Resume: Rindu

Novel Rindu mengangkat 5 pertanyaan besar dari 5 tokoh utama. Semua tentang permasalahan hidup yang “dibawa” oleh para jamaah haji yang berangkat kala itu.

Dalam novel kali ini kita diajak naik kapal Blitar Holland, seolah merasakan berada di atasnya berhari-hari mengikuti perjalanan ke tanah suci. Berangkat dari Makassar dan singgah di kota-kota besar tepian laut Indonesia termasuk Serambi Mekkah. Disini pula kita akan tahu kenapa Aceh dijuluki Serambi Mekah.

Sembari belajar sejarah, demikian kiranya setting novel Rindu ini. Berlatar penjajahan Belanda, konflik PD 1 hingga perebutan kekuasaan bahkan perompak Somalia diceritakan dengan apik oleh Bang Darwis.

Kisah ini berpusat pada seorang ulama Ahmad Karaeng yang bisa “menjawab” semua tanya dan masalah yang diajukan padanya pun 4 pertanyaan besar. Namun, pertanyaan besarnya malah dijawab oleh orang lain. Dan demikianlah adanya hidup. Masalah selalu ada. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jawaban sudah ada disediakan oleh Nya setiap dihadirkannya masalah. Mungkin akan terjawab sendiri, mungkin “langit” yang menjawab atau bahkan “dititipkan” melalui orang lain. Oleh sebab itu jangan pernah meremehkan orang lain. Bisa jadi ada takdir kita terselip disana.

Rindu yang diangkat di novel ini lebih mengarah pada rindu menghadap Illahi. Dalam artian ke tanah suci, bisa jadi. Dalam artian kembali sholat dan menyembahnya, ada juga. Rindu pada kekasih hati, boleh jadi. Ya… Rindu dalam artian sebuah ulah hati. Rindu atas definisi masing-masing yang mengalami. Rindu. Hanya Rindu.

–Quotes:

1. Perjalanan hidup manusia boleh jadi jauh sekali. Hari demi hari hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan itupun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun mungkin itu sebuah dermaga transit besar. Tapi itu semua hanyalah pemberhentian. Dengan segera kapal kita berangkat kembali menuju “tujuan paling hakiki”. Maka, jangan merusak diri sendiri. Kita boleh jadi membenci, marah. Tapi… tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri hingga selamat di dermaga akhir. Begitupun hidup kita, kapal kita.

2. Hidup akan rumit sekali jika kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu.

3. Berhentilah membenci orang lain, karena kau sedang membenci diri sendiri

4. Mulailah menerima takdir dengan lapang hati karena menerima atau menolak dia akan tetap terjadi.

5. Lihatlah sesuatu dari kacamata yang berbeda, dari sisi yang mengalami. 20160425_204738

Selamat membaca dan menemukan 5 pertanyaan besar dan 5 jawabannya. Sungguh mengesankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: