Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (12)

Note with addition,
Si Jenius itu ada di Rumah Kita

@anakjugamanusia Semua anak terlahir dengan keyakinan belajar itu asyik karena bermain, tetapi kita singkirkan keasyikan itu dengan menyuruhnya duduk diam di belakang meja.

Entah ide siapa yang menganggap anak BELAJAR jika duduk tenang menghadap buku, membaca dan menulis. Bahkan banyak keluhan, “anak saya kok lebih suka bermain daripada belajar?” Nah… ini perlu ditanya balik, ” kok bisa yakin bahwa bermain dan belajar itu dua hal yang berbeda?”

Justru, saat anak sedang bermain ia banyak belajar. Misal nih, anak bermain mobil-mobilan. Ada yang membongkarnya karena penasaran, ada yang merawat mobil dengan baik, ada yang bingung saat mobil masuk kolong meja dan berusaha mengambilnya, ada yang berusaha memasang kembali roda lepas, ada yang belajar berelasi dengan teman karena berebut mainan. Coba lihat, bukankah itu belajar yang seru? Tidak monoton membaca menulis menghafal seperti di sekolah? Kadang anak sampai tidak tahu hubungan buku yang ia baca dengan kehidupan di dunia nyata. Belum lagi sekolah adalah tipikal yang menyamaratakan gaya belajar anak. Jangan-jangan sebenarnya kita yang menghilangkan kreativitas anak, bukan anaknya yang tidak kreatif??

Kalau ditanya, “apa yang diharapkan dari anak?” Sudah pasti jawabannya hal hebat seperti, menjadi anak berbakti, anak sholeh, sukses, pintar, rajin, dsb. Namun banyak pula yang sangsi apa bisa ya anakku?

Dengan kemampuan otak yang sejatinya luar biasa seperti telah dibahas sebelumnya, maka sebenarnya anak-anak itu tanpa terkecuali punya bakat hebat. Tinggal kita lah yang mencetaknya. Mereka semua berpeluang untuk sukses!

“Ya… tapi… nilai anakku saja sering merah, gimana bisa sukses,”
“Anakku itu kelebihannya banyak. Kelebihannya adalah kekurangan segala-galanya.”

Alamak… masih saja ada yang pesimis terhadap masa depan anaknya. Definisi jenius adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengenali kemampuan diri dan membawa dirinya atau mendorong dirinya untuk mencapai batas tertinggi dari kemampuannya tersebut.

Ya, mereka sadar akan kemampuan yang dimiliki dan berusaha mendorong dirinya untuk jadi yang terhebat di bidangnya. Contoh:
-Stevie wonder menjadi pennyanyi, komposer hebat meski dia buta
-Agatha Christie menjadi penulis sukses meski dia mengalami learning disability
-Bill gates pendiri microsoft pernah mengalami disleksia
-dll

Hidup ini terlalu singkat jika hanya fokus pada kekurangan. Ayolah kita cari minimal satu saja bakat anak dan bantu untuk mengasahnya, membuatnya tajam dan keluar instingnya. Ingat pula bahwa bakat tak melulu di bidang akademik.

Banyak sekali orangtua yang menjalankan peran dengan penuh ambisi. Anak harus ini itu, harus jadi begini begitu, wajib les ini itu. Halooo…. ini hidup anak apa hidup kita? Ehm, demi kebaikan anak? Anda yakin? Coba kita renungkan bersama. Kita hanya cukup menyediakan diri dan hati membantu anak untuk menemukan apa yang mereka sukai untuk dijalani dengan potensi yang mereka miliki.

Lets try to change our mindset!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s