Ketika anak pertama menjadi si sulung

“Aya, adik lahir hari ini ya… nanti Aya sudah resmi dipanggil Mbak… Aya jadi seorang kakak…” pamitku saat Aya menemani di bed observasi ruang bersalin. Tak henti ia memeluk dan terkadang merengek umi umi… tak terasa air mataku pun menetes… semua berujung ia tak mau lepas dari gendongan bapaknya karena jelas aku tak bisa menjaganya beberapa waktu lamanya.

Tak lama Aya merajuk ingin pulang. Ia tak bisa istirahat sebagaimana biasa pola tidurnya sangat teratur saat di rumah. Dan aku sadar semua akan berubah mulai detik ini. Aku hanya berharap semoga baby blues syndrome tak menyerangku lagi sebagaimana dulu.

Masuk ruang operasi, Aya menjerit dan menangis ingin selalu bersama Bapak, ia sudah seakan “tak peduli” padaku. Aku tahu, ia sedang mengontrol emosinya. Jelas ia takut melihatku dipasang infus dan tidur bagai pesakitan. Setelah aku keluar dan diobservasi, Aya turut memeluk dan ada di sisiku. Anak pintar. Tapi itu tak lama. Ia menangis dan bilang takut saat melihat adiknya. Ia pun sudah lelah seharian terjaga. Tidur tak tenang, bahkan bangun dini hari dan mengompol di sofa tidur kamar rawat. Segera Bapaknya membawanya pulang. Ia kembali siang hari berikutnya juga dengan laporan mengompol di tempat tidurnya. Sedih sekali tak bisa mendampinginya seperti biasa. Mendadak ia harus lepas dariku. Padahal biasanya selalu bersama kapanpun dimanapun terutama sewaktu tidur. Tapi aku yakin Aya hebat, Aya kuat menghadapi separasi sementara ini.

Alhamdulillah ia mau sama adikku dan istrinya. Apa-apa sama mereka. Ya, mungkin Aya butuh pelampiasan untuk bermanja selagi bapak dan uminya tak bisa menyertainya.

Maaf ya Aya… apalagi lantas ia sakit sesaat setelah om dan tantenya pulang… demam tinggi dan batuk pilek. Sedih sekali lagi sedih rasanya saat tak bisa memeluknya, mendampinginya… karena aku pun harus jaga jarak kuatir adeknya tertular. Maaf ya Aya…

Alhamdulillah masih ada utinya… dan dia mau selalu bersama utinya. Terimakasih ya Aya sudah kooperatif…. Bukan maksud umi tidak menemani Aya…

Kecemburuan pada adik mulai ditampakkannya. Bahkan saat banyak yang berkunjung dan memberi kado untuk adiknya ia bertanya, “Aya bukaa yaa… yang buat Aya mana?” Semangat sekali… tapi demi melihat semua perkap bayi ia jelas kehilangan harapan. Terdiam saja reaksinya. Bersyukur ia tidak protes.

Namun jelas nampak bahwa ia ingin dapat kado. Alhamdulillah sepupu datang memberi kado double untuk Aya dan Ayi… makasih banyak Mecha Amalia Mediana. Aya senang bukan kepalang. Melihatnya, akupun terharu dan esoknya membelikan baju dan sandal Ā (menggantikan sandalnya yang hilang dalam aksi pelemparan sandal entah karena apa) untuknya saat panasnya 39 DC. Ia senang dan setelah memakai baju baru dan sandalnya ia bergaya bak princess. Lupa bahwa ia sakit.

Ya Rabb… sebuah pelajaran berharga bahwa ada hati si sulung yang harus dijaga saat kita berbaik hati memberi hadiah pada si adik baru lahir.

Seandainya suasana kembali, kita seperti biasa hanya berdua di rumah (dan sekarang tambah dek Ayi) semoga Aya benar-benar bisa menjadi sulung yang baik.

Umi dan Bapak sayaaang sekali sama Mbak Aya dan Dek Ayi. Semoga kalian rukun selalu sampai dewasa nanti….

Kisah akhir dari perjalanan kehamilan a.k.a keputusan terminasi dan proses kelahiran

Kisah sebelumnya, di minggu ke 36, ada pembukaan 3-4 cm dan drama terapi pencegahan kontraksi. Dan tentunya atas doa rekan serta saudara semua everything just flow n fine. Hasilnya, di kontrol rutin minggu ke 37, kontraksi sama sekali berhenti dan pembukaan menyempit jadi 1 cm saja. Berat janin saat itu 3.3 kg. Keputusan dokter bertahan saja sampai sekuatnya syukur Alhamdulillah bila sampai aterm akhir di minggu ke 40 karena setelah dicek bekas luka operasi terdahulu baik, tebal, dan tidak ada resiko ruptur bila VBAC. Air ketuban pun masih sangat cukup dan jernih meski agak keruh di atas.
Namun, dengan background anak pertama SC a.i bayi besar dan gagal induksi maka kemungkinan besar akan re SC.

Nah, karena sama saja ujung2nya bakal SC mau sekarang atau mau besok, ditambah suami sudah terlanjur mengajukan cuti, ibu bisanya menemani di atas tanggal 9 Maret yang berarti tepat di usia janin 38 minggu, belum lagi pas usia 40 minggu adik ipar menikah yang pastinya tidak akan ada yang bisa menemaniku disini, maka keputusan untuk pengajuan jadwal SC tepat pada usia aterm awal di 38 minggu benarlah murni alasan non medis (#janganditirušŸ˜‚).

Masuk jam 1 siang ba’da sholat Jumat, 10 Maret 2017 dalam kondisi sudah berpuasa. Premedikasi dilakukan jam 15.00 karena dijadwalkan operasi jam 19.00. Tetapi, karena mendadak ada SC emergensi maka giliranku tertunda 1 jam. Dengan kondisi lapar dan sudah lemas karena puasa kelewat jam, masuk ke ruang operasi yang suhunya 15 DC membuatku kedinginan sangat, sampai menggigil dan bergemerutuklah rahang dan gigiku, plus mual banget banget.Ā  Namun, musik yang diputar kencang2 di situ lumayan melumerkan suasana. Jam 20.41 lahirlah si bayi montok dengan berat 3.8kg (dalam seminggu naik 0.5 kg itu sungguh emejing kan?).

Well, akhirnya, dek Ayi lahir dengan tangis kencangnya dan kulit yang merah. Oleh dokter anak yang mendampingi ia diciumkan ke pipiku, diinisiasi menyusu dini di ruang operasi beberapa saat, dan akupun menyadari bahwa aku tertidur.

Semoga dek Ayi jadi anak yang kuat serta berkepribadian tangguh juga selalu membanggakan orangtuanya. ‘Cause that’s your name’s mean.

Thanks to dr. Isrin Ilyas, Sp.OG yang berkontribusi banyak sekali dalam proses ini dan pastinya seluruh keluarga besar dan rekan semua….but special thanks to mommy yang selalu ada di sisi di setiap masa kritisku, suami yang super siaga, Aya yang sampai sakit karena ikut menjaga, adek dan ipar yang menjadi ortu Aya selama aku dirawat. Thanks juga buat yang berkenan menyempatkan hadir di RS