Catatan Perjalanan #6

Opa, Uti, dan tante Aya datang. Rencana berlibur selama 1 minggu di Jakarta mumpung liburan sekolah. Bermula dengan penjemputan bersama sopir sewa di bandara Halim tanggal 21 Desember 2016 yang delay tidak menyurutkan semangat jalan-jalan tahap pertama. Dari bandara langsung meluncur ke arah Jakarta Utara. Awalnya mau ke pasar pagi Mangga Dua sebelah ITC untuk beli keperluan musim dingin Opa dan Uti Aya, tapi sopir terlewat keluar toll. Jadilah kami ke arah Muara Angke. Makan siang ikan bakar dulu. Kupikir pak sopir tahu. Ternyata belum pernah kesana. Jadilah berpedoman pada GPS, muter-muter dan turun tanya berkali-kali. Sampai di lokasi jam setengah 12 kondisi Aya sudah tertidur. Pesan ikan kuwe yang menjadi icon, kepiting, serta udang. Tak lupa kelapa muda khas hidangan tepi pantai. Ikan kuwe tak ubahnya seperti rasa bawal dimasak bumbu khas Sulawesi. Menurutku jauh lebih enak dan murah ikan bakar di Kuala Singkawang Kalimantan Barat. Gagal move on deh. Untuk kepiting saus padang enak sekali. Dari sekian hidangan yang membuat lidah berdecak hanya kepitingnya. Udang tepung juga biasa saja. Aku mengklaim enak masakanku kalau ini. Total belanja makanan 360.000 sudah bisa dimakan 6 orang. Not bad.
Lepas makan dan sholat Dhuhur di musholla depan warung makan mampir dulu melihat tempat pelelangan ikan dan bibir dermaga. Euhh.. kotor kali pun. Banyak sampah di tepian. Karena panas kami bergegas.
Tujuan kedua Pasar Pagi Mangga Dua tepatnya ke toko Djohan. Sopir membawa kami keliling kota tua. Macet dan ramai. Lewat pula gedung galangan VOC. Jelas-jelas masih tertulis demikian. Kolonial oh kolonial. Ternyata dibawanya kami ke pasar betulan. Putar lagi ke arah yang benar. Rupanya pak sopir ini seringkali sok hafal jalan. Maklum lah sudah tua. Overall ia baik dan ramah. Coba kalau enggak. Sudah kena penalti.

Benarlah Djohan ini spesialis baju musim dingin dan kategorinya lengkap. Harganya juga relatif murah meski dengn berat hati kukatakan semua barang impor China. Hmm.. apa mau dikata. Jaket yang dibeli 400rb dan 550rb. Bagus juga bahannya. Tak lupa sarung tangan unyu-unyu yang senada dengan jaket harga 75rb, penutup telinga harga 50rb, syal plus tutup kepala seharga 100rb (kalau tak salah ingat) dan baju dalaman kaos serta celana hangat 120ribu.
Setelah itu keliling sebentar mencari baju kuda Pony untuk Aya dan kalung plus gelang untuk tante Nita.
Keluar gedung menemukan kedai pancake durian dan membeli 5 buah. Eh, rupanya enak. Kalau tidak hamil bisa habis banyak nih aku. Tiga untuk kami dan dua untuk pak sopir. Ia tak lantas memakan, untuk anak-anak di rumah katanya. Wow.
Sampai rumah tepat adzan Maghrib. Tidak payah masak karena Uti Aya membawakan belut goreng dan sambal belut Pak Sabar Bantul yang super sedap juga masih ada sisa udang tepung tadi siang. Alhamdulillah.
Hari kedua dan ketiga, Kamis-Jumat, istirahat di rumah untuk perjalanan nonstop long weekend ke depan.

Sabtu Subuh kami siap dan berangkat ke Cileungsi. Tepatnya ke arah Mekarsari. Sampai sana masih jam 06.00. Istirahat di SPBU sembari ke toilet, memandikan dan menyuapi Aya.
Jam 08.00 rupanya gerbang sudah dibuka. Kami pun masuk dan menunggu loket masuk buka setengah jam kemudian.

Area Taman Buah Mekarsari sangat luas. 264 hektare. Masih kepunyaan keluarga Cendana. HTM 30.000 dan tiket keliling dengan bus wisata 15.000 pulang pergi dapat bonus 1 macam buah. Kami bisa membawa markisa, jeruk, sawo. Buah yang lain harus membeli.
Pemberhentian terakhir di danau. Rupanya jam 11.00 ada kursus menanam. Baiklah, sembari menunggu Aya main di wahana anak-anak dan bersama kakek serta ayahnya naik kapal kayuh di tepian danau. Lepas itu makan pop mie dan menonton show cara membuat Terarium selama 1 jam (nanti ditulis terpisah yaa…). Dapat hadiah 2 kaktus karena bertanya.
Adzan sudah berkumandang. Kami mencari shelter bus di ujung danau bertenda biru untuk kembali ke pintu utama. Tak lantas pulang, kami mampir musholla dan makan bekal. Lebih hemat.
Selesai sholat dan makan kami bergerak pulang. Macet.
Sampai di Jakarta hampir jam 15.00. Mampir dulu ke TMII (milik keluarga Cendana juga) keliling naik kereta gantung tarif 50rb per kepala.

Selesai keliling naik kereta gantung kami pulang lewat pintu keluar 2 setelah keliling lagi naik mobil. Sampai rumah masih sempat sholat Ashar lanjut istirahat untuk perjalanan esok lagi.
Minggu pagi, jalan-jalan di pasar minggu ceria kawasan MakoopsAU. Niatnya hanya jalan-jalan, tapi nyatanya borong banyak barang. Sepulang dari sana bersiap silaturahmi ke rumah Eyang di pondok gede. Sampai sana pas Dhuhur. Akhirnya bergantian sholat dan makan siang ke D’cost Plaza Pondok Gede. Tak terasa sampai Ashar kami makan dan ngobrol. Sampai rumah hampir jam 16.00.
Keesokan pagi jadwalnya ke Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Taman Anggrek Indonesia Permai (keluarga Cendana lagi) dan ke saudara di Pulo Gadung. Pulangnya keliling Monas (yang ternyata tutup di hari Senin), patung kuda, bundaran HI, tugu tani. Sampai rumah tepat adzan Maghrib.
Selasa, istirahat di rumah saja. Aya batuk pilek. Mungkin ia kelelahan.
Rabu, hanya aku dan tante Aya yang jalan-jalan ke Tamini Square naik angkot berangkat jam 10.00 dan pulang jam 14.00. Demi makan di Hanamasa.
Kamis, jelas di rumah saja, karena sorenya mereka harus kembali ke Jogja.

Terimakasih atas kunjungannya… 🙂

photogrid_1483699857453

photogrid_1483697077216

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s