PNK-CGK

Well, rasanya belum lama posting tentang kepindahan kami ke area PNK… Sudah pindah lagi ke CGK. Seharusnya, satu minggu setelah kami pindah, kami harus pindah lagi. Namun saat itu masih berharap itu hanyalah sementara. Tetapi tidak demikian nyatanya. BP yang artinya Bantuan Personel menjadi Bakalan Pindah. BP yang biasanya berjarak 6 bulan jadi hanya 3 bulan.

Mau tidak mau harus pindah meski hati merasa betah.

Belum puas mencicipi ikan bakar yang super enak di Kuala, kerupuk basah putussibau, bubur pedas yang khas karena daun kesumnya, bubur nasi yang bedaaa banget sama dari di pulau lain, air tahu alias susu kedelai (awalnya aku nggak doyan sama sekali sama susu kedelai.. udah gitu pasti diare…) setelah sering minum disini malah jadi terbiasa…

Oke itu masalah makanan… masalah lokasi wisata belum tamat keliling pantai, belum sempat naik kapal ke pulau lemukutan lihat lumba2, ke air terjun “niagara kecil” di Sanggau, ke perbatasan Malaysia, ke istana Raja, dan masih banyak lagi….

Masalah pekerjaan… Allah hanya mengijinkanku sesaat untuk merasa senang bekerja lagi, bercengrama dengan pasien2 yang memiliki permasalahan berbeda serta unik. Baru saja Aya akrab dengan suasana klinik, hafal obat yang harus diberikan dan tata caranya bahkan tidak takut saat uminya periksa pasien meski dia jadi sering tertular sakit.

Ya… 4 bulan kurang aku di Singkawang. Amat sangat singkat… namun kenangan selalu terukir tiap hari, tiap waktu. Aku mendapatkan semua disini… Alhamdulillah… passion bekerja, passion di Persit sebagai Ketua Seksi Sosial, passion piknik bersama adek-adek perawat serta bidan juga temanku… kecuali kebersamaan sebagai keluarga bersama suami (bagiku sudah biasa tidak selalu bersama, karena sejak menikah pun kami jarang bersama karena tugas) hanya saja.. anak selalu bertanya mana bapaknya. Hmm…

Baiklah, kami pun pindah ke kota besar yang selalu ku “benci”. Dan benar saja… kemacetan adalah makanan sehari-hari, tiap keluar harus ada uang minimal untuk membayar “polisi cepek” menyeberangkan mobil, makan juga tidak murah, cari kerja susah, tidak ada tempat yang nyaman untuk berjalan kaki. Inilah jakarta dengan kerasnya kehidupan. Yang berduit punya magnit. Subhanallah…

Kupikir setelah ikut ke sini Aya akan bisa bertemu bapaknya sering.. ternyata.. berangkat Subuh pulang tengah malam.. akhirnya tidak pulang selama 5 hari kerja karena capek di jalan. Maklum, rumah dengan kantor terpaut jarak juga… Aya bertemu bapak tiap Sabtu-Minggu saja… dan dua hari itu harus selalu bersama bapak… tidur pun dengan bapak… hmm…

“Kerasnya” kehidupan di Jakarta… kemandirian, ketangguhan, serta kekuatan imtaq adalah bekal yang utama.

Allah… semoga Ia membuatku mampu. Setidaknya mampu bertahan namun bukan bertahan akan kenangan.

–Terimakasih kepada semua yang mengisi hari-hariku di Pontianak&Singkawang… tentunya tidak bisa kusebutkan satu persatu disini–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: