Udang di Balik Batu

Rasanya, sudah jadi tabiat manusia bila ada maksud tertentu kemudian bersikap baik dan manis. Habis manis sepah dibuang, kalau maksud sudah tercapai ditinggalkan. Ibarat ada uang abang disayang, tiada uang abang ditendang.

Begitulah manusia. Saya khawatir juga demikian. Hmm… Audzubillah.

Teringat saat suami pergi dinas mengawasi pelaksanaan latihan di luar kota. Sudah diwanti-wanti sebelumnya kalau nanti dapat uang saku kembalikan saja kan uang perjalanan sudah ditanggung negara. Bahkan sudah pakai latihan “pidato” penolakan segala. Karena biasanya sih pasti diberi. Nyatanya, ini luar biasa. Difasilitasi saja tidak apalagi diberi. Syukur suami orangnya taat, nerimo ing pandum. Kabar baiknya, saat pulang, diberi oleh-oleh banyak-banyak. Sampai suami over bagasi dan tidak beli oleh-oleh karena itu. Oh no, setelah sampai di rumah, dibuka, ternyata bukan untuk suami melainkan untuk atasan-atasannya. Sudah pasti barang tentu itu mempunyai maksud. Ahh suudzon ya?

Prasangka itu berdasar pada pengalaman sebelum-sebelumnya. Pada level kami yang rendah ini beberapa orang pernah datang meminta bantuan, kadang juga hanya bantuan nasehat. Ada yang berniat memberi sesuatu tapi kami tolak, utamanya jika berlebihan (gratifikasi kan ya?). Apalagi bila pemberian dilakukan di level atas yang tidak sewajarnya. Pasti ada pertanyaan, ada apa?

Sungguh, kalau membantu kami “berusaha” ikhlas tanpa menuntut imbalan apa-apa pun rasa hormat atau rasa terimakasih tidak perlu. Pada Tuhan lah lakukan itu. Tapi ternyata memang mereka lupa. Dari baik banget jadi nggak peduli. Dari rajin silaturahmi jadi tenggelam di telan bumi. Ya, pasti sudah senang karena “berhasil” mendapat yang diidamkan, diimpikan, diharapkan. Lantas pemikiran itu semua dari Tuhan muncul. Padahal sebelumnya entah apa saja dilakukannya. Ah, bukan lupa, hanya menolak ingat. Mungkin demikian.

Poinnya disini saya hanya ingin berkisah bahwa manusia itu tempatnya lupa, lupa akan kebaikan orang tapi ingat betul secuil kesalahan. Habis manis sepah dibuang. Sudah sukses lupa orang-orang yang berjasa. Itu biasa. Saya khawatirnya begitu juga. Audzubillah.

Semoga saja Allah selalu menjaga hati kita dari hal-hal seperti itu. Mari kita ingat selalu kebaikan orang walau hanya membantu hal-hal sepele. Kadang juga yang membantu tidak ingat kalau dia membantu. Nah, poin itu yang dicari. Ingat saat dibantu orang tapi kalau kita membantu lupakan bahwa pernah membantu. Itu namanya ikhlas.

Dalam tulisan ini saya pun memohon maaf bila saya ada melupakan jasa baik saudara-saudara. Tidak ada maksud. PhotoGrid_1465547917445.jpg

Mari kita latih diri untuk selalu lupa pada kebaikan yang kita buat, ingat kesalahan yang kita lakukan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: