Esensi Qurban

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa illa ha ilallahu Allahu Akbar… Allahu Akbar wa lilla hilhamd…

Alhamdulillah masih disampaikan umur kepada hari raya qurban tahun ini. Hari Raya yang bertepatan dengan terhelatnya puncak ibadah haji. Begitu besar makna yang bisa kita ambil dari 10 Dzulhijah ini. Selain karena ibadah haji juga karena esensi qurban itu sendiri. Semoga disampaikan umur dan kesempatan untuk menjadi tamu Allah (dulunya ingin sekali sebagai TKHI namun pupus perlahan….).

Adapun surat dalam Al Quran yang memuat masalah ini antara lain:

A. Nikmat yang berlimpah (Al-Kautsar)

*Al Kautsar juga ditafsirkan sebagai sungai yang mengalir di surga*

1 – Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak.

2 – Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.

3 – Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari Rahmat Allah)

Notes dari tafsir Ibnu Katsir: yang dimaksud berkurban di sini ialah menyembelih hewan kurban dan mensyukuri nikmat Allah. Disebutkan secara khusus shalat dan kurban karena keduanya termasuk ibadah yang paling utama dan pendekatan diri yang paling mulia. Di samping itu, karena dalam shalat terdapat ketundukan hati dan anggota badan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan mengalihkannya kepada ibadah-ibadah lainnya, sedangkan dalam kurban terdapat pendekatan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan hewan kurban yang terbaik miliknya dan mengeluarkan harta yang dicintainya.

B. Barisan-barisan (Aş-Şāffāt)

Dalam surat ini diceritakan dalam beberapa ayat kisah asal usul kurban.

99 – Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

100 – Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

101 – Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (Ismail)

102 – Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

103 – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

104 – Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,

105 – sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik

106 – Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107 – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

108 – Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

109 – (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

110 – Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik

111 – Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Dari peristiwa tersebut hikmah/makna yang bisa kita ambil adalah bahwa kita harus selalu meningkatkan takwa (menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya). Pembuktian takwa antara lain adalah dengan mendirikan sholat dan melaksanakan kurban. Selepas 10 Dzulhijah “kurban” yang bisa dilakukan adalah kurban perasaan (ups salah ya.. sok alay banget sih yaaa). “Kurban” harta benda dan tenaga. Bisa dalam bentuk sedekah, infaq, wakaf, hibah dan bentuk-bentuk pemberian lain yang “fi sabilillah” (di jalan Allah). Apa maksudnya? Yang pasti bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat dalam beribadah. Eits bukan hanya hubungannya dengan masjid dan musholla ya namanya ibadah itu. Kan bekerja juga ibadah, tidur juga bisa jadi ibadah. Memberi hal apapun yang mendukung hidup manusia dalam “beribadah” itu juga ibadah tersendiri.

Diciptakannya jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah. Jadi segala macam tingkah polahnya haruslah bernafaskan ibadah. Gimana coba? Ya dalam melakukan segala sesuatu (yang baik dan halal) diniatkan lillahi ta’ala. Bismillah. Jadi, misal mau mencuri, minum alkohol, narkoba? (Kalau sempat baca pasti ga jadi melakukan alias insyaf. Hehe..)

Demikian kiranya, semoga keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail merasuk dalam diri kita. Kemudian semoga Allah mengumpulkan kita dalam golongan orang yang bertakwa. Aamiin yaa Rabb.

Advertisements

Perbedaan Hari Raya Iedul Adha

Sudah berulang kali sejak jaman reformasi hal ini terjadi. Tidak hanya antara Muhammadiyah-NU. Namun juga ormas Islam minoritas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Aku bukan ahli agama. Bukan aktivis ormas Islam. Bukan pula politisi yang bermuatan. Apalagi pengamat pemerintahan.

Aku hanyalah satu dari penduduk Indonesia yang menyayangkan ketidakbersamaan ini.

Memang, semua sudah digariskan. Akan tiba masa kelompok-kelompok Islam memecah diri dan sok menjadi berbeda. Padahal sejatinya kebersamaan itu lebih utama.

Mengapa tiada pembahasan diantara para pemimpin dan tokoh-tokoh agama yang menentramkan? Mengapa tiada satu titik temu keputusan? Mengapa semua bersitegang? Mengapa tiada yang mengalah untuk menang?

Memang, kecenderunganku terhadap keputusan-keputusan lebih condong ke salah satu ormas. Namun, bukan fanatik. Fanatisme itu memecah belah. Fanatik boleh dalam hati terhadap Islam. Tidak untuk ormas.

Allah saja tidak mempermasalahkan tentang ijtihad. Yakin bahwa Allah lebih ingin ummat bersatu bukan saling menggerutu.

Yah… namanya juga sudah digariskan demikian. Saatnya untuk berbeda. Namun besar harapan untuk tidak saling menjatuhkan. Tidak saling memojokkan. Marilah saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan. Karena memang demikianlah takdir yang digariskan.

Tidak usah merasa paling benar. Salah atau benar urusan Allah. Kita hanya ijtihad. Surga atau neraka itu hak Allah. Kita hanya berkewajiban mengharap ridhoNya. Kalau Allah menakdirkan kita masuk neraka padahal menurut kita ijtihad kita sudah sangat maksimal.. sudah sangat bagus.. memangnya bisa protes?

Sabar Subur

Sabar itu ulah hati. Rasa sabar tiada berbatas. Sampai batas ditentukan berarti hatinya tidak sabar.

sabar/sa·bar/ a 1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dng –; hidup ini dihadapinya dng –; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu:segala usahanya dijalankannya dng –;

          Intinya sabar itu tahan. Lebih tepatnya bisa menahan nafsu. Nafsu akan menjadi benalu bagi hati jika berlebihan. Makanya harus ditahan. Nafsu apapun itu. Nafsu berhubungan juga dengan emosi. Bukankah benar musuh utama manusia adalah nafsu diri sendiri? Bukankah benar orang yang cerdas emosi bisa mengendalikan nafsunya? Bukankah benar jika nafsu terkendali maka jadilah sabar di hati?

         Sepertinya aku bukan tipikal orang yang sabar. Yuk ah belajar sabar.

        Man shabara zhafara, barang siapa yang bersabar, ia akan sukses. Hal ini bisa dikaitkan bahwa orang yang sukses dalam hidupnya adalah orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi atau orang-orang yang sabar. Kecerdasan emosional bisa dibentuk dengan melatih kesabaran dan tekun dalam menempuh perjalanan sabar. Seperti itulah seorang sufi yang menempuh perjalanan menuju Allah. Ia tempuh berbagai bencana tetapi ia tetap sabar.

        Orang-orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai cobaan. Ia tabah dalam mengejar tujuannya. Orang-orang yang bersabar menurut Al-Quran akan diberi pahala berlipat ganda di dunia dan akhirat: Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat (juga hidayah) dari Allah dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-Baqarah 157).

Sabar sendiri ada 3 jenis:

1. Sabar dalam menghadapi musibah.

2. Sabar dalam melakukan ibadah.

3. Sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat.

Sabar dalam menghadapi musibah pahalanya besar. Bahkan menurut Al-Quran, pahalanya diberikan tanpa perhitungan: Allah beri pahala kepadanya tanpa perhitungan (Az-Zumar 10). Sabar dalam menjalankan ibadah pahalanya lebih besar daripada sabar dalam menghadapi musibah. Dan sabar dalam menahan diri akan melakukan maksiat pahalanya jauh jauh lebih besar daripada dua jenis sabar yang lainnya.

Lalu, bagaimana caranya? Berikut kiranya yang saya rangkum dari berbagai sumber:

1. Bernapas dalam-dalam saat ada hal yang membuat emosi naik atau nafsu memuncak. Lakukan beberapa kali. Misal: terjebak macet, anak rewel saat pekerjaan menumpuk, saat di toko banyak barang bagus menggiurkan hati dengan embel-embel “sale

2. Tersenyum di depan kaca saat emosi akan terluap tidak pada tempatnya atau berlebihan. Dijamin yang ada malah tertawa karena lucunya wajah kita saat itu (terkadang menertawakan diri sendiri adalah terapi agar tidak terlampau tinggi hati)

3. Terapi diri dengan meditasi (merenung), berdoa, mendengarkan musik, membaca Al Quran (bisa juga mendengarkan lantunan murottal/tilawah) atau hal lain yang menenangkan hati (subyektif)

4. Mencari pengalihan penyaluran. Misal: emosi memuncak pengen nonjok orang yaa tonjok aja bantal atau apalah yang tidak merugikan asal jangan nonjok dinding atau kaca yaa.

5. Jangan dengarkan bisikan setan, pertajam bisikan malaikat. Melambatkan irama bicara juga bisa lho untuk mengerem bisikan2 tak baik sehingga nafsu tak baik pun ikut direm.

6. Tunda respon terhadap masalah. Karena tidak semua hal bisa di respon secara spontan, terutama masalah yang menyangkut hubungan antarmanusia. Beneran deh dengan mendiamkan masalah itu bisa membuat kita lebih tenang dan hasilnya lebih baik. Bukankah Islam juga mengajarkan untuk tidak terburu-buru? Bukankah terburu-buru itu sifat setan?

7. Tawakkal alias berserah pada Allah. Ini adalah kunci dari semuanya.

Orang beriman itu menegakkan sholat dan meneguhkan hati untuk bersabar. Karena hanya dengan sholat dan sabar kita akan bisa selamat dunia akhirat. Ridhollah… Amiin.

Akhirnya, sabar itu kata yang mudah untuk diucapkan. Akan tetapi prakteknya susah untuk dijalankan. Walaupun begitu bila ada NIAT kuat tak ada yang tak mungkin. Where there is a will there is a way.

Sebuah dialog interaktif bersama Cak Nun dan Kyai Kanjeng

Malam yang dingin. Terasa hangat oleh kebersamaan ratusan orang yang memadati lapangan sepakbola Desa Wirokerten. Loh, ada apa? Rupanya “pengajian akbar” sedang dihelat.

Ah, bukan… beliau yang memimpin di depan tidak suka disebut sedang memberi pengajian. Cukup sedang belajar bersama. Beliau juga tidak suka disebut kyai. Karena sebutan itu bukan sebutan keagamaan. Hanya sebutan hormat dari orang Jawa. Kyai kanjeng adalah gamelan, kyai slamet nama kerbau di Kasunanan Surakarta. Oleh karena itu cukuplah Cak Nun. Agar tetap membumi.

Tampilan yang bersahaja meskipun “nyeleneh” memikat hati banyak kalangan. Nyata saja dari anak-anak hingga simbah-simbah turut membumi bersama. Dari para pejabat hingga mahasiswa duduk bersama. Tak lupa banyak pula pedagang asongan menyemarakkan kebahagiaan malam itu. Malam yang semakin larut semakin seru. Diselingi lagu-lagu dari Kyai Kanjeng seperti Tombo Ati sampai dari maaron five yang sudah diaransemen ulang.

Diawali dengan penutupan MTQ se Kabupaten kemudian dikumandangkan pula lantunan ayat suci Al Quran dari sang juara seolah memberkahi malam itu.

Disusuli dengan lantunan senandung Al Quran bersama-sama seluruh jamaah membuat malam terdiam, angin yang sedari siang berhembus seakan terhenti. Subhanallah… tak terasa air mata pun menetes. 

Ya Allah kasih sayangilah daku

dengan sebab AlQuran ini

Dan jadikanlah AlQuran ini

sebagai pemimpin

sebagai cahaya

sebagai petunjuk

dan sebagai rahmat bagiku

Ya Allah ingatkanlah daku

apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran

yang telah Kau jelaskan

dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui

Dan kurniakanlah daku

selalu sempat membaca AlQuran

pada malam dan siang hari

Dan jadikanlah AlQuran ini

sebagai hujjah bagiku

Aku bukanlah qoriah, bukan hafidzah, bukan pula mufassir. Tapi aku cinta Al Quran ku. Betapa aku ingin belajar. Dan keinginanku yang selalu ku batin kan membawaku hingga pada titik ini. Di sini. Semoga mahkota bisa kupersembahkan pada orangtuaku kelak di jannah. Dan semoga anakku bisa membawakan mahkota itu padaku kelak. Amiin.

Terlepas dari isu yang beredar tentang kesesatan Cak Nun, aku merasa beliau bisa masuk ke semua hati. Syaratnya satu, jangan pernah dengarkan apa yang beliau sampaikan sepotong-sepotong. Karena logika akan memutar balik fakta. Dengarkan sampai akhir dan kalian akan mengerti jalan pikirnya. Bahkan, beliau bisa tahu jalan pikir saudara sekalian. Setuju atau tidak silakan komentar setelah hadir sendiri dalam majelisnya. Jangan berkomentar sinis atas tulisan saya yang sangat jauh dari konten sesungguhnya. Tulisan ini seingat saya saja. Saya manusia biasa. Terbatas.

Pada kesempatan ini dibahas mengenai QS Al Baqarah ayat 148. Ayat ini adalah pondasi, kunci dari Allah untuk pencapaian strategi persatuan. Ya, kajian kali ini kurang lebih tentang ukhuwah (meski melebar kemana mana).

“Wa likullin wijhatin huwa muwalliha fastabiqul khoirot. ‘Aina ma takuunu ya’ti bikumullahu jamii’an. Innallaha ‘ala kulli syai-in qadir”. Selama ini Depag menterjemahkan dengan “Bagi setiap umat ada kiblatnya sendiri….maka berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan dst” (mohon dicek di Al Quran masing masing). Terjemah yang kurang pas menurut Cak Nun. Tidak ada kata umat di situ. Kalau yang dimaksud umat, maka individu tak masuk. Kategori nonumat tak masuk juga. Padahal di situ Allah hanya menggunakan likullin bukan likulli ummatin. Hanya likullin. Besar kemungkinan ini merangkum semuanya. Universal. Bagi siapa dan apa saja. Tiap makhluk diberi (oleh Allah) kecenderungan sendiri-sendiri. Karena berbeda kecenderungan maka berlomba lah membuat (output) kebaikan (dalam segala hal). Janganlah merasa paling benar, paling baik. Itu ujub.

Akhir akhir ini namanya aliran dan kepercayaan semakin banyak saja. Sudah, jangan diributkan, jangan dicela, jangan sibuk menjatuhkan. Lihat kembali ke dalam hati kita. Sudahkah Allah selalu ada disana?

Perpecahan dalam tubuh umat Islam memang digariskan akan terjadi. Hanya pemegang teguh Al Quran dan As Sunnah yang akan selamat. Tidak usah sibuk mencari kelompok manakah itu apalagi sibuk mengkafirkan kelompok lain. Hanya Allah yang Maha Tahu. Kembali saja pada hatimu… sudahkah cintamu pada Allah, Rasul dan Al Quran melebihi cintamu pada dunia?

Tebar saja kedamaian maka Allah akan mendamaikan. Kunci dari ukhuwah adalah sabar terhadap perbedaan. Senang atau tidak senang pasti ada yang bertentangan dengan kita. Benar atau salah ikutilah hati nurani kita. Asah kepekaan nurani dengan rajin membersihkan hati.

Syariat Islam dibuat untuk menyeragamkan. Jangan jadikan beban. Kesalahan kita adalah selalu mencari “akhir” padahal Allah mencintai proses. Nikmati perjalanan batin dalam menemukan hakikat hidup. Semoga Allah berkenan memberi hidayah dan petunjuk atas teka teki hidup yang Allah berikan untuk kita pecahkan. Cari nikmatnya, bukan sakitnya.

Akal pikiran selaraskan dengan kebijakan hati. Sebab, tanpa kebijakan akal bisa hanya merusak. Sama dengan korelasi kalimat berikut: tanpa agama maka ilmu itu pincang, tanpa ilmu maka agama itu buta. Keduanya saling membutuhkan.

Jadilah diri sendiri. Boleh kita masukkan semua ilmu untuk dipelajari. Olah dalam hati. Keluarkan out put yang mencerminkan diri. Kita bangsa Indonesia yang berbudaya. Kohesi budaya nya sangat kuat. Maka tak salah jika Kyai Kanjeng dibawa untuk berdakwah. Namun bagaimana dengan tilawah pakai lagu Jawa? Sedangkan sudah ditetapkan 7 pakem lagu utama. Cak Nun dengan santai menanggapi. Boleh, lha wong ngga pake lagu saja boleh. Jangan dipenggal sampai sini. Beliau lantas menambahkan. Tapi, ibaratnya yang pakai langgam Jawa jatuh ke bumi sedangkan yang pakai lagu utama tadi terbang ke langit. Tidak dosa tapi tidak pada tempatnya. Yang terikat itu tajwid nya. Bukan lagu nya.

Sama juga kasusnya dengan kehebohan Insya Allah atau Insha’ Allah belum lama ini. Karena kita orang Indonesia maka pakainya Sya (syin fathah) bukan Sha’. Kalau pakai ejaan barat betul pakai Sha’. Tidak ada yang salah. Tidak usah menyalahkan. Itu hanya permainan orang yang ingin memecah belah Islam.

Pesan bagi para pemuda Indonesia. Tidak usah menunggu kapan Indonesia maju. Tapi majukan lah dulu diri sendiri. Kontribusi terbaik untuk Indonesia. Jadilah manfaat untuk sekitar. Jadilah lentera dalam kegelapan. Biarkan “nur” terpancar dari dalam diri seiring bersihnya hati.

Hari pun berganti. Acara harus diakhiri. Selepas menyanyikan gugur gunung beserta seluruh muspika dan pamong jamaah pun membubarkan diri.

Allah… Allah lagi… Allah terus…

Allahu Akbar… Laa illa ha ilallah…

Sekiranya dua kalimat tersebut sudah sangat mewakili betapa Allah itu tiada tandingannya… betapa Allah itu sungguh berkuasa atas segala apa yang ada.

Namanya Pencipta pastilah yang menguasai segala sesuatu yang diciptakan. Bahkan, lebih tahu daripada diri yang diciptakan sendiri.

Sebuah contoh yang sebenarnya bukan tandingan tapi bisa jadi bahan untuk bertafakkur (berpikir). Manusia membuat boneka, perabot, mobil, dll. Pastilah manusia yang lebih tahu kekurangan dan kelebihan hasil buatannya. Namun, hanya beberapa manusia yang memiliki keahlian di bidangnya saja yang tahu. Itupun takdirnya terhadap apa yang dibuat dalam genggaman Yang Maha Pencipta. Manusia mah bukan apa-apa, hanya lantaran pembuatan saja. Jelas beda sama Allah Yang Maha Tahu.

Kalau dalam hati dan pikiran kita meyakini Allah itu Maha Besar dan tiada Tuhan selain Allah maka konsekuensinya kita tidak boleh takut terhadap apa-apa selain Allah (termasuk takut miskin, takut mati dst)… tidak boleh meminta-minta pada siapa-siapa selain Allah (minta kaya, minta dikasihani, dst).

Memang saya juga dalam proses untuk betul-betul “sumeleh” (bahasa Jawa untuk ridho akan ketetapan Nya) kadang juga masih lupa dan khilaf. Namanya juga manusia bukan? Namun keinginan hati untuk berbagi tiada bisa dibendung lagi.

Begini saudara sekalian, pernahkah inginkan sesuatu termasuk hal sepele saja dan hanya bisa membatin? Akhir-akhir ini saya suka sekali membatin (eitsss bukan ilmu kebatinan loh). Dan tahukah bahwa “batin” kita itu adalah dialog sama Allah?

Awalnya saya juga tidak percaya. Prosesnya juga tidak instan. Asal tekun berma’rifat juga insya Allah bisa. Syaratnya hanya satu. Bersihkan hati dari segala macam “kotoran”. Berpikir buruk atau negatif saja sudah kotoran bagi hati. Caranya bagaimana biar hati bersih? Banyak teori tentang itu. Tapi bagi saya banyak banyak istighfar adalah trik paling jitu. Kalau bisa di setiap desah nafas, di setiap degup jantung sebutlah asma Allah. Bagai orang yang lagi kasmaran yang di pikiran kan pasti pasangannya. Nah ini lebih nikmat lagi karena gerak hati yang melakukan. Pikiran boleh kemana-mana (lagi mikir kerjaan misalnya) tapi hati teruuuss aja berdzikir. Saya pribadi juga masih belajar. Masih berusaha beristiqomah. Semoga Allah ridho.

Suatu saat saya “iseng” mencoba. Hal sepele. Dalam hati saya ingin makan mie jowo malam-malam tapi saya tidak bisa beli sendiri. Beberapa saat kemudian ada saudara datang dan bilang mau dibelikan apa? Subhanallah… dari situ saya berpikir apa iya gara-gara mem batin saja atau hanya kebetulan?

Saya jadi lebih suka mem batin lagi. Suatu saat saya ingin nginap di hotel murah tapi fasilitas ada bak nya lah minimal buat cuci baju syukur jika bisa buat si kecil nyebur (sepele banget bukan?). Dan benar saja saat cari hotel saat weekend di kota besar bahkan yang sudah di booking pun (tanpa tahu fasilitasnya) dipersulit dan intinya mahal sekali bahkan untuk fasilitas biasa. Saat itu saya sama sekali tidak menyampaikan keinginan saya di tiap receptionist hotel. Pada akhirnya dapat juga hotel tarif murah, dekat sama Mall besar, dan…. ada bak nya kecil di bawah shower benar-benar sesuai harapan. Makanan nya pun standar warung sekali. Bukan standar hotel. Tapi rasanya tidak kalah nikmat. Alhamdulillah.

Semakin yakin bahwa Allah Maha Mendengar. Selanjutnya saya membatin. Saya utarakan juga keinginan saya di status social media hanya untuk tahu berapa jarak bila naik kendaraan umum. Aku ingin hadir di majelis ilmu yang besar. Benar saja. Teman menghubungi dan bilang akan menemaniku bahkan dijemputnya dulu. Subhanallah.

Selanjutnya aku mem batin. Saat di kereta biar ngga bosan seru juga kalau teman 1 gerbong ada anak seumuran si kecil. Benar saja! Sepanjang perjalanan si kecil main sama teman barunya. Subhanallah.

Hmm.. pasti kalian berpikir… idih cuma hal hal sepele aja kok… coba hal besar?

Allah itu memikirkan hal kita dari hal yang sangat kecil. Sepele.

Kalau kita bisa mensyukuri nikmat yang kecil kecil niscaya Allah akan menambah nikmat Nya untuk kita.

Sadarkah saudara bahwa kesehatan merupakan nikmat yang luar biasa? Nikmat iman dan kedekatan dengan Allah tiada tandingannya.

Besar atau kecil itu penilaian kita. Pantas atau tidak untuk kita itu penilaian Allah. Bisa jadi menginginkan hal “besar” misal pergi haji atau punya anak atau punya rumah atau punya mobil dll yang bersifat materi kata Allah kita belum pantas. Maka teruslah membatin pada Allah. Allah lagi… Allah terus. Tiada guna berkeluh kesah pada manusia. Toh dia juga hamba Allah. Sama. Dengan meyakini ini bila apa yang kita batin, yang kita doakan tidak dijawab oleh Allah ya berarti kita belum pantas. Marilah kita “pantaskan” diri dahulu.

Ingat, segala sesuatu di dunia ini adalah titipan yang akan dimintai pertanggung jawabannya. Makin kaya makin lama besok di pengadilan Allah. Buat apa kekayaannya. Buat berjuang di jalan Allah kah? Atau cuma ditimbun untuk dipamerkan? Hati-hati.

Begitu juga semakin banyak istri, anak, dst yang di bawah tanggungan maka semakin berat juga hisab nya. Sudahkah mereka semua bertakwa pada Allah? Atau malah jadi beban pemberat timbangan kiri? Masya Allah.. audzubillah hi mindzalik.

Marilah kita tata niat kita, selalu bersihkan hati kita… namanya iman juga pasti naik turun. Oleh karena itu rajin-rajinlah mengasah iman. Rajin-rajinlah mengingati Nya. Allah lagi.. Allah terus… Bukan ingat materi keduniaan saja.

Percayalah, bila Allah ada di hatimu dan Ia ridho terhadapmu maka dunia ada dalam genggamanmu. Tapi di saat titik itu saudara dapatkan maka dunia tidak lagi menjadi harapan. Betapa nikmatnya. Allah.. Allah lagi… Allah terus.