Pelajaran dari Nenek Pengasuh Cucu

Aktivitas mengantar dan menunggui anak sekolah menjadi rutinitas di tiga hari dalam semingguku, selepas mabuk berlalu tentu. Para pengantar menunggu di bangku depan toko snack yang letaknya berseberangan dengan sekolah. Karena kebijakan pihak sekolah sebenarnya anak-anak tidak boleh ditunggui guna melatih kemandirian. Baiklah, kadang-kadang pun lepas mengantar kami pulang kadang juga kami berkumpul. Biasalah ibu-ibu. Selalu ada topik yang bisa dibicarakan. Topik ringan, bahkan kadang hanya sekedar bertanya masak apa hari ini untuk menjadi inspirasi.

Beberapa diantara penunggu murid adalah nenek si murid karena ibunya harus bekerja. Kebetulan pagi itu aku duduk bersama salah satu dari mereka. Sekilas kulihat beliau berwajah paling teduh dan sabar dibanding yang lain. Beliau adalah seorang nenek dari empat cucu yang salah satunya seumuran Aya dan dalam pengasuhannya. Sebagai nenek beliau tentunya senang bisa tinggal bersama dengan anaknya, dekat dengan cucu, mengasuhnya full mulai dari masak, menyuapi, memandikan, lantas menungguinya sekolah. Beliau ikhlas melakukan itu semua. Namun tiba-tiba saja beliau berujar, “Kadang capek itu ada. Ingin bisa istirahat. Berharap hari Sabtu dan Minggu bisa sedikit bersantai. Tapi nyatanya anak-anak saya malah menitipkan cucu-cucu ke saya dengan dalih lelah bekerja lima hari sebelumnya. Bila saya terlampau lelah si cucu saya kompori saja mandi sama makan sama mama sana… Eeh malah si cucu kembali ke saya katanya sama nenek saja. Ah, saya hanya bisa mengelus dada, mbak. Saya juga berdoa semoga saya selalu diberikan kesehatan. Itu saja. Saya pun tak pernah mengeluh pada anak-anak. Toh juga bekerja juga untuk masa depan mereka. Semua Alhamdulillah pegawai negeri. Terjamin hidupnya sampai tua.” Pungkasnya seraya tersenyum. Ada rasa bangga yang menutup lelahnya. Curahan hatinya tadi bagai angin lalu saja, kurasa.

images-7

Namun aku belajar banyak hal dari curhatan singkat si nenek.

Pertama, mengasuh serta mendidik anak adalah semata-mata tugas, tanggung jawab, dan kewajiban orangtua karena itu adalah amanah dari Allah sesuai  dengan:

-QS Al Anfaal 27-28: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

-QS At Tahrim ayat 6: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

-Hadits Nabi yang menyatakan: Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan kelak akan ditanya tentang kepemimpinannya dan seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suami dan anaknya, maka ia akan ditanya tentang mereka (HR Bukhari-Muslim).

Namun begitu Islam juga tidak melarang suami-istri bekerja. Meski hakikat seorang istri adalah di rumah, tapi pada beberapa individu memang ada hal urgent sehingga harus bekerja. Lantas bagaimana kewajiban mengasuh anak? Tetap pada orangtua, bukan pada kakek-neneknya atau pengasuh yang lain. Mereka sifatnya hanya membantu saja. Maka, seyogyanya seorang istri bekerja tidak penuh waktu sehingga ada waktu untuk mengurus anak dan keluarga. Dan bila terpaksa penuh waktu dan menitipkan kepada kakek-nenek si anak, apa yang harus diperhatikan?

Ini adalah pelajaran kedua, bahwa meski dalam lisan orangtua kita menyambut hangat dan tampak senang bisa dekat dengan cucunya, kita harus perhatikan satu hal penting. Mereka sudah tua. Mengasuh anak full time itu melelahkan sangat. Orangtua saja merasa lelah apalagi nenek-kakeknya yang lebih tua dan sudah purna mengasuh kita. Setidaknya kita tahu diri. Misal, menyediakan pembantu yang bisa membantu dan si nenek hanya fokus mengawasi cucu bukan ikut masak, memandikan, dan sebagainya. Atau bila beliau bersikukuh tidak apa-apa tetap tahu dirilah, beri waktu rehat untuk mereka walau tidak ada keluhan sekalipun. Jangan sampai seperti nenek dalam cerita ini, memendam rasa. Bila ada komitmen Sabtu-Minggu si nenek free misalnya, ya patuhilah, sebagai konsekuensi.

Pelajaran ketiga, aku tahu persis bagaimana rasanya dalam pengasuhan orang lain selama orangtuaku bekerja dulu. Ada terbersit rasa iri ketika melihat yang lain bersama orangtua mereka sedang aku tidak. Pastikan, itu tidak terjadi pada anak kita. Beri pengertian dan kuatkan hati. Apalagi usia 3-5 tahun emosi sedang berkembang dan anak menjadi sangat sensitif. Itu wajar saja, hanya perlu pendampingan serta pengertian. Kedekatannya dengan sang ibu tentu akan sangat membantu. Intinya tetap dekat di hati meski jauh.

Pelajaran keempat, pola asuh kita dengan nenek-kakek apalagi pengasuh lain tentu berbeda. Untuk menyamakan persepsi agar anak tidak bingung, banyak-banyaklah diskusi tentang perkembangan dan beri umpan balik. Tentu dengan bahasa yang santun dan tidak menyakiti. Jangan pasrah 100 persen karena itu tandanya tidak peduli atau malah terlalu mencampuri itu namanya tidak percaya.

Pelajaran kelima, persepsi orangtua kebanyakan ternyata masih “materialis”. Asal kebutuhan tercukupi bahkan si nenek bersedia meredam lelah demi masa depan anak-anaknya. Dan tak lupa uang sakunya terjamin (konon si nenek selalu dapat jatah bulanan dari anak-anaknya dan beliau sangat berbangga hati). Hmm…

Begitulah obrolan singkat pagi ini yang membuatku merenung banyak-banyak.

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al-Furqon: 74]

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: