 38 minggu benarlah murni alasan non medis (#janganditiru😂).

Masuk jam 1 siang ba’da sholat Jumat, 10 Maret 2017 dalam kondisi sudah berpuasa. Premedikasi dilakukan jam 15.00 karena dijadwalkan operasi jam 19.00. Tetapi, karena mendadak ada SC emergensi maka giliranku tertunda 1 jam. Dengan kondisi lapar dan sudah lemas karena puasa kelewat jam, masuk ke ruang operasi yang suhunya 15 DC membuatku kedinginan sangat, sampai menggigil dan bergemerutuklah rahang dan gigiku, plus mual banget banget.  Namun, musik yang diputar kencang2 di situ lumayan melumerkan suasana. Jam 20.41 lahirlah si bayi montok dengan berat 3.8kg (dalam seminggu naik 0.5 kg itu sungguh emejing kan?).

Well, akhirnya, dek Ayi lahir dengan tangis kencangnya dan kulit yang merah. Oleh dokter anak yang mendampingi ia diciumkan ke pipiku, diinisiasi menyusu dini di ruang operasi beberapa saat, dan akupun menyadari bahwa aku tertidur.

Semoga dek Ayi jadi anak yang kuat serta berkepribadian tangguh juga selalu membanggakan orangtuanya. ‘Cause that’s your name’s mean.

Thanks to dr. Isrin Ilyas, Sp.OG yang berkontribusi banyak sekali dalam proses ini dan pastinya seluruh keluarga besar dan rekan semua….but special thanks to mommy yang selalu ada di sisi di setiap masa kritisku, suami yang super siaga, Aya yang sampai sakit karena ikut menjaga, adek dan ipar yang menjadi ortu Aya selama aku dirawat. Thanks juga buat yang berkenan menyempatkan hadir di RS

Previous Older Entries