Arti Bisnis Bagiku

PhotoGrid_1465270162332.jpgBisnis alias usaha alias urusan alias dagang atau jualan yang kumaksud disini sebenarnya merupakan hal baru bagiku. Sedari kecil aku tidak pernah mencoba untuk “menjual” sesuatu. Hal ini berbeda jauh dengan adikku. Ia sudah melakukannya saat masih sangat belia. Sederhana saja, menjual lukisan hasil karyanya dan sekarang desain grafis serta hasil bidikan kameranya.

Sedari kecil aku termasuk anak yang “mainstream” dan patuh pada orangtua. Menjadi tipikal ideal anak pertama. Seringkali aku tidak memiliki pilihan-pilihan hidup menantang. Hanya berjalan sesuai alur, istilahnya.

Jualan bagiku memberi rasa malu. Aku tak pandai promosi, ahh.. gengsi. Menawarkan sesuatu ke orang-orang, berbicara panjang lebar bergaya persuasi dan sakit hati bila berujung penolakan.

Setelah menikah, satu hal “antimainstream” pertama yang kulakukan ya menjadi ibu persit. Mengikuti aktivitas di dalamnya sungguh di luar kebiasaanku. Semakin ke sini semakin kulihat kebanyakan dari anggota persit luwes berjualan, dari “golongan” manapun. Aku akhirnya berani mencoba. Bukan ikut-ikutan alias latah. Aku mencoba untuk mendobrak rasa gengsi bin malu di hatiku. Mencoba memastikan mereka bisa masa aku tidak. Mencoba membuktikan bahwa rejeki yang datang itu unik sekali lewat berdagang. Seperti Rasul pernah sampaikan, 99 persen rejeki pada usaha dagang. Termasuk “jualan tulisan”. Dan lagi aku tak perlu amat sangat malu karena jualan jaman sekarang bisa dilakukan via online. Promosi lewat tulisan dan gambar. Amat mudah. Lihat saja BBM, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Whatsapp bahkan Line adalah ajang jualan yang cukup menjanjikan. Belum lagi blog dan web berbayar lain. Tak ayal hampir semua memanfaatkan jejaring media sosial untuk promosi “dagangannya”. Jadi kenapa tak kucoba? Toh juga penolakan pasti hanya dengan “tidak dibaca”.

Namanya bisnis, sama kejamnya dengan politik. Saling jegal dan menjatuhkan itu sering terdengar. Banting harga (beda dengan periode promo), bilang si A-B-C-D kualitasnya jelek, menyerobot pelanggan, pakai “jin pesugihan” dan lain-lain. Bahkan di tingkat mafia saling bunuh pun terjadi. Tapi apapun itu rejeki takkan pernah tertukar. Meskipun “direbut” orang si rejeki itu barokahnya tidak akan ikut diembat sekalian. Karena itu hak mutlak Tuhan bukan?

Pernah dan sering lihat kan penjual di pasar berderet menjajakan barang yang sama. Pembeli pun memasuki kios-kios yang berbeda. Ada yang ramai, sepi, atau sedang-sedang saja. Di situlah “tangan” Tuhan “bertindak”. Ia mengatur perputarannya sesuai kehendak Nya. Sesuai kapasitas kita. Jatahnya rejeki banyak ya banyak… sedikit ya sedikit.. tidak bisa dipaksakan. Bila ada yang melakukan cara tidak halal dalam bisnis untuk meraup banyak untung, yakinlah suatu saat nanti ada balasannya. Boleh jadi sekarang kaya melimpah tetiba sakit tak sudah-sudah. Ingat saja bahwa rejeki tak melulu harta gono-gini. Kesehatan, kebahagiaan, ketenangan hati justru rejeki yang tak ternilai.

Maka dari itu, bagiku…
bisnis yang kujalankan ini adalah penikmat hati.
Menikmati saat ramai pembeli dan menikmati jua saat sepi.
Karena begitulah Tuhan mengatur rejeki.
Tak akan pernah salah beri.
Hanya tersenyum saat orang lain menurunkan harga jualnya, hanya tertawa saat pelangganku pindah ke dia, dan hanya mengelus dada saat ada rekan yang jualannya sama dan bersaing kasat mata. Rejeki tak akan tertukar. Itu janji Nya. Aku tak akan berhenti meski bisnis ini masih kecil dan masih sering pula rugi. Akan kunikmati setiap langkah yang kupilih. Gagal atau berhasil. Biasa saja atau sukses jadi “raja”. Berharap semoga Tuhan meridhoi, memberkahi. Itu saja.

#catatan perenungan

2 Comments (+add yours?)

  1. drwox
    Jun 07, 2016 @ 10:26:33

    inspiratif sista… semangat… semoga tambah sukses

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: