Resume Buku Anak Juga Manusia (2)

—Jadilah Orangtua Terbaik, Sediakan Hati untuk Anak—

Bayangkan suatu hari, diri kita bingung terhadap perilaku anak? Kenapa? Yaa karena kita kurang dekat dan memahami anak dari hati sedari ia kecil.

Bangun kedekatan dengan anak dengan cara lebih banyak mendengar daripada berbicara sehingga anak akan nyaman bercerita kepada kita, menganggap kita sebagai konsultannya bila ia mengalami kesulitan hingga kelak ketika dewasa. Tak perlu ia mencari pelarian lain yang belum tentu benar.

Ingat, ANAK JUGA PUNYA PERASAAN. Mereka bukanlah mesin mobil yang bisa lari kencang bila olinya bagus. Oli disini maksudnya sesuatu di luar diri anak, misalnya sekolah, les, atau kursus. Suatu ketika ia pun akan mengalami fase naik turun. Yang penting bukan hasil melainkan proses. Daripada memarahi jika mereka gagal, mending dorong mereka agar tetap semangat untuk belajar dan terus berusaha lebih baik lagi. Bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda? Thomas Alva Edison berapa kali mencoba hingga berhasil menemukan sebuah lampu? Ya… gagal adalah proses untuk berhasil.

Anak bukan robot yang selalu dan selalu bisa mengikuti yang kita mau. Akan lebih baik bila kita memberi teladan alias contoh. Kalau kita tidak suka diperintah maka jangan memerintah anak. Ajakan akan lebih mudah dimengerti dan dijalankan daripada perintah suruhan yang seringkali mematikan sirkuit korteks otak. Misal: “ayo kita bersihkan” lebih nyaman diterima daripada “bersihkan!” dengan nada tinggi.

Sikap kita (terutama Ibu) terhadap anak mempengaruhi sekali sikap anak. Jika sikap kita positif dan penuh empati, bersedia memahami dan mendengarkan anak maka mereka pun akan menirunya. Ingat, ANAK ADALAH PENIRU ULUNG. Sebaliknya, bila kita suka marah, mengkritik, tidak mau mendengarkan maka jangan harap anak bisa bersikap santun.

Dalam hati seorang anak, yang mereka tunggu adalah pujian tulus dari orangtua. Anak tidak menunggu orangtuanya pulang untuk menjadi bos yang sok main perintah. Anak butuh ketenangan saat bersama kita. Karena, sehari tanpa kehadiran orangtua terkadang berat dan menakutkan bagi anak terlebih bagi yang terlahir berperasaan peka. Jadi, hargailah perjuangan mereka menahan segala rasa itu serta segenap rindu untuk orangtuanya.

Pastinya, tidak ada orang lain yang bisa mengenal anak kita dengan baik kecuali kita, orangtuanya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang tegas, konsisten, tapi penuh empati (ini sih seperti pesan teh Kiki Barkiah). Bukan pemarah tukang kritik yang inkonsisten.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: