Ketika Anak Enggan Belajar

“Jangan memaksa anak untuk belajar.”
Betul, sepenuh hati kuyakini pendapat di atas. Anak itu tak bisa dipaksa. Ketika banyak lembaga kursus baca tulis dan pendidikan usia dini yang ada sekarang malah memperlakukan demikian, mirislah hati. Pasalnya, sulungku, di usia 4,5 tahun belum mau belajar membaca  baik itu latin ataupun hijaiyah. Dulu pernah terpaksa bisa ketika masih “sekolah” di PAUD dan sekarang sudah lupa semua. Biasa, iklim kompetisi dan ikut-ikutan teman. Jika yang lain bisa maka ia pun harus bisa. Tapi… aku melihat ada yang lain. Ada bias ketakutan di wajahnya setiap pulang sekolah. Ah, mungkin dia belum siap namanya juga ikutan teman sekolahnya. Maka, setelah setahun berlalu, ku stop saja. 

Benarlah, ketika kulatih sendiri di rumah ia selalu salto atau menggambar atau pengalihan-pengalihan lain. Sampai terkadang aku jengkel sendiri dan mengancam akan memasukkannya kembali ke sekolah. Ia menangis dan merajuk mau belajar. Aku tahu ia terpaksa dan akupun menyudahinya. Kuatir malah takut dan trauma dengan baca tulis ataupun mengaji. 

Teringat dulu, aku baru bisa baca di usia SD dan betapa bahagianya usia di bawah itu hanya bermain saja. Kini, semuanya seperti dikarbit. Dipaksa bisa sebelum fitrah berkembang. Tuntutan jaman, konon kabarnya. 

Padahal, anak-anak yang berkembang mendahului fitrah akan sedikit banyak merusak jiwanya. Jiwa yang fitrahnya belajar menjadi benci akan belajar. Semua inginnya serba instan. Apakah itu akhlak yang kita harapkan? 

Jakarta, 04 Oktober 2017

Ayuseite

Advertisements

Catatan Wisuda Matrikulasiku

Tema: Ibu Profesional, Arsitek Peradaban

(Resume oleh: Gustrin Oktaviayu as myself)

Wisuda Matrikulasi Institut Ibu Profesional Jakarta batch #4 ini termasuk deretan wisuda akhir dari semua regional yang melaksanakan wisuda offline. Akhir identik dengan mahir karena telah belajar banyak dari wisuda sebelum-sebelumnya yang telah dihelat. Benar saja, wisuda ini terkesan spektakuler dan elegan.  

Dari temanya saja, kita seolah disuguhi sesuatu yang futuristik. Terlihat dari desain flyer, poster, backdrop dan sarana pendukung lain yang eye catchy dengan sentuhan warna ungu, putih serta biru. Demikian pula pemilihan warna dresscodenya. Tak sedikit yang rela merogoh kocek untuk membeli baju sesuai tema. Hasilnya, nampak serasi dan menarik hati.

Alur peserta datang, disambut tim registrasi yang super sigap dan pemberian arahan anak-anak ke Kids Corner yang terletak di selasar gedung juga demikian. Tampak bazaar di seberang meja registrasi membuat mata melirik sana-sini. Memasuki area wisuda, disambut photobooth bertemakan pohon harapan. Sayangnya, pohon itu tak rimbun oleh kertas bertulisan. Namun tetap saja unik dan instagramable. Peserta duduk sesuai nomer kursi yang telah ditentukan panitia untuk memudahkan mobilisasi ketika prosesi wisuda berlangsung.

Acara dimulai dengan pemutaran video sambutan, kolase album wisudawati, lanjut pembukaan secara resmi, tilawah QS Luqman, sambutan ketua panitia, sambutan leader IIP Jakarta, prosesi pemotongan tumpeng, prosesi wisuda ditandai dengan penyematan selempang ke perwakilan/ketua kelas, persembahan mini drama, acara inti berupa talkshow bersama ketiga putra-putri Bapak Dodik dan Ibu Septi yang inspiring kemudian penutup. Di sela acara diisi pembagian doorprize yang jumlahnya ratusan.

Dalam presentasinya, Mbak Enes, Mbak Ara dan Mas Elan menyampaikan materi tentang keutamaan mendidik adab dalam keluarga serta memberikan beberapa contoh di keluarga mereka.

Ibu profesional, arsitek peradaban merupakan tema yang cukup berat menurut mereka. Sebab, peradaban bersifat jangka panjang dan berkaitan dengan metode waktu. Untuk memudahkan kita semua memahami, sebaiknya dirunut dari asal katanya, yaitu adab. Adab berkorelasi kuat dengan adat budaya setempat. Kita disebut beradab jika memiliki akhlak baik. Akhlak kita baik jika keimanan kita baik.

Gambaran yang diberikan berupa tangga ke atas, tapi disini saya buat dari atas ke bawah (karena tidak bisa buat tangga T.T):

Iman — sesuatu yang “hitam putih”, absolut. Contoh, Allah itu Esa

Akhlak — bersifat universal, contoh: jujur itu baik

Adab — bersifat lokal, berhubungan dengan interaksi manusia, korelasi dengan adat, contoh: bersendawa tidak sopan di Jawa tetapi di Arab justru dianjurkan dilakukan setelah makan

Bicara

Mereka mengerucutkan satu poin saja untuk dibahas, yaitu adab berbicara. Seperti dalam forum resmi, anak-anak balita sebaiknya sudah mulai diberitahu yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum berangkat agar mereka mulai mengerti kapan bisa bicara bebas kapan terbatas. Etika berbicara pun juga perlu diperhatikan, semisal pemilihan kata yang halus untuk bicara ke yang lebih tua, dilarang memotong pembicaraan, dilarang berbicara tentang SARA, politik, hate speech, dan lainnya. Dengan sering menyampaikan demikian anak akan belajar dan lebih adaptif, lebih bisa menghargai dan menghormati oranglain terutama orang yang lebih tua. Jangan lupa bahwa anak itu peniru ulung. Putra putri bapak Dodik dan Ibu Septi terbiasa dengan presentasi di depan forum karena mereka terbiasa melihat orangtuanya demikian dan bahkan selalu dilatih presentasi setelah semua selesai kegiatan di malam hari pun hanya dengan menyampaikan “tadi saya melihat 10 semut”.

Anak akan percaya kepada orangtua yang konsisten memberikan teladan, bukan omong doang. Misal, ibu sampaikan dilarang nonton TV tapi ibunya sendiri nonton sinetron melulu. Anak akan cenderung mencari figur lain. So, jangan segan untuk sampaikan maaf kepada anak jika kita terbelit inkonsistensi. Ada kalanya anak juga akan melawan kita demi dianggap atau sekedar diperhatikan.

Bapak Dodik terkenal tidak pernah marah tapi sekalinya marah beliau murka. Dalam mendidik ketiga putra putrinya, beliau membedakan metode sesuai dengan karakter anak. Secara umum tipe anak dibagi menjadi kinestetik, visual, dan auditori. Bisa campuran dari ketiganya. Misal, Mas Elan adalah anak kinestetik dimana ia mengklasifikasikan menjadi kinestetik low (sedikit saja bergerak cukup), medium (melihat orang bergerak saja cukup) dan high (membayangkan bergerak saja sudah cukup) sedangkan mbak Ara tipe campuran kinestetik dan auditori sehingga ibu Septi sempat harus mengajar Mbak Ara ketika sedang lari-lari. Pengklasifikasian ini bukan untuk mengkotakkan tapi memudahkan kita menemukan metode belajar yang pas untuk anak sesuai fitrahnya.

Ibu Septi adalah pembelajar yang luar biasa. Bahkan, ibu Septi sampai bisa menemukan metode luar biasa terinspirasi dari ketiga putra putrinya. Dari Mbak Enes yang suka matematika Ibu Septi mencipta Jarimatika. Dari mbak Ara yang susah membaca ibu Septi menemukan metode Abacabaca. Dan dari Mas Elan lahirlah Lebah Putih.

Mereka bertiga mengaku diberi kebebasan penuh menentukan metode belajar apa yang disuka. Entah homeschooling atau sekolah formal yang penting home education berjalan terus. Intinya, mereka enjoy dan bisa bergerak sesuai fitrah.

Demikian, semoga kita bisa menjadi ibu-ibu profesional yang menjadi arsitek bagi peradaban baru yang lebih baik. Tak usah muluk-muluk, peradaban dari dalam keluarga kecil kita saja dulu lantas bergerak ke komunitas dan bangsa. Meminjam istilah Cak Nun dalam bukunya, bahwa Indonesia membutuhkan peradaban spiritual (dilandasi iman taqwa, kembali ke fitrah) agar bisa menjadi pemimpin peradaban dunia. Maka, mampukan kita. Biidznillah.

Makanan Pendamping ASI Baby Ayi

Memulai makanan pendamping ASI, bagiku adalah seni tersendiri. Ada rasa deg-degan juga. Apakah anak doyan? Apakah akan ada alergi? Bagaimana BAB nya? Dan pertanyaan lain yang menyeruak dan membuat gamang. Tapi, semua harus dicoba. Karena jarak anak pertama dan kedua nyaris 4 tahun maka ilmuku juga antara ada dan tiada. Belajar lagi dan lagi. Demikian saripati ilmu yang kubaca dari berbagai sumber. Masalah betul atau salah tidak ada pakemnya karena teori tentang MPASI ini buanyaaakk sekaliii. Kalau saya pribadi lebih menggunakan teori yang sesuai dengan feeling saya. Yak, begitulah seorang ibu. Selalu main feeling bin perasaan. Apapun itu, ibu pasti melakukan yang terbaik untuk anaknya. Bukan begitu? Oyaa, sedari dulu saya menghindari sesuatu yang instan. Bubur instan yang berjibun di toko tak pernah saya gunakan. Dulu di anak pertama saya pakai Happy bellies tepung beras merah. Karena sekarang saya cari tak ada lagi maka pakai Gasol produk lokal yang baru banget saya kenal (tahu gitu dari dulu pakai ini.. murce cyinn…). Inipun baru saya pakai lewat 14 hari perkenalan karena anak saya batuk pilek dan menolak makanan tim saringnya. Trial and error. Alhamdulillah dia mau.

Prinsip MPASI menurut WHO:

1.Age: bayi diperkenalkan makanan padat di usia 6 bulan. Pada usia ini kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang dan beraktivitas sudah tidak bisa lagi dipenuhi oleh ASI pun sufor. Bila diberikan sebelum itu beresiko tinggi alergi, diare, atau bahkan permasalahan yang lebih serius di sistem pencernaan.

2.Frequency:

usia 6 bulan awal diperkenalkan makanan padat (bubur saring) 1-2 kali sehari, dimana di 14 hari pertamanya adalah menu tunggal dengan satu menu selama 3-4 hari untuk mengeliminasi kemingkinan alergi. Setelah itu diberikan menu 4 bintang (karbohidrat, protein, vitamin mineral, lemak dari minyak ekstrak ataupun unsalted butter).

Makanan yang disarankan:

a.serealia : tepung beras

b.sayuran: labu parang, ubi jalar, kentang, kacang hijau, zuccini, kacang merah

c.buah: pisang, pir, apel, alpukat, jeruk, pepaya

Yang belum boleh: daging, kerang, udang, cumi, susu dan produk olahannya, ayam, ikan laut dalam jumlah banyak

Umur 7-8 bulan, diberikan 2-3 kali sehari.

Jenis makanan yang disarankan (selain yang telah diperkenalkan di 6 bulan):

a.serealia : jagung, sorgum, jali jali

b.sayuran: asparagus, kacang kedelai, wortel, bayam, brokoli, lobak, sawi

c.buah: mangga, blewah, timun suri, peach

d.lauk: ayam, sapi, tempe, tahu

Yang belum boleh: kerang, udang, cumi, susu dan produk olahannya (keju susu yoghurt), ikan laut dalam jumlah banyak

Umur 9 bulan, diberikan 3x per hari

Jenis makanan yang disarankan selain yang di atas:

a.sayuran: kacang kapri

b.buah: melon

c.lauk: ikan, bebek, telur, keju

3.Amount: Amount atau jumlah kalori. Banyaknya makanan yang kita berikan pada bayi harus disesuaikan dengan kebutuhannya akan kalori. Pertama-tama, kita bisa memberikan porsi 2-3 sendok makan puree kental, dan terus tingkatkan porsi dan tekstur sedikit demi sedikit secara bertahap setiap hari. Pada bayi 6-9 bulan dapat diberikan porsi MPASI setengah mangkok ukuran 250 ml. Setelah umur 1 tahun sudah dapat diberikan 1 mangkuk penuh. Jumlah makanan atau porsi yang kita berikan dapat diukur dan disesuaikan dengan kenyamanan bayi dan asupan energi yang dibutuhkan oleh si kecil.
Bayi usia 6-8 bulan membutuhkan asupan sekitar 200 kalori per hari, selain dari ASI. Sementara untuk bayi usia 9-11 bulan membutuhkan 300 kalori per hari dan bayi usia 12-23 bulan membutuhkan 550 kalori perhari. MPASI yang berkalori dan penuh nutrisi penting untuk mendukung kebutuhan nutrisi bayi yang semakin hari semakin besar.

4.Texture: Sejak diberikan makanan pendamping ASI perdananya, bayi sudah bisa diberikan puree semi kental. Jangan terlalu encer, karena kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi dalam setiap porsinya.
Semakin encer, berarti semakin banyak kadar airnya dan semakin sedikit kandungan kalori dan nutrisi dari makanan.
Patokan kekentalannya adalah bila puree diambil dengan sendok kemudian sendok dimiringkan, puree tidak langsung tumpah mengucur, melainkan jatuh perlahan. Kelak saat 8 bulan bisa mulai diberikan finger food. Target 12 bulan sudah bisa makan dengan menu keluarga.

5.Variety: pemberian menu bermacam-macam, bergantian, tidak boleh hanya buah saja, misalnya. Jangan lupakan 4 bintang tadi. Untuk yang disarankan sudah dibahas di poin frequency.

6.Active-Responsive: anak yang dibiasakan makan sendiri dengan metode aktif- responsif dapat makan lebih banyak daripada yang tidak. Selain itu, biasakan si kecil untuk menggunakan piring dan sendok sendiri agar kita juga bisa mengukur kebutuhan makanannya. Makan adalah proses belajar, maka dampingi dengan sabar. Respon tiap anak akan berbeda dan tidak bisa sama sekali disamakan. Maka, jangan berkecil hati.

7.Hygiene:

Perhatikan hal berikut:
a.Cuci tangan hingga bersih menggunakan sabun sebelum memberikan makan ke bayi. Tangan bayi juga harus bersih sebelum makan.
b.Sebelum memberikan makanan ke bayi, cuci bersih semua peralatan seperti gelas, piring/mangkuk yang akan digunakan oleh si kecil, juga peralatan masak yang akan kita gunakan.
c. Selalu gunakan air bersih dalam memproses makanan dan mencuci peralatan makan
d. Memberikan minum anak dari gelas yang sama yang digunakan orang dewasa akan lebih mudah menularkan penyakit. Gunakan peralatan makan khusus untuknya.
e.Sebaiknya jangan menggunakan botol dot untuk memberikan minum kepada bayi karena karet dot lebih sulit dibersihkan daripada gelas biasa.
f.Simpan makanan di tempat bersih dan aman dari jangkauan serangga/binatang. Jangan menyimpan makanan terlalu lama, sekalipun di dalam kulkas. Sebaiknya tidak lebih dari dua jam, karena makanan yang terlalu lama disimpan akan membuat bakteri berkembang.

Berikut adalah contoh menu trial 14 hari dari saya, bila saya skip tidak sampai 4 hari per menu berarti tidak ada tanda alergi.

Day one: bubur saring beras merah plus asi 3x makan @2 sendok makan bayi. Cara membuatnya, 2 sendok makan beras direbus dengan air sampai berupa bubur. Tapi, karena karakter beras merah ini keras jadi susaah sekalii lembek. Setelah lembek lantas disaring dengan saringan teh yang dari kawat itu. Respon ayi mau makan sendiri dan BAB setelah makan.

Day two: bubur saring beras merah plus asi 2x makan @2 sendok makan bayi. Cara membuatnya rada berbeda, kali ini beras dimasak di magic com, setelah tanak baru memasaknya di atas kompor bersama air. Setelah mendekati wujud bubur diberi minyak canola beberapa tetes lantas disaring. Respon ayi mau makan namun dengan sisa. Perut kembung, rewel, tidak BAB.

Day three: karena kuatir belum BAB maka mencoba menu lain. Labu dari golongan buah semi sayur. Caranya, labu dikukus dan setelah tanak disaring.

Respon: dimuntahin pada kesempatan pertama. Kesempatan kedua dilepeh-lepeh dan sendok dibanting. Kesempatan ketiga, lumayan lahh. BAB belum juga keluar.

Day four: mencoba protein ikan salmon diselingi labu. Kedua bahan dikukus. Salmon saring dilumat dengan asi secukupnya. Tak lupa didampingi air putih untuk bantu telan.

Respon: awalnya seperti doyan, dia pegangi gelas air dan mulut mangap jadi mudah menyuap. Sayangnya, dia lekas bosan. Menggendong sebentar dan cari suasana lain dengan dipangku sama tante Fe. Seperti mau muntah. Belum habis porsi mini nya dia sudah marah tak karuan. Walhasil nenen dan tidur lagi.

Di kesempatan kedua mau buka mulut, habis 1 sendok makan dewasa lalu bosan dan tidur.

Selingan labu sudah mulai familiar rasanya terbukti dengan mau buka mulut menghabiskan porsinya. BAB belum juga.

Day five: masih sama dengan hari sebelumnya, salmon dan labu. Untuk labu ini adalah trial hari.ketiga sedangkan salmon kedua (last). Alhamdulillah lahap… 2 kali salmon @1.5 sendok makan dewasa dan 1 x labu 2.5 sendok makan dewasa. Pagi BAB lumayan banyak.

Day six: alpukat plus ASI 3x pemberian @1.5-3 sendok makan dewasa. Lahap sekali meski 2x nya diberikan di jalan (mobil). Tidak BAB.

Day seven: (masih) alpukat plus ASI di pagi hari tapi sukses dimuntahkan. Akhirnya nemu pepaya masak di halaman rumah uti Tiwik. Lumayan habis hampir 3 sendok makan dewasa di 2 x pemberian. Nyam nyam. Belum BAB juga.

Day eight: pisang kerok 2-3 sendok makan di pagi siang sore. Edisi pengen praktis karena on the way Jakarta. Setelah makan sore akhirnya BAB. Ternyata ada perubahan konsistensi menjadi padat. Ini kali pertama feses Ayi “berbentuk” sehingga sedikit melukai anus. Ada darah sedikit. Okay, oles baby oil sedikit membantu “evakuasi” feses.

Day nine: karena tendensi konstipasi maka menu hari ini tinggi serat tapi bersifat laksatif, kacang merah per makan 2 sendok dan selingan apel parut dan disaring. Menambahkan porsi air putih menjadi 10-15cc per pemberian makan (aturan sih 60-120 cc). BAB 3x sedikit sedikit dan berbentuk.

Day ten: BAB pagi bangun tidur. Menu pisang dan bubur beras putih saring plus minyak EVOO (ekstra virgin olive oil) habis cukup banyak. Bahkan tiap habis makan 1 jam kemudian BAB. Sore, menu kutambah eh malah muntah. Ternyata memang kapasitas cuma maksimal 3 sdm dewasa plus air putih 10cc.

Day eleven: BAB bangun tidur. Menu utama kacang hijau direndam semalam kemudian di steam pakai slow cooker lantas disaring. Menu selingan sedianya sari apel tapi sebelum diminum udah tidur duluan. Yasudahlah. Makan lahap 2x @3 sendok makan dewasa. BAB tiap sejam setelah makan.

Day twelve: ikan kakap selingan sari apel. Waktu makan pagi lumayan lahap, habis 1.5 sendok makan, siang cuma 3 suap karena badan agak panas, sore lahap sari ½ buah apel merah. BAB 1x.

Day thirteen: tempe selingan tomat. Tempe dimasak dengan slow cooker kemudian disaring dan diberi asi. Di pagi hari lahap. Di pemberian kedua udah enggan. Tomat direbus dulu sebelum disaring dan diberikan. Seneng banget dia, tomat 1 buah habis. BAB 2x.

Last day: kacang panjang 2x pemberian dan selingan pisang. Pagi habis makan langsung muntah karena sy coba lagi campur sedikit evoo. Siang hanya dengan ASI lahap makannya. Pisang nyaris habis ½ buah tapi dia batuk dan muntahin semua. BAB 1x.

Untuk menu 4 bintang, saya inisiasi dengan beras putih, wortel, tahu, unsalted butter sesuai komposisi aturan dari slow cookernya (saya pakai Baby Safe). Lumayan lahap di pagi hari. Tidak demikian di siang hari. Malam selingan pisang sukses dimuntahkan semua bersama lendir dahaknya. Di hari kedua 4 bintang saya hanya memberikan bubur beras merah dari Gasol. Di hari ketiga saya mencoba kentang, wortel, tempe plus unsalted butter hanya masuk beberapa suap dan sukses muntah bersama lendir. Sore hari mencoba kembali tepung beras merah Gasol plus sari buah naga. Lumayan lahap dan habis ½ porsi.

Berikutnya, kombinasi sesuai saran dimana pagi/siang hari saya membuat nasi tim dan sore baru bubur beras merah atau rasa lain dari Gasol dicampur ekstrak buah.

Semoga bisa menginspirasi. Have fun!

 

First Article

Di pagi itu WA dari seorang sahabat di Ambon mengabarkan tulisanku dimuat di majalah kebanggaan Kartika Kencana edisi No.98/Thn.XXXIV, Juli 2017. Kemudian salah seorang adek di Magelang pun mengabarkan hal serupa. Dan akhirnya, beberapa kemudian majalah dan surat cinta dari pemred kuterima. Alhamdulillah. Artikel ini kutulis setelah mendengar lagu Pernikahan Dini Agnes Monica.

 

Atas pencapaian ini… tak layak aku berbangga. Ini benar-benar hanya permulaan. Heyyy… this is my first time having a tips when i write. Alhamdulillah. Perjalanan masih panjang, tujuanku bukan untuk itu (dikit sihh… hehe) tapi agar tulisan yang kutulis bisa memberikan manfaat bagi yang membaca baik di blog ayuseite.wordpress.com yang udah mulai sering dicatut orang tanpa menuliskan sumber ( Ehh ternyata sakitnya tuh disini loh tau tulisan dibeber di status orang seolah dia yang nulis…) atau di Fb, di IG, WA, dsb. Aku tak ingin berbangga hati. Astaghfirullah, smoga diri ini dijauhkan dari keangkuhan duniawi. Target selanjutnya adalah menulis buku best seller dan sepuluh tahun ke depan aku harus bisa menjadi inspirator.  

Terimakasih, kepada Mbak-Mbak tersayang atas jalan yang diberikan. Pun kepada keluarga yang senantiasa mendoakan.  

Sebuah Refleksi Akhir Bulan

MasyaaAllah…

Qodarullah dipertemukan dengan Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah dipersatukan dengan rekan-rekan yang luar biasa di kelas Matrikulasi Jakarta 1. Disana, ada Fasilitator kami yang suka becanda dan selow, ada ketua kelas kami yang berhati seluas samudera, ada 2 pakar permainan anak, ada pendongeng, ada penjahit yang menjadi designer pribadiku, ada hafizah, ada ustadzah beranak tujuh dan masih ingin nambah satu, ada yang rajin dan teliti menulis catatan, ada yang gokil bersuara emas jago MC dan ternyata dubber iklan, ada yang jago fotografi, ada yang jago design multimedia, ada aktivis blogger, ada yang suka sekali membuat jus banyak-banyak saat kopdar, ada juragan mangga, ada pengusaha garmen, ada istrinya creative TV swasta, ada psikolog yang low profile, ada 2 dosen kebidanan, ada yang jualan buku, dsb yang semua sangat inspiring.

Setiap teringat mereka aku sangat terharu. Komunitas ini benar-benar membuatku menuai manfaat. Saling bertukar informasi tanpa rasa sombong di hati. Saling memberi materi tanpa merendahkan harga diri yang diberi.  Subhanallah.

Dari komunitas ini aku sedikit lebih banyak memahami diriku, memahami tujuan hidupku, dan menemukan hobi lamaku. Baca puisi.

Di sini pun aku belajar bahwa sekedar tulisan singkat dengan timing yang tidak pas bisa membuat tafsir dan persepsi yang berbeda. Bisa membuat hati terluka. Bisa membuat amarah melanda. Subhanallah..

Pembelajaran bagiku agar selalu berhati-hati dalam menulis, dalam merangkai kata terlebih dalam percakapan singkat di WA.

Astaghfirullah…

Yaa Rabb, beginilah cara Mu, menegurku. Aku yang terlampau senang dan bangga dengan komunitasku, oleh mereka pula aku Engkau tegur.

Astaghfirullah…

Sejak rutin menatap HP demi berinteraksi dengan teman-teman baru yang inspiratif membuatku lupa untuk berdzikir.

Sejak rutin menatap layar HP aku lalai untuk bertilawah.

Sejak rutin merespon dengan sigap HP yang berkedip aku lupa untuk sholat di awal waktu.

Astaghfirullah….

Aku lena dengan rasa bangga, lena dengan rasa suka, lena dengan pujian, lena dengan candaan. Aku lena bahwa ada kewajiban yang belum aku tuntaskan.

Maka..

Dengan “rasa” pula aku dihempaskan. Dengan tuduhan tidak berperasaan membuatku terhenyak dan tersadar. Oh Allah, aku melupakanMu.

Dengan lekas aku tinggalkan semua. Dan masyaaAllah kini hatiku lebih tenang. 

Astaghfirullah…

Pada kesempatan terakhir akupun mengenal lebih dekat beberapa teman baru di komunitas yang abai aku dekati sebelumnya. Yang justru lebih ikhlas dan masyaaAllah. Ia kekasihMu yaa Rabb… pantaslah ketika pertama melihatnya, aku melihat pancaran kecerahan di wajahnya. Tidak bosan aku melihatnya, tidak bosan aku membaca lantunan hikmah di blognya. Ia, kekasihMu yaa Allah. Semoga aku bisa masuk ke dalam golongannya. Golongan yang Engkau ridhai. Golongan yang engkau luaskan hati.

Astaghfirullah…

Engkau dan skenario Mu memang tak akan pernah salah.

Kadang, apa yang kita maksudkan belum tentu sama penerimaan.
Kadang, apa yang kita lakukan dianggap melukai perasaan.
Kadang, diam justru mempertajam permasalahan.

Astaghfirullah…

*Ayuseite, menjelang akhir Agustus

Nice Home Work #9

Bismillahirrahmanirrahiim…

Finally, the last home work. Tapi tetap saja sejatinya aku belum yakin dengan apa yang kutulis. Belum juga merasa akan bersungguh sungguh menjalankannya. Selalu saja ada ganjalan dalam hati yang menyeruak. Selama ini NHW masih menjadi sesuatu yang harus dikerjakan untuk menggugurkan kewajiban agar bisa naik kelas bunda sayang. Karena apa? Karena di matrikulasi semua kelas diuji cobakan dan nyatanya pada part bunda sayang saja aku belum bisa bersungguh sungguh. Malah lompat lagi hingga kini secuil tentang bunda produktif. How can I?

Finding-the-Light-in-Your-Fire-1024x536-01.jpeg

Apalagi… di 2 minggu liburanku kemarin aku menemukan hal baru. Belajar berenang. Sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan. Tapi karena pertemuan dengan kawan lama yang dia bisa mengajar renang membuatku menemukan minat yang betul baru dan membuatku penasaran. Dulu aku sangat takut bahkan membenci air. Dari saat aku memberanikan diri belajar (aslinya karena dukungan orangtuaku-yeay finally) sampai kini aku masih sangat bersemangat meski belum juga bisa menaklukkan air. Paling tidak, aku tidak takut lagi. Alhamdulillah. Hasilnya… aku melupakan passionku yang sudah kutulis sejak NHW 1. Menulis tentang dunia parenting. Ngelayap kemana soul itu. Malah terusik juga dengan hobi rekam suara. Baca puisi sastra lama. Awalnya mau take video sama suami yang menggenjreng gitar untuk ngiringi suara pas pasan ku. Tapi.. karena kesibukannya jadi urung. Alhasil aku menyesal kenapa dulu aku tak belajar main musik. Coba bisa ya… kan bisa iringi sendiri. Ah tak apalah. Sementara cari musik instrumen saja.

Nah… dengan latar belakang demikian, sekarang NHW 9 mengharuskan kami menuliskan produktivitas kami dalam ranah sosial setelah melihat isu yang lagi booming. Jujur saya jadi semakin bingung berandai andai. Tapi karena satu saja yang harus di breakdown, maka saya akan coba menuliskan, melanjutkan serial dari NHW 1 meski entah bagaimana aplikasinya kelak.

Passion saya menulis

Bidang yang ingin saya tulis adalah parenting

1501118712779.jpg

Alasan: dalam lingkup terbatas saya di dunia kompleks militer, pengasuhan anak, khususnya anak anggota sering terabaikan. Kesibukan ibu-ibu memenuhi standar kegiatan pimpinan seringkali mengabaikan anak. Tak heran arogansi anak tentara masih sering terlihat. Tapi.. posisi saya sekarang masih di bawah. Saya hanya bisa menulis. Mencoba menuliskannya sehati hati mungkin. Namun sampai sekarang belum menemukan ide how to start with. Sedikit demi sedikit saya menuliskan tentang anak saya dan bagaimana pola saya mendidik. Meski detik ini saya stress berat menghadapi anak pertama saya yang semakin sensitif alias perasa. Semoga kelak pengalaman saya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

Nice Home Work #8

Ini adalah satu NHW sebelum akhir. One step closer. Semakin mengerucut karena memaksa kita untuk menentukan MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS.

images-01.jpeg

Pada NHW 7 saya memilih beberapa hal di kuadran 1 (suka dan bisa), yaitu menulis termasuk di dalamnya meresume ataupun mereview, membaca puisi, pidato, memasak, koreografer. Kesemua hal tersebut sangat sesuai dengan hasil tes temu bakat saya. Dimana potensi kekuatan saya ternyata adalah analis, commander, creator, evaluator, interpretor dan jurnalis.

Maka, salah satu aktivitas yang saya tetapkan sebagai yang paling bisa dan suka adalah menulis.

1. Saya ingin menjadi apa? (BE)

jelas, penulis.

2. Saya ingin melakukan apa? (DO)

jelas, menulis buku.

3. Saya ingin memiliki apa? (HAVE)

jelas, buku terbit dan royalti (eh…)

Tentang apa? Dunia Parenting.

Dengan memperhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose). Sebenarnya lifetime purpose saya hanya ingin menjadi pribadi bermanfaat dimana memiliki ilmu yang berguna, anak yang sholehah serta sedekah jariyah yang senantiasa mengalir.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)

Karena kebisaan utama saya adalah menulis dan berbicara, maka manfaat yang akan saya tebar adalah senantiasa menuliskan hikmah serta menyampaikannya. Jujur, saya kurang bisa membuat strategic plan tahunan apalagi sebuah new year resolution. Karena, sudah sering saya buat tapi selalu gagal. Maka, saya biarkan saja mengalir.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution). I have no words for it. 

Entah karena berubah itu susah

Atau karena jiwa raga selalu resah

Namun batin selalu pasrah

Entah berserah atau kalah

Previous Older Entries Next Newer Entries