Tetap Fit di Musim Pancaroba

Seperti disampaikan di WAG IIP Jakarta (dengan sedikit penambahan):

Musim pancaroba adalah istilah untuk peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau dan sebaliknya. Pada musim peralihan virus dan bakteri yang tadinya dorman (bobok manis) terbangun dan melancarkan aksinya. Mereka menyukai kelembaban yang labil, kering tidak basah pun tidak. Virus ini salah satunya bernama influenza virus. Meski pemerintah sudah menggalakkan program vaksinasi, namun virus ini berkembang dan bermodifikasi terlalu cepat sehingga memiliki banyak varian baru lagi dan lagi.

Semua jenis penyakit virus sebenarnya mudah saja penanganannya karena sifatnya yang self limited disease (penyakit yang sembuh jika daya tahan tubuh bagus). Maka, bila ingin tetap fit saat musim pancaroba tingkatkan daya tahan tubuh kita ya… caranya?

  1. Makan dan minum makanan bergizi

  • Makan makanan bergizi adalah tinggi protein namun seimbang di level gizi yang lain (karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral). Untuk vitamin, sebagai benteng pertahanan karena sifatnya adalah pemelihara, kita butuh cukup tinggi vitamin C. Kebutuhan protein terutama jenis protein untuk tiap individu berbeda karena kecenderungan alergi ya… Maka, sesuaikan jenisnya dengan diri sendiri… kemudian vitamin C tertinggi bisa kita peroleh dari buah jambu merah, peringkat kedua baru jeruk, dan buah-buah lain berwarna cerah.

  • Minum air putih minimal 2 liter sehari atau setara dengan 8 gelas belimbing atau gelas air mineral.

  1. Istirahat cukup

Kebutuhan istirahat anak dan dewasa tentu jauh berbeda. Bayi >3 bln membutuhkan waktu istirahat sekitar 10-13 jam sehari, kanak-kanak 9-10 jam sehari, anak-anak 8-9 jam sehari, dewasa 6-8 jam sehari. Tidur siang di sela-sela waktu Dhuhur dan Ashar adalah saat yang paling baik me recharge energi sesuai sunnah Rasul.

  1. Aktivitas fisik

Bergerak minimal 30 menit sehari bisa membantu melancarkan peredaran darah dan membuat badan segar.

  1. Minum suplemen

Bila perlu, imunomodulator bisa membantu. Contoh merk dagang: stimuno, imunos, imboost, dll atau suplemen lain seperti madu, habatussauda, dll sesuai kebutuhan.

  1. Menjaga kebersihan

Jaga kebersihan lingkungan terutama dari debu-debu tempat si virus dorman, cuci tangan dengan sabun dan rajin mengganti sprei juga handuk.

Demikian tips singkat dari saya, semoga sehat selalu ya moms…🏝

Advertisements

Resume Buku: Spiritual Journey Cak Nun

Penulisan buku ini diawali dengan berkirimnya surat penulis kepada Cak Nun dan dibalas 7 tahun kemudian dengan jawaban atau ajakan menulis buku. Betapa ada kohesi antara keinginan manusia dan dukungan semesta itu.

Dahulu, nusantara terkait erat dengan peradaban koneksitas. Dan karena kita memiliki hubungan yang paling dekat koneksitasnya dengan pembentuk dunia ini, maka Indonesia dijadikan fokus sasaran untuk dihancurkan. Orang jawa melakukan semedi untuk memperlambat waktu agar bisa mendekati kecepatan cahaya (teori relativitas dibalik) sehingga menjadi sangat sensitif terhadap gejala-gejala yang terjadi di alam sekitarnya. Belum lagi jika orang tersebut bisa menyelam ke dasar hatinya hingga sumeleh (ridha) sehingga mata hatinya lebih tajam lagi maka sangat mungkin dia sanggup merasakan sesuatu yang jauh dari dirinya atau bahkan isyarat dari sesuatu yang belum terjadi. Hal ini semacam slow speed (SS) dalam teknik fotografi. Lantas, jangan kaget pula bila ada orang yang bisa “memerintahkan” sesuatu untuk datang sendiri semisal gelas teh atau kelapa yang menundukkan dahannya atau bahkan bisa melesat begitu cepat atau bahkan lagi seakan bisa berada di dua tempat dalam satu rentang waktu.

Hal ini identik dengan teori keterikatan kuantum dalam mekanika kuantum yang salah satu aplikasinya adalah teleportasi. Namun, ilmu kita sangat terbatas dan hanya mampu membuktikan perpindahan atom. Kemungkinan ada dark energy (satu satunya yang belum dibuktikan.

Organisasi Islam di Indonesia Vs Maiyah (maiyatullah, bersama Allah). Organisasi bersifat mengikat sedangkan maiyah tidak ada ikatan namun terasa terikat tanpa paksaan. Kenapa? Mungkin adanya indikasi penyakit “lubang di hati”. Maka, bisa dibilang maiyah adalah gerakan penyegaran, menjadikan tasawuf sebagai cara pandang dan menerjemahkan gagasan-gagasan yang rumit menjadi aplikatif dalam kehidupan. Maiyah juga merupakan kombinasi dari mistisme Islam, fundamentalisme dan politik yang berakar pada pengajian bulanan. Bershalawat adalah bagian utamanya. Lari ke jalan sunyi adalah tujuannya. “saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada diantara hamba dengan Tuhannya. Setiap hamba memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya tanpa dicampuri, digurui, atau diganggu oleh siapapun. Saya wajib menghindari kemasyhuran dan menolak kedekatan dengan siapapun yang membuat orang lebih memperhatikan saya lebih dari kadar perhatian dan kedekatannya kepada Tuhan dan Nabi.” ujar Cak Nun. Bahkan Cak Nun juga menyampaikan bahwa beliau lebih memilih menjadi bagian dari 72 golongan yang sesat dibanding satu golongan yang bersama Rasulullah. “Sebab, dengan demikian saya selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk selalu belajar, untuk selalu bertobat dan jauh dari perasaan bangga sebagai orang yang paling benar apalagi bertakwa.”

Maiyah identik dengan malamatiyah. Dimana para pelakunya menyembunyikan hal yang patut dipuji, berhenti melihat diri sendiri, tidak melakukan yang disenangi, meski bergaul bebas dengan masyarakat namun sejatinya hanya bergaul dengan Allah semata. Dengan kata lain. Semua hal total dirohanikan (dipusatkan pada batin).

Manusia dari abad ke abad cenderung mengalami degradasi. Lihat saja jaman sebelum Nabi Musa, tidak ada yang dibekali firman tertulis dari Allah. Perangkat yang ditanam dalam diri manusia i.e AKAL, KALBU, SYAHWAT masih sangat terkontrol. Bisa dikatakan jaman sekarang daya tahan manusia terhadap informasi langit itu sangat pendek.

PERADABAN, sesungguhnya merupakan replikasi dari Allah itu sendiri. Adab, artinya sopan santun. Adabba artinya memperbaiki dan meluruskan.

Dahulu, nusantara jaya terlebih dengan masih diyakininya peradabab koneksitas (teknologi internal), namun sejak orang Eropa datang peradaban pun merosot tajam. Dunia modern menganggap peradaban koneksitas adalah mitos, magic, tidak masuk akal, dan sesat (pemikiran Newton dan Descartes). Namun anehnya, orang Eropa sekarang mulai mempelajari peradaban “kuno” kita. Menerapkannya dalam meditasi yoga. Karena belakangan ini, memasuki abad ke 20, nekanuka kuantum telah menghajar Newton.

Maka, sejatinya peradaban yang sedang diusahakan sekarang adalah PERADABAN ROHANI/SPIRITUALITAS.

Darimana kita dapat belajar banyak dan memetik hikmah? Dari ALAM. Karena alam telah mengalamu segalanya sejak terbentuk hingga hari ini. Alam akan menyeleksi makhluk hidup yang layak bertahan dan berkembang biak. Menilik perkembangbiakan, maka model reproduksi aseksual sejatinya sesuai dengan konsep pendidikan cabang eksak (matematika, fisika, kimia) dimana harus saklek. Sedangkan model produksi (perkembangbiakan seksual, dengan pasangan) sangat cocok untuk kajian sosial seperti ilmu politik, sosiologi, dan sejenisnya. Model ini menghasilkan cara berpikir yang kritis dan analitik serta hasilnya senang ber ijtihad.

Pendidikan di Indonesia ini sepenuhnya menggunakan model reproduksi. Harus sama. Biner. Aseksual. Maka, tidak heran jika anak Indonesia langganan juara olimpiade ilmu eksak. Namun, sulit sekali menemukan anak yang memiliki daya kritis dan analitis kuat. Sebut saja, bangsa fotokopi. Pun mendirikan bangsa se format undang undangnya kita mengkopi barat. Sedangkan negara yang ideal syaratnya hanya satu sebenarnya, LABA UNTUK RAKYAT.

Jika ingin belajar tauhid dari ayat kauniyah atau non literer maka pelajarilah ilmu biologi, fisika, kimia dengan matematika sebagai ilmu alatnya. Bila kita sudah pelajari, terbuka kemungkinan bagi kita untuk melihat batas antara perilaku alam yang bisa mandiri mengelola dirinya sendiri atau sebenarnya ada programmer yang membangun sistem operasi berjalannya alam semesta ini.   

Hal penting lainnya, yang pastinya berurusan penting dengan peradaban adalah soal parenting. Menurut Sabrang (Noe Letto) jika kita sudah tidak bisa berharap pada sistem pendidikan, maka kita bisa berangkat dari subyek pendidikan yaitu anak didik. Ada dua karakter umum berkaitan dengan pendidikan.

  1. Anak pembelajar. Cirinya, sangat menikmati proses belajar apapun itu. Biasanya anak seperti ini individual sehingga jika dimasukkan ke dalam sekolah formal tidak akan menemukan dirinya. Sebab, sekolah formal cenderung menggeneralisasi. Cara mendidiknya adalah dengan memfasilitasi, mewacana buka mentarget, jangan sampai dia tidak menemukan apa yang dicari, serta mengajak anak mengalami peristiwa sendiri.

  2. Anak bukan pembelajar. Cirinya, nongkrong, main ikut-ikutan teman, dan sebagainya. Anak seperti ini butuh didisiplinkan di sekolah formal.

Jika di masa ini secara umum yang diyakini masyarakat bahwa anak harus sekolah, setiap orangtua harus berhati-hati. Sebab, jika terletak pada posisi yang tidak tepat, maka sekolah malah menjadi ancaman.

Kewajiban orangtua sejatinya hanya ngetutke. Selalulah bertanya, sek sek sakjane sopo to anakku iki? Dipersiapkan sebagai apa oleh Allah? Daripada menarget sebaiknya kita ajak selalu untuk berdiskusi, kejar terus sampai menemukan argumen dasarnya. Giringlah anak agar dia tahu sebenarnya dia sedang mencari DIRINYA SENDIRI. Keputusan ada di pihak anak, kita dilarang memberi vonis benar atau salah.

Shalawat adalah semacam cara untuk mengungkapkan cinta yang dalam kepada Rasulullah. Shalawat adalah kunci utama segitiga cinta antara manusia, Rasulullah dan Allah.

Dalam pemikiran maiyah, Indonesia membutuhkan intervensi Allah dalam batas dan metode tertentu karena masyarakat kita sudah cenderung bermental korup, iri dan dengki yang massal. Kerusakan di Indonesia sudah sangat sempurna. Tinggal menunggu tindakan Allah saja. Maka, shalawat adalah salah satu pendekatan untuk memohon kepada Allah agar ikut melakukan intervensi untuk mengatasi kerusakan moral dengan cara lembut. Jangan sampai seperti terhadap kaum Nabi Nuh.

Untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia harus ada titik-titik dari berbagai dimensi yang bergerak secara simultan dalam semangat yang sama. But how come? Need miracle?

Saat manusia sudah bertauhid, maka makhluk apapun tidak akan mudah membuatnya “berselingkuh”. Baik berupa musik, kenduri, batu, pohon, mall, jabatan, karier bahkan surga sekalipun tak akan mampu memalingkan pandangan manusia yang sudah bertauhid. Pun organisasi keagaamaan. Tempatkan sebagai aktivitas belaka.

Surat An Nuur ayat 35. Mengapa kita belum bisa melihat cahaya Allah? Yaa karena versi kita belum memenuhi syarat untuk bisa melihat. Kesimpulannya, intisari agama adalah KOMUNIKASI yang tidak terputus, berkelanjutan, dan tidak berkesudahan antara hamba dengan Allah. Entah komunikasi itu dilakukan dengan mekanisme tauhid, cinta, syahadah, syariah, atau akhlak. Itu sebabnya Al Quran menyatakan bahwa FITRAH itu sebuah software yang diinstall dalam diri untuk menangkap cahaya Allah sehingga dia memiliki ketertarikan kepada Allah yang bisa menjadi pedoman hidup. Komunikasi dengan Allah merupakan KODRAT.

Allah memiliki tanda tanda yang bisa dilihat di alam semesta dan juga dalam diri manusia. Ialah HAKIKAT manusia sebagai pusat kontrolnya.

Komunikasi dengan Allah bukan berarti terus menerus beribadah tetapi kembali ke bumi seperti mi’roj Rosulullah, yaitu untuk memajukan PERADABAN. Kehidupan sosial yang lebih baik antarsesama manusia.

Allah juga menganugerahkan kesaksian kepada orang yang ma’rifat. Caranya, Allah akan memperjalankan hamba Nya yang kompatibel dengan cahaya Allah (1 frekuensi) untuk mempersaksikan Allah di dalam dirinya. Manusia tidak akan tahu momen dimana itu terjadi tapi akibatnya yang akan dirasa. Ibarat kita adalah lilin dan Allah adalah matahari. Cahaya lilin akan terserap oleh kuatnya cahaya matahari. Sebenarnya Allahlah yang menarik manusia kepada Nya. Bukan kita yang memiliki kekuatan mencapai Nya. Ibadah yang kita lakukan tidak mampu mengantarkan kita, hanya saja seolah menggelar karpet saja manatahu dengan begitu Allah berkenan menganugerahkan kesaksian. Jika manusia sudah sampai pada level itu surga dan neraka bukan hal penting. Sebab yang paling penting adalah ridho Allah. Karena jika Allah sudah ridho, api pun dingin saja. Seperti nabi Ibrahim ketika dibakar Namrud. Jadi apalah arti neraka?

Cahaya itu adalah cahaya ma’rifat yang dapat menerangi jalannya mengantarkan pada kebahagiaan abadi sehingga dapat menyaksikan dengan mata kepala apa yang gaib dalam kehidupan di dunia ini.

Orang Islam tujuan hidupnya merohanikan. Karena rohani lebih dekat dengan cahaya Allah. Sementara kapitalis tujuannya menunpuk kekayaan alias menjasmanikan. Hal itu dekat dengan memberhalakan. Jadi, rohanikan semua yang kamu miliki pun dirimu sendiri. Karena sesuai dengan keunikan cahaya , satu satunya cara agar tidak musnah adalah dengan masuk ke Cahayanya Allah.

Dunia sekarang sedang dikuasai sistem perekonomian neoliberalisme yang menurut pendirinya sendiri bukan sistem yang bagus. Semua diukur oleh pasar dan bahkan pemerintah kehilangan taringnya. Ustadz dan ceramah agamapun jadi komoditas. Sehingga manusia tidak lagi menemukan Tuhan dan Tuhan tak lagi menemukan manusia. Walau bagaimanapun watak tasawuf tidak bisa terpisahkan dari Islam Nusantara.

Sistem ini sejatinya adalah pengingkaran atas negara, atas perjuangan pahlawan bangsa. Tidak ada cara lain selain mencintai Indonesia. Siapapun tak akan sanggup memimpin Indonesia keluar dari kehancuran kecuali Allah turun tangan melakukan intervensi. Kita hanya bisa menemani.

Mukmin berarti orang yang memberikan rasa aman kepada semua manusia terhadap harta, darah, dan kehormatannya.

Muslim adalah orang yang menjamin bahwa sesama muslim dan semua manusia akan selamat dari tangan dan lidahnya.

Kafir berasal dari kata kafaro yang artinya menutup. Maksudnya ia menutup hatinya atas kebenaran Allah. Makna pertama, kafir dari nikmat Allah, kedua menutup diri dari nasihat orang lain karena merasa benar sendiri, paling pintar, selalu lebih baik dari orang lain. Tak peduli berapa kali haji tapi jika ada perasaan sedikit saja merasa paling benar sudah berpeluang kafir. Ketiga, kafir dari segi politik yaitu secara formal tidak masuk Islam. Malangnya, contoh ketiga inilah yang populer. Manusia dinilai bukan dari output tapi input.

Di dunia ada 2 tipe kepemimpinan. Melayani seperti ibu kepada anaknya dan dilayani seperti raja dan gila hormat. Tinggal kita mau pilih yang mana.

Anatomi doa. Doa itu tidak boleh egois. Berdoalah bagi semua orang dan menyisipkan untuk kita. Bukan sebaliknya. Rasulullah tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Fokus utama doa Rasulullah selalu umatnya. Jika berhadapan dengan Allah, maka beliau membawa kita. Dan bila bersama umat, Rasulullah membawa Allah. Jadi, Allah telah menjadi tuan rumah bagi kalbu Rasulullah. Berdoa saja… yaa Allah anugerahi hamba dengan apa yang hamba harapkan (Quraish Shihab).

Amanah kesehatan. Kunci menjaga kesehatan adalah niteni sekecil apapun gejala di tubuhmu. Manusia itu dibiasakan bergantung kepada hal diluar dirinya. Padahal, manusia dalam batas tertentu memiliki kemampuan internal untuk mencegah atau menangkal penyakit. Sekali lagi, niteni. Karena kematian pun tiada rumusnya. Ada yang ditakdirkan karena kecelakaan, diizinkan karena sakit bahkan dibiarkan karena bunuh diri.

Wiridlah… biarkan ia dan shalawat bekerja menurut caranya dan jangan pernah pikirkan.

Dan jika lailatul qadr datang, bentuknya terserah Allah. Hati yang kompatibel dengan malam tersebut adalah hati yang tulus, ikhlas, rendah jati, selalu berada dalam kesadaran bersama Allah. Hati demikian hendaknya didukung oleh perangkat berupa shalat malam, mengkaji Al Quran, dan ibadah lain sehingga bisa menangkap gelombang hidayah yang tak pernah putus dipancarkan Allah. Kemudian idul fitri adalah puncak pencapaian dari esensi manusia.

Reformasi gagal karena tidak ada pemikiran komunal untuk berubah.

Shohibu baytii: puncak jalan sunyi

Allah menganugerahi manusia dengan 3 software dasar, yaitu akal, syahwat, kalbu. Syahwat merupakan generator pembangkit daya hidup manusia yang kapasitas produksinya tak terbatas. Unsur syahwat adalah egosentris, keakuan. Syahwat memiliki 3 sifat yaitu menyerap, menguasai, dan melampiaskan. Pengendali syahwat adalah kalbu atau hati. Namun hati sejujurnya juga ada keinginan memenuhi syahwat. Maka, adalah akal sebagai manajer. Sebut saja manajemen syahwat bukan manajemen kalbu. Doa kalbu robbi ya robbi. La tardzan ni fardzan wa anta khoirul warizin ( ya Allah ya Robbi. Jangan biarkan aku sendiri. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik baiknya pewaris). Iman adalah infrastruktur untuk mengundang teman yang akan menemani perjalanan sunyi kalbu. Iman itu ibarat singgasana kalbu. Siapakah yang duduk disana? ALLAH

A Trip to Merauke

“Aku ada kegiatan di Merauke,” ucap suami. Itu sudah biasa sebenarnya. Sebelumnya juga ke Timika, Nabire, Aceh, Kendari, dan kota-kota lain. Biasanya pun aku cuek, paling hanya minta diantar belanja keperluan yang penting dan tak bisa kupenuhi selama ia pergi. Namun kali ini rasanya beda. Sontak aku bilang,”Ikut,”

Suamiku terpana, “Serius?”

“Iya, aku ingin kita menyelesaikan perjalanan melihat kota penting di Indonesia. Sabang, sudah. Pontianak, sudah. Pas lah ini, Merauke. Meski tidak berdinas lama seperti di kota sebelumnya, tak apalah. Mumpung ada kesempatan.” Mataku mengerjap penuh harap.

Tiket Jakarta-Merauke bukan murah. Berbilang satu juta delapan ratus ribu lewat untuk seorang sedangkan kami bertiga terhitung penuh. Tentu saja perjalanan ini membuat kami merogoh tabungan agak dalam. Biarlah, selagi sempat ayo jalan-jalan.

Perjalanan ditempuh dari bandara Halim PK pukul 22.30 WIB. Ini adalah perjalanan malam dan panjang pertamaku. Apalagi membawa 2 anak balita. Persiapan saja betapa kerennya. Satu koper besar isinya perbekalan si bayi saja. Diapers, slow cooker, food processor (parut dan saringan), termos, perlengkapan makan, beras, kacang hijau, kacang merah, unsalted butter, zuccini, dan terpaksa sekali bubur instan. Ada juga bekal lauk Aya dan aku bila terpaksa tidak ada makanan ketika ditinggal berdinas suami. Adalah abon sapi dan oseng teri pedas yang awet dibawa. Tak lupa mie gelas, susu, dan cereal. Macam persiapan menginap di hutan. Hehehe… karena kami benar tak tahu medan. Persiapan saja daripada bingung disana. Tas selanjutnya adalah pakaian kami semua. Koper berikutnya adalah amanah kantor yang harus dibawa serta.

Tiba di Makassar (Ujung Pandang) pukul 01.30 WITA. Menunggu boarding sekitar 40 menit, sesuai jadwal yang tertera. Masih menggunakan pesawat milik maskapai yang sama, Batikair. Jadi favorit bener ini, karena dengan adanya servis makanan serta hiburan layar masing-masing sudah terhitung murah. Belum lagi track record belum pernah delayed selama aku naik. Bahkan dua kali malah percepatan hampir setengah jam.

Perjalanan Ujung Pandang ke Merauke ditempuh selama 3,5 jam. Itu berarti pagi hari kami sampai. Tepat pukul 07.05 WIT pesawat mendarat. Di pintu kedatangan kami disambut perwakilan lantas diantar ke penginapan.

Setelah suami menyelesaikan laporannya kepada atasan setempat yang terkait, kami diantar ke perbatasan Indonesia – Papua New Guinea. Nama distriknya Sota. Kami melewati masjid besar Al Aqsho dan tugu Libra di depannya. Tugu Libra (lingkar [jalan] Brawijaya) adalah pengingat tahun direbutnya Irian Barat, 1969. Tugu itu sendiri melambangkan angka 1 dan 969 ditera di tugu tersebut. Sepanjang jalan menuju kesana sepi. Sesekali mobil angkut penumpang ke boven digoel (tempat pengasingan Bapak Moh.Hatta) lewat dengan kecepatan tinggi. Tak ayal, mobil kesana harus double gardan dan bagus-bagus. Sebut saja Hilux, Pajero, Strada, Ford dan sejenisnya yang memiliki double cabin serta bak terbuka di belakang. Karena usut punya usut jalan menuju kesana berupa tanah bergerak. Melintas kesana minimal 8 jam bila tidak hujan. Bila punya uang lebih menuju kesana lebih cepat pakai pesawat kapasitas 8 orang atau helikopter. Di tepi kanan kiri tampak hutan dengan tumbuhan serupa kayu putih serta Musamus (sebutan untuk sarang semut raksasa, katakan saja istana semut) bejibun jumlahnya. Kami juga melewati Taman Nasional Wasur tempat penangkaran rusa serta kanguru. Sayangnya tidak sempat mampir karena waktu sudah nyaris petang. Perjalanan dari Merauke ke Sota membutuhkan waktu 1,5 jam kecepatan tinggi. Sertifikat lintas 0 km bisa didapat di Polsek setempat.

Di pertigaan jalan yang akan membawa kami ke jalan lurus terakhir dari perbatasan, ada tugu kembar Sabang. Sama persis dengan yang di Sabang. Konon kabarnya. Sayang sekali sewaktu ke Sabang belum ngeh dengan keberadaan tugu ini. Sampai di perbatasan kami disambut dengan suguhan kelapa hijau. Rasanya beda dengan yang di Jawa. Menurutku, sih. Setelah berfoto di depan gapura selamat datang selamat jalan juga monumen 0 kilometer, tugu batas, serta Musamus yang tingginya 4 meter, kami pun segera pulang. Jalanan gelap karena petang telah datang. Sepanjang jalan Sersan yang menjadi sopir kami bercerita banyak semasa ia menjadi satgas di Wamena. Daerah yang masih cukup rawan konflik. Maklumlah, daerah pegunungan. Disana tempat salju abadi berada. Konon katanya di daerah itu aura mistis masih kuat terasa. Semacam ada “pasukan” tak terlihat bak siluman. Bahkan sempat ada cerita pemberontak yang nyata tertembak tapi tiada jejak. Wallahua’lam.

Kembali ke topik perjalanan. Dari perbatasan ke kampung pertama di negara sebelah adalah 15 km. Tujuh kilometer pertama ada pasar tradisional, delapan kilometer selanjutnya adalah jalan setapak di tepian hutan. Setelah itu baru kita temui kampung terluar dari Papua New Guinea. Perbatasan Sota ini terkenal yang paling aman dan tenang. Meski listrik mengalir hanya dari jam 5 sore sampai 10 malam, semua terkendali dengan baik.

Hari berikutnya, kami diajak melintasi tepian Merauke. Mulai dari pelabuhan, pantai Lampu Satu, dan tempat penangkaran buaya bagi kerajinan kulit buaya. Pelabuhan ada dua berderet. Pelabuhan umum adalah dimana tertambatnya kapal besar berisi puluhan container yang akan berangkat ke Jawa dan pelabuhan AL dimana nampak kapal sitaan dari negara lain tak berijin yang ditenggelamkan menteri Susi.

Pantai dinamai lampu satu karena di dekatnya ada menara suar berlampu satu. Di tepian pantai Lampu Satu ada sentra pembuat kapal. Pembuatnya adalah orang-orang Makassar yang jago sekali membuat pinissi. Kapal terbuat dari kayu besi yang semakin terkena air semakin kuat. Rumah mereka serupa rumah panggung sebagian ada pula yang ditembok. Rumah daeng, kata sang sopir. Setelah deretan kampung Makassar, kita bisa melihat sebuah kontradiksi. Perkampungan penduduk Papua yang masih minim kesadaran akan kebersihan apalagi kelayakan huni rumah. Mereka pun seperti antisosial kecuali diberi iming-Iming. Tradisi mabuk dan nge lem bagi yang tidak mampu kuat sekali di sini. Padahal jelas terpampamg poster super besar tentang bahaya Narkoba dan himbauan menjauhinya.

Lepas dari pantai kami mampir ke sentra penjual kerajinan kulit buaya pertama di Merauke. Pastinya, kualitas bagus dan harganya cukup wow. Satu tas selempang kecil saja dibandrol Rp.1.750.000,00 dan yang besar tak berani tanya. Di depan toko ada kelinci berkeliaran dan kandang buaya yang di atasnya ada burung dara sebagai makanannya.

Maghrib pun menjelang, kami pulang ke hotel untuk Sholat dan pergi memenuhi undangan makan dari senior. Rooftop. Begitu nama cafe tempat kami makan. Konsep makan di lantai tiga cukup unik di Merauke yang belum punya mall ini. Menu andalan di Merauke adalah daging rusa, hmm kijang lebih tepatnya. Namun di rooftop yang mengusung menu Chinesse Food selain menu rusa tentu mayoritas adalah menu makanan laut. Makanan terhidang diawali sup bibir ikan, kemudian menu utama udang telur asin, rica ikan, capcay seafood, dan mie kering siram daging rusa. Menurutku pribadi, rasanya super standar. Lebih enak seafood di pinggir jalan dan lebih enak lagi dulu saat di Singkawang (gagal move on sama Ikan Bakar Kuala).  

Hari berikutnya, main ke “mall” nya Merauke. Sebut saja SBM. Sentra Belanja Merauke yang diplesetkan menjadi Suasana Bagaikan Mall. Tokonya masih sepi. Di lantai atas ada permainan anak. Main di sana sebentar Aya sudah bosan. Kembali naik mobil dan berkunjung ke batalyon 755. Menyeberang jembatan sepanjang 800 meter yang membelah sungai Moro (dari kata inilah nama Merauke berasal). Kapal bermuatan nampak melintas di bawah. Ini mengingatkanku akan sungai Kapuas. Bedanya lintas sungai Kapuas seringkali macet dan hiruk pikuk sedangkan sungai Moro super sepi. Pun rumah wadan rekan kami. Begitulah khas batalyon pasti sunyi senyap bila malam menjelang. Setelah ketuk pintu beberapa kali keluarlah mereka. Ngobrol sebentar lantas kami keluar makan sate rusa yang terkenal di depan Kodim Merauke. Waw ternyata daging rusa itu empuk dan enak. Hujan turun, kami pun segera pulang ke hotel dengan janji besok ketemu lagi makan es krim.

Selepas Dhuhur kami (aku, Aya, Ayi) dijemput bu wadan. Kami menuju D’cafe n bistro. Kreasi es krim nya unik dan enak. Banyak buku keren di sana. Sayang bawa bayi yang bangun jadi tidak bisa membaca. Malam hari, selepas Isya kakak asuh menjemput kami untuk makan malam di rumah makan khas bali. Sungguh penggemukan badan disini. Rencana beli dendeng rusa dan ikan asin untuk oleh-oleh belum bisa terlaksana karena hujan deras.

Sepulang sholat Jumat suami membeli  dendeng rusa seharga Rp.85.000,00 per setengah kilo dan ikan asin kakap Rp. 20.000,00 per kilo, tak lupa terasinya. Untuk olahan daging rusa ada pula abon juga bakso. Oleh-oleh lain khas papua yang tidak boleh ditinggalkan tentu kerajinan kulit buaya. Jangan tanya harga, sudah pasti mahalnya. 😂

Di Merauke lebih banyak pendatang daripada suku asli Marind. Sulit sekali menemukan makanan khas Papua di sini. Malah makanan Jawa dan Sumatera bertebaran. Ohya, orang sini biasa makan nasi dengan porsi super besar. Katanya untuk menangkal malaria. Jika perut kenyang maka malaria enggan datang.

Sehari sebelum pulang, kakak asuh nan baik hati mengajak kami ke tepian pantai dimana suku Makassar tinggal. Makan ikan serta udang bakar nikmat nian dengan sambal kacang khas Makassar. Tak lupa, papeda atau kapurung dengan kuah kuning. Menurutku, yang enak itu kuah dan ikannya bukan sagunya. Hehe… Tak lupa makan sagu chef, olahan sagu dan kelapa muda, yang menurutku rasanya hambar. Hmm…

Akhirnya, selesailah perjalanan kami di ujung tertimur Indonesia. Alhamdulillah, semoga membawa berkah. Terimakasih atas penyambutan super istimewa. Membuat perbekalan banyak tersisa karena makanan lebih-lebih disana. Dan hal yang paling jelas adalah membawa tambahan kilogram berat badan. 😭

Naluri Bergerak

_“Eh, adik sudah bisa berdiri sendiri!” seru seorang nenek dengan wajah bangga dan bahagia_

_“Lho iya to Bu, adik kan sudah waktunya imunisasi campak,” jelas sang ibu yang menyiratkan bahwa usia si adik sudah 9 bulan._

Dialog tersebut adalah sepotong iklan layanan masyarakat jaman dulu. Mengena sekali nampaknya, karena sampai sekarang aku pun masih mengingat detail adegan dan dialognya. Oke, poinnya adalah, bahwa bayi akan tumbuh dan berkembang. 

Seketika dilahirkan, bayi hanya bisa menangis. Lambat laun ia bisa menggerakkan jari jemarinya, menendangkan kaki dan mengejangkan tangan. Bulan berlalu ia bisa memiringkan badan kemudian tengkurap. Bulan berikutnya ia bisa berguling. Di usia ke enam bayi mulai berusaha maju ke depan dengan cara merangkak. Selanjutnya ia belajar duduk lantas berdiri dan akhirnya berjalan. Belum berhenti sampai di situ. Seiring kekuatan kakinya bertambah maka ia akan bisa berlari, melompat, dan terus melakukan percepatan gerak. 

Bergerak adalah naluri alami tiap makhluk hidup. Terlebih manusia yang notabene memiliki akal dan nafsu. Bergerak pada orang dewasa tak lagi diasumsikan pergerakan badan saja. Lebih dari itu, ialah bergerak untuk mencapai “posisi” yang lebih dan lebih baik lagi. Tak ada manusia yang ingin diam di tempat. Dengan kata lain, tiada manusia yang ingin hidupnya stagnan. Semua memiliki dinamika pergerakan masing-masing. Meski maju mundur, meski pasang surut, meski naik turun, naluri tetap satu tujuan. _To be better_. 

Lantas, posisi bagaimana yang diinginkan oleh tiap individu? Apakah melulu berkaitan dengan jabatan atau pangkat hebat? Apakah berkaitan dengan strata sosial tinggi? Apakah berkaitan dengan harta melimpah? Kesemuanya adalah parameter duniawi. Bukan munafik jika semua manusia memiliki orientasi kesana. 

Akan tetapi, ketika kita menilik jauh ke dalam lubuk hati, kita akan menemukan tempat bersemayamnya iman. Apa yang dikatakan hati? Posisi apa yang ia ingini? Ya, tentu saja. Posisi terdekat dengan Illahi Robbi. Agar Robb yang Maha Pemberi “bersedia” bertahta di singgasana iman hati. Bagaimana caranya? Sesuai naluri manusia untuk bergerak dan bergerak, maka HIJRAH adalah jawabnya.   

Jakarta, 07 Oktober 2017

Ayuseite

Puisi 

Teruntuk Sahabatku

Bulan Mei semua dimulai

Bersatu di kelas Matrikulasi

Kau dan Aku beda

Tapi di IIP kau dan aku menjadi kita

NHW silih berganti

Berbilang minggu kita lewati

Kau temukan dirimu sejati

Begitupun aku pandang diri ini

Wisuda adalah momen

Ketika matrikulasi harus diakhiri

Saatnya naik kelas kawan

Langkah kita jangan terhenti

Wisuda terindah tempo hari

Bangga sekali menjadi saksi

Kerja keras tak terperi

Dari panitia laksana ibu peri

Mbak Enes, Mbak Ara dan Mas Elan

Ketiga bintang keluarga andalan

Mereka bersinar sangat terang

Memercik cahaya untuk jiwa yang tenang

Wahai kawan,

Indahnya persahabatan

Meski kadang tersilap perasaan

Syak prasangka sering kejadian

Duhai sahabat,

Kata maaf cukuplah di hati

Karena bagiku kau penempa diri

Dan dariku hanya ada kata terimakasih

Tiada yang indah selain perjumpaan

Tiada yang sesak selain perpisahan

Namun

Ketika roda itu mesti berputar

Maka biarkan ia berputar

Akan oleng jika kerikil mengganjal

Akan jatuh jika batu menantang

Kelak roda akan berhenti pula

Di titik yang sama

Persis

Dimana kita berjumpa

Jakarta, 06 Oktober 2017

Dari sahabatmu,

Ayuseite

Renungan Jumat

Jumat indah selalu 

Karena di hari itu aku lahir

Resmi emban amanah hidup

Memulai kembara atas misi

Untuk apa ruh ditiup
Jumat bisa jadi redup

Tatkala teringat nenek dahulu

Beliau meninggal di hari syahdu

Menyisakan isak tangis haru 

Merengek ikuut ikuuut
Jumat penuh berkah

Segenap amal diunjukkan

Segenap dosa ditetapkan

Al Kahfi menjadi penenang

Jiwa-jiwa yang goyang

Sholat Jumat diwajibkan

Kepada seluruh lelaki beriman
Jumat hari pendek

Itu kata pelaku rutin aktivitas 

Dibayang dua hari lelah akan terlepas

“Time to spend weekend”
Namun,

Semestinya semua hari sama 

Tiada yang istimewa

Ketika hati sudah penuh 

Untuk mengingat Mu penuh seluruh

Mentahtakan Mu di singgasana iman

Dalam qalbu yang bersemayam dalam ruh

Ruh hidup, ruh satu, ruh itu AKU
Jumat, 6 Oktober 2017

Ayuseite

Ketika Anak Minta Ulang Tahun

Sudah tidak asing bukan perhelatan pesta ulang tahun di kalangan anak-anak hingga dewasa? Sebuah perayaan yang diadopsi dari budaya bangsa barat. Perayaan yang memiliki prosesi khas, yaitu adanya kue ulang tahun dengan lilin menyala bertengger di atasnya kemudian si ulang tahun meniup lilin tersebut sembari “make a wish” dan iringan lagu selamat ulang tahun. Tak lupa kado beraneka ragam memenuhi sudut ruang. Sungguh istimewanya hari ulang tahun menurut anak-anak karena di hari itu mereka menerima kado banyak. 
Seringkali sulungku menerima undangan ulang tahun dari teman sekompleks. Saat ia masih usia batita tiada yang menarik hatinya selain bisa mengambil balon di tiap acara. Namun setelah hendak menginjak usia 4 tahun ia mulai meminta, “Mii… kakak mau ulang tahun,” 

Berkunang-kunang sudah mataku. Menjelaskan pada balita bahwa ulang tahun tak ada di kitab agama Islam bukanlah sesuatu yang bijaksana. Menyampaikan bahwa ulang tahun adalah momen introspeksi bukan hura-hura sama saja bohong belaka. Semakin keras otak berpikir semakin buntu saja. Akhirnya, kutanya padanya, “Memangnya ulang tahun itu apa sih, kak?” pura-pura bego agaknya bisa jadi senjata. Sulung menjawab, “Itu lho Mi, tiup lilin,”. Nah, ternyata hanya sesederhana itu. 

Lantas kubeli lilin dan kunyalakan api. Sulungku meniup lilin dengan ceria. Ah, hanya begitu saja. Senyumku mengembang. Tak lama, “Tapi Mi, kue, balon, sama kadonya banyak-banyak mana?” Aku dan suami berpandangan. Lemas. Ternyata tidak sesederhana itu. 

Ketika usianya genap 4 tahun, kubelikan kue lengkap dengan lilinnya, balon, serta beberapa kado. Hanya tiup lilin, buka kado, dan bermain dengan balon. Ceria sekali dia. Momen paling membahagiakan nampaknya sesi buka kado. Setelah semua usai ia berkata dengan penuh ceria, “Mi, besok ulang tahun lagi ya…!” Aku hanya tersenyum tanggung. Besok nak, kujelaskan semuanya. Sekarang, berbahagialah dahulu. 

Jakarta, 05 Oktober 2017

Ayuseite

Previous Older Entries