Cerita Kontrol Hamil

—31 Desember 2016—

Kontrol rutin minggu ke 28, masih di RS terdekat dan berganti DSOG lagi.
Sebetulnya ini DSOG pertama kali yang kutemui di kontrol pertamaku. Kesan pertama beliau terburu-buru karena akan terbang ke Solo menghadiri seminar. Tapi sikapnya yang tenang dan kebapakan membuat suamiku suka. Namun tidak denganku, saat itu aku tidak sreg.
Bulan berikutnya beliau cuti TKHI jadi aku pindah ke DSOG (K), seorang wanita, dan karena konsultan jadi lebih mahal tarifnya. Baiklah tidak mengulangi. Kemudian mencari informasi DSOG yang banyak pasiennya (khusus yang praktek Sabtu) karena konon kabarnya makin banyak pasien makin bagus. Mencoba berpikir secara awam. Dua kali sengaja mendaftar untuk bertemu beliau. Sabar sih tapi ya itu banyak pasiennya, lama antrinya dan sering berujung di meja operasi.
Suatu ketika ngobrol dengan adik letting yang ditangani DSOG pertama tadi. Katanya beliau bisa mendampingi dengan baik. Dia yang miopi tinggi diminta oleh DSOG lain untuk SC namun tidak dengan yang satu ini. Alhamdulillah anaknya lahir normal dan ia pun tidak bermasalah.
Akhirnya aku mencoba bertemu beliau lagi. Tak disangka pertemuan singkat pertama dulu masih beliau ingat. Bahkan hanya beliau yang aware status “dr” ku. Padahal aku tidak meminta diperlakukan beda ataupun sengaja menyebut status. Semua tertulis di data rekam medisku yang pastinya kalau tidak teliti membaca tidak akan tahu karena informasi pekerjaan aku menuliskan IRT. Aku hanya ingin menjadi pasien biasa, itu saja. Namun nyatanya status itu sangat berarti. Sebelum sebelumnya nyata benar aku diperlakukan secara awam baik oleh bidan pun DSOG. Penjelasannya asal saja sekalipun aku bertanya agak spesifik. Namun tidak dengan DSOG tadi pagi. Beliau menganggapku sebagai juniornya, memanggil nama tanpa “bu” bahkan me recall pelajaran masa lalu, bahkan mereduksi jasa dokter.
Juga… dari kesekian yang kutemui hanya beliau yang bisa menjelaskan dengan memuaskan apa yang terjadi denganku (mungkin karena tahu statusku ya). Aku tidak alergi benang. Bahkan tidak ada istilah alergi benang menurutnya. Dari analisa ketiga operasiku sebelumnya yang selalu bermasalah pada jahitan maka kemungkinan besar kadar glukosa darah ku bermasalah atau higien saat operasi buruk atau vaskularisasi penyembuhan luka buruk. Maka ke depannya beliau akan berusaha menekan kemungkinan-kemungkinan itu. Biidznillah. Ini juga yang kusuka. Beliau menempatkan kuasa Illahi di atas segalanya.
Beliau juga mendukung konsumsi susu kambing karena kemungkinan besar aku atau bayiku alergi laktogen dari riwayat yang ada. Aya pun dulu juga pakai sufor dengan protein terhidrolisis selama aku masih perawatan komplikasi jahitan, sesudahnya baru ASI full sampai 2 tahun namun susu yang kuminum juga bukan susu sapi. Susu kedelai waktu itu, MamaS##a. Aya baru minum susu sapi setelah sapih 2 tahun. Alhamdulillah tidak bermasalah bila tidak lebih dari 500 cc sehari. Bila lebih sudah dipastikan BAB encer.
Beberapa sempat menyarankanku ke RSIA di Jatinegara. Memang sih kredibilitas dan pelayanan pasti bagus. Namun karena jalur macet dan 200 meter dari rumah sudah ada RS besar biarlah kesana saja. Apalagi DSOG terakhir yang menanganiku ini cukup menghargai juniornya. Kenapa kubilang menghargai? Karena pernah beberapa kali dengar cerita DS di kota ini kurang “open” sama DU. Alhamdulullah bertemu yang baik. Semoga baik selalu baik dan berkah ke depannya.

#Counting down 11 weeks…. #

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: