Catatan Buku Anak Juga Manusia (6)

Note with addition,
PENDIDIKAN RUMAH

@anakjugamanusia Mendidik bukanlah semata transfer pengetahuan saja, tetapi juga menyiapkan anak-anak agar sanggup mendidik dirinya sendiri sepanjang hidup.

♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢♢

Jaman dulu, kesulitannya adalah berupa minimnya fasilitas. Namun jaman sekarang dan ke depan, kesulitan yang akan dihadapi anak jauh lebih parah, yaitu PERSAINGAN.

Bagaimana mempersiapkannya? Yaa ikutkan les dan kursus di luar yang mahal-mahal dan buanyaaak macemnya. Sudah tepatkah? YA, jika untuk mengembangkan intelektualitasnya. Akan tetapi, benarkah yang memiliki kepintaran ekstra ekstra pasti akan berjaya, sukses dunia akhirat dan berhati mulia? TIDAK.

Pondasi dasar utama pendidikan seorang anak adalah di rumah dengan seorang Ibu sebagai pendidik utama dan ayah sebagai kepala sekolahnya. So.. home schooling? No, not realy so. Ibaratnya, seberapa pun kita ingin membangun gedung pencakar langit mendatangkan arsitek dan tenaga ahli sekalipun tetapi pondasinya keropos, apa jadinya? Jawab sendiri!

Dear great parents, ayo kita belajar lagi. Diperlukan kerelaan kita untuk beberapa hal berikut:
A. Usahakan saat bicara dengan anak, sejajarkan mata kita dengan matanya. Dengan begitu ia akan merasa sejajar dengan kita. We are friends. Hmm.. agak kurang setuju dengan iklan obat nyamuk yang ibunya bilang, “aku ibumu bukan temanmu” hadehh… kesannya ibu kok serem amat…
B. Bicaralah dengan nada tenang, hindari nada tinggi apalagi bentakan. Jika kita tenang, anak akan belajar hal yang sama dan ia melihat bahwa kita serius sedang berbicara.
C. Berikan pujian, biasakan memberikan pujian daripada memberi iming2 barang jika kita meminta melakukan sesuatu. Dan jangan lupa ucapan terimakasih kepada anak2 kita. Hal sepele sih, tapi itu termasuk pendidikan dasar sekali selain meminta maaf jika salah serta bilang tolong jika memintanya melakukan sesuatu.
D. Lihat kelebihannya lebih sering daripada kekurangannya. Misal nilai ulangan 90. Tetapi yang biasanya kita tanyakan “Loh kok salah satu…? Apa yang ndak bisa?” Kita tidak melihat ada 9 nomor yang betul. Ini sangat penting karena membantu kita untuk terbiasa melihat kelebihannya terutama di luar akademik
E. Ciptakan lingkungan yang kondusif. Hindari menyuruh anak belajar tapi kita asyik nonton sinetron. Atau menyuruh anak membaca tapi kita sama sekali tidak suka membaca buku. Sekali lagi, ANAK LEBIH SUKA DIAJAK BUKAN DISURUH. ANAK LEBIH SUKA DIBERI CONTOH BUKAN DIPERINTAH.

Ini adalah sedikit dari sekian banyak pendidikan rumah yang bisa dilakukan. Bukankah harapan kita anak bisa jadi pemimpin? Lhaa lantas kenapa kita memperlakukannya seperti seorang bawahan yang sering dibentak dan disuruh?

Bukan mudah mempersiapkan anak menghadapi kehidupan keras di luar sana. Ini berhubungan dengan keseluruhan proses kita dalam mendidik anak. Apa yang selama ini kita katakan padanya tentang nilai-nilai kehidupan juga sangat memengaruhi anak agar tetap setia pada yang BENAR meski ia berdiri di lingkungan SALAH.

Memberi nasihat ke anak tidak melulu harus serius, melalui obrolan santai dan contoh penyelesaian masalah pihak ketiga serta resiko terhadap keputusan akan jauh lebih “nancep” daripada “kamu harus gini..  kamu harus gitu…” bak diktator.

Berikan anak kesempatan untuk terbiasa mengambil keputusan dan merasakan akibat dari keputusannya. Jadi, kelak ia akan bisa menimbang resiko sebelum melakukan sesuatu. Hal ini penting karena KITA TIDAK BISA SELALU ADA BAGI ANAK DI SEPANJANG HIDUPNYA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s