Sebuah Filosofi Terima Kasih

PhotoGrid_1477637225603.jpg

*Tulisan ini terinspirasi dari petikan tausiyah alm. Ust. Uje*

Pernahkah kita diberi? Pasti pernah. Pernah pulakah kita memberi? Insya Allah lebih pernah lagi yaa daripada diberi. Aamiin. Karena memberi dan diberi bukanlah hal janggal. Meski begitu memberi tentulah lebih utama daripada diberi. Lantas adab apa yang berkaitan dengan hal tersebut?

Saat kita diberi sesuatu oleh orang lain kita pasti refleks mengucap terima kasih, Alhamdulillah. Tapi kenapa kata terima kasih bukan sebuah akad saja “saya terima”?

Sesungguhnya ada beberapa pelajaran di sana, pesan lebih tepatnya. Yang pertama, ingat betul bahwa sejatinya Allah lah yang memberi. Maka ucapan syukur yang pertama dan utama adalah untuk Nya. Manusia hanyalah perantara pembagi. Sesuai hadits berikut:

Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a, dia berkata dalam khutbahnya, bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka diberi Nya orang itu pengetahuan yang dalam dan luas mengenai agama. Sesungguhnya aku ini hanya membagi-bagi, sedangkan yang memberi ialah Allah s.w.t. (HR Muslim).

Yang kedua, bila kita diberi maka kita akan terima “sesuatu” dan dari “sesuatu” itu ada pula rezeki yang dititipkan pada kita untuk dikasih (diberikan) pada orang lain. Ingat ya, orang lain. Bukan melulu kita harus balas pemberian yang memberi. Bisa jadi kepada makhluk lain atau bahkan kepada yang tidak kita kenal sekalipun. Intinya, tiap kita menerima pemberian kita juga mendapat kewajiban mengasih (eh.. memberi) sesuatu ke yang lain. Ya, sedekah, sekalipun hanya seulas senyum manis tanpa gula atau perkataan baik nan menenangkan hati. Maka, dengan begitu hidup akan seimbang. Saya pun berharap semoga tulisan-tulisan ini bernilai sedekah pula, sedekah kata. Aamiin.

Lantas, bolehkah kita menolak pemberian? Tidak, sekali-kali tidak boleh. Demi menghargai dan menyenangkan hati orang yang memberi, terimalah sekecil apapun pemberian walau nantinya kita berikan lagi pada yang lain. Namun di sisi lain kita juga dilarang keras meminta. Contohnya, meminta oleh-oleh (#ehhh…).

Dari Salim bin Abdullah r.a dari bapaknya, katanya: Rasulullah pernah memberikan (bagian zakat) kepada Umar bin Khattab r.a, lalu ditolak oleh Umar. Katanya: Yaa Rasulullah! Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan daripadaku. Sabda Rasulullah s.a.w: Ambillah dan pergunakanlah untuk keperluanmu, atau sedekahkan! Apabila engkau diberi orang suatu pemberian tanpa engkau idam-idamkan dan tanpa meminta, terimalah pemberian itu. Tetapi ingat, sekali-kali jangan meminta. Kata Salim: Oleh karena itu Ibnu Umar (ayah Salim) tidak pernah meminta apa saja kepada seseorang, dan tidak pernah pula menolak apa yang diberikan orang kepadanya. (Hadits Muslim).

Demikianlah, sinergi memberi dan menerima dalam filosofi sederhananya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: