Psikologi Persit

Tulisan ini berlatar belakang dari adanya seorang anggota persit yang saya tidak kenal, tidak bernama, komentar di bawah tulisan saya tentang “Bubarkan Persit!!”, saya yakin Ia terprovokasi dengan judul, bukan isi artikel seutuhnya. Begini kira-kira isi komentar tersebut:

“Bener bubarin, tidak  ada untungnya, hanya menggosip sama doktrin otak ibu2 saja untuk gosipin org2, buang2 anggaran” 

Well, what do you think about it? Jujur saya prihatin, berarti beliau mendapat perlakuan yang tidak baik, hidup di lingkungan anggota Persit yang tidak baik pula. Sehingga kesannya terhadap Persit tidak baik. Mungkin, secara psikis ia pun tidak ada “kuasa” untuk mengubah. Dan mayoritas begitu adanya.

Lebih ekstrem lagi, saya sudah menemukan dua kasus di depan mata yang saya pribadi tega mendiagnosis dengan F.20. Kenapa bisa terjadi?

Psikologi, singkatnya ilmu kejiwaan, memiliki sekira 14 cabang. Diantaranya psikologi abnormal, perkembangan, sosial, kesehatan, forensik, komparatif, lintas budaya, pendidikan, de-el-el hingga psikologi industri dan organisasi. Catat ini, Psikologi organisasi.

Persit adalah sebuah organisasi besar. Maka, saya menganalogikan dengan Psikologi Persit untuk tema tulisan kali ini.

Kalau di sebuah perusahaan, instansi, dan sejenisnya, pemegang peran ini berada di Divisi HRD (Human Resource Department alias bagian personalia) bagaimana kalau di organisasi persit? Mungkin seksi kebudayaan urusan bimbingan mental (bintal). Yaa.. mungkin bila nanti. 😁

Baiklah, mengapa saya berani menulis tema ini? Selain karena “terprovokasi” dengan komentar tak sedap di atas saya juga mengamati pun menyadari ada begitu banyak permasalahan yang kompleks pada tiap diri seorang anggota persit. Ijinkan saya menjabarkannya, sekali lagi ini semata argumentasi saya dan karena saya mencintai organisasi ini (terlepas dari ada/tidaknya gesekan dengan “oknum”).

Permasalahan pertama dan utama adalah menikah dengan anggota TNI AD itu sendiri. Konsekuensi yang sudah dibaca saat pemberkasan “menghadap nikah” pastilah sudah khatam dibaca. Bersedia ikut kemana saja namun di sisi yang lain harus siap bersedia ditinggal tugas entah berapa lama. Karena tahulah kita bahwa jiwa raga suami kita bukan milik kita seutuhnya. Milik negara. Mereka sudah diserahkan oleh orangtua mereka pada negara. Hidup mati untuk negara. Saya yakin, kita sebagai istri belum bisa 100 persen menyadari. Ego kita pasti akan melejit di saat-saat rumit. Dari permasalahan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa istri prajurit harus MANDIRI. Luas sekali pengertiannya bukan? Ya, paling tidak kita tidak tergantung dengan suami kita (sumpah ini susahh!!), tidak merepotkan dengan merengek tentang tetek bengek remeh temeh (ini pun masih sering saya lakukan, hehe). Konsekuensi berikutnya dari menikahi TNI AD adalah tergabung dengan Persit. Otomatis. Tujuan keanggotaan, gampangnya agar antaranggota saling membantu, bersinergi, bahu membahu mendukung suami. Bukan saling menjatuhkan, saling hujat, dan saling tidak baik lainnya.

Permasalahan kedua, gaji TNI ya segitu gitu aja. Kita harus pandai-pandai mengelola keuangan. Sebisa mungkin minimalkan hutang, hidup sederhana. Bagi istri yang bekerja pasti tidak akan kerepotan masalah uang tapi akan ada kerepotan lain utamanya masalah membagi tenaga dan pikiran. Antara rumah, tempat kerja, dan organisasi. Dari masalah keuangan ini banyak hal yang bisa kita tarik. Keterbatasan keuangan membuat istri yang tidak kuat frustasi juga. Yang kreatif bisa menjahit, memasak, menyulam, merajut, bercocok tanam, dll pasti akan memaksa diri untuk membuat sesuatu yang menghasilkan. Atau yang punya modal akan berjualan. Sistem cicilan. Itu hal marak di lingkungan ibu2 mana pun. Hati-hati dengan giuran ini. Beli yang perlu bukannya perlu beli ini itu. Kebijakan atasan untuk mengadakan “arisan” sebenarnya untuk membantu memaksa menabung. Namun nyatanya malah dihabiskan saat itu juga saat menerima.

Permasalahan ketiga, lingkungan asrama dengan rumah berdempetan, dalam waktu lama, ketemu itu-itu saja. Memicu banyak gesekan sosial (ahh.. sebenarnya psikologi persit itu kompleks, mencakup psikologi sosial, pendidikan, perkembangan juga). Tak terhindarkan rasa iri, dengki, dan rasa-rasa lainnya. Tetangga beli TV baru, iri (jeleknya lagi si tetangga emang hobi pamer). Tetangga punya motor baru, iri. Bahkan tetangga bisa masak enak aja iri. Perasaan-perasaan tersebut lah yang memicu “rasan-rasan” alias bisik-bisik antartetangga yang sama-sama iri. Bahkan ada diberi bumbu-bumbu, percikan api hingga ada istilah “kompor tetangga”. Itulah mungkin yang dimaksud dalam komen, menggosip dan doktrin untuk nggosip. Ah, padahal itu hanya oknum. Oknum yang iri. Maka, oleh sebab itu diperlukan HATI YANG LAPANG, penuh rasa syukur, ikhlas dan sabar menghadapi ujian berupa “tetangga”. Alih-alih berkumpul untuk menggosip, sebaiknya berikan tenaga dan waktu untuk berkreasi. Ibu ketua yang tanggap pasti akan banyak memberikan jadwal kegiatan kreatif. Tapi, seringpula dianggap “cari-cari kesibukan” oleh anggota. Jadi serba salah. Kegiatan dimaksudkan untuk mengisi waktu luang agar tidak sia-sia hanya membicarakan yang tidak perlu. Ujung-ujungnya pasti gosip. Setan sudah menguasai keadaan! Sadarlah itu. Sayang, niat baik tak selalu baik.

Permasalahan selanjutnya adalah rentetan kunjungan atasan. Entah kunjungan kerja atau hanya sekedar mampir berkunjung. Selalu lah ibu-ibu sibuk. Siapkan makanan, bersih-bersih (istilah kerennya korve), tampil cantik, nitip anak. Dan sebagainya. Mungkin inilah yang memicu komentar “buang-buang anggaran”. Hmm… sebenarnya tiap atasan datang berkunjung pasti berpesan jangan repot-repot. Sayangnya, tradisi timur menangkap pernyataan itu bermakna sebaliknya. Masa iya kita tidak menyambut atasan, nanti kena teguran. Yah, tidak salah menyambut tapi juga semampunya. Tidak lah sampai buang anggaran. Kalau anggaran yang dimaksud anggaran pribadi yaaa itu sangat keterlaluan. Dinas pasti ada uang. Tinggal mengelola seefisien mungkin. Kemudian, bila yang dimaksud komentar buang-buang anggaran yang dimaksud adalah uang transport, uang arisan, beli ini itu kebutuhan personal organisasi berarti si ibu tersebut tidak menempatkan pos keuangan terhadap organisasi dengan baik. Atau ia terlalu tergiur untuk konsumtif. Meminjam filosofi organisasi Muhammadiyah, hidup-hidupilah organisasi jangan mencari penghidupan di organisasi. Buang-buang anggaran lain yang kemungkinan dimaksud adalah tradisi pemberian souvenir saat pindah atau saat kembali dari bepergian. Lah, itu tidak wajib, tidak ada yang menuntut. Bila tidak sanggup ya sudah jangan memaksa. Bila dijadikan bahan omongan ya maklumi saja. Namanya mulut tidak akan bisa dicegah. Kita hanya bisa mencegah hati kita untuk tidak “merasa”. Berlaku lah bijak, maka lingkungan akan menyikapi dengan bijak pula. Bila ingin memberi, beri dengan ikhlas bukan terpaksa. Bila tidak memberi, tidak karena alasan pelit yang menyakiti.

Permasalahan terakhir namun bukan berarti paling akhir, aturan yang mengikat di organisasi dibumbui kewajiban ber etika. Iya betul, aturan persit mengikat seperti tercantum di AD ART dan etika yang mengungkung sebagai adat ketimuran. Harus disadari dan dipatuhi. Kalau hanya itu saja mungkin kita sanggup karena ada hitam di atas putih. Namun, bagaimana dengan “tekanan” kasat mata dan aturan yang sengaja diikatkan padahal tidak seharusnya ada atau aturan mengikat tapi tidak tepat? Sebenarnya di sinilah letak kejiwaan seorang anggota persit diuji. Kuatkah ia? Sanggupkah ia? Bukan karena menjalankan roda organisasi namun karena bergaul dengan warna-warni sifat dan sikap istri anggota TNI yang bhineka. Menghadapi watak dan karakter yang unik. Namun begitu, seharusnya kita selalu kembalikan (andai saja semua anggota Persit mulai dari istri tamtama hingga perwira tinggi menyadari) bahwa organisasi ini dibuat dengan asas kekeluargaan, maka tidak ada keluarga yang hanya basa-basi. Sewajarnya, tulus dari hati. Tidak ada “muatan”, hanya saling mengayomi. Saling memahami serta menghormati bahwa tiap individu itu berbeda. TIDAK DIPAKSAKAN SAMA.  Tidak melulu bicara “saya saja bisa”. Indah bukan? Niscaya tidak akan ada yang berani membatin “Bubarkan saja Persit”. Sebaliknya, saling bersinergi untuk mewujudkan visi misi yang terpatri di lagu hymne dan mars yang abadi. (Sayangnya ini semua masih jadi mimpi.)

Ijinkan saya menutup artikel ini dengan harapan persit akan kuat. Jiwanya sehat. Hati-hati dalam bersikap adalah sebuah kebijaksanaan. Sebuah kematangan jiwa seorang persit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: