Catatan Perjalanan #4

Hujan libur mengguyur ibukota semalaman. Hanya petir dan guntur serta gerimis yang meramaikan langit siang hingga sore. Padahal hujan kemarin-kemarinnya sampai menimbulkan banjir di beberapa wilayah. Cuaca yang ekstrem begini membuat badan juga tak nyaman kurasa.

Bila tak ada hutang mengembalikan barang ke salah satu rekan di Bandung, mungkin weekend ini lebih baik bersantai saja di rumah. Tidak pula akan memaksa pergi bila tamu-tamu adik ipar tak menginap di rumah. Tentu ada rasa tak nyaman. Rumah kami sempit sekali. Bila menampung beberapa jiwa lagi rasanya penat pasti. Baiklah, tiada alasan untuk tak pergi. Bismillah.

Pukul 03.00 WIB aku terbangun dan bersiap diri. Setelah semua persiapan mantap kubangunkan suami dan sempurna kami beranjak dari Jakarta ke Bandung untuk kedua kalinya dengan kendaraan pribadi pukul 04.00 WIB. Belum masuk Subuh.

Memasuki toll, menepikan mobil di rest area pukul 05.00 WIB untuk sholat Subuh dan membeli sarapan pagi. Pukul 05.30 WIB barulah beranjak lagi. Sampai Bandung, di kost teman yang tempo lalu kami singgahi, pukul 07.20 WIB.

Alhamdulillah cuaca cerah, setelah memandikan Aya dan rehat sejenak, kami bergerak ke Lembang sebelumnya mampir ke Cimahi sebentar. Tujuan kami Taman Begonia, Farmhouse, dan Dusun Bambu via Punclut agar tidak macet. Mampir sebentar untuk makan. Mencari petunjuk Rumah Makan Ikan Bakar Ma’Pinah yang tidak ketemu-ketemu meski penunjuk arah menyatakan 500 meter lagi. Lantas mencari tempat makan lain yang representatif. Enak untuk makan, sholat, dan ke toilet tentunya. Memesan menu sop buntut untuk Aya, mie goreng untuk Bapak Aya, dan Ikan-ikan untuk yang lain. Tak lupa tahu sumedang 2 porsi @15.000. Lepas makan dan sholat Dhuhur kami lanjut ke taman begonia.

Masuk taman Begonia, tiket 10.000 Rupiah per orang, mobil 10.000. Di gambar yang ku cari via Google, taman ini tampak indah. Bunga begonia nan merah merekah, dengan background pegunungan yang sejuk dan rumah kayu. Tertarik hati untuk turut menikmati kesana. Namun apa yang terjadi? Rumpun begonia masih pendek, pengunjung berjubel berebut foto selfie. Sempurna aku hanya melihat kerumunan pengunjung. Bunga-bunga hanya seperti taman tak bermakna. Spot foto buatan dibuat oleh pengelola. Macam pigura bunga besar, kursi-kursi taman, patung-patung, taman buatan dari barang bekas dan lain-lain. Tak butuh waktu lama untuk melihat-lihat. Kami pun keluar dengan tawa. Tawa tak puas. Lah, cuma gitu. Hmm.. mungkin bila musim semi seperti di gambar yang kami lihat di Google akan indah lagi. Mungkin bila nanti.

Tujuan selanjutnya, Farmhouse!

Macet sudah menyambut sepanjang jalan poros. Terlebih saat akan masuk pintu Farmhouse yang diklaim unik karena berornamen Eropa serta kekhasan rumah Hobbit. Dan… Sudah bisa ditebak, parkir Farmhouse penuh. Lantas kami parkir di parkiran luar. Berjalan sedikit guna masuk ke dalam area. Ah, otot-ototku sudah mulai kram. Rasanya sudah tidak kuat berjalan. Setelah beli tiket 20.000 per orang dan mengambil free fresh milk kami duduk. Segar juga minum susu. Tapi aku lupa bahwa aku sudah mulai intoleran susu sapi setelah masuk trimester 2. Kupikir aku hanya “bosan”. Ternyata nantinya reaksi alergi itu akan muncul.

Memasuki pekarangan Farmhouse sudah disambut dengan barisan akar pohon-pohon besar usia puluhan tahun yang menjadi pagar. Halaman parkir pun masih rindang oleh pohon-pohon besar. Wondering what kind of place this is it long time a go? Maybe a great forest.

Pertama yang kami lihat jembatan dengan pagar digantungi gembok macam di Paris. Dengan membayar harga gembok silakan anda menulis nama beserta pasangan dan menggemboknya biar nggak lepas (dalam arti sesungguhnya). But i didn’t do that, of course. Sayangnya Aya tidur dalam perjalanan ini. Terpaksa Ia digendong bapaknya. Lahan Farmhouse juga tidak begitu luas jika dibandingkan dengan floating market atau de Ranch. Maka, penumpukan pengunjung akan nampak sekali. Dimana-mana manusia. Apa lah ini yang mau dinikmati yak. Bahkan di sepanjang jalan masuk ada artis (bukan artis tv) yang berdandan ala ala noni bahkan hal-hal seram. Syukurlah Aya tidur jadi tidak perlu ketakutan melihat tampang aneh mereka. Makin ke dalam, memang betul ada beberapa bangunan toko atau cafe khas Eropa. Bahkan ada persewaan baju macam Noni Belanda yang dibandrol seharga 75.000 per baju bisa dibawa berkeliling. Tempat favorit berfoto dengan kostum begitu adalah di lantai 2 sebuah cafe. Antrinya sampai sepanjang tangga. Lantas, ada pula studio fotonya di bawah, di bangunan yang berbeda. Bahkan ada hal lucu. Dengan memakai kostum ala Eropa begitu melipir di pinggir jalan sesak untuk mengisi perut. Dan…. yang dimakan adalah jagung juga ketela rebus (cilembu). Ada yang berkomentar, “Klambine londo tapi mangane kok telo,” artinya bajunya Belanda tapi makannya kok ketela. Syukur saja si empunya tidak tahu maknanya. Yang mendengar dan tahu saja yang menahan tawa. Demikian, seperti diceritakan rekan pendengar kepadaku.

Akhirnya kami memilih naik ke pelataran resto lantai 2. Melihat view rumah hobbit di bawah yang penuh sesak dengan massa bergiliran foto di rumah mungil beratap gundukan tanah yang tumbuh rerumputan. Unik sih, layak diabadikan. Namun dengan pengunjung berjubel seperti itu kok ya jadi tiada kesan ya… hehe… walhasil kami memutuskan hengkang dan menuju dusun bambu mumpung masih pukul 15.00 WIB.

Tak dinyana, jalan yang sudah macet, mau belok ke jalan arah dusun bambu ditutup karena ada longsor. Ya sudahlah. Balik arah lagi menuju jalan pulang via punclut-dago. Sampai di puncaknya kami istirahat dulu di warung makan. Sekedar melihat panorama perbukitan dan memesan mie instan hangat dengan hidangan pendamping otak-otak ikan Tenggiri harga 5.000 rupiah per bungkus kecil yang dicocol sambal kacang. Tak lupa pesan bandrek, kopi hitam, dan jus alpukat.

Pukul 17.00 WIB melanjutkan perjalanan pulang. Meski cuaca cerah di atas ternyata Bandung kota hujan deras sejak siang. Alhamdulillah, saat wisata tidak diguyur hujan. Sampai kost teman jam 18.15 WIB. Skip mandi sore, langsung sholat dan tepar. Rasa enggan makan lagi. Penuh sekali perut. Tiba-tiba hasrat buang hajat tak terelakkan. Ternyata BAB cair 2x. Inilah reaksi susu sapi tadi. Makan nasi hanya dua suap disambung martabak asin 1 potong dan martabak manis juga 1 potong. Tertidur pulas setelah dipijit suami. Bangun pagi, perut masih sakit. Eh.. BAB cair lagi. Hmm…

Pukul 07.30 WIB bersiap ke pasar kaget Minggu yang banyak dijumpai di Bandung. Kami memilih sekitaran taman lansia karena mencari soto untuk sarapan. Ternyata belum ada yang buka. Mencari di sepanjang jalan pasar kaget juga nihil. Walhasil makan Zuppa soup biar hangat perut dengan siomay kuah. Aya ribut naik kuda yang banyak dijumpai sepanjang jalan. Sementara aku dan rekan mencari toilet. Pukul 10.00 WIB berkumpul di mobil dan bergerak mencari brunch (breakfast and lunch), soto yang tertunda. Makan soto kudus dan sebelumnya segelas jus alpukat, perut kenyang sekali. Sampai di kost langsung beberes untuk pulang ke Jakarta. Tepat adzan Dhuhur kami meninggalkan Bandung, mengantri di Toll Pasteur diiringi rintik hujan. Mampir di Rest Area dekat pintu masuk untuk sholat dan beli camilan. Perjalanan lancar sampai akhirnya macet di ruas toll yang sedang diperbaiki. Pemandangan ganjil beberapa kali kulihat di pinggir jalan. Bus-bus menaikkan dan menurunkan penumpang!! Lah kok bisa? Ternyata warga membobol pagar menuju toll, jadi bisa naik-turun bus di toll. Keren yak Indonesia. Beberapa kali juga melihat bus pecah ban dan penumpang keleleran di pinggir jalan. Akhirnya pukul 15.00 WIB masuk Jak Tim via Halim disambut hujan deras. Bea toll 53.000, beda 1.000 rupiah kalau lewat pintu M. Toha.

Sampai rumah hampir pukul 16.00 WIB. Menampung air hujan karena pompa mati. Melihat rumah berserakan juga buat tambah capek. Makan pesan via go food saja lah. Tak jua bisa masak karena tiada air. Sekalian buat esok paginya.

Demikian perjalanan ke empat ini. Menyisakan pusing dan sakit pinggang yang lama hilangnya. Pun hingga saat tulisan ini diketikkan. Hari ini malah tambah nyeri perut kanan bawah. Kode keras untuk banyak istirahat lagi. PhotoGrid_1479905658182.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: