Catatan Perjalanan #7 (a.k.a The Failed Trip)

Tanggal 1 Januari 2017 lalu sungguh pilihan yang tidak tepat untuk pergi pesiar. Dalam pikirku kebanyakan orang masih pada tidur selepas perayaan tahun baru (ala mereka, bukan kami) demi melihat kawasan Jakarta Timur sepi. Semestinya aku curiga ada pergerakan ke kawasan wisata Jakarta Utara, tapi dalam benakku long weekend pasti pada memilih ke Bandung atau Bogor. But that’s totally wrong!!

Niat awal hanya ke Tamini Square dekat rumah, ke toko buku, beli perlengkapan bayi, dan makan di luar. Tapi rencana berubah seketika. Entah kenapa tetiba ingin melihat pantai. Cek traffic ke arah Anyer via Waze macet sekali. Baiklah, ke Ancol saja lagipula belum pernah sama sekali ke sana. Mumpung sepi (pantauan di Waze jam 08.00).

Naik toll dari gerbang Kebon Nanas super lancar sampai ke percabangan ke arah Kemayoran, Ancol, Mangga Dua dan ke Tanjung Priok. Dekat pintu keluar mulailah kemacetan terjadi. Sempat melihat arah percabangan satunya (kuduga ini ke Muara Angke jam 10.00 an) banyak mobil Ambulance pacu kencang dan mobil pemadam kebakaran sekira 2-3 unit. Hmm.. pastilah ada kebakaran. Dan ternyata baru tahu sore di berita tentang kapal wisata Zahro Ekspress yang meledak dan terbakar.

Pintu masuk ke Ancol dialihkan cukup jauh ke pantai Carnaval karena jalur utama sudah macet parah. Jadi kami diarahkan melewati gerbang perumahan dan Villa. Naasnya kami tidak membawa banyak persiapan makan dan minum. Hanya air mineral 3 botol kecil, 3 tangkup roti tawar, 1 bungkus biskuit, dan 4 kotak susu UHT Aya.

Kami sampai di gerbang masuk sudah pukul 11.30 WIB. Setelah membayar 25.000 per orang dan 25.000 untuk parkir mobil kami menuju parkiran pusat. Mencari toilet di bagian belakang lahan parkir yang dekat dengan musholla dari tenda macam di pengungsian. Istirahat sejenak sambil menunggu Dhuhur sekalian sebelum bergerak ke lokasi wisata.

Di sisi timur nampak panggung besar, bekas perhelatan semalam pastinya. Sayang disayang sampah berceceran dan menumpuk di segala sisi. Bahkan nanti di pantainya. Sungguh Ancol hari itu penuh manusia dan sampah. What the…

Karena mobil diparkir terpusat maka untuk jalan-jalan disediakan beberapa armada bus big bird yang pastinya disewa pihak Ancol. Ada halte bus di samping Mall Ancol. Namun antrean tidak berjalan semestinya. Saling sikut, dorong dan mendahului terjadi. Antrean pagar besi macam labirin dibuat tapi nyatanya dicuekin, malah penumpang pada numpuk di tepi jalan. Siapa cepat dia dapat. Karena lelah wara-wiri mengejar bus aku pun kelaparan. Tidak ada penjual nasi sama sekali. Jadinya beli mie cup seduh (ga sehat bangeett) 10.000 rupiah dan air mineral 5.000 rupiah. Biarlah sedikit mengganjal perut. Setelah makan dapat bus meski harus berjejal-jejal. Ada ibu-ibu yang tahu aku hamil besar, meminta anaknya yang masih remaja untuk memberikan tempat duduk untukku namun si anak menolak. Padahal aku toh tidak meminta. Berdiri bersandar di kursi berjejal dengan yang lain. Benar-benar pencerminan toleransi yang sudah menyurut. Alhamdulillah tepat di kursi tempatku bersandar ada anak yang mendadak berdiri dan merangsek ke depan ingin sama neneknya. Alhasil dapat tempat duduk melipir. Itupun harus bagi dua dengan Aya. Yaa setidaknya bisa menaruh pantat.

Sampai di pantai aku hanya bisa terkaget-kaget. Bibir pantai tak terlihat lagi. Penuh oleh manusia. Pasirnya pun demikian. Bersatu padu dengan tebaran sampah. Apa-apaan ini? Kami berjalan menyusuri pantai yang serupa pasar itu tanpa kepuasan sama sekali. Sampah pun ikut masuk ke pantai terhanyut air. Masya Allah. Rindu pantai di Aceh dan Singkawang lah. Serasa pantai milik sendiri. Tak ingin berlama-lama, kami segera hengkang ke halte lagi. Di halte depan pantai, seorang petugas mengarahkan kami naik mobil khusus orang sakit, lansia, bayi, dan ibu hamil. Alhamdulillah tidak lagi berjejal di bus. Segera kami naik mobil dan beranjak keluar. Seharusnya ke arah jalan pulang dekat dan sepi. Namun karena mind setnya ke Muara Angke sepi juga maka kami menuju kesana. Lhaa ternyata salah jalan. Malah terjebak ke arah masuk Ancol lagi. Dua jam mobil bergerak lambat-lambat dengan perut kelaparan dan menahan BAK. Masya Allah. Bergantian sholat di kendaraan deh akhirnya. Kami benar-benar terjebak. T.T.

Jam 16.30 WIB baru sedikit bebas dan jam 17.00 baru naik toll arah pulang. Cepat saja karena jalanan sepi, sangat kontras dengan toll arah berlawanan yang penuh padat berhenti total hingga kira-kira 10 km. Jam 17.30 kami sudah sampai jalan menuju rumah tapi kami berbelok dulu cari makan sore. Kelaparan kronis dari tadi siang. Gagal makan di Muara Angke jadinya cari seafood tenda. Pesan kepiting, ikan, udang serta ca kangkung beserta minum total 160.000 rupiah. Lumayan lah. Kenyang. 

Pulang lewat adzan Maghrib. Setelah mandi dan sholat merebahkan badan. Sungguh perjalanan liburan yang gagal. Kata suami sih… wisata macet. Hehe… PhotoGrid_1483627754282.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s