Sebuah dialog interaktif bersama Cak Nun dan Kyai Kanjeng

Malam yang dingin. Terasa hangat oleh kebersamaan ratusan orang yang memadati lapangan sepakbola Desa Wirokerten. Loh, ada apa? Rupanya “pengajian akbar” sedang dihelat.

Ah, bukan… beliau yang memimpin di depan tidak suka disebut sedang memberi pengajian. Cukup sedang belajar bersama. Beliau juga tidak suka disebut kyai. Karena sebutan itu bukan sebutan keagamaan. Hanya sebutan hormat dari orang Jawa. Kyai kanjeng adalah gamelan, kyai slamet nama kerbau di Kasunanan Surakarta. Oleh karena itu cukuplah Cak Nun. Agar tetap membumi.

Tampilan yang bersahaja meskipun “nyeleneh” memikat hati banyak kalangan. Nyata saja dari anak-anak hingga simbah-simbah turut membumi bersama. Dari para pejabat hingga mahasiswa duduk bersama. Tak lupa banyak pula pedagang asongan menyemarakkan kebahagiaan malam itu. Malam yang semakin larut semakin seru. Diselingi lagu-lagu dari Kyai Kanjeng seperti Tombo Ati sampai dari maaron five yang sudah diaransemen ulang.

Diawali dengan penutupan MTQ se Kabupaten kemudian dikumandangkan pula lantunan ayat suci Al Quran dari sang juara seolah memberkahi malam itu.

Disusuli dengan lantunan senandung Al Quran bersama-sama seluruh jamaah membuat malam terdiam, angin yang sedari siang berhembus seakan terhenti. Subhanallah… tak terasa air mata pun menetes. 

Ya Allah kasih sayangilah daku

dengan sebab AlQuran ini

Dan jadikanlah AlQuran ini

sebagai pemimpin

sebagai cahaya

sebagai petunjuk

dan sebagai rahmat bagiku

Ya Allah ingatkanlah daku

apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran

yang telah Kau jelaskan

dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui

Dan kurniakanlah daku

selalu sempat membaca AlQuran

pada malam dan siang hari

Dan jadikanlah AlQuran ini

sebagai hujjah bagiku

Aku bukanlah qoriah, bukan hafidzah, bukan pula mufassir. Tapi aku cinta Al Quran ku. Betapa aku ingin belajar. Dan keinginanku yang selalu ku batin kan membawaku hingga pada titik ini. Di sini. Semoga mahkota bisa kupersembahkan pada orangtuaku kelak di jannah. Dan semoga anakku bisa membawakan mahkota itu padaku kelak. Amiin.

Terlepas dari isu yang beredar tentang kesesatan Cak Nun, aku merasa beliau bisa masuk ke semua hati. Syaratnya satu, jangan pernah dengarkan apa yang beliau sampaikan sepotong-sepotong. Karena logika akan memutar balik fakta. Dengarkan sampai akhir dan kalian akan mengerti jalan pikirnya. Bahkan, beliau bisa tahu jalan pikir saudara sekalian. Setuju atau tidak silakan komentar setelah hadir sendiri dalam majelisnya. Jangan berkomentar sinis atas tulisan saya yang sangat jauh dari konten sesungguhnya. Tulisan ini seingat saya saja. Saya manusia biasa. Terbatas.

Pada kesempatan ini dibahas mengenai QS Al Baqarah ayat 148. Ayat ini adalah pondasi, kunci dari Allah untuk pencapaian strategi persatuan. Ya, kajian kali ini kurang lebih tentang ukhuwah (meski melebar kemana mana).

“Wa likullin wijhatin huwa muwalliha fastabiqul khoirot. ‘Aina ma takuunu ya’ti bikumullahu jamii’an. Innallaha ‘ala kulli syai-in qadir”. Selama ini Depag menterjemahkan dengan “Bagi setiap umat ada kiblatnya sendiri….maka berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan dst” (mohon dicek di Al Quran masing masing). Terjemah yang kurang pas menurut Cak Nun. Tidak ada kata umat di situ. Kalau yang dimaksud umat, maka individu tak masuk. Kategori nonumat tak masuk juga. Padahal di situ Allah hanya menggunakan likullin bukan likulli ummatin. Hanya likullin. Besar kemungkinan ini merangkum semuanya. Universal. Bagi siapa dan apa saja. Tiap makhluk diberi (oleh Allah) kecenderungan sendiri-sendiri. Karena berbeda kecenderungan maka berlomba lah membuat (output) kebaikan (dalam segala hal). Janganlah merasa paling benar, paling baik. Itu ujub.

Akhir akhir ini namanya aliran dan kepercayaan semakin banyak saja. Sudah, jangan diributkan, jangan dicela, jangan sibuk menjatuhkan. Lihat kembali ke dalam hati kita. Sudahkah Allah selalu ada disana?

Perpecahan dalam tubuh umat Islam memang digariskan akan terjadi. Hanya pemegang teguh Al Quran dan As Sunnah yang akan selamat. Tidak usah sibuk mencari kelompok manakah itu apalagi sibuk mengkafirkan kelompok lain. Hanya Allah yang Maha Tahu. Kembali saja pada hatimu… sudahkah cintamu pada Allah, Rasul dan Al Quran melebihi cintamu pada dunia?

Tebar saja kedamaian maka Allah akan mendamaikan. Kunci dari ukhuwah adalah sabar terhadap perbedaan. Senang atau tidak senang pasti ada yang bertentangan dengan kita. Benar atau salah ikutilah hati nurani kita. Asah kepekaan nurani dengan rajin membersihkan hati.

Syariat Islam dibuat untuk menyeragamkan. Jangan jadikan beban. Kesalahan kita adalah selalu mencari “akhir” padahal Allah mencintai proses. Nikmati perjalanan batin dalam menemukan hakikat hidup. Semoga Allah berkenan memberi hidayah dan petunjuk atas teka teki hidup yang Allah berikan untuk kita pecahkan. Cari nikmatnya, bukan sakitnya.

Akal pikiran selaraskan dengan kebijakan hati. Sebab, tanpa kebijakan akal bisa hanya merusak. Sama dengan korelasi kalimat berikut: tanpa agama maka ilmu itu pincang, tanpa ilmu maka agama itu buta. Keduanya saling membutuhkan.

Jadilah diri sendiri. Boleh kita masukkan semua ilmu untuk dipelajari. Olah dalam hati. Keluarkan out put yang mencerminkan diri. Kita bangsa Indonesia yang berbudaya. Kohesi budaya nya sangat kuat. Maka tak salah jika Kyai Kanjeng dibawa untuk berdakwah. Namun bagaimana dengan tilawah pakai lagu Jawa? Sedangkan sudah ditetapkan 7 pakem lagu utama. Cak Nun dengan santai menanggapi. Boleh, lha wong ngga pake lagu saja boleh. Jangan dipenggal sampai sini. Beliau lantas menambahkan. Tapi, ibaratnya yang pakai langgam Jawa jatuh ke bumi sedangkan yang pakai lagu utama tadi terbang ke langit. Tidak dosa tapi tidak pada tempatnya. Yang terikat itu tajwid nya. Bukan lagu nya.

Sama juga kasusnya dengan kehebohan Insya Allah atau Insha’ Allah belum lama ini. Karena kita orang Indonesia maka pakainya Sya (syin fathah) bukan Sha’. Kalau pakai ejaan barat betul pakai Sha’. Tidak ada yang salah. Tidak usah menyalahkan. Itu hanya permainan orang yang ingin memecah belah Islam.

Pesan bagi para pemuda Indonesia. Tidak usah menunggu kapan Indonesia maju. Tapi majukan lah dulu diri sendiri. Kontribusi terbaik untuk Indonesia. Jadilah manfaat untuk sekitar. Jadilah lentera dalam kegelapan. Biarkan “nur” terpancar dari dalam diri seiring bersihnya hati.

Hari pun berganti. Acara harus diakhiri. Selepas menyanyikan gugur gunung beserta seluruh muspika dan pamong jamaah pun membubarkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: