Resume: RTD

(Rembulan tenggelam di wajahmu, 2009)

Novel ini, beberapa tahun silam sudah kubaca. Namun hanya sekilas. Nampak berat bahasanya, pesan yang akan disampaikan terlalu rumit bagiku dulu, tentunya dengan gaya penulisan maju-mundur Bang Tere Liye seperti biasa.

Tahun ini, kubaca kembali. Dan sudah kutemukan makna besarnya. “Kunci” utama kutemukan di Novel Ayahku (bukan) Pembohong. Kalau sudah dapat kuncinya maka buku lainnya akan mudah saja dimengerti. Menurutku. Hal ini sifatnya tentulah subyektif.

Kisah berawal di sebuah panti asuhan dan berakibat seorang anak lain masuk panti juga. Masih berlatar imperium bisnis yang mayoritas dikuasai Taipan curang, preman, perkelahian.

Tokoh utama bernama Rehan (Ray) yang tumbuh di panti asuhan milik sepasang suami istri tak beranak. Sayang, sang suami memiliki tujuan besar. Naik haji bagaimanapun caranya. Sehingga Ia menarik belas kasihan para dermawan untuk menyumbang panti namun nyatanya uang itu ia timbun untuk naik haji. Kebengalan seorang Rehan justru menggagalkan rencanya tersebut, menginsafkannya, bahkan memberikan sukarela uang tersebut untuk si bengal pencuri uangnya.

Hukum “sebab akibat” itu nyata di dunia. Bahwa seseorang akan menjadi sebab terjadinya suatu hal pada orang lain, cepat atau lambat, “langit” akan adil sesuai hukum Nya. Bukan prasangka kita. Bahkan, tidak akan pernah bisa kita berandai-andai.

Rehan, kenyang akan pahit manisnya dunia. Ia pernah jadi penjudi, preman, pencuri kelas kakap, bahkan pengusaha bernaluri tajam pemilik gedung tertinggi hanya demi mencari jawab atas 5 pertanyaan besar hidupnya. Apakah hidup ini adil? Merupakan pertanyaan terbesarnya. Pengajarnya untuk hidup “menerima”, sederhana, justru adalah istrinya sendiri yang sampai ia meninggal belum tahu sejatinya.

Namun Rehan beruntung. Ia manusia pilihan “langit”. Pertanyaan2nya komplit dijawab oleh seseorang berwajah menyenangkan (malaikat pastinya) saat ia kritis di rumah sakit. Bahkan diajak berkeliling menjelajahi waktu. Menyadarkannya. Memberinya waktu berubah dan “kembali” dengan indah.

Cerita ini bagaikan hal mustahil bukan? Namun sangat mungkin. Tiada hal yang tidak mungkin. Jujur aku tak bisa merangkaikan cerita ini dengan lebih singkat dan indah. Berkesempatanlah untuk membacanya dan menarik pemahaman luar biasa. Berikut kutipan2 dalam novel tersebut.

–Quotes:

1. Semua orang selalu diberikan kesempatan untuk “kembali”. Sebelum maut menjemput, sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberikan kesempatan untuk mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya. Ada yang mendapatkan kesempatan itu dari buku, dari penjelasan orang di sekitarnya, dari apa yang terukir di langit, tergurat di bumi atau yang tergantung di antaranya.

2. Kering atau basah nasib sebutir gandum sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindungi. Tidal peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupi. Kalau malam itu ditentukan basah, maka basahlah dia. Sebaliknya. Bagaimanapum cara “Nya”. Kalau urusan sekecil itu saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan.

3. Bagi binatang, tumbuh2an, dan benda mati kehidupan adalah sebab akibat. Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan. Begitupun manusia. Bedanya, bagi manusia sebab akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain lagi, kemudian entah pada siklus keberapa, kembali ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.

4. Tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk, dan sebaliknya tidak ada  iat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara baik-baik.

5. Dengan tidak tahu sebab-akibat kehidupannya maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan, mereka akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang diambil akan mengakibatkan sesuatu hal di kemudian hari, kemudian tahun dst baik pada diri sendiri pun orang lain.

6. Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langit yang menentukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.

7. Hampir semua manusia pernah mengeluarkan pertanyaan “apakah hidup ini adil?” Dari jaman batu hingga entah kemana peradaban manusia akan dibawa. Muda-tua, laki-perempuan, kaya-miskin, sehat-sakit, raja-pelayan, panglima-pesuruh, tidak mengenal ras, suku, agama, tidak mengenal batas. Tidak peduli meski orang tersebut manusia pilihan. Utusan2 “langit”. Bahkan kadang orang2 terpilih sekalipun lalai mengenali “bentuk2 keadilan” karena kita selalu berusaha mengenalinya dari sisi kasat mata

8. Ada sebuah olok2. Sayangnya serius. Buat apa kehidupan panjang yang baik jika penghujung sebelum maut harus berakhir dengan keburukan. Lebih baik kehidupan panjang yang buruk tapi di penghujung sebelum maut datang berakhir dengan kebaikan. Namun siapa yang bisa tahu akan “berakhir” kapan. Itu sudah ketentuan langit.

9. Bukan sia-sia, tapi berikanlah yang terbaik. Karena yang terbaik itu akan kembali pada kalian.

10. Pembalasan di dunia hanya sepotong kecil dari keadilan langit. Ada cara lain Tuhan untuk membuat timbangan keadilan berjalan baik. Pembalasan hari akhir itu nyata.

11. Berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan.

12. Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.

13. Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit bumi bersekutu menggagalkan. Sebaliknya.

14. Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. Hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. BERBAGI. ya, berbagi apa saja dengan orang lain. Setidaknya hal itu bisa membuat hati damai sehingga bisa menerima dengan lega.

15. Seseorang yang memiliki tujuan hidup, maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya, kenapa dia harus dilemparkan lagi dalam kesedihan. Baginya, semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan semuanya untuk menjemput tujuan itu.

16. Hampir setiap orang memiliki pertanyaan ini. Mengapa hidupku hampa? Persis sama seperti anak kecil yang iri dengan mainan baru milik temannya. Aku nau mainan itu! Seru mereka. Sama dengan orang dewasa berseru: aku pikir kehidupan mereka lebih indah! Aku pikir semua kekayaan itu menentramkan! Aku pikir aku akan merasa cukup!  Aku pikir! Soal dunia seperti ini kita sungguh menyedihkan. Kenapa? Karena kita sudah terjebak dalam siklus mengerikan. Terjebak keinginan2 dunia. Mencintai dunia. Dan lazimnya pecinta dunia maka sungguh tidak akan pernah terpuaskan oleh yang disediakan dunia. Tapi apapun latar belakangnya, orang2 yang keterlaluan mencintai dunia tetap tidak akan pernah menemukan jawaban dari dunia.

17. Orang bijak berhasil menghaluskan hatinya secemerlang mungkin membuat hatinya bagai cermin. Maka dia akan merasakan kebahagiaan melebihi orang terkaya sekalipun.

18. Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak “perbandingan” berdasarkan versi mereka. Menerjemahkan nilai 100 itu bagus nilai 50 itu jelek. Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin.

19. Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan maka kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik, janji masa depan. Ketika kau merasa hidup menyenangkan dan selalu merasa kurang maka lihatlah ke bawah pasti ada yang lebih tidak beruntung. Hanya sesederhana itu. Debgan begitu kau akan selalu pandai bersyukur. .

20. Dengan ketidaktahuan bukan berarti Tuhan jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.

21. Ada satu janji Tuhan yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaanNya. Itulah janji menatap wajahNya. Tanpa tabir, tanpa pembatas. Saat itulah rembulan tenggelam tiada artinya. Sungguh seluruh pesona dunia akan layu. Percayalah akan janji itu maka hidup kita setiap hari akan terasa indah.

Hidup ini sungguh sederhana. Bekerja keras, namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi. Senantiasa bersyukur dan berterimakasih maka sejatinya kita sudah menggenggam kebahagiaan hidup. Semoga Tuhan YME memampukan kita. Aamiin.

Selamat membaca dan berkelana menembus waktu.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: