KNO-PNK

Walau masih berat rasa hati meninggalkan Serambi Mekah, namun kaki harus tetap melangkah.

Diiringi gerimis dan hujan di malam hari kami berangkat menuju Medan untuk terbang ke Pontianak esok paginya.

Perjalanan menuju bandara Supadio Pontianak dari Kualanamu Medan butuh waktu 3 jam ditambah waktu transit setengah jam untuk loading penumpang dan avtur di Hang Nadim Batam. Alhamdulillah tidak berkendala. Cuaca cerah sepanjang penerbangan.

Sesampainya di Pontianak disambut hangat oleh Pakde (kakak sepupu Ibu) dan keluarga. Diajak jalan-jalan keliling Pontianak dan yang paling penting singgah di Masjid Agung (ini adalah keharusan bagiku, tiap berkunjung ke kota harus singgah ke Masjid Agung nya).

Keesokan hari selepas urusan suami di Kodam selesai, aku dikunjungi salah satu rekan kuliah juga rekan mengaji, Mira. Senang sekali bisa melepas rindu meski berbatas waktu karena aku harus segera bergerak ke Singkawang.

“HP ku mana, Mi?” sontak aku kaget ketika suami menanyakan itu sepulang menjemput mobil travel ke rumah Pakde.

Nah lho.. pasti jatuh. Sudah pasrah rasanya karena itu kali kesekian suamiku menjatuhkan HPnya dan pasti hilang. Dengan sisa harapan aku menelfon nomer suami. Diangkat!! Setelah memberikan informasi, si bapak yang menemukan HP memang berniat mengembalikan kepada kami. Alhamdulillah masih rejeki. Terharu melihat kejujuran itu. Beliau bukan orang mampu, bisa saja sebenarnya mengambil dan menjual HP suamiku. Subhanallahu. Kisah selanjutnya bersama pengemudi mobil travel yang kami tumpangi. Dengan penuh rasa sopan dan hormat beliau membawa kami. Diceritakan bahwa beliau anak ke 4 dari seorang pensiunan ABRI yang loyal dan mukmin. Sepanjang jalan kami terkagum kagum dengan keelokan Pontianak si kota seribu sungai yang dikelilingi oleh luasnya sungai Kapuas nan luas, belum lagi parit parit di depan rumah-rumah warga masih lengkap dengan sampan alat transportasi mereka. Paralon-paralon pengalir air hujan lengkap dengan tandon-tandon dari tanah liat adalah pemandangan biasa di rumah-rumah panggung maupun semitembok. Penduduk asli memang mengkonsumsi air hujan, bukan hanya untuk mandi tapi juga untuk memasak. Rumah-rumah kuperhatikan tidak ada yang menginjak bumi. Selalu dilapisi kayu hitam yang konon makin kuat bila kena air. Kayu belian namanya. Kalau sekarang namanya kayu curian karena bukan dibeli lagi tapi dicuri lewat illegal logging, kata bapak sopir. Hahahaa… ada-ada saja.

Sempat terlihat dari balik kaca mobil, tugu Khatulistiwa yang tanpa bayangan 2 kali dalam setahun ketika matahari tepat di atas garis. Mau berfoto disana sayang sekali masih dalam tahap renovasi. Teringat miniatur tugu Khatulistiwa yang diberikan Mira padaku semasa kuliah dulu. Akhirnya mengantarkanku ke Pontianak juga. Beberapa saat setelah melewati tugu nampak pabrik Wilmar, pabrik pengolahan kelapa sawit yang cukup besar. Teringat dengan berita penggelapan uang 7 Triliun dan isu pembakaran hutan oleh pihak mereka untuk membuka lahan. Wallahu a’lam.

Keunikan lain selama 4 jam perjalanan adalah fenomena hujan-tidak hujan yang berjarak hanya beberapa meter saja. Mendadak hujan di saat terik matahari, mendadak berhenti dan mendadak hujan lagi bukanlah hal asing. Makanya penduduk setempat mengandalkan air hujan sangat.

Sesaat sebelum masuk kota Singkawang nampak gunung-gunung yang sudah gundul dan menjadi dataran. MasyaAllah. Betapa serakahnya. Pantaslah bila ada bencana longsor tahun 1998 lalu dimana hanya satu masjid saja yang selamat. Bukankah itu pertanda nyata peringatan Allah?? Tidakkah manusia manusia itu berfikir? Ah, nyatanya tidak. Pembukaan lahan terus berlanjut hingga terjadilah bencana yang “dibuat”. Kebakaran hutan. Asap menyebar memenuhi jajaran kepulauan Indonesia. Namun mereka tetap saja tidak sadar akan ulahnya. Perlahan tapi pasti azab Allah akan menyelimuti.

Tak terasa kami sudah memasuki kota “amoi” (ini konotasinya negatif sekali). Di kota penuh Vihara dan warga Tionghoa seperti Singkawang hampir jarang ditemukan Muslim yang Mukmin. Meskipun pada dasarnya hampir mayoritas penduduk disini “baik” namun sudah jelas kami harus dan wajib berhati hati terutama masalah kehalalan makanan.

Alhamdulillah ada rekan 1 letting suami, jadi meskipun suami sedang sibuk bekerja aku bisa mengenal lingkungan sekitar bersamanya. Allah Maha Baik. Sewaktu diantar belanja bahkan Allah mempertemukanku dengan rekan kuliah, Richy. Beribu-ribu kali Alhamdulillah. Aku semakin tidak merasa sendiri. Semoga Allah menjaga selalu iman dan Islam kami. Amiin.

memory in NAD

Takut, mungkin itulah yang pertama kali terlintas di benak ketika mendengar kata Aceh. Betapa tidak, faktor keamanan karena gerakan aceh merdeka belumlah surut betul. Tahun 2011 adalah tahun pertamaku menginjakkan kaki ke bumi Nangroe. Panas, kesan keduaku. Betapa tidak, atap kebanyakan bangunan tersusun dari seng dan asbes. Serasa memantulkan panas. Genteng tanah liat tidak dapat dijumpai di sini.

Tahun pertama menikah hanya sesekali aku berada di tanah rencong. Awal tahun 2012 aku baru pindah mengikuti suami, tepatnya di markas batalyon 111 Tualang Cut, Aceh Tamiang. Suku yang ada di daerah ini kebanyakan suku Melayu, Batak, Cina dan Jawa transmigran. Kehidupan di batalyon sebagai istri tentara tentulah penuh dinamika yang tidak akan bisa dijumpai di kehidupan sipil. Seru, asyik, menegangkan, takut, suka dan tidak suka bercampur aduk menjadi suatu sensasi yang harus dinikmati. Tidak lama disana, akhir tahun 2012 aku pulang ke Jawa karena sedang hamil sedangkan suami dinas ke Lebanon. Akhir tahun 2013 kembali ke Aceh tepatnya di Peudawa Rayeuk, Aceh Timur. Disini, suku Aceh mulai banyak dijumpai. Belum pandai juga aku memahami bahasa Aceh. Tiap kali bertransaksi di pajak (pasar) hanya tunjuk dan angguk-angguk. Lebih seringnya menitip belanjaan sama orang daripada tidak bisa menawar harga. Peudawa adalah daerah tepi pantai. Banyak pohon kelapa di area kompi. Sepuluh menit berkendara sudah sampai pantai. Sayang disayang tidak dirawat. Banyak sampah berserakan, taik (kotoran) lembu dan sapi bertebaran. Tidak dikelola karena khawatir jadi tempat berkhalwat. Nah, tapi tanpa dikelola malah banyak yang berkhalwat diam diam. Nyatanya, tetap saja banyak sampah bekas jajanan. Wallahua’lam.

Tujuh bulan kemudian kami bergeser ke desa Paya Bakong, Aceh Utara. Disini adalah markas ex combatan GAM. Bireun, Pidie, dan beberapa daerah sekitar adalah lokasi rawan konflik. Meski perdamaian sudah tercipta tetap saja masyarakat masih was was dengan keberadaan mereka. Sejatinya masyarakat Aceh inginkan perdamaian yang nyata.

Tak disangka wilayah ini adalah lokasi dinas terakhir suami di Aceh.

Kenangan di Aceh tidak akan kulupakan. Ibu-ibu yang pernah menjadi anggotaku semasa di kepengurusan cabang, dan dua tahun menjabat ketua ranting di 2 kompi berbeda, kalian semua membuat hidupku nano-nano. Para rekan istri-istri se letting, kalian selalu menjadi tempat curahan hati baik tawa maupun tangis. Para adik-adikku berilah tauladan yang lebih baik lagi. Yang pasti dan utama ijin kepada Mba-mbaku yang pernah bersama-sama  berdinas di yonif 111 kalian semua adalah inspirasi untukku.

Belum lagi kenangan makanan khas Aceh yang cuma enak kalau dimakan di Aceh. Dan pertama kali makan bikin diare ga berhenti henti karena pedas dan rempah yang menggigit. Mie Kepiting, gulai ikan khas Aceh, kuah plie, asam keueung, kue timpan buatan Bu Dedi kompi B, kateringan Bu Asep dan Bu Nawi semasa di kompi E, lontong sayur ala dapur kompi E, mie kocok ala bu Heru kompi E, rica-rica ala bu Noverlan yang gaaa bisaaa akuu masaakknyaaa… sajian sayur pelepah pisang dan gulai kambing di pesta-pesta nikahan yang selalu sukses membuatku pusing dan mual namun selalu juga nagih untuk diulang.

Belanja di Suzuya sampai poin banyak melimpah ujung-ujungnya dikasih ke ibu-ibu.

Naek reo (truk tentara), OZ kalau tanding volley atau pergi ke batalyon yang pastinya sukses membuat pantat sakit dan kesemutan. Tapi itu semuanya amat sangat seru. Belum lagi keseruan makan-makan bareng, rujakan di bawah pohon sawit saat di kompi B.

Pengalaman pesiar ke Banda Aceh, Sabang, Takengon bersama teman-teman 1 letting. Tidak akan terlupakan.

Goodbye, Aceh loen sayang.

I will be missing that moments..

Saatnya mengukir kenangan baru di pulau Borneo.