Renungan Ramadhan #4

Margasatwa tak berbunyi,

Gunung menahan nafasnya

Angin pun berhenti 

Pohon-pohon tunduk 

Dalam gelap malam 

Pada bulan suci

Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan 

Ketika cahaya surga menerangi bumi

Ketika cahaya surga menyinari bumi 

Inilah malam seribu bulan 

Ketika Tuhan menyeka airmata kita

Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Mendengar lagu gubahan Bimbo itu membuat hati bergetar haru.

Bayangkan saja seluruh penghuni alam TERDIAM padahal mereka tak punya dosa. Dengan takzimnya menjadi saksi kemegahan malam itu. Satu malam yang setara dengan 1000 bulan. Satu malam yang menggemparkan.

PhotoGrid_1466691770560

Telah jelas pula tercantum di surat Al Qadr yang artinya kemuliaan. Malam itu Al Quran diturunkan ke bumi, malaikat-malaikat menyertai. Bahkan sorot cahaya surga menerangi. Indahnya. Masya Allah. Tak ayal bila malam itu dilimpahi kesejahteraan hingga pagi menjelang. Maka, hidupkanlah malam itu dengan khusyuk ibadah shala Isya, Taraweh, dan Subuh tanpa tertinggal.

Lalu, bagaimana ciri-ciri malam itu? 

Menurut hadits, demikian gambarannya:

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi)

Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. (HR. Muslim no. 762)

Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Kapankah malam itu tepatnya? 

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.(HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no. 2017)

Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa. (HR. Bukhari)

Apa yang kita lakukan bila menjumpai malam itu? 

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi)

Akhirnya, doa ini dibaca setiap selesai 4 rakaat taraweh.

Bisa disimpulkan bahwa malam lailatul qadar hanya bisa diketahui setelah malam itu berlalu, namun yang mendapat berkah keutamaan malam itulah yang merasakannya.

Tidak ada trik khusus bagaimana cara mendapatkannya, hanya banyak-banyaklah beribadah di 10 malam terakhirnya. Apakah harus itikaf? Tidak, bahkan yang sedang tidur, haid, musafir juga bisa menemukan keutamaan malam itu asal hatinya tak berhenti mengingati Nya.

Nah, nanti sudah malam ke 20… Mulai besok malam mari bergerilya ibadah demi mendapat berkah. Bismillah…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: