Bubarkan Persit!!!!

**ini bukan aksi protes, bukan pula aksi menggurui, sebelumnya mohon ijin pada atasan bila terlalu vulgar**

Saya yakin semua yang bergabung di Persit KCK apalagi dengan “keterpaksaan” karena menikah dengan seorang lelaki anggota TNI AD pernah berpikiran demikian (Karena saya pun pernah begitu).

Dengan opini: persit itu merepotkan, mengada-ada, sok-sok’an, apa coba untungnya? dst dst (ada yang berani menambahkan? Hehehe..)

Merepotkan karena ibu-ibu berkutat dengan kegiatan rumah tangga belum lagi ngurus anak dengan segala keperluannya, belum lagi ibu-ibu yang bekerja secara pribadi. Mengada-ada yang memaksa karena udah enak-enak santai di rumah tapi dipaksa kegiatan sore-sore atau pagi-pagi yang lebih enaknya nyantai di kamar sambil nonton TV atau DVD Korea atau sekedar menatap layar smartphone terlebih yang jualan online belum lagi yang pulang dari kerja bahkan lebih-lebih lagi yang tidak dapat rumah di asrama, dan lagi arisan tiap bulan yang “memaksa” hadir (ahh mending alasan anak sakit deh meski cuma batuk pilek atau bilang aja diare), dan serentetan kunjungan yang tidak bisa diprediksi. Sok-sok’an terutama bagi ibu-ibu yang “kaget” dengan jabatan suami dan sok ingin dilayani (a.k.a senior-junior). Persit itu apa coba untungnya kegiatannya gitu-gitu doang… mending bubarkan saja lah… #ehh

Apa iya sebaiknya begitu?

Di tahun-tahun awal demikian saya berpikir. Apalagi namanya ibu-ibu notabene wanita yang punya perasaan dan sering terjadi gesekan-gesekan yang menyebabkan airmata menetes bahkan mengalir deras.

Namun.. akan tetapi..

Di saat saya betul-betul mencoba masuk ke dunia Persit (catat yaa Persit sebagai seutuhnya organisasi), memahami sejarah dan alur ceritanya, saya mencintai organisasi Persit. Kesampingkan lah tentang ego pribadi yang sedang ada masalah dengan oknum ibu-ibu atau apa… janganlah hanya karena sedikit masalah yang membuat hati tidak nyaman lantas menjelekkan Organisasi besar ini. Sekali kali jangan.

Bila Persit dijalankan dengan semangat leluhur para pendiri pasti akan lebih indah. Bukankah Persit adalah pendukung/pendamping TNI AD? Selama suami masih jadi TNI AD kewajiban menjadi Persit akan ditunaikan. Jadi, daripada mengingkari lebih baik menerima dengan penerimaan yang indah. Lebih baik menjalani dengan laku yang baik. Dan.. yang paling utama adalah KEIKHLASAN, ikhlas menerima “posisi” kita sekarang. Got it?

Nah, sekarang tugas kita apa di Persit? Cukup jelas. Sebagai anggota (maaf, sebut saja istri tamtama), ibu-ibu jangan sampai menganggap diri sebagai “bawahan”. Jangan sekali-sekali. Karena pada dasarnya kita semua sama. Sama-sama wanita. Hanya takdir yang membuat kita berjodoh dengan pangkat suami berbeda, berstrata. Tidak menampik kemungkinan kelak, ke depan, ibu-ibu pun akan berkesempatan pula menjadi istri perwira meski di usia kalian yang jauh lebih matang. Terima saja. Lakukan peran dengan ikhlas dan indah. Apakah peran itu? Bersikap sederhana dan ber etika yang baik, tetap sopan santun dan ramah pada siapapun. Tentang kegiatan harian, ikut saja sebisanya. Bila bekerja, sampaikan saja hambatannya. Menurut pengamatan saya saat ini istri-istri tamtama jauh lebih mapan dibanding istri perwira karena ia lebih leluasa bekerja menetap. Secara ekonomi jauh lebih bagus stratanya. Namun, apakah lantas istri bintara atau perwira kalian acuhkan? No, tetap hormati sesuai porsi. Kalian cerdas jadi jangan pura-pura tidak paham agar tidak dilibatkan kegiatan. Kelak, ketika sudah berada di atas, kalian akan mengerti, perlakukan ibu-ibu seperti kalian ingin diperlakukan. Itu saja.

Bagaimana dengan istri bintara? Mainkan peran kalian sebagai “asisten” pimpinan alias ketua. Karena bintara adalah penggerak (dalam satuan regu di kompi) maka mainkan pula peran kalian sebagai penggerak ke arah “kebaikan”, menurut atas kebijakan ketua, bukan sebaliknya.

Istri perwira? Jelas perannya lebih besar lagi… sebagai teladan, sebagai penentu kebijakan, maka diharapkan tidak sewenang-wenang. Sekali lagi perlakukan seperti kita hendak diperlakukan.

Lalu bagaimana dengan tugas-tugas di kepengurusan persit bila masuk menjadi pengurus? Lakukan sesuai job description yang sudah pernah saya jelaskan di “Mobil Organisasi”. Bila ada gesekan emosional antar sesama ibu-ibu (yakinnn ini seriiing terjadiii), kesampingkan, tetap selesaikan tugas dengan senang serta rela hati. Demi siapa? Demi diri kita sendiri. Demi suami. Persit tanpa kita toh tetap akan berjalan. Tidak akan ada yang hendak berani membubarkan. Lantas, kenapa kita tidak memberikan kontribusi yang layak dikenang? Kerja terbaik, dari hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: