Majelis Dzikir Az Zikra

“Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Semenjak tahu bahwa masjid Az Zikra berada dekat toll exit sentul selatan rasanya ingin hadir di majelis dzikir asuhan ust. Arifin Ilham disana. Namun belum tahu jadwal pastinya setiap Ahad apa. Akhirnya mencari di laman Facebook ketemu fanpage resmi Masjid Az Zikra. Setelah follow tidak lantas ada update jadwal. Merujuk ke websitenya juga tidak ada informasi. 

Dulu sekali, saat aku masih kuliah pernah ikut majelis ini di Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Bahkan dua hari mengikuti acaranya. Dzikir akbar dan sholat Subuh berjamaah di hari berikutnya. Waktu dzikir aku berangkat sendiri sedang waktu Subuh berangkat jam tiga pagi menaiki Shogi bersama adikku. Subhanallah jamaah banyak sekali dan pastinya berkostum putih. Dari situ aku selalu berharap untuk bisa hadir kembali di majelis dzikir beliau karena berasa di charge energi positif baru dan memang lah berada di sebuah majelis itu sangat menenangkan.

Barulah terpampang jadwal di awal Januari 2017 (yang keluar di dinding Facebookku) bahwa dzikir bulanan untuk bulan ini pada tanggal 8 Januari 2017 pukul 07.00-09.30 WIB. Aku baru menyampaikan niat ke suami tiga hari sebelum acara. Bismillah… saat itu berdoa semoga diberi kekuatan dan kemudahan untuk menghadiri majelis tersebut karena kondisiku sedang labil. Sering drop dan rasa mau pingsan terus setelah masuk usia kehamilan 28 minggu. Mabok kedua sepertinya.

Ahad pagi, berangkat dari rumah pukul 05.15 WIB. Awalnya mau berangkat sebelum Subuh tapi bawa anak balita yang masih tidur pastilah repot. Maka lebih aman lepas Subuh saja.
Perjalanan lancar bahkan saking lancarnya sampai mobil selalu dipacu kencang dan kelewatan toll exit menuju masjid. Karena jalan masih sepi maka tidak ada pilihan lain selain menepi di sebelah kiri dan jalan mundur sekira 500 meter lebih. Hmm… Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.50 WIB.
Alhamdulillah bisa keluar menuju jalan lingkar luar dan langsung mengarah ke masjid Az Zikra. Tidak begitu lama kami sudah sampai dan sudah dapat ditebak parkir full hingga harus parkir di jalanan pemukiman muslim yang mengitari masjid. Aku bersama anakku turun duluan di gerbang belakang, lantas mencari toilet karena si anak bangun tidur dan minta buang air kecil. Tak mungkin bisa bersama dengan bapaknya karena masih harus parkir jauh sekali. Bismillah.. semoga dikuatkan karena belum sarapan, tadi di mobil hanya sempat makan kurma 3 butir serta minum air putih saja, tenaga belum full. Sampai di toilet antrean cukup panjang. Rupanya hasrat buang hajat datang bebarengan. Alhamdulillah dimudahkan. Merayu anak untuk mau dilap dan ganti baju butuh perjuangan juga. Di tengah kerumunan dia merengek dan aku harus harus harus tetap tenang meski badan gemetaran mulai drop. Ada seorang ibu yang menepukku dan bilang, “Sabar Ibu…,” setelah itu aku merasa bertenaga lagi dan Aya pun jadi kooperatif. Masya Allah..

Selesai proses di toilet dan ambil wudhu aku mencoba menghubungi suami karena anak maunya sama bapak. Tapi sambungan ponsel tidak terangkat terus. Kuputuskan naik ke atas meski banyak jamaah putri turun ke bawah dengan alasan di atas penuh. Mereka pun memenuhi tangga, halaman luar, ruang serba guna dan teras-teras. Sesampainya di ruang utama untuk jamaah putri memang penuh sekali. Aku hanya berdoa dalam hati semoga mendapat sedikit kelapangan tempat untukku dan Aya. Bismillah.. Bismillah.. Bismillah… begitu terus yang aku gumamkan. Pandanganku tiba-tiba tertuju ke pilar tengah belakang. Ada satu ruang untuk satu orang. Di sebelah seorang nenek. Aku mohon ijin duduk disitu, diperbolehkan. Alhamdulillah.
Sang nenek berusia di ambang 70 tahun itu datang dari Bogor diantar anaknya sejak pukul 01.00 dini hari tadi. Dan ketika beliau sampai jamaah sudah setengah penuh. Masya Allah.

Acara dimulai pukul 07.00 WIB dan aku belum sempat makan juga karena harus menangani anak yang mulai merajuk untuk mencari bapak. Dialihkan ke menggambar dan makan marshmallow serta susu kotak lumayan bisa ceria lagi. Diawali dengan membaca Al Fatihah serta surat Yaa Siin dan senandung Al Quran bersama kemudian lanjut pengumuman, iklan madu hitam dan air doa Dzikro serta ceramah singkat Bapak Anies Baswedan sampai pukul 08.30 WIB. Barulah ustadz Arifin Ilham ber tausiyah. Itupun diselingi dengan edar tas untuk sedekah.

Selesai tausiyah, dzikir sambung doa pun dimulai. Lantunan Subhanallah walhamdulillah wa laa illa ha ilallah wallahu akbar khas ust. Arifin menggema dan menggetarkan hati. Dilanjut membaca bersama Al Fatihah, surat 3 Qul, ayat kursi, istighfar kemudian perenungan serta doa oleh ust. Arifin termasuk doa Nabi Adam yang berbunyi “Rabbana dzollamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosiriin” (dulu waktu kontrak di Wonosobo, lantunan doa ini selalu terdengar setelah adzan Subuh di Musholla dekat rumah, tidak menghafal jadinya hafal karena tiap hari dengar). Oh ya sebelum semuanya, kami menjadi saksi masuk Islam nya 2 orang. Kami pun turut bersyahadat dan penuh haru memekikkan Allahu Akbar. Ust. Arifin juga mengajak kami menyebut asma Allah di setiap hembusan nafas. Allah.. Allah… dan hanya Allah. Karena begitulah cara kita mengingat Nya dan melupakan dunia fana. Coba saja… seberapa lama kita bisa ingat mempertahankan pelafalan itu maka sedekat itulah kita dengan Allah. Maka lakukan lagi setiap ingat (penulis juga sedang melatih diri… dan… itu susah…!! ternyata kecintaan pada dunia masih melebihi cinta pada Allah… Astaghfirullah…). Oleh karena itu, kami diajak untuk selalu ber istighfar. Kesalahan atau dosa kita tiada yang tahu pasti selain Allah dan kedua malaikat pencatat. Maka, mohon ampun sesering mungkin lebih utama daripada merasa selalu benar. Astaghfirullah… mana tahu ucapan ataupun tulisan kita juga sedikit banyak menyakiti orang lain. Astaghfirullah… mana tahu kehadiran kita di masyarakat menjadi pembawa mudharat bukan manfaat. Dan sebagainya hal-hal yang kita tidak tahu apalagi yang kita tahu alias sengaja.

—Astaghfirullahalladzii laa illa ha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaik—

Doa kemudia terlantun untuk hajat sendiri, untuk keluarga, untuk saudara-saudara yang tertimpa bencana baik di dalam pun luar negeri, dan pastinya untuk Indonesia khususnya ummat Muslim agar bisa bersatu dalam artian seluruh aliran ahlus sunnah wal jamaah yang sekarang ini terpecah menjadi beberapa organisasi dan kelompok-kelompok bisa bersatu padu mempertahankan keutuhan NKRI. Aksi 212 tempo lalu menjadi bukti bahwa sebenarnya ummat Islam di Indonesia ini kompak. Biidznillah.

Dzikir dan doa selama 1,5 jam tak terasa telah usai. Aku bersyukur bahwa aku baik-baik saja meski hanya makan 3 butir kurma dan beberapa suap nasi (akhirnya) saat tas sedekah beredar. Nikmat yang luar biasa. Begitupun dengan anakku yang anteng mendengarkan. Bahkan di rumah ia mulai melantunkan dzikir ala ust.Arifin meski belum bisa sempurna dan tak tahu artinya. Kelak, jadilah pribadi berdzikir, nak. Kamu mungkin bertanya kenapa ummi menangis tadi? Tetapi besok besok kamu juga akan merasainya. Menangis ingat dosa, menangis mengharap ridho Nya, menangis karena ingin selalu dekat dengan Nya.

Pada akhirnya aku mencium tangan nenek dengan 4 anak sukes di sebelahku, beliau mendoakan semoga persalinanku lancar dan mengingatkanku agar tidak lupa untuk selalu beristighfar.

Lautan manusia merangsek turun mengantri untuk menuruni tangga. Aku memilih menunggu sedikit sepi. Membayangkan beginikah suasana di tanah suci? Bahkan mungkin tak pernah ada surutnya. Subhanallah. Dan dari pengalamanku hari ini aku yakin betul bahwa saat beribadah di tanah suci kurma dan air zam zam lebih dari cukup memberi energi pada diri yang hendak beribadah sepenuh hati.

Semoga Allah selalu merahmati majelis ini dan semoga besok-besok bisa hadir kembali di taman surga macam begini. Betapa penuh aura positif, betapa nyaman dan tenangnya hati. Yaa Rabb.. terimakasih atas kesempatan yang Engkau beri berikut kemudahan yang menyertai. Alhamdulillah…

PhotoGrid_1483918900908.jpg

Bismillah semoga kita bisa menjadi seperti tertulis di bawah ini…

2017-01-10 09.31.42.png

Kursus Menanam di Taman Buah Mekarsari

Seperti yang saya janjikan sebelumnya, saya akan menulis kursus menanam gratis selama 1 jam yang saya ikuti di sana tanggal 24 Desember 2016 lalu. Jadwal kursus setiap sabtu dan minggu dengan tanggal tertentu seperti yang terpampang di poster besar.

Area tempat kursus adalah di tepian danau tempat pemberhentian akhir ketika menaiki bus/kereta wisata. Maka, tak heran di sana menumpuk pengunjung yang menghabiskan waktu untuk bermain sepeda sewa berkeliling area danau, mengayuh sepeda air, outbond, permainan anak, atau makan-makan dengan membeli di warung sekitar danau pun memakan bekal sendiri. Kami memilih duduk manis di depan panggung Fruit Show dan Kursus Menanam sembari makan pop mie (ga sehat betul) dan tahu goreng sumedang serta buah-buahan gratis yang kami dapatkan. Uti Aya juga membeli lagi buah Markisa di kios terdekat karena memang jarang dijual bebas.

Pukul 11.00 tepat acara dimulai dengan dipandu dua host laki-laki. Dimulai dengan edukasi tentang buah baru dilanjut kursus menanam. Jadwal hari itu Terarium.

—Edukasi tentang buah—
Terpampang 2 jus di meja show, jeruk dan jambu biji merah. Kali ini host akan menguji kandungan vit C buah mana yang paling tinggi. Dua buah tersebut merupakan buah dengan kadar vit C yang lebih tinggi dibanding buah-buah lain. Dan manakah yang tertinggi? Kebanyakan menjawab buah jeruk. Ada sebagian yang menjawab buah jambu merah.

Nah, setelah dibuktikan dengan cara mengambil sedikit sample dan dimasukkan ke dalam gelas masing-masing sekitar 3 cc kemudian dikentalkan dengan tepung kanji serta ditetes menggunakan Iodine hingga berubah warna maka hasilnya adalah jus jambu merah membutuhkan lebih banyak tetesan iodine agar bisa berubah warna dibanding jus jeruk. Maka, kesimpulannya buah jambu merah memiliki kadar vit C tertinggi. Tepuk tangaaan…. #ehhh

Ada reaksi apa yaa antara Iod (I2) dan vit C? Kenapa kadar tertinggi membutuhkan lebih banyak tetesan Iod? Ehm ehm… percobaan demikian namanya titrasi iodimetri, yaitu metode penambahan Iod kepada vitamin C atau komoditi yang diduga terdapat vitamin C. Vitamin C bersifat pereduksi (reduktor) sedangkan Iod bersifat pengoksidasi (oksidator) sehingga keduanya menghasilkan reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Jadi makin banyak vit C maka makin banyak pula iod yang dibutuhkan (jangan tanya persamaan kimia redoks nya gimana… wes lali… jaman es em a… 😂).

Sekarang berlanjut ke main theme… Terarium. Baru baru ini tren membawa cara bercocok tanam ala modern ini melesat dan banyak penggemar. Karena simple, unik, dan imut sepertinya.

Terarium adalah cara menanam tanaman hias di dalam wadah kaca yang tembus pandang alias bening (akuarium, gelas, mika, botol, bohlam, toples) dimana tanaman yang ditanam berukuran mini.

Manfaat terarium adalah sebagai penghias ruangan, sekedar hobi, sarana memahami alam dan sebagai kegiatan kreatif yang menantang.

Media tanam yang digunakan sebaiknya bersifat porous dan cukup subur, antara lain: arang sekam/kayu, kompos saring (wajib ada), moss, zeolit (batu kecil). Hiasannya dapat digunakan pasir pantai, batu warna-warni, kerikil, kerang, bahkan clay.

Jenis tanaman yang digunakan harus memiliki ciri sbb:
1. Mungil, tidak tumbuh menjulang tinggi, tidak berbatang kayu, berpelepah daun atau berbatang lunak, daun kecil dan bercorak indah
2. Pertumbuhan lambat, bentuk pertumbuhannya melingkar dan dapat merambat atau menjalar
3. Sangat tahan terhadap kelembaban tinggi atau keadaan yang sangat kering
4. Tanaman dapat tumbuh dan berkembang biak dalam ruangan
5. Memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap kondisi sinar matahari
Contoh: palem, suplir, tanaman sukulen, kaktus.

Cara membuat terarium:
1. Tentukan tema
2. Siapkan alat (hand spray, sekop kecil, corong, sendok), wadah, dan tanaman
3. Sediakan semua media tanam dan hiasan
4. Setelah siap, masukkan media tanam dalam wadah yang kering (yang harus banyak komposnya.. boleh ditutup dengan pasir warna selang seling yang disusun di dinding wadah agar tampak indah) kemudian gali media tanam dengan sekop kecil dan masukkan tanaman yang akarnya sudah dibersihkan.

5. Setelah tanaman masuk, beri hiasan sekehendak hati.

6. Siram tanaman dengan hand spray. Jangan terlalu banyak, cukup menyemprot ke dinding agar jatuh perlahan airnya ke bawah sehingga tidak terlalu basah.  Penyiraman ini dilakukan secara periodik saja, 3-4 hari sekali. 

7. Letakkan terarium di tempat yang cukup mendapat cahaya matahari. Jika diletakkan di dekat jendela terarium perlu diputar secara periodik untuk mencegah efek fototropik (tanaman tumbuh ke arah cahaya). Jika ruangan terlalu gelap dapat digunakan lampu sebagai cahaya buatan. Oleh sebab itu, sebaiknya setiap 2-3 minggu sekali terarium dikeluarkan agar mendapat cahaya matahari.
8. Bila ada hama (semut, kutu, kepik) cukup diberantas secara manual alias tanpa obat kimia pengendali hama.
9. Selamat mencobaa…

(CP diklat Taman Buah Mekarsari: Bpk. Edwin 081511823839)

Di sini, selain ilmu tentang terarium saya juga mendapat berbagai ilmu lain dari sesi tanya jawab, a.l:
1. Cara memberantas hama ulat: giling cabe dan bawang kemudian masukkan ke dalam wadah semprot air dan semprotkan ke arah sasaran.
2. Benarkah vetsin adalah penyubur tanaman? Secara teori tidak. Bila ingin subur siramkan ke tanaman air cucian daging atau cucian beras.
3. Bila tanaman yang kita tanam tak kita inginkan untuk tumbuh besar dan panjang macam bonsai maka yang harus kita lakukan adalah memberinya zat penahan tumbuh bernama peclobutrazol yang tersedia di toko khusus pertanian.
4. Bagaimana cara mengurus anggrek yang terkenal dengan tanaman rewel? Sebenarnya anggrek itu bisa tumbuh liar dan subur di pohon-pohon besar nan rindang. Maka, prinsip utama perawatan anggrek adalah simpan di tempat sejuk (di bawah pepohonan), memangkas bagian yang sudah habis berbunga, media tanam ditambahi sabut kelapa untuk menambah simpanan air.

PhotoGrid_1484183854324.jpg

♤♡♢♧en♧♢♡♤

Catatan Perjalanan #7 (a.k.a The Failed Trip)

Tanggal 1 Januari 2017 lalu sungguh pilihan yang tidak tepat untuk pergi pesiar. Dalam pikirku kebanyakan orang masih pada tidur selepas perayaan tahun baru (ala mereka, bukan kami) demi melihat kawasan Jakarta Timur sepi. Semestinya aku curiga ada pergerakan ke kawasan wisata Jakarta Utara, tapi dalam benakku long weekend pasti pada memilih ke Bandung atau Bogor. But that’s totally wrong!!

Niat awal hanya ke Tamini Square dekat rumah, ke toko buku, beli perlengkapan bayi, dan makan di luar. Tapi rencana berubah seketika. Entah kenapa tetiba ingin melihat pantai. Cek traffic ke arah Anyer via Waze macet sekali. Baiklah, ke Ancol saja lagipula belum pernah sama sekali ke sana. Mumpung sepi (pantauan di Waze jam 08.00).

Naik toll dari gerbang Kebon Nanas super lancar sampai ke percabangan ke arah Kemayoran, Ancol, Mangga Dua dan ke Tanjung Priok. Dekat pintu keluar mulailah kemacetan terjadi. Sempat melihat arah percabangan satunya (kuduga ini ke Muara Angke jam 10.00 an) banyak mobil Ambulance pacu kencang dan mobil pemadam kebakaran sekira 2-3 unit. Hmm.. pastilah ada kebakaran. Dan ternyata baru tahu sore di berita tentang kapal wisata Zahro Ekspress yang meledak dan terbakar.

Pintu masuk ke Ancol dialihkan cukup jauh ke pantai Carnaval karena jalur utama sudah macet parah. Jadi kami diarahkan melewati gerbang perumahan dan Villa. Naasnya kami tidak membawa banyak persiapan makan dan minum. Hanya air mineral 3 botol kecil, 3 tangkup roti tawar, 1 bungkus biskuit, dan 4 kotak susu UHT Aya.

Kami sampai di gerbang masuk sudah pukul 11.30 WIB. Setelah membayar 25.000 per orang dan 25.000 untuk parkir mobil kami menuju parkiran pusat. Mencari toilet di bagian belakang lahan parkir yang dekat dengan musholla dari tenda macam di pengungsian. Istirahat sejenak sambil menunggu Dhuhur sekalian sebelum bergerak ke lokasi wisata.

Di sisi timur nampak panggung besar, bekas perhelatan semalam pastinya. Sayang disayang sampah berceceran dan menumpuk di segala sisi. Bahkan nanti di pantainya. Sungguh Ancol hari itu penuh manusia dan sampah. What the…

Karena mobil diparkir terpusat maka untuk jalan-jalan disediakan beberapa armada bus big bird yang pastinya disewa pihak Ancol. Ada halte bus di samping Mall Ancol. Namun antrean tidak berjalan semestinya. Saling sikut, dorong dan mendahului terjadi. Antrean pagar besi macam labirin dibuat tapi nyatanya dicuekin, malah penumpang pada numpuk di tepi jalan. Siapa cepat dia dapat. Karena lelah wara-wiri mengejar bus aku pun kelaparan. Tidak ada penjual nasi sama sekali. Jadinya beli mie cup seduh (ga sehat bangeett) 10.000 rupiah dan air mineral 5.000 rupiah. Biarlah sedikit mengganjal perut. Setelah makan dapat bus meski harus berjejal-jejal. Ada ibu-ibu yang tahu aku hamil besar, meminta anaknya yang masih remaja untuk memberikan tempat duduk untukku namun si anak menolak. Padahal aku toh tidak meminta. Berdiri bersandar di kursi berjejal dengan yang lain. Benar-benar pencerminan toleransi yang sudah menyurut. Alhamdulillah tepat di kursi tempatku bersandar ada anak yang mendadak berdiri dan merangsek ke depan ingin sama neneknya. Alhasil dapat tempat duduk melipir. Itupun harus bagi dua dengan Aya. Yaa setidaknya bisa menaruh pantat.

Sampai di pantai aku hanya bisa terkaget-kaget. Bibir pantai tak terlihat lagi. Penuh oleh manusia. Pasirnya pun demikian. Bersatu padu dengan tebaran sampah. Apa-apaan ini? Kami berjalan menyusuri pantai yang serupa pasar itu tanpa kepuasan sama sekali. Sampah pun ikut masuk ke pantai terhanyut air. Masya Allah. Rindu pantai di Aceh dan Singkawang lah. Serasa pantai milik sendiri. Tak ingin berlama-lama, kami segera hengkang ke halte lagi. Di halte depan pantai, seorang petugas mengarahkan kami naik mobil khusus orang sakit, lansia, bayi, dan ibu hamil. Alhamdulillah tidak lagi berjejal di bus. Segera kami naik mobil dan beranjak keluar. Seharusnya ke arah jalan pulang dekat dan sepi. Namun karena mind setnya ke Muara Angke sepi juga maka kami menuju kesana. Lhaa ternyata salah jalan. Malah terjebak ke arah masuk Ancol lagi. Dua jam mobil bergerak lambat-lambat dengan perut kelaparan dan menahan BAK. Masya Allah. Bergantian sholat di kendaraan deh akhirnya. Kami benar-benar terjebak. T.T.

Jam 16.30 WIB baru sedikit bebas dan jam 17.00 baru naik toll arah pulang. Cepat saja karena jalanan sepi, sangat kontras dengan toll arah berlawanan yang penuh padat berhenti total hingga kira-kira 10 km. Jam 17.30 kami sudah sampai jalan menuju rumah tapi kami berbelok dulu cari makan sore. Kelaparan kronis dari tadi siang. Gagal makan di Muara Angke jadinya cari seafood tenda. Pesan kepiting, ikan, udang serta ca kangkung beserta minum total 160.000 rupiah. Lumayan lah. Kenyang. 

Pulang lewat adzan Maghrib. Setelah mandi dan sholat merebahkan badan. Sungguh perjalanan liburan yang gagal. Kata suami sih… wisata macet. Hehe… PhotoGrid_1483627754282.jpg

Refleksi Tahun Baru 2017

Terompet, kembang api, nyanyian, acara tidak tidur menyambut pergantian tahun rasanya tak pernah sama sekali dalam hidup kulakukan. Ssttt… Tak perlu menunggu malam pergantian tahun, suami pulang saja sering tengah malam, akupun terbangun.

Jelaslah segala bentuk perayaan itu adahal hal yang mubazir dan tiada faedah. Murni hura-hura. Tiup terompet, menembakkan kembang api ke udara malah menimbulkan suara-suara berisik mengganggu tetangga. Iya kalau tetangganya maklum bin berkenan, kalau tidak? Apa tidak menjadi dosa kita? Bahkan ada “lelucon” yang cukup viral bertulis ‘Kalau Malaikat Isrofil ikut meniup terompet kelar hidup loe’. Hemm…

Bagiku momen tahun baru jelas bahagia karena sudah pasti tanggal merah, karena di hari Minggu maka Senin cuti bersama, berarti suami libur ngantor lebih lama. Itu saja. Lumayan lah weekend bisa bersama sehari lebih lama.

Bagiku pula momen itu menjadi perenungan semata. Bila saja dunia ini sudah bertambah usia dan Ia makin uzur. Bila apa yang Nabi Muhammad sabdakan itu benar (kalender Islam tidak sampai 1500 H) adanya maka 62 tahun ke depan paling lambat dunia akan berakhir.
Lantas, apa yang sudah kupersiapkan? Aku masih saja mencintai dunia.
Apa pula yang sudah kulakukan? Aku masih bermalas-malasan dalam hal ibadah dan banyak bersenda gurau saja.
Akankah ridho Allah ada untukku? Apakah suamiku ridho atasku? Semoga ada walau besarnya secuil batu.

Hidup di dunia yang makin kacau balau ini yang kupikirkan adalah anak-anakku. Mereka… akan menghadapi tantantan yang lebih besar dan besar lagi. Utamanya tantangan mempertahankan iman dan Islam. Akankah aku sanggup mendampingi mereka agar kuat imannya? Bahkan lebih kuat dari iman kami orangtuanya? Yaa Illahi Rabbi, sungguh kupasrahkan mereka pada penjagaanMu. Karena kami tak akan bisa menjaga sebaik penjagaan Mu.

Cerita Kontrol Hamil

—31 Desember 2016—

Kontrol rutin minggu ke 28, masih di RS terdekat dan berganti DSOG lagi.
Sebetulnya ini DSOG pertama kali yang kutemui di kontrol pertamaku. Kesan pertama beliau terburu-buru karena akan terbang ke Solo menghadiri seminar. Tapi sikapnya yang tenang dan kebapakan membuat suamiku suka. Namun tidak denganku, saat itu aku tidak sreg.
Bulan berikutnya beliau cuti TKHI jadi aku pindah ke DSOG (K), seorang wanita, dan karena konsultan jadi lebih mahal tarifnya. Baiklah tidak mengulangi. Kemudian mencari informasi DSOG yang banyak pasiennya (khusus yang praktek Sabtu) karena konon kabarnya makin banyak pasien makin bagus. Mencoba berpikir secara awam. Dua kali sengaja mendaftar untuk bertemu beliau. Sabar sih tapi ya itu banyak pasiennya, lama antrinya dan sering berujung di meja operasi.
Suatu ketika ngobrol dengan adik letting yang ditangani DSOG pertama tadi. Katanya beliau bisa mendampingi dengan baik. Dia yang miopi tinggi diminta oleh DSOG lain untuk SC namun tidak dengan yang satu ini. Alhamdulillah anaknya lahir normal dan ia pun tidak bermasalah.
Akhirnya aku mencoba bertemu beliau lagi. Tak disangka pertemuan singkat pertama dulu masih beliau ingat. Bahkan hanya beliau yang aware status “dr” ku. Padahal aku tidak meminta diperlakukan beda ataupun sengaja menyebut status. Semua tertulis di data rekam medisku yang pastinya kalau tidak teliti membaca tidak akan tahu karena informasi pekerjaan aku menuliskan IRT. Aku hanya ingin menjadi pasien biasa, itu saja. Namun nyatanya status itu sangat berarti. Sebelum sebelumnya nyata benar aku diperlakukan secara awam baik oleh bidan pun DSOG. Penjelasannya asal saja sekalipun aku bertanya agak spesifik. Namun tidak dengan DSOG tadi pagi. Beliau menganggapku sebagai juniornya, memanggil nama tanpa “bu” bahkan me recall pelajaran masa lalu, bahkan mereduksi jasa dokter.
Juga… dari kesekian yang kutemui hanya beliau yang bisa menjelaskan dengan memuaskan apa yang terjadi denganku (mungkin karena tahu statusku ya). Aku tidak alergi benang. Bahkan tidak ada istilah alergi benang menurutnya. Dari analisa ketiga operasiku sebelumnya yang selalu bermasalah pada jahitan maka kemungkinan besar kadar glukosa darah ku bermasalah atau higien saat operasi buruk atau vaskularisasi penyembuhan luka buruk. Maka ke depannya beliau akan berusaha menekan kemungkinan-kemungkinan itu. Biidznillah. Ini juga yang kusuka. Beliau menempatkan kuasa Illahi di atas segalanya.
Beliau juga mendukung konsumsi susu kambing karena kemungkinan besar aku atau bayiku alergi laktogen dari riwayat yang ada. Aya pun dulu juga pakai sufor dengan protein terhidrolisis selama aku masih perawatan komplikasi jahitan, sesudahnya baru ASI full sampai 2 tahun namun susu yang kuminum juga bukan susu sapi. Susu kedelai waktu itu, MamaS##a. Aya baru minum susu sapi setelah sapih 2 tahun. Alhamdulillah tidak bermasalah bila tidak lebih dari 500 cc sehari. Bila lebih sudah dipastikan BAB encer.
Beberapa sempat menyarankanku ke RSIA di Jatinegara. Memang sih kredibilitas dan pelayanan pasti bagus. Namun karena jalur macet dan 200 meter dari rumah sudah ada RS besar biarlah kesana saja. Apalagi DSOG terakhir yang menanganiku ini cukup menghargai juniornya. Kenapa kubilang menghargai? Karena pernah beberapa kali dengar cerita DS di kota ini kurang “open” sama DU. Alhamdulullah bertemu yang baik. Semoga baik selalu baik dan berkah ke depannya.

#Counting down 11 weeks…. #

Catatan Perjalanan #6

Opa, Uti, dan tante Aya datang. Rencana berlibur selama 1 minggu di Jakarta mumpung liburan sekolah. Bermula dengan penjemputan bersama sopir sewa di bandara Halim tanggal 21 Desember 2016 yang delay tidak menyurutkan semangat jalan-jalan tahap pertama. Dari bandara langsung meluncur ke arah Jakarta Utara. Awalnya mau ke pasar pagi Mangga Dua sebelah ITC untuk beli keperluan musim dingin Opa dan Uti Aya, tapi sopir terlewat keluar toll. Jadilah kami ke arah Muara Angke. Makan siang ikan bakar dulu. Kupikir pak sopir tahu. Ternyata belum pernah kesana. Jadilah berpedoman pada GPS, muter-muter dan turun tanya berkali-kali. Sampai di lokasi jam setengah 12 kondisi Aya sudah tertidur. Pesan ikan kuwe yang menjadi icon, kepiting, serta udang. Tak lupa kelapa muda khas hidangan tepi pantai. Ikan kuwe tak ubahnya seperti rasa bawal dimasak bumbu khas Sulawesi. Menurutku jauh lebih enak dan murah ikan bakar di Kuala Singkawang Kalimantan Barat. Gagal move on deh. Untuk kepiting saus padang enak sekali. Dari sekian hidangan yang membuat lidah berdecak hanya kepitingnya. Udang tepung juga biasa saja. Aku mengklaim enak masakanku kalau ini. Total belanja makanan 360.000 sudah bisa dimakan 6 orang. Not bad.
Lepas makan dan sholat Dhuhur di musholla depan warung makan mampir dulu melihat tempat pelelangan ikan dan bibir dermaga. Euhh.. kotor kali pun. Banyak sampah di tepian. Karena panas kami bergegas.
Tujuan kedua Pasar Pagi Mangga Dua tepatnya ke toko Djohan. Sopir membawa kami keliling kota tua. Macet dan ramai. Lewat pula gedung galangan VOC. Jelas-jelas masih tertulis demikian. Kolonial oh kolonial. Ternyata dibawanya kami ke pasar betulan. Putar lagi ke arah yang benar. Rupanya pak sopir ini seringkali sok hafal jalan. Maklum lah sudah tua. Overall ia baik dan ramah. Coba kalau enggak. Sudah kena penalti.

Benarlah Djohan ini spesialis baju musim dingin dan kategorinya lengkap. Harganya juga relatif murah meski dengn berat hati kukatakan semua barang impor China. Hmm.. apa mau dikata. Jaket yang dibeli 400rb dan 550rb. Bagus juga bahannya. Tak lupa sarung tangan unyu-unyu yang senada dengan jaket harga 75rb, penutup telinga harga 50rb, syal plus tutup kepala seharga 100rb (kalau tak salah ingat) dan baju dalaman kaos serta celana hangat 120ribu.
Setelah itu keliling sebentar mencari baju kuda Pony untuk Aya dan kalung plus gelang untuk tante Nita.
Keluar gedung menemukan kedai pancake durian dan membeli 5 buah. Eh, rupanya enak. Kalau tidak hamil bisa habis banyak nih aku. Tiga untuk kami dan dua untuk pak sopir. Ia tak lantas memakan, untuk anak-anak di rumah katanya. Wow.
Sampai rumah tepat adzan Maghrib. Tidak payah masak karena Uti Aya membawakan belut goreng dan sambal belut Pak Sabar Bantul yang super sedap juga masih ada sisa udang tepung tadi siang. Alhamdulillah.
Hari kedua dan ketiga, Kamis-Jumat, istirahat di rumah untuk perjalanan nonstop long weekend ke depan.

Sabtu Subuh kami siap dan berangkat ke Cileungsi. Tepatnya ke arah Mekarsari. Sampai sana masih jam 06.00. Istirahat di SPBU sembari ke toilet, memandikan dan menyuapi Aya.
Jam 08.00 rupanya gerbang sudah dibuka. Kami pun masuk dan menunggu loket masuk buka setengah jam kemudian.

Area Taman Buah Mekarsari sangat luas. 264 hektare. Masih kepunyaan keluarga Cendana. HTM 30.000 dan tiket keliling dengan bus wisata 15.000 pulang pergi dapat bonus 1 macam buah. Kami bisa membawa markisa, jeruk, sawo. Buah yang lain harus membeli.
Pemberhentian terakhir di danau. Rupanya jam 11.00 ada kursus menanam. Baiklah, sembari menunggu Aya main di wahana anak-anak dan bersama kakek serta ayahnya naik kapal kayuh di tepian danau. Lepas itu makan pop mie dan menonton show cara membuat Terarium selama 1 jam (nanti ditulis terpisah yaa…). Dapat hadiah 2 kaktus karena bertanya.
Adzan sudah berkumandang. Kami mencari shelter bus di ujung danau bertenda biru untuk kembali ke pintu utama. Tak lantas pulang, kami mampir musholla dan makan bekal. Lebih hemat.
Selesai sholat dan makan kami bergerak pulang. Macet.
Sampai di Jakarta hampir jam 15.00. Mampir dulu ke TMII (milik keluarga Cendana juga) keliling naik kereta gantung tarif 50rb per kepala.

Selesai keliling naik kereta gantung kami pulang lewat pintu keluar 2 setelah keliling lagi naik mobil. Sampai rumah masih sempat sholat Ashar lanjut istirahat untuk perjalanan esok lagi.
Minggu pagi, jalan-jalan di pasar minggu ceria kawasan MakoopsAU. Niatnya hanya jalan-jalan, tapi nyatanya borong banyak barang. Sepulang dari sana bersiap silaturahmi ke rumah Eyang di pondok gede. Sampai sana pas Dhuhur. Akhirnya bergantian sholat dan makan siang ke D’cost Plaza Pondok Gede. Tak terasa sampai Ashar kami makan dan ngobrol. Sampai rumah hampir jam 16.00.
Keesokan pagi jadwalnya ke Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Taman Anggrek Indonesia Permai (keluarga Cendana lagi) dan ke saudara di Pulo Gadung. Pulangnya keliling Monas (yang ternyata tutup di hari Senin), patung kuda, bundaran HI, tugu tani. Sampai rumah tepat adzan Maghrib.
Selasa, istirahat di rumah saja. Aya batuk pilek. Mungkin ia kelelahan.
Rabu, hanya aku dan tante Aya yang jalan-jalan ke Tamini Square naik angkot berangkat jam 10.00 dan pulang jam 14.00. Demi makan di Hanamasa.
Kamis, jelas di rumah saja, karena sorenya mereka harus kembali ke Jogja.

Terimakasih atas kunjungannya… 🙂

photogrid_1483699857453

photogrid_1483697077216

Catatan Perjalanan #5

Subuh sudah berlalu di hari awal long weekend (libur hari Sabtu sampai Senin karena Senin tanggal merah peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW) dan kami pun bergerak menuju Bogor. Diawali dengan hampir salah masuk toll Alhamdulillah perjalanan relatif masih lancar. Sedikit macet saat akan memasuki gerbang toll terutama toll Ciawi nantinya.

Di sepanjang jalan hal unik kulihat. Banyak pedagang asongan menjajakan dagangannya. Hey, keren ya di toll ada pedagang? Only in Indonesia kalau seperti ini mah. Bagaimana tidak menjadi lahan empuk berjualan kalau di toll Jakarta-Bogor ini hampir selalu macet parah oleh kendaraan. Suami pun membeli kopi hitam lima ribu rupiah seplastik kecil. Hmm…
Di rest area lepas gerbang toll Ciawi, sudah menuju arah Puncak, kami berhenti. Kami pun makan bekal, melap Aya sekedarnya karena kamar mandi antri parah, tak lupa buang hajat. Selesai semua, mobil bergerak kembali. Saat akan keluar lokasi ada seorang pemuda kampung menawarkan jasa antar melalui jalan alternatif menuju puncak dengan tarif 100.000, bila sampai lokasi 250.000. Baiklah, kami terima opsi 1. Tampak dari arah kami berjalan, ruas toll penuh sesak dengan mobil. Perkiraan 4-5 jam baru bisa sampai puncak karena ada sistem buka-tutup jalan. Ah, biarlah 100.000 melayang asal bisa sampai lebih cepat. Perjalanan tak semulus bila lewat toll tentunya. Jalan yang kami lalui sempit, berlubang, berkelok, dan parahnya banyak pak ogah minta ceperan di hampir tiap kelokan. Kadang kami beri kadang pun tidak. Bila ada yang sok preman memaksa, terpaksa KTA suami keluar juga. Bukan kami tak mau memberi. Tapi ini di luar prediksi. Uang receh tak banyak kami bawa dan uang di kantong hanya 1,5 juta saja. Benar-benar perjalanan agak memaksa di tanggal “tua”.

Tujuan kami adalah taman safari cisarua. Awalnya mau lanjut ke puncak dan menginap disana. Tapi melihat jalanan yang tidak enak dilihat begitu mending selesai dari taman safari lanjut istirahat di Bogor kota.

Harga Tiket Masuk (HTM) sebesar 140.000 untuk anak dan 150.000 untuk dewasa plus retribusi parkir 15.000. Jadi total pembayaran di loket 455.000. Cringg.. uang kembali berkurang tinggal berbilang sembilan ratusan. Namun kami puas bisa melihat sosok hewan cakep-cakep di sini. Besar, bersih, terawat, elok rupawan. Favoritku si jerapah dan unta. Seperti boneka saja mereka.

Selepas melihat koleksi satwa kami parkir di taman bermain. Di sana ada hewan tunggang (gajah, unta, kuda) membayar tambahan 25.000 per 2 orang 1 kendaraan, kereta gantung membayar tambahan 50.000 per orang, dsb. Tiket terusan berlaku untuk permainan ala pasar malam (tapi yakin lebih bagus) dan Baby Zoo. Pertama, kami menuju Baby Zoo. Melihat kanguru, puma, harimau India, ular, burung hantu, aneka unggas dan monyet. Penataannya yang apik dan rapih membuat pengunjung tidak bosan berkeliling. Setelah dari baby zoo kami naik kereta gantung, melihat dari atas luas wahana yang ada di taman rekreasi taman safari. Namun sayang karena kelelahan setelah turun dari kereta gantung dan anak bermain Carrousell, kapal bulat, helikopter, kuda goyang dengan keunikan petugas mengenakan seragam sesuai tema, kami sudahi perjalanan dan membeli boneka satwa di kios seven wonder dengan potongan voucher lantas bergerak pulang. Padahal masih banyak sekali tempat menarik yang belum kami kunjungi, termasuk rumah pinguin dan atraksi aneka satwa. Sempat melihat sebentar atraksi gajah. Keseluruhan atraksi tidak berbayar.

Keluar menuju jalan poros arah Bogor mulai macet. Karena menghemat pengeluaran setelah kaget dengan harga boneka satwa yang kami beli 3 pcs kecil hampir 300 ribu serta jagung rebus, siomay serta cilok nyaris 50 ribu porsi kecil, kami tidak memilih makan di sepanjang jalan ini yang rata-rata rumah makan dan restoran bertarif mahal. Kurasa bekal sisa nasi goreng, kelengkeng, salak, dan apa yang sudah kami beli tadi masih cukup mengganjal perut hingga Bogor.

Sampai di Bogor disambut hujan deras dan (masih) macet. Bersyukur melihat warung tenda sudah berdiri di pukul 15.00. Membeli 3 porsi ayam goreng plus nasi 48.000 saja. Alhamdulillah. Sembari menunggu pesanan jadi browsing dulu penginapan murah.

Ah, lewat 300.000 semua. Akhirnya mencoba terus jalan sambil meraba. Sebelah Yogya Junction rupanya ada wisma syar’i. Mencoba bertanya di tengah gerimis. Alhamdulillah ada kamar double bed 213.000 saja semalam meski tanpa AC. Sampai di kamar lantas sholat, mandi dan makan sekalian untuk malam. Lepas Maghrib ayah dan anak pergi keluar beli martabak San Fransisco dekat penginapan dan air minum. Cukup 50.000 saja. Kudapan sebelum tidur martabak deh. Anak kesenangan lihat TV kabel hingga larut malam. Kartun paw patrol, bebek, dkk menjadi favoritnya.

Pagi hari, belum ada pukul tujuh nasi kuning 2 porsi dan teh manis tersedia di teras kamar. Ini mengingatkanku dengan wisma lilawangsa di Lhokseumawe.

Tepat pukul 09.00 selepas suami lari pagi kami check out. Mampir belanja sebentar di Yogya Junction membeli pisang dan yoghurt serta beberapa jajanan untuk di perjalanan (tentunya keuangan sudah membaik karena berujung ambil tabungan.. wkwk).

Setelah itu tak lupa mencari soto mie bogor. Kami tidak lantas menuju Jakarta, namun keluar di Sentul menuju PMPP. Hendak berfoto disana, di tempat suami dulu pernah pratugas. Alhamdulillah cuaca mendukung. Saat kami mampir sholat barulah hujan turun cukup deras.
Lanjut perjalanan ke Jakarta. Lalu lintas lancar. Mampir di kompleks Halim dekat rumah guna makan nasi padang. Sudah sore pula waktu itu. Lagi-lagi sekalian makan malam. Sampai rumah hampir Maghrib. Disambut air mati (lagi-lagi). Baiklah tak ada kata mandi.

PhotoGrid_1483696948203.jpg