Kisah akhir dari perjalanan kehamilan a.k.a keputusan terminasi dan proses kelahiran

Kisah sebelumnya, di minggu ke 36, ada pembukaan 3-4 cm dan drama terapi pencegahan kontraksi. Dan tentunya atas doa rekan serta saudara semua everything just flow n fine. Hasilnya, di kontrol rutin minggu ke 37, kontraksi sama sekali berhenti dan pembukaan menyempit jadi 1 cm saja. Berat janin saat itu 3.3 kg. Keputusan dokter bertahan saja sampai sekuatnya syukur Alhamdulillah bila sampai aterm akhir di minggu ke 40 karena setelah dicek bekas luka operasi terdahulu baik, tebal, dan tidak ada resiko ruptur bila VBAC. Air ketuban pun masih sangat cukup dan jernih meski agak keruh di atas.
Namun, dengan background anak pertama SC a.i bayi besar dan gagal induksi maka kemungkinan besar akan re SC.

Nah, karena sama saja ujung2nya bakal SC mau sekarang atau mau besok, ditambah suami sudah terlanjur mengajukan cuti, ibu bisanya menemani di atas tanggal 9 Maret yang berarti tepat di usia janin 38 minggu, belum lagi pas usia 40 minggu adik ipar menikah yang pastinya tidak akan ada yang bisa menemaniku disini, maka keputusan untuk pengajuan jadwal SC tepat pada usia aterm awal di 38 minggu benarlah murni alasan non medis (#janganditirušŸ˜‚).

Masuk jam 1 siang ba’da sholat Jumat, 10 Maret 2017 dalam kondisi sudah berpuasa. Premedikasi dilakukan jam 15.00 karena dijadwalkan operasi jam 19.00. Tetapi, karena mendadak ada SC emergensi maka giliranku tertunda 1 jam. Dengan kondisi lapar dan sudah lemas karena puasa kelewat jam, masuk ke ruang operasi yang suhunya 15 DC membuatku kedinginan sangat, sampai menggigil dan bergemerutuklah rahang dan gigiku, plus mual banget banget.Ā  Namun, musik yang diputar kencang2 di situ lumayan melumerkan suasana. Jam 20.41 lahirlah si bayi montok dengan berat 3.8kg (dalam seminggu naik 0.5 kg itu sungguh emejing kan?).

Well, akhirnya, dek Ayi lahir dengan tangis kencangnya dan kulit yang merah. Oleh dokter anak yang mendampingi ia diciumkan ke pipiku, diinisiasi menyusu dini di ruang operasi beberapa saat, dan akupun menyadari bahwa aku tertidur.

Semoga dek Ayi jadi anak yang kuat serta berkepribadian tangguh juga selalu membanggakan orangtuanya. ‘Cause that’s your name’s mean.

Thanks to dr. Isrin Ilyas, Sp.OG yang berkontribusi banyak sekali dalam proses ini dan pastinya seluruh keluarga besar dan rekan semua….but special thanks to mommy yang selalu ada di sisi di setiap masa kritisku, suami yang super siaga, Aya yang sampai sakit karena ikut menjaga, adek dan ipar yang menjadi ortu Aya selama aku dirawat. Thanks juga buat yang berkenan menyempatkan hadir di RS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s