Catatan Perjalanan #1

Kereta ini penuh meski belum memasuki liburan. Aku sengaja memilih tempat duduk termurah, dekat toilet. Karena aku memang tak bisa jauh dari tempat penting itu.

“Ini masih hari kamis, heran gue kenapa penerbangan pagi maskapai manapun penuh,” seru seorang laki-laki yang gelisah dari bangku belakang, “Iya, aku harus segera tiba di Changi,” ia sedang mengelap peluh saat kutengok arah suara. Ia sedang menelpon koleganya, kurasa. Percakapan mereka cukup keras, terdengar sampai beberapa baris ke depan.

“Apa beda kereta Argo satu dengan yang lain ya, Pak?” seorang gadis pemilik EO besar, hal ini kuketahui di beberapa percakapan ke depan, bertanya polos justru ke Bapak yang sedang gelisah.

“Sama saja, Mbak, sama eksekutifnya.” Jawabnya tanpa berat hati. Sepertinya si Mbak pemilik EO tersebut tidak mengganggunya. Tentu tidak, Ia cantik dan menawan. Bisa jadi teman bicara saat gelisah mendera.

“Ooo… ya? Saya baru pertama kali juga naik kereta api. Sekretaris saya tidak bisa menemukan satu tiket pesawatpun untuk saya. Sepertinya kita senasib ya, Pak?” Si Mbak mencoba berkelakar.

“Ah ya.. heran saya… padahal belum hari libur. Saya harus segera ke Singapura. Kapal saya nge-deck di sana.” Jelasnya tanpa diminta. Mungkin, hanya mencoba berbagi perasaan.

“Bapak punya kapal? Kontainer atau Ferry? Saya jadi ingat waktu harus bawa boat untuk acara di Singapura. Kapal yang bawa tertahan karena ombak. Stress bukan main saya Pak…” curhat si Mbak.

“Kontainer, kapal besar. Kapal saya tidak akan mungkin tertahan oleh ombak. Delapan meter sekalipun. Hajar saja.” Jawabnya jumawa, meski kutahu kegelisahan masih menggayut di dada. Ia tengah mengejar penerbangan dari kota lain untuk menuju Singapura. Sedetik meleset kapalnya akan tertahan lebih lama. Bisnis meleset pula. Percakapan selanjutnya aku tidak mendengar lagi. Sepertinya mereka tengah melakukan negosiasi bisnis, bisnis bongkar muat barang. Perkapalan skala internasional dan Event Organizer raksasa. Mungkin.

Pandanganku tertuju ke baris depan. Keluarga bule 2 pasang, blasteran Indonesia. Yang satu pasangan baru. Pasti anaknya kelak blasteran dan bingung mau jadi WNA atau WNI. Klise. Yang satu sudah punya anak 3, 2 perempuan dan 1lelaki, dengan gaya trendy khas kanak-kanak USA. Beruntung KATV menyiarkan kartun berbahasa Inggris sehingga anak-anak itu bisa duduk tenang, menyimak dan sesekali tertawa. Tepat di belakangnya, 8 kursi ditempati warga etnis Tionghoa. Ah, tepatnya 6 orang dan 2 lagi suku Jawa sebagai pengasuh anak-anaknya. Mereka asyik memainkan Aple masing-masing hingga si anak gadis sekira 8 tahun berteriak, “Mommy… bleeding,” seorang wanita yang dipanggil mom di belakangnya sontak ke depan dan meneriakkan “tisue” ke pengasuhnya. Ia malah menidurkan anaknya. Rasa ingin tahuku muncul. Epistaksis? Kenapa ditidurkan? Aku cuek saja. Malas membantu mereka. Pasti tersinggung. We are “different”. Entah bisnis apa yang akan mereka lakukan di kota tujuan. Yang jelas mereka hendak menginap di hotel Hilton. “Hanya” piknik, mungkin.

Tepat di depanku, dua orang wanita yang tidur sepanjang jalan. Mengorok. Tak ada cerita darinya yang bisa kuamati, kudengar, kuambil hikmah. Hanya menerima takdir bahwa aku tidak bisa tidur karenanya.

“Pletak,”

“Maaf, Pak, saya berusaha menaikkan separator kursi tapi sepertinya rusak sampai mutar ke belakang,” aku meringis

“Nggak apa-apa, Bu, biarkan saja di sini,” komentarnya sambil menyilahkan ketidaknyamanan itu, “Tidak mengganggu ya, Pak… maaf,” takzim.

Selanjutnya kuperhatikan bapak di belakangku ini memang tidak terganggu. Ia sibuk mendengarkan musik dari headsetnya. Ia masih muda, mungkin juga seumuranku. Nampak dari perangainya ia seorang pekerja keras. Apakah kepergiannya urusan bisnis juga?

Di sebelahku, sepasang suami istri yang baru pertama kali naik kereta api. Super. Mereka asli dari Banjarmasin. Sang istri banyak bercerita. Ia melakukan perjalanan bisnis ke 2 kota sekaligus. Super sekali.

Tepat di depanku, seorang Ibu dan anak (maaf, idiot) nampak gelisah. Aku hanya memperhatikan dan tersenyum. Ia malah membagi kegelisahannya padaku. “Saya ada janji dengan yayasan yang menangani anak saya jam 12. Lebih dari itu sudah ditutup loketnya. Sedangkan kereta ini baru sampai 1 menit sebelumnya. Sempatkah saya?” Ia menggigit bibir, “saya berusaha mengejar kereta terpagi, tapi adiknya sekolah, saya antar dulu, ini pun saya diam-diam perginya. Bagaimanalah ini?” Jujur aku pun tak bisa menjawab. Aku bukan pekerja yayasan. Belum pernah pula ke sana. Aku harus jawab apa? “Semoga masih buka ya, Bu.. loketnya nunggu Ibu,” aku mencoba berkelakar, Ia pun tersenyum dan menjelaskan keadaan anaknya.

Sisa perjalanan kugunakan untuk mengamati keluar jendela. Keindahan pegunungan, sawah, dan ekstrimnya jembatan kereta ini yang melintas antara perbukitan. MasyaAllah. Antara kagum dan ngeri bila jatuh meluncur ke bawah. Audzubillah…

Perjalanan: Indah bila dinikmati, Membosankan bila kita terpaku pada tujuan akhir, Ngeri bila memikirkan hal-hal yang nihil terjadi. Begitupun hidup. Nikmatilah proses hidup dengan bersyukur, ikhlas dan sabar menjalani segala yang terjadi. Itu sudah lebih dari cukup untuk bahagia.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: