Resume: Ayahku (bukan) Pembohong

Ide penulisan novel ini adalah membesarkan anak dengan dongeng-dongeng yang relevan dengan watak anak serta penuh kesederhanaan. Karena hidup sederhana lebih dekat pada kebahagiaan hakiki. Menuju hakikat kehidupan, tentunya. Dalam perjalanannya si anak membenci sang ayah karena dianggap berbohong meski akhirnya setelah ayahnya meninggal Ia baru sadar ayahnya bukan pembohong. Menilik “hakikat” si ayah, jelas Ia bukan pembohong, namun sejujur-jujurnya ia hanya orang-orang terpilih yang memahami bagaiman kisahnya bukanlah kisah dongeng belaka dalam sebuah fiksi.

Hmm.. Lebih nyaman bila membacanya sendiri karena novel ini penuh dengan dongeng yang sarat makna. Bahkan kata-kata saya tidak akan cukup mendeskripsikan pesan Bang Darwis yang termuat di dalamnya.

–Quotes:

1. Yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bahkan, kebanyakan orang justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain.

2. Bahkan gajah bisa mengingat banyak hal, apalagi anak-anak yang sedang tumbuh belajar.

3. Kekuasaan itu cenderung jahat dan kekuasaan yang lama cenderung lebih jahat lagi. Semua orang cenderung pembantah, bahkan untuk sebuah kritikan positif, apalagi tuduhan serius berimplikasi hukum, lebih keras lagi bantahannya. Bangsa yang korup bukan karena pendidikan formal anak-anaknya rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal. Dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat (moralnya).

4. Hakikat kebahagiaan hidup berasal dari hati kita sendiri. Bagaimana kita membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih.

5. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah, kabar baik, keberuntungan, harta benda, pangkat, jabatan semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya, rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

6. Mata air dalam hati itu konkret, amat terlihat, menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Memperolehnya: harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, apa adanya. Memaksa hati untuk berlatih.

————-

Dari novel ini aku jadi tahu “hakikat” Tere Liye dan karena itulah mengapa beliau enggan dikenal secara personal oleh publik. Lihat saja, hanya sedikit biografi tentang beliau yang bisa kita ketahui. Tapi yakin saja bahwa penduduk langit lebih mengenalnya daripada kita.

Yaa Rabb.. hamba ingin bisa “seperti” beliau.

20160425_204627Selamat membaca dan berkelana dalam dunia dongeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: