Resume: Dwilogi Negeri

Tidak seperti novel-novel Tere Liye yang lain (setidaknya yang sudah pernah kubaca) terpampang jelas di halaman depan bahwa cerita ini hanyalah fiksi, bila ada kesamaan tokoh dst dst hanyalah kebetulan. Jadi menurutku, justru kedua novel dwilogi ini tidak semuanya fiktif. Di dalamnya “menceritakan” sesuatu rahasia yang sangat berani. Berlatar belakang kasus bank Semesta (terjemahan dari Century) dan proyek pembangunan gedung olahraga yang sudah jadi rahasia umum itu. Juga, konspirasi politik yang kebal hukum. Maka, terkenal sebuah istilah mafia hukum. Anehnya, justru praktisi hukum tingkatan tertinggi yang terlibat. Mereka di”pimpin” sentral oleh seorang penguasa shadow economy kaliber dunia timur (pusatnya di Hongkong, China, Makau dan sejenisnya). Jadi, bisa dibilang pengendali ekonomi gelap di Indonesia, Asia, ya di sana. Anehnya, ekonomi macam begitu justru menjadi hal “terkuat”. Bukan rahasia bukan? Bila rahasia tak yakin Tere Liye akan mengungkapkan semua dengan versinya. Terlepas dari itu hanya cerita khayalan atau betulan rasanya sangat nasuk akal.

Lantas apa kaitannya ekonomi dan politik? Jelas ada, ekonomi seperti itu hanya bisa berkembang dan kondusif bila dilindungi para petinggi (baca: penguasa politik) serta akan bebas bergerak dengan kekebalan hukum. Dengan apa mereka membeli itu semua? Apalagi kalau bukan uang. Uang mereka banyak sekali. Tidak terekam. Takkan terendus.

Politik itu kejam. Tak kenal kawan. Semua adalah lawan. Bahkan, keluarga juga bisa bertempur karena politik apalagi dibumbui dengan isu ekonomi.

Baik, kisah diawali dengan Negeri Para Bedebah lanjut Negeri di Ujung Tanduk. Jelas bahwa negeri dalam cerita penuh dengan para mafia hukum dan ceritanya akan diadakan pemilihan presiden. Demokrasi. Pilihan suara terbanyak. Thomas, konsultan politik terkemuka yang mencalonkan satu orang nama, JD, yang diusung pula oleh banyak partai politik sangat percaya calonnya bersih. Akan memenggal para koruptor dan mafia hukum. Maka, ia pun dibenci. Dijatuhkan. Dijegal. Dijelek-jelekkan. Kesederhanaannya memikat massa. Tidak untuk partai politik yang bisa”membeli” suara dengan dukungan mafia. Itukah demokrasi? Justru demokrasi yang dikatakan suara rakyat, suara Tuhan itu dikotori dengan “pembelian” suara rakyat. Mudah sekali mereka disumpal uang haram itu. Ya, hidup butuh uang. Rasanya hanya segelintir orang di negeri para bedebah yang punya kehormatan mempertahankan suaranya. Akhirnya, negeri sudah di ujung tanduk. Bila petinggi hukum pun menutup mata atas kesalahan. Apa yang bisa dipertahankan atas kehormatan suatu negara?

Andaikan kisah ini nyata di akhirnya, pasti indah. Namun fiktif sayangnya.

Thomas sang petarung sejati keponakan pengusaha yang dikorbankan para mafia hukum, di remisi masa tahanan untuk menyelamatkan nama mereka, berhasil memenangkan presiden calonnya dan membekap pimpinan tertinggi mafia di Hongkong. Andai itu benar, maka makmur tentramlah negara. Tidak di ujung tanduk lagi. Hukum tegak rakyat bergerak. Ekonomi tidak akan didominasi segelintir kaum elite. Tidak ada lagi shadow economy yang membelit mati.

Dalam kedua novel ini penuh pertarungan (dalam arti sebenarnya, macam yang ada di novel Pulang) menyuguhkan sudut pandang bercerita yang beda ala Tere Liye. Sosok ideal Thomas, pemuda 34 tahun peraih 2 gelar master pemilik perusahaan konsultan besar di Negaranya, blasteran China, kaya raya menjadi centre di setiap halaman buku. Ya, dialah pemeran utamanya.

By the way, sudah banyak novel Tere Liye yang mengangkat etnis China (Tionghoa). Entah karena Tere Liye sebenarnya ada keturunan sana juga atau beliau hanya “mengerti” bahwa negara kita sudah mulai di”ekspansi” oleh “saudara tua” tersebut. Di novel Kau, Aku dan sepucuk Angpau Merah bahkan mengangkat suku tersebut di Singkawang. Aku tahu betul daerah itu. Benar, sungguh seperti China Town. Sampai ada satu novel khusus tentang etnis itu, jadi sepertinya spesial. Entahlah.

Kembali ke resume novel. Intinya, novel ini menceritakan pemilihan Presiden demokrasi, dari sisi yang tidak di publish media. Omong-omong tentang media, diceritakan pula di sini bahwa media massa pun tidak obyektif lagi. Tulisan bisa dibeli. Bagaimana tidak, ini adalah negeri para bedebah yang sudah di ujung tanduk. Hanya dengan penegakan hukum semua akan menjadi lebih baik.

–Quotes buku 2 (bagiku, isi buku 1 sudah terwakili di buku 2. Tanpa membaca buku 1 sudah bisa merangkai benang merah di buku 2):

  1. Politik tidak lebih dari permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia. Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong harus dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut bisa menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh pemilih
  2. Pemilih lebih mementingkan angka ukuran kuantitatif dunia dibandingkan moralitas (kepemilikan senjata, LGBT, aborsi). Tingkat pengangguran, inflasi, harga BBM, kenaikan UMR dll. Siapa yang akan bicara tentang pendidikan anak terlantar jika perut sendiri kosong
  3. Apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? Omong kosong. Coba bayangkan sebuah kota yang dipenuhi pemabuk, pemadat, mereka mayoritas, maka saat undang2 tentang peredaran miras disahkan melalui referendum warga kota, otomatis menang sudah mereka. Begitupun kasus pernikahan sejenis, aborsi. Bahkan dalam kasus ekstrem jika penduduk kota sepakat pembunuhan dilegalkan maka dimana letak suara Tuhan?
  4. Brutus membunuh Julius Caesar adalah bukti kerakusan politik. Bahwa politik itu rakus. Bedanya dengan sekarang, pemain politik sekarang tidak memakai pisau. Mereka memiliki banyak wajah.
  5. Penegakan hukum adalah obat mujarab mendidik masyarakat yang rusak, apatis, dan tidak peduli lagi.
  6. Penjelasan akan tiba pada waktu yang tepat, tempat yang cocok dan dari orang yang tepat
  7. Hampir seluruh organisasi, lembaga, institusi, kepolisian memiliki faksi di dalamnya. Dalam kesatuan, tidak peduli meski telah tumbuh bersama, berasal dsri satu akademi, faksi atau kelompok akan tetap terbentuk. Ada yang secara alamiah, ada yang untuk tujuan tertentu. Faksi berdasarkan angkatan, gugus tugas hingga motif politik, ekonomi atau kekuasaan.
  8. Bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita jangan pernah berhenti peduli. Walaupun terfitnah kejam keluarga kita hingga rasanya sakit menembus relung hati jangan pernah berhenti berbuat baik.
  9. Akan tiba masanya orang-orang terbaik datang yang bahu membahu menolong dalam kebaikan
  10. Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir yang memilih jalan suci penuh kemuliaan
  11. Percayalah, jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya.
  12. “Filosofi pemburu kesepuluh” = akan selalu ada pengecut yang menjatuhkan, membaca peluang, bermain curang
  13. Jarak antara akhir yang baik atau buruk hanya dipisahkan oleh kepedulian. Kepedulian kita hari ini, sekecil apapun, bisa besar dampaknya pada masa mendatang.

PhotoGrid_1463094445407

Demikian resume saya atas dwilogi ini. Meski sudah terbit 2 tahun lalu namun baru membacanya. Ada baiknya membaca sendiri dan menebak-nebak hubungannya dengan negara kita sendiri. Selamat membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: