Ketika Anak ditanya Minta Apa

Kecenderungan orangtua pasti menanyakan “minta apa” pada anak ketika merasa bersalah meninggalkannya di rumah atau tanpa alasan apapun hanya sekedar ingin memberinya sesuatu. Betul apa betul?

Beberapa anak memanfaatkan pertanyaan itu untuk meminta mainan keren nan mahal sekalian atau meminta pergi ke suatu tempat wisata atau apa sajalah yang bersifat materi lainnya.

Namun, seringkali ketika Aya ditanya Bapaknya, mau minta apa atau mau kemana saat Bapak ada libur, jawabannya sungguh fantastis, “Enggak mau… Aya mau cerita sama Bapak… mau gambar-gambar…”
Ya, Ia meminta “waktu”.

Seringkali kita tidak aware pula dengan keinginan itu. Padahal memang itu yang membuat anak senang dan puas dalam hatinya. Bukan pergi ke wahana bermain, bukan pula dibelikan mainan yang kesemuanya menuntutnya bermain sendiri dan saat pulang yang ada orangtuanya kelelahan lantas tertidur sedangkan ia belum mengantuk karena tidur sepanjang jalan. Anak sejatinya membutuhkan kebersamaan dan fokus bersama.

Sering, aku sibuk dengan HPku karena ada lintasan ide untuk menulis lantas Aya protes, “Umi tuh main HP aja…” lantas dia “membalas” dengan main tablet terus. Aku pun lantas sedikit demi sedikit mengerem main HP dan rela membuka laptop dengan dalih bekerja saat ada lintasan ide ketika sedang bersamanya.  Rupanya dia lebih maklum, membuka laptop mainannya dan ikutan mengetik di sebelahku. Sebuah pelajaran berharga untuk tidak sibuk dengan HP apalagi cuma kepoin sosmed yang tiada habisnya apalagi berita-berita bahkan broadcast yang ngga jelas sumbernya.
Kubuka jika perlu dan lampu indikator HP berkedip tanda ada pesan. Selebihnya bila Aya hanya berdua denganku dan sedang tidak asyik main sendiri, HP bertengger saja. Kalaupun perlu banget buka HP ijin dulu ke Aya apa keperluannya buka HP. Dia toh maklum asal tidak lama-lama.

Karena apa? Karena sesungguhnya yang anak minta dari kita hanya waktu untuk benar-benar bersama (baca: tanpa gangguan HP, TV, dll). Fokus… fokus… fokus…

<<That’s realy simple but why we almost can’t do it?>>

#sharepengalamanaja
#masihbelajarjuga

Advertisements

Catatan Kontrol Minggu 35

2900 gram! Pantaslah pindaian USG memprediksi usia janin sudah nyaris 37 minggu. DSOG pun memprediksi perkiraan lahir maju 12 hari dari HPL per HPMT dengan taksiran berat lahir 3600-4000 gram bila sesuai dengan perhitungan… Subhanallah… tak ubahnya dengan Aya dulu lah… namun bila maju seperti prediksi DSOG maka taksiran berat 3200-3600 gram.

Hal yang membuatku takjub dan tertegun adalah sama sekali aku tidak minum susu ibu hamil yang digembor-gemborkan di iklan itu, minum vitamin pun harus pakai acara selang-seling DHA dan Calcium. Fe hanya masuk 60 tablet dari 90 tablet anjuran pemerintah. Makanku juga porsi biasa. Cuma sayur, jus buah, buah segar, sate 10 tusuk atau ayam 2 potong atau ikan 2 ekor atau telur 2 butir dengan amat sangat sedikit nasi (iniii mahh udah bergiziiiii kaleee…. ahehee). Kadang juga sarapan cuma koko krunch plus susu kambing atau kurma plus susu kambing. Ngga suka nyemil-nyemil loh… tapi sering makan tengah malam bakmie jawa lengkap dengan sayur, telur, ayam… gyahaaa… gimana engga gede si dedek? Tapi.. tapi.. ini semua terjadi baru masuk bulan ke 8. Sebelumnya boro-boro aku makan… sedikit juga udah hoek… sedikit juga udah kenyang… konsumsi antasid seenaknya…

Subhanallah… laa khaula wala quwwata illa billah… itu semua membuktikan bahwa janin bukan semata-mata kita yang “pelihara”. Tapi Allah langsung!! Janin tidak hanya bergantung pada asupan makanan kita, ia punya tempat bergantung yang lebih lebih, yaitu Yang Menciptakannya! (Hal ini sangat menamparku.. kenapa masih sering lalai dengan “menggantungkan asa selain pada Nya? Astaghfirullah…)

Maka.. nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (last)

Note with addition,
TUHAN MENJAWAB DOA MELALUI KESEMPATAN
@anakjugamanusia Banyak orangtua ingin anaknya berprofesi seperti orang lain yang dianggap sukses. Mengapa tidak sekedar hanya menjadi orangtua yang berkasih sayang pada anak?

Kadang ambisi justru membuat orangtua dan anak terjebak pada situasi ketika orangtua memaksakan anak menjadi ini atau itu kelak. Jika anaknya ternyata suka dan kebetulan cocok dengan pilihan orangtua tidak masalah. Namun jika sebaliknya? Apa mau disebut kalau cinta kita pada anak itu bersyarat? Apa mau disebut bila kita hanya bangga pada anak jika berprofesi tertentu?

Percayalah, bila pola asuh dan didik kita sudah baik, bisa dipastikan anak akan memilih yang baik dalam hidupnya. Biarkan ia tentukan cita-citanya. Tugas kita hanyalah mendampinginya tumbuh dalam perasaan disayangi. Sediakan diri dan hati untuk membantu anak menemukan keinginan Tuhan dalam dirinya. Kita tidak berhak atas masa depan anak karena kita tidak ada di situ kelak…. Tugas kita selanjutnya “hanyalah” mendoakan mereka…

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Apakah Tuhan itu selalu mengabulkan doa-doa kita? Iya, doa akan selalu dikabulkan melalui kesempatan. Asal kita peka saja dengan “bisikan Tuhan” di hati kita. Contoh:
-saat kita meminta rejeki berlimpah, apakah Tuhan langsung mengirimkanmya di depan pintu rumah? Ataukah melalui peluang misalnya dipertemukan dengan teman yang dapat membantu kita?
-saat kita berdoa agar jadi pemberani apakah kita jreng jreng jadi pemberani ataukah Tuhan menjawab melalui kesempatan melalui hadirnya ketakutan2 yang harus kita lewati agar kita bisa berani?
-saat kita berdoa ingin menjadi orang sabar apakah sekonyong-konyong kita jadi penyabar atau melalui ujian emosi agar kita menahan diri? Terutama bersabar dengan tingkah anak?
-saat kita berdoa agar keluarga kita menjadi rukun dan damai apakah tiba-tiba saja damai ataukah diberi kesempatan menyelesaikan berbagai konflik kecil hingga besar?

Nah, begitulah. Tuhan mengabulkan doa melalui kesempatan. Faktanya, kita diberi kesempatan itu melalui anak-anak. Mereka lah yang membuat kita semakin bekerja keras untuk menjemput rejeki. Merekalah yang membuat kita berani dan matang ketika harus menghadapi ketakutan, merekalah yang membuat kita menjadi pribadi yang sabar dan merekalah yang menjadi alasan mengapa kita perlu selalu rukun dan damai.

Atas izin Nya, manusia lantas dititipi anak untuk dididik dan diasuh. Itu bukti bahwa kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki kehidupan dari generasi ke generasi.

Jika kita melihat banyaknya kejadian di negeri kita, entah itu kekerasan, korupsi, terorisme, kita seringkali frustrasi sehingga timbul tanya dalam hati, “Dari mana kita bisa memulai untuk memperbaikinya? Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah semua ini? Mungkinkah Indonesia bisa lebih baik lagi dari sekarang ini?”  Akhirnya, kita berdoa supaya bangsa ini menjadi lebih baik.

Hebatnya, Tuhan sekali lagi sudah mengabulkan doa kita melalui kesempatan karena faktanya kita dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih baik melalui anak-anak. Nah, anak-anak adalah kesempatan itu. Akankah kita lewatkan atau kita terus berupaya meningkatkan kemampuan diri (baca: terus belajar dan berupaya) agar dapat mendukung anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kelak menjalani perannya dalam kehidupan ini?

Pastinya jika seluruh orangtua mengambil peran tersebut maka Indonesia niscaya betul seperti kata Bung Karno dulu bahwa negara kita akan menjadi mercusuar dunia. Bismillah…

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Alhamdulillah, selesai juga rangkaian resume buku Anak Juga Manusia. Tidak semua detil di buku saya tulis karena secara utuh karya itu hak penulis. Benerapa bagian saya tambahkan dengan keterangan dalam bahasa saya.  Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

Terimakasih untuk Bpk. Angga Setyawan, yang sudah menuliskan materi sebaik itu dan semoga kita semua bisa mengambil manfaatnya, menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita. Barokallahu… aamiin.

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (15)

Note with addition,
KOMUNIKASI
@anakjugamanusia

Komunikasi anak dan orangtua bukan hanya penting akan tetapi menjadi kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apapun kepada kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua hanya berkomunikasi ke anak pada saat tertentu saja, misalnya:
♢Saat marah
♧Saat menyuruh
♤Saat mengkritik

Hmm.. semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Padahal, seperti tertulis dalam tulisan sebelum sebelumnya bahwa tingkat komunikasi level tinggi adalah cukup menjadi pendengar setia. Itu berarti mendengar tanpa marah, kritik, pukul balik cerita, kemudian memberi masukan yang bijaksana dan fokus pada solusi saat ia minta pendapat.

Terkadang, orangtua ingin tegas pada anak. Ya, tegas itu bagus tapi bukan keras. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten.

Saat anak balita, orangtua adalah guru utama. Namun saat ia sudah beranjak dewasa posisikan kita sebagai sahabat (jangan seperti iklan obat nyamuk tuh…). Jadilah tempat curhat yang asyik buat anak agar ia tidak memilih curhat ke teman-temannya yang belum tentu benar. Kemudian dengan pasangan kita juga harus saling mengingatkan bila sudah mulai tidak bersahabat dengan anak. Saat memberi nasihat usahakan untuk tidak frontal dan menyerang, misalnya, “makanya kamu jangan begitu! Makanya kalau dikasih tahu nurut!”. Akan lebih baik bila, “hmm… mama bangga kamu sudah berusaha menghadapi masalah ini. Dulu tantemu juga pernah punya masalah hampir mirip. Tantemu bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku ya karena bisa begini begitu. Sejak saat itu mama inget betul kata tantemu. Kalau untuk masalahmu kira2 bagaimana, sayang?” Seolah-olah si tante yang memberi nasihat padahal ya kita juga yang bikin cerita perumpamaan. Bandingkan dengan, “Makanya kamu jangan begitu nanti kayak tantemu loh.” Kan anak jadi tidak mampu berpikir sendiri dan cenderung menutup diri lagi.

Kecuali kalau anak masih balita. Misal ia jatuh, maka respon kita, “wah.. jatuh ya sayang… tidak apa2, lain kali harus hati2 yaa tidak boleh diulang lagi lompat di jalan bebatuan,” dengan perumpamaan tentu mereka belum paham.. hehe… kemudian jangan pernah menyalahkan, misal: “uuhh.. batunya nakal ini, pukul aja! Atau ih kodok nih yaa bikin adek jatuh…” kelak dia akan terbiasa menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi diri. Kelak dia akan jadi pribadi tidak bertanggung jawab. Maukah begitu…?

Kemudian sering pula kita meng iming-iming hal yang tidak benar atau menakut-nakuti hal yang salah. Misal, kalau nakal nanti disuntik pak dokter loh, kalau masih bandelnya minta ampun enggak mau nurut sama mama biar mama panggilkan pak satpam/pak polisi saja. Hal ini justru akan membuat bapak ibu kerepotan saat anak betul-betul butuh dokter atau saat bertemu para aparat. Atau ayoo makan dulu nanti kita naik odong-odong (padahal enggak), nantinya anak akan belajar berbohong juga. Mending sampaikan saja kalau tidak makan nanti perutnya bisa sakit atau pengen tinggi nggak? Ayo makan yang banyak.

Memang tidak lantas berhasil tapi mereka berproses untuk memahami. Mendisiplinkan anak harus dimulai dari dini, jangan beranggapan anak kecil bisa lupa dan nurut jika diancam seperti itu. Dan yang paling penting kedua orangtua serta pengasuh yang ada di rumah harus kompak yaa.. Coba yuk…!

“Tiada perubahan yang instan seperti makanan instan”

Catatan dari Buku Anak Juga Manusia (14)

Note with addition,

TEKNIK MEMBANDINGKAN YANG BAIK

@anakjugamanusia

Seringkali kita refleks membandingkan anak satu dengan yang lain bahkan dengan anak orang lain bila anak kita berperilaku tidak baik. Misal: itu loh seperti kakakmu, pintar!; gitu aja ga bisa, gitu aja ga berani, adikmu aja berani; kamu ini ya nakalnya minta ampun, nggak kayak si Anu, Mama kan malu; kamu ini pemalas ya, beda sekali sama papa dulu; awas ya kalau nilaimu masih jelek besok mama carikan guru les yang galak.

Cara membandingkan tersebut tidak efektif. Seringkali anak malah minder, malu, sakit hati, dan tidak percaya diri. Bahkan sampai dengki dengan anak yang diperbandingkan tersebut. Kalaupun mau berubah itu karena ia ingin berubah dan mematahkan anggapan orangtuanya, bukan karena tanggung jawab pribadi. Yang lebih parah bila sampai menghakimi diri sendiri, “ya memang aku ini bodoh, malas, nakal, mau gimana lagi?”

Berarti kita tidak boleh membandingkan anak-anak, nih? Boleh, tetapi tidak diperbangkan dengan orang lain tapi dengan dirinya sendiri.

Puji dia setiap berbuat baik sekecil apapun, Misal:

-duh, kakak pintar ya…

-kakak, terimakasih ya hari ini sudah menjadi kakak yang luar biasa. Mau bantu adik dan mama… mama bangga sama kakak.

Nantinya bila anak kita berbuat kurang baik kita bisa me recall kebaikan dia. Misal:

-kakak kan udah pintar kemarin2, mau bantu mama beresin mainan. Ada apa sekarang kok tidak mau?

-kakak kan seorang kakak yang luar biasa. Seingat mama kakak selalu membantu adik dengan riang. Sekarang kok begini kenapa ya?

Dengan demikian anak akan merasa, “oh iya yaa kan aku dulu pernah berbuat baik, tentunya besok aku akan bisa berbuat baik,”

Atau gunakan bahasa yang merefleksikan perasaan kita, seperti: mama sedih kalau kamu seperti ini, mama kurang baik mengajarimu, sepertinya.

Namun jika kebaikan kecil saja kita lewatkan dari mana ia tahu itu yang namanya berbuat baik dan jadi anak pintar menurut kita?

Tuhan menitipkan anak yang sempurna pada kita

Kitalah yang melabeli anak dengan sebutan bodoh, nakal, dan sebagainya

Percayalah, tidak ada produk gagal dari Tuhan

Kitalah yang harus berusaha memahami mereka, belajar tentang kelebihan mereka dan menerima kekurangan mereka

Bukan anak kita yang harus diganti, cara kita memperlakukan anaklah yang perlu diperbaiki.

Yuk, terus belajar. Manusia tidak ada yang tidak pernah salah. Bukan berarti begitu tidak sempurna. Kesempurnaan adalah ketika kesalahan tadi diperbaiki. Kesempurnaan yang sejati bukanlah dari hasil yang kita peroleh melainkan dari proses yang mampu dan mau kita lewati sepanjang hidup untuk mencapai sesuatu.

Catatan dari Buku Anak juga Manusia (13)

Note with addition,
NILAI TERBAIK UNTUK ANAK

@anakjugamanusia Banyak orangtua yang marah karena nilai anaknya jelek dengan dalih demi kebaikan anak. Sebetulnya, orangtua itu gagal berdamai dengan diri sendiri karena malu sama orangtua lain.

Skenario:
Ada orangtua yang mengeluhkan nilai ulangan Matematika anaknya yang hanya 40 dari nilai tertinggi 100. Tentu kita setuju bahwa nilai itu rendah. Namun coba kita gali lebih dalam. Bagaimana jika anak mengerjakannya dengan JUJUR (tidak nyontek), bagaimana jika ia sudah berusaha dengan TEKUN, dan bagaimana jika ia tahu nilainya jelek tapi tetap BERANI memberitahukannya pada kita?
Jelas 3 poin tersebut tak ternilai harganya dan tidak terpantau dari sistem penilaian di sekolah. Padahal 3 poin tersebut lah yang kelak lebih berperan besar dalam kehidupan mereka. Jika nilai Matematikanya bagus tentu menjadi pelengkap yang manis. Saat besar nanti, nilai matematika itu sudah tidak ada lagi perannya di masyarakat. Yang ada hanyalah parameter KESUKSESAN. Herannya banyak yang menganggap bahwa sukses sama dengan kaya .

Mengapa bangsa kita ini banyak sekali koruptornya? Ya.. sederhana saja jawabnya, karena banyak orang yang tidak peduli tentang proses (3 poin terakhir) tapi lebih ke hasilnya (nilai bidang studi).

Apakah koruptor ini sewaktu kecil diajari berbohong, menipu, mengambil hak orang lain? Tidak. Kemudian kenapa saat dewasa bisa demikian? Karena bukan pelajaran bohonglah yang membuat seseorang berbohong. Akan tetapi ketidakadaan apresiasi terhadap kejujuran yang membuat anak-anak mempunyai potensi untuk berbohong. Bagaimana tidak, nilai baik meskipun hasil mencontek lebih dielu-elukan daripada nilai jelek tapi dia jujur? Maka, kebanyakan siswa memilih menyontek agar bisa mendapat nilai bagus dan di apresiasi (dielu-elukan).

Maka, tugas kitalah dalam PENDIDIKAN RUMAH untuk mengapresiasi kejujuran itu, melatih anak untuk bertanggung jawab dan tidak marah bila nilai mereka jelek asal mereka sudah berusaha belajar serta tidak menyontek, dan tugas kita pula membesarkan hatinya bila dia diolok karena nilai yang jelek. Kelak, ia akan tumbuh jadi pribadi yang setia pada kebenaran.

Catatan dari Buku Anak juga Manusia (12)

Note with addition,
KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH

@anakjugamanusia  Anak secara alami berproses untuk memampukan dirinya hidup mandiri. Namun, orangtua yang terlalu melindungi anak dari kesulitan akan merusak proses tersebut.

Melindungi anak itu hal wajar, alamiah, manusiawi. Akan tetapi jika terlalu alias berlebihan malah akan menjadi masalah nantinya. Coba renungkan sendiri kenapa kita (kadang) terlalu melindungi? Bisa jadi sebenarnya karena kita tidak mau suaah payah membantu anak belajar mengelola situasi sulit. Kelak bila ia dewasa ia akan kesulitan sendiri dan selalu bergantung pada kita untuk menyelesaikan masalah mereka. Padahal, kita tidak mungkin selalu ada di sepanjang hidup mereka.

Ada pula yang berpikir, “Ah, nanti juga mereka bisa sendiri,” hmm… apa iya jika sejak kecil tidak diajari?
Contoh kasus: pada suatu acara anak usia 3 tahun tidak sengaja menumpahkan minum ke sepatu sang ibu. Respon yang ditunjukkan ibu adalah marah, melotot, mencubit anak tersebut hingga menangis ketakutan. Apakah anak belajar bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalahnya? Anak bukan manusia dewasa berukuran mini. Ia masih harus banyak belajar dan kita lah orangtua yang harus mengambil peran mengajarinya agar kelak ketika dewasa ia terbiasa bertanggung jawab alias pasang badan bila berbuat salah. Bukannya menghindar, pura-pura tidak tahu, pasrah, lari dari kenyataan atau malah menyalahkan orang lain.

Pada kasus menumpahkan minum di atas bukankah respon yang lebih baik adalah kita tersenyum, katakan tidak apa-apa dan mengajak anak membersihkan?

Dalam sistem pendidikan kita, sangat disayangkan bahwa kemampuan menyelesaikan masalah jarang diajarkan. Anak cenderung diminta untuk tidak boleh salah. Bahkan, anak bermasalah sering dihukum dan dicap sebagai anak nakal, bodoh, trouble maker, dsb. Jadi, menghukum, memarahi, mencap negatif mereka sungguh  tidak produktif. Jauh lebih produktif jika kita membantu mereka untuk menemukan solusi.

Untuk anak usia >5 tahun yang sudah harus belajar bersosialisasi lebih kompleks, bila mereka bertengkar dengan teman, misalnya, jangan lantas kita sebagai orangtua ikut campur tanpa diminta anak. Bahkan seringkali antarorangtua jadi bertengkar karena anak mereka. Hal ini justru akan memperkeruh keadaan. Posisikan diri sebagai konsultan bukan penyelesai masalah apalagi bila tidak diminta anak atau bahkan malah jadi provokator.

Jika kita fokus membantu mereka untuk menemukan solusi, mereka akan terlatih untuk itu. Pada saatnya nanti dengan atau tanpa kita, kita berharap mereka lihai menyelesaikab masalah hidup mereka.

Pilihannya ada pada diri kita, apakah akan mewariskan kepada anak sifat ahli menyelesaikan masalah atau malah sifat emosional, provokatif, atau suka ikut campur?

Previous Older Entries