Nice Home Work #3

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

(Tim fasilitator yang saya hormati, ijinkan tugas kali ini saya selesaikan dalam sebuah narasi).

Malam itu.. setelah mendapat tugas ke 3 dari MIIP, segera meraih kertas dan menggurat surat. Ceritanya surat cinta kepada suami. Waw… sebuah hal yang luput dari pikiran. Masa iya nulis surat untuk pengantin kawakan.

Tapi tak apalah… sesekali romantis sama pasangan halal boleh lah…
Tepat selesai menulis suami pulang dari kantor… 23.30 WIB seperti biasa. Surat akhirnya masuk tong sampah karena tulisan saya payah. Jelek maksimal. Merekap ulang di aplikasi notes dengan secepat kilat. Wushhh pas suami masuk pura-pura ngantuk. Ia mendekat daann kusodorkan HP sambil menahan malu. Responnya…. senyum-senyum sambil ngacungin jempol. Haiyaahh… ngga seru!!
Namun… cinta bukanlah hanya sekedar kata. Ia membalasnya dengan mengambil alih adek Ayi yang rewel dan memijatku. Karena cinta adalah bukti nyata bukan bualan belaka. Ia tahu istrinya lelah menggendong adek Ayi seharian, jadi meski lelah jua yang ia rasa sepulang kerja tak apalah menggantikan gendong dan sejenak membantuku melepas lelah. Alhamdulillah…

20170530_225300.jpg

Aku akan selalu mencintaimu, suamiku, semoga Allah menjaga rasa cinta ini karena Nya dan karena kesabaran, keluasan hati dan kegigihanmu selalu menawanku.

Beralih ke anak-anak. Kedua putri terkasih yang Allah amanahkan dari rahimku. Mereka masih kecil. Aku belum tahu pasti apa dan bagaimana bakat serta minat mereka. Namun, dari sorot mata mereka aku bisa membaca. Kakak Aya teduh pandangannya melambangkan wanita yang lembut, sabar, penyayang, emosional, disiplin serta rapi. Ia berkarakter introvert. Sedang berminat tinggi menggambar. Sedangkan adek Ayi yang masih bayi ini tampak lebih berjiwa pemimpin. Terlihat dari tajam sorot matanya. Kemungkinan besar ber karakter sama seperti kakaknya. Karena aku dan suami pun juga cenderung demikian.

Meski introvert aku terbiasa mengambil tempat di depan. Maksudnya, be a leader. Mungkin karena posisiku sebagai anak sulung dan lagi dalam organisasi Persit tempat aku bernaung seumur hidup membuatku sering mengambil tempat tersebut (mengikuti posisi suami). Aku juga suka menulis karena dengan itu aku bisa berimaji. Aku tipikal orang yang tidak sabaran maka diberilah suami yang super duper sabar. Bahkan aku merasa malah menjadi ujian bagi suamiku yang berhati sempurna itu. Karena entah apa potensiku. Kalau kata pasien-pasienku dulu bukan obat yang menyembuhkan mereka jika berobat padaku, tapi karena kesediaanku mendengar keluh kesah dan curhatan mereka. Ada lagi cerita setiap yang konsul kepadaku masalah kehamilan selalu berbuah hasil bila patuh mengikuti saranku. Apakah itu potensi? I still don’t know.

Apa kehendak Allah terhadapku untuk berada di tengah keluarga kecilku aku pun tak tahu pasti. Yang pasti kami hanya menjalankan takdir untuk bersama dan saling melengkapi.

Keluarga kami selalu berada di lingkungan asrama militer. Berpindah dari batalyon, brigif dan sekarang di kompleks staff mabes. Kesemuanya sangat beda dengan lingkungan sipil. Hidup bertetangga dengan etika yang khas militer membuat keluarga kami selalu menjalani penyesuaian. Dari bawahan jadi atasan kemudian jadi bawahan lagi, semua terjadi begitu cepat. Tantangan terbesar bagi kami adalah membimbing keluarga-keluarga prajurit yang masalahnya rumit-rumit jika posisi kami di atas dan menjadi anggota yang baik saat posisi kami di bawah.

Selama ini, kehadiran keluarga kami dalam lingkungan yang selalu berbeda Alhamdulillah selalu bisa melengkapi dan memberi manfaat salah satunya karena jasa konsultasi gratis yang kuberikan.

Meskipun begitu aku belum sepenuhnya paham apa “peran spesifik keluarga”ku di muka bumi ini. Yang pasti kami hanya menjalankan takdir Illahi untuk bersama-sama menjalani episode kehidupan di dunia ini.

PhotoGrid_1496228464735.jpg

Jika hati serupa kertas,

maka aku kan menulis kisah di atasnya

Jika fikir serupa recorder,

aku kan merekam cerita di dalamnya.

Aku kan berkisah bahwa hidup ini indah

bahwa hidup kadang susah

Tapi hikmah selalu ada,

terasa sangat ketika tak mampu lagi mulut berucap

tak mampu lagi tangis terhenti

tak kuasa lagi raga berbuat

namun penyesalan bukanlah arti

Cerita yang kurekam adalah,

cerita tentang kegagalan

cerita tentang keberhasilan

cerita tentang duka

cerita tentang suka

cerita tentang sesal

cerita tentang syukur

yang terangkum sepanjang waktu aku ada di sini,

di dunia ini,

dalam sebuah episode kehidupan

*Ayuseite 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: