Oud Batavia

Kau tahu betapa bencinya aku dengan ibukota. Seingatku itu bermula sejak kedatangan pertamaku di kota ini dengan serombongan keluarga menghadiri pernikahan di kawasan Halim PK. Saat itu kami termasuk rombongan “elite” karena termasuk keluarga besar Jenderal dan mengendarai mobil dinas. Kemana-mana sudah “prioritas”. Tahun itu, ibukota sudah macet cet cet. Dari kawasan Halim ke Monas saja butuh waktu 1 jam. Betapa hal yang cukup membosankan. Lewat monas terlihat dari satu sisi tulisan Mabesad. Ada getaran aneh yang tidak bisa kudefinisikan. Bahkan saat itu kenal dekat saja belum dengan suamiku sekarang. Aku baru mengerti setelah terbukti bahwa suamiku adalah seorang prajurit AD dan bertugas di tempat yang kulihat itu. Subhanallah.

Aku membenci ibukota bukan hanya karena macetnya… tapi karena lingkungan dan pergaulan di sana. Nampak dari berita di televisi (yang menyesatkan itu — bahkan kini aku lebih memilih hidup tanpa siaran televisi) bahwa ibukota tempatnya preman, teroris, pergaulan bebas dan hal – hal buruk lain. Buruknya lagi, aku sangat terprovokasi dengan berita itu. Jerih sekali mendengar kata ibukota alih alih hidup di sana.

Seketika aku membulatkan tekad hidup di kota metropolis demi suamiku. Bersyukur mendapat rumah di pinggiran, bukan di pusat kota. Sedikit bisa lega walau tidak sepenuhnya demikian. Iba melihat suami yang harus berangkat selepas Subuh dan pulang di ujung pergantian hari. Sama-sama kami tidak bisa istirahat tenang, pun anak kami. Jeda libur 2 hari rasanya harus selalu bersama. Belajar “menerima” ibukota.

Kau tahu aku masih membenci kota ini di minggu pertamaku tinggal. Segala sesuatu dihargai dengan duit. Siapa berduitlah yang bisa eksis, alih alih bisa ngirit. Contoh kecil, puter balik mobil dibantu polisi cepek yang kerennya dipanggil pak Ogah. Dua ribu melayang. Kalau mau akses cepat (tidak menjamin tidak macet) naik jalan tol yang sudah pasti minimal 12.000 sekali jalan. Naik KRL 2.000 sekali jalan. Naik busway 3.500 sekali jalan (saat beli tiket harus beli yang pakai kartu 50.000 pula). Belum lagi tawaran-tawaran belanja murah namun memaksa harus banyak. Kejam. Parkir di mall saja sudah pasti 10.000 melayang. Pantas lah Car*4 memberikan subsidi free parking kalau limit belanja menyentuh angka 500.000. Sungguh kota yang mahal. Belum lagi makanan-makanan beraneka warna, macam dan harga yang super menggiurkan. Berapa rupiah sudah kukeluarkan aku pun lupa. Enggan mengingat. Belum ada satu bulan sudah ada hutang. Belum ada satu tahun sudah memecah tabungan.

Ya, semoga ini hanya bulan awal karena masih awal pindahan. Semoga, ya.

Rangkaian tanya pun mengusik di hati. BAGAIMANA cara hidup hemat, bagaimana menyiasati kosongnya waktu (perlu diketahui sekarang aku menganggur lagi tanpa ada pemasukan lain yang berarti) tanpa keluar duit, KENAPA duit ini amat tiada harganya di kota besar, KAPAN aku bisa menerima takdirku hidup disini, SIAPA saja yang bisa disebut teman yang bisa menemaniku, dimana aku bisa lari menghibur diri…? Sudah macam pertanyaan 5 W+ 1 H.

Well, duit memanglah hanya seonggok kertas tak bernyawa tapi ia telah didewakan sepertinya. Disini jelas sekali tantangan bagiku untuk tidak mendewakan duit tapi tetap bisa melakukan penghematan. Tidak untuk merisaukan masa depan tapi tetap fokus menatapnya. Sampai terbesit untuk “berbisnis”, tapi… selain Vitabumin, Susu Kambing, dan perkap Persit yang biasa kujual di kalangan terbatas dengan untung terbatas pula apalagi yang bisa kami lakukan? Teringat bisnis bebatuan yang gulung tikar, menilik cerita lama pembelian tanah yang berujung sengketa, atau bisnis kebun cabe yang tiada sukses. Karena bisnis adalah jiwa. Maka siapa yang tidak berjiwa bisnis hanya bisa meringis. Berhubung STR baru ku belum jua turun aku tidak bisa praktek dulu. Jadi, bukan bisnis ini yang kami tuju. Sebuah bisnis halal yang bisa menopang ekonomi keluarga kami selain dari gaji suami.

Tidak sampai satu bulan, Allah mulai menjawab satu persatu pertanyaanku. Dimulai dari teman. Takdir mempertemukanku pada teman lama. Kukenal pun tidak seberapa lama di kota perantauan sewaktu magang. Purbalingga. Tapi demikianlah takdir Allah. Seperti hal nya mempertemukanku dengan teman-teman baru di Singkawang. Tiada kejadian yang mustahil atau tiada maksud dan tujuan. Allah lah yang merencanakan. Di kesempatan yang singkat di Singkawang aku diijinkan Nya membantu 2 tim lomba untuk meraih juara. Tidak untuk menyombongkan diri. Sama sekali tidak. Toh aku juga tidak akan dikenang lama. Hanya memberikan sebuah gambaran bahwa Allah memiliki skenario sendiri. Bahwa tiap manusia dirancang untuk memiliki manfaatnya masing-masing. Bisa jadi Allah menyuruhku banyak belajar dari berbagai pengalaman hidup untuk mengemban tugas yang lebih besar. Namun mungkin betul kata pepatah lama, masalah orang lain bisa kita bantu selesaikan tapi masalah sendiri…?

Baiklah, kembali ke masalah “teman”. Ada beberapa teman baru yang kutemui. Sementara ini hanya sekedar kenal karena bertetangga. Repotnya hidup disini, tetangga mayoritas senior. Salah sikap takut fatal akibat. Akhirnya pantau dulu. Lebih banyak diam dan merenung. Eny, sahabat lamaku semoga kita bisa saling membantu.

Berikutnya masalah penerimaan. Suamiku yang juga penasehat spiritualku seakan tahu betul bagaimana “membawa” aku. Di suatu pagi di hari liburnya yang seharusnya untuk istirahat, ia mengajak kami keliling ibukota naik Kereta Rel Listrik (KRL). Selain karena ingin membuat Aya senang juga yakin pasti ada sesuatu yang ingin ia ajarkan, pastinya mengajarkan naik KRL. Ia menyebut stasiun Jakarta Kota tempat tujuan kami. Kupikir jakarta kota itu adalah jakarta pusat. Ternyata bukan. Justru terletak di Jakarta Utara. Ya, Kota Lama Jakarta. Oud Batavia. Di sini aku merasakan atmosfer yang berbeda. Bangunan lama ala Belanda membuatku sedikit belajar sejarah. Paling tidak itulah yang suamiku pahami betul tentang aku. Istrinya suka sekali belajar. Aku menemukan sebuah lapak buku murah. Kuborong novel karya idolaku, Tere Liye — yang artinya Untukmu –, dengan rasa tak sabar akan membacanya dan memetik pesan darinya. Sungguh, beliau bagai penasehat spiritualku juga meski hanya lewat tulisan.

Dan.. disitulah letak kesanku yang mendalam terhadap Oud Batavia. Selain keindahan kota lama juga karena ada “makna” kedatanganku kesana.

Jawaban selanjutnya pun otomatis terjawab. Aku mengisi kosongnya hari dengan membaca dan menulis lagi. Ya, sejak bekerja lagi aku sedikit melupakan hobiku ini. Saat ini aku sedang menikmati hidup dengan membaca dan menulis. Tak acuhkan bisikan orang lagi yang kembali usil menanyakan “kok nggak bekerja?” Salah sendiri suamiku merindukanku untuk berkata lantang, “aku bekerja sebagai dokter keluarga, koki keluarga, manajer keuangan, penulis,  sang MSI, master segala ilmu” terlepas aku belum berani juga menyetir mobil sendiri dan mengaplikasikan ilmu menyetirku. Wallahua’lam kapan ketakutan itu sirna. Bila terpaksa mungkin. Dan selalu begitu kisahnya. Terpaksa maka bisa. Bukan bisa karena biasa.

Dengan kunjungan kami ke Oud Batavia aku meraup 2 jawab atas 2 tanya. Aku mulai menerima dan menikmati hidup di ibukota dan menemukan sebuah cara mengusir sepi sekaligus memahami makna hidup yang berulang ulang kubaca di setiap novel bang Tere Liye, yaa.. bahwa hidup itu harus “menerima” dengan sebuah penerimaan yang indah. Ini berkaitan erat dengan ucapan suamiku tempo hari. Terima takdir dari Allah. Sama halnya dengan beriman kepada Qada dan Qadar. Itulah salah satu rukun Iman. Bahwa takdirnya tidak ada duit, terimalah. Bahwa takdirnya sakit, terimalah. Bahwa takdirnya tidak bekerja lagi, terimalah. Dan sebagainya. Maka, suatu saat skenario Allah akan berjalan lebih baik sebagaimana mestinya. Akan tiba saat busur panahku dilepas olehNya dan melesat sempurna. Atau paling tidak kita sudah menerima segala keputusan Nya.

Pertanyaan terakhir, dan paling mutakhir, mengenai BISNIS. Kata sahabatku, sekecil apapun usaha percaya dirilah menyebutnya itu dengan kata Bisnis, bukan usaha. Sebab usaha adalah suatu geliat yang otomatis kita lakukan tiap hari.  Ia bercerita banyak tentang awalnya berani memulai bisnis. Niatnya yang indah untuk berani hutang, mendirikan usaha untuk membuka lapangan kerja rasanya menihilkan dosa riba (bila hutang bank dianggap melaksanakan praktek riba). Ia, seseorang yang kusebut dalam artikel “tanpa judul” selalu membuatku tercengang dengan kisahnya. Aku takjub dan terkobarkan semangat. Ide suamiku untuk mengembangkan usaha yang sudah ada saja, resell vitabumin dan susu kambing Gomars pun kusambut pasti. Tanpa harus berpikir akan bisnis apa. Tinggal dilakukan lebih profesional lagi. Dengan cara yang berulang kali disinggung Ibu dan Adikku namun kuelakkan dengan seribu alasan. Tapi ini Jakarta. Everything will possible. Seumur hidup baru kali ini aku optimis sekali dalam memulai bisnis. Sedangkan tiada keturunan, jiwa pun darah businessman mengalir padaku. Berbekal keyakinan dan doa sepenuh hati kumulai bisnis kami. Dan semoga “langit” menaungi. FB_IMG_1462968332059

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: