Kegiatan Persit: Ada Malas, Tiada Rindu

DSC_0201

kenangan saat mendampingi juri lomba Pos KB Kes Terpadu se PD XII th 2016

Melihat progress search terms, beberapa kali muncul keywords bertajuk “kegiatan persit”. Meskipun sudah sering kusinggung di artikel lain, tidak ada salahnya bila dibahas khusus dalam judul tersendiri.

Memang sih, bagi calon anggota dan anggota baru masalah “paksaan berkegiatan” sering menjadi tanda tanya dan ketakutan tersendiri. Bahkan pada ibu-ibu lama mulai pula rasa bosan dan malas. Itu-itu saja. Iya atau iya?

Pada umumnya kegiatan ibu-ibu persit ada beberapa macam:

1. Olahraga

Wajib: yang pertama volley ball (mungkin karena melibatkan banyak orang sekali turun, tidak terlalu melelahkan meski lebih mengandalkan kekuatan tangan). Coba kita renungkan bagaimana lah bila yang wajib itu basket atau sepakbola misalnya. Bisa “robek” otot kaki yang tidak terlatih olahraga. Yang kedua senam. Segala macam senam mulai dari kesegaran jasmani, poco-poco, maumere, aerobik, pinguin, zumba, senam kreasi, dan lain-lain.

Opsional: kasti (jelas ini lebih seru secara fisik dan mulut, seringkali ibu-ibu bertengkar hanya masalah pemberian skor yang kurang obyektif), bulutangkis, tennis, wood ball, dan sebagainya.

2. Pengajian, baik ceramah, tadarus maupun membaca surat Yaasin bersama. Frekuensinya bisa 2-4 kali sebulan.

3. Arisan dan pertemuan anggota 1-3 bulan sekali.

4. Posyandu 1 bulan sekali dan penilaiannya 1 tahun sekali.

5. Anjangsana dan kegiatan sosial lain bila ada.

6. Ketrampilan/pendidikan anggota: menjahit, masak, menari, dll

Tujuan diadakannya kegiatan tentunya agar ibu-ibu memiliki kesibukan lain diluar kegiatan di rumah. Agar tidak jenuh, bosan dengan rutinitas harian dan tentunya biar gerak biar sehat. Diharapkan juga dengan adanya kegiatan bersama ibu-ibu bisa lebih saling mengenal, kompak, bertukar pikiran. Tidak akan dibuat kegiatan dengan tujuan anggotanya saling menjelekkan, menjatuhkan. Terlebih lagi saat ibu-ibu ditinggal suami tugas pengamanan perbatasan (pamtas), satgas operasi di daerah konflik, atau latihan-latihan luar tidak suntuk dan sedih di rumah saja meratapi nasih. #ehh

Bayangkan, seorang gadis yang sebelum menikah pendiam, anak rumahan dipaksa berkegiatan. Bisa syok. Oleh karena itu, sebelum resmi jadi anggota ada orientasinya dulu. Dan yang paling penting suami harus mendukung istrinya ikut kegiatan. Paling tidak ijinkan istrinya bersosialisasi, bukan malah menghambat atau mengajari untuk jadi tidak peduli atau bahkan terprovokasi dengan rajukan istri yang malas unjuk diri. Minimalnya sekali, sang istri pernah keluar dan pernah dikenal.

Apa sanksi/hukuman bagi yang tidak ikut kegiatan?

Hal ini benar-benar sesuai kebijakan ketua. Pada dasarnya bila ada hak ada kewajiban. Hak untuk tinggal di asrama dengan fasilitas yang ada maka kewajibannya mengikuti aturan main disana, termasuk ikut kegiatan. Semacam di RT/RW pasti ada juga kan kegiatan meski frekuensi dan intensitasnya jauh berbeda. Prinsipnya ya sama saja. Yang malas kegiatan pun otomatis “dikucilkan” (sanksi sosial) dalam bahasa anak-anak “ndak usah kawan”. Hehe… Silakan saja memilih mana yang lebih baik untuk diri anda dan keluarga. Menurut hemat saya aktif di kegiatan baik saja, namun tetap utamakan keluarga. Maka, pandai-pandailah dalam bersikap. Bijaksanalah dalam menentukan sikap.

Bagaimana bagi yang bekerja secara pribadi?

Hal ini juga menjadi kebijakan ketua di satuan. Pada dasarnya, sebagai anggota yang baik, kita tetap harus perhatian terhadap kegiatan. Meluangkan waktu untuk ikut dan berkumpul bersama. Pikirkan bahwa mereka yang tidak bekerja akan merasa iri karena ibu-ibu sempat dan bisa bekerja di luar sedangkan mereka tidak. Mereka akan direcoki dengan kegiatan-kegiatan persit. Mereka terus, mereka lagi. Maka sempatkanlah kegiatan sebisa mungkin. Namun, di pihak lain para ibu yang tidak bekerja juga cobalah memahami, ibu yang bekerja lebih banyak tuntutan dari pekerjaannya. Bila ditambah dengan kegiatan persit bagaimana capeknya. Kalau memang ibu-ibu persit dilarang bekerja secara pribadi ya tolong para atasan keluarkan aturan tegasnya. Agar yang meghadap nikah sudah sepakat istrinya semua IBU RUMAH TANGGA. Selesai perkara!!! Nyatanya tidak begitu bukan? Maka jangan salahkan yang bekerja bila mendapat keringanan dalam kegiatan dan yang tidak bekerja tidak usah iri karena itu juga pilihan. Takdir hidup yang berbeda. Ikhlas saja.. semua akan indah.

Kenapa yang disuruh ikut lomba atau kegiatan itu-itu saja (baca:orang-orang lama)?

Sebenarnya bisa dipahami, ibu-ibu anggota lama pasti anaknya sudah bisa ditinggal, tidak terlalu terbeban saat meninggalkan dalam tempo agak lama. Maka ya pastinya yang dipilih itu-itu saja. Pengkaderan ibu-ibu aktif pun butuh waktu. Kalau menurut hemat saya, ibu-ibu baru pun akan segan untuk unjuk diri  takut dikira sombong, sok, cari perhatian dan alasan utama enggan sibuk karena pengantin baru pasti berorientasi “bikin anak” jad pahami saja kelak juga mereka akan jadi “ibu-ibu lama”. Kemungkinan juga mereka berpikir ibu-ibu yang sudah lama di satuan pasti sudah jauh lebih pandai, lebih berpengalaman. Nanti juga ada waktunya berhenti berkegiatan.

Dan di saat itu terjadi, rasa rindu untuk kegiatan kembali pasti perlahan menelisip di kalbu. Akhirnya pada cari-cari kesibukan (pengalaman pribadi, euy..). Hehe…

Maka, renungkanlah. Kegiatan di satuan ditujukan bukan untuk mengusik hari ibu-ibu (dengan catatan kegiatan yang proporsional: diadakan rutin, tidak terlampau berat apalagi mengganggu kegiatan rumah tangga) namun untuk mengisi kekosongan hari agar ibu-ibu di asrama saling kenal semua tidak melulu membuat grup (lorong/barak) masing-masing dan menggosipkan grup yang lain. Toh juga saat kegiatan berlangsung ibu-ibu yang punya jualan pasti eksis dan menerima uang tambahan. Betul atau betul?

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. putri
    Dec 23, 2016 @ 16:40:24

    Assalammualaykum wr wb
    Ibu ayu. Saya tgl 25 des 2016 besok lamaran rencana ini sudah 3 bulan sebelum calon saya yg merupakan anggota tni ad perwira jalur karir pengumuman penempatan. Kami sm2 dari malang
    Hari ini dy pengumuman penempatan di kodanm kasuari manokwari disisi lain saya bekerja d lembaga negara ojk penempatan jkt dan sudah d angkat sebagai peg dengan pendidikan satu tahun namun selam 3 tahun kedepan saya tdk boleh keluar jika keluar di denda dan nominal dendanya besar.
    Untuk pindah pun saya rasa msh sulit dengan mengingat ojk lembaga br.
    Apakah mungkin seorang persit tetap berada di jkt? Tidak ikut suami? Bagaimana pendapat bu ayu?
    Terima kasih

    Reply

    • ayuseite
      Dec 25, 2016 @ 23:16:21

      Waalaikumsalam wr.wb.
      Pertama, saya ucapkan selamat atas lamarannya dan selamat bergabung dengan Persit KCK nantinya.
      Kedua, saya ingin menekankan bahwa inti dari berkeluarga adalah hidup bersama. Dan bila ada kendala untuk tidak hidup bersama adalah bagaimana kesepakatan suami dan istri. Apabila calon suami mbak Putri bersedia hidup berjauhan dan ridho silakan saja untuk melangkah ke hal ketiga…
      Ketiga, Persit adalah sebuah organisasi dimana ada ketua serta kepengurusan disana. Maka, apabila tidak bisa bergabung usahakan untuk meminta ijin serta membicarakan baik2 kepada ibu ketua dan mengikuti bagaimana petunjuk serta arahannya. Jangan lupa, meskipun sudah diberikan kelonggaran untuk tidak berkegiatan tetaplah luangkan waktu untuk mengikuti giat Persit sewaktu ada waktu senggang menjenguk suami.
      Demikian mbak Putri yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: