Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (15)

Note with addition,
KOMUNIKASI
@anakjugamanusia

Komunikasi anak dan orangtua bukan hanya penting akan tetapi menjadi kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apapun kepada kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua hanya berkomunikasi ke anak pada saat tertentu saja, misalnya:
♢Saat marah
♧Saat menyuruh
♤Saat mengkritik

Hmm.. semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Padahal, seperti tertulis dalam tulisan sebelum sebelumnya bahwa tingkat komunikasi level tinggi adalah cukup menjadi pendengar setia. Itu berarti mendengar tanpa marah, kritik, pukul balik cerita, kemudian memberi masukan yang bijaksana dan fokus pada solusi saat ia minta pendapat.

Terkadang, orangtua ingin tegas pada anak. Ya, tegas itu bagus tapi bukan keras. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten.

Saat anak balita, orangtua adalah guru utama. Namun saat ia sudah beranjak dewasa posisikan kita sebagai sahabat (jangan seperti iklan obat nyamuk tuh…). Jadilah tempat curhat yang asyik buat anak agar ia tidak memilih curhat ke teman-temannya yang belum tentu benar. Kemudian dengan pasangan kita juga harus saling mengingatkan bila sudah mulai tidak bersahabat dengan anak. Saat memberi nasihat usahakan untuk tidak frontal dan menyerang, misalnya, “makanya kamu jangan begitu! Makanya kalau dikasih tahu nurut!”. Akan lebih baik bila, “hmm… mama bangga kamu sudah berusaha menghadapi masalah ini. Dulu tantemu juga pernah punya masalah hampir mirip. Tantemu bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku ya karena bisa begini begitu. Sejak saat itu mama inget betul kata tantemu. Kalau untuk masalahmu kira2 bagaimana, sayang?” Seolah-olah si tante yang memberi nasihat padahal ya kita juga yang bikin cerita perumpamaan. Bandingkan dengan, “Makanya kamu jangan begitu nanti kayak tantemu loh.” Kan anak jadi tidak mampu berpikir sendiri dan cenderung menutup diri lagi.

Kecuali kalau anak masih balita. Misal ia jatuh, maka respon kita, “wah.. jatuh ya sayang… tidak apa2, lain kali harus hati2 yaa tidak boleh diulang lagi lompat di jalan bebatuan,” dengan perumpamaan tentu mereka belum paham.. hehe… kemudian jangan pernah menyalahkan, misal: “uuhh.. batunya nakal ini, pukul aja! Atau ih kodok nih yaa bikin adek jatuh…” kelak dia akan terbiasa menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi diri. Kelak dia akan jadi pribadi tidak bertanggung jawab. Maukah begitu…?

Kemudian sering pula kita meng iming-iming hal yang tidak benar atau menakut-nakuti hal yang salah. Misal, kalau nakal nanti disuntik pak dokter loh, kalau masih bandelnya minta ampun enggak mau nurut sama mama biar mama panggilkan pak satpam/pak polisi saja. Hal ini justru akan membuat bapak ibu kerepotan saat anak betul-betul butuh dokter atau saat bertemu para aparat. Atau ayoo makan dulu nanti kita naik odong-odong (padahal enggak), nantinya anak akan belajar berbohong juga. Mending sampaikan saja kalau tidak makan nanti perutnya bisa sakit atau pengen tinggi nggak? Ayo makan yang banyak.

Memang tidak lantas berhasil tapi mereka berproses untuk memahami. Mendisiplinkan anak harus dimulai dari dini, jangan beranggapan anak kecil bisa lupa dan nurut jika diancam seperti itu. Dan yang paling penting kedua orangtua serta pengasuh yang ada di rumah harus kompak yaa.. Coba yuk…!

“Tiada perubahan yang instan seperti makanan instan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s