Catatan Perjalanan #4

Hujan libur mengguyur ibukota semalaman. Hanya petir dan guntur serta gerimis yang meramaikan langit siang hingga sore. Padahal hujan kemarin-kemarinnya sampai menimbulkan banjir di beberapa wilayah. Cuaca yang ekstrem begini membuat badan juga tak nyaman kurasa.

Bila tak ada hutang mengembalikan barang ke salah satu rekan di Bandung, mungkin weekend ini lebih baik bersantai saja di rumah. Tidak pula akan memaksa pergi bila tamu-tamu adik ipar tak menginap di rumah. Tentu ada rasa tak nyaman. Rumah kami sempit sekali. Bila menampung beberapa jiwa lagi rasanya penat pasti. Baiklah, tiada alasan untuk tak pergi. Bismillah.

Pukul 03.00 WIB aku terbangun dan bersiap diri. Setelah semua persiapan mantap kubangunkan suami dan sempurna kami beranjak dari Jakarta ke Bandung untuk kedua kalinya dengan kendaraan pribadi pukul 04.00 WIB. Belum masuk Subuh.

Memasuki toll, menepikan mobil di rest area pukul 05.00 WIB untuk sholat Subuh dan membeli sarapan pagi. Pukul 05.30 WIB barulah beranjak lagi. Sampai Bandung, di kost teman yang tempo lalu kami singgahi, pukul 07.20 WIB.

Alhamdulillah cuaca cerah, setelah memandikan Aya dan rehat sejenak, kami bergerak ke Lembang sebelumnya mampir ke Cimahi sebentar. Tujuan kami Taman Begonia, Farmhouse, dan Dusun Bambu via Punclut agar tidak macet. Mampir sebentar untuk makan. Mencari petunjuk Rumah Makan Ikan Bakar Ma’Pinah yang tidak ketemu-ketemu meski penunjuk arah menyatakan 500 meter lagi. Lantas mencari tempat makan lain yang representatif. Enak untuk makan, sholat, dan ke toilet tentunya. Memesan menu sop buntut untuk Aya, mie goreng untuk Bapak Aya, dan Ikan-ikan untuk yang lain. Tak lupa tahu sumedang 2 porsi @15.000. Lepas makan dan sholat Dhuhur kami lanjut ke taman begonia.

Masuk taman Begonia, tiket 10.000 Rupiah per orang, mobil 10.000. Di gambar yang ku cari via Google, taman ini tampak indah. Bunga begonia nan merah merekah, dengan background pegunungan yang sejuk dan rumah kayu. Tertarik hati untuk turut menikmati kesana. Namun apa yang terjadi? Rumpun begonia masih pendek, pengunjung berjubel berebut foto selfie. Sempurna aku hanya melihat kerumunan pengunjung. Bunga-bunga hanya seperti taman tak bermakna. Spot foto buatan dibuat oleh pengelola. Macam pigura bunga besar, kursi-kursi taman, patung-patung, taman buatan dari barang bekas dan lain-lain. Tak butuh waktu lama untuk melihat-lihat. Kami pun keluar dengan tawa. Tawa tak puas. Lah, cuma gitu. Hmm.. mungkin bila musim semi seperti di gambar yang kami lihat di Google akan indah lagi. Mungkin bila nanti.

Tujuan selanjutnya, Farmhouse!

Macet sudah menyambut sepanjang jalan poros. Terlebih saat akan masuk pintu Farmhouse yang diklaim unik karena berornamen Eropa serta kekhasan rumah Hobbit. Dan… Sudah bisa ditebak, parkir Farmhouse penuh. Lantas kami parkir di parkiran luar. Berjalan sedikit guna masuk ke dalam area. Ah, otot-ototku sudah mulai kram. Rasanya sudah tidak kuat berjalan. Setelah beli tiket 20.000 per orang dan mengambil free fresh milk kami duduk. Segar juga minum susu. Tapi aku lupa bahwa aku sudah mulai intoleran susu sapi setelah masuk trimester 2. Kupikir aku hanya “bosan”. Ternyata nantinya reaksi alergi itu akan muncul.

Memasuki pekarangan Farmhouse sudah disambut dengan barisan akar pohon-pohon besar usia puluhan tahun yang menjadi pagar. Halaman parkir pun masih rindang oleh pohon-pohon besar. Wondering what kind of place this is it long time a go? Maybe a great forest.

Pertama yang kami lihat jembatan dengan pagar digantungi gembok macam di Paris. Dengan membayar harga gembok silakan anda menulis nama beserta pasangan dan menggemboknya biar nggak lepas (dalam arti sesungguhnya). But i didn’t do that, of course. Sayangnya Aya tidur dalam perjalanan ini. Terpaksa Ia digendong bapaknya. Lahan Farmhouse juga tidak begitu luas jika dibandingkan dengan floating market atau de Ranch. Maka, penumpukan pengunjung akan nampak sekali. Dimana-mana manusia. Apa lah ini yang mau dinikmati yak. Bahkan di sepanjang jalan masuk ada artis (bukan artis tv) yang berdandan ala ala noni bahkan hal-hal seram. Syukurlah Aya tidur jadi tidak perlu ketakutan melihat tampang aneh mereka. Makin ke dalam, memang betul ada beberapa bangunan toko atau cafe khas Eropa. Bahkan ada persewaan baju macam Noni Belanda yang dibandrol seharga 75.000 per baju bisa dibawa berkeliling. Tempat favorit berfoto dengan kostum begitu adalah di lantai 2 sebuah cafe. Antrinya sampai sepanjang tangga. Lantas, ada pula studio fotonya di bawah, di bangunan yang berbeda. Bahkan ada hal lucu. Dengan memakai kostum ala Eropa begitu melipir di pinggir jalan sesak untuk mengisi perut. Dan…. yang dimakan adalah jagung juga ketela rebus (cilembu). Ada yang berkomentar, “Klambine londo tapi mangane kok telo,” artinya bajunya Belanda tapi makannya kok ketela. Syukur saja si empunya tidak tahu maknanya. Yang mendengar dan tahu saja yang menahan tawa. Demikian, seperti diceritakan rekan pendengar kepadaku.

Akhirnya kami memilih naik ke pelataran resto lantai 2. Melihat view rumah hobbit di bawah yang penuh sesak dengan massa bergiliran foto di rumah mungil beratap gundukan tanah yang tumbuh rerumputan. Unik sih, layak diabadikan. Namun dengan pengunjung berjubel seperti itu kok ya jadi tiada kesan ya… hehe… walhasil kami memutuskan hengkang dan menuju dusun bambu mumpung masih pukul 15.00 WIB.

Tak dinyana, jalan yang sudah macet, mau belok ke jalan arah dusun bambu ditutup karena ada longsor. Ya sudahlah. Balik arah lagi menuju jalan pulang via punclut-dago. Sampai di puncaknya kami istirahat dulu di warung makan. Sekedar melihat panorama perbukitan dan memesan mie instan hangat dengan hidangan pendamping otak-otak ikan Tenggiri harga 5.000 rupiah per bungkus kecil yang dicocol sambal kacang. Tak lupa pesan bandrek, kopi hitam, dan jus alpukat.

Pukul 17.00 WIB melanjutkan perjalanan pulang. Meski cuaca cerah di atas ternyata Bandung kota hujan deras sejak siang. Alhamdulillah, saat wisata tidak diguyur hujan. Sampai kost teman jam 18.15 WIB. Skip mandi sore, langsung sholat dan tepar. Rasa enggan makan lagi. Penuh sekali perut. Tiba-tiba hasrat buang hajat tak terelakkan. Ternyata BAB cair 2x. Inilah reaksi susu sapi tadi. Makan nasi hanya dua suap disambung martabak asin 1 potong dan martabak manis juga 1 potong. Tertidur pulas setelah dipijit suami. Bangun pagi, perut masih sakit. Eh.. BAB cair lagi. Hmm…

Pukul 07.30 WIB bersiap ke pasar kaget Minggu yang banyak dijumpai di Bandung. Kami memilih sekitaran taman lansia karena mencari soto untuk sarapan. Ternyata belum ada yang buka. Mencari di sepanjang jalan pasar kaget juga nihil. Walhasil makan Zuppa soup biar hangat perut dengan siomay kuah. Aya ribut naik kuda yang banyak dijumpai sepanjang jalan. Sementara aku dan rekan mencari toilet. Pukul 10.00 WIB berkumpul di mobil dan bergerak mencari brunch (breakfast and lunch), soto yang tertunda. Makan soto kudus dan sebelumnya segelas jus alpukat, perut kenyang sekali. Sampai di kost langsung beberes untuk pulang ke Jakarta. Tepat adzan Dhuhur kami meninggalkan Bandung, mengantri di Toll Pasteur diiringi rintik hujan. Mampir di Rest Area dekat pintu masuk untuk sholat dan beli camilan. Perjalanan lancar sampai akhirnya macet di ruas toll yang sedang diperbaiki. Pemandangan ganjil beberapa kali kulihat di pinggir jalan. Bus-bus menaikkan dan menurunkan penumpang!! Lah kok bisa? Ternyata warga membobol pagar menuju toll, jadi bisa naik-turun bus di toll. Keren yak Indonesia. Beberapa kali juga melihat bus pecah ban dan penumpang keleleran di pinggir jalan. Akhirnya pukul 15.00 WIB masuk Jak Tim via Halim disambut hujan deras. Bea toll 53.000, beda 1.000 rupiah kalau lewat pintu M. Toha.

Sampai rumah hampir pukul 16.00 WIB. Menampung air hujan karena pompa mati. Melihat rumah berserakan juga buat tambah capek. Makan pesan via go food saja lah. Tak jua bisa masak karena tiada air. Sekalian buat esok paginya.

Demikian perjalanan ke empat ini. Menyisakan pusing dan sakit pinggang yang lama hilangnya. Pun hingga saat tulisan ini diketikkan. Hari ini malah tambah nyeri perut kanan bawah. Kode keras untuk banyak istirahat lagi. PhotoGrid_1479905658182.jpg

Resume: Tentang Kamu

Seperti biasa, cerita Tere Liye berkonsep sederhana. Berlatar kehidupan sehari-hari yang sarat makna, pesan dan polesan sejarah. Mulai dari sejarah bangsa macam kapal laut yang pernah berlayar di Sumbawa milik Belanda, PKI, peristiwa malari (malapetaka 15 Januari), dll yang lebih sederhana lagi. Bahkan dari buku inilah aku tahu dari mana sejarah istilah pedagang kaki lima juga asal muasal nama mobil kijang (kerjasama Indonesia Jepang).

Kali ini, kita diajak ke pulau Bungin, pulau terpadat di dunia yang berada di Indonesia, tepatnya di Sumbawa, NTB. Kemudian ke Surakarta, berlatar belakang pesantren yang sarat hubungan dengan peristiwa pemberontakan PKI serta menyisipkan dendam pribadi. Beralih lagi kita ke ibukota Jakarta dari kisah jualan dipanggul, gerobak dorong, bisnis sewa mobil, hingga pabrik sabun. Dari keuntungan tipis, merugi, hingga bisa menanamkan saham 1% ke bursa internasional. Dan akhirnya kita menuju London dan berakhir di Paris.

Ialah Sri Ningsih, tokoh utama dalam novel, yang membawa kita berkeliling dan serasa turut merasakan deretan duka, kehilangan serta kegagalannya hingga tutup usia. Tapi, dia meninggalkan kenangan indah serta berharga bagi siapa-siapa yang ia pernah dekat. Apalagi kalau bukan keuntungan dari saham 1% yang ia tanam sedari dulu.

Pelajaran terpenting yang kupetik adalah: dari 1000 kegagalan, bangkitlah 1001 kali.  Itu maknanya kita harus benar-benar sabar. Kesabaran yang dimaksud itu tanpa batas. Sabar yang benar-benar sabar. Seperti saat Sri Ningsih diperlakukan kasar oleh ibu tirinya sampai bertahun-tahun namun ia tetap berbakti bahkan berusaha menyelamatkan saat sang ibu terjebak kobaran api. Atau saat ia dikhianati salah seorang sahabatnya, bahkan saat usaha yang ia rintis berkali-kali gulung tikar, pun saat janin dalam kandungannya 2x meninggal disusul kemudian oleh suaminya. Namun ia tetap berdiri tegar. Begitulah sabar, tanpa tepi dan tanpa dendam. Istilah kata, tidak dimasukkan dalam hati. Subhanallah. Andainya kita semua bisa memiliki hati sebersih Sri Ningsih.

♡♡♡Quotes:::♡♡♡
1.  Juz 1: Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya.
2. Juz 2: …betapa keserakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas.
3. Juz 3: jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x
4. Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakar. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru
5. Juz 4: terimakasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.
Nasehat kama itu benar sekali, aku tidak akan pernah menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.
Masa lalu, rasa sakit, masa depan, mimpi-mimpi. Semua akan berlalu seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.
6. Juz 5: … hakikat kehidupan. Memeluk rasa sakit. Dulu. Sekarang. Esok lusa…

Simple tapi dalam sekali makna yang bisa kita resapi. Sungguh. Andai hati kita bisa sebersih Sri Ningsih pasti negeri ini juga senantiasa “bersih”. Namun.. takdir bukan selalu berjalan mulus dan rapih.

PhotoGrid_1477803204566.jpg《《《abaikan popcorn dan minumnya😥》》》

Catatan Perjalanan #3

Sabtu pagi, pasca unjuk rasa besar 4-11, suami mendadak harus ke Bogor keperluan dinas kesana. Sedangkan sepupuku sudah berada di kereta menuju Jakarta. Terpaksa meminta bantuan salah seorang anggota suami menjemput dan mengantarnya ke rumah dari stasiun.

Pukul 07.30 WIB sampailah sepupu di rumah. Rencana mau ke Ancol, Kota Tua Jakarta, dan TMII. Namun karena sikon belum memungkinkan kami berdiam di rumah. Suami baru pulang ba’da Dhuhur selepas kami makan siang dan sepupuku tertidur. Sore harinya baru kami mulai jalan, tujuan terdekat ke Plaza Pondok Gede sekalian mengajak Aya main soft play favorit di sana. Karena dekat dengan XXI aku membeli camilan favoritku di cafenya. Meski harganya mahal tapi memang popcorn caramelnya menurutku belum ada tandingan. Biarlah, 40.000 rupiah melayang hanya untuk popcorn ukuran sedang. Hehee…

Adzan Maghrib berkumandang, kami agak kesulitan mencari musholla. Akhirnya setelah tanya-tanya ternyata di area parkir. Kupikir sebuah bangunan musholla layak. Ternyata, hanya teras bangunan yang ditutup triplek yang sempit, pengap dan bau. Hanya bisa berdiri 2 orang berdempetan, berjajar 4 baris ke belakang. Semoga ini bukan musholla utama. Sungguh terlalu bila iya. Masa plaza besar mushollanya tidak seimbang.

Selepas makan, sholat, Aya selesai main, kamipun bergerak pulang. Di perjalanan keluar ide jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Hmm… padahal besok sorenya sepupuku harus boarding pukul 19.00 WIB kembali ke Jogjakarta.

Suami meyakinkan perjalanan lancar karena pagi tadi ia sudah kesana. Memanglah satu jam saja jarak tempuh Jakarta Timur-Bogor via Toll Jagorawi dengan biaya per gate 8.500 plus 6.000 Rupiah kalau tidak macet. Dengan syarat berangkat pukul 03.00 dini hari. Wow…

Jadilah, kami siap pukul 03.30 keesokan paginya dan memulai perjalanan sekira pukul 03.50 WIB. Jalanan sepi, hanya satu dua mobil melintas. Tujuan kami mampir dulu ke pusdikzi, kebetulan suami masih ada tugas di sana. Sampai di lokasi pukul 05.00 WIB. Kami bersegera sholat Subuh dan rehat sampai sekira pukul 07.00 WIB. Kemudian, sementara suami menyelesaikan tugas, aku dan sepupuku berjalan-jalan di car free day (CFD) depan pusdikzi, tak lupa menyempatkan mampir dan berfoto di Museum PETA (Pembela Tanah Air) di area itu. Pukul 09.00 WIB CFD berakhir, kami bersiap menuju kebun raya bogor setelah menyiapkan Aya yang tadinya masih tidur di mess tamu.

Sampai Kebun Raya Bogor belum begitu ramai. Masuk melalui pintu 3 dengan biaya masuk serombongan plus mobil 75.000 rupiah. Karena weekend maka mobil tidak bisa keliling. Parkir di dekat taman anggrek. Jujur ini kali pertama kami kesini, jadi wajar bila buta arah dan bingung mau kemana. Akhirnya mengikuti saja arus rombongan anak-anak sekolah yang entah mau kemana. Luas kebun ini 80 hektare, mustahil bila sempat mengelilingi semua area hanya dengan jalan kaki. Melihat ada jembatan merah, jembatan pertama yang dibuat untuk menyeberangi luasnya sungai Ciliwung di sini. Menyempatkan diri untuk berfoto. Tak jauh dari sana berdiri kokoh pohon berusia 150 tahun. Pohon itu tua dan besar tapi bukan yang tertua dan terbesar. Aku lupa mencatat apa namanya. Hanya saja diyakini menjadi pohon jodoh oleh masyarakat sekitar. Ckckck… banyak pula pohon-pohon berakar unik, bahkan ditumbuhi bunga. Sayangnya, aku sama sekali abai dengan tulisan apa saja nama spesies pohon itu. Sampai ke jembatan putih kami mulai kelelahan. Melihat ada mobil wisata keliling melintas hampir bersamaan dengan seorang prajurit TNI AD yang sedang patroli pengamanan. Jadi kami mencoba bertanya pool mobil wisata itu, dimanakah kami bisa menaikinya. Ia bilang di ujung danau, cukup jauh dari tempat kami berdiri. Ia pun menawarkan boncengan kepadaku karena sedang hamil. Sampai di ujung danau, tepatnya di area Botanical Garden dekat museum Zoologi pool mobil berada. Dan disini ramai sekali. Aku lantas menyadari satu hal. Kami salah arah tadi. Kulihat pemandangan disini elok sekali. Ah, tapi kalau arah sini yang kami tuju kebanyakan hanyalah keindahahan artifisial. Beda dengan yang tadi-tadi kami lihat.

Pohon-pohon besar raksasa berdiri kokoh khas hutan. Tak salah bila kebun raya ini merupakan yang tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Masya Allah. Beberapa bangunan Belanda pun masih tegak berdiri. Beberapa sudah dihancurkan atau direnovasi. Tata letaknya pun elok sekali. Tak heran bila bangunan yang berumur ratusan tahun ini selalu bisa mencuri perhatian pengunjung untuk berfoto di depannya. Sungguh, dahulu Belanda menjajah dengan konsep yang bagus. Bahkan pemerintah masih mempertahankan sisa-sisa jajahan kolonial tersebut. Kupikir, ada pula jasa mereka. Bayangkan bila kita tidak pernah dijajah. Pastilah tata kota sangat berbeda konsep. Subhanallah, bahkan Allah pun merencanakan sedemikian sehingga segala sesuatu yang terjadi ada hikmah yang bisa disyukuri. Bukan oleh yang dijajah dulu, pastinya, tapi kita anak cucu turunan ke sekian sekian. Penjajahan sekarang bukan lagi penjajahan fisik, bukan begitu? Ups, jadi melenceng. Kembali ke kebun raya Bogor.

Setelah aku menunggu sekira 10 menit terdiam di tepi danau, suami, anak dan sepupuku tak kunjung datang satupun. Menyadari bahwa prajurit nge pam tadi tidak kembali menjemput mereka. Wah-wah.. akhirnya aku send location beserta beberapa foto penanda mencolok. Mereka tiba kira-kira 15 menit kemudian dengan nafas ngos-ngosan. Jauh memang. Kalau aku mungkin sudah pingsan kecuali bila sedang tidak berbadan dua. Segera kami ke loket mobil wisata. Biaya 15.000 per orang dewasa, kanak-kanak 10.000 rupiah. Sopir yang membawa mobil menyatakan akan keliling selama 1 jam. Aku mendelik. Nyatanya hanya 15 menit saja selesai. Dimulai dari Taman Mexico yang berisi tanaman kaktus serta kamboja. Hampir semua spesies didatangkan dari Mexico. Kemudian taman Orchid alias Anggrek, lotus terbesar berada di danau dekat sana. Sayangnya mekar hanya di malam hari. Beban 10 kilogram bisa ditampung oleh lotus besar ini lho. Masya Allah…

Berputar lagi, nampak kebun pembibitan dan kultur jaringan yang sayangnya hanya buka di hari kerja. Kebun ini sekarang berada di bawah LIPI dengan fungsi untuk penelitian dan pastinya pengembangan. Lewat pula kami di sungai buatan dulunya tempat penangkaran badak di jaman Belanda. Makanan utamanya pun tumbuh berderet di tepian sungai itu, giant sosis namanya. Ada pula laboratorium tua yang masih tegak dan fungsional, kami pun sempat berfoto di depannya. Hmm… dan banyak lagi taman-taman indah di kebun raya ini. Kami sampai kembali di pool mobil. Setelah minum dan ke toilet, kami pesan lagi tiket mobil wisata hanya untuk ke tempat parkir. Rasanya tak sanggup lagi berjalan.

Waktupun sudah siang. Adzan dhuhur sudah berkumandang. Saatnya keluar dari Bogor agar tidak kena macet. Hendak singgah ke Istana Bogor tapi sekarang tertutup untuk umum dikarenakan presiden beserta keluarga tinggal disana. Hanya bisa melihat istana seluas 35 hektare dengan ratusan rusa dari luar. Lagipula Bogor kota sudah padat. Plat B banyak mendominasi jalanan. Kami pun mengurungkan niat untuk keliling kota dulu. Jelas tidak cukup waktu. Menuju toll jagorawi, mencari tempat singgah untuk makan dan sholat dulu. Ujung-ujungnya ke dekat pusdikzi lagi. Kebetulan juga ada toko oleh-oleh disana. Lapis Bogor 30.000 rupiah dan cookies talas cokelat 30.000 rupiah per item. Kalau di Jakarta harganya 36.000 rupiah, kawan. Hehe…

Memulai perjalanan ke Jakarta pukul 14.00 WIB. Sedikit macet di jalan sehingga pukul 16.00 WIB baru sampai gerbang TMII. Tujuan kami hanya agar terhindar macet parah di pinang ranti, jadi masuk gerbang TMII keluar pintu 2 tembus RS Haji. Macam naik toll sampai Bandung, biaya 40.000 rupiah sekali masuk gerbang. Sampai rumah mandi dan istirahat sejenak. Pukul 17.30 WIB berangkat ke Halim PK. Menemani sepupu makan di resto dalam. Entah kenapa aku masih sangat kenyang. Hanya ikut menghabiskan Tom Yam yang ia pesan. Sampai rumah makan salak dan tidur. Alhamdulillah… atas perjalan hari ini. PhotoGrid_1478522217625.jpg

Pelajaran dari Nenek Pengasuh Cucu

Aktivitas mengantar dan menunggui anak sekolah menjadi rutinitas di tiga hari dalam semingguku, selepas mabuk berlalu tentu. Para pengantar menunggu di bangku depan toko snack yang letaknya berseberangan dengan sekolah. Karena kebijakan pihak sekolah sebenarnya anak-anak tidak boleh ditunggui guna melatih kemandirian. Baiklah, kadang-kadang pun lepas mengantar kami pulang kadang juga kami berkumpul. Biasalah ibu-ibu. Selalu ada topik yang bisa dibicarakan. Topik ringan, bahkan kadang hanya sekedar bertanya masak apa hari ini untuk menjadi inspirasi.

Beberapa diantara penunggu murid adalah nenek si murid karena ibunya harus bekerja. Kebetulan pagi itu aku duduk bersama salah satu dari mereka. Sekilas kulihat beliau berwajah paling teduh dan sabar dibanding yang lain. Beliau adalah seorang nenek dari empat cucu yang salah satunya seumuran Aya dan dalam pengasuhannya. Sebagai nenek beliau tentunya senang bisa tinggal bersama dengan anaknya, dekat dengan cucu, mengasuhnya full mulai dari masak, menyuapi, memandikan, lantas menungguinya sekolah. Beliau ikhlas melakukan itu semua. Namun tiba-tiba saja beliau berujar, “Kadang capek itu ada. Ingin bisa istirahat. Berharap hari Sabtu dan Minggu bisa sedikit bersantai. Tapi nyatanya anak-anak saya malah menitipkan cucu-cucu ke saya dengan dalih lelah bekerja lima hari sebelumnya. Bila saya terlampau lelah si cucu saya kompori saja mandi sama makan sama mama sana… Eeh malah si cucu kembali ke saya katanya sama nenek saja. Ah, saya hanya bisa mengelus dada, mbak. Saya juga berdoa semoga saya selalu diberikan kesehatan. Itu saja. Saya pun tak pernah mengeluh pada anak-anak. Toh juga bekerja juga untuk masa depan mereka. Semua Alhamdulillah pegawai negeri. Terjamin hidupnya sampai tua.” Pungkasnya seraya tersenyum. Ada rasa bangga yang menutup lelahnya. Curahan hatinya tadi bagai angin lalu saja, kurasa.

images-7

Namun aku belajar banyak hal dari curhatan singkat si nenek.

Pertama, mengasuh serta mendidik anak adalah semata-mata tugas, tanggung jawab, dan kewajiban orangtua karena itu adalah amanah dari Allah sesuai  dengan:

-QS Al Anfaal 27-28: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

-QS At Tahrim ayat 6: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

-Hadits Nabi yang menyatakan: Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan kelak akan ditanya tentang kepemimpinannya dan seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suami dan anaknya, maka ia akan ditanya tentang mereka (HR Bukhari-Muslim).

Namun begitu Islam juga tidak melarang suami-istri bekerja. Meski hakikat seorang istri adalah di rumah, tapi pada beberapa individu memang ada hal urgent sehingga harus bekerja. Lantas bagaimana kewajiban mengasuh anak? Tetap pada orangtua, bukan pada kakek-neneknya atau pengasuh yang lain. Mereka sifatnya hanya membantu saja. Maka, seyogyanya seorang istri bekerja tidak penuh waktu sehingga ada waktu untuk mengurus anak dan keluarga. Dan bila terpaksa penuh waktu dan menitipkan kepada kakek-nenek si anak, apa yang harus diperhatikan?

Ini adalah pelajaran kedua, bahwa meski dalam lisan orangtua kita menyambut hangat dan tampak senang bisa dekat dengan cucunya, kita harus perhatikan satu hal penting. Mereka sudah tua. Mengasuh anak full time itu melelahkan sangat. Orangtua saja merasa lelah apalagi nenek-kakeknya yang lebih tua dan sudah purna mengasuh kita. Setidaknya kita tahu diri. Misal, menyediakan pembantu yang bisa membantu dan si nenek hanya fokus mengawasi cucu bukan ikut masak, memandikan, dan sebagainya. Atau bila beliau bersikukuh tidak apa-apa tetap tahu dirilah, beri waktu rehat untuk mereka walau tidak ada keluhan sekalipun. Jangan sampai seperti nenek dalam cerita ini, memendam rasa. Bila ada komitmen Sabtu-Minggu si nenek free misalnya, ya patuhilah, sebagai konsekuensi.

Pelajaran ketiga, aku tahu persis bagaimana rasanya dalam pengasuhan orang lain selama orangtuaku bekerja dulu. Ada terbersit rasa iri ketika melihat yang lain bersama orangtua mereka sedang aku tidak. Pastikan, itu tidak terjadi pada anak kita. Beri pengertian dan kuatkan hati. Apalagi usia 3-5 tahun emosi sedang berkembang dan anak menjadi sangat sensitif. Itu wajar saja, hanya perlu pendampingan serta pengertian. Kedekatannya dengan sang ibu tentu akan sangat membantu. Intinya tetap dekat di hati meski jauh.

Pelajaran keempat, pola asuh kita dengan nenek-kakek apalagi pengasuh lain tentu berbeda. Untuk menyamakan persepsi agar anak tidak bingung, banyak-banyaklah diskusi tentang perkembangan dan beri umpan balik. Tentu dengan bahasa yang santun dan tidak menyakiti. Jangan pasrah 100 persen karena itu tandanya tidak peduli atau malah terlalu mencampuri itu namanya tidak percaya.

Pelajaran kelima, persepsi orangtua kebanyakan ternyata masih “materialis”. Asal kebutuhan tercukupi bahkan si nenek bersedia meredam lelah demi masa depan anak-anaknya. Dan tak lupa uang sakunya terjamin (konon si nenek selalu dapat jatah bulanan dari anak-anaknya dan beliau sangat berbangga hati). Hmm…

Begitulah obrolan singkat pagi ini yang membuatku merenung banyak-banyak.

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al-Furqon: 74]

 

 

Urutan Menghadap Nikah di Kalangan Prajurit

Bagi para prajurit TNI/Polri menikah bukanlah hal mudah dalam artian administrasinya. Calon istri juga diteliti asal usulnya. Jangan sampai ada unsur PKI mengakar dalam keluarganya, semisal saja. Hal ini bukanlah bertujuan untuk mempersulit, justru sebaliknya. Mempermudah di kemudian hari. TNI/Polri menganut monogami. Sehingga kelak bila ada pernikahan kedua dan seterusnya yanh diakui oleh negara hanya istri yang sah. Bahkan, resiko pecat ada di depan mata.

Menghadap sebelum nikah ini sedikit berbeda antara anggota TNI dan Polri. Dan rasa-rasanya lebih ribet urusannya untuk TNI. Dalam hal ini saya akan sedikit membahas di kalangan TNI AD.

Nikah kantor, begitu istilah lain untuk menghadap nikah di kalangan prajurit. Selain diakui oleh agama, memiliki bukti nikah dari KUA, juga mendapat Surat Ijin Nikah (SIN) dari dinas. Pemberkasan awal untuk melengkapi dokumen-dokumen alias surat-surat adalah ke staf Personalia di satuan calon suami. Adapun surat-surat yang harus diisi antara lain:

1. Surat keterangan belum menikah yang ditandatangani Lurah, Camat dan kepala KUA

2. Surat keterangan asal-usul (Model N2) yang ditandatangani lurah dan camat

3. Surat keterangan tentang orang tua (model N4) yang ditandatangani oleh lurah

4. Surat keterangan untuk kawin (model N1) yang ditandatangani oleh lurah

5. Surat pernyataan kesanggupan calon istri untuk mendampingi prajurit fan mengerti:

-bahwa tugas anggota TNI AD adalah mengabdi kepada nusa, bangsa, dan negara serta alat negara harus tunduk dan taat kepada kedinasannya dan patuh terhadap tata tertib TNI AD

-kewajiban sebagai istri anggota TNI AD

-peraturan perkawinan, perceraian, dan rujuk yang berlaku di lingkungan TNI AD

Surat ini ditandatangani oleh calon istri di atas materai dan ditandatangani pula oleh lurah.

6. Surat persetujuan orangtua/wali

7. Surat permohonan ijin kawin ditandatangani oleh calon suami dan atasannya

8. Surat ketetangan persit

9. Surat keterangan bersih diri (SKBD) ditandatangai muspika (lurah, camat, danramil, kapolsek)

10. Permohonan SKBD oleh atasan prajurit yang mengajukan nikah.

Baiknya kita ambil contoh kasus saja. Misalnya calon suami adalah prajurit dari batalyon maka pemberkasan dimulai dari kompi sebagai satuan terkecil. Lebih tepatnya calon suami akan menghadap Bintara Administrasi alias Bamin. Bila calon suami adalah perwira maka melapor pada Komandan Kompi sebagai ijin pendahuluan kemudian ke Staf 3/Personalia yang ada di Markas Batalyon (Mayon). Bila di satuan lain intinya sama saja. Calon suami akan mencari staf 3/ Personalia. Setelah berkas masuk ke staf 3 dan dilengkapi maka calon suami akan membawa calon istri menghadap ke yang dituakan di satuan. Menghadap maksudnya adalah perkenalan dan orientasi. Bukan sebagai ajang perpeloncoan. Maka, jangan kuatir.

Misal lagi, pangkat calon suami Pratu (Prajurit Satu) dan berdinas di Kompi batalyon X. Kunjungan dilakukan ke yang lebih senior dari suami. Mulai dari yang berpangkat Praka, dst yang sudah menikah sampai ke Danton dan akhirnya Danki. Hal ini dimaksudkan agar calon istri diberikan pembekalan tentang organisasi dan kegiatan Persit di satuan tempatnya kelak akan tinggal. Setelah satu berkas (no.8) ditandatangani oleh Ibu Ketua (Ibu Danki) yang berisi pengesahan bahwa calon tersebut sudah “layak” diterima sebagai anggota Persit baru dan telah diberikan pembekalan awal, maka tahap selanjutnya menghadap ke yang lebih tinggi lagi, Danyon beserta staff. Biasanya, menghadap dilakukan kolektif untuk calon istri anggota dan perorangan untuk calon istri perwira. Pengarahan akan dilakukan oleh ketua-ketua seksi baru kemudian oleh Ibu Ketua (Ibu Danyon). Berkas sepuluh lembar yang tadinya ditandatangani ketua setingkat di bawah akan dibubuhi juga tanda tangan oleh Ibu Ketua setingkat di atas sebagai pengesah utama. Bila telah selesai di tingkat ini maka terakhir adalah di Brigif bila batalyon berada di bawahnya/Korem bila batalyon berada di bawahnya, tergantung pembagian yang ada. Khusus perwira, litpers akan dilanjutkan sampai ke Kodam.

Demikian kira-kira prosesnya hingga terbitlah Surat Ijin Nikah (SIN) atau dikenal juga dengan Surat Ijin Kawin yang nomernya diabadikan di KPI (Kartu Penunjukan Istri). Semoga bermanfaat.

 

Catatan Perjalanan #2

Ini adalah perjalanan keduaku ke kota “Lautan Api”. Jika sebelumnya menaiki transportasi umum kereta api, maka kali ini dengan kendaraan pribadi.

Berangkat pukul 03.30 WIB hari Sabtu selepas hujan deras mengguyur melewati jalan-jalan pinggiran ibukota yang sepi menuju pintu tol terdekat, Halim PK. Bukanlah hal yang direncanakan sangat, perjalanan ini. Hanya keputusan mendadak setelah morning sickness reda dan anak pertama bebas dari demam. Intinya kami telah sehat. Mengesampingkan kondisi si bapak yang kelelahan bekerja lembur terus dan harus menyetir. We’re so sorry, dear. But we must go. ^__^

Pukul 05.00 WIB berhenti di rest area guna sholat dan buang hajat, bergantian karena harus menjaga si sulung yang terlelap di jok belakang.

Pukul 05.30 WIB melanjutkan perjalanan dengan masih diiringi truk-truk besar. Sedikit saja mobil pribadi melintas. Intinya perjalanan di Sabtu pagi ini lancar jaya via toll Cipali. Sedikit agak bingung saat akan masuk toll Purbaleunyi, syukurlah ada GPS yang berteriak-teriak senantiasa mengingatkan.

Saat fajar menyingsing kami melewati dataran tinggi berkabut. Saatnya menikmati keindahan alam sekitar. Bukit-bukit serta jalan kereta api nun di atas sana cukup elok dipandang. Tak terasa kami sudah masuk ke kota yang kami tuju dengan waktu tempuh 3 jam terhitung waktu mampir di rest area. Sekarang tinggal mencari alamat rekan yang akan kami singgahi. Turun di Pintu Toll Moh. Toha dengan membayar 54.000 rupiah.

Bukan rumah, melainkan kost-kostan yang kebetulan di seberang kamar rekan kami ada yang kosong dan bisa digunakan. Alhamdulillah.

Sambutan hangat untuk kami, dengan hidangan sarapan pagi nasi kuning hangat yang baru dibeli. Selepas makan bergiliran mandi, air hangat tentunya, sebelum memulai wisata hari ini. Bismillah.

Pukul 09.00 WIB, cuaca cerah. Setelah kami dan rekan siap segera berangkat menuju Lembang. Cek Google Maps jalan alternatif via Punclut. Bila melewati jalan poros tentulah macet karena pastilah kebanyakan orang berpikir untuk liburan akhir pekan. Meski agak memutar dan relatif jauh namun terasa lebih cepat tanpa sesuatu yang menghambat.

Tiba di tujuan pertama, De Ranch, belum begitu ramai. Rekan berdua naik kuda dewasa, sulungku menaiki kuda pony, aku dan suami hanya sibuk merekam juga mendampingi. Selesai naik kuda mencoba permainan-permainan lain di lokasi, yaitu trampolin dan ayunan kuda. Tentunya hanya si sulung yang bermain. Terlihat pengunjung mulai ramai dan panas makin terik walaupun dingin tetap saja menyelimuti Lembang. Kebanyakan mereka wisata kuliner di tempat ini sembari menunggu giliran naik kuda dengan kostum ala Cowboy dan Cowgirl. Tak lupa mengambil dokumentasi, pastinya. Karena dokumentasi baru-baru ini jauh lebih berharga rasanya dibanding menikmati segala hal yang dilalui. Ya, rasa-rasanya. Sebelum keluar, mengambil welcome drink berupa susu sapi rasa strawberry, lemon atau vanilla. Sayangnya tidak ada rasa coklat. Aku mengambil rasa strawberry dan lemon kemudian meminum yang strawberry. Hmm.. lumayan. Tidak berasa susu.

Mobil bergerak, berbalik arah, kembali ke jalanan poros. Kemacetan sudah mulai terlihat. Bagaimana tidak, lokasi wisata terdekat dari kota Lautan Api ya Lembang ini. Pastilah akhir pekan para penduduk sekitar pun plat B bergeser ke kota ini. Meski hanya sejenak saja melepas penat ibukota. Kami memilih makan di floating market. Tak seberapa jauh dari lokasi pertama. Hanya saja, mobil kami harus memutar karena jalan searah. Lahan parkir sangat luas, jadi kami tak perlu kuatir kehabisan tempat parkir. Tepat empat mobil dari pintu masuk kami mendapat tempat.

Memasuki pintu masuk lokasi tampak wisatawan luar kota memenuhi ruang transit. Mereka berseragam. Pastilah dari sebuah instansi. Dan ternyata kelak di dalam sana lebih banyak lagi wisatawan berseragam warna-warni, dari beragam instansi yang seide untuk piknik di akhir pekan ini. Menarik.

Pertama, kami mengunjungi miniatur kereta api dengan tiket masuk 15.000 rupiah per orang. Ya, kereta api berukuran mini sekira 4 lajur dan kebetulan semuanya kereta PT Pos Indonesia (yang kali itu dioperasikan) berganti-ganti melewati rel memutar serupa di perbukitan, jembatan, melintas jalan raya, layaknya kereta api sungguhan. Rekaman suara kereta api “jujes-jujes” menggema di ruangan terbuka berdinding tinggi melingkari wahana. Ditambah rekaman suara wanita yang melafalkan “perhatian-perhatian… dst” serasa berada di peron stasiun dan perlintasan kereta api jalan raya. Betapa senangnya si sulung mengejar kereta demi kereta. Tertawa dan teriak penuh suka. Karena panas dan pinggangku serasa mau patah dengan perut yang semakin besar, aku keluar duluan bersama rekanku. Mencari tempat duduk di bawah rindang pohon seputar situ. Tak berapa lama si sulung dan bapaknya keluar.

Kamipun segera menuju lokasi makan. Uniknya, kami harus menukarkan uang dengan koin tanah liat di pos-pos penukaran uang. Koin itulah yang kami gunakan untuk membeli makanan. Kios makanan berada di atas kapal terapung yang tertambat di tepian. Macam-macam sekali kuliner di sini. Mulai dari sate maranggi, sate kelinci, berbagai olahan mie, ketoprak, aneka gorengan, soto, tongseng, gulai, dan masih banyak lagi. Bersyukur masih ada meja kosong di tengah keramaian para wisatawan kelaparan. Kami memesan sate maranggi, tongseng kambing yang masing-masing seharga 35.000 rupiah, ketoprak seharga 20.000 rupiah, kelapa muda, tahu crispy, cakwe, dan risoles masing-masing 10.000-15.000 rupiah. Tak lupa menukarkan kupon welcome drink berupa sirup orson alias jeruk. Kenyang makan, tapi masih lapar mata. Namun karena si sulung sudah kelelahan kami segera beranjak dan mencari musholla terlebih dahulu. Selepas sholat mampir sebentar ke Clothing Market. Ah, koleksinya biasa saja, tak jadi beli deh.

Rencana awal langsung pulang ke kost dan mampir dulu ke rumah rekan di kompleks Pussenif. Namun tiba-tiba aku ingin ke kebun teh. Jadilah kami belok arah ke Ciater. Foto-foto di hamparan kebun teh sembari menikmati udaranya. Masya Allah, sejuknya.

Rekanku tak lantas mau diajak pulang. Ia bersikukuh naik lagi ke pemandian air panas Sari Ater. Sampai sana pas adzan Ashar. Setelah membeli baju ganti untuk berendam seharga 50.000 rupiah per pieces kami sholat di musholla dekat pintu masuk. Cuaca yang mendung rasanya sangat mendukung untuk berendam air panas.

Memasuki area pemandian, tak seperti yang kubayangkan. Ternyata lokasinya luas sekali. Bahkan ada masjid di dalamnya. Banyak pula kios-kios penjaja makanan serta pakaian yang lebih oke daripada di luaran tadi. Ah, ya sudahlah. Rejeki para penjaja asong tadi. Pemandian yang serupa kolam renang penuh dengan wisatawan. Kulihat sekilas banyak perawakan India yang konon kabarnya memang menghuni sebagian wilayah Bogor. Jalanan menurun dan itu tak membuatku terlalu lelah. Di sebelah kanan-kiri bergantian ada lokasi bermain panahan, kolam-kolam alami dikelilingi batu, curug jodo, dan toko-toko. Kami memutuskan berhenti di sebuah kolam melingkar yang memiliki pancuran di tengahnya. Alasan utama karena cukup sepi dibanding lokasi lainnya selain karena dekat dengan tempat ganti pakaian. Sebenarnya di bawah masih banyak lokasi lain tapi kaki ini tak sanggup lagi melangkah. Merendam diri di kolam air panas sepertinya cukup mengurai lelah. Beberapa tukang urut telah bersiap di tepi-tepi tiap kolam membawa minyak zaitun dengan tarif 40.000 rupiah. Penasaran juga bagaimana mereka bekerja, tapi karena semua tukang urut adalah laki-laki tak layak pula aku meminta urut. Tak berapa lama ada rombongan yang meminta urut kaki. Rupanya mereka bekerja di dalam kolam. Wah, terkontaminasi minyak zaitun dan daki deh kolamnya… Hmmm…  Terlepas dari itu, berendam air panas sungguhlah menenangkan. Sembari menghirup udara segar khas pegunungan, badan tak merasa dingin karena berendam.

Pukul 16.00 WIB mendung mulai menunjukkan tanda-tanda hujan. Kamipun memutuskan untuk bersegera pulang. Tepat setengah jam kemudian kami tiba di parkiran. Menaiki tanjakan lebih terasa melelahkan pastinya. Setelah turun enak-enak saja barulah perjuangan naik terasa. Lelah yang mulai hilang saat di kolam tadi kembali lagi.

Menuruni jalanan pegunungan, kabut mulai menutupi bahu jalan. Pemandangan kebun teh tak terlalu tampak lagi. Dan akhirnya kemacetan mulai terjadi di jalanan poros Lembang-Bandung. Tak terurai hingga sampai kota. Total 3 jam kami terjebak macet di jalan. Lewat Maghrib, tak kunjung bisa berhenti di Musholla atau Masjid. Baiklah, Jama’ saja. Si sulung pun terlampau lelah sepertinya. Selama perjalanan ia tertidur pulas. Kondisi tubuhku pun mulai drop. Demi melihat warung bakso aku meminta dibungkuskan beserta teh manis hangat. Recharge energy. Saat aku makan di mobil, di tengah kemacetan, si sulung bangun dan minta makan juga.

Sampai di jalan Cihampelas, masih macet juga. Bahkan mobil nyaris tak bergerak. Kulihat ada toko waralaba, akupun meminta turun. Hasrat buang hajat tak bisa dielak. Sekalian beli roti dan camilan untuk para warga mobil. Selesai keperluan, mobil pas bergerak di depan toko. Aku bergegas masuk. Lagipula gerimis masih turun. Roti habis diserbu mereka. Ah, pasti kelaparan sekali ya.

Pukul 20.10 WIB sampai di dekat kost. Mampir membeli nasi dan mie goreng untuk makan malam. Selepas makan kami semua terlelap tanpa mandi lagi.

Bangun terlewat Subuh saking lelahnya. Sarapan nasi kuning lagi. Sehabis itu baru bergantian mandi. Pukul 09.30 WIB bergerak menuju rumah kawan di Pussenif. Di sana sampai selesai shalat Dhuhur dan berakhir dengan makan siang mie Akung yang fenomenal itu. Wow, porsi besar dan memang rasanya cukup unik. Antrian mengular dan ruangan cukup penuh. Beruntung kami segera mendapat meja. Setengah jam kemudian pesanan baru diantarkan. Keunikan tempat makan ini adalah tiap Jumat libur begitu pula saat Ramadhan dan idul fitri tiba. Meski begitu pelanggan tetap saja setia menanti. Di seputaran dinding penuh kaligrafi. Penyediaan musholla di lantai dua nan bersih dan terjaga menambah istimewa. Beberapa penjaja makanan kecil berbaris rapi di lorong. Ada rujak buah, kacang rebus, kue cubit, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Herannya, justru difasilitasi oleh pemilik tempat makan. Memanglah benar, rejeki takkan pernah tertukar.

Dengan setengah mati kami menghabiskan pesanan. Karena baru perdana ke sana aku sok saja pesan komplit. Ternyata kenyang sekali, kawan. Belum lagi es teller yang menggoda itu. Hampir Ashar kami baru selesai. Perjalanan selanjutnya menuju swalayan, sebelumnya Sholat dulu. Membeli perlengkapan rumah tangga yang habis karena pasti besok tak sempat apa-apa lagi. Saatnya hibernasi.

Sampai di kost pukul 16.30 WIB, memandikan si sulung dan rehat sejenak. Nyatanya sampai Maghrib. Dan aku memutuskan tidak mandi. Hawa dingin tak membuatku keluar keringat. Lebih baik pejamkan mata banyak-banyak. Pukul 20.00 WIB baru makan malam. Sate ayam menjadi menu kali ini. Selepas makan segera kembali rehat. Esok dini hari, pukul 01.30 WIB aku harus kembali ke ibukota.

Perjalanan kembali cukup lancar sebelum akhirnya masuk Bekasi agak macet. Penuh dengan truk serta kontainer. Tepat adzan Subuh sampai rumah. Suami segera berangkat ke kantor. Aku dan si sulung hibernasi seharian. What a day…

Meski begitu, rasa hati ingin segera kembali kesana lagi. Panasnya ibukota sungguh kontras dengan sejuknya Lembang. Terimakasih banyak pada Tante Nora beserta suami juga Tante Ratna beserta suami. Lain kali kami akan kembali lagi. InsyaAllah.

PhotoGrid_1477895016637.jpg

Sebuah Filosofi Terima Kasih

PhotoGrid_1477637225603.jpg

*Tulisan ini terinspirasi dari petikan tausiyah alm. Ust. Uje*

Pernahkah kita diberi? Pasti pernah. Pernah pulakah kita memberi? Insya Allah lebih pernah lagi yaa daripada diberi. Aamiin. Karena memberi dan diberi bukanlah hal janggal. Meski begitu memberi tentulah lebih utama daripada diberi. Lantas adab apa yang berkaitan dengan hal tersebut?

Saat kita diberi sesuatu oleh orang lain kita pasti refleks mengucap terima kasih, Alhamdulillah. Tapi kenapa kata terima kasih bukan sebuah akad saja “saya terima”?

Sesungguhnya ada beberapa pelajaran di sana, pesan lebih tepatnya. Yang pertama, ingat betul bahwa sejatinya Allah lah yang memberi. Maka ucapan syukur yang pertama dan utama adalah untuk Nya. Manusia hanyalah perantara pembagi. Sesuai hadits berikut:

Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a, dia berkata dalam khutbahnya, bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka diberi Nya orang itu pengetahuan yang dalam dan luas mengenai agama. Sesungguhnya aku ini hanya membagi-bagi, sedangkan yang memberi ialah Allah s.w.t. (HR Muslim).

Yang kedua, bila kita diberi maka kita akan terima “sesuatu” dan dari “sesuatu” itu ada pula rezeki yang dititipkan pada kita untuk dikasih (diberikan) pada orang lain. Ingat ya, orang lain. Bukan melulu kita harus balas pemberian yang memberi. Bisa jadi kepada makhluk lain atau bahkan kepada yang tidak kita kenal sekalipun. Intinya, tiap kita menerima pemberian kita juga mendapat kewajiban mengasih (eh.. memberi) sesuatu ke yang lain. Ya, sedekah, sekalipun hanya seulas senyum manis tanpa gula atau perkataan baik nan menenangkan hati. Maka, dengan begitu hidup akan seimbang. Saya pun berharap semoga tulisan-tulisan ini bernilai sedekah pula, sedekah kata. Aamiin.

Lantas, bolehkah kita menolak pemberian? Tidak, sekali-kali tidak boleh. Demi menghargai dan menyenangkan hati orang yang memberi, terimalah sekecil apapun pemberian walau nantinya kita berikan lagi pada yang lain. Namun di sisi lain kita juga dilarang keras meminta. Contohnya, meminta oleh-oleh (#ehhh…).

Dari Salim bin Abdullah r.a dari bapaknya, katanya: Rasulullah pernah memberikan (bagian zakat) kepada Umar bin Khattab r.a, lalu ditolak oleh Umar. Katanya: Yaa Rasulullah! Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan daripadaku. Sabda Rasulullah s.a.w: Ambillah dan pergunakanlah untuk keperluanmu, atau sedekahkan! Apabila engkau diberi orang suatu pemberian tanpa engkau idam-idamkan dan tanpa meminta, terimalah pemberian itu. Tetapi ingat, sekali-kali jangan meminta. Kata Salim: Oleh karena itu Ibnu Umar (ayah Salim) tidak pernah meminta apa saja kepada seseorang, dan tidak pernah pula menolak apa yang diberikan orang kepadanya. (Hadits Muslim).

Demikianlah, sinergi memberi dan menerima dalam filosofi sederhananya. Terima kasih.

Previous Older Entries