Catatan Perjalanan #2

Ini adalah perjalanan keduaku ke kota “Lautan Api”. Jika sebelumnya menaiki transportasi umum kereta api, maka kali ini dengan kendaraan pribadi.

Berangkat pukul 03.30 WIB hari Sabtu selepas hujan deras mengguyur melewati jalan-jalan pinggiran ibukota yang sepi menuju pintu tol terdekat, Halim PK. Bukanlah hal yang direncanakan sangat, perjalanan ini. Hanya keputusan mendadak setelah morning sickness reda dan anak pertama bebas dari demam. Intinya kami telah sehat. Mengesampingkan kondisi si bapak yang kelelahan bekerja lembur terus dan harus menyetir. We’re so sorry, dear. But we must go. ^__^

Pukul 05.00 WIB berhenti di rest area guna sholat dan buang hajat, bergantian karena harus menjaga si sulung yang terlelap di jok belakang.

Pukul 05.30 WIB melanjutkan perjalanan dengan masih diiringi truk-truk besar. Sedikit saja mobil pribadi melintas. Intinya perjalanan di Sabtu pagi ini lancar jaya via toll Cipali. Sedikit agak bingung saat akan masuk toll Purbaleunyi, syukurlah ada GPS yang berteriak-teriak senantiasa mengingatkan.

Saat fajar menyingsing kami melewati dataran tinggi berkabut. Saatnya menikmati keindahan alam sekitar. Bukit-bukit serta jalan kereta api nun di atas sana cukup elok dipandang. Tak terasa kami sudah masuk ke kota yang kami tuju dengan waktu tempuh 3 jam terhitung waktu mampir di rest area. Sekarang tinggal mencari alamat rekan yang akan kami singgahi. Turun di Pintu Toll Moh. Toha dengan membayar 54.000 rupiah.

Bukan rumah, melainkan kost-kostan yang kebetulan di seberang kamar rekan kami ada yang kosong dan bisa digunakan. Alhamdulillah.

Sambutan hangat untuk kami, dengan hidangan sarapan pagi nasi kuning hangat yang baru dibeli. Selepas makan bergiliran mandi, air hangat tentunya, sebelum memulai wisata hari ini. Bismillah.

Pukul 09.00 WIB, cuaca cerah. Setelah kami dan rekan siap segera berangkat menuju Lembang. Cek Google Maps jalan alternatif via Punclut. Bila melewati jalan poros tentulah macet karena pastilah kebanyakan orang berpikir untuk liburan akhir pekan. Meski agak memutar dan relatif jauh namun terasa lebih cepat tanpa sesuatu yang menghambat.

Tiba di tujuan pertama, De Ranch, belum begitu ramai. Rekan berdua naik kuda dewasa, sulungku menaiki kuda pony, aku dan suami hanya sibuk merekam juga mendampingi. Selesai naik kuda mencoba permainan-permainan lain di lokasi, yaitu trampolin dan ayunan kuda. Tentunya hanya si sulung yang bermain. Terlihat pengunjung mulai ramai dan panas makin terik walaupun dingin tetap saja menyelimuti Lembang. Kebanyakan mereka wisata kuliner di tempat ini sembari menunggu giliran naik kuda dengan kostum ala Cowboy dan Cowgirl. Tak lupa mengambil dokumentasi, pastinya. Karena dokumentasi baru-baru ini jauh lebih berharga rasanya dibanding menikmati segala hal yang dilalui. Ya, rasa-rasanya. Sebelum keluar, mengambil welcome drink berupa susu sapi rasa strawberry, lemon atau vanilla. Sayangnya tidak ada rasa coklat. Aku mengambil rasa strawberry dan lemon kemudian meminum yang strawberry. Hmm.. lumayan. Tidak berasa susu.

Mobil bergerak, berbalik arah, kembali ke jalanan poros. Kemacetan sudah mulai terlihat. Bagaimana tidak, lokasi wisata terdekat dari kota Lautan Api ya Lembang ini. Pastilah akhir pekan para penduduk sekitar pun plat B bergeser ke kota ini. Meski hanya sejenak saja melepas penat ibukota. Kami memilih makan di floating market. Tak seberapa jauh dari lokasi pertama. Hanya saja, mobil kami harus memutar karena jalan searah. Lahan parkir sangat luas, jadi kami tak perlu kuatir kehabisan tempat parkir. Tepat empat mobil dari pintu masuk kami mendapat tempat.

Memasuki pintu masuk lokasi tampak wisatawan luar kota memenuhi ruang transit. Mereka berseragam. Pastilah dari sebuah instansi. Dan ternyata kelak di dalam sana lebih banyak lagi wisatawan berseragam warna-warni, dari beragam instansi yang seide untuk piknik di akhir pekan ini. Menarik.

Pertama, kami mengunjungi miniatur kereta api dengan tiket masuk 15.000 rupiah per orang. Ya, kereta api berukuran mini sekira 4 lajur dan kebetulan semuanya kereta PT Pos Indonesia (yang kali itu dioperasikan) berganti-ganti melewati rel memutar serupa di perbukitan, jembatan, melintas jalan raya, layaknya kereta api sungguhan. Rekaman suara kereta api “jujes-jujes” menggema di ruangan terbuka berdinding tinggi melingkari wahana. Ditambah rekaman suara wanita yang melafalkan “perhatian-perhatian… dst” serasa berada di peron stasiun dan perlintasan kereta api jalan raya. Betapa senangnya si sulung mengejar kereta demi kereta. Tertawa dan teriak penuh suka. Karena panas dan pinggangku serasa mau patah dengan perut yang semakin besar, aku keluar duluan bersama rekanku. Mencari tempat duduk di bawah rindang pohon seputar situ. Tak berapa lama si sulung dan bapaknya keluar.

Kamipun segera menuju lokasi makan. Uniknya, kami harus menukarkan uang dengan koin tanah liat di pos-pos penukaran uang. Koin itulah yang kami gunakan untuk membeli makanan. Kios makanan berada di atas kapal terapung yang tertambat di tepian. Macam-macam sekali kuliner di sini. Mulai dari sate maranggi, sate kelinci, berbagai olahan mie, ketoprak, aneka gorengan, soto, tongseng, gulai, dan masih banyak lagi. Bersyukur masih ada meja kosong di tengah keramaian para wisatawan kelaparan. Kami memesan sate maranggi, tongseng kambing yang masing-masing seharga 35.000 rupiah, ketoprak seharga 20.000 rupiah, kelapa muda, tahu crispy, cakwe, dan risoles masing-masing 10.000-15.000 rupiah. Tak lupa menukarkan kupon welcome drink berupa sirup orson alias jeruk. Kenyang makan, tapi masih lapar mata. Namun karena si sulung sudah kelelahan kami segera beranjak dan mencari musholla terlebih dahulu. Selepas sholat mampir sebentar ke Clothing Market. Ah, koleksinya biasa saja, tak jadi beli deh.

Rencana awal langsung pulang ke kost dan mampir dulu ke rumah rekan di kompleks Pussenif. Namun tiba-tiba aku ingin ke kebun teh. Jadilah kami belok arah ke Ciater. Foto-foto di hamparan kebun teh sembari menikmati udaranya. Masya Allah, sejuknya.

Rekanku tak lantas mau diajak pulang. Ia bersikukuh naik lagi ke pemandian air panas Sari Ater. Sampai sana pas adzan Ashar. Setelah membeli baju ganti untuk berendam seharga 50.000 rupiah per pieces kami sholat di musholla dekat pintu masuk. Cuaca yang mendung rasanya sangat mendukung untuk berendam air panas.

Memasuki area pemandian, tak seperti yang kubayangkan. Ternyata lokasinya luas sekali. Bahkan ada masjid di dalamnya. Banyak pula kios-kios penjaja makanan serta pakaian yang lebih oke daripada di luaran tadi. Ah, ya sudahlah. Rejeki para penjaja asong tadi. Pemandian yang serupa kolam renang penuh dengan wisatawan. Kulihat sekilas banyak perawakan India yang konon kabarnya memang menghuni sebagian wilayah Bogor. Jalanan menurun dan itu tak membuatku terlalu lelah. Di sebelah kanan-kiri bergantian ada lokasi bermain panahan, kolam-kolam alami dikelilingi batu, curug jodo, dan toko-toko. Kami memutuskan berhenti di sebuah kolam melingkar yang memiliki pancuran di tengahnya. Alasan utama karena cukup sepi dibanding lokasi lainnya selain karena dekat dengan tempat ganti pakaian. Sebenarnya di bawah masih banyak lokasi lain tapi kaki ini tak sanggup lagi melangkah. Merendam diri di kolam air panas sepertinya cukup mengurai lelah. Beberapa tukang urut telah bersiap di tepi-tepi tiap kolam membawa minyak zaitun dengan tarif 40.000 rupiah. Penasaran juga bagaimana mereka bekerja, tapi karena semua tukang urut adalah laki-laki tak layak pula aku meminta urut. Tak berapa lama ada rombongan yang meminta urut kaki. Rupanya mereka bekerja di dalam kolam. Wah, terkontaminasi minyak zaitun dan daki deh kolamnya… Hmmm…  Terlepas dari itu, berendam air panas sungguhlah menenangkan. Sembari menghirup udara segar khas pegunungan, badan tak merasa dingin karena berendam.

Pukul 16.00 WIB mendung mulai menunjukkan tanda-tanda hujan. Kamipun memutuskan untuk bersegera pulang. Tepat setengah jam kemudian kami tiba di parkiran. Menaiki tanjakan lebih terasa melelahkan pastinya. Setelah turun enak-enak saja barulah perjuangan naik terasa. Lelah yang mulai hilang saat di kolam tadi kembali lagi.

Menuruni jalanan pegunungan, kabut mulai menutupi bahu jalan. Pemandangan kebun teh tak terlalu tampak lagi. Dan akhirnya kemacetan mulai terjadi di jalanan poros Lembang-Bandung. Tak terurai hingga sampai kota. Total 3 jam kami terjebak macet di jalan. Lewat Maghrib, tak kunjung bisa berhenti di Musholla atau Masjid. Baiklah, Jama’ saja. Si sulung pun terlampau lelah sepertinya. Selama perjalanan ia tertidur pulas. Kondisi tubuhku pun mulai drop. Demi melihat warung bakso aku meminta dibungkuskan beserta teh manis hangat. Recharge energy. Saat aku makan di mobil, di tengah kemacetan, si sulung bangun dan minta makan juga.

Sampai di jalan Cihampelas, masih macet juga. Bahkan mobil nyaris tak bergerak. Kulihat ada toko waralaba, akupun meminta turun. Hasrat buang hajat tak bisa dielak. Sekalian beli roti dan camilan untuk para warga mobil. Selesai keperluan, mobil pas bergerak di depan toko. Aku bergegas masuk. Lagipula gerimis masih turun. Roti habis diserbu mereka. Ah, pasti kelaparan sekali ya.

Pukul 20.10 WIB sampai di dekat kost. Mampir membeli nasi dan mie goreng untuk makan malam. Selepas makan kami semua terlelap tanpa mandi lagi.

Bangun terlewat Subuh saking lelahnya. Sarapan nasi kuning lagi. Sehabis itu baru bergantian mandi. Pukul 09.30 WIB bergerak menuju rumah kawan di Pussenif. Di sana sampai selesai shalat Dhuhur dan berakhir dengan makan siang mie Akung yang fenomenal itu. Wow, porsi besar dan memang rasanya cukup unik. Antrian mengular dan ruangan cukup penuh. Beruntung kami segera mendapat meja. Setengah jam kemudian pesanan baru diantarkan. Keunikan tempat makan ini adalah tiap Jumat libur begitu pula saat Ramadhan dan idul fitri tiba. Meski begitu pelanggan tetap saja setia menanti. Di seputaran dinding penuh kaligrafi. Penyediaan musholla di lantai dua nan bersih dan terjaga menambah istimewa. Beberapa penjaja makanan kecil berbaris rapi di lorong. Ada rujak buah, kacang rebus, kue cubit, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Herannya, justru difasilitasi oleh pemilik tempat makan. Memanglah benar, rejeki takkan pernah tertukar.

Dengan setengah mati kami menghabiskan pesanan. Karena baru perdana ke sana aku sok saja pesan komplit. Ternyata kenyang sekali, kawan. Belum lagi es teller yang menggoda itu. Hampir Ashar kami baru selesai. Perjalanan selanjutnya menuju swalayan, sebelumnya Sholat dulu. Membeli perlengkapan rumah tangga yang habis karena pasti besok tak sempat apa-apa lagi. Saatnya hibernasi.

Sampai di kost pukul 16.30 WIB, memandikan si sulung dan rehat sejenak. Nyatanya sampai Maghrib. Dan aku memutuskan tidak mandi. Hawa dingin tak membuatku keluar keringat. Lebih baik pejamkan mata banyak-banyak. Pukul 20.00 WIB baru makan malam. Sate ayam menjadi menu kali ini. Selepas makan segera kembali rehat. Esok dini hari, pukul 01.30 WIB aku harus kembali ke ibukota.

Perjalanan kembali cukup lancar sebelum akhirnya masuk Bekasi agak macet. Penuh dengan truk serta kontainer. Tepat adzan Subuh sampai rumah. Suami segera berangkat ke kantor. Aku dan si sulung hibernasi seharian. What a day…

Meski begitu, rasa hati ingin segera kembali kesana lagi. Panasnya ibukota sungguh kontras dengan sejuknya Lembang. Terimakasih banyak pada Tante Nora beserta suami juga Tante Ratna beserta suami. Lain kali kami akan kembali lagi. InsyaAllah.

PhotoGrid_1477895016637.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: