Kegiatan Persit: Ada Malas, Tiada Rindu

DSC_0201

kenangan saat mendampingi juri lomba Pos KB Kes Terpadu se PD XII th 2016

Melihat progress search terms, beberapa kali muncul keywords bertajuk “kegiatan persit”. Meskipun sudah sering kusinggung di artikel lain, tidak ada salahnya bila dibahas khusus dalam judul tersendiri.

Memang sih, bagi calon anggota dan anggota baru masalah “paksaan berkegiatan” sering menjadi tanda tanya dan ketakutan tersendiri. Bahkan pada ibu-ibu lama mulai pula rasa bosan dan malas. Itu-itu saja. Iya atau iya?

Pada umumnya kegiatan ibu-ibu persit ada beberapa macam:

1. Olahraga

Wajib: yang pertama volley ball (mungkin karena melibatkan banyak orang sekali turun, tidak terlalu melelahkan meski lebih mengandalkan kekuatan tangan). Coba kita renungkan bagaimana lah bila yang wajib itu basket atau sepakbola misalnya. Bisa “robek” otot kaki yang tidak terlatih olahraga. Yang kedua senam. Segala macam senam mulai dari kesegaran jasmani, poco-poco, maumere, aerobik, pinguin, zumba, senam kreasi, dan lain-lain.

Opsional: kasti (jelas ini lebih seru secara fisik dan mulut, seringkali ibu-ibu bertengkar hanya masalah pemberian skor yang kurang obyektif), bulutangkis, tennis, wood ball, dan sebagainya.

2. Pengajian, baik ceramah, tadarus maupun membaca surat Yaasin bersama. Frekuensinya bisa 2-4 kali sebulan.

3. Arisan dan pertemuan anggota 1-3 bulan sekali.

4. Posyandu 1 bulan sekali dan penilaiannya 1 tahun sekali.

5. Anjangsana dan kegiatan sosial lain bila ada.

6. Ketrampilan/pendidikan anggota: menjahit, masak, menari, dll

Tujuan diadakannya kegiatan tentunya agar ibu-ibu memiliki kesibukan lain diluar kegiatan di rumah. Agar tidak jenuh, bosan dengan rutinitas harian dan tentunya biar gerak biar sehat. Diharapkan juga dengan adanya kegiatan bersama ibu-ibu bisa lebih saling mengenal, kompak, bertukar pikiran. Tidak akan dibuat kegiatan dengan tujuan anggotanya saling menjelekkan, menjatuhkan. Terlebih lagi saat ibu-ibu ditinggal suami tugas pengamanan perbatasan (pamtas), satgas operasi di daerah konflik, atau latihan-latihan luar tidak suntuk dan sedih di rumah saja meratapi nasih. #ehh

Bayangkan, seorang gadis yang sebelum menikah pendiam, anak rumahan dipaksa berkegiatan. Bisa syok. Oleh karena itu, sebelum resmi jadi anggota ada orientasinya dulu. Dan yang paling penting suami harus mendukung istrinya ikut kegiatan. Paling tidak ijinkan istrinya bersosialisasi, bukan malah menghambat atau mengajari untuk jadi tidak peduli atau bahkan terprovokasi dengan rajukan istri yang malas unjuk diri. Minimalnya sekali, sang istri pernah keluar dan pernah dikenal.

Apa sanksi/hukuman bagi yang tidak ikut kegiatan?

Hal ini benar-benar sesuai kebijakan ketua. Pada dasarnya bila ada hak ada kewajiban. Hak untuk tinggal di asrama dengan fasilitas yang ada maka kewajibannya mengikuti aturan main disana, termasuk ikut kegiatan. Semacam di RT/RW pasti ada juga kan kegiatan meski frekuensi dan intensitasnya jauh berbeda. Prinsipnya ya sama saja. Yang malas kegiatan pun otomatis “dikucilkan” (sanksi sosial) dalam bahasa anak-anak “ndak usah kawan”. Hehe… Silakan saja memilih mana yang lebih baik untuk diri anda dan keluarga. Menurut hemat saya aktif di kegiatan baik saja, namun tetap utamakan keluarga. Maka, pandai-pandailah dalam bersikap. Bijaksanalah dalam menentukan sikap.

Bagaimana bagi yang bekerja secara pribadi?

Hal ini juga menjadi kebijakan ketua di satuan. Pada dasarnya, sebagai anggota yang baik, kita tetap harus perhatian terhadap kegiatan. Meluangkan waktu untuk ikut dan berkumpul bersama. Pikirkan bahwa mereka yang tidak bekerja akan merasa iri karena ibu-ibu sempat dan bisa bekerja di luar sedangkan mereka tidak. Mereka akan direcoki dengan kegiatan-kegiatan persit. Mereka terus, mereka lagi. Maka sempatkanlah kegiatan sebisa mungkin. Namun, di pihak lain para ibu yang tidak bekerja juga cobalah memahami, ibu yang bekerja lebih banyak tuntutan dari pekerjaannya. Bila ditambah dengan kegiatan persit bagaimana capeknya. Kalau memang ibu-ibu persit dilarang bekerja secara pribadi ya tolong para atasan keluarkan aturan tegasnya. Agar yang meghadap nikah sudah sepakat istrinya semua IBU RUMAH TANGGA. Selesai perkara!!! Nyatanya tidak begitu bukan? Maka jangan salahkan yang bekerja bila mendapat keringanan dalam kegiatan dan yang tidak bekerja tidak usah iri karena itu juga pilihan. Takdir hidup yang berbeda. Ikhlas saja.. semua akan indah.

Kenapa yang disuruh ikut lomba atau kegiatan itu-itu saja (baca:orang-orang lama)?

Sebenarnya bisa dipahami, ibu-ibu anggota lama pasti anaknya sudah bisa ditinggal, tidak terlalu terbeban saat meninggalkan dalam tempo agak lama. Maka ya pastinya yang dipilih itu-itu saja. Pengkaderan ibu-ibu aktif pun butuh waktu. Kalau menurut hemat saya, ibu-ibu baru pun akan segan untuk unjuk diri  takut dikira sombong, sok, cari perhatian dan alasan utama enggan sibuk karena pengantin baru pasti berorientasi “bikin anak” jad pahami saja kelak juga mereka akan jadi “ibu-ibu lama”. Kemungkinan juga mereka berpikir ibu-ibu yang sudah lama di satuan pasti sudah jauh lebih pandai, lebih berpengalaman. Nanti juga ada waktunya berhenti berkegiatan.

Dan di saat itu terjadi, rasa rindu untuk kegiatan kembali pasti perlahan menelisip di kalbu. Akhirnya pada cari-cari kesibukan (pengalaman pribadi, euy..). Hehe…

Maka, renungkanlah. Kegiatan di satuan ditujukan bukan untuk mengusik hari ibu-ibu (dengan catatan kegiatan yang proporsional: diadakan rutin, tidak terlampau berat apalagi mengganggu kegiatan rumah tangga) namun untuk mengisi kekosongan hari agar ibu-ibu di asrama saling kenal semua tidak melulu membuat grup (lorong/barak) masing-masing dan menggosipkan grup yang lain. Toh juga saat kegiatan berlangsung ibu-ibu yang punya jualan pasti eksis dan menerima uang tambahan. Betul atau betul?

Sabtu Minggu Sekejap Lalu

Di sini, hari-hariku selalu penuh harapan, harapan untuk segera bertemu sabtu-minggu. Dan kala sabtu-minggu datang berharap agar jangan lekas lalu.
Senin sampai Jumat adalah hari penuh. Penuh aktivitas harian rumah tangga lazimnya.

Di sana, hari-harimu selalu penuh harapan untuk segera bertemu sabtu-minggu. Dan kala sabtu-minggu datang berharap agar jangan lekas lalu.
Senin sampai Jumat adalah hari penuh. Penuh aktivitas kantor dengan segala penat di raga dan jiwa.

Aku berharap di hari liburmu dua hari kamu mengajakku melihat dunia luar. Tidak melulu di dalam kamar. Sedang kamu berharap di hari liburmu dua hari kamu bisa tinggal di rumah dan merebahkan badan. Tidak melulu melihat kemacetan ibukota dan “tua” di jalan.

Nyatanya, kamu selalu dan selalu mengalah. Menurutiku melihat dunia. Meski ragamu lelah meski jiwamu penat. Tetap bersabar mengurai kemacetan jalan sembari mendengar sungutanku dan si nona.PhotoGrid_1464653351820.jpg

Sabtu minggu, kuharap kamu tidak berlalu sekejap itu….

See U Soon Ramadhan

Ramadhan, bulan yang selalu dinantikan. Bagi orang yang baik pemahaman agamanya, dan begitupula sunnah Rasul, Ramadhan adalah sebagai bulan penyuci hati setelah sebelas bulan ibaratnya kita bebas tanpa kontrol. Bulan Ramadhan sebagai sarana latihan menuju tahun ke depannya agar lebih baik lagi.

Ramadhan, bagi kaum kebanyakan sering diidentikkan dengan buka puasa bersama, belanja baju baru dan perlengkapan hari raya, menganggap hari raya adalah hari kebebasan sudah tidak puasa lagi ditandai dengan main mercon di kalangan anak-anak dan remaja yang belum mengerti hakikat, hari raya menjadi momen berkumpul keluarga besar yang lepas itu jarang bertemu. Apakah itu salah? Tidak… tidak salah, hanya saja kurang tepat alias kurang memahami esensi bulan Ramadhan. Apakah aku paham betul dan melaksanakan? Belum juga… makanya kubuat tulisan ini bukan hanya menggurui pembaca namun lebih tepatnya menegur diri sendiri.
Seharusnya, di bulan Ramadhan semuanya dari diri kita meningkat. Ibadah pada Allah meningkat, silaturahmi meningkat, sodaqoh pun infaq meningkat, kesucian hati meningkat, kepedulian terhadap sesama pun iya. Sebaliknya, ujub menurun, riya menghilang, iri dengki menepi, marah musnah, kikir sumingkir, pelit berkelit.

Intinya, kita berlatih mati-matian dan terlahir kembali menjadi pribadi yang baru, dengan hati yang baru. Serupa batu giok yang tuntas digosok. Bersinar dan mengkilat. Bukan baju baru, bukan kendaraan baru, bukan pula rumah baru. Cukup hati yang baru. Hati yang bersih laksana beningnya air. Cukup itu yang kita cari. Sebenarnya tidak usah menunggu Ramadhan kita bisa melakukan itu , tapi Ramadhan adalah bulan istimewa dimana setan dibelenggu, dimana malam 1000 bulan menunggu, dimana maghfirah Allah mendekat tanpa jarak. Seharusnya akan lebih mudah “menempa” hati. Maka, kejarlah itu, wahai diriku dan saudara2ku. Sekali lagi bukan baju baru tapi hati yang “baru”.

Mari kita asah hati kita, kita latih diri kita agar kelak saat Ramadhan berakhir kita bisa menangis haru dan terbuka hijab kita untuk bisa sebenar-benarnya “melihat” Sang Maha Pengampun.

Yaa Rabb mampukan kami… hidayahkan kami iman yang sebenar-benarnya iman.PhotoGrid_1464650895317.jpg

Watak Persit, terjemahan bebas

Seorang manusia lahir ke dunia sudah dibekali dengan bekal bawaan masing-masing. Termasuk watak.

Dalam AD ART tertulis bahwa watak seorang persit ada 3 poin. Watak menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) didefinisikan sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Konon kabarnya watak tidak bisa diubah, tetapi bisa dilatih hingga menuju ke arah sana. Karena tidak dapat diubah maka sewajarnya watak ini menjadi kriteria dasar bagi calon istri TNI AD ((( intermezo — Ayuseite nih maksa amat ye.. nobody perfect keles, kalau jodohnya ngga gitu-gitu kali kek mana cobak? Batal nikah? Oomak…  — ahihihi, makanya aye tadi nulis jugak kalo bisa dilatih, dikondisikan, ala bisa karena biasa, batu bisa hancur juga dengan tetesan air yang konsisten. Betul apa betul? Betul pula bahwa tiada yang sempurna di dunia. Kesempurnaan itu hanya milik Allah semata. Maka, kita boleh lah berdoa pada Nya supaya diberi watak yang baik? Aye juga masih belajar.. terus belajar… yang penting mah prosesnya atuh… jangan terus nyerah aje sama keadaan. Paham ye? — iyelah… lanjut…))). Mari kita bahas per poin. Sekali lagi ini terjemahan bebas, argumentasi ala empunya blog. Boleh pro boleh kontra. Sah sah saja.

1. Suci, setia, sepi ing pamrih, rame ing gawe. Artinya: seorang anggota Persit haruslah suci hatinya (bersih, lurus, tanpa niatan jahat sedikitpun), setia sifatnya (berpegang teguh pada janji dan pendirian, patuh, taat) kepada suami, TNI AD, Persit, negara, dan agama. Filosofi dalam bahasa jawa itu memiliki makna kita harus banyak “bekerja” (bukan banyak bicara apalagi bicara tanpa fakta) dengan tidak mendasarkan pekerjaan karena imbalannya.
2. Ikhlas, rela, bijaksana dan cendekia. Artinya: dalam menapaki kehidupan seorang Persit harus selalu ikhlas dan rela. Hal ini menyiratkan banyak makna. Dalam melepas suami bertugas misalnya, menjalani kehidupan yang tak sebebas merpati tentunya. Rela pula untuk hidup sederhana dan mandiri. Kita juga dituntut untuk bijaksana baik dalam pemikiran maupun perbuatan. Istilah kata, ora grusa grusu. Tidak gegabah dalam bertindak. Tidak asal bicara. Segala sesuatu dipertimbangkan dahulu masak-masak. Kalau masih mentah jangan diangkat. Ehh…
Seorang persit juga harus cendekia (menurut KBBI artinya tajam pikiran; lekas mengerti kalau diberi tahu sesuatu; cerdas; pandai; 2 cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar (pandai menggunakan kesempatan); cerdik; 3 terpelajar; cerdik pandai )). Harus minimal sarjana gitu? Setahu saya ada syarat minimal Lulus SMA, sama seperti suaminya yang pendidikan terakhir SMA sebelum rekrut ke TNI AD entah jalur tamtama, bintara pun perwira (kecuali perwira prajurit karier yang pasti S1 dulu). Kenapa demikian? Agar ibu-ibu persit punya dasar kuat berlogika dan kematangan emosi yang baik. Karena permasalahan yang akan ibu-ibu hadapi ke depan jauh lebih kompleks. Lebih kompleks daripada menjadi keluarga sipil. Meskipun tidak menjamin juga, namun standar minimal pendidikan di Indonesia dianggap “memenuhi” jika telah menempuh setingkat SMA atau setara kejar paket C.
3. Berani dan bertanggung jawab. Berani dalam mengambil keputusan, berani bersikap dan bertindak. Anti ragu-ragu. Kalau tiba-tiba ada penjajah ya harus berani ikut angkat senjata (wuaduhhh). Paling tidak, berani sendiri di rumah saat ditinggal suami tugas. Hehe…
Bertanggung jawab artinya jelas ya, bisa dipercaya untuk melaksanakan tugas sampai tuntas dan bila ada kesalahan mau pasang badan, tidak melimpahkan tugas atau kesalahan begitu saja ke orang lain.

Demikian yang bisa saya tuliskan. Bila ada kritik, saran, dan pertanyaan amat sangat disilakan. Terimakasih sudah membaca. Teriring doa semoga Persit Kartika Chandra Kirana semakin jaya.

AD ART PERSIT KCK

2016-05-25 08.34.37《Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Istri Prajurit Kartika Chandra Kirana》

Buku ini kecil, biasa diberikan saat ibu-ibu menghadap/pengajuan nikah oleh seksi organisasi. Bila masih ada dropping maka diberi gratis, bila tidak maka harap membeli sebagai ganti uang fotokopi (sebenarnya sedikit melanggar hak cipta, tapi menunggu pemesanan itu lama sekali kalau satuan berada di ujung Indonesia entah kapan sampainya, T.T).
Meskipun kecil tapi di dalamnya sudah terdapat seluruh informasi utama organisasi Persit, aturan tertulisnya. Sedangkan aturan tidak tertulisnya hanya bisa dipelajari sambil “jalan”.

Di dalam buku ini yang pertama kali di bahas adalah masalah Lambang Organisasi. Tertulis di sana Maksud, Makna, Warna, Arti Keseluruhan, dan Penggunaan.

Selanjutnya, Anggaran Dasar. Dalam Pembukaannya, menekankan bahwa istri prajurit mutlak tidak dapat dipisahkan dari TNI Angkatan Darat, baik dalam melaksanakan tugas organisasi maupun dalam kehidupan pribadi (bisa dicek kembali artikel yang saya tulis tentang “Menikahi Persit”).

Persit dibentuk dengan didorongkan oleh keinginan luhur untuk meningkatkan perjuangan dalam wadah organisasi, berasakan Pancasila dan UUD 1945 serta tetap membina terjalinnya: persatuan, kesatuan, persaudaraan, serta kekeluargaan juga rasa senasib, sepnanggungan serta seperjuangan sebagai istri prajurit. Kiranya, bila semua anggota memahami benar dan melaksanakan sepenuh hati apa yang termaktub di Pembukaan Anggaran Dasar ini saja pasti Persit akan amat sangat solid sekali.

Persit Kartika Chandra Kirana berada sejajar dengan Jalasenastri (istri TNI AL), Pia Ardhya Garini (istri TNI AU) dan IKKT (Ikatan Kesejahteraan Keluarga TNI) Pragati Wira Anggini di bawah naungan Dharma Pertiwi.

Anggaran Dasar memuat Nama, tempat, waktu, kedudukan, asas, tujuan, tugas pokok, keanggotaan, kepengurusan, musyawarah dan rapat, pembina dan penasihat, rencana kerja, keuangan, perubahan anggaran.

Anggaran Rumah Tangga mengatur tentang Keanggotaan (anggota biasa dan luar biasa), hak dan kewajiban anggota, pemberhentian, kepengurusan -dijabarkan dari pusat sampai daerah-daerah, penjabaran urusan-urusan per satuan kerja, kedudukan satuan-satuan kerja, masa kerja, tugas dan tanggung jawab pengurus, rapat, dan hal keuangan.

Di halaman belakang tercantum pula lagu himne dan mars Kartika Chandra Kirana.

Mari kita bersama-sama mempelajari, memahami, dan menghayati kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi tercinta kita ini. Agar kita betul-betul paham sehingga tidak akan menyalahkan si paham (salah paham, red) ^__^

Catatan Perjalanan #1

Kereta ini penuh meski belum memasuki liburan. Aku sengaja memilih tempat duduk termurah, dekat toilet. Karena aku memang tak bisa jauh dari tempat penting itu.

“Ini masih hari kamis, heran gue kenapa penerbangan pagi maskapai manapun penuh,” seru seorang laki-laki yang gelisah dari bangku belakang, “Iya, aku harus segera tiba di Changi,” ia sedang mengelap peluh saat kutengok arah suara. Ia sedang menelpon koleganya, kurasa. Percakapan mereka cukup keras, terdengar sampai beberapa baris ke depan.

“Apa beda kereta Argo satu dengan yang lain ya, Pak?” seorang gadis pemilik EO besar, hal ini kuketahui di beberapa percakapan ke depan, bertanya polos justru ke Bapak yang sedang gelisah.

“Sama saja, Mbak, sama eksekutifnya.” Jawabnya tanpa berat hati. Sepertinya si Mbak pemilik EO tersebut tidak mengganggunya. Tentu tidak, Ia cantik dan menawan. Bisa jadi teman bicara saat gelisah mendera.

“Ooo… ya? Saya baru pertama kali juga naik kereta api. Sekretaris saya tidak bisa menemukan satu tiket pesawatpun untuk saya. Sepertinya kita senasib ya, Pak?” Si Mbak mencoba berkelakar.

“Ah ya.. heran saya… padahal belum hari libur. Saya harus segera ke Singapura. Kapal saya nge-deck di sana.” Jelasnya tanpa diminta. Mungkin, hanya mencoba berbagi perasaan.

“Bapak punya kapal? Kontainer atau Ferry? Saya jadi ingat waktu harus bawa boat untuk acara di Singapura. Kapal yang bawa tertahan karena ombak. Stress bukan main saya Pak…” curhat si Mbak.

“Kontainer, kapal besar. Kapal saya tidak akan mungkin tertahan oleh ombak. Delapan meter sekalipun. Hajar saja.” Jawabnya jumawa, meski kutahu kegelisahan masih menggayut di dada. Ia tengah mengejar penerbangan dari kota lain untuk menuju Singapura. Sedetik meleset kapalnya akan tertahan lebih lama. Bisnis meleset pula. Percakapan selanjutnya aku tidak mendengar lagi. Sepertinya mereka tengah melakukan negosiasi bisnis, bisnis bongkar muat barang. Perkapalan skala internasional dan Event Organizer raksasa. Mungkin.

Pandanganku tertuju ke baris depan. Keluarga bule 2 pasang, blasteran Indonesia. Yang satu pasangan baru. Pasti anaknya kelak blasteran dan bingung mau jadi WNA atau WNI. Klise. Yang satu sudah punya anak 3, 2 perempuan dan 1lelaki, dengan gaya trendy khas kanak-kanak USA. Beruntung KATV menyiarkan kartun berbahasa Inggris sehingga anak-anak itu bisa duduk tenang, menyimak dan sesekali tertawa. Tepat di belakangnya, 8 kursi ditempati warga etnis Tionghoa. Ah, tepatnya 6 orang dan 2 lagi suku Jawa sebagai pengasuh anak-anaknya. Mereka asyik memainkan Aple masing-masing hingga si anak gadis sekira 8 tahun berteriak, “Mommy… bleeding,” seorang wanita yang dipanggil mom di belakangnya sontak ke depan dan meneriakkan “tisue” ke pengasuhnya. Ia malah menidurkan anaknya. Rasa ingin tahuku muncul. Epistaksis? Kenapa ditidurkan? Aku cuek saja. Malas membantu mereka. Pasti tersinggung. We are “different”. Entah bisnis apa yang akan mereka lakukan di kota tujuan. Yang jelas mereka hendak menginap di hotel Hilton. “Hanya” piknik, mungkin.

Tepat di depanku, dua orang wanita yang tidur sepanjang jalan. Mengorok. Tak ada cerita darinya yang bisa kuamati, kudengar, kuambil hikmah. Hanya menerima takdir bahwa aku tidak bisa tidur karenanya.

“Pletak,”

“Maaf, Pak, saya berusaha menaikkan separator kursi tapi sepertinya rusak sampai mutar ke belakang,” aku meringis

“Nggak apa-apa, Bu, biarkan saja di sini,” komentarnya sambil menyilahkan ketidaknyamanan itu, “Tidak mengganggu ya, Pak… maaf,” takzim.

Selanjutnya kuperhatikan bapak di belakangku ini memang tidak terganggu. Ia sibuk mendengarkan musik dari headsetnya. Ia masih muda, mungkin juga seumuranku. Nampak dari perangainya ia seorang pekerja keras. Apakah kepergiannya urusan bisnis juga?

Di sebelahku, sepasang suami istri yang baru pertama kali naik kereta api. Super. Mereka asli dari Banjarmasin. Sang istri banyak bercerita. Ia melakukan perjalanan bisnis ke 2 kota sekaligus. Super sekali.

Tepat di depanku, seorang Ibu dan anak (maaf, idiot) nampak gelisah. Aku hanya memperhatikan dan tersenyum. Ia malah membagi kegelisahannya padaku. “Saya ada janji dengan yayasan yang menangani anak saya jam 12. Lebih dari itu sudah ditutup loketnya. Sedangkan kereta ini baru sampai 1 menit sebelumnya. Sempatkah saya?” Ia menggigit bibir, “saya berusaha mengejar kereta terpagi, tapi adiknya sekolah, saya antar dulu, ini pun saya diam-diam perginya. Bagaimanalah ini?” Jujur aku pun tak bisa menjawab. Aku bukan pekerja yayasan. Belum pernah pula ke sana. Aku harus jawab apa? “Semoga masih buka ya, Bu.. loketnya nunggu Ibu,” aku mencoba berkelakar, Ia pun tersenyum dan menjelaskan keadaan anaknya.

Sisa perjalanan kugunakan untuk mengamati keluar jendela. Keindahan pegunungan, sawah, dan ekstrimnya jembatan kereta ini yang melintas antara perbukitan. MasyaAllah. Antara kagum dan ngeri bila jatuh meluncur ke bawah. Audzubillah…

Perjalanan: Indah bila dinikmati, Membosankan bila kita terpaku pada tujuan akhir, Ngeri bila memikirkan hal-hal yang nihil terjadi. Begitupun hidup. Nikmatilah proses hidup dengan bersyukur, ikhlas dan sabar menjalani segala yang terjadi. Itu sudah lebih dari cukup untuk bahagia.

 

 

Psikologi Persit

Tulisan ini berlatar belakang dari adanya seorang anggota persit yang saya tidak kenal, tidak bernama, komentar di bawah tulisan saya tentang “Bubarkan Persit!!”, saya yakin Ia terprovokasi dengan judul, bukan isi artikel seutuhnya. Begini kira-kira isi komentar tersebut:

“Bener bubarin, tidak  ada untungnya, hanya menggosip sama doktrin otak ibu2 saja untuk gosipin org2, buang2 anggaran” 

Well, what do you think about it? Jujur saya prihatin, berarti beliau mendapat perlakuan yang tidak baik, hidup di lingkungan anggota Persit yang tidak baik pula. Sehingga kesannya terhadap Persit tidak baik. Mungkin, secara psikis ia pun tidak ada “kuasa” untuk mengubah. Dan mayoritas begitu adanya.

Lebih ekstrem lagi, saya sudah menemukan dua kasus di depan mata yang saya pribadi tega mendiagnosis dengan F.20. Kenapa bisa terjadi?

Psikologi, singkatnya ilmu kejiwaan, memiliki sekira 14 cabang. Diantaranya psikologi abnormal, perkembangan, sosial, kesehatan, forensik, komparatif, lintas budaya, pendidikan, de-el-el hingga psikologi industri dan organisasi. Catat ini, Psikologi organisasi.

Persit adalah sebuah organisasi besar. Maka, saya menganalogikan dengan Psikologi Persit untuk tema tulisan kali ini.

Kalau di sebuah perusahaan, instansi, dan sejenisnya, pemegang peran ini berada di Divisi HRD (Human Resource Department alias bagian personalia) bagaimana kalau di organisasi persit? Mungkin seksi kebudayaan urusan bimbingan mental (bintal). Yaa.. mungkin bila nanti. 😁

Baiklah, mengapa saya berani menulis tema ini? Selain karena “terprovokasi” dengan komentar tak sedap di atas saya juga mengamati pun menyadari ada begitu banyak permasalahan yang kompleks pada tiap diri seorang anggota persit. Ijinkan saya menjabarkannya, sekali lagi ini semata argumentasi saya dan karena saya mencintai organisasi ini (terlepas dari ada/tidaknya gesekan dengan “oknum”).

Permasalahan pertama dan utama adalah menikah dengan anggota TNI AD itu sendiri. Konsekuensi yang sudah dibaca saat pemberkasan “menghadap nikah” pastilah sudah khatam dibaca. Bersedia ikut kemana saja namun di sisi yang lain harus siap bersedia ditinggal tugas entah berapa lama. Karena tahulah kita bahwa jiwa raga suami kita bukan milik kita seutuhnya. Milik negara. Mereka sudah diserahkan oleh orangtua mereka pada negara. Hidup mati untuk negara. Saya yakin, kita sebagai istri belum bisa 100 persen menyadari. Ego kita pasti akan melejit di saat-saat rumit. Dari permasalahan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa istri prajurit harus MANDIRI. Luas sekali pengertiannya bukan? Ya, paling tidak kita tidak tergantung dengan suami kita (sumpah ini susahh!!), tidak merepotkan dengan merengek tentang tetek bengek remeh temeh (ini pun masih sering saya lakukan, hehe). Konsekuensi berikutnya dari menikahi TNI AD adalah tergabung dengan Persit. Otomatis. Tujuan keanggotaan, gampangnya agar antaranggota saling membantu, bersinergi, bahu membahu mendukung suami. Bukan saling menjatuhkan, saling hujat, dan saling tidak baik lainnya.

Permasalahan kedua, gaji TNI ya segitu gitu aja. Kita harus pandai-pandai mengelola keuangan. Sebisa mungkin minimalkan hutang, hidup sederhana. Bagi istri yang bekerja pasti tidak akan kerepotan masalah uang tapi akan ada kerepotan lain utamanya masalah membagi tenaga dan pikiran. Antara rumah, tempat kerja, dan organisasi. Dari masalah keuangan ini banyak hal yang bisa kita tarik. Keterbatasan keuangan membuat istri yang tidak kuat frustasi juga. Yang kreatif bisa menjahit, memasak, menyulam, merajut, bercocok tanam, dll pasti akan memaksa diri untuk membuat sesuatu yang menghasilkan. Atau yang punya modal akan berjualan. Sistem cicilan. Itu hal marak di lingkungan ibu2 mana pun. Hati-hati dengan giuran ini. Beli yang perlu bukannya perlu beli ini itu. Kebijakan atasan untuk mengadakan “arisan” sebenarnya untuk membantu memaksa menabung. Namun nyatanya malah dihabiskan saat itu juga saat menerima.

Permasalahan ketiga, lingkungan asrama dengan rumah berdempetan, dalam waktu lama, ketemu itu-itu saja. Memicu banyak gesekan sosial (ahh.. sebenarnya psikologi persit itu kompleks, mencakup psikologi sosial, pendidikan, perkembangan juga). Tak terhindarkan rasa iri, dengki, dan rasa-rasa lainnya. Tetangga beli TV baru, iri (jeleknya lagi si tetangga emang hobi pamer). Tetangga punya motor baru, iri. Bahkan tetangga bisa masak enak aja iri. Perasaan-perasaan tersebut lah yang memicu “rasan-rasan” alias bisik-bisik antartetangga yang sama-sama iri. Bahkan ada diberi bumbu-bumbu, percikan api hingga ada istilah “kompor tetangga”. Itulah mungkin yang dimaksud dalam komen, menggosip dan doktrin untuk nggosip. Ah, padahal itu hanya oknum. Oknum yang iri. Maka, oleh sebab itu diperlukan HATI YANG LAPANG, penuh rasa syukur, ikhlas dan sabar menghadapi ujian berupa “tetangga”. Alih-alih berkumpul untuk menggosip, sebaiknya berikan tenaga dan waktu untuk berkreasi. Ibu ketua yang tanggap pasti akan banyak memberikan jadwal kegiatan kreatif. Tapi, seringpula dianggap “cari-cari kesibukan” oleh anggota. Jadi serba salah. Kegiatan dimaksudkan untuk mengisi waktu luang agar tidak sia-sia hanya membicarakan yang tidak perlu. Ujung-ujungnya pasti gosip. Setan sudah menguasai keadaan! Sadarlah itu. Sayang, niat baik tak selalu baik.

Permasalahan selanjutnya adalah rentetan kunjungan atasan. Entah kunjungan kerja atau hanya sekedar mampir berkunjung. Selalu lah ibu-ibu sibuk. Siapkan makanan, bersih-bersih (istilah kerennya korve), tampil cantik, nitip anak. Dan sebagainya. Mungkin inilah yang memicu komentar “buang-buang anggaran”. Hmm… sebenarnya tiap atasan datang berkunjung pasti berpesan jangan repot-repot. Sayangnya, tradisi timur menangkap pernyataan itu bermakna sebaliknya. Masa iya kita tidak menyambut atasan, nanti kena teguran. Yah, tidak salah menyambut tapi juga semampunya. Tidak lah sampai buang anggaran. Kalau anggaran yang dimaksud anggaran pribadi yaaa itu sangat keterlaluan. Dinas pasti ada uang. Tinggal mengelola seefisien mungkin. Kemudian, bila yang dimaksud komentar buang-buang anggaran yang dimaksud adalah uang transport, uang arisan, beli ini itu kebutuhan personal organisasi berarti si ibu tersebut tidak menempatkan pos keuangan terhadap organisasi dengan baik. Atau ia terlalu tergiur untuk konsumtif. Meminjam filosofi organisasi Muhammadiyah, hidup-hidupilah organisasi jangan mencari penghidupan di organisasi. Buang-buang anggaran lain yang kemungkinan dimaksud adalah tradisi pemberian souvenir saat pindah atau saat kembali dari bepergian. Lah, itu tidak wajib, tidak ada yang menuntut. Bila tidak sanggup ya sudah jangan memaksa. Bila dijadikan bahan omongan ya maklumi saja. Namanya mulut tidak akan bisa dicegah. Kita hanya bisa mencegah hati kita untuk tidak “merasa”. Berlaku lah bijak, maka lingkungan akan menyikapi dengan bijak pula. Bila ingin memberi, beri dengan ikhlas bukan terpaksa. Bila tidak memberi, tidak karena alasan pelit yang menyakiti.

Permasalahan terakhir namun bukan berarti paling akhir, aturan yang mengikat di organisasi dibumbui kewajiban ber etika. Iya betul, aturan persit mengikat seperti tercantum di AD ART dan etika yang mengungkung sebagai adat ketimuran. Harus disadari dan dipatuhi. Kalau hanya itu saja mungkin kita sanggup karena ada hitam di atas putih. Namun, bagaimana dengan “tekanan” kasat mata dan aturan yang sengaja diikatkan padahal tidak seharusnya ada atau aturan mengikat tapi tidak tepat? Sebenarnya di sinilah letak kejiwaan seorang anggota persit diuji. Kuatkah ia? Sanggupkah ia? Bukan karena menjalankan roda organisasi namun karena bergaul dengan warna-warni sifat dan sikap istri anggota TNI yang bhineka. Menghadapi watak dan karakter yang unik. Namun begitu, seharusnya kita selalu kembalikan (andai saja semua anggota Persit mulai dari istri tamtama hingga perwira tinggi menyadari) bahwa organisasi ini dibuat dengan asas kekeluargaan, maka tidak ada keluarga yang hanya basa-basi. Sewajarnya, tulus dari hati. Tidak ada “muatan”, hanya saling mengayomi. Saling memahami serta menghormati bahwa tiap individu itu berbeda. TIDAK DIPAKSAKAN SAMA.  Tidak melulu bicara “saya saja bisa”. Indah bukan? Niscaya tidak akan ada yang berani membatin “Bubarkan saja Persit”. Sebaliknya, saling bersinergi untuk mewujudkan visi misi yang terpatri di lagu hymne dan mars yang abadi. (Sayangnya ini semua masih jadi mimpi.)

Ijinkan saya menutup artikel ini dengan harapan persit akan kuat. Jiwanya sehat. Hati-hati dalam bersikap adalah sebuah kebijaksanaan. Sebuah kematangan jiwa seorang persit.

Previous Older Entries