Renungan Ramadhan #ekstra

Dumay, dunia maya. Dunia tanpa batas. Dunia ini melingkupi Facebook, Twitter, Instagram, BBM, WA, Line, linkedIn, messenger, dan lain-lain yang jumlahnya banyak bin banget. Disana, berapa jumlah temanmu? Ribuan? Lantas berapa jumlah temanmu secara riil? What? Berbilang puluhan? Bisa dihitung jari? Tidak punya sama sekali? Hmm…

Teman, dalam KBBI diartikan dengan kawan, sahabat, yang menyertai, yang bersama-sama. Contohnya: teman kerja, teman bisnis, teman main, teman hidup, teman di perjalanan, teman tidur, teman cerita, teman sekolah, teman ngaji, teman organisasi, dan banyak lain lain tambahi sendiri.

Teman, yang kumaksud disini adalah dalam definisi sahabat. Teman yang lebih dari teman. Teman yang ada tidak hanya saat hidup kita senang jadi penggembira namun juga saat susah dan terpuruk. Bukan seseorang yang hanya hadir saat butuh saja tapi selalu hadir saat dibutuhkan.
Teman yang ikut sedih saat kamu sedih, senang saat kamu senang. Bukan sedih saat lihat kamu senang dan senang saat kamu sedih. Menjengkelkan sekali poin terakhir itu. Jadi, ada berapa temanmu?

Mengapa akhir-akhir ini semenjak dumay berkembang masif kita malah susah cari teman? Cekakak cekikik di depan layar tapi kikuk di depan orang. Banyak tulisan bertebaran di beranda akun masing-masing tapi nihil kredibilitasnya di sekolah, kantor, kampung, tempat ibadah, organisasi, bahkan jalan umum. Sok peka terhadap masalah sosial yang terjadi tapi nyuekin simbah-simbah mau nyeberang jalan sendiri. Ya Rabb!! Jangan-jangan aku juga demikian? Audzubillah.

Jangan kaget, itu fenomena mau kiamat. Boleh-boleh saja teman dumay banyak, sah-sah saja teman di kampung punya pun tidak. (Lha wong tinggal di perumahan atau nge kos mbak, bukan tinggal di kampung je… #ehh.. )

Jujur, mungkin aku juga demikian. Jago sekali aku nulis ya kan? (Nggak! #ehh.. )
Di pergaulan aku pasif se-pasif-pasifnya. Kenapa? Karena takut diingatkan sama suami. Kalau kumpul jangan pernah bahas orang lain. Ghibah. Wah!! Susah!!
Tapi emang sih dari dulu aku lemah dalam bersosialisasi. (Lemah apanya? Kalau udah ngomong di depan Ibu-ibu bukannya ngga selesai-selesai… #ehh…)
Yaa intinya aku tidak aktif mencari teman dan tidak pula dicari sama teman. Suer dah aku orangnya ngga asik. Ngga suka diajak jalan kalau ngga sama anak, ngga suka diajak makan kalau ngga murah tapi enak, ngga suka nongkrong di mall tanpa tujuan, kudet (kurang update) masalah baju apalagi sepatu, tas cuma punya satu (ransel pula) satunya khusus persit satunya untuk bawa pernak-pernik Aya satunya untuk ke undangan satunya… (lahh banyak… ), ngga hobi nyalon, ngga hobi nonton kecuali dibayarin (colek Eny… hahaahaa), ngga suka ikut arisan (sssttt seumur umur aku slalu lolos untuk ngga ikut arisan… hihihi), hobinya di depan buku sama laptop atau masak yang rasanya ngga enak yang penting Aya doyan. Wes lah ngga asik! Hehehe.. wajar aku ngga punya temen gaul. Dan jujur aku ngga cari. Karena aku hanya menggauli suamiku… #ehhhhhhhhhhhh!!!!

Aku mencari teman-teman sejati yang selalu bisa mengingatkanku kala aku salah, kala aku lalai sholat, kala aku tidak semangat, kala aku jauh dari Nya. Intinya selalu bersedia mengingatkanku dalam kebaikan. Begitupun ia, selalu bersedia kuingatkan. Paling penting pas aku sudah dikafan mau ikut menyolatkan.
2016-06-29 15.20.00
Jadi, siapa yang mau jadi temanku? ☺

Advertisements

Resume: Amelia

Buku terakhir dari tetralogi Serial Anak Mamak. Kebetulan aku baca Eliana yang pertama dan Amelia yang terakhir. Melewatkan Pukat dan Burlian.

Dalam buku ini diceritakan tentang Amelia si anak bungsu beserta konflik yang mendera, harapan dan cita-citanya. Sebagai anak bungsu sesuai adat berlaku adalah menjadi sang penunggu rumah. Kemanapun pergi pasti akan jua diam di kampung halaman. Mengurus orangtua dan rumah peninggalan. Amelia awalnya ingkar. Tetapi setelah melewati berbagai macam peristiwa ia mengakarkan cita-cita untuk memajukan kampung halamannya. Melalui kecintaannya terhadap alam dan pendidikan.

Buku ini mengedepankan nilai-nilai keluarga sederhana namun kuat dalam prinsip termasuk prinsip agama serta pendidikan moral serta formal. Seru dan rindu akan keberadaan keluarga macam itu. Andai saja keluarga Indonesia mayoritas saja seperti itu, yakinlah Indonesia akan maju.

Quotes:
1. Dunia orang dewasa tidak selurus dunia anak-anak yang lima menit bertengkar lima menit kemudian sudah kembali bermain bersama. Kau tahu, dunia orang dewasa bagai sebutir bawang merah, berlapis lapis oleh ego, keras kepala oleh argumen, bertumpuk pembenaran dan hal-hal lain.
2. Air mata dari seorang yang tulus hatinya justru adalah bukti betapa kuat dan kokoh hidupnya.
3. Bersabar adalah usaha terbaik. Kau tetap melakukan apa yang telah kau lakukan selama ini. Terus peduli dan membantu. Cepat atau lambat, keajaiban akan tiba. Dan ketika tiba, bahkan tembok paling keras pun akan runtuh. Batu paling besar pun akan berlubang oleh tetes air hujan kecil yang terus menerus.
4. Sebagian ibu-ibu itu hanya lincah mulutnya, lincah bergunjing. Tapi mamak kau sebaliknya, tangannya lebih lincah bekerja. Semua dikerjakan dengan cepat, teliti, tanpa kesalahan.
5. Hidup ini dipergilirkan satu sama lain. Kadang kita di atas kadang kita di bawah. Kadang kita tertawa, lantas kemudian kita terdiam, bahkan menangis. Itulah kehidupan. Barang siapa yang sabar maka semua bisa dilewati dengan hati lapang.
6. Doa bisa mengubah sesuatu. Doa bisa terwujud menjadi sebuah bala bantuan tidak terbilang yang langsung dikirim dari langit. Doa adalah benteng pertahanan terbaik. Doa juga senjata terbaik bagi setiap muslim. Ucapkanlah Laa haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim “tiada daya dan kekuatan melainkan (atas pertolongan) Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung”. Diucapkan dengan sungguh sungguh maka jadilah kalimat itu sebuah doa terbaik yang ada.
7. Dulu, sekarang dan kapanpun keluarga harus berada di urutan pertama.
8. Sejauh jauhnya kau pergi, setinggi apapun mimpi, kau tetap tidak bisa melupakan hakikat seorang perempuan. Menjadi istri dan ibu.
9. Seorang ibu menyimpan misteri besar dalam hidup ini.
10. Seseorang yang mengerjakan amal, tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, apalagi hanya mempertututkan tradisi. Maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela dan atapnya sia-sia belaka. Semua orang dituntut belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk memepelajari ilmu yang tak segera diamalkan. Naik haji, misalnya.
11. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini kenapa harus begitu. Baik yang tertulis pun lisan. Tidak pantas seorang ditanya kenapa ia sholat lantas jawabnya ikut-ikutan, tradisi.
12. Dalam urusan apapun penting sekali memiliki ilmunya. Maka, anak anak tuntutlah ilmu sejauh mungkin, rengkuh dia dari tempat tempat terjauh pun hanya lewat buku sekalipun, kumpulkan dari sumber terbaik, guru yang tulus, agar terang cahaya kalian, terang oleh ilmu itu. Jangan bosan karena waktu. Jangan menyerah karena keterbatasan. Jangan malu karena ketidaktahuan.
13. Siapapun yang tidak mengambil langkah pertama untuk memulai sesuatu, mengubah sesuatu, maka dia tidak akan pernah melihat hasil sesuatu tersebut. Tidak akan pernah.
14. Bertani adalah proses panjang penuh kesabaran. Petani yang baik adalah yang paling tawakkal dalam tiap urusan.

20160629_073913

Renungan Ramadhan #5

“Ga puasa kok lebaran?” 

Itulah sentilan dari penceramah ba’da Isya pasca taraweh di Musholla Al Mukhlisin semalam. Memang sebuah pemandangan lazim dimana pada sepuluh hari akhir Ramadhan banyak yang berlomba lomba berbelanja untuk berhias atau bepergian untuk “merayakan” hari kemenangan. Mulai dari berjubelnya pasar, pindahnya jamaah taraweh ke Mall maka tak salah ada yang menuliskan zakat Mall bukan zakat Maal yang mereka lakoni itu, dan dimulainya arus mudik.

Pada saat mudik di kampung herannya yang tidak berpuasa Ramadhan ini paling heboh mematut diri, paling merasa menang, dan paling merasa oke. Ini lebaran apa hura-hura sih? Ah yaa mereka berlebaran bukan ber hari raya Iedul Fitri.

Sebaliknya, para pencari malam Lailatul Qadar demi sempurnanya rangkaian ibadah di bulan Ramadhan semakin giat ke Musholla/Masjid, sekadar sholat seperti biasa atau menyempatkan itikaf. Berlomba memberikan zakat maal dan infak. Bersedekah tanpa pamer dan tentunya tanpa dalih amlop’an THR. Semakin menyepi dan berkhalwat dengan Nya, dengan Al Quran. Sedih.. sangat sedih ketika Ramadhan akan berlalu. Cepat sekali. Apakah diri sudah kembali fitri? Itu saja yang menyesakkan sanubari… merasa iman belum jua cukup tinggi dan terus merangsek merayu Nya agar dibukakan hijab guna melihat Nya. Bila Ia tak bergeming cukup saja ridho dari Nya atas diri yang hina. Cukup. Lelehan tangisan mengiring kepergian Ramadhan. Rasa syukur tak berkesudahan dalam sujud 2 rakaat sholat ied karena hatinya “dimenangkan” oleh Allah. Menang karena kembali suci, menang karena mendapat anugerah tertinggi. RidhoNya. Serta dibukanya pintu surga Ar Rayyan.

Indah yang mana? Bermegahan fisik di hari raya idul fitri atau malah menjadi pribadi yang lebih sederhana lagi dimana kemegahan ada dalam hati? Menjadi pribadi yang tidak menghidupkan Ramadhan tapi sok lebaran atau menghidupkan Ramadhan dan betul-betul layak berlebaran?

Silakan memilih jalan kita.. semoga ilustrasi yang kedua adalah kita. Dan bila ada yang nyaris masuk ke ilustrasi pertama masih ada waktu beberapa hari ke depan untuk mengetuk pintu maaf Nya. Aamiin Yaa Rabb… 20160625_110745.jpg

Renungan Ramadhan #4

Margasatwa tak berbunyi,

Gunung menahan nafasnya

Angin pun berhenti 

Pohon-pohon tunduk 

Dalam gelap malam 

Pada bulan suci

Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan 

Ketika cahaya surga menerangi bumi

Ketika cahaya surga menyinari bumi 

Inilah malam seribu bulan 

Ketika Tuhan menyeka airmata kita

Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Mendengar lagu gubahan Bimbo itu membuat hati bergetar haru.

Bayangkan saja seluruh penghuni alam TERDIAM padahal mereka tak punya dosa. Dengan takzimnya menjadi saksi kemegahan malam itu. Satu malam yang setara dengan 1000 bulan. Satu malam yang menggemparkan.

PhotoGrid_1466691770560

Telah jelas pula tercantum di surat Al Qadr yang artinya kemuliaan. Malam itu Al Quran diturunkan ke bumi, malaikat-malaikat menyertai. Bahkan sorot cahaya surga menerangi. Indahnya. Masya Allah. Tak ayal bila malam itu dilimpahi kesejahteraan hingga pagi menjelang. Maka, hidupkanlah malam itu dengan khusyuk ibadah shala Isya, Taraweh, dan Subuh tanpa tertinggal.

Lalu, bagaimana ciri-ciri malam itu? 

Menurut hadits, demikian gambarannya:

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi)

Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. (HR. Muslim no. 762)

Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Kapankah malam itu tepatnya? 

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.(HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no. 2017)

Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa. (HR. Bukhari)

Apa yang kita lakukan bila menjumpai malam itu? 

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi)

Akhirnya, doa ini dibaca setiap selesai 4 rakaat taraweh.

Bisa disimpulkan bahwa malam lailatul qadar hanya bisa diketahui setelah malam itu berlalu, namun yang mendapat berkah keutamaan malam itulah yang merasakannya.

Tidak ada trik khusus bagaimana cara mendapatkannya, hanya banyak-banyaklah beribadah di 10 malam terakhirnya. Apakah harus itikaf? Tidak, bahkan yang sedang tidur, haid, musafir juga bisa menemukan keutamaan malam itu asal hatinya tak berhenti mengingati Nya.

Nah, nanti sudah malam ke 20… Mulai besok malam mari bergerilya ibadah demi mendapat berkah. Bismillah…

 

Renungan Ramadhan #3

Intro

Bahasan ini mungkin agak sedikit terlalu berat dan serius. Karena jujur saja aku sedang belajar. Belajar mendalami agama dari perspektif yang berbeda dari pelajaran di sekolah. Bila aku kelewat menggurui, maafkan. Sebenarnya apa yang kutulis adalah hal yang kurekam dalam ingatan dari sekian sumber yang beragam. Jadi, inti dari tulisan ini lebih untuk mengingatkanku bukan menggurui pembaca sekalian. Semoga kita semua sepaham, jangan sampai salah paham. Bismillah…

Agama

♡Berasal dari bahasa Sanskerta, a = tidak; gama = kacau, artinya tidak kacau; atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu.

♡Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) agama artinya ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

♡Ad din, adalah asal kata agama, artinya menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Agama ialah buah atau hasil kepercayaan dalam hati, yaitu ibadah yang terbit lantaran telah ada tekad lebih dahulu, menurut dan patuh karena iman. Maka, bertambah kuat iman bertambah teguh lah agama. Apakah iman itu? Iman artinya percaya, dalam hati, lisan dan perbuatan. Tidak pula disebut iman jika lepas salah satunya. Sabda Nabi Muhammad SAW:

“Iman itu lebih dari 60 ranting, yang paling tinggi ialah kalimat Laa ilaha ilallah dan yang paling rendah ialah membuangkan duri dari tengah jalan” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

♡Pepatah Arab mengatakan, “Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga binasalah hayat. Karena orang yang terhormat itu, kehormatannya itulah yang melarangnya berbuat jahat!”

Jadi, jelas disini bahwa agama itu ibarat persendian yang menggerakkan badan. Tapi tanpa pengaruh (akal budi) agama itu tiada arti. Camkan ini.

♡Agama juga adalah merupakan produk budaya manusia. Karena produk budaya maka agama di dunia ini pastinya sangat beragam. Terlepas dari agama apa yang paling betul. Karena jelas bahwa tiap-tiap pemeluk agama menganggap agamanya yang paling benar. Kebetulan agamaku Islam maka yang akan kutulis disini ya berkenaan dengan Islam. Jelas, aku akan  menyatakan agamaku paling benar. Namun, bukan berarti semua muslim itu benar. Penilaian benar atau salah tidak bisa dinisbatkan hanya dengan masalah agama yang dianut. Itu mutlak hak Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Sang Maha Pembolak balik hati. Tidak perlu saling merasa benar, yang benar itu saling menghormati. Bukankah jelas dinyatakan dalam Al Quran, lakum diinukum waliyadin? Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Biar pengadilan Allah yang berlaku. Saling syiar agama boleh saja asal tidak memaksa. Begitu saja ya? Enak kan? Pasti damai deh Indonesia… Merdeka!!!!

Dahulu, pemeluk Islam sedikit namun yang beriman banyak. Sekarang, pemeluk Islam banyak namun yang sungguh beriman sedikit. Maka dari itu dalam Al Quran pun seringkali kita temui “yaa ayyuhalladzi naamanu (hai orang orang yang beriman)” bukan menyeru muslimin sekalian. Sedangkan orang beriman pastilah memegang teguh agama dan yang mengaku beragama belum tentu beriman. Hal ini sesuai juga dengan salah satu tanda kiamat. Bahwa beriman menjadi hal ihwal yang sangat berat. Keterangan berikut diambil dari web http://www.fadhilza.com :

Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu sore dia sudah menjadi kafir, atau (Syak Perawi Hadits) seseorang yang masih beriman di waktu sore, kemudian pada keesokan harinya dia sudah menjadi kafir. Dia telah menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia “ (HR. Muslim).

Hadits di atas menerangkan kepada kita betapa dahsyat dan hebatnya ujian terhadap iman seseorang di akhir zaman. Seseorang yang beriman di waktu pagi, tiba-tiba dia menjadi kafir di waktu sore. Begitu pula dengan seseorang yang masih beriman di waktu sore. Tiba-tiba besok paginya telah menjadi kafir. Begitu cepat perubahan yang berlaku. Iman yang begitu mahal boleh gugur di dalam godaan satu malam atau satu hari saja, sehingga banyak orang yang menggadaikan imannya karena hanya hendak mendapatkan sedikit harta benda dunia. Audzubillah.

Dari Anas Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di antara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi).

Yang dimaksudkan di sini ialah zaman yang sangat menggugat iman sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan ajaran agamanya dia pasti menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat hebat. Kalau dia tidak bersungguh-sungguh, pasti agamanya akan terlepas dari genggamannya. Ini disebabkan keadaan sekelilingnya tidak mendorong untuk menunaikan kewajiban agamanya, bahkan apa yang ada di sekelilingnya mendorong untuk berbuat kemaksiatan yang dapat meruntuhkan aqidah dan keimanan atau paling kurang menyebabkan kefasikan.

Maka syahadat harus selalu didengungkan, shalat ditegakkan, puasa dilakukan, zakat ditunaikan, haji diselenggarakan. Agar tegak selalu diinul Islam.

Nah, akhir jaman. Lagi-lagi kubahas ini. Dimana dunia lebih utama dari agama. MasyaAllah. Semoga aku dan kalian semua yang membaca terhindar dari jaman yang betul-betul akhir (tenang.. ga perlu bilang aamiin biar masuk surga. Surga dan neraka itu urusan Allah bukan urusan Amin ya…hehe). Kalaupun iya kita sampai ke se akhir akhirnya jaman semoga iman tetap bertahta indah di hati sampai roh ditarik kembali.

Yaa muqollib qulub tsabbit qolbi ala diinik. Wahai Maha Pembolak Balik Hati, teguhkanlah hati ini atas agamaMu.

Semoga Allah ridho pada kita, sang penghuni akhir jaman.

 

Renungan Ramadhan #2

Ramadhan itu bulannya Al Quran. Al Quran pertama kali diembankan kepada Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Terlepas dari perselisihan tanggal pastinya, yang jelas di Indonesia mengikuti salah satu pendapat yang ada. Ramadhan ke 17 disepakati sebagai peringatan Nuzulul Quran.

Nuzulul Quran, merupakan sebuah bukti nyata jika diantara Al Quran dan Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan sehingga banyak hadits sahih menyatakan bahwa Al Quran adalah akhlaknya Nabi Muhammad SAW. Tak heran pula bila Nabi Muhammad SAW disebut Al Quran berjalan.

Ayat-ayat yang pertama kali turun adalah QS Al Alaq 1-5: Iqra’ (bacalah) dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah mencipta. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan engkaulah Maha Mulia. Dia yang mengajarkan dengan qalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu.

Nabi Muhammad SAW yang tidak bisa membaca dan menulis diperintah untuk membaca! Meskipun dia tidak pandai menulis, namun ayat-ayat itu akan dibawa langsung oleh Malaikat Jibril kepadanya, diajarkan, sehingga dia dapat menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu akan dapatlah dia membacanya. Allah yang menciptakan semuanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun sempurna kelak, dia akan diberi nama Al Quran. Dan Al Quran itu pun artinya ialah bacaan.

Keistimewaan Allah selanjutnya sebagai kemuliaan Nya yang tertinggi termaktub di ayat ke 4, yaitu diajarkan Nya kepada manusia berbagai ilmu, dibuka Nya berbagai rahasia, diserahkan Nya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah, yaitu dengan qalam. Dengan pena! Di samping lidah untuk membaca, Allah pun menakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat. Pena itu beku dan kaku, tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena adalah berbagai hal yang dapat difahamkan oleh manusia (Hamka, Tafsir Al Azhar).

Setelah mengetahui ayat pertama yang turun, memahami maknanya bahwa kita harus selalu membaca agar mengerti ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Nya, membaca Al Quran sebagai ayat tersurat dan membaca bumi seisinya sebagai ayat tersirat (QS Ali Imran 190-195 — sudah pernah kutulis terpisah), kini saatnya kita mengenal sekilas nama-nama lain Al Quran.

1. Al kitab (buku)

2. Adz Dzikr (pemberi peringatan)

3. Al Furqan (pembeda)

4. At Tanzil (yang diturunkan)

5. 50 nama lainnya: Al Mubîn (Yang Menjelaskan; QS. Ad Dukhan: 2), Al Karîm (Yang Mulia; QS. Al Waqi’ah: 77), Al Kalâm (Perkataan; QS. At Taubah: 6), An Nûr (Cahaya; QS. An Nisa’: 174), Al Hudâ (Petunjuk; QS. Yunus: 57), Ar Rahmah (Kasih Sayang; QS. QS. Yunus: 57), Asy Syifâ’ (Obat; QS. Al Isro’: 82), Al Mau’idhah (Nasehat; QS. Yunus: 57), Al Mubârak (Yang Diberkahi; QS. Al Anbiya’: 50), Al Aliy (Yang Tinggi; QS. Az Zukhruf: 4), Al Hikmah (Himah; QS. Al Qomar: 5), Al Hakîm (Hakim; QS. Yunus: 2), Al Muhaimin (QS. Al Maidah: 48), Al Habl (Ikatan; QS. Ali Imron: 103), Ash Shirâth Mustaqîm (Jalan Yang Lurus; QS. Al An’am: 153), Al Qayyim (Bimbingan yang Lurus; QS. Al Kahfi: 3), Al Qaul (Perkataan; QS. At Thoriq: 13), Al Fashl (Yang Merinci; QS. At Thoriq: 13), An Naba’ al Adhîm (Berita Yang Besar; QS. An Naba’: 2), Ahsanal Hadîts (Perkataan Terbaik; QS. Az Zumar: 23), Al Matsany (Yang Diulang-ulang; QS. Az Zumar: 23), Al Mutasyâbih (Yang Sreupa; QS. Az Zumar: 23), Ar Ruh (Ruh; QS. Asy Syuro: 52), Al Wahyu (Wahyu; QS. Al Anbiya’: 45), Al Araby (Yang Berbahasa Arab; QS. Yusuf: 2), Al Bashâ’ir (Bukti; QS. Al A’rof: 203), Al Bayân (Penjelasan; QS. Ali Imron: 138), Al Ilmu (Ilmu; QS. Al Baqoroh: 145), Al Haq (Kebenaran; QS. Ali Imron: 62), Al Hâdi (Petunjuk; QS. Al Isro’: 9), Al ‘Ajab (Yang Menakjubkan; QS. Al Jin: 1), At Tadzkiroh (Peringatan; QS. Al Haqqoh: 48), Al Urwatul Wutsqâ (Ikatan Yang Kuat; QS. Al Baqoroh: 256), Ash Shidq (Kebenaran; QS. Az Zumar: 33), Al Adl (Keadilan; QS. Al An’am: 115), Al Amr (Perintah; QS. At Tholaq: 5), Al Munâdy (Yang Menyeru; QS. Ali Imron: 193), Al Busyrâ (Kabar Gembira; QS. Al Baqoroh: 97)), Al Majid (Yang Mulia; QS. Al Buruj: 21), Az Zabûr (Zabur; QS. Al Anbiya’: 105), Al Basyir (Pemberi Kabar Gembira; QS. Al Fushilat: 4), An Nadzîr (Pemberi Peringatan; QS. Fushilat: 4), Al Azîz (Yang Mulia; QS. Fushilat: 41), Al Balâgh (Penjelasan; QS. Ibrohim: 52), Al Qashash (Kisah-kisah; QS. Yusuf: 3), Ash Shuhûf (Lembaran-lembaran; QS. ‘Abasa: 13), Al Mukarramah (Yang Dimuliakan; QS. ‘Abasa: 13), Al Marfû’ah (Yang Ditinggikan; QS. ‘Abasa: 14), Al Muthahharah (Yang Disucikan; QS. ‘Abasa: 14). (muslimah.or.id)

Dengan memahami ayat-ayat pertama yang turun serta mengetahui nama-nama lain dari Al Quran, kitab suci kita, semoga kita bisa dengan segenap hati memahami, menerapkan isi dari Kalam Allah tersebut. Menjadikannya akhlak kita, mencintai dan menjaganya sebagaimana surat cinta dari kekasih hati. Selalu rindu untuk membaca dan membaca sampai hafal tiap ayatnya. Teringatnya sebagai pengobat hati pelipur lara. Menjadikannya kawan di setiap kesempatan.

Mari kita senandungkan bersama senandung Al Quran yang artinya:

Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab Al Quran ini
Dan jadikanlah Al Quran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam Al Quran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan kurniakanlah daku
selalu sempat membaca Al Quran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah Al Quran ini sebagai hujjah bagiku

Semoga.. yaa.. semoga Allah ridho.

Jakarta, 17 Ramadhan 1437 H

 

 

Renungan Ramadhan #1

Sudah beberapa tempo aku tidak menulis. Tetiba tiada kata yang bisa digurat. Aku tercekat atas sebuah fakta kiamat sudah dekat.

Dimulai dari membaca dan melihat video postingan di Facebook. Salah satu tanda kiamat adalah benyaknya pena (penulis dan buku-buku tak berbobot) bertebaran. Banyak pula dapat dijumpai perniagaan (HR Ahmad). Namun dari sumber lain menyatakan berbeda perawinya:

Dari Umar bin Tsa’lab r.a. berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah tersebarnya (melimpahnya) harta benda dan luasnya perniagaan. Dan pena-pena akan bermunculan yang menunjukkan banyaknya bacaan dan tulisan.” (Riwayat An-Nasa’i). Wallahua’lam bish shawab.

Dalam tulisan ini aku hanya mencoba menggambarkan dua hal itu saja. Lainnya mungkin sudah kelewat nyata terlihat. Dan karena dua hal itu berhubungan dengan aktivitasku tempo belakangan ini.

Banyak pena. Ya, sekarang penulis bukanlah hal yang eksklusif. Menerbitkan buku juga mudah sekali. Dengan self publishing membuat semua orang bisa membuat bukunya sendiri. Terlepas dari terkenal atau tidak, berbobot atau tidak. Pokoknya bisa. Termasuk aku. Aku maju mundur hendak mengirimkan naskah karena itu. Takut saja tulisanku masuk di kategori tak berbobot. Ah, atau aku terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran saja? Yang jelas fakta ini benar-benar membuktikan bahwa jadi penulis itu mudah sekali. Semua bisa menulis kan? Media cetak pun juga semakin mudah ditemukan. Bukan hanya satu nama, beribu nama. Kesemuanya menampilkan berita dalam persepsi masing-masing. Entah mana yang mendekati nyata. Ingat trending topic Bu Saeni? Kira-kira itulah arti banyak pena.

Berniaga alias berdagang bukan lagi perkara punya modal bisa menjual. Tak punya modal juga bisa ikut menawarkan jualan. Yang penting terjual. Lepas dari baik buruk mutu jualan. Telah banyak pedagang tak jujur marak ditemui akhir-akhir ini. Lihat saja, bahkan ada yang tega menjual hal yang tak layak jual. Contoh, kosmetik palsu, obat palsu, ponsel curian, ponsel rekondisi, makanan mengandung plastik atau zat kimia berbahaya lain, dan lain sebagainya. Subhanallah. Oleh karena itu, sebelum menjual sesuatu aku pasti mencoba dulu. Sesuatu yang kujual sudah pasti aku pakai juga. Aman dan baik, tawarkan ke yang lain. Begitu saja. Dan yang paling penting harga cicilan dan cash sama. Kalaupun akan membedakan harga maka korting ke pembeli cash agar tidak jatuh riba. Bukankah begitu baiknya? (Tentang riba insyaAllah akan dibahas di kesempatan lain).

Dengan kenyataan itu aku merenung. Terhanyut dalam perenungan dalam hingga inspirasi dan motivasiku menulis tertinggal jauh. Namun, aku tersadar saat membaca beberapa komentar untuk tulisanku. Mereka yang termotivasi atas apa goresan yang kutoreh. Terimakasih. Semoga tulisan-tulisanku bisa diambil manfaatnya. Bila ada yang salah tolong saja tegur aku. Seperti sebelum-sebelumnya. Kekuatan itu kembali menggerakkan tanganku, mengukir memori di blog pribadiku dan finishing naskah-naskahku.

Aku pun masih vakum mempromosikan barang jualan. Bahkan menghentikan salah satu jenisnya. Bukan apa-apa, ini masih Ramadhan. Aku tidak akan mencederai wall Facebook ku dengan promosi-promosi yang bersifat mencari “dunia”. Aku hanya akan memuat hal-hal yang bisa diambil manfaat untuk “akhirat”. Insya Allah.

Dan lagi, aku sedang berusaha menyandarkan usaha ini pada yang Maha Kaya. Tidak mengejar pembeli tapi mengejar manfaat dari transaksi. Manfaat atas nikmatnya bersyukur yang tak akan bisa terganti oleh rejeki “mak byur”. Sedikit dikasih banyak syukur, kalau langsung banyak dikasih takutnya takabur. Sama ketika ramai pasien saat praktek. Allah pula kan yang mengatur. Apa aku promosi? Dan Allah Maha Tahu. Saat pasien mulai mengenal dan cocok dengan terapiku aku harus berhenti. Mungkin agar aku tak kelewat sok pintar sok dibutuhkan. Selalu begitu. Tapi aku menikmatinya. Menikmati saat rehat untuk bisa makin “mendekat”.

Di penghujung pena, aku hanya berharap dua sisi yang aku khawatirkan di atas bukan menjadi penyebabku masuk dalam golongan yang tak mendapat ridho Nya.

 

Previous Older Entries