Minat dan Bakat

“Aku minat ini.. aku bakat itu… Passionku di bidang ini… aku mahir di bidang itu…”

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Belakangan hal itulah yang sering diungkap bila hendak mencari kerja atau sekedar mengerjakan sesuatu. Karena bekerja dengan bahagia malah justru bisa menghasilkan hal lebih daripada bekerja keras (meski untuk hal yang tidak disuka) untuk mencari kebahagiaan. Upah bin gaji sekarang bukanlah suatu keniscayaan dibanding kepuasan hati saat mengerjakan sesuatu. Stress saat bekerja lebih mahal harganya dibanding gaji yang diterima.

》》》Jadi.. apakah minat, bakat, passion, dan kemahiran itu?

Ketika seseorang memiliki gairah, rasa suka, dan semangat dalam melakukan sesuatu itu disebut MINAT. Minat bisa berubah bila sudah bosan atau alih minat karena urusannya dengan hati. Misalnya, saya sekarang sedang menaruh minat tinggi pada menjahit. Besok-besok ganti suka bongkar mesin, misalnya. Minat bisa lahir dari dalam juga dari luar diri anak. Minat bisa dilatih hingga jadi mahir melakukan itu tapi tidak akan secepat dan semaksimal dibanding dengan yang memiliki bakat dalam bidang tersebut.

Jadi BAKAT adalah ketika seseorang bisa, mampu, dan bisa jadi mahir dalam melakukan sesuatu. Dorongan itu berasal dari dalam diri, bukan dari luar. Pastinya akan tambah “moncer” bila dilatih dan dipoles. Sayangnya, bakat itu meski bawaan lahir namun benar-benar Rahasia Illahi yang tidak semua bisa menemukan. Bisa jadi sampai ujung nafas tak kunjung tahu apa bakatnya alih-alih mengasahnya (sy pribadi juga belum tahu punya bakat apa… apakah benar menulis atau malah hal lain?). Mungkin ini yang dimaksud “bekal” yang dianugerahkan Allah pada kita sewaktu ruh ditiupkan. Namun hanya yang mendapat hidayah saja yang bisa memunculkan bakat serta memanfaatkannya. Kadang ada yang sebenarnya sudah ditunjukkan apa bakatnya namun tak menyadari.

PASSION adalah dimana minat dan bakat itu bertemu, berpadu, bersinergi, melahirkan KEMAHIRAN then… voilaaa prestasi hebat!

Maka dari itu, tugas kita sebagai orangtua menajamkan indera untuk melihat bakat alias potensi anak dan minatnya kemudian mengembangkannya sedari kecil sehingga bisa melebur menjadi passion yang kelak bisa mengantarkannya pada kesuksesan lahir batin dunia akhirat.

Karena bakat adalah dari dalam diri, kita tidak bisa memaksakan. Misal, tidak bakat nari disuruh nari bahkan dikursuskan segala. Bisa sih, tapi tidak akan bersinar seperti yang punya bakat. Yang punya bakat melihat saja sudah bisa. Apalagi kalau dilatih terus. Jangan kita paksakan anak memiliki bakat tertentu apalagi urusannya dengan status sosial, gaji tinggi, masa depan cerah dst. Semua itu,sekali lagi, rahasia Illahi.

Gampangnya, jika anak ditakdirkan berbibit jambu jangan dia diarahkan menjadi pohon apel karena apel sedang laris dan mahal.

Hal yang perlu disadari minat dan bakat tidak selalu berkaitan dengan dunia seni dan olahraga. Bisa jadi berhubungan dengan mata pelajaran atau hal yang lebih abstrak seperti jalan-jalan, bercerita, melayani, dll.

Bagaimana cara mengenali minat dan bakat anak (Sumardiono, 2015)?

1. Beri waktu dan ruang yang cukup untuk anak menekuni hal-hal yang ia sukai kecuali yang bertentangan dengan nilai kebaikan

2. Fasilitasi dan perkaya

Misal, anak minat menggambar maka beri fasilitas yang memudahkan ia mengeksplorasi sperti penyediaan berbagai macam media gambar, memberi stimulasi contoh2 gambar atau bahkan mengkursuskannya gambar.

3. Merubah konsumtif jadi produktif

Misalnya anak minat main game… jadikan produktif dengan membuat game atau sekedar me review game yang ia suka.

Minat makan… jadikan produktif dengan memintanya bercerita tentang sejarah makanan itu atau belajar resepnya bahkan bisa mencoba memasaknya

Minat jalan… jadikan produktif dengan menuliskan feature hasil jalan-jalan

4. Memperluas paparan

Dengan banyak mengeksplorasi hal beragam tentunya. Experience is the best teacher. Travelling is the best experience. Intinya banyak jalan-jalan (heehee).

Setelah memperluas paparan, kita amati.

-Hal apa yang secara sukarela dilakukan anak tanpa lelah&cepat tanggap?

-Apa yang menonjol dari keseharian anak? Ingat akan kecerdasan majemuk (logika, tubuh (kinestetik), relasi, imajinasi, musik, diri, bahasa, dan alam. Anak bisa memiliki 1, 2 bahkan lebih kategori kecerdasan. Kalau IQ hanya kecerdasan nomer 1 (logika) yang utamanya diukur.

-Bagaimana kualitas karyanya? Apakah lebih baik dibandingkan teman sebayanya?

Bila kita sudah menemukan bakat anak, maka dampingi, dukung, fasilitasi serta berikan apresiasi (pujian) seperlunya. Mengapa seperlunya? Kalau berlebihan malah akan merusak juga akibat terlalu jumawa. Yang terakhir… bila ingin berprestasi harus selalu endure dan persisten (bertahan).

Selamat menemukan bakat unik anak… atau bahkan bakat kita sendiri.. 😉

Basa Basi Beneran Basi

Some of, after knowing that the second one as the same as the first one, they say congratulation then “make the third, who knows it will be a boy”

Wow…!
If only they knew that the last operation is not my first or second one, they will just keep silent.

I’ve been lying down in operation room for four times. And thats realy enough for me. Two of them in GA, it means i slept. The other one, SC, in SA. Then two of them i have infections on the scar.

If they said “make the third” it will be automatically wish me held the fifth operation, the third SC, because i have no tendency to held VBAC.

That’s too horrible!

Please, be wise to congrate n pray. Maybe thats just a joke or only “basa-basi”, but thats not funny at all. Children, no matter what their gender, they are Allah’s gift. We can’t judge even wish. If i have two sons did they will say the third may girl? Or if i have a boy and a girl did they will have no comment? Wallahua’lam.