Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (14)

Note with addition,

TEKNIK MEMBANDINGKAN YANG BAIK

@anakjugamanusia

Seringkali kita refleks membandingkan anak satu dengan yang lain bahkan dengan anak orang lain bila anak kita berperilaku tidak baik. Misal: itu loh seperti kakakmu, pintar!; gitu aja ga bisa, gitu aja ga berani, adikmu aja berani; kamu ini ya nakalnya minta ampun, nggak kayak si Anu, Mama kan malu; kamu ini pemalas ya, beda sekali sama papa dulu; awas ya kalau nilaimu masih jelek besok mama carikan guru les yang galak.

Cara membandingkan tersebut tidak efektif. Seringkali anak malah minder, malu, sakit hati, dan tidak percaya diri. Bahkan sampai dengki dengan anak yang diperbandingkan tersebut. Kalaupun mau berubah itu karena ia ingin berubah dan mematahkan anggapan orangtuanya, bukan karena tanggung jawab pribadi. Yang lebih parah bila sampai menghakimi diri sendiri, “ya memang aku ini bodoh, malas, nakal, mau gimana lagi?”

Berarti kita tidak boleh membandingkan anak-anak, nih? Boleh, tetapi tidak diperbangkan dengan orang lain tapi dengan dirinya sendiri.

Puji dia setiap berbuat baik sekecil apapun, Misal:

-duh, kakak pintar ya…

-kakak, terimakasih ya hari ini sudah menjadi kakak yang luar biasa. Mau bantu adik dan mama… mama bangga sama kakak.

Nantinya bila anak kita berbuat kurang baik kita bisa me recall kebaikan dia. Misal:

-kakak kan udah pintar kemarin2, mau bantu mama beresin mainan. Ada apa sekarang kok tidak mau?

-kakak kan seorang kakak yang luar biasa. Seingat mama kakak selalu membantu adik dengan riang. Sekarang kok begini kenapa ya?

Dengan demikian anak akan merasa, “oh iya yaa kan aku dulu pernah berbuat baik, tentunya besok aku akan bisa berbuat baik,”

Atau gunakan bahasa yang merefleksikan perasaan kita, seperti: mama sedih kalau kamu seperti ini, mama kurang baik mengajarimu, sepertinya.

Namun jika kebaikan kecil saja kita lewatkan dari mana ia tahu itu yang namanya berbuat baik dan jadi anak pintar menurut kita?

Tuhan menitipkan anak yang sempurna pada kita

Kitalah yang melabeli anak dengan sebutan bodoh, nakal, dan sebagainya

Percayalah, tidak ada produk gagal dari Tuhan

Kitalah yang harus berusaha memahami mereka, belajar tentang kelebihan mereka dan menerima kekurangan mereka

Bukan anak kita yang harus diganti, cara kita memperlakukan anaklah yang perlu diperbaiki.

Yuk, terus belajar. Manusia tidak ada yang tidak pernah salah. Bukan berarti begitu tidak sempurna. Kesempurnaan adalah ketika kesalahan tadi diperbaiki. Kesempurnaan yang sejati bukanlah dari hasil yang kita peroleh melainkan dari proses yang mampu dan mau kita lewati sepanjang hidup untuk mencapai sesuatu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s