Basa Basi Beneran Basi

Some of, after knowing that the second one as the same as the first one, they say congratulation then “make the third, who knows it will be a boy”

Wow…!
If only they knew that the last operation is not my first or second one, they will just keep silent.

I’ve been lying down in operation room for four times. And thats realy enough for me. Two of them in GA, it means i slept. The other one, SC, in SA. Then two of them i have infections on the scar.

If they said “make the third” it will be automatically wish me held the fifth operation, the third SC, because i have no tendency to held VBAC.

That’s too horrible!

Please, be wise to congrate n pray. Maybe thats just a joke or only “basa-basi”, but thats not funny at all. Children, no matter what their gender, they are Allah’s gift. We can’t judge even wish. If i have two sons did they will say the third may girl? Or if i have a boy and a girl did they will have no comment? Wallahua’lam.

Ketika anak pertama menjadi si sulung

“Aya, adik lahir hari ini ya… nanti Aya sudah resmi dipanggil Mbak… Aya jadi seorang kakak…” pamitku saat Aya menemani di bed observasi ruang bersalin. Tak henti ia memeluk dan terkadang merengek umi umi… tak terasa air mataku pun menetes… semua berujung ia tak mau lepas dari gendongan bapaknya karena jelas aku tak bisa menjaganya beberapa waktu lamanya.

Tak lama Aya merajuk ingin pulang. Ia tak bisa istirahat sebagaimana biasa pola tidurnya sangat teratur saat di rumah. Dan aku sadar semua akan berubah mulai detik ini. Aku hanya berharap semoga baby blues syndrome tak menyerangku lagi sebagaimana dulu.

Masuk ruang operasi, Aya menjerit dan menangis ingin selalu bersama Bapak, ia sudah seakan “tak peduli” padaku. Aku tahu, ia sedang mengontrol emosinya. Jelas ia takut melihatku dipasang infus dan tidur bagai pesakitan. Setelah aku keluar dan diobservasi, Aya turut memeluk dan ada di sisiku. Anak pintar. Tapi itu tak lama. Ia menangis dan bilang takut saat melihat adiknya. Ia pun sudah lelah seharian terjaga. Tidur tak tenang, bahkan bangun dini hari dan mengompol di sofa tidur kamar rawat. Segera Bapaknya membawanya pulang. Ia kembali siang hari berikutnya juga dengan laporan mengompol di tempat tidurnya. Sedih sekali tak bisa mendampinginya seperti biasa. Mendadak ia harus lepas dariku. Padahal biasanya selalu bersama kapanpun dimanapun terutama sewaktu tidur. Tapi aku yakin Aya hebat, Aya kuat menghadapi separasi sementara ini.

Alhamdulillah ia mau sama adikku dan istrinya. Apa-apa sama mereka. Ya, mungkin Aya butuh pelampiasan untuk bermanja selagi bapak dan uminya tak bisa menyertainya.

Maaf ya Aya… apalagi lantas ia sakit sesaat setelah om dan tantenya pulang… demam tinggi dan batuk pilek. Sedih sekali lagi sedih rasanya saat tak bisa memeluknya, mendampinginya… karena aku pun harus jaga jarak kuatir adeknya tertular. Maaf ya Aya…

Alhamdulillah masih ada utinya… dan dia mau selalu bersama utinya. Terimakasih ya Aya sudah kooperatif…. Bukan maksud umi tidak menemani Aya…

Kecemburuan pada adik mulai ditampakkannya. Bahkan saat banyak yang berkunjung dan memberi kado untuk adiknya ia bertanya, “Aya bukaa yaa… yang buat Aya mana?” Semangat sekali… tapi demi melihat semua perkap bayi ia jelas kehilangan harapan. Terdiam saja reaksinya. Bersyukur ia tidak protes.

Namun jelas nampak bahwa ia ingin dapat kado. Alhamdulillah sepupu datang memberi kado double untuk Aya dan Ayi… makasih banyak Mecha Amalia Mediana. Aya senang bukan kepalang. Melihatnya, akupun terharu dan esoknya membelikan baju dan sandal  (menggantikan sandalnya yang hilang dalam aksi pelemparan sandal entah karena apa) untuknya saat panasnya 39 DC. Ia senang dan setelah memakai baju baru dan sandalnya ia bergaya bak princess. Lupa bahwa ia sakit.

Ya Rabb… sebuah pelajaran berharga bahwa ada hati si sulung yang harus dijaga saat kita berbaik hati memberi hadiah pada si adik baru lahir.

Seandainya suasana kembali, kita seperti biasa hanya berdua di rumah (dan sekarang tambah dek Ayi) semoga Aya benar-benar bisa menjadi sulung yang baik.

Umi dan Bapak sayaaang sekali sama Mbak Aya dan Dek Ayi. Semoga kalian rukun selalu sampai dewasa nanti….

Kisah akhir dari perjalanan kehamilan a.k.a keputusan terminasi dan proses kelahiran

Kisah sebelumnya, di minggu ke 36, ada pembukaan 3-4 cm dan drama terapi pencegahan kontraksi. Dan tentunya atas doa rekan serta saudara semua everything just flow n fine. Hasilnya, di kontrol rutin minggu ke 37, kontraksi sama sekali berhenti dan pembukaan menyempit jadi 1 cm saja. Berat janin saat itu 3.3 kg. Keputusan dokter bertahan saja sampai sekuatnya syukur Alhamdulillah bila sampai aterm akhir di minggu ke 40 karena setelah dicek bekas luka operasi terdahulu baik, tebal, dan tidak ada resiko ruptur bila VBAC. Air ketuban pun masih sangat cukup dan jernih meski agak keruh di atas.
Namun, dengan background anak pertama SC a.i bayi besar dan gagal induksi maka kemungkinan besar akan re SC.

Nah, karena sama saja ujung2nya bakal SC mau sekarang atau mau besok, ditambah suami sudah terlanjur mengajukan cuti, ibu bisanya menemani di atas tanggal 9 Maret yang berarti tepat di usia janin 38 minggu, belum lagi pas usia 40 minggu adik ipar menikah yang pastinya tidak akan ada yang bisa menemaniku disini, maka keputusan untuk pengajuan jadwal SC tepat pada usia aterm awal di 38 minggu benarlah murni alasan non medis (#janganditiru😂).

Masuk jam 1 siang ba’da sholat Jumat, 10 Maret 2017 dalam kondisi sudah berpuasa. Premedikasi dilakukan jam 15.00 karena dijadwalkan operasi jam 19.00. Tetapi, karena mendadak ada SC emergensi maka giliranku tertunda 1 jam. Dengan kondisi lapar dan sudah lemas karena puasa kelewat jam, masuk ke ruang operasi yang suhunya 15 DC membuatku kedinginan sangat, sampai menggigil dan bergemerutuklah rahang dan gigiku, plus mual banget banget.  Namun, musik yang diputar kencang2 di situ lumayan melumerkan suasana. Jam 20.41 lahirlah si bayi montok dengan berat 3.8kg (dalam seminggu naik 0.5 kg itu sungguh emejing kan?).

Well, akhirnya, dek Ayi lahir dengan tangis kencangnya dan kulit yang merah. Oleh dokter anak yang mendampingi ia diciumkan ke pipiku, diinisiasi menyusu dini di ruang operasi beberapa saat, dan akupun menyadari bahwa aku tertidur.

Semoga dek Ayi jadi anak yang kuat serta berkepribadian tangguh juga selalu membanggakan orangtuanya. ‘Cause that’s your name’s mean.

Thanks to dr. Isrin Ilyas, Sp.OG yang berkontribusi banyak sekali dalam proses ini dan pastinya seluruh keluarga besar dan rekan semua….but special thanks to mommy yang selalu ada di sisi di setiap masa kritisku, suami yang super siaga, Aya yang sampai sakit karena ikut menjaga, adek dan ipar yang menjadi ortu Aya selama aku dirawat. Thanks juga buat yang berkenan menyempatkan hadir di RS

Ketika Anak ditanya Minta Apa

Kecenderungan orangtua pasti menanyakan “minta apa” pada anak ketika merasa bersalah meninggalkannya di rumah atau tanpa alasan apapun hanya sekedar ingin memberinya sesuatu. Betul apa betul?

Beberapa anak memanfaatkan pertanyaan itu untuk meminta mainan keren nan mahal sekalian atau meminta pergi ke suatu tempat wisata atau apa sajalah yang bersifat materi lainnya.

Namun, seringkali ketika Aya ditanya Bapaknya, mau minta apa atau mau kemana saat Bapak ada libur, jawabannya sungguh fantastis, “Enggak mau… Aya mau cerita sama Bapak… mau gambar-gambar…”
Ya, Ia meminta “waktu”.

Seringkali kita tidak aware pula dengan keinginan itu. Padahal memang itu yang membuat anak senang dan puas dalam hatinya. Bukan pergi ke wahana bermain, bukan pula dibelikan mainan yang kesemuanya menuntutnya bermain sendiri dan saat pulang yang ada orangtuanya kelelahan lantas tertidur sedangkan ia belum mengantuk karena tidur sepanjang jalan. Anak sejatinya membutuhkan kebersamaan dan fokus bersama.

Sering, aku sibuk dengan HPku karena ada lintasan ide untuk menulis lantas Aya protes, “Umi tuh main HP aja…” lantas dia “membalas” dengan main tablet terus. Aku pun lantas sedikit demi sedikit mengerem main HP dan rela membuka laptop dengan dalih bekerja saat ada lintasan ide ketika sedang bersamanya.  Rupanya dia lebih maklum, membuka laptop mainannya dan ikutan mengetik di sebelahku. Sebuah pelajaran berharga untuk tidak sibuk dengan HP apalagi cuma kepoin sosmed yang tiada habisnya apalagi berita-berita bahkan broadcast yang ngga jelas sumbernya.
Kubuka jika perlu dan lampu indikator HP berkedip tanda ada pesan. Selebihnya bila Aya hanya berdua denganku dan sedang tidak asyik main sendiri, HP bertengger saja. Kalaupun perlu banget buka HP ijin dulu ke Aya apa keperluannya buka HP. Dia toh maklum asal tidak lama-lama.

Karena apa? Karena sesungguhnya yang anak minta dari kita hanya waktu untuk benar-benar bersama (baca: tanpa gangguan HP, TV, dll). Fokus… fokus… fokus…

<<That’s realy simple but why we almost can’t do it?>>

#sharepengalamanaja
#masihbelajarjuga

Catatan Kontrol Minggu 35

2900 gram! Pantaslah pindaian USG memprediksi usia janin sudah nyaris 37 minggu. DSOG pun memprediksi perkiraan lahir maju 12 hari dari HPL per HPMT dengan taksiran berat lahir 3600-4000 gram bila sesuai dengan perhitungan… Subhanallah… tak ubahnya dengan Aya dulu lah… namun bila maju seperti prediksi DSOG maka taksiran berat 3200-3600 gram.

Hal yang membuatku takjub dan tertegun adalah sama sekali aku tidak minum susu ibu hamil yang digembor-gemborkan di iklan itu, minum vitamin pun harus pakai acara selang-seling DHA dan Calcium. Fe hanya masuk 60 tablet dari 90 tablet anjuran pemerintah. Makanku juga porsi biasa. Cuma sayur, jus buah, buah segar, sate 10 tusuk atau ayam 2 potong atau ikan 2 ekor atau telur 2 butir dengan amat sangat sedikit nasi (iniii mahh udah bergiziiiii kaleee…. ahehee). Kadang juga sarapan cuma koko krunch plus susu kambing atau kurma plus susu kambing. Ngga suka nyemil-nyemil loh… tapi sering makan tengah malam bakmie jawa lengkap dengan sayur, telur, ayam… gyahaaa… gimana engga gede si dedek? Tapi.. tapi.. ini semua terjadi baru masuk bulan ke 8. Sebelumnya boro-boro aku makan… sedikit juga udah hoek… sedikit juga udah kenyang… konsumsi antasid seenaknya…

Subhanallah… laa khaula wala quwwata illa billah… itu semua membuktikan bahwa janin bukan semata-mata kita yang “pelihara”. Tapi Allah langsung!! Janin tidak hanya bergantung pada asupan makanan kita, ia punya tempat bergantung yang lebih lebih, yaitu Yang Menciptakannya! (Hal ini sangat menamparku.. kenapa masih sering lalai dengan “menggantungkan asa selain pada Nya? Astaghfirullah…)

Maka.. nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (last)

Note with addition,
TUHAN MENJAWAB DOA MELALUI KESEMPATAN
@anakjugamanusia Banyak orangtua ingin anaknya berprofesi seperti orang lain yang dianggap sukses. Mengapa tidak sekedar hanya menjadi orangtua yang berkasih sayang pada anak?

Kadang ambisi justru membuat orangtua dan anak terjebak pada situasi ketika orangtua memaksakan anak menjadi ini atau itu kelak. Jika anaknya ternyata suka dan kebetulan cocok dengan pilihan orangtua tidak masalah. Namun jika sebaliknya? Apa mau disebut kalau cinta kita pada anak itu bersyarat? Apa mau disebut bila kita hanya bangga pada anak jika berprofesi tertentu?

Percayalah, bila pola asuh dan didik kita sudah baik, bisa dipastikan anak akan memilih yang baik dalam hidupnya. Biarkan ia tentukan cita-citanya. Tugas kita hanyalah mendampinginya tumbuh dalam perasaan disayangi. Sediakan diri dan hati untuk membantu anak menemukan keinginan Tuhan dalam dirinya. Kita tidak berhak atas masa depan anak karena kita tidak ada di situ kelak…. Tugas kita selanjutnya “hanyalah” mendoakan mereka…

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Apakah Tuhan itu selalu mengabulkan doa-doa kita? Iya, doa akan selalu dikabulkan melalui kesempatan. Asal kita peka saja dengan “bisikan Tuhan” di hati kita. Contoh:
-saat kita meminta rejeki berlimpah, apakah Tuhan langsung mengirimkanmya di depan pintu rumah? Ataukah melalui peluang misalnya dipertemukan dengan teman yang dapat membantu kita?
-saat kita berdoa agar jadi pemberani apakah kita jreng jreng jadi pemberani ataukah Tuhan menjawab melalui kesempatan melalui hadirnya ketakutan2 yang harus kita lewati agar kita bisa berani?
-saat kita berdoa ingin menjadi orang sabar apakah sekonyong-konyong kita jadi penyabar atau melalui ujian emosi agar kita menahan diri? Terutama bersabar dengan tingkah anak?
-saat kita berdoa agar keluarga kita menjadi rukun dan damai apakah tiba-tiba saja damai ataukah diberi kesempatan menyelesaikan berbagai konflik kecil hingga besar?

Nah, begitulah. Tuhan mengabulkan doa melalui kesempatan. Faktanya, kita diberi kesempatan itu melalui anak-anak. Mereka lah yang membuat kita semakin bekerja keras untuk menjemput rejeki. Merekalah yang membuat kita berani dan matang ketika harus menghadapi ketakutan, merekalah yang membuat kita menjadi pribadi yang sabar dan merekalah yang menjadi alasan mengapa kita perlu selalu rukun dan damai.

Atas izin Nya, manusia lantas dititipi anak untuk dididik dan diasuh. Itu bukti bahwa kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki kehidupan dari generasi ke generasi.

Jika kita melihat banyaknya kejadian di negeri kita, entah itu kekerasan, korupsi, terorisme, kita seringkali frustrasi sehingga timbul tanya dalam hati, “Dari mana kita bisa memulai untuk memperbaikinya? Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah semua ini? Mungkinkah Indonesia bisa lebih baik lagi dari sekarang ini?”  Akhirnya, kita berdoa supaya bangsa ini menjadi lebih baik.

Hebatnya, Tuhan sekali lagi sudah mengabulkan doa kita melalui kesempatan karena faktanya kita dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih baik melalui anak-anak. Nah, anak-anak adalah kesempatan itu. Akankah kita lewatkan atau kita terus berupaya meningkatkan kemampuan diri (baca: terus belajar dan berupaya) agar dapat mendukung anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kelak menjalani perannya dalam kehidupan ini?

Pastinya jika seluruh orangtua mengambil peran tersebut maka Indonesia niscaya betul seperti kata Bung Karno dulu bahwa negara kita akan menjadi mercusuar dunia. Bismillah…

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Alhamdulillah, selesai juga rangkaian resume buku Anak Juga Manusia. Tidak semua detil di buku saya tulis karena secara utuh karya itu hak penulis. Benerapa bagian saya tambahkan dengan keterangan dalam bahasa saya.  Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

Terimakasih untuk Bpk. Angga Setyawan, yang sudah menuliskan materi sebaik itu dan semoga kita semua bisa mengambil manfaatnya, menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita. Barokallahu… aamiin.

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (15)

Note with addition,
KOMUNIKASI
@anakjugamanusia

Komunikasi anak dan orangtua bukan hanya penting akan tetapi menjadi kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apapun kepada kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua hanya berkomunikasi ke anak pada saat tertentu saja, misalnya:
♢Saat marah
♧Saat menyuruh
♤Saat mengkritik

Hmm.. semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Padahal, seperti tertulis dalam tulisan sebelum sebelumnya bahwa tingkat komunikasi level tinggi adalah cukup menjadi pendengar setia. Itu berarti mendengar tanpa marah, kritik, pukul balik cerita, kemudian memberi masukan yang bijaksana dan fokus pada solusi saat ia minta pendapat.

Terkadang, orangtua ingin tegas pada anak. Ya, tegas itu bagus tapi bukan keras. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten.

Saat anak balita, orangtua adalah guru utama. Namun saat ia sudah beranjak dewasa posisikan kita sebagai sahabat (jangan seperti iklan obat nyamuk tuh…). Jadilah tempat curhat yang asyik buat anak agar ia tidak memilih curhat ke teman-temannya yang belum tentu benar. Kemudian dengan pasangan kita juga harus saling mengingatkan bila sudah mulai tidak bersahabat dengan anak. Saat memberi nasihat usahakan untuk tidak frontal dan menyerang, misalnya, “makanya kamu jangan begitu! Makanya kalau dikasih tahu nurut!”. Akan lebih baik bila, “hmm… mama bangga kamu sudah berusaha menghadapi masalah ini. Dulu tantemu juga pernah punya masalah hampir mirip. Tantemu bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku ya karena bisa begini begitu. Sejak saat itu mama inget betul kata tantemu. Kalau untuk masalahmu kira2 bagaimana, sayang?” Seolah-olah si tante yang memberi nasihat padahal ya kita juga yang bikin cerita perumpamaan. Bandingkan dengan, “Makanya kamu jangan begitu nanti kayak tantemu loh.” Kan anak jadi tidak mampu berpikir sendiri dan cenderung menutup diri lagi.

Kecuali kalau anak masih balita. Misal ia jatuh, maka respon kita, “wah.. jatuh ya sayang… tidak apa2, lain kali harus hati2 yaa tidak boleh diulang lagi lompat di jalan bebatuan,” dengan perumpamaan tentu mereka belum paham.. hehe… kemudian jangan pernah menyalahkan, misal: “uuhh.. batunya nakal ini, pukul aja! Atau ih kodok nih yaa bikin adek jatuh…” kelak dia akan terbiasa menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi diri. Kelak dia akan jadi pribadi tidak bertanggung jawab. Maukah begitu…?

Kemudian sering pula kita meng iming-iming hal yang tidak benar atau menakut-nakuti hal yang salah. Misal, kalau nakal nanti disuntik pak dokter loh, kalau masih bandelnya minta ampun enggak mau nurut sama mama biar mama panggilkan pak satpam/pak polisi saja. Hal ini justru akan membuat bapak ibu kerepotan saat anak betul-betul butuh dokter atau saat bertemu para aparat. Atau ayoo makan dulu nanti kita naik odong-odong (padahal enggak), nantinya anak akan belajar berbohong juga. Mending sampaikan saja kalau tidak makan nanti perutnya bisa sakit atau pengen tinggi nggak? Ayo makan yang banyak.

Memang tidak lantas berhasil tapi mereka berproses untuk memahami. Mendisiplinkan anak harus dimulai dari dini, jangan beranggapan anak kecil bisa lupa dan nurut jika diancam seperti itu. Dan yang paling penting kedua orangtua serta pengasuh yang ada di rumah harus kompak yaa.. Coba yuk…!

“Tiada perubahan yang instan seperti makanan instan”

Previous Older Entries