Catatan dari Buku Anak juga Manusia (12)

Note with addition,
KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH

@anakjugamanusia  Anak secara alami berproses untuk memampukan dirinya hidup mandiri. Namun, orangtua yang terlalu melindungi anak dari kesulitan akan merusak proses tersebut.

Melindungi anak itu hal wajar, alamiah, manusiawi. Akan tetapi jika terlalu alias berlebihan malah akan menjadi masalah nantinya. Coba renungkan sendiri kenapa kita (kadang) terlalu melindungi? Bisa jadi sebenarnya karena kita tidak mau suaah payah membantu anak belajar mengelola situasi sulit. Kelak bila ia dewasa ia akan kesulitan sendiri dan selalu bergantung pada kita untuk menyelesaikan masalah mereka. Padahal, kita tidak mungkin selalu ada di sepanjang hidup mereka.

Ada pula yang berpikir, “Ah, nanti juga mereka bisa sendiri,” hmm… apa iya jika sejak kecil tidak diajari?
Contoh kasus: pada suatu acara anak usia 3 tahun tidak sengaja menumpahkan minum ke sepatu sang ibu. Respon yang ditunjukkan ibu adalah marah, melotot, mencubit anak tersebut hingga menangis ketakutan. Apakah anak belajar bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalahnya? Anak bukan manusia dewasa berukuran mini. Ia masih harus banyak belajar dan kita lah orangtua yang harus mengambil peran mengajarinya agar kelak ketika dewasa ia terbiasa bertanggung jawab alias pasang badan bila berbuat salah. Bukannya menghindar, pura-pura tidak tahu, pasrah, lari dari kenyataan atau malah menyalahkan orang lain.

Pada kasus menumpahkan minum di atas bukankah respon yang lebih baik adalah kita tersenyum, katakan tidak apa-apa dan mengajak anak membersihkan?

Dalam sistem pendidikan kita, sangat disayangkan bahwa kemampuan menyelesaikan masalah jarang diajarkan. Anak cenderung diminta untuk tidak boleh salah. Bahkan, anak bermasalah sering dihukum dan dicap sebagai anak nakal, bodoh, trouble maker, dsb. Jadi, menghukum, memarahi, mencap negatif mereka sungguh  tidak produktif. Jauh lebih produktif jika kita membantu mereka untuk menemukan solusi.

Untuk anak usia >5 tahun yang sudah harus belajar bersosialisasi lebih kompleks, bila mereka bertengkar dengan teman, misalnya, jangan lantas kita sebagai orangtua ikut campur tanpa diminta anak. Bahkan seringkali antarorangtua jadi bertengkar karena anak mereka. Hal ini justru akan memperkeruh keadaan. Posisikan diri sebagai konsultan bukan penyelesai masalah apalagi bila tidak diminta anak atau bahkan malah jadi provokator.

Jika kita fokus membantu mereka untuk menemukan solusi, mereka akan terlatih untuk itu. Pada saatnya nanti dengan atau tanpa kita, kita berharap mereka lihai menyelesaikab masalah hidup mereka.

Pilihannya ada pada diri kita, apakah akan mewariskan kepada anak sifat ahli menyelesaikan masalah atau malah sifat emosional, provokatif, atau suka ikut campur?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s